Jumat, 22 Januari 2016

Menangis jika Mengingat Imam Ahmad

Ikhwati fillah,
Tahukah Anda, dahulu, jika Imam Abdurrazaq ash Shan'ani rahimahullah mengingat Imam Ahmad, melelehlah air matanya.

Kenapa?

Beliau bercerita, "Ketika Imam Ahmad datang kepadaku untuk menimba ilmu, ia pun bermukim di sana (suatu tempat) sekitar 2th-an.

Pada suatu waktu, sampailah kepadaku kabar bahwa perbekalan dan uang Imam Ahmad habis.

Maka aku pun memanggilnya dan membawanya ke balik pintu.

Tidak ada seorang pun yang melihat kami berdua ketika itu.

Aku berkata kepada Imam Ahmad, "Sesungguhnya kami tidak mengumpul-kumpulkan dinar (uang yang nilainya besar), maka ambilah uang ini wahai Ahmad!.
Jika kami memutar uang ini untuk jual beli, niscaya kami akan sibuk dengan uang-uang ini.
Sungguh, aku mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 10 orang wanita, maka ambilah uang-uang ini. Aku anggap mereka masih cukup untuk tidak dinafkahi dahulu sampai engkau bisa mengambil uang ini untuk keperluan kebutuhanmu."

Imam Ahmad menjawab, "Wahai Abu Bakr jika aku mau menerima sesuatu dari pemberian manusia maka akan aku akan menerima dari pemberianmu."
-selesai-

Subhanallah!
Itulah yang membuat Imam Abdurrazaq menangis haru..

Mengingat besarnya sifat qana'ah dan 'iffah pada diri Imam Ahmad.

Berkata Ahmad ibn Sinan al Wasithy, "Telah sampai kepadaku bahwa Imam Ahmad sempat sampai menggadaikan sendalnya kepada tukang roti agar beliau bisa mendapatkan makanan. Ini dilakukan pada saat beliau di Yaman (ketika menimba ilmu kepada Imam Abdurrazaq)."
-selesai-

Ikhwati fillah,
Bagaimana dengan kita?

Sepertinya kita justru menangis karena tidak ada orang yang mengasihani kekurangan kita.

Kita pun sepertinya justru mengharap pemberian. Jika ada yang memberi, kita pun anggap kecil apa yang kita terima.

Allahu musta'an.

(Kisah Imam Ahmad di atas bisa dilihat di Manaqib al Imam Ahmad-Ibnul Jauzi, hal. 226)

Siang Bergaul, Malam Layaknya Rahib

Siang Bergaul dengan Baik, Malam Bermunajat kepada Sang Khaliq

Bilal ibn Sa'ad rahimahullah berkata dalam menyifati para shahabat nabi, "Aku melihat mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam berusaha.

Juga orang yang saling tertawa di antara mereka.

Tapi ketika malam tiba, mereka menjadi seorang rahib."

(Sanadnya Shahih. Lihat Az Zuhd war Raqaiq-Ibnul Mubarak, hal. 107, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011).

Selasa, 19 Januari 2016

Menghidupkan Sunnah di Rumah

Menghidupkan Sunnah di Rumah merupakan Amal Nyata dalam Pendidikan Anak

Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib dahulu tidak suka kalau dirinya dibantu oleh seseorang untuk menyediakan air wudhunya. Beliau lebih suka untuk mengambil air sendiri jika ingin berwudhu.

Sebelum tidur, beliau mengadon roti sendiri untuk kebutuhannya.

Jika terbangun di tengah malam, beliau memulai amalan malamnya dengan bersiwak terlebih dahulu. Kemudian beliau mengambil air wudhu dan melakukan shalat malam.

Di malam itu juga, jika terdapat beberapa amalan shalat di siang hari yang terluput, beliau pun menggantinya di malam hari.

Ketika anak-anaknya melihat kebiasaannya ini, beliau pun berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku amalan ini tidak diwajibkan atas kalian, akan tetapi aku menyukai jika di antara kalian membiasakan diri dengan amalan yang baik dan merutininya."

(Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi, jil. 1, hal. 354-355, cet. Darul Hadits 2000).

