Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Rijal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faidah Ringan Seputar Rijal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2017

Nama-Nama Shahabat yang Wafat di Masing-Masing Negeri


Shahabat yang terakhir wafat di negeri Makkah adalah Ibnu Umar radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Madinah adalah Sahl ibn Sa'ad ibn Mu'adz radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Kufah adalah Abdullah ibn Abi Aufa radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Bashrah adalah Anas ibn Malik radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Mesir adalah Abdullah ibnul Harits ibn Jaza' radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Syam adalah Abdullah ibn Yusr radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Khurasan adalah Buraidah radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah Abu Thufail Amr ibn Watsilah radhiallahu 'anhu.

(Lihat Al Mud-hisy karangan Ibnul Jauzi, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2010).

Shahabat yang terakhir wafat

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang mempersaksikan baiat al aqabah adalah Jabir ibn Abdillah radhiallahu anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang ikut perang badar adalah Abul Yusr radhiallahu anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan muhajirin adalah Sa'ad ibn Abi Waqash radhiallahu anhu, beliau juga yang terakhir wafat dari kalangan sepuluh shahabat pemetik janji surga.

(Lihat Al Mud-hisy karangan Ibnul Jauzi, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2010).

Jumat, 22 Januari 2016

Menangis jika Mengingat Imam Ahmad

Ikhwati fillah,
Tahukah Anda, dahulu, jika Imam Abdurrazaq ash Shan'ani rahimahullah mengingat Imam Ahmad, melelehlah air matanya.

Kenapa?

Beliau bercerita, "Ketika Imam Ahmad datang kepadaku untuk menimba ilmu, ia pun bermukim di sana (suatu tempat) sekitar 2th-an.

Pada suatu waktu, sampailah kepadaku kabar bahwa perbekalan dan uang Imam Ahmad habis.

Maka aku pun memanggilnya dan membawanya ke balik pintu.

Tidak ada seorang pun yang melihat kami berdua ketika itu.

Aku berkata kepada Imam Ahmad, "Sesungguhnya kami tidak mengumpul-kumpulkan dinar (uang yang nilainya besar), maka ambilah uang ini wahai Ahmad!.
Jika kami memutar uang ini untuk jual beli, niscaya kami akan sibuk dengan uang-uang ini.
Sungguh, aku mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 10 orang wanita, maka ambilah uang-uang ini. Aku anggap mereka masih cukup untuk tidak dinafkahi dahulu sampai engkau bisa mengambil uang ini untuk keperluan kebutuhanmu."

Imam Ahmad menjawab, "Wahai Abu Bakr jika aku mau menerima sesuatu dari pemberian manusia maka akan aku akan menerima dari pemberianmu."
-selesai-

Subhanallah!
Itulah yang membuat Imam Abdurrazaq menangis haru..

Mengingat besarnya sifat qana'ah dan 'iffah pada diri Imam Ahmad.

Berkata Ahmad ibn Sinan al Wasithy, "Telah sampai kepadaku bahwa Imam Ahmad sempat sampai menggadaikan sendalnya kepada tukang roti agar beliau bisa mendapatkan makanan. Ini dilakukan pada saat beliau di Yaman (ketika menimba ilmu kepada Imam Abdurrazaq)."
-selesai-

Ikhwati fillah,
Bagaimana dengan kita?

Sepertinya kita justru menangis karena tidak ada orang yang mengasihani kekurangan kita.

Kita pun sepertinya justru mengharap pemberian. Jika ada yang memberi, kita pun anggap kecil apa yang kita terima.

Allahu musta'an.

(Kisah Imam Ahmad di atas bisa dilihat di Manaqib al Imam Ahmad-Ibnul Jauzi, hal. 226)

Minggu, 29 November 2015

Ketika Ali ibn Hasan Dighibahi

Bagaimana rasanya jika ada orang lain yang bicara negatif tentang diri kita?

Mungkin batin akan berkata: Dasar, beraninya di belakang. Pengecut!

