Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Ibadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2024

Keutamaan Menunggu Shalat Selanjutnya setelah Selesai Shalat


Asy Syaikh Muhammad ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

انتظار الصلاة بعد الصلاة:
يعني ان الانسان من شدة شوقـه الى الصلوات كل مافرغ من صلاة فاذا قلبه متعلق بالصلاة الاخرى ينتظرها, فان هذا يدل على ايمانه ومحبتة وشوقـه الى هذا الصلوات العظيمـة التي قال عنها رسول الله صلى الله صلى الله عليه وسلم, "وجعلت قرة عيني في الصلاة". فاذا كان الانسان ينتظر الصلاة بعد الصلاة فان هذا مما يرفع الله به الدرجات ويكفر به الخطايا والسيئـات

Menunggu shalat setelah shalat yakni bahwasanya seorang insan tengah sangat rindunya pada shalat-shalat. Setiap ia selesai shalat, maka hatinya akan terpaut dengan shalat yang selanjutnya ia pun menunggunya.

Maka yang demikian ini, menunjukkan atas imannya, kecintaan dan kerinduannya kepada shalat-shalat yang agung ini dengan apa yang telah disabdakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, "Dan dijadikan padaku sebagai penyejuk mataku pada perkara shalat".

Oleh karenanya jika seorang insan menunggu shalat setelah shalat, sesungguhnya inilah yang akan membuat Allah menaikkan derajat dan yang akan menghapuskan dosa dan kesalahan-kesalahan.

(Syarh Riyadhish Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1, hal 400).

Minggu, 13 Agustus 2023

Efek Negatif Menyia-nyiakan Shalat



Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

" كل المشاكل التي تُصيب الإنسان من الخواطر والوساوس والتهاون كله بسبب إضاعة الصلاة ".
[جلسات رمضانية(١٩/٢)]

"Setiap permasalahan yang mengenai seorang insan berupa kesulitan-kesulitan, was-was dan kerendahan, semuanya disebabkan karena penyia-nyian shalat".

(Jalasaat Ramadhaniyyah, 2/19)

Membaca dan Mempelajari Al Quran adalah Sebaik-baik Jalan di dalam Mendekatkan Diri kepada Allah



Shahabat Khabbab ibnul Arrat radhiallahuanhu berkata, 


 تقرب إلى الله ما استطعت ، فإنك لن تتقرب إليه بشيء أحب إليه من كلامه


"Bertaqarrub-lah kepada Allah semampumu, karena sesungguhnya engkau tidak akan bisa bertaqarrub kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya dibanding dengan kalam-Nya (Al Qur'an)".


(Al Ibanatul Qubra, 20. Sanadnya jayyid).


Jumat, 16 Juni 2023

Jangan Lelah dalam Beramal

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam Surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang mengganggu manusia”. (HR. Muslim).

Terkesan amalan remeh namun terbalas dengan surga. Bisa jadi kita tidak menganggapnya amalan luar biasa, namun ketika amalan itu ikhlash, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil menyatakan,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya ia akan melihatnya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Amalan yang mungkin kita lupakan, ternyata Allah jalla wa 'ala tidak lupa. Di hari kiamat pasti tidak akan terlewat.

Maka janganlah remehkan sekecil apapun amalan-amalan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang ceria kepadanya. Sesungguhnya amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Oleh sebab itu, jangan remehkan setiap amalan. Terlebih ketika amalan itu merupakan bagian dari ibadah-ibadah yang wajib. 

Letihnya kita berdiri ketika shalat..

haus dan laparnya kala kita berpuasa..

lelahnya badan dan pikiran dalam mencari nafkah..

beratnya raga dan batin di dalam mengurusi orang tua yang telah renta..

capeknya mengajari dan mendidik anak..

Bahkan ketika kita terlibat berta'awun di dalam dakwah, baik menjadi panitia kajian atau menjadi panita ifthar Ramadhan di mahad..

