Sabtu, 31 Desember 2016

Definisi al Itnab, al Iqtishar dan al Ikhtishar


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Para ulama berkata bahwa definisi 'mukhtashar' adalah yang sedikit lafazhnya tetapi banyak kandungan maknanya, karena kalam (ucapan) terbagi menjadi tiga jenis.

1. Itnab
2. Ikhtishar
3. Iqtishar

Al itnab itu lebih banyak lafazhnya dibandingkan kandungan maknanya (bertele-tele).

Adapun al iqtishar antara lafazh dan kandungan maknanya seimbang (sama).

Sedangkan al ikhtishar lafazhnya sedikit akan tetapi kandungan maknanya banyak.

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 27, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Jangan Kau Lupakan Gurumu dalam Doa


Asad ibn Furrat rahimahullah berkata, "Sesungguhnya aku berdoa (kebaikan) kepada Allah untuk Ali ibn Ziyad beserta kedua orang tuanya karena dia lah (Ali ibn Ziyad) yang pertama kali mengajariku ilmu."

Abu Yusuf al Fakih (seorang ulama yang menjadi murid Abu Hanifah) senantiasa di akhir-akhir shalatnya berdoa, "Yaa Allah berikanlah ampunan kepada kedua orang tuaku dan kepada Abu Hanifah."

(Birrul Walidain-Imam al Thurthusyi, hal. 19, cet. Darul Istiqamah 2013)

Nama dan Sifat Allah Maknanya Telah Dijelaskan Oleh Rasulullah

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "... Nabi alaihish shalatu wassalam telah mengajari manusia segala sesuatu. Maka apakah beliau telah mengajari mereka tentang keyakinannya terhadap Allah azza wa jalla di dalam asma wa sifat-Nya?

Jawabnya tentu dan tidak diragukan lagi.

Perkara ini tentu lebih utama untuk diajarkan kepada mereka tentang apa itu sifat-sifat Allah.

Oleh karenanya Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah) ketika menjelaskan tentang keadaan ahlu tafwidh yang mereka mengatakan bahwasanya jika ada ayat atau hadits yang datang kepadamu tentang sifat-sifat Allah maka serahkanlah maknanya kepada Allah dan janganlah membahasnya sama sekali, dan posisikan kita ini seperti orang yang tidak mengetahui.

Maka beliau (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah menjelaskan perihal kalimat di atas, "Sesungguhnya ucapan mereka adalah termasuk sejelek-jeleknya ucapan dari kalangan ahlu bid'ah dan ahlu ilhad (orang yang menyimpang)..."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Bertanyalah kepada Ahlinya!


《فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَاتَعْلَمُون》َ
Artinya: "Maka tanyakanlah oleh kalian kepada ahlu dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kalian tidak mengetahui."
(Al-Anbiya: 7)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata tentang ayat ini, "Ini merupakan kaidah yang mencangkup setiap segala sesuatu, dan tidak dikhususkan di dalam permasalahan ilmu syari saja.

Ini merupakan bimbingan dari Al Qur'an bahwasanya jika kita tidak mengetahui tentang suatu perkara, maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang telah mengkhususkan diri (ahlinya) dibidangnya."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 22, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Musibah atau Ujian


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Hikmah Allah di dalam penciptaan-Nya tidak mungkin kita akan diketahui keseluruhannya. Ada sebagian yang kita ketahui dan ada sebagian yang kita tidak mengetahuinya.

Akan tetapi kita tetapkan dan kita imani bahwa Allah subhanahu wa taala tidak akan berbuat sesuatu tanpa adanya hikmah yang sempurna, karena Allah adalah Dzat yang tersucikan dari sifat sia-sia.

Dan apa-apa yang menimpa pada orang kafir berupa segala musibah, maka sesungguhnya hal itu adalah balasan atas kekafiran dan kemaksiatan mereka. Allah taala berfirman,
《وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون》
Artinya, "َDan sungguh benar-benar Kami akan timpakan kepada mereka azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)".
(QS. Assajadah: 21).

Dan Allah berfirman,
《وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَٰلِكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُون》
Artinya, "َDan sesungguhnya bagi orang-orang yang zhalim ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(QS. Ath Thur: 47).

Adapun musibah yang menimpa kepada anak kecil, maka hal itu sesungguhnya bisa menjadi suatu hukuman bagi orang tua mereka atau menjadi sebuah ujian bagi mereka agar bisa tampak bagaimana kesabaran dan ihtisab mereka.

