Senin, 17 Desember 2018

Memantik Himmah di dalam thalabul ilmi


Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Bagaimanakah bisa terwujud suatu himmah (tekad yang kuat) di dalam menuntut ilmu?

Maka jawabnya, himmah itu bukanlah hasil dari sekedar teori belaka, tapi itu merupakan hasil nyata berupa amal yang bisa ditiru, dan ini bisa didapatkan dari pembacaan biografi para ulama.

Perhatikanlah biografi kehidupan para ulama yang terkenal atau yang lainnya! Di antara kitab-kitab yang memuat biografi ahlu ilmi adalah kitab "Tadzkiratul Huffazh" karya Imam Adz Dzahabi, juga kitab karya beliau pula "Siyar alamun Nubala" dan kitab-kitab lainnya yang menampilkan biografi kehidupan mereka, tentu kitab-kitab yang lainnya sangatlah banyak dan sangat sulit untuk menyebutkannya satu persatu di kesempatan ini."

(Fadhlul Ilmi wat Talim wa Shifatu Ahlihi-Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh, hal. 10, cet. Maktabah Ath Thabari)

Anak Laki-Laki dan Perempuan Dipisah Ranjang Tidurnya


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Demikian juga dengan mendekatkan anak-anak di dalam tidur mereka, janganlah mereka dibiarkan saling berdekatan (ketika tidur) agar syahwat di antara mereka tidak terpantik sehingga (menjadi sebab) terjadinya kerusakan.

Hendaknya mereka saling menjauh di masing-masing ranjangnya dan jangan dibiarkan mereka tidur (bersama) di satu ranjang.

Ini adalah bentuk penjagaan, dan menjaga itu lebih baik dari pada mengobati."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 14, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Menuntut Ilmu tapi Tetap Bergaul dengan Manusia


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memberikan porsi yang cukup untuk ilmu dengan segenap waktu dan kesungguhan yang kita bisa.

Dan selebihnya kita berikan untuk memperhatikan urusan lainnya semisal: bergaul dengan manusia dalam rangka kemaslahatan, atau mendakwahi manusia kepada kebaikan, dan perkara-perkara dan amalan-amalan lainnya.

Akan tetapi hendaknya yang dijadikan prioritas utama dari waktumu adalah untuk thalabul ilmi."

(Disadur dari Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 32. cet. Darul Bashirah 2009).

Teruslah Menuntut Ilmu Sampai Allah Memberikan Keikhlasan


Apa makna sebagian salaf yang menyatakan: Kami menuntut ilmu untuk selain Allah maka ilmu pun enggan, kecuali harus untuk Allah saja?

Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Maknanya adalah awal niatnya tidak benar akan tetapi ilmu itu pun membimbing, dan Allah memberinya hidayah keikhlasan untuk ibadah yang agung ini (menuntut ilmu).

Terkadang ada seorang insan yang masuk ke dalam islam dalam rangka menginginkan dunia, tapi kemudian Allah memberikan kepadanya kebaikan, hingga dia menjadi tinggi di dalam islam dan baik keislamannya..."

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Allamah Rabi ibn Hadi al Madkhali, juz 2, hal. 12, cet. Dar Al Imam Ahmad 2014).

Menerima Nasehat Lebih Aku Cintai dibandingkam Dunia dan Seisinya


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "Seorang ahlussunnah tidak akan mengaku-aku dirinya dengan sifat kesempurnaan, mereka adalah orang-orang yang siap untuk menerima nasehat.

Nasehat yang datang kepadaku dari Negeri Najd, Shan'a, Jazair atau dari negeri lainnya, itu lebih aku cintai ketimbang dunia dan seisinya untuk aku menerimanya, karena agama itu adalah nasehat.

Kami menyadari bahwa sesungguhnya kami adalah seorang thalibul ilmi yang bisa jadi kami benar, kami salah, kami jahil dan kami tahu."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 29, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)

Nasehat untuk Semangat Thalabul Ilmi


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Barang siapa di antara kalian yang dirinya lapang untuk menuntut ilmu dan mendapatkan ilmu, maka lakukanlah, karena ilmu sangat ditekankan di zaman ini, di mana keberadaan para fuqaha agama sangat sedikit dan para thalabud dunia sangatlah banyak dengan berbagai sarana dan rayuannya.

Barang siapa yang tidak mampu maka berusahalah untuk berdzikir dan bermajelislah dengan ahlul ilmi serta mintalah faidah kepada mereka..."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 21, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Bersiap tuk Menyambut Akhirat


Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Tidak ragu lagi bahwa setiap muslim yang bersyahadat laailaha illallah wa anna muhammadan rasulallah pasti menginginkan dengan keislamannya agar dia selamat di dunia dan di akhirat, karena sesungguhnya bertemu Allah dan menjalani hari hisab (perhitungan amal) serta menjalani kejadian-kejadian yang nanti akan ditemui di hari kiamat adalah urusannya sangat besar dan besar.

