Jumat, 03 Oktober 2014

Bagai Lilin yg Membakar Dirinya Sendiri

Shahabat Jundub ibn Abdillah radhiallahu anhu berkata:

Permisalan seorang yg mengajari manusia tapi dia tidak mengamalkan, seperti lampu yg menerangi manusia akan tetapi membakar dirinya sendiri.

Sanadnya shahih sampai kpd Jundub radhiallahu anhu.
Lihat Az Zuhud, Imam Ahmad ibn Hanbal hal. 276.

3 Pengaku Nabi di Masa Rasulullah Masih Hidup

Di antara tanda-tanda hari kiamat sughra adalah munculnya para Dajjal atau pendusta. Mereka mengaku-aku mendapat bagian dari bagian kenabian.

Hal ini terus berlangsung sampai muncul Dajjal besar yg mengaku sebagai Rabb.

Berikut ini 3 nama yg mengaku nabi di masa Rasulullah masih hidup.

1. Al Aswad al-Ansi di Yaman. Dia mati di menjelang wafatnya Rasulullah. Di bunuh
oleh tim shahabat nabi yg berkerja sama dg istri Al-Aswad sendiri dlm sebuah operasi senyap menumpas gerakannya.

2. Thulaihah al-Asadi. Beliau sempat diperangi oleh Rasulullah. Dan hampir terbunuh. Tapi dia berhasil lolos. Ketika di masa kekhalifahan Abu Bakr, dia kmbali memberontak. Lagi-lagi dia berhasil lolos dari tebasan para shahabat. Di masa akhir kekhalifahan Abu Bakr, Thulaihah bertaubat dan baik keislamannya. Bahkan dia wafat sebagai syuhada di bumi Persia di masa Khalifah Umar ibnul Khaththab.

3. Musailamah al-Kadzdzab. Dia mati di bentengnya sendiri, Yamamah. Dia mati ditumpas oleh pasukan Khalid ibnul Walid di masa Khalifah Abu Bakr.

Disarikan dari Asyratus Sa'ah, Al-Ghufaily hal. 50-52.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Jin Itu Ada dan Seperti Kita

Berkata Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah:

... Maka kesimpulannya, bahwasanya jin adalah jenis makhluk yg samar (halus).

Kita tdk bisa melihatnya.

Dan mereka hidup bersama kita.

Mereka (jin) juga dibebankan kewajiban sebagaimana kita (manusia) dibebankan kewajiban yg berupa perintah-perintah dan larangan-larangan.

Mengimani akan adanya wujud jin adalah termasuk bagian dari iman kpd hal yg ghaib. Termasuk membenarkan berita yg dikhabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keberadaan jin akan wujudnya, telah tetap berdasar Kitab dan Sunnah serta ijma.

Barangsiapa yg menentang akan keberadaan wujud jin maka dia kafir karena telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta ijma muslimin.

Lihat 'Ianatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Fauzan hal. 178.

Siapakah yang Ingin Nenek Tua Walau Dia Berhias

Berkata Abul 'Ala rahimahullah:
Aku melihat di dlm tidurku seorang nenek tua yg seluruh tubuhnya memakai perhiasan.

Manusia pun mengelilinginya dgn rasa heran.

Mereka memandang kpd nenek tua tsb.

Aku pun bertanya kpd nenek itu: Celaka, siapakah engkau?

Nenek itu menjawab: Apakah engkau tdk mengenalku?

Aku menjawab: Tidak.

Nenek itu pun berkata: Aku adalah dunia.

Aku menjawab: Aku berlindung kpd Allah dari kejelekanmu.

Nenek itu berkata: Jika engkau mau berlindung dari kejelekanku maka bencilah dirimu dari dirham (sejenis mata uang).

Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi hal. 202
🔶🔶🔶🔶🔶🔶🔶

Atsar di atas setidaknya bisa mengingatkan kita agar tidak terpesona dgn gemerlapnya "si nenek tua".

Jangan engkau ridha, menghabiskan waktumu seluruhnya bersama "si nenek tua".

Atau, merindu dan ingat selalu dgn pesona "si nenek tua" dan beangan esok ingin kembali dibuai dan dilalaikan oleh "si nenek tua".

Semoga bermanfaat.