Demikian juga apa-apa yang menimpa kepada hewan-hewan ternak, sesungguhnya hal itu merupakan balasan atas pemiliknya atau menjadi suatu ujian bagi mereka.

Allah berfirman,
《وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍمِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين,الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ》 .
Artinya, "َDan sungguh benar-benar Kami akan berikan cobaan kepada kalian, dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"."
(QS. Al Baqarah: 155 dan 156).

(Lihat Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Fauzan, jil. 2, hal. 104-104, cet. Maktabatul Ghuraba)

Alasan Mengapa Tauhid Dibagi Menjadi Tiga


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "... Maka yang benar tanpa diragukan lagi, bahwa pembagian tauhid menjadi tiga jenis dan penyebutan tentang syarat-syarat dari tauhid, rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya dan perusak-perusak dari berbagai peribadahan, semua itu hukumnya adalah boleh karena hal ini sebagai bentuk dari sarana dan metode pendekatan serta bentuk menyederhanakan suatu permasalahan bagi seorang penuntut ilmu."

(Lihat Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 15, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Tidak Boleh Berobat kepada Dukun

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu dalam Majmu Fatawa-nya (8/160) berkata, "Allah subhanahu wa taala telah menurunkan penyakit, bersamaan dengan itu, Allah telah menurunkan obatnya pula. Siapa yang Allah beritahu obatnya maka dia mengetahui dan siapa yang tidak Allah diberitahu maka dia tidak mengetahuinya.

Akan tetapi Allah tidak menjadikan suatu obat bagi hamba-Nya dengan perkara yang diharamkan atas mereka.

Seorang yang sakit tidak diperkenankan bagi dirinya untuk pergi kepada dukun atau semisalnya yang mengaku-aku mengetahui hal yang ghaib dalam rangka mengetahui penyakit yang dideritanya sebagaimana tidak diperkenankan juga untuk mempercayai berita-berita yang mereka kabarkan.

Sesungguhnya para dukun tersebut berbicara dengan ramalan ilmu ghaib atau dengan mendatangkan jin agar para dukun tersebut bisa minta tolong terhadap apa yang diinginkannya.

Keadaan mereka ini adalah kekufuran dan kesesatan karena mereka telah mengaku-aku tahu tentang perkara yang ghaib."

(Dinukil dari Al Ilaj war Ruqa-Syaikh Ibnu Baz, hal. 6, cet. Daru Sabilil Muminin 2013).

Buah Manis dari Dakwah Tidak Mesti Datang Cepat

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "... Bahwasanya seorang insan wajib untuk menunggu jalan keluar dan senantiasa bersabar dalam menetapi ketakwaan kepada Allah azza wa jalla, jika demikian maka hasil yang baik pun sebentar lagi akan datang.

Kita pun mengatakan bahwa makna dari 'sebentar lagi' bukanlah suatu keharusan dilihat ketika kita masih hidup. Hal ini bukanlah menjadi suatu syarat.

Kadang hasil yang baik dari apa yang dia dakwahkan berupa al haq, diraih ketika dirinya telah meninggal.

Oleh karenanya kita dapati sebagian dai meninggal karena dihukum dan (terlihat) tidak mendapatkan manisnya hasil dakwah yang Allah telah perintahkan untuknya.

Akan tetapi sepeninggalnya, ternyata ucapan sang dai menjadi warisan (dinukil) hingga jadilah ini sebagai manisnya hasil dakwah yang baik, yaitu bagi orang yang bertakwa.

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 18, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Minggu, 11 Desember 2016

Pengertian Yatim


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Yatim adalah seorang anak kecil yang ayahnya meninggal. Inilah yang dimaksud dengan yatim.

Adapun jika anak tersebut telah mencapai baligh maka dia telah keluar dari batasan definisi anak yatim.

Begitu pula jika yang meninggal adalah ibunya, dan ayahnya masih hidup, maka yang seperti ini tidak bisa disebut anak yatim, karena ayahnyalah yang menopang kehidupan dan menafkahi serta yang mendidik anak tersebut. Juga ayahnyalah yang menjaga dan melindunginya.

Maka anak yatim adalah seorang yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan anak tersebut masih kecil."

(I'anatul Mustafid-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 36, cet. Muassasatur
Risalah 2013).