Diutusnya Para Rasul adalah Bentuk Rahmat Allah

Syaikh Shalih Fauzan hafizhullahu berkata, "Allah mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya untuk mengajak mereka menuju peribadahan kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada selainNya.

Ini adalah bentuk dari rahmatnya Allah yang telah mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya agar mereka bisa ditunjukkan kepada jalan yang benar dan dilarang kepada jalan yang sesat.

Allah tidak membiarkan mereka tersesat dan terjatuh kepada kekufuran tanpa adanya pengutusan rasul yang menjelaskan mana jalan yang benar dan melarang dari jalan yang sesat."

(Ittihafuth Thullab bi Syarhi Manzhumatil Adab-Syaikh Shalih Al Fauzan, hal. 67-68, cet. Darul Hikmah 2009).

Dibencinya Menghias-hias Rumah tanpa Kebutuhan

Ibnu Daqiqil Ied rahimahullahu menyebutkan faidah lafazh hadits di hadits arbain nawawi no 2
وان ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطولون في البنيان
Beliau berkata, "Dalam hadits ini terdapat faidah dibencinya segala sesuatu yang bukan dari kebutuhannya seperti meninggikan bangunan dan menghias-hiasinya.

Telah diriwayatkan dari nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau, berkata, "Ibnu Adam diberikan ganjaran di dalam segala sesuatu kecuali apa-apa yang dia letakan di tanah ini." (HR. Tirmidzy, Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahihul Jami 8004 dari hadits Khabbab radhiallahu anhu).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat dalam keadaan beliau tidak meletakkan batu di atas batu lainnya, juga tidak meletakkan bata di atas bata lainnya.

Maksudnya adalah, bahwa beliau tidak membangun rumahnya dan tidak meninggikannya serta menghias-hiasnya."

(Dinukil dari Syarah Arbain, hal. 45, cet. Darul Mustaqbal 2005).

Minggu, 10 Januari 2016

Ringkasan Perjalanan Hidup Rasul 1

Ringkasan Perjalanan Hidup Rasul shallallahu alaihi wasallam (1)

Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahulahu berkata: Alhamdulillahi rabbil 'alamin wa shallallahu 'alaihi wa sallam wa baarik 'ala muhammad wa 'ala aalihi wa shahbihi ajmain.

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwasanya perkara yang paling wajib dari segala kewajiban yang telah Allah bebankan kepadamu adalah mengenal agamamu.

Dimana Mengenal agama dan mengamalkannya adalah sebab seorang masuk surga, dan bodoh tentang agama dan meninggalkannya adalah sebab seorang masuk neraka.

Di antara perkara yang paling jelas bagi orang yang memiliki pemahaman yang baik adalah mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu dan kisah orang-orang yang sekarang.

Yaitu kisah-kisah apa yang telah Allah balas bagi orang-orang yang menaati Allah dan bagi orang-orang yang mendurhakai Allah.

Barang siapa yang tidak memahami hal yang demikian dan tidak bisa mengambil manfaat dari kisah-kisah tersebut, maka tidak ada tempat mengelak lagi baginya.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, "Betapa banyak Kami binasakan orang-orang sebelum mereka di zamannya, padahal mereka lebih kuat dan pernah menjelajah di berbagai negeri, lalu apakah ada tempat untuk berlari?"
(QS. Qaf: 36).

Sebagian salaf berkata, "Kisah-kisah adalah tentara-tentara Allah."

Yakni, bahwasanya para penentang-penentang agama tidak akan akan mampu untuk membantah kisah yang ada.

Adapun bagian pertama dari kisah yang nyata, adalah segala kisah yang Allah telah ceritakan seputar Nabi Adam dan Iblis.

Hingga pada akhir kisah, Nabi Adam dan istrinya turun ke bumi.

Di dalam kisah tersebut, terdapat permasalahan yang begitu jelas sebagaimana hal ini dapat dimengerti bagi orang yang memperhatikannya.

Yaitu pada bagian akhir kisahnya, Allah berfirman, "Kami katakan, turunlah kalian dari surga seluruhnya. Hingga ketika nanti datang kepada kalian suatu petunjuk dari-Ku, siapa yang mengikuti petunjuk itu, janganlah kalian merasa takut dan sedih. Adapun orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka mereka adalah calon penduduk neraka dan kekal di dalamnya."
(QS. Al Baqarah 38 dan 39).