WA Sedikit Faidah Saja

Senin, 18 Agustus 2014

Hikmah dan Maslahat pada Perbuatan Allah ta'ala

Semua perbuatan Allah ta'ala akan terkait dgn dua perkara. Yaitu:

1. Hikmah. Karena sesungguhnya Allah berbuat sesuatu tnpa ada kesia-siaan, pasti ada hikmahnya. Baik hikmah yg bisa diketahui makhluk-Nya atau hikmah yg tdk tersembunyi.

2. Kemaslahatan. Perbuatan Allah tdk akan kosong dari kemaslahatan. Yaitu kemaslahatan yg kembali kpd hambanya dan tidak kembali kpd Allah, karena Allah adalah Al-Ghani. Dgn sifat Al-Ghani yg mutlak.

At-Tajliyah lil Qawa'idil Fiqhiyah, Syaikh Shalah Kantusy hal. 27

Jadi, jgn bersedih jika ada sesuatu yg menyempitkan kita, dan juga jgn putus asa. Seorang muslim harus optimis dan terus berbaik sangka kpd Allah.

Figur Kedermawanan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
... Adalah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam orang yg ketika memberi, memberikan tanpa takut fakir.

Dan beliau juga ketika memberi, memberikan apa yg tebaik di sisinya.

Dan gembiranya ketika bisa memberi, lebih gembira ketimbang gembiranya ketika diberi.

Dan beliau adalah orang yg paling dermawan dlm kebaikan.

Tangan kanannya (kedermawananannya) seperti angin berhembus (sangat dermawan).

Lihat Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim juz 2 hal. 67.

Menghafal yang Bermanfaat di Masa Kecil

Berkata seorang tabi'in Imam Qatadah ibn Di'amah: Menghafal di masa kecil ibarat mengukir di atas batu.
( Al-Hifzh, Abul Qayyum as-Sahaibani)

Subhanallah..

Ternyata kita telah melewati masa kecil kita kurang bahagia.

Masa kecil kita, kita habiskan dg sia-sia. Tiada hafalan al-Qur'an yg signifikan yg telah kita ukir di masa kecil.

Juz 30 terasa berat dilafazhkan, padahal al-Qur'an ada 30 juz.

 Apakah masa kecil suram ini akan terulang lagi pada anak-anak kita?

Silahkan jawab dgn amalan. Keinginan tanpa amalan tdk akan membuahkan kenyataan. Ya, bukan kenyataan yg ada. Tapi hanya angan dan harapan saja.


*  Kampanye orangtua peduli dgn hafalan Qur'an anak.

Kenapa Susah Menghafal Ilmu Yaa?

Susah menghafal hadits?

Mungkin pesan Imam Waki' ibnul Jarrah ini bermanfaat.

Berkata Imam Waki' ibnul Jarrah:
Apabila engkau ingin menghafal suatu hadits, maka amalkanlah hadits tsb.

Dinukil dari Al-Baitsul Hatsis karya Ibnu Katsir hal.130

Kamis, 31 Juli 2014

Tempat yang Baik untuk Masing-Masing Orang

Berkata Abu Abdillah Muhammad ibn Ali ibn Hasan ibn Basyar:

Kebaikannya lima orang berada di lima tempat:
1. Baiknya anak kecil adalah ketika dia belajar di maktabnya /tempat belajar membaca al-Quran
2. Baiknya pemuda adalah ketika sibuk dgn ilmu agama
3. Baiknya orang tua adalah ketika seringnya dia ke mesjid
4. Baiknya wanita adalah ketika diamnya dia di rumahnya
5. Baiknya orang yg jahat adalah ketika dia berada di penjara

Lihat Siyar a'lamun Nubala 13/439

Selasa, 29 Juli 2014

Imam Bukhari pun Lupa..

Dikisahkan bahwa Imam Bukhari ketika tinggal di Naisabur, datang kpd beliau surat-surat dari famili-famili wanitanya.

Isi surat tsb adalah salam untuk beliau yg sedang di Naisabur.

Suatu ketika, Imam Bukhari ingin membalas salam-salam kerabat wanitanya tsb untuk dikirim ke Bukhara.

Ketika beliau menulis..

Beliaupun lupa nama-nama mereka.. Diingat-ingat tapi beliau tetap lupa dan tidak mampu menyebutkannya.

Subhanallah..

Seorang Imam Jibalul Hifzh bisa demikian?

Padahal beliau bisa menyebutkan lebih dari 70rb hadits beserta biografi perawinya ttg lahirnya kapan, tempatnya dimana dam matinya kapan..

