Rabu, 11 Desember 2019

Hiduplah di Atas Sunnah Nabi agar Selamat dari Azab


Syaikh Ahmad ibn Yahya an Najmi rahimahullah berkata, "Hendaknya engkau menjauhi perkara bidah seluruhnya, baik yang kecil atau yg besarnya, baik yang berupa itiqad (keyakinan) atau amalannya.

Sesungguhnya hidup di atas sunnah itu adalah lebih utama dengan segala yang seorang cari di dalam hidupnya agar dia mendapatkan keamanan terhadap dirinya dari azab setelah kematian."

(Fathu Rabbil Bariyyat ala Kitab Ahammil Muhimmat-Syaikh Ahmad Yahya an Najmi, hal. 97)

Karamah apa yang paling baik dari jenis-jenis karamah yang ada?


Syaikh Muhammad Aman al Jami rahimahullahu menjawab, "Jenis yang paling baik dari jenis-jenis karamah adalah sebagaimana ucapan ahlul ilmi, yakni ketika Allah memberikan rezeki kepada hamba-Nya keistiqamahan di atas agamanya dan terus keisitiqamahan itu ada sampai dia bertemu dengan-
Nya."

(Syarah Qurratil Uyunil Muwahidin-Syaikh Muhammad Aman al Jami, hal. 20)

Sifat Malu akan Menghantarkan kepada Kemuliaan


Ibnu Hibban rahimahullahu berkata,"Wajib bagi seorang yang berakal untuk membiasakan dirinya malu kepada manusia, karena termasuk keberkahan yang paling besar adalah membiasakan jiwa kepada perilaku yang terpuji dan jauh dari sikap jelek dan tercela.

Sebagaimana termasuk keberkahan yang paling besar dari rasa malu kepada Allah adalah kesuksesannya ketika bisa selamat dari api neraka, karena sebab adanya rasa malu sehingga menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.

Anak cucu Adam selalu teriringi dengan sifat kemuliaan dan kerendahan secara bersamaan di dalam muamalahnya antara dirinya dengan Allah taala, dan pergaulannya antara dirinya dengan para makhluk Allah. Maka, jika rasa malunya lebih kuat maka menguatlah kemuliaannya dan melemahlah kerendahannya.

Namun jika rasa malunya lemah, maka menguatlah kerendahannya dan melemah kemuliaannya."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 29, cet. Darul Istiqamah 2010).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Wajib atasmu untuk berhati-hati jika telah lewat padamu suatu dalil, dan engkau cenderung untuk menyelesihinya.

Akan tetapi (yang pantas) hendaknya engkau katakan, "sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat)", karena jika engkau cenderung kepada menyelisihi dalil, bisa jadi hal itu akan mengharamkan (mencegah) engkau dari hidayah di hari yang akan datang."

(Syarah Al Kafiyah Asy Syafiyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 2, hal 445)

Orang Bertakwa Bukan Berarti Tidak Pernah Berdosa


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Bukanlah termasuk dari syarat seorang yang bertakwa atau yang semisalnya untuk tidak terjatuh kepada sebuah dosa, dan bukanlah mereka itu harus maksum (terjaga selalu) dari kesalahan dan dosa-dosa.

Karena jika hal ini (predikat sebagai orang yang bertakwa itu) seperti demikian, niscaya tidak akan ada pada umat ini orang yang bertakwa!

Bahkan barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya, maka dia masuk kepada golongan orang-orang yang bertakwa, dan barang siapa yang melakukan apa-apa (amalan shalih) yang bisa menghapuskan kesalahan-kesalahannya, maka dia masuk kepada golongan orang-orang yang bertakwa."