Yakinlah, ketika ikhlash di kerjakan, semuanya akan kita petik manisnya kelak di akhirat.

Terlebih jika amalan-amalan itu merupakan rutinitas kita, masyaallah.. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang rutin walaupun itu sedikit". (HR. Muslim).

Jadi, jangan lemah untuk beramal. Apapun amalanmu teruslah lakukan, walaupun remeh dan sedikit. Karena kita tidak tahu amalan yang manakah yang paling ikhlash yang bisa kita lakukan.

Jika yang terkesan remeh saja bisa diganjar surga, apatah lagi amalan yang lainnya!

Minggu, 22 Januari 2023

Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid Didapat Pula Ketika Pulangnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. 

Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafizhahullahu menyatakan,

وهذا الثواب كما يكون في الذهاب، فإنه يكون أيضاً في الإياب

"Dan pahala ini (keutamaan berjalan menuju masjid) sebagaimana di dalam perginya juga (sama dalam pahalanya), karena sesungguhnya mendapatkan pula ketika pulangnya". (Syarhul Adabil Masyi ilash Shalah hal. 9, cet. Darul Furqan).

Penjelasan Hadits Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah beristirahat, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,

وإسباغ الوضوء في المكاره يعني في حال البرودة -برودة الجو وبرودة الماء- كونه يسبغ الوضوء في هذه الحال يدل على عظيم العناية بالوضوء والحرص على أن تؤدى الصلاة بوضوء شرعي سليم

Menyempurnakan wudhu pada saat keadaan kurang nyaman yakni dalam keadaan yang dingin -dingin udaranya dan dingin airnya- dilakukan sempurna di dalam wudhunya pada keadaan tersebut, menunjukkan tingginya perhatian orang tersebut dengan perkara wudhu dan semangatnya ia dalam menunaikan shalat dengan wudhu yang syar'i.


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata pula,

وليس معنى الرباط أنه يبقى في المسجد لا يعمل لحاجاته ولا يذهب لقضاء حاجة أهله ولا يبيع ولا يشتري لا، المقصود: أنه يكون على باله الصلاة وعلى همته وعلى عزمه لا تذهب عن قلبه وفكره، بل كلما فرغ من صلاة فالصلاة على باله لا ينساها ولا يضعف عنها، بل هو مرابط في هذا الأمر بالتذكر والعناية والمحافظة والمسارعة كل صلاة في وقتها

Bukanlah makna ar ribath itu ia tinggal di masjid, janganlah ia mengamalkan sesuatu di masjid untuk keperluannya, jangan pula ia pergi ke masjid untuk menunaikan keperluan keluarganya, tidak pula untuk menjual atau membeli, bukan!. Maksudnya adalah ia menjadikan pada dirinya hanya ada shalat, dan tujuan utamanya serta fokusnya tidak keluar dari hati dan pikirannya melainkan untuk shalat.
Setiap ia selesai dari shalat, maka perkara shalat di jiwanya tidak terlupakan dan tidak lemah dari menunaikannya.

Bahkan ia mutlak mengikat perkara shalat ini dengan dzikir , perhatian, penjagaan dan bersegera di setiap shalat pada waktunya". D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D9%84%D9%83%D9%85- %D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D9%85%D8%AD%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9% 84%D9%87-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%88%D9 %8A%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%AC%D8%A7%D8 %AA
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di
catatankajianku.blogspot.com #ibadah


Selasa, 19 April 2022

Mendatangi Shalat Hendaknya dengan Ketenangan



Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata,


والصلاة ليست من الأشياء التي تنتهب، بل هي من العبادات العظيمة التي يأتي إليها الإنسان هو مطمئن، ساكن القلب مطمئنا؛ لأنه قد يسرع، فيثور نفسه، فيدخل في الصلاة وهو ثائر النفس، وهذا مما يشغله عن الخشوع في الصلاة، أما إذا جاء في هدوء، ودخل في الصلاة بطمأنينة، فهذا أدعى لأن يخشع قلبه، ويسكن بين يدي الله سبحانه وتعالى


"Shalat bukanlah termasuk hal yang dirampas, akan tetapi ia termasuk ibadah agung yang datang kepada seorang insan di dalam shalatnya yakni ketenangan, ketentraman hati.