Maka hendaknya seorang muslim harus semangat dalam segala perkara untuk menjumpai hari tersebut atau meringankan timbangannya."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 10, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Kesungguhan Ulama dalam Mencari Ilmu


Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Seorang thalabul ilmi harus menelaah perjalanan hidup para ulama, karena tanpa mengetahui sirah ulama, engkau akan turun semangat dan tak akan mengetahui apa itu himmah (tekad) dan tak mengetahui banyaknya pengorbanan mereka.

Engkau tak akan mengetahui bagaimana perjalanan panjang mereka, baik dengan kaki-kakinya atau dengan keledainya yang ditempuh selama berbulan-bulan lamanya.

Ada di antara mereka yang sampai menjumpai kematian, mendapati kesusahan yang sangat, dan ada juga yang sampai kehilangan perbekalannya.

Adapun di hari ini, kita berada di sebaik-baiknya kendaraan dan bisa berhubungan dengan perantaraan yang memudahkan, tapi bersamaan dengan itu, kita masih mengeluh dari sisi waktu dan mengaduh dari banyak perkara.

Maka dengan menelaah perjalanan hidup generasi-generasi yang awal, kita akan mengetahui bahwasanya mereka adalah ulama yang mempunyai himmah (tekad) setelah mendapat taufiq dari Allah, dengan iringan kesungguhan dan jihad."

(Fadhlul Ilmi wat Talim wa Shifatu Ahlihi-Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh, hal. 10, cet. Maktabah Ath Thabari)

Al Quran, Kemudian Bahasa Arab, Lalu Ilmu Hadits


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "Seorang ahlussunnah -bihamdillah- mereka memulai dengan menghafal Al Quran, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Ø®َÙŠُركُÙ… Ù…َÙ† تَعلٌÙ…َ القُرانَ ÙˆَعَÙ„ٌÙ…َÙ‡َ

Artinya:
"Sebaik-baik kalian adalah siapa yang belajar Al Quran dan yang mengajarkannya."
(HR. Bukhari)

Kemudian setelah itu mereka belajar dengan hal yang bisa menegakkan lisannya, yakni dengan bahasa arab.

Bahasa arab perkaranya sangat agung, karena musuh-musuh islam tengah membuat keragu-raguan (beragama) melalui sisi ini.

Kemudian setelah ini, Allah menghidupkan di tengah-tengah mereka (ahlussunnah) dengan suatu perkara yang dahulu asing di negeri ini (Yaman), dan karunia ini hanya milik Allah, bukan karena kekuatan kita, bukan karena keberanian kita, bukan pula karena banyaknya harta kita, ketahuilah bahwa karunia ini adalah ilmu hadits.

Sesungguhnya dahulu kami hidup di negeri yang tidak tahu menahu tentang ilmu hadits sebelumnya..."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 21, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)

Ilmu Dunia akan Membuat Sombong dan Ujub


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Ilmu syari akan menambah pengembannya menjadi seorang yang tawadhu dan merasa rendah di hadapan Allah taala, adapun ilmu yang sifatnya penemuan dan pembuatan (ilmu dunia) mayoritasnya akan menambah sombong, congkak dan ujub (bangga diri) sebagaimana negara-negara industri hari ini, semisal negara komunis dan lainnya".

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 31, cet. Darul Bashirah 2009).

Ilmu Syar'i akan Melahirkan Sifat Khasyah (Takut)


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Inilah ilmu yang melahirkan al khasyah (rasa takut), karena ilmu ini menggabungkan antara lisan dan kalbu.

Ilmu terbagi menjadi dua macam:
1. Ilmu lisan, ini sebagai hujjah atas seorang saja
2. Ilmu yang di hati, inilah yang mewariskan sifat khasyah kepada Allah ta'ala, yakni ilmu syar'i yang diamalkan oleh pengembannya dan amalnya tersebut dipersembahkan ikhlash hanya kepada Allah ta'ala saja, sehingga ilmu syar'i ini akan menambahkan bagi pengembannya sifat tawadhu dan perendahan diri kepada Allah ta'ala."

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 31, cet. Darul Bashirah 2009).

Selasa, 06 November 2018

Ciri-Ciri Ilmu yang Tidak Bermanfaat


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu menerangkan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah, "Ilmu yang tidak diamalkan, tidak disampaikan (didakwahkan) kepada orang lain dan yang tidak bisa merubah akhlaknya."

