Minggu, 25 Maret 2018


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Membangun bangunan di atas kuburan hukumnya adalah haram!

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melarangnya ketika pada perbuatan tersebut bisa menghantarkan kepada pengagungan terhadap orang yang dikuburnya, dan juga hal ini bisa menjadi perantara dan pintu masuk untuk melakukan peribadahan kepada kuburan dan mengambil sesembahan bersama Allah (menyekutukan Allah/syirik), sebagaimana ini terjadi pada mayoritas dari bangunan-bangunan yang ada di atas kuburan.

Maka dengan itu, jadilah manusia terhadap penghuni kubur ini melakukan kesyirikan (menjadikan sekutu) kepada Allah.

Mereka berdoa kepada kepada Allah, tapi berdoa juga kepada penghuni kubur dan beristighatsah kepada penghuni kubur ketika ingin dihilangkan kesusahan-kesusahan yang ada, ini hukumnya adalah syirik akbar dan merupakan amalan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari islam, Allahul musta"an."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Menjadi Zuhud Walaupun Harta Melimpah


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata, "Allah telah memerintahkan kita untuk mencari (penghasilan) yang halal, maka jauhilah perkara yang haram, jauhilah riba, riswah (menyuap) dan pajak.

Tutuplah setiap pintu-pintu keharaman dan bertawakalah kepada Allah di dalam mencari dunia sesuai dengan kebutuhan dan sekadar bisa menegakkan kehidupanmu.

Janganlah berlebih-lebihan dan berluas-luas dalam urusan dunia, ambillah bagian dunia sebatas apa yang bisa membantumu untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan segala yang bisa tuk membantu saudaramu yang semuslim serta apa-apa yang dapat memungkinkan untuk menolong dalam menegakkan kalimat Allah azza wa jalla.

Maka barang siapa yang mengerahkan hartanya dan jiwanya di jalan Allah, maka insya Allah dia termasuk ahlu zuhud di dunia walaupun dia orang yang berharta.

(Az Zuhdu fid Dunia war Raghbah fil Akhirah-Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu, hal. 16, cet. Al Miratsun Nabawi 2012).

Tiga Perkara yang Lebih Utama Dibanding Emas dan Perak


عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ : لَمَّا نَزَلَتْ "وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ"
قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ
فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ : أُنْزِلَ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ مَا أُنْزِلَ ، لَوْ عَلِمْنَا أَيُّ الْمَالِ خَيْرٌ فَنَتَّخِذَهُ
فَقَالَ : أَفْضَلُهُ لِسَانٌ ذَاكِرٌ ، وَقَلْبٌ شَاكِرٌ ، وَزَوْجَةٌ مُؤْمِنَةٌ تُعِينُهُ عَلَى إِيمَانِهِ
.رواه الترمذي, وابن ماجه وعنده: تُعِينُ أَحَدَكُم عَلَى أَمْرِ الآخِرَة
والحديث حسَّنه الترمذي ، وصححه الألباني في " صحيح الترمذي " .

Artinya:
Dari Tsauban radhiallahu anhu, beliau berkata, "Ketika turun ayat Allah: Dan orang-orang yang menyembunyikan emas dan perak." (QS. At Taubah: 34).
Dahulu kami pernah bersama rasulullah di sebagian safarnya dan berkata sebagian dari para shahabatnya, "Telah diturunkan ayat tentang emas dan perak, kalau seandainya kami tahu ada sesuatu yang lebih berharga dibandingkan harta, tentulah kami akan mengambilnya."
Maka rasulullah berkata, "Seutama-utamanya lisan adalah lisan yang berdzikir dan hati yang bersyukur serta istri mukminah yang dapat membantu (suaminya) akan keimanannya."
(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pada lafazh Ibnu Majah disebutkan: "Yang dapat membantu salah seorang dari kalian terhadap urusan akhiratnya."

Hadits ini dinilai hasan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam "Shahih At Targhib."

Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa berdzikir itu lebih utama dibandingkan sedekah harta.
(Syarah Tuhfatidz Dzakirin-Asy Syaukani, hal. 21)

Syaikh Al Mubarakfury rahimahullahu menerangkan bahwa istri mukminah yang dapat membantu (suaminya) akan keimanannya, yakni yang membantu (suaminya) dalam agamanya dengan cara mengingatkan untuk shalat, puasa dan yang selain itu dari ibadah-ibadah. Juga yang dapat mencegah suaminya dari perbuatan zina dan seluruh perbuatan yang haram.
(Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi-Al Mubarakfury jil. 8, hal. 390)

Jadikan Dunia tuk Meraih Ridha Allah


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata, "Sebagian manusia ada yang menghadapkan dirinya kepada dunia dan berlebih-lebihan di dalamnya. Mereka juga lebih mementingkan dunia ketimbang akhirat.

Adapun seorang mukmin, dia jadikan dunia itu hanya sebagai tunggangan layaknya hewan ternak yang dia naiki atau layaknya sendal yang dia pakai, yakni (maksudnya) dia manfaatkan dan gunakan dunia itu untuk meraih keridhaan Allah dan untuk mendapatkan perkara yang baik di dalam kehidupannya sendiri dan orang lain (di dunia)."

(Az Zuhdu fid Dunia war Raghbah fil Akhirah-Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu, hal. 14, cet. Al Miratsun Nabawi 2012).

Meminta Perlindungan kepada Allah dari Godaan Setan


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "Dihikayatkan dari sebagian salaf bahwasanya mereka pernah bertanya kepada murid-muridnya, "Apa yang akan engkau lakukan terhadap setan jika dia menggodamu untuk berbuat dosa?".
Sang murid menjawab, "Aku akan berusaha melawannya."
Sang guru pun bertanya, "Jika setan itu kembali menggoda, bagaimana?"
Sang murid menjawab, "Aku akan berusaha melawannya."
Sang guru mengulangi dengan pertanyaan yang sama, "Bagaimana jika setan itu kembali menggoda?"
Sang murid menjawab dengan jawaban yang sama pula, "Aku akan berusaha melawannya."

Sang guru berujar, "Jika demikian, tentu akan panjang urusannya! Apa pendapatmu jika engkau tengah melewati sekelompok gembalaan kambing lalu tiba-tiba anjing penjaganya menyalak-nyalak sehingga engkau terhalang untuk lewat, kira-kira apa yang akan engkau lakukan?"
Sang murid pun menjawab, "Aku akan tetap melintas dan berusaha keras untuk melawan anjing tersebut."

Sang guru menjawab, "Itu akan melelahkanmu! Yang semestinya engkau lakukan adalah mendatangi pemilik gembalaan kambing tersebut (tentunya pemilik gembalaan kambing adalah pemilik anjing penjaganya) kemudian engkau meminta tolong kepadanya (untuk mengusir anjing yang menghadang). Cara ini akan mencukupkanmu."

(Disadur bebas dari Talbis Iblis-Ibnul Jauzi [tahqiq Syaikh Zaid al Madkhali], hal. 62, cet. Darul Wasitiyyah 2015)

Karena Thalabul Ilmi adalah Ibadah


Asy Syaikh Abdullah ibn Salfiq azh Zhafiri hafizhahullahu berkata, "Hendaklah seorang (penuntut ilmu) itu menjadikan niatnya karena Allah azza wa jalla di dalam thalabul ilminya dengan sebenar-benarnya ikhlash karena Allah, tidak menginginkan sum'ah (didengar orang), syuhrah (terkenal) dan tidak pula menginginkan sesuatu bagian dari perkara dunia.

Barang siapa yang menjadikan niatnya kerena Allah, niscaya Allah akan memberikan taufik kepadanya dan diberikan pahala atas hal itu (thalabul ilminya) karena thalabul ilmi adalah ibadah, bahkan termasuk seagung-agungnya ibadah."

(Ar Rakaizul Asyr li Tahshilil Ilmi-Syaikh Abdullah ibn Salfiq azh Zhafiri hafizhahullahu, hal. 11, cet. Darush Shahabah 2014).

Salah Kaprah tentang Zuhud


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata, "Bukanlah zuhud terhadap dunia itu adalah meninggalkan sesuatu yang halal dan (tapi) tidak pula berarti menghambur-hamburkan harta, akan tetapi engkau jadikan apa yang di tangan Allah itu lebih terpercaya dibandingkan dengan apa yang di tanganmu, dan terus-menerus di dalam sikap pertengahan seperti inilah yang dituntut (oleh kita).

