ما لم يكن لله لا ينفع ولا يدوم
Apa yang tidak diperuntukkan untuk Allah maka tidak akan bermanfaat dan langgeng
(Ar Risalah at Tadmuriyyah, 232)
Seorang penanya bertanya, "Jika kami melihat suatu kemungkaran -yakni mempersaksikan kemungkaran- apakah kami harus segera mengingkarinya atau kami meminta penjelasan dahulu?
Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullahu menjawab,
هكذا يبدأ تمييع الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يقال لهم: لا تبادروا، خلو الناس، لا تنفروا الناس، لا تقولوا: هذا حلال، هذا حرام، هذه بدعة - تنفروا الناس- لا، اعمل بقول عليه الصلاة والسلام:(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده) احفظ الدرجات لا تبادر إلى إنكار المنكر باليد في غير سلطتك، فإذا كنت في محل سلطتك في بيتك سلطة في إدارته في مكتبه في مركزه يزيل المنكر باليد ومن ليس لديه سلطة ينكر المنكر باللسان ثم بالقلب؛ ولكنه لا يؤخر لابد أن ينكر.
"Demikianlah awal dari sifat lembek dalam mengajak yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, dikatakan oleh mereka (orang-orang yang lembek tersebut), "Jangan kalian terburu-buru, tunggu manusia sudah sepi, jangan membuat manusia lari, jangan engkau mengatakan ini halal, ini haram, ini bidah, karena dengan begitu niscaya engkau akan membuat lari manusia".
Tidak! Akan tetapi amalkan dengan berdasar sabda dari nabi shallallahu alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya.." Jagalah urutannya, jangan terburu-buru untuk mengingkari kemungkaran dengan tangan tanpa adanya kekuasaan pada dirimu.
Jika engkau berada di ranah kekuasaanmu, di rumahmu ada kuasa, di kantornya, di ruang bacanya atau di markiznya, maka ia hilangkan kemungkaran dengan tangan.
Barang siapa yang tidak memiliki kekuasaan maka ingkari kemungkaran dengan lisannya kemudian dengan hatinya, akan tetapi janganlah mengakhirkan (mengingkari kemungkaran) sesuatu yang harus ia segera ingkari."
(Al Ajwibatudz Dzahabiyyah alal As'ilatil Manhajiyyah, Syaikh Muhammad Aman al Jami, pertanyaan no 11)
Faidah Tausiyah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Ibrahim ibn Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 9 Syaban 1443H / 12 Maret 2002
Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 3 Syaban 1443H / 6 Maret 2002
Faidah Taklim Bada Maghrib oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002
Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002
Faidah tausiyah shubuh oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002
Faidah taklim bada maghrib Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah, Cileungsi 28 Rajab 1443H / 1 Maret 2022
Al Imam Asy Syafi'i rahimahullahu pernah menasehati shahabatnya Yunus ibn Abdil A'la, beliau berkata,
Asy Syaikh Muqbil rahimahullahu pernah ditanya,
Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata,
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,
Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullahu berkata,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah beristirahat, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)
Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,
وإسباغ الوضوء في المكاره يعني في حال البرودة -برودة الجو وبرودة الماء- كونه يسبغ الوضوء في هذه الحال يدل على عظيم العناية بالوضوء والحرص على أن تؤدى الصلاة بوضوء شرعي سليم
Menyempurnakan wudhu pada saat keadaan kurang nyaman yakni dalam keadaan yang dingin -dingin udaranya dan dingin airnya- dilakukan sempurna di dalam wudhunya pada keadaan tersebut, menunjukkan tingginya perhatian orang tersebut dengan perkara wudhu dan semangatnya ia dalam menunaikan shalat dengan wudhu yang syar'i.
Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata pula,
وليس معنى الرباط أنه يبقى في المسجد لا يعمل لحاجاته ولا يذهب لقضاء حاجة أهله ولا يبيع ولا يشتري لا، المقصود: أنه يكون على باله الصلاة وعلى همته وعلى عزمه لا تذهب عن قلبه وفكره، بل كلما فرغ من صلاة فالصلاة على باله لا ينساها ولا يضعف عنها، بل هو مرابط في هذا الأمر بالتذكر والعناية والمحافظة والمسارعة كل صلاة في وقتها
Bukanlah makna ar ribath itu ia tinggal di masjid, janganlah ia mengamalkan sesuatu di masjid untuk keperluannya, jangan pula ia pergi ke masjid untuk menunaikan keperluan keluarganya, tidak pula untuk menjual atau membeli, bukan!. Maksudnya adalah ia menjadikan pada dirinya hanya ada shalat, dan tujuan utamanya serta fokusnya tidak keluar dari hati dan pikirannya melainkan untuk shalat.
Setiap ia selesai dari shalat, maka perkara shalat di jiwanya tidak terlupakan dan tidak lemah dari menunaikannya.
Bahkan ia mutlak mengikat perkara shalat ini dengan dzikir , perhatian, penjagaan dan bersegera di setiap shalat pada waktunya". D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D9%84%D9%83%D9%85- %D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D9%85%D8%AD%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9% 84%D9%87-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%88%D9 %8A%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%AC%D8%A7%D8 %AA
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di
catatankajianku.blogspot.com #ibadah