Lisan pun kadang tak kuasa meluapkan kejengkelan.

Ghibah pun di balas ghibah.

Pembaca yang budiman, apakah harus seperti itu?

Mari kita tengok contohan teladan salafush shalih dalam hal ini.

Adalah Ali, putra dari Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Di dalam kitab Shifatush Shafwah karya Ibnul Jauzi, beliau menuturkan:

Sufyan berkata, "Suatu ketika datang seorang lelaki kepada Ali bin Hasan.

Dia mengadukan seseorang kepadanya: "Sesungguhnya si Fulan telah membicarakan dan mencelamu."

Maka Ali ibn Hasan pergi menemui orang tersebut bersama kami.

Kami menyangka beliau akan membela diri.

Ketika Ali ibn Hasan bertemu dengan orang yang mencelanya, dia berkata, "Wahai Fulan jika apa yang kau katakan tentang diriku itu benar, maka semoga Allah mengampuniku.

Tapi jika apa yang kau katakan tentang diriku itu tidak benar, maka semoga Allah mengampunimu."
-selesai-

Pembaca yang dirahmati Allah, apakah kita mampu untuk berbuat demikian?

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar mampu mengamalkannya.
Amin.

(Kisah Ali ibn Hasan dinukil dari Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi, jilid 1, hal. 354, cet. Darul Hadits 2000.)

Kisah Ibnu Abi Hatim di Mesir


Dalam kitab Siyar Alamun Nubala karya Imam Adz Dzahabi dan juga di kitab Tadzkiratul Huffazh karya Imam Khatib al Baghdadi, dikisahkan bahwa seorang ulama besar yang bernama Abdurrahman bin Abi Hatim pernah menuturkan sebuah kisah perjalanan dalam belajarnya menimba ilmu agama.

Ini kisahnya...

Kami pernah berada di negeri Mesir selama 7 bulan.

Selama itu tidak pernah kami makan maraqah (sejenis kuah daging).

Sepanjang siang kami membagi waktu hanya untuk belajar bersama para syaikh (guru besar).

Sementara di malam hari kegiatan kami adalah menulis, menyalin dan saling memperbaiki catatan.

Pada suatu hari seperti biasanya kami beserta sahabat yang lain berangkat mendatangi syaikh untuk belajar.

Murid-murid yang lain berkata kepada kami bahwa syaikh sedang sakit.

Maka kami pun pulang.

Di tengah perjalanan, kami melihat ikan segar yang begitu menggoda.

Maka kami pun membelinya.

Tatkala kami pulang ke rumah, tak sadar, ternyata waktu belajar telah tiba.

Tidak mungkin bagi kami untuk memasak ikan tersebut.

Akhirnya kami pun memutuskan berangkat untuk mengikuti pelajaran.

Kami tinggalkan ikan itu.

Demikan secara tak sadar, hal ini berlangsung selama 3 hari.

Kami pun teringat akan ikan tersebut.

Ketika dicek, ternyata keadaannya sudah berubah.

Tidak segar lagi.

Namun akhirnya kami tetap memakannya walau keadaan yang demikian.

Kami santap ikan itu mentah-mentah karena memang sudah tidak ada waktu lagi bagi kami untuk mengolahnya.

Memanglah, Ilmu itu tidak akan didapat dengan badan yang santai.
-selesai-

Pembaca yang dirahmati Allah...
Yang hebat di sini bukanlah sisi makan ikan setengah basinya.

Akan tetapi yang hebat dari kisah ini adalah sisi bagaimana para ulama ketika belajarnya lebih mengutamakan waktu mereka untuk menimba ilmu ketimbang yang lainnya.

Mereka tidak rela waktu belajarnya ditukar dengan apapun.

Wajar, jika agama ini senantiasa terjaga.

Karena dijaga oleh 'orang-orang besar'.

Bagaimana dengan kita?

Allahul musta'an (Allah lah tempat meminta pertolongan).