(Lihat Minhajus Sunnah an Nabawiyyah fi Naqdis Syiah wal Qadariyah-Ibnu Taimiyyah, juz 7, hal. 82)

Orang Berakal itu Punya Malu


Ibnu Hibban rahimahullahu berkata, "Wajib bagi orang yang berakal untuk menepati sifat malu, karena malu adalah pondasi dari sebuah akal dan benih dari kebaikan. Adapun meninggalkan sifat malu adalah pondasi dari kebodohan dan benih dari kejelekan.

Sifat malu itu menunjukkan adanya akal sebagaimana tanpa adanya akal, berarti menunjukkan kebodohan."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 29, cet. Darul Istiqamah)

Sepuluh Poin Di antara Adab kepada Seorang Alim


Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullah berkata, "Para ahli hikmah menempatkan kedudukan ulama itu seperti raja. Mereka berkata, "Termasuk dari adab seorang yang masuk menemui seorang alim adalah:
1. Menyalaminya terlebih dahulu di atas para shahabat-shahabatnya
2. Mengkhususkan penghormatan kepadanya
3. Mendahulukannya ketika duduk
4. Jangan melakukan isyarat dengan tangan kepadanya
5. Jangan melakukan isyarat dengan mata kepadanya
6. Jangan berkata dengan ucapan yang menyelisihinya
7. Jangan membicarakan kejelekannya kepada seorang pun
8. Jangan berbisik-bisik di majelisnya
9. Jangan menampakkan kemalasan kepadanya
10. Jangan berpaling dari ucapannya karena sesungguhnya kedudukannya bagai buah di pohon kurma yang selalu menjatuhkan sesuatu yang bermanfaat untukmu."

(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam'ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 41-42, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)

Jin dan Setan Takut dengan Orang yang Berakidah Kuat


Syaikh Muqbil al Wadi'i rahimahullahu berkata, "Apabila akidahmu kuat, maka jin dan setan akan takut darimu, dan jika akidahmu muza'za' (goncang/tidak kokoh) maka bisa jadi engkau akan takut dari bayanganmu sendiri."

(Lihat Qam'ul Mu'anid wa Jazrul Haqid wal Hasid, hal. 48)

Menghafal Setiap Hari Walau Sedikit


Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullah berkata, "Dahulu Ahmad ibn Farrat rahimahullah setiap harinya tidak pernah meninggalkan ketika waktu subuh untuk menghafal sesuatu walaupun sedikit."

(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam'ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 40, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)

Menghafal dan Menulis adalah Bentuk Penjagaan Ilmu


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Hendaknya engkau meniatkan thalabul ilmi untuk menjaga syariat Allah, karena menjaga syariat Allah bisa terwujud dengan cara belajar (agama) dan menghafalnya di dalam hati, dan yang bisa seperti itu juga adalah dengan menulisnya, yakni menulis kitab-kitab."

(Syarah Hilyati Thalibil Ilmi-Syaikh Utsaimin, hal. 17, cet. Dar Ibnil Khathab 2013)

Tanda Cinta Rasul Adalah Cinta Tauhid


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata, "Termasuk dari tanda kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mencintai tauhid yang dengan tauhid inilah, tujuan Rasulullah dalam berdakwah dan beramal.

Juga mencintai orang-orang yang tujuan dakwahnya seperti ini (yakni dakwah kepada tauhid) dan tidak melecehkan mereka dengan sebutan-sebutan yang merendahkan."

(Tajihatu Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 61, cet. Darush Shahabah lit Turats bi Thantha 2009)

Mau Taat atau Maksiat adalah Pilihan Seorang Hamba


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata, "Wajib bagi seorang muslim untuk berkeyakinan bahwa kebaikan dan kejelekkan adalah terjadi dengan takdir Allah, dengan ilmu-Nya dan kehendak-Nya.

Akan tetapi perbuatan baik dan jelek dari hamba tersebut adalah terjadi dengan (adanya sebab) pilihannya sendiri.

Memperhatikan perintah dan larangan Allah adalah kewajiban bagi seorang hamba, maka tidak boleh baginya untuk bermaksiat kepada Allah dan berkata, "Ini (saya bermaksiat) adalah takdir Allah."