Tidur Selepas Shubuh? Sebaiknya Jangan

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Bahwasanya Ibnu Abbas radhiallahu anhuma pernah melihat putranya tidur di waktu shubuh, maka beliau berkata kepada putranya tersebut, "Bangunlah! Apakah engkau tidur di saat rezeki dibagikan?"

(Mukhtarat min Kitabi Zadil Maad-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 209, cet. Muassasatu asy Syaikh 1434H).

Jumat, 28 Oktober 2016

Dua Faidah Tidur

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Tidur itu memiliki dua faidah:

Pertama, menenangkan anggota badan dan melapangkannya.

Kedua, mengurai gizi dan mencerna makanan."

(Mukhtarat min Kitabi Zadil Maad-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 209, cet. Muassasatu asy Syaikh 1434H).

Sayangi Mahrammu dengan Tidak Mengumbar Pandangan

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Jika engkau memandang kepada mahram-mahramnya manusia, maka sepungguhnya nanti manusia pun akan melihat mahram-mahrammu.

Karena engkau telah melanggar kehormatan mereka, niscaya orang-orang pun akan melanggar kehormatan dirimu.

Yang lebih parah dari itu -wal iyadzu billah- adalah ketika dirimu melakukan perbuatan fahisyah (kenistaan) bersama wanita orang lain (yang tidak halal untuk dirimu) maka sebagai balasannya, orang-orang pun nanti akan melakukan perbuatan fahisyah tersebut dengan wanita-wanita mahrammu".

(Lihat Ittihafuth Thullab bi Syarhi Manzhumatil Adab-Syaikh Shalih Al Fauzan, hal. 92, cet. Darul Hikmah 2009).

Penuntut Ilmu Jangan Hasad

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dalam Kitabul Ilmi (hal. 74) berkata, "Hasad adalah suatu perangai yang tercela.

Yang disayangkan, bahwasanya hasad banyak terjadi di antara kalangan ulama dan kalangan para penuntut ilmu. Terjadi pula hasad di antara para pedagang satu dengan pedagang yang lainnya.

Setiap masing-masing memiliki ujian yang bisa membuat hasad bagi yang menjalani satu bagian aktifitas bersama di dalamnya.

Akan tetapi sangat disayangkan, hasad yang terjadi pada kalangan ulama itu lebih tercela, hasad yang terjadi antar penuntut ilmu itu lebih tercela, padahal sebagai penyandang ilmu harusnya dia menjadi manusia yang lebih terjaga dan terjauh dari sifat hasad dan menjadi manusia yang lebih dekat kepada kesempurnaan akhlak."

(Dinukil dari Ash Shawarif anil Haq-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 46.)

Rabu, 26 Oktober 2016

Bagaimana Caranya Bisa Bersyukur ketika Mendapat Musibah

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Bahwasanya bisa terwujud dengan beberapa cara, diantaranya:

1. Dengan membandingkan kepada musibah yang lebih besar, yaitu dengan membandingkan antara musibah yang mengenai dunia kepada musibah yang mengenai akhirat. Maka dengan cara ini akan menjadi lebih ringan dan akan mendorong rasa bersyukur kepada Allah yang tidak menjadikan musibahnya menjadi lebih parah.

2. Mengharap pahala kepada Allah atas musibah yang mengenanya, karena semakin besar musibah yang didapat maka semakin besar pula ganjaran yang didapat. Oleh karenanya disebutkan dari para ahli ibadah bahwasanya ketika mereka mendapatkan musibah, tidaklah didapati pada mereka keluhan. Ketika ditanyakan kepada mereka tentang hal ini (tidak mengeluhnya mereka), mereka menjawab: "Sesungguhnya manisnya ganjaran (pahala) dari musibah telah melupakanku dari pahitnya kesabaran suatu musibah."

(Disadur dari Nida'atu Rabbil Alamin-Syaikh Utsaimin, hal. 17, cet. Darul Iman 2004).

Allah Tidak Bisa Dilihat di Dunia tapi di Akhirat Bisa

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Tidak ada seorang pun yang mampu untuk melihat Allah ketika di dunia ini karena Allah terhijabi oleh cahaya.

Nabi pernah ditanya perihal malam mi'raj, "Apakah engkau melihat Rabb-mu? Nabi menjawab, "Sesungguhnya aku hanya melihat cahaya." (HR. Muslim).
Hal ini dikarenakan terhijabinya Allah taala dengan cahaya.

