Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Sirah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Sirah Nabi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2022

Ketawadhu'an para nabiyullah di dalam pakaian dan kendaraan mereka serta pelayanannya terhadap diri sendiri

 Syaikh Arafat al Muhammadi hafizhahullahu berkata, 


Ketawadhu'an para nabiyullah di dalam pakaian dan kendaraan mereka serta pelayanannya terhadap diri sendiri.


Ibnu Mas'ud radhiallahuanhu berkata, "Dahulu para nabi memakai pakaian ash shuf (terbuat dari kain kasar/wol), memerah kambing, mengendarai himar (keledai), dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memiliki keledai yang dipanggil 'Afiir".


(Thabaqat Ibnu Saad, 1/492, dishahihkan Syaikh Arafat al Muhamadi).


Selasa, 15 Oktober 2019

Nabi Ibrahim alaihissalam diberikan oleh Allah kebaikan di dunia. Apa itu?


Syaikh As Sadi rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya, "Rezeki yang luas, istri-istri yang baik dan keturunan yang shalih serta akhlak yang mulia."

(Lihat di Taisir Karimir Rahman pada surat An Nahl: 123)

Jumat, 24 Agustus 2018

Tiga Saudara Sepersusuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Ibu Susu Tsuwaibah



Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lahir, beliau disusui oleh seorang wanita yang bernama Tsuwaibah, yakni budak perempuannya Abu Lahab.

Disamping menyusui Rasulullah, Tsuwaibah menyusui juga Hamzah ibn Abdil Muthalib, Abu Salamah al Makhzumi dan putranya Tsuwaibah sendiri yang bernama Masruh.

Maka jadilah ketiganya sebagai saudara-saudara susunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari ibu susunya, Tsuwaibah.

(Silahkan lihat Mukhtashar Sirah Nabi-Imam Abdul Ghani al Maqdisi, hal. 27, cet. Manaratul Islam 2013).

Selasa, 27 Juni 2017

Tujuan Mempelajari Sirah Nabi


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Janganlah kita dalam mempelajari sirah nabi, hanya bertujuan sekedar selesai membaca dari awal sampai akhir saja, lalu kita mengucapkan: kita telah selesai membaca sirah.

Bukan!

Sudah menjadi suatu keharusan dalam kita mempelajari sirah adalah untuk mentauladani rasul di dalam perbuatan-perbuatannya dan ucapan-ucapannya.

Inilah tujuan kita mempelajari sirah."

(Disadur dari Syarh Sittati Mawadi minas Sirah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Silsilatu Syarhir Rasail, hal. 52, cet. Darul Atsariyah 2008).

Rabu, 16 Desember 2015

Unta Merah


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Demi Allah, jika seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena sebab perantaraan engkau, maka itu lebih baik untukmu dibanding mendapat seekor unta merah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar menerangkan bahwa maksud hadits di atas adalah lebih baik untuk kalian jika dibandingkan mendapat unta merah kemudian menshadaqahkannya.
Ada juga yang menyatakan lebih baik dibanding mempunyai dan memiliki unta merah.
Dahulu unta merah adalah hewan yang digunakan oleh orang-orang arab untuk ajang berbangga-bangga.
(lihat jelasnya di Fathul Bari 7/545).

Dinyatakan oleh Imam an Nawawi bahwa unta merah adalah harta yang paling mewah di kalangan bangsa arab.
Dimisalkan dengan unta merah bukan berarti perkara dunia mempunyai nilai jika dibandingkan dengan perkara akhirat, akan tetapi hal ini hanya sebagai pendekatan pemahaman saja.
Tentunya nilai yang didapat di akhirat tidak bisa dibandingkan dengan perkara dunia.
(Lihat jelasnya di Syarah Shahih Muslim an Nawawi 15/178).

Ibnul Qayyim menerangkan bahwa unta merah adalah harta pilihan dan merupakan kemulian bagi pemiliknya.
(Lihat di Miftah Daris Sa'adah 1/250).

Ibnu Hisyam membawakan riwayat Ibnu Ishaq bahwa salah satu orang Quraisy dahulu yang memiliki unta merah adalah Utbah ibn Rabiah.
Utbah membawa unta merahnya ke medan Badar, dan dia pun mati kafir ketika menjalani duel maut, sesaat sebelum perang pecah.
(Lihat jelasnya di As Sirah an Nabawiyah Ibnu Hisyam 1/383 dan 386).

Wallahu alam, semoga bermanfaat.

Minggu, 13 Desember 2015

Diantara Kewajiban yang Harus Ditunaikan kepada Rasulullah

Berkata Syaikh Abdurrahman as Sa'dy rahimahullah, "Wajib atas kita untuk menauladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di segala sesuatu.

Janganlah kita mendahulukan petunjuk dan ucapannya di atas petunjuk dan ucapan dari seorang pun, siapapun dia.

Wajib juga bagi kita untuk menghormati, memuliakan dan membela Rasulullah.

Kita bela agama (yang dibawanya) dengan jiwa, harta dan lisan-lisan kita.

Tentunya hal itu dikerahkan penuh sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.

Semua hal itu termasuk kenikmatan yang paling agung, yang Allah limpahkan kepada kita."

(Nurul Bashair-Syaikh as Sa'dy, hal. 86, cet. Darul Minhaj 2003).

Minggu, 29 November 2015

Rahib Yahudi Dahulu

Rahib Yahudi Dahulu pun Menyuruh Orang Untuk Mengikuti Rasulullah

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata, "Abu Nuaim dan Muhammad ibn Hayyan meriwayatkan dari Usamah ibn Zaid, beliau berkata, Zaid ibn Amr ibn Nufail bercerita:

Seorang rahib dari rahib-rahib Yahudi di negeri Syam memberi informasi kepadaku, dia berkata:

Sungguh, telah keluar di negerimu seorang nabi atau dia telah ada, karena telah nampak bintangnya.

Kembalilah dan benarkanlah dia kemudian ikutilah dia."

(Sanadnya hasan. Lihat Shahih Sirah Nabawiyah-Syaikh Al Albani, hal. 14, cet. Maktabatul Ma'arif 2007).

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, orang-orang Yahudi tahu jalan kebenaran tapi mereka tidak mau ikut jalan tersebut.

Maka jika kita dimudahkan Allah dalam mengenal jalan kebenaran, apakah kita ingin meniru orang-orang Yahudi?

Tentunya amalan Anda sendirilah yang menentukan jawabnya.

Sabtu, 14 November 2015

Yahudi pun Tahu Malam itu Rasul Lahir

Orang Yahudi pun Tahu Malam Rasulullah Lahir

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata, "Muhammad ibn Ishaq meriwayatkan dari Hassan ibn Tsabit radhiallahu anhu, beliau berkata:

Demi Allah, sesungguhnya dahulu aku adalah seorang anak yang sudah besar tapi belum baligh, berumur 7 atau 8 tahun. Ketika itu aku sudah bisa memahami apa yang aku dengar.

Pada suatu hari tiba-tiba aku mendengar seorang Yahudi berteriak di atas benteng kota Yatsrib, "Wahai sekalian orang-orang Yahudi.."

Hingga berkumpullah orang-orang di sekitarnya.

Orang-orang Yahudi yang berkumpul berkata kepada orang itu, "Celaka engkau, ada apa dengan dirimu?"

Orang yang berteriak itu menjawab, "Telah tampak di malam hari bintang Ahmad yang menandakan telah lahirnya dia."

(Sanadnya hasan. Lihat Shahih Sirah Nabawiyah-Syaikh Al Albani, hal. 14, cet. Maktabatul Ma'arif 2007).