Karena sesungguhnya ia tergesa-gesa maka jiwanya akan tidak tenang dan ia masuk shalat dalam keadaan gelisah jiwanya, dan inilah yang menyibukkannya dari kekhusyuan dalam shalat.


Adapun jika dia datang dalam keadaan tenang, dan dia memasuki shalat dengan tenang, maka ini akan terasa nyaman karena hatinya khusyu dan tenang di antara Tangan Allah subhanahu wa ta'ala".


(Syaru Kitab Adabil Masyi ilash Shalah, Syaikh Fauzan, hal. 25, cet. Maktabah Adz Dzahabi)

Walau Seratus Raka'at Tidak Akan Bisa Menggantikannya, tetapi Taubatlah yang Bisa Engkau Perbuat.



Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,


أن الصواب أن من ترك فريضة حتى خرج وقتها متعمدا بدون عذر فإنه لا صلاة له ولو صلى ألف مرة، ولكن ليس عليه إلا أن يتوب ويستغفر ويخلص الله جل في توبته


Sesungguhnya (pendapat) yang benar adalah barang siapa yang meninggalkan shalat wajib sampai keluar waktunya secara sengaja tanpa adanya udzur, maka sesungguhnya tidak ada shalat baginya (ia tidak perlu mengganti shalat yang ia tinggalkan) walaupun ia shalat sebanyak seratus rakaat (sebagai gantinya).


Akan tetapi tidak ada yang harus ia lakukan kecuali bertaubat dan beristighfar serta mengikhlaskan diri kepada Allah di dalam taubatnya."


(Fathu Dzil Jalal wal Ikram, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 2, hal. 244, cet. Maktabatun Nur 2011)


Amalan itu Dirutini, Bukan Sesekali !


Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,


لا ينبغي للإنسان إذا فعل عبادة من العبادات أن يقطعها، فإن احب العمل إلى الله أدومه وإن قل بل يديم العمل، لأن كونه يقطع العمل الصالح بعد أن تلبس به قد يفتح له باب التهاون في جميع الأعمال الصالحة ويدع أحيانا من الرواتب، فالذي ينبغي أن يمرن الإنسان نفسه على العبادة ويستمر عليها ولو كانت قليلة ففيها خير وبركة.


Tidak seyogyanya bagi seorang insan jika ia telah melakukan suatu ibadah dari ibadah-ibadah yang ada untuk memutusnya (berhenti tidak mengamalkannya lagi), karena sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah ta'ala adalah yang ia rutini walau sedikit namun terus-menerus diamalkannya. Perbuatan memutus amalan shalih setelah amalan itu dirutini terkadang akan membuka pintu peremehan di sejumlah amalan-amalan shalih dan terkadang pula akan bisa meninggalkan dari yang rawatib (amalan yang rutin). 


Maka sudah seyogyanya untuk seorang insan agar menempa dirinya di atas ibadah dan berusaha merutininya walaupun sedikit, karena yang demikian itu terdapat kebaikan dan barakah."


(Fathu Dzil Jalal wal Ikram, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 2, hal. 241, cet. Maktabatun Nur 2011)

Senin, 14 Maret 2022

Kedudukanmu Berdasar Pemanfaatan Waktumu


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata,


وَاعْلَمْ أَنَّ الأَوْقَاتَ الَّتِي يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا مُعَظَّمَةُ الْقَدْرِ لاشْتِغَالِ النَّاسِ بِالْعَادَاتِ وَالشَّهَوَاتِ ، فَإِذَا ثَابَرَ عَلَيْهَا طَالِبُ الْفَضْلِ دَلَّ عَلَى حِرْصِهِ عَلَى الْخَيْرِ . وَلِهَذَا فُضِّلَ شُهُودُ الْفَجْرِ فِي جَمَاعَةٍ لِغَفْلَةِ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ عَنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ ، وَفُضِّلَ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ وَفُضِّلَ قِيَامُ نِصْفِ اللَّيْلِ وَوَقْتِ السَّحَرِ. (التبصرة 2/ 47)


"Ketahuilah bahwasanya waktu-waktu yang manusia lalai darinya merupakan standar tingginya kedudukan berdasarkan kesibukan manusia di dalam (memanfaatkannya) dengan ibadah-ibadah dan syahwat-syahwat. 