Selasa, 22 September 2015

Said ibnul Musayyab

Sa'id ibnul Musayyab, Betapa Dirinya Memuliakan Hadits

Imam Malik bercerita, "Pernah suatu ketika datang seseorang kepada Sa'id ibnul Musayyab.

Ketika itu Sa'id sedang sakit.

Orang tersebut bertanya kepada Sa'id tentang suatu hadits, dan saat itu posisi Sa'id sedang berbaring.

Maka Sa'id pun duduk dan menyampaikan hadits kepada orang tersebut.

Karena melihat payahnya kondisi Sa'id yang sedang sakit, orang itu pun berkata: Duhai kiranya engkau tetap pada posisimu (tidak perlu bersusah payah duduk).

Sa'id pun menimpali: Sesungguhnya aku tidak suka menyampaikan hadits dari Rasulullah dalam keadaan aku berbaring."

(Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi, jil. 1, hal. 346, cet. Darul Hadits 2000).

Rabu, 08 Juli 2015

11 Nama Istri Nabi

Sebagian kita mungkin belum mengenal nama-nama istri Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Berikut ini nama-nama istri Rasulullah yang disebutkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma'ad:

1. Khadijah bintu Khuwailid
2. Aisyah bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq
3. Saudah bintu Zam'ah
4. Hafshah bintu Umar ibnul Khaththab
5. Zainab bintu Khuzaimah
6. Ummu Salamah
7. Zainab bintu Jahsyi
8. Juwairiwah bintu Al Harits
9. Ummu Habibah bintu Abi Sufyan
10. Shafiyah
11. Maimunah

Demikianlah nama-nama dari istri Rasulullah.

(Dinukil dari Mukhtaratun min Zaadil Ma'ad-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 13-14, Muassasah Syaikh Muhammad Shalih Utsaimin 1433H).

Senin, 06 Juli 2015

Suasana Majelis Abdurrahman ibn Mahdi

Mau tahu bagaimana suasana majelis ilmunya para salaf?

Yuk kita intip majelisnya Abdurrahman ibn Mahdi rahimahullah.

Dalam Siyar A'lamun Nubala karya al Imam adz Dzahabi 9/201-202, Ahmad ibn Sinan rahimahullah menggambarkan apa yang beliau lihat di majelis ilmunya Abdurrahman ibn Mahdi. Beliau menuturkan, "Di majelisnya Abdurrahman, mereka tidak ada yang saling bicara.

Tidak ada yang menyerut pena.

Tidak ada seorang pun yang tersenyum.

Tidak ada seorang pun yang berdiri.

Kepala mereka semua seakan-akan terdapat burung atau seakan-akan sedang shalat (gambaran saking tenangnya).

Jika beliau melihat seseorang dari mereka ada yang tersenyum atau bicara (becanda atau ngobrol), maka beliau segera memakai sendalnya dan pergi meninggalkan majelis."

Ikhwatii fillah rahimakumullah,
Demikian sedikit gambaran keadaan majelis ilmu para salaf.

Walhamdulillah, seharusnya kita bersyukur kepada Allah yang telah memilihkan guru-guru yang penyabar kepada kita.

Coba bayangkan kalau guru-guru kita seperti Abdurrahman ibn Mahdi.

Entahlah, mungkin kita tidak pernah mendapatkan ilmu karena seringnya ditinggalkan sang guru.

Jazakumullahukhaira kami ucapkan kepada para asatidzah yang mau bersabar mendidik dan membimbing kami.

Yaa Allah berikanlah ganjaran yang besar kepada asatidzah kami yang selalu mau bersabar mengajari.

Istiqamahkanlah kami dan guru-guru kami di atas hidayah sunnah ini. Aamiin.

Jumat, 12 Juni 2015

Syu'bah, Tidak Sempat Ngurus Pakaian

"Beliau adalah satu-satunya pemimpin (rujukan) dalam masalah ini."

Demikian komentar Al Imam Ahmad ibn Hanbal ketika ditanya akan kedudukan Syu'bah dalam masalah hadits.