Beliau juga yang bisa menyebutkan nama 300 murid Anas ibn Malik dlm sesaat dlm lamunannya..

Ada apa dgn Imam Bukhari, kok bisa hafal nama-nama saudara handai tolan dari kalanan wanitanya?

Ada apa?

Disebutkan bhwa Imam Bukhari tidak mempunyai perhatian kpd selain ilmu. Terlebih perhatian kpd nama-nama kerabat wanitanya.

Inilah sebab ketidakmampuan Imam Bukhari.

Al-Ihtimam..

Ya. Ihtimam atau Perhatian dan fokus thd sesuatu akan menjadi salah satu sebab seorang mudah menghafal sesuatu.

Lalu, kenapa kita bisa susah menghafal al-Quran dan hadits?

Kenapa kita susah mengingat pelajaran agama kita?

Mungkin.. Ya, mungkin. Mungkin saja kita kurang perhatian dan kurang dalam memfokuskan diri kpd al-Quran dan al-Hadits.

Kita lebih fokus dan perhatian kpd berita-berita yg sedang update di situs-situs berita internet.

Kita mungkin lebih ihtimam kpd hasil skor pertandingan bola piala ini dan itu..

Mungkin dan mungkin..

Koreksilah diri-diri kita wahai saudara-saudaraku.. Mari kita fokuskan dan tingkatkan ihtimam kita kpd al-Quran dan Sunnah agar Allah mudahkan kita menghafal kalam ilahi dan sabda nabi-Nya.

#kisah Imam Bukhari bisa dilihat di kutaib Al-Hifzh karya as-Sahaibani hal. 69 dan 70.

Wa Sedikit Faidah Saja

Sabtu, 26 Juli 2014

Ketika Orang Tua Menyuruh Menceraikan Istriku

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin ketika ditanya ttg hukum bolehkah seorang anak menceraikn istrinya ketika disuruh oleh bapaknya.

Syaikh menjawab dgn rinci.

Lalu menutup dgn ucapannya sbb:

... Telah ditanya Imam Ahmad ttg masalah ini. Datang seorang lelaki dan berkata:

Sesungguhnya aku diperintahkan oleh bapakku untk menceraikn istriku.

Imam Ahmad menjawab: Jangan engkau lakukan.

Lalu org tsb berkata: Bukankah Nabi shalallahu alaihi wasallam telah memerintahkan Ibnu Umar untk menceraikan istrinya ketika ayahnya, yakni Umar ibnul Khaththab menyuruhnya?

Imam Ahmad menjawab: Apakah bapakmu seperti Umar?

Durus wa Fatawa fii Haram Makki hal. 303

Rumah Seperti Kuburan

Jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjabarkan hal di atas dgn ucapan:

... Yaitu janganlah dikosongkan rumah-rumah kalian dari shalat-shalat sunnah, berdoa dan membaca al-quran. Jika dikosongkan, maka kedudukannya seperti kuburan ...

Disadur dari Fathul Majid hal. 286

Hukum Memakai Celak bagi Lelaki

Bercelak ada dua jenis:

Jenis pertama bercelak untuk menguatkn pandangan, membersihkn kotoran mata atau mensucikan mata tanpa ada maksud berhias. Kalau spt ini tdk mengapa. Bhkan inilah yg seharusnya maksud dan tujuan bercelak. Karena Nabi shalallahu alaihi wasallam bercelak pd kedua matanya. Sama saja walau bercelak dgn jenis itsmid al ashli.

Jenis kedua tdklah tujuan bercelak melainkn untk berhias dan mempercntik diri. Kalau spt ini untk wanita memang dituntut. Karena memang wanita harus melakukan perkara yg tujuanny untk berhias dan mempercntik di hadapan suaminya.

Adapun jenis yg kedua ini, jika dilakukan oleh kaum pria, maka perlu peninjauan. Dan aku dlm mslh ini tawaquf -tdk bisa membahasnya-.

Telah terjadi silang pendapat antara seorang pemuda yg bercelak dan dikhawatirkn timbulnya fitnah maka ini ditinggalkan.
Dan antara org yg sdh berumur/tua yg bercelak dan tdk ada kekhawatiran timbulnya fitnah, maka ini tidak mengapa.

Disadur dari fatwa Syaikh ibnu Utsaimin dalam kitab Al Halal wal Haram fil Islam hal. 349.

Jumat, 25 Juli 2014

Sebandingkah Usahamu Meraih Akhirat

Renungan

Sebandingkah usaha selangkah lebih maju Anda?