Allah taala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka untuk menjelaskan mana jalan keselamatan dan mana jalan kebinasaan. Allah juga memuliakan manusia dengan akal serta pikiran dan mengenalkannya mana yang sesat dan mana yang petunjuk. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami memberi petunjuk kepada manusia kepada jalan yang benar, yang dengan itu dia menjadi orang yang bersyukur atau menjadi orang kufur." (QS. Al Insan: 3).

(Tajihatu Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 27, cet. Darush Shahabah lit Turats bi Thantha 2009)

Dulu Si Boy, Sekarang Dilan


Dulu, kawula muda jadul generasi di akhir era 80an atau awal 90an mengenal sosok pemuda idaman nan ideal dengan tokoh Si Boy. Tokoh fiktif yang diidolakan oleh kawula muda di zamannya ini muncul dari film yang edar di akhir tahun 80an. Si Bad boy ganteng ini selain baik hati, juga suka menolong. Tak cukup, Si Boy dikenal pula sebagai pemuda alim (baca: shalih). Shalat dan ucapan istighfar dari Mas Boy kadang terucap di tengah kehidupan dugem dan asmaranya (baca: pacaran). Jadilah Si Boy, teladan kawula muda kala itu.

Kini, sosok Si Boy tak lagi dikenal, generasi telah berganti, kini Dilan ambil posisi.

Film Dilan yang terangkat dari sebuah novel laris ini, bercerita tentang seorang murid yang berada di salah satu sekolah menengah atas. Seperti Si Boy, seniornya, Dilan di kenal pula sebagai sosok murid bad boy ganteng yang memimpin salah satu geng motor. Bad boy tapi romantis, inilah imej Dilan. Gombalan dan rayuan full memadati gaya pacaran generasi milenial ini. Lagi-lagi, disamping itu semua, Dilan digandengkan dengan predikat ke-shalihan dan taat beribadah. Fix, Dilan seorang bad boy shalih yang hobi menggombal, sempurna lekat di hati generasi milenial.

Walau tak sama, baik dari sisi kehidupan atau latar belakang, Si Boy dan Dilan bisa kita tarik benang merah. Mereka ditancapkan sebagai figur kaum muda melalui media baca dan cinema. Menjadi Bad boy atau anak nakal yang suka pacaran adalah suatu yang wajar, tapi ingat, asal tetap alim dan shalih maka tak masalah. Walhasil, imej menjadi anak alim atau shalih tak mesti harus duduk di masjid dan men-jomblo. Anak shalih boleh juga nakal dan pacaran, bahkan keduanya bukan lagi suatu kemungkaran yang harus diingatkan. Allahul musta'an.

Padahal teramat banyak ayat atau hadits yang mengecam tentang kenakalan dan pacaran ini. Lalu, apakah kita mau jadi salah satu korbannya? Tentu tidak. Kaum muda hendaknya menyibukkan diri dengan suatu yang bermanfaat. Akan lebih manfaat jika masa muda ini kita habiskan dengan memperdalam ilmu agama melalui kajian-kajian salaf atau menghafal Al Quran. Sehingga di masa tua tidak menjadi orang yang bodoh dan dikubur hanya bisa menjawab, "hah hah, aku tidak tahu" ketika malaikat bertanya tentang siapa Rabb-mu, siapa nabimu dan apa agamamu.

Ayo kaum muda, semangatlah dalam thalabul ilmi syar'i!.

Ikut Madzhab Fikih yang Mana?


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, ".. Adapun belajar fikih di atas madzhab syafi'i, madzhab hanbali, madzhab maliki atau madzhab hanafi, maka tidak ada larangan dalam hal itu, selama engkau tidak mengharuskan untuk mengambil setiap apa yang ada pada madzhab itu tanpa mengetahui dalil dan sanad dalilnya (shahih atau tidaknya).