Maka tidak ada seorangpun yang mampu melihat Allah ketika di dunia ini bahkan tidak pula nabi atau yang selainnya, karena makhluk tidak akan mampu melihat Allah dikarenakan keagungan-Nya.
...

Kemudian Syaikh melanjutkan pada paragraf akhir, "... Adapun di akhirat sesungguhnya Allah akan memberikan bagi penduduk surga sebuah kekuatan yang membuat mampu bagi mereka untuk melihat Allah taala.

Ini merupakan bagian kemuliaan untuk penduduk surga ketika mereka mengibadahi Allah di dunia dalam keadaan mereka tidak melihat Allah. Akan tetapi mereka mengibadahi Allah karena keimanannya kepada Allah.

Maka Allah pun memuliakan penduduk surga dengan penyingkapan (hijab) bagi mereka di hari kiamat ketika di dalam surga dengan melihatNya."

(Syarhu Ushulil Iman-Syaikh Shalh Fauzan, hal. 43-44, cet. Dar Imam Ahmad 2011)

Kematian yang Dekat di Hati=Qana'ah

Jika kita merasa selalu merasa kurang dan selalu kurang dalam urusan dunia, coba kita resapi dan amalkan nasehat di bawah ini:

Umar ibn Abdil Aziz rahimahullahu berkata, "Barangsiapa yang rasa kematian itu dekat pada hatinya niscaya akan terasa banyak apa yang ada di tangannya."
(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim al Ashbahani, jil. 5, hal. 792, cet. Maktabah Ath Thayyiaah)

Kesempurnaan Petunjuk Nabi dalam Perkara Makan dan Minum

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Petunjuk nabi dalam hal makanan dan minuman adalah selengkap-lengkapnya petunjuk.

Rasulullah tidak pernah dalam kebiasaannya untuk menahan (memantang) satu jenis makanan tertentu dan tidak pula terus-terusan memakan makanan tertentu.

Akan tetapi rasulullah memakan makanan yang memang dikonsumsi oleh penduduk negerinya, yang terdiri dari daging, buah-buahan, kurma, roti dan yang semisalnya.

Dan adalah rasulullah jika dirinya enggan terhadap suatu makanan maka beliau tidak memakannya, karena efek negatifnya bagi badan lebih banyak dibandingkan dengan manfaatnya."

(Mukhtarat min Zaadil Ma'ad-Syaikh Utsaimin, hal. 207, cet. Muassasah Asy Syaikh 1434H)

Minggu, 23 Oktober 2016

Mungkin Ini Sebab Diri Kita Terlalu Malas untuk Beramal Shalih

Ishaq ibn Ibrahim pernah mendengar bahwa Fudhail ibn Iyadh berkata, "Jika engkau tidak mampu untuk menegakkan shalat malam dan berpuasa di siang hari maka ketahuilah bahwa dirimu telah terhalang karena terbelenggu oleh belenggu dosamu."

(Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi jil. 2 hal. 238, cet. Darul Wa'i 1389H).

Perbanyaklah Amal, Jangan Banyak Debat!

Imam al Auza'i rahimahullahu berkata, "Telah sampai kepadaku bahwasanya jika Allah hendak menginginkan kejelekkan pada sebuah kaum maka mereka akan selalu berdebat dan tercegah dari amalan."

(Siyar Alamun Nubala 12/79. Dinukil dari An Nubadz fi Adab-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 137, cet. Maktabah Ibnul Qayyim 2002)

Dua Jenis Orang yang Tidak Mau Belajar Tauhid

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sudah menjadi suatu keharusan bagi seseorang untuk mempelajari tauhid, karena tauhid adalah sebuah pondasi.

Orang yang merasa tidak butuh pada pelajaran tauhid bisa jadi salah satu dari dua orang berikut ini:

Bisa jadi orang bodoh, dan orang bodoh tentunya tidak kita anggap (tidak digubris)

Atau bisa jadi orang ini adalah orang yang memang tujuannya menyesatkan manusia.

Orang ini menginginkan agar manusia berpaling dari aqidah tauhid dan dia menginginkan agar aqidah-aqidah yang menyimpang bisa diperkenalkan ke tengah-tengah manusia sebagai bagian dari ajaran islam. Dan aqidah-aqidah mereka adalah aqidah yang rusak..."

(Terjemah bebas dari Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 25, cet. Darul Bashirah 2009).