Sebagian manusia memahami bahwa sikap zuhud itu adalah menolak dunia secara mutlak dan meninggalkan untuk mencari penghasilan yang halal serta merendahkan diri kepada sikap pasrah dan menyandarkan kepada apa yang berada di tangan manusia (berharap pemberian orang), maka ini adalah perkara yang buruk lagi tercela, dan sama sekali bukan dari sikap zuhud."

(Az Zuhdu fid Dunia war Raghbah fil Akhirah-Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu, hal. 14, cet. Al Miratsun Nabawi 2012).

Belajar Malam atau Shalat Malam?


Ibrahim ibn Hani pernah bertanya kepada Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu, "Manakah yang paling engkau sukai di antara aku duduk (menuntut ilmu) di malam hari dan aku mencatat, atau aku melakukan shalat malam?"
Imam Ahmad menjawab, "Jika engkau mencatat dan dengan itu engkau belajar tentang urusan agamamu maka itulah yang lebih aku sukai".

(Sanadnya Shahih, lihat Al Faqih wal Mutafaqqih-Al Khathib al Baghdadi, jilid 1, hal. 108, cet. Darul Anshar 2017).

Meminta Pertolongan Allah di dalam Thalabul Ilmi


Syaikh Abdullah Shalfiq hafizhahullahu berkata, "Seorang manusia itu lemah dan dia tidak mempunyai daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

Jika (urusan dia) diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya dia akan binasa dan mati, namun jika (urusan dia) diserahkan kepada Allah dan memohon pertolongan atas thalabul ilminya, maka Allah akan menolongnya."

(Ar Rakaizul Asyr li Tahshilil Ilmi-Syaikh Abdullah ibn Salfiq azh Zhafiri hafizhahullahu, hal. 9, cet. Darush Shahabah 2014).

Keutamaan Ilmu yang Diajarkan atas Harta yang Disedekahkan


Al Hasan rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya aku belajar satu bab dari permasalahan ilmu, kemudian aku ajarkan kepada seorang muslim, maka itu lebih aku sukai dibandingkan dengan mendapatkan dunia seluruhnya yang aku salurkan di jalan Allah."

(Sanadnya shahih, lihat Shahih Al Faqih wal Mutafaqqih li Khathib al Baghdadi, hal. 13, cet. Darul Wathan 1997).

Tiga Perkara yang Harus Ditunaikan


Maimun ibn Mihran rahimahullahu berkata,

"ثَلاثٌ تُؤَدَّى إِلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ: الرَّحِمُ تُوصَلُ بَرَّةً كَانَتْ أَوْ فَاجِرَةً، وَالأَمَانَةُ تُؤَدَّى إِلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، وَالْعَهْدُ يُوَفَّى لِلْبَرِّ وَالْفَاجِرِ".
|البر والصلة للمروزي, رقم: 124 بَابُ صِلَةِ الرَّحِمِ وَقَطِيعَتِهَا وَمَا جَاءَ في ذالك|

Artinya:
"Tiga perkara yang harus ditunaikan kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya: (1) menyambung tali silaturahmi (kepada kerabat) baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya, (2) penunaian amanah baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya, (3) penepatan janji baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya."

(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwadzi, riwayat no 124)

Berkata Baiklah dan Beramal Baiklah


Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata,

"قُولُوا خَيْرًا تُعْرَفُوا بِهِ، وَاعْمَلُوا بِهِ تَكُونُوا مِنْ أَهْلِهِ".

Artinya:
"Berkata baiklah kalian hingga kalian dikenal dengan itu, dan beramal baiklah kalian sampai kalian menjadi ahlinya (orang yang selalu beramal baik)."

(Kitabuz Zuhud-Al Imam Abu Bakr asy Syaibani, hal. 25, cet. Darul Istiqamah 2013).

Meraih Pahala Besar dengan Berbakti kepada Orang Tua


Abu Sa'id Umarah ibn Mihran al Ma'lawi pernah bertanya kepada Al Hasan al Bashri rahimahullah, "Apa itu al bir (berbakti kepada orang tua)?"
Beliau menjawab, "Al bir adalah mencintai dan mencurahkan kebaikan (kepada orang tua)."
"Lalu apa itu al uquq (durhaka kepada orang tua)?" Tanyaku lagi.
Al Hasan menjawab, "Al Uquq adalah engkau melarang (sesuatu yang mereka suka) dan mendiamkan (orang tuamu)."
Kemudian Al Hasan berkata, "Memandang (dengan pandangan yang menyejukkan) kepada wajah ibumu saja adalah ibadah, maka bagaimana lagi jika berbakti (kepadanya)?"