Dialah Abu Bustham, Syu'bah ibnul Hajjaj.

Wajar.

Beliaulah yang menyatakan, "Barangsiapa yang menuntut ilmu hadits maka (dunianya) akan bangkrut."

Beliau juga yang warna bajunya seperti warna tanah.

Mengapa?

Disebutkan dalam Tadzkiratul Huffazh karya Khaththib al Baghdadi 1/194, seorang muridnya yang bernama Abu Qathn menerangkan, "Itu terjadi karena beliau (Syu'bah) sangat sibuk dengan ilmu."

Ya. Sibuk dengan kegiatan ilmu sehingga tidak sempat mengurusi pakaiannya.

Rihlah dan bermudzakarah menjadi aktivitas keseharian.

Ikhwatii fillah,
Maukah kita menanggung bangkrut?

Kamis, 11 Juni 2015

Anaknya Meninggal tak Menyurutkan dari Menuntut Ilmu

Tak kuasa kepala ini tuk bergerak ke kiri dan ke kanan, menggeleng seraya terucap Masya Allah..

Penulis rasakan ketika membaca kisah mencengangkan dari seorang murid Abu Hanifah.

Al Qadhi Abu Yusuf, Ya'qub ibn Ibrahim rahimahullah.

Di dalam kitab Manaqib Abu Hanifah 1/472, dinukil bahwa Muhammad ibn Qudamah berkata, Aku mendengar Syuja' ibn Makhlad berkata, bahwa Aku mendengar Abu Yusuf berkata:

"Suatu hari anakku meninggal dunia.

Tidaklah aku menghadiri atau andil dalam mengurusi jenazahnya.

Aku titipkan pengurusan jenazahnya kepada tetangga dan kerabat-kerabatku.

Kulakukan itu karena kekhawatiran akan terluputnya suatu ilmu yang akan disampaikan oleh Abu Hanifah (di majelis ilmunya).

Jika aku terluput dari majelisnya, niscaya kesedihanku (karena luputnya ilmu) tidak akan hilang begitu saja."

Subhanallah..!

Kematian anaknya tidak menjadi alasan untuk absen dari majelis ilmu.

Ikhwatii fillah,
Kisah di atas semoga bisa menyegarkan kembali semangat yang tengah memucat.

Bukankah kelemahan akan semakin lemah jika dibiarkan? Bagaimana lagi jika kelemahan dilapisi alasan-alasan?

Nas'alullah salamah wal 'afiyah.

# Semangat menghadiri daurah masyaikh di Mesjid Manunggal Bantul, 6-7 Juni 2015.

Si Abu Tsamud


Abu Bakr as Samaraqandi rahimahullah berkata-"Dahulu masyaikh kami menjuluki Abu Bakr ibn Ismail dengan julukan Abu Tsamud, karena dia dahulu termasuk salah seorang dari ashabul hadits, tapi kemudian (di perjalanan waktu) dia menjadi ashabur ra'yi (pemuja akal).

Allah ta'ala berfirman:
* وأما ثمود فهديناهم فاستحبوا العمى على الهدى *
Artinya: Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami berikan petunjuk. Akan tetapi mereka lebih menyukai kesesatan dibandingkan petunjuk.
(Surat Fushilat ayat 17).

Rabu, 03 Juni 2015

Siapakah Nabi yang...

Tanya:
Siapakah nabi yang hanya mempunyai anak perempuan saja?
Jawab:
Nabi Luth 'alaihissalam.

Tanya:
Siapakah nabi yang hanya mempunyai anak laki-laki saja?
Jawab:
Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Tanya:
Siapakah nabi yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan?
Jawab:
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam.

Tanya:
Siapakah nabi yang tidak mempunyai anak?
Jawab:
Nabi Yahya 'alaihissalam.

(Faidah bebas dari Tarbiyatul Aulad fii Dha'uil Kitabi was Sunnah-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 11-12, cet. Darul Furqan 2008).