Maka mempelajari itu tidak mengapa, untuk menggali (fikih) madzhab dan hukum-hukumnya, akan tetapi ketika dalam beramal dan mempraktekkannya, hendaknya engkau ambil apa-apa yang berdasar kepada dalil.

Jika engkau seorang yang mempunyai kemampuan di dalam mengetahui pendalilan (suatu permasalahan) maka tidak boleh bagimu untuk beramal dengan suatu amalan kecuali jika engkau telah tahu dalilnya."

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 36-37, cet. Darul Bashirah 2009).

Besarnya Pahala Sabar ketika Tertimpa Musibah


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Wajib atas seorang hamba jika terjadi takdir-takdir yang tidak dia sukai, untuk merasa ridha dengan ketetapan Allah dan takdirNya. Juga berserah diri atas takdir yang telah tercatat, karena sesungguhnya itu mesti terjadi, maka janganlah dia menolak terhadap ketetapan Allah dan takdirNya.

Kemulianlah atas orang yang menerimanya dengan keridhaan dan mengetahui bahwa urusannya itu berasal dari Allah, dan mengetahui bahwa Allah-lah yang memiliki pengaturan yang mutlak atas hambaNya.

Maka ridhalah kepada Allah sebagai Rabb dan ridhalah kepada Allah sebagai ilah (Dzat yang berhak disembah), dan dengan itulah, kelak akan membawanya kepada pahala/balasan yang cepat (di dunia) dan lambat (di akhirat).

Karena barang siapa yang tertimpa musibah dan dia bersabar, maka Allah telah memberikan hidayah kepada hatinya, Allah telah lapangkan dadanya dan Allah telah ringankan musibahnya karena adanya sebab yang dia harapkan berupa pahala/ganjaran di sisi Allah.

Kemudian ketika dia dibangkitkan hari kiamat, niscaya dia akan dapatkan pahala yang tersimpan atas sebab musibahnya dan kesabarannya di sisi Allah, karena ganjaran pahala atas orang-orang yang bersabar adalah tanpa batas."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 79-80, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Hati-Hati dari Kitab Sesat


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah berkata, "Jeleknya teman duduk yang di zaman ini adalah sebuah kitab, dan kitab ini telah menjadi layaknya hembusan panas dari seorang pandai besi, bahkan lebih!

Demikian juga teman duduk yang jelek dari kalangan manusia, itu juga seperti hembusan panas dari seorang pandai besi, dan majelisnya ini mesti akan membuat rusak.

Termasuk dari bahayanya ahlul bidah adalah sebagaimana sabda nabi shallallahu alaihi wasallam, "Amma badu, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (Al Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan sejelek-jeleknya perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (bid'ah dalam agama)".

Seorang mubtadi ini (ahlul bidah) adalah wadah dari kejelekkan dan bidah, hati-hatilah darinya karena niscaya bisa membakarmu, walaupun dia menipumu dengan zuhud dan wara, janganlah engkau merasa aman terhadap agamamu, karena dia akan menyuapkan kepadamu di kali yang pertama, kedua dan yang ketiga dengan yang manis, tapi kemudian setelah itu dia akan menenggakkan kepadamu racun seteguk demi seteguk.

Di sisi mereka ada makar, Di sisi mereka ada tipu daya, Di sisi mereka ada kelicikkan, Di sisi mereka ada syubhat-syubhat. Orang yang lemah tidak akan bisa lepas darinya, bahkan malah menjadi korban."

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Allamah Rabi ibn Hadi al Madkhali, juz 2, hal. 18, cet. Dar Al Imam Ahmad)

Apakah kewajiban yang pertama kali (yang mesti ditunaikan) atas seorang hamba?