Dalam ayatnya yang lain Allah berfirman, "Barang siapa yang mengikuti petunjuk maka dia tidak akan tersesat dan merugi. Barang siapa yang berpaling dari mengingat-ku, maka sesungguhnya dia mendapat kehidupan yang sempit... -sampai pada ayat- Dan sungguh, azab akhirat itu lebih keras dan kekal."
(QS. Thaha: 133-137).

Yang memberikan petunjuk kepada Adam, adalah juga yang memberikan ancaman kepada kita. Dia lah yang mengutus para rasul.

Maka purnalah urusannya.

Allah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai penyampai ancaman.

Hal ini tentunya agar menjadi hujjah bagi Allah kepada manusia setelah di utusnya para rasul.

Rasul pertama dari kalangan para rasul adalah Nuh dan rasul yang terakhir adalah nabi kita shallallahu alaihi wasallam.

Oleh karenanya, bersemangatlah wahai hamba Allah untuk mengenal tali agama ini. Dimana tali ini adalah jalan yang bisa menghubungkan antara Allah dengan hambanya.

Yaitu barang siapa yang berpegang teguh dengan tali ini maka dia akan selamat, dan barang siapa yang menyia-nyiakannya maka dia akan binasa.

(Mukhtashar Sirah Nabi-Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, hal. 20-21, cet. Maktabah ar Rusyd 2011)

Insya Allah bersambung ke bagian 2

Tekad dan Niat Tetap Bernilai Walau Tanpa Amal

Syaikh Abdurrahman as Sa'dy rahimahullahu berkata, : "Jika seorang hamba sudah bertekad kuat untuk mengamalkan suatu kebaikan, tapi kemudian dia tidak mampu untuk melakukannya (mungkin karena ada udzur atau penghalang), maka yang seperti ini, tekad dan niatnya ternilai sebagai kebaikan yang sempurna."

(Lihat Bahjatu Qulubil Abrar-Syaikh as-Sa'di, hal. 10, cet. Darul Furqan 2012).

Yang Berkendaraan Hendaklah Salam

Salah Satu Faidah Mengapa Orang yang Berkendaraan itu Hendaknya Mendahului Salam kepada Orang yang Berjalan

Syaikh Abdullah al Bassam berkata, "... Bahwasanya seorang yang berkendaraan itu mempunyai nilai lebih berupa ketinggian dan kendaraan.
Oleh karenanya, mendahului salam adalah salah satu dari bentuk menunaikan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dia dapat.
Dan akan menepis kesan angkuh dan sombong di diri orang yang berjalan (ketika dia disalami)..."

(Lihat Taudhihul Ahkam-Syaikh al Bassam pada syarah hadits ke 1443 dan 1444).

Bahaya Laten Mengikuti Hawa Nafsu

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Wajib bagi seorang insan untuk berhati-hati dari hawa nafsunya.

Karena sering didapati ketika seseorang telah selamat dari penyembahan kepada patung-patung, pepohonan, bebatuan dan kuburan.

Dia juga telah mengetahui tauhid dan mengenal sunnah.

Akan tetapi ternyata dia tidak selamat dari mengikuti hawa nafsu yang semestinya dia jadikan hawa nafsunya tersebut selaras dengan apa-apa yang datang dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 22-23, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).

Membiasakan Anak agar Senantiasa di Atas Ketakwaan

Berkata Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu, "Sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk mentarbiyah (mendidik) anak-anak mereka di atas ketaatan kepada Allah.

Mengasuh mereka di atas ketaatan sampai mereka tumbuh besar di atas ketaatan.

Membiasakan dan membentuk mereka di atas ketaatan.

Adapun jika para orang tua menelantarkan anak-anak mereka, yaitu dengan membiarkan mereka tumbuh di atas ghaflah (kelalaian) dan kelabilannya seorang pemuda, maka mereka kelak akan tercampakkan dari masyarakat..."

(Taujihatun Muhimmatun lis Syabab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 15, Dar Imam Ahmad 2005).