Kamis, 28 Mei 2015

Sabar dalam Mendidik Santri

Untuk sahabat-sahabat seperjuangan, para mudarris di mahad-mahad ahlussunnah, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

Sedikit petikan dari kesabaran Imam Adh Dhahhak rahimahullah.

Imam adz Dzahabi di dalam Siyar A'lamun Nubala bercerita tentang Imam Dhahak ibn Muzahim rahimahullah.

Beliau menuturkan,
"Beliau (Imam Adh Dhahhak) adalah seorang fakih yang mempunyai sebuah tempat mengajar besar dan terkenal.
Di dalamnya terdapat 3000 anak kecil.
Beliau datang mengendarai seekor keledai dan berkeliling kepada anak-anak kecil didikannya (untuk mengajari Al Qur'an)."
(As Siyar 4/599).

Subhanallah, betapa sabarnya beliau dalam mengajar.

Bayangkan, 3000 anak kecil!

Tunggu sebentar.

Imam Ats Tsauri menambahkan suatu yang lebih mencengangkan lagi. Beliau menuturkan, "Imam Adh Dhahhak adalah seorang pengajar, dan beliau tidak mengambil ganjaran (dari aktivitasnya kecuali pahala Allah)."

Allahu musta'an.

Sahabat, pantaskah kita mengeluh?

Rabu, 27 Mei 2015

4 Muadzin Rasulullah

Rasulullah mempunyai 4 orang muadzin.

Dua orang yang di Madinah, yaitu Bilal ibn Rabah dan Amr ibn Umi Maktum.

(ketiga) Saad al Qurrazh di Quba.

(keempat) Abu Mahdzurah di Mekkah.

(Silahkan lihat Mukhtaraat min Kitab Zaadil Ma'ad-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 15, cet. Muassasatu asy Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin 2012).

Minggu, 03 Mei 2015

Waraqah ibn Naufal

Waraqah bin Naufal Seorang Mukmin atau Kafir?

Berkata sebagian ulama:
Waraqah bin Naufal adalah orang yang pertama kali beriman akan kerasulan (Muhammad) shallallahu 'alaihi wa sallam dari kalangan lelaki.

Ini adalah shahih.

Akan tetapi dia lelaki yang beriman pertama kali sebelum (turun) kerisalahan. Karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam ketika turun surat { اقرأ } belumlah menjadi seorang rasul, akan tetapi (baru) menjadi seorang nabi.

Adapun orang yang pertama kali yang beriman (dari kalangan lelaki) setelah (turunnya) risalah adalah Abu bakr radhiallahu 'anhu.
.......

Berkata Syaikh Utsaimin:
... Tidaklah ragu bahwa beliau adalah seorang MUKMIN.

Beliau adalah orang yang mempersaksikan bahwa dirinya di atas AGAMA NASHARA.

Yaitu agama Nashara yang shahih (Nashara yang dulu, sebelum datangnya kerisalahan Muhammad Rasulullah, pent), agama yang mentauhidkan Allah 'azza wa jalla...

Wallahu alam.

(Silahkan lihat Syarah Shahih Bukhari-Syaikh ibnu Utsaimin, juz. 1, hal. 22 dan 23, cet. Maktabatuth Thabari2008)

Rabu, 29 April 2015

Empat Anugerah Allah

Anugerah Allah atas umat ini di zamannya ada empat:

1. Dengan adanya Imam Syafi'i yang bertafaquh dengan hadits rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

2. Dengan adanya Imam Ahmad ketika beliau kokoh di masa mihnah (fitnah halqul qur'an). Kalau tidak demikian, niscaya manusia akan menjadi kufur.

3. Dengan adanya Yahya bin Ma'in yang membongkar kedustaan (para pemalsu hadits) yang terdapat pada hadits-hadits rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

4. Dengan Abu 'Ubaid yang menjelaskan makna yang gharib (dalam kata-kata).

(Ucapan Hilal bin al A'la dalam Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar al Atsqalani)

* Silahkan lihat pada kitab tersebut cet. Muassasah ar Risalah 2001, jil. 1, hal. 44.