(Nida'u ilal Murabbiyin wal Murabbiyat li Taujihil Banin wal Banat-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 6, cet. Maktabah Salsabil 2006)

Anjuran tuk Membaca Kisah-Kisah Ulama


Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Hendaklah engkau lihat akan perjalanan hidup ahlu ilmi dari kalangan shahabat dan orang-orang yang setelahnya.

Ketika engkau menelaah akan akhlak mereka, kehidupan mereka serta amalan-amalan mereka, niscaya hal itu akan memotivasi dirimu dan menyemangatimu dalam thalabul ilmi."

(Fadhlul Ilmi wat Talim wa Shifatu Ahlihi-Syaikh Shalih ibn Abdil Aziz alu Syaikh, hal. 8, cet. Maktabah Ath Thabari)

Ingat, Ajal itu Datang Tiba-tiba!


Aun ibn Abdillah rahimahullahu berkata, "Betapa banyak orang yang mendapati hari tapi tidak mampu menyempurnakannya, yang menunggu esok tapi tidak menemuinya.

Jika seandainya engkau melihat kepada perkara ajal dan fenomena yang ada, niscaya kalian akan membenci angan-angan dan kecongkakkan."

(Sanadnya shahih dalam Az Zuhud-Imam Ibnul Mubarak, hal. 62, cet. Ibnul Jauzi 2011)

Salah Satu Bentuk Itsar Abu Bakr ash Shiddiq radhiallahu anhu


Rafi ibn Abi Rafi ath Tha'i radhiallahu anhu berkata, "Aku pernah menemani Abu Bakr Ash Shidiq radhiallahu anhu di perang dzatu salasil, beliau membawa kain untuk dipakai (membalut tubuhnya) di saat naik kendaraan, ketika beliau turun (bergantian) kainnya pun dipakaikan kepadaku."

(Sanadnya shahih dalam Az Zuhud-Imam Ahmad ibn Hanbal, hal. 149, cet. Darul Aqidah 2010)

Pangkal dari Segala Penyimpangan adalah Bid'ah


Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Setiap penyimpangan di dalam agama sebabnya adalah karena munculnya bid'ah (amalan tiada dalilnya) yang tidak ada sebelumnya di masa hidupnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, semisal keyakinan (menyimpang), amalan syirik, amalan-amalan yang menghantarkan kepada kesyirikan dan berbagai macam amalan bid'ah yang semuanya itu disangka oleh pelakunya sebagai amalan yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah ta'ala."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 9, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Tidak Ada Ulama adalah Musibah Besar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya hilangnya ulama di zaman yang seperti ini akan membuat musibah semakin berlipat, karena ulama yang memberikan peringatan di tengah-tengah manusia sangatlah sedikit, sedangkan yang banyak adalah orang-orang jahil yang memberikan kebimbangan dan kerancuan."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 20, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Sesuatu yang Ekstrim akan Berujung kepada Kebinasaan


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Setiap sesuatu jika lebih dari kadar batasannya maka dia akan menjadi ekstrim, jika tidak dikontrol atau ditahan maka berujung kepada kehancuran, bahkan kehancurannya akan berefek luas dan menyeluruh, terkadang juga kehancurannya akan mengenai kepada hati pelakunya sendiri.

Tidakkah kita perhatikan dengan sekte khawarij (teroris) yang memiliki iman akan cintanya mereka kepada kaum muslimin untuk berada di atas al haq, akan tetapi hal ini telah melampaui batas sehingga mereka pun malah mengkafirkan kaum muslimin dan penguasanya, mereka pun akhirnya memberontak."

(Syarah Hilyati Thalibil Ilmi-Syaikh Utsaimin, hal. 10, cet. Dar Ibnil Khathab 2013)

Seorang Alim Harus Sehat dari Penyakit Cinta Harta


Yahya ibn Yaman al 'Ijli rahimahullahu berkata, "Aku mendengar Sufyan ats Tsauri berkata, "Seorang alim adalah dokter bagi umat dan harta adalah penyakitnya, jika penyakit itu menjangkiti kepada dirinya (seorang alim) maka bagaimana dia bisa mengobati orang lain?"

(Atsar shahih. Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlih-Ibnu Abdilbar, dinukil dari Mukhtashar-nya hal. 180, cet. Darul Khair Beirut 1996).

Sebab Terbesar dari Bencana yang Melanda


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya berbagai fitnah, bala dan musibah yang melanda kaum muslimin di seluruh negeri islam, sebab yang terbesarnya adalah karena berpalingnya mereka dari ulama."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 20, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)