Jika menetapi waktu-waktu tersebut dengan menuntut keutamaan maka menunjukkan atas semangatnya kepada kebaikan. Oleh karenanya diutamakan orang yang menghadiri shalat shubuh berjamaah atas lalainya kebanyakan manusia dari waktu tersebut, dan diutamakannya antara dua isya dan diutamakannya menegakkan shalat pada tengah malam dan waktu sahur".


(At Tabshirah, Ibnul Jauzi, 2/47)


Mengapa Shalatku tak Bisa Mencegah dari Perbuatan Dosa?


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


... وأما كونك تصلي وصلاتك لا تنهاك عن المنكر فلعل صلاتك فيها قصور؛ لأن الصلاة التي تنهى عن الفحشاء والمنكر هي الصلاة الكاملة، التي تكون على وفق ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم باستحضار القلب، وأداء العمل كما جاءت به السنة...


... Dan adapun keadaanmu yang shalat akan tetapi shalatmu tidak bisa mencegah dari perkara yang munkar, maka dimungkinkan shalatmu terdapat kekurangan, karena shalat yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang sempurna, yakni shalat yang selaras dengan apa yang datang dari Nabi shalallahu alaihi wassalam dengan iringan hadirnya hati dan penunaiannya sebagaimana datangnya sunnah".


(Lihat Kitabul Liqa asy Syahri, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 18, fasal Ahammiyatuth Taubah)

Sabtu, 30 Oktober 2021

Sedekah akan Mengembangkan Harta

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


"إنَّ العبدَ إذا تصدَّق من طَيِّبٍ تقبلها الله منه، وأخذها بيمينه فربّاها، كما يربِّي أحدكم مُهره أو فصيلَه، وإنَّ الرجلَ ليتصدقُ باللقمةِ، فتربو فى يد الله -أو قال: في كفِّ الله- حتى تكون مثل الجبل، فتصدقوا".

رواه ابن خزيمة


Sesungguhnya seorang hamba jika ia bersedekah dari harta yang baik maka Allah akan menerima sedekah tersebut darinya dan mengambil sedekah itu dengan tangan kananNya kemudian akan dikembangkan sebagaimana salah seorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau membesarkan anak untanya.


Dan sesungguhnya ada seorang lelaki yang ia bersedekah dengan satu suapan, maka ia berkembang di tangan Allah -atau berkata- di telapak tangan Allah, hingga menjadi seperi gunung, maka bersedekahlah kalian"!


(HR. Ibnu Khuzaimah dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu. Hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam Shahih at Targhib wat Tarhib)


Jangan Sia-siakan Akhir Malammu

 

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata,


لا ينبغي للإنسان أن يترك قيام شيء من الليل  - ولو قليلا - فإن الله تعالى - وهو الغني الكريم - ينزل في جوف الليل ، فيستعرض حوائج عباده بنفسه  ، فيقول : (من يدعوني فأستجيب له ؟ من يسألني فأعطيه ؟ من يستغفرني فأغفر له) فينبغي للإنسان ألا يُفوت هذا الموسم العظيم من مواسم الآخرة ، وفي الليل ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله تعالى حاجة إلا أعطاه إياها. [شرح عمدة الأحكام ص ٣٦٠ ]


Tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk meninggalkan shalat malam walau sedikit, karena Allah ta'ala -dan Dia adalah Dzat Yang Maha Kaya- turun di penghujung malam dan menawarkan hajat-hajat hambaNya untuk diriNya dengan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepadaKu maka akan Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu maka Aku akan beri dan barang siapa yang memohon ampun padaKu maka akan Aku ampuni".