Senin, 08 Desember 2014

Antara Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Kedua kitab di atas adalah kitab yang teratas setelah Al Qur'an.

Rujukan utama kaum muslimin setelah Al Qur'an dan rujukan sebelum kitab-kitab selain keduanya.

Mana yang lebih utama?
Shahih Bukhari kah, atau Shahih Muslim?

Ibnu Hajar al Atsqalani sedikit menjabarkan tentang hal ini dalam kitabnya Nuzhatun Nazhar.

Berikut kesimpulannya:

1. Dari sisi bersambungnya sanad.
Shahih Bukhari lebih kuat dibanding Shahih Muslim.
Imam Bukhari mensyaratkan antar perawi hadits harus saling bertemu dan dipastikan mendengar walau hanya sekali saja.
Sedangkan Imam Muslim tidak demikian. Imam Muslim hanya mencukupkan bahwa antar perawi hadits yang sezaman, memungkinkan untuk bertemu saja.

2. Dari sisi al 'adalah (kompeten) dan dhabth (kekuatan hafalan).
Perawi-perawi dalam Shahih Bukhari lebih sedikit yang diperbincangkan para ulama dibanding perawi-perawi dalam Shahih Muslim.

3. Dari sisi adanya syadz dan 'illat hadits.
Hadits-hadits di Shahih Bukhari lebih sedikit yang dikritisi oleh para ulama dibanding dalam Shahih Muslim.

Bersamaan dengan hal-hal di atas, Imam Muslim adalah murid dari Imam Bukhari.

Akan tetapi, Shahih Muslim lebih unggul dalam sisi sistematis fikih peletakan bab-bab haditsnya dibandingkan Shahih Bukhari.
Dan Shahih Muslim lebih sedikit dalam pengulangan hadits-hadits dibanding Shahih Bukhari.

Demikian sedikit kesimpulannya. Jika ada yang salah atau kurang mohon dikoreksi.

wallahu alam.

(Faidah taklim dari Ust. Abdurrahman Mubarak ketika membaca Nuzhatun Nazhar karya Ibnu Hajar al Atsqalani di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi).

Sabtu, 11 Oktober 2014

Abdullah Ibnul Mubarak, Pencari Ilmu Sejati

Fadhl ibn Ziyad berkata bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah menuturkan:

Tidak ada di suatu zaman yg seperti Ibnul Mubarak dalam menuntut ilmu.

Dia melakukan perjalanan ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah dan Kufah.

Dia (Ibnul Mubarak) termasuk periwayat ilmu dan ahli di bidang itu.

Dia juga seorang yang menulis dari yg di bawah (letingan) nya dan di atasnya. Dia tulis dari Abdurrahman ibn Mahdi dan dari al Fazari.

Dia telah mengumpulkan semua perkara yg besar!

Lihat Rihlah fii Thalabil Ilmi, Khatib al Baghdadi hal. 33.

Said ibnul Musayyab Sang Pemburu Ilmu


Dari Imam malik, dari Yahya ibn Said, bahwa beliau mendengar Said ibnul Musayyab berkata:

Jika aku ingin, niscaya ku kan berjalan malam dan siang, dalam rangka mencari satu hadits.

Mukhtashar Jamiul Bayan Ibnu Abdilbar hal. 85

Penyebutan Abu Bakr ibn Abi Syaibah di Dalam Shahihain


Abu Bakr ibn Abi Syaibah

Imam Bukhari dan Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits dari beliau.

Perbedaannya, Imam Muslim jika meriwayatkan dlm kitab Shahihnya selalu menyebut dgn kuniahnya, sedangkan Imam Bukhari selalu menyebut dgn namanya, dan sedikit sekali menyebut dgn kuniahnya.

Lihat Fathul Bari jil. 11 hal. 258 dan 280. Dinukil dari Al Fawaidul Muntaqa karya Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hal. 252.