Merupakan tabiat, seseorang ingin lebih baik dari keadaannya sekarang.

Seorang pegawai honorer tentu ingin dirinya kelak diangkat menjadi pegawai negeri.

Karyawan kontrak tentu ingin dirinya kelak diangkat menjadi karyawan tetap.

Seorang pedagang yg tokonya ngontrak, tentu ingin mempunyai tempat tetap untk usahanya.

Seorang yg penghasilannya pas-pasan tentu esok ingin bisa dapat lebih.

Gaji tetap tentu ingin gajinya naik lagi.

Demikianlah seterusnya..

Usaha atau ikhtiyar akan dilakoni demi menerapkan suatu kehidupan yg lebih baik tersebut.

Anda pun tentunya demikian juga..

Selangkah lebih maju, Menjadi prinsip hidup.

Dan memang demikian. Siapa yg ingin hidupnya terus jalan di tempat?

Namun yg menjadi persoalan, apakah pernah Anda mempunyai target untuk selangkah lebih maju dalam urusan agama Anda?

Pernahkah Anda terbesit ingin selangkah lebih maju dalam memahami aqidah Anda?

Pernahkah Anda menarget tahun depan harus bisa menamatkan durusul lughah jilid 1?

Pernahkah membuat planing 3 bulan ke depan harus bisa menyelesaikan hafalan surat ini dan itu?

Pernahkah ada keinginan menyelesaikan hafalan hadits arbain nawawi?

Pernahkah.. Pernahkah.. Dan pernahkah..?

Ya. Pernah.

Lalu, apa usaha dan ikhtiyar Anda dlm mewujudkan semua target itu?

Sebandingkah dgn usaha Anda dalam mewujudkan target agamamu dgn usaha Anda dalam mewujudkan target duniamu?

Jujurlah dalam menjawab..

Sebandingkah?

Renungkanlah sabda nabi ini:
من يردالله به خيرا يفقهه في الدين
Artinya: Barangsiapa yg Allah kehendaki dengannya kebaikan niscaya Allah fakihkan dia dalam agamanya.
(HR. Bukhari-Muslim dari shahabat Muawiyah radhiallahuanhu)

WA SFS

Bertemu tapi Tidak Mendengar

Imam al-A'masy dalam hidupnya bertemu dgn shahabat Anas ibn Malik, namun A'masy tidak mendengar hadits dari beliau.

Faidah taklim Shahih Muslim dgn Ust. Abdurrahman Mubarak

Berada di Antara Bapak dan Anaknya yg Dhaif

Imam Waki' ibn Jarrah, seorang imam rujukan dlm hadits di masanya.

Mempunyai ayah yg bernama Jarrah, dan dia dhaif.

Mempunyai anak yg bernama Sufyan ibn Waki', dan dia dhaif pula.

Dgn sebab itu Imam Waki ibn Jarrah dijuluki al-Imam bainal dhaifain. Imam diantara dua yg dhaif.

Faidah taklim Shahih Muslim bersama Ust. Abdurrahman Mubarak

Kamis, 24 Juli 2014

Amalan dan Zuhud

Berkata Fudhail ibn Iyadh:

Kecemasan seorang hamba dari (azab) Allah adalah seukuran amalannya kepada Allah.

Dan zuhudnya dia dari dunia adalah seukuran harapannya kepada negeri akhirat.

Siyar, juz 8 hal 426. Dinukil dari Addunia zillun zaail hal 48.

Salah Satu Tanda Kebahagiaan dan Kesuksesan

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy ]

Rabu, 23 Juli 2014

Diantara Tanda Taubat

Berkata Syaqiq ibn Ibrahim al-Azdi:
Tanda taubat adalah menangis sbagaimana para salaf di atasnya (menangis karena Allah).
Takut terjatuh kpd dosa.
Menjauhi teman2 yg jelek akhlaknya.
Senantiasa untk selalu bersama orang2 shalih.

Siyar alamun Nubala jil. 9 hal. 313. Dinukil dari Fawaidu adz-Dzahabiyah hal. 14.

Amal yang Tidak Ikhlash Niscaya Melemah

Rabi ibn Khutsaim berkata:
Semua amalan yg tdk ditujukan hanya untk mencari Wajah Allah semata -ikhlash- niscaya akan melemah.

Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf hal. 9. Cet 8. Daruth Thayyibah- Riyadh.