Maka tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk tidak melewati waktu yang agung ini dari waktu-waktu di akhir malam, dan di malam tersebut terdapat waktu yang tidaklah bertepatan dengan seorang hamba muslim yang meminta hajat kepada Allah ta'ala melainkan Allah akan berikan permintaannya".


(Syarhu Umdatil Ahkam, Syaikh As Sa'dy, hal. 360)


Jumat, 22 Oktober 2021

Allah Akan Kokohkan Seorang yang Selalu Ikhlash di dalam Ibadahnya


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,


‏إذا قام العبد بعبادة الله مخلصا له في أقوله وأفعاله وإرادته لا يريد بها إلا وجه الله والدار الآخرة ولا يريد بها جاها ولا ثناء من الناس ولا مالاً ولا شيئاً من الدنيا واستمر على هذه العبادة المخلصة في الضراء والسراء وشدة والرخاء، مكن الله له في الأرض.


"Jika seorang hamba menegakkan ibadahnya kepada Allah dengan ikhlas di dalam ucapan dan perbuatannya, serta tujuannya adalah tidak menginginkan kecuali hanya wajah Allah dan negeri akhirat semata, juga tidaklah ia menginginkan dengan ibadahnya tersebut kedudukan dan pujian dari manusia, tidak pula harta dan apapun dari dunia, dan ia menetapi ibadah yang ikhlas ini di kala senang atau susah, kala sempit maupun lapang, maka Allah akan menguatkan/mengokohkan dia di bumi".


(Majalis Syahru Ramadhan, hal. 147, cet. Muassasatusy Syaikh Ksa 1435H).


Bangun Pagi, Itu Biasa. Bangun di Sepertiga Malam Terakhir, Itu Baru Luar Biasa!


Bangun di sepertiga malam terakhir tentunya bukan sekedar ingin buang hajat ke toilet atau meneguk air melepas dahaga, namun ia berusaha untuk mengingat Allah, baik dengan lirihan doa atau menegakkan shalat malam. Dari Amr bin Abasah radhiallahuanhu, bahwasanya beliau pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 


أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُن


"Saat yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah kala pertengahan malam terakhir, oleh karenanya jika engkau mampu untuk menjadi orang yang mengingat Allah di waktu tersebut, maka lakukanlah". (HR. Tirmidzi dan hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


"Rabb kami tabaraka wa taala turun di setiap malam ke langit dunia ketika di sisa sepertiga malam terakhir, dan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikannya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan beri ampun untuknya". (HR. Bukhari dan Muslim).


Semoga Allah taala memudahkan kita untuk mengamalkannya, aamiin.


Bersiwak bukan Amalan Biasa, tapi Luar Biasa!


Aisyah radhiallahu anha mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:


السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ


“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar Rabb.” (HR. Nasai, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu)


Ibnu Umar radhiallahu anhuma juga menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى


“Ditekankan atas kalian untuk bersiwak, karena dengan bersiwak akan membaikkan (membersihkan) mulut, diridhai oleh Ar Rabb tabaraka wa ta’ala.” (HR. Ahmad, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu).


Mari Bersedekah


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٍ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba: 39)


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata,


أَيْ مَهْمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْء فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَأَبَاحَهُ لَكُمْ فَهُوَ يُخْلِفهُ عَلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا بِالْبَدَلِ وَفِي الْآخِرَة بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَاب


"Yakni apa saja yang kalian infakkan dari sesuatu terhadap apa yang diperintahkan (zakat yang wajib) atau yang dibolehkan (sedekah yang tidak wajib) kepada kalian, maka Allah akan menggantinya di dunia dan di akhirat dengan balasan ganjaran dan pahala". (Lihat Tafsir Ibnu Katsir ada ayat ini).


Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa orang yang besedekah sejatinya akan menambah hartanya, beliau bersabda,


مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ


“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).


Bahkan setiap harinya Allah mengutus malaikatnya untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang mau berinfak dan mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan-nahan hartanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,


مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا


“Tidak ada hari yang manusia berada di pagi hari kecuali turun dua malaikat, salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak,’ dan yang lainnya mengatakan, ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang bakhil’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat.


Balasan di Dunia Lebih Ringan dibanding Balasan di Akhirat


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata, 


فإذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا، إما بماله أو بأهله، أو بنفسه، أو بأحد ممن يتصل به . المهم أن تعجل له العقوبة، لأن العقوبات تكفر السيئات ، فإذا تعجلت العقوبة وكفر الله بها عن العبد، فإنه يوافي الله وليس عليه ذنب ، قد طهرته المصائب والبلايا ، حتى إنه ليشدد على الإنسان موته لبقاء سيئة أو سيئتين عليه، حتى يخرج من الدنيا نقيا من الذنوب، وهذه نعمة لأن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة .

لكن إذا أراد الله بعبده الشر ، أمهل له واستدرجه وأدر عليه النعم ، ودفع عنه النقم، حتى يبطر ويفرح فرحاً مذموما بما أنعم الله به عليه." شرح رياض الصالحين" (1/258)


"Jika Allah menginginkan bagi hambanya kebaikan, maka Allah akan segerakan hukuman/balasannya di dunia, bisa terjadi pada hartanya, keluarganya, dirinya atau bisa terjadi pada salah seorang yang terdapat hubungan dengan dirinya. Intinya adalah disegerakannya balasan untuknya, karena balasan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.


Jika hukuman itu disegerakan, maka Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dari hamba tersebut, karena Allah telah menunaikan/mencukupkan balasannya dan tak ada lagi dosa pada hamba tersebut. Kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya telah bersih sampai ia dikokohkan kala maut menjemputnya tersisa satu atau dua kesalahan saja sehingga ia pun keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.


Ini merupakan sebuah kenikmatan, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan dengan adzab di akhirat.


Akan tetapi jika Allah menginginkan bagi hamba-nya kejelekan maka akan Allah lalaikan hamba tersebut dan Allah membuat istidraj (tipu daya/tidak sadar) pada dirinya, ia terus diberikan nikmat dan tertolaknya bencana pada dirinya, hingga dirinya berlaku sombong dan merasa senang dengan kesenangan yang tercela karena apa yang Allah telah berikan nikmat kepadanya". 


(Syarah Riyadhush Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1, hal. 258).


Melakukan Amalan Mubah Bisa Mendapat Pahala

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "... Terkadang sesuatu yang pada asalnya mubah (perkara yang boleh) akan ternilai sebagai ketaatan, ketika seseorang yang mengamalkan perkara mubah itu meniatkannya untuk perkara kebaikan. Contohnya seorang yang meniatkan makan dan minumnya sebagai bentuk takwa karena didasari atas ketaatan kepada Allah. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Makan sahurlah kalian, karena pada sahur terdapat barakah. (HR. Bukhari dan Muslim)."


(Silahkan lihat Ta'liqat Arbain Nawawiyah-Syaikh Utsaimin pada hadits yang pertama)


Disunnahkan Berhias Ketika Ingin Shalat


Al Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, 


يستحب التجمل عند الصلاة ، ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد ، والطيب لأنه من الزينة ، والسواك لأنه من تمام ذلك . ومن أفضل الثياب البياض 


Disunnahkan untuk berhias ketika hendak menunaikan shalat, terlebih ketika hari Jum'at dan hari id (hari raya). Juga memakai wewangian, karena ini termasuk dari bagian zinah (berpakaian yang indah). Begitupun dengan siwak, karena ia termasuk penyempurna dari berhias, dan pakaian yang paling utama adalah yang berwarna putih." 


(Tafsir Ibnu Katsir jil. 2, hal 290, cet. Maktabah Imam Muslim 2017)