(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwadzi, riwayat no 111)

Jangan Remehkan Kebaikan yang Sedikit


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Ketahuilah oleh kalian rahimakumullah bahwasanya barang siapa di antara salah seorang dari kalian menghadiri satu majelis dari majelis-majelis ilmu, lalu dia mengambil suatu faidah dari sebuah perkara agama, kemudian dia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudaranya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kebaikan yang banyak.

Dia pun mendapat pahala atas amalannya sendiri dan mendapat pahala atas amalan orang lain yang telah dia ajarkan, sampai hari kiamat.

Maka janganlah kalian mengira bahwa keutamaan ilmu itu tidaklah didapat kecuali bagi orang yang telah belajar banyak saja, karena sesungguhnya Allah taala akan mengganjar setiap orang yang beramal walaupun sedikit amalannya, dan tidak akan terzhalimi (walau) orang yang sedikit amalnya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Artinya:
"Sampaikanlah oleh kalian dariku walaupun satu ayat". (HR. Bukhari).

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 17, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Akidah yang Shahih adalah Pondasi Amalan


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Perkara yang pertama kali para rasul dakwahkan kepada umat-umatnya adalah pemurnian akidah, karena dengan inilah akan terbangun seluruh amalan dari perkara ibadah-ibadah dan muamalah. Tanpa akidah yang shahih maka tidaklah berfaidah amalan-amalan."

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 27, cet. Darul Bashirah 2009).

Melatih dan Membiasakan Anak untuk Shalat


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk memerintahkan anak-anaknya shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun.

Dan memerintahkan mereka untuk shalat (di umur ini) bukanlah karena sudah wajibnya mereka untuk shalat, akan tetapi ini dilakukan agar mereka mendapatkan pengaruh yang baik dari adanya pelatihan dan pembiasaan shalat."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 14, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Pengaruh Positif dari Akikah


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Termasuk dari hak seorang anak atas orang tuanya adalah diakikahi, karena menyembelih dengan tujuan akikah adalah sebuah ibadah kepada Allah dan merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah azza wa jalla.

Di dalam penunaian akikah terkandung sebuah amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan terdapat pengaruh yang baik terhadap suatu lahiran karena pada ibadah terkandung suatu kebaikan.

Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing sedangkan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor kambing, dan ini adalah sunnah muakkadah (yang ditekankan) yang memiliki pengaruh kebaikan bagi anak yang dilahirkan."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 13, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Tahan dan Sabar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Wajib atas seseorang jika tampak di hadapannya ada sebab-sebab perbuatan yang haram, untuk dia bertaqwa kepada Allah sehingga nanti dia tidak menjadikan dirinya menerjang perbuatan yang haram. Ketahuilah bahwa mudahnya akses dari sebab-sebab yang ada sejatinya merupakan ujian dan cobaan, maka tahanlah dan bersabarlah karena sesungguhnya akhir yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Makna Difaqihkan terhadap Agamanya


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah akan faqihkan dirinya terhadap agamanya. Faqih dalam agama adalah mengetahui segala suatu yang telah Allah turunkan kepada RasulNya dari hukum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya dan segala yang berkenaan dengan apa yang menjadi ganjarannya (ketika diamalkan) dan apa yang menjadi hukumannya (ketika ditinggalkan).

Karena jika seorang hamba telah mengetahui hal tersebut, niscaya dia akan menjadi orang yang beribadah kepada Allah di atas bashirah (kejelasan)."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 16, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Al Haq itu Dikenal

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Al Haq itu dikenal oleh setiap orang karena al haq yang dibawa oleh para rasul utusan Allah tidaklah tersamarkan dengan perkara yang lainnya bagi orang yang mengetahuinya, sebagaimana tidak tersamarkan antara emas yang murni dengan bahan tambang yang lainnya bagi orang yang ahlinya."

(Majmul Fatawa jil. 27, hal. 315-316)