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Kewajiban yang pertama kali atas seorang hamba adalah apa yang telah diserukan kepada makhluk, dan ini telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Muadz ibn Jabal radhiallahu anhu ketika beliau diutus ke negeri Yaman, Nabi menyatakan, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum ahlul kitab, maka hendaklah jadikan yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah: Syahadat laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka inilah awal kewajiban atas seorang hamba, yakni mereka mentauhidkan Allah taala dan mereka bersaksi kepada Rasul-Nya dengan risalah yang (hal itu semua) terealisasikan dengan ikhlas dan mutabaah di mana keduanya ini merupakan syarat diterimanya setiap ibadah."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 79, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Sikap Seorang Mukmin terhadap Dunia


Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu berkata,

نَامَ رسولُ اللَّه ﷺ عَلَى حَصيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ في جَنْبِهِ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ الله، لوِ اتَّخَذْنَا لكَ وِطَاءً، فقال: مَا لي وَللدُّنْيَا؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
 
Artinya: "Rasulullah tidur (bertelekkan) di atas hashir (alas yang terbuat dari bahan yang kasar), kemudian beliau bangkit dan terdapat bekas pada iga beliau (karena sebab kasarnya alas).
Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, kalau saja kami (diizinkan untuk) mengambil sebuah alas (yang nyaman)?."
Rasulullah maka menjawab, "Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku dengan dunia kecuali laksana seorang penunggang yang sedang berteduh di bawah pohon, kemudian setelah istirahat, lalu meninggalkan pohon itu." (HR. Tirmidzy dan dishahihkan oleh Imam al Albani rahimahullahu).

Terkait hadits ini, Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu mengatakan,

فالمؤمن لا يُشغل بالدنيا، ولكن يأخذ منها ما تيسر، فهو يعمل ويتسبَّب ويطلب الرزقَ حتى يستغني عمَّا في أيدي الناس

"Maka seorang mukmin hendaknya tidak menyibukkan diri dengan dunia, akan tetapi ambillah olehnya bagian dunia dengan segala apa yang bisa memudahkannya, yaitu agar dia bisa beramal/bekerja dan menempuh sebab serta mengais rezeki, hingga dirinya bisa merasa cukup (tidak butuh) dari apa yang ada pada tangan (milik) manusia".

Silahkan lihat:
https://binbaz.org.sa/audios/2494/171-من-حديث-نام-رسول-الله-صلى-الله-عليه-وسلم-على-حصير-فقام-وقد-اثر-في-جنبه

Kitab Itu Seperti Teman Dudukmu


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah berkata, "Kitab itu seperti teman duduk bermajelis,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ،
وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Artinya:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk seperti seorang penjual misik (minyak wangi) dan seorang pandai besi. Penjual misik (minyak wangi) bisa jadi akan memberimu (minyak wangi), atau engkau bisa membeli darinya, atau engkau bisa mendapatkan wangi yang harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah menjadi kemestian bahwa termasuk bahaya adalah seorang yang membaca kitab-kitabnya ahlul bidah dan duduk-duduk bermajelis dengan mereka."

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Allamah Rabi ibn Hadi al Madkhali, juz 2, hal. 17-18, cet. Dar Al Imam Ahmad 2014).

Ilmu Itu Didatangi dari Pintunya, Bukan Atapnya!

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Ilmu itu didatangi dari pintunya dan jangan didatangi dari atasnya (atap), akan tetapi hendaknya dengan at tadrij (sesuai tingkatan/derajat) tahap demi tahap mulai dari masalah-masalah yang mudah hingga ke masalah-masalah yang sukar.

Adapun orang-orang yang mengambil ilmu dengan satu gelondongan, dia ambil dari atasnya, maka mereka tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali di atas al jahl (kebodohan) dan ghurur (tertipu).

Duhai jika kebodohan dan tertipunya itu sebatas mengenai mereka saja.. akan tetapi yang menjadi masalah, mereka akan membawa kepada orang yang lainnya, mereka akan berfatwa, mereka akan berkata atas nama Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu berdasar pemahaman salah yang ada pada mereka."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 20, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).