Label
Faidah Ringan Seputar Akhlak
(300)
Faidah Ringan Seputar Ilmu
(195)
Faidah Ringan Seputar Akidah
(111)
Faidah Ringan Seputar Ibadah
(107)
Faidah Ringan Seputar Manhaj
(94)
Faidah Ringan Seputar Fikih Ibadah
(71)
Faidah Ringan Seputar Keluarga
(56)
Hatiku Berbisik
(52)
Faidah Ringan Seputar Kisah
(38)
Faidah Ringan Seputar Ramadhan
(26)
Faidah Ringan Seputar Rijal
(25)
kajian remaja
(15)
Faidah Ringan Seputar Al Qur'an
(12)
Faidah Taklim
(12)
kajian akhlak
(12)
Petikan Faidah Hadits
(11)
Faidah Ringan Riyadhush Shalihin
(8)
Faidah Ringan Seputar Sirah Nabi
(8)
kajian hati
(8)
Faidah Ringan Seputar Hati
(7)
wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami
(6)
info kajian
(5)
Doa
(4)
Info Buku dan Kitab
(4)
Faidah Ringan Hadits Arbain
(2)
Faidah Ringan Hadits Kitabul Jami
(2)
Terjemah Mukhtashar Sirah Rasul
(2)
BUKU TAMU
(1)
download kitab pdf
(1)
Senin, 16 Oktober 2017
Perhatikan Waktumu di Bulan Ramadhan
Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah berkata, "Waktu itu lebih berharga dibandingkan emas, karena nanti kita akan ditanya di hari kiamat, bahwa kelak tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba sampai ditanya tentang empat perkara, dan salah satunya adalah untuk apa dahulu umurnya dihabiskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
《نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ》
Artinya:
"Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).
Umur itu berjalan karena karunia dari Allah, maka sudah sepantasnya engkau digunakan umurmu untuk bertaqarrub kepada Allah dengan menghadiri majelis ilmu dan menuntut ilmu mengambil faidah, bisa jadi dengan satu faidah, bisa membuat hidupmu berubah.
Janganlah engkau anggap dirimu pada posisi sendiri dan menuntut ilmu di posisi yang lain, akan tetapi jadikanlah engkau dan menuntut ilmu itu berada di posisi yang satu . Taufik itu datang dari sisi Allah dan hidayah itu berada di Tangan Allah, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk kembali kepada Allah di bulan yang barakah ini dan memberikan haknya Ramadhan berupa kebaikan."
(Ijabatus Sail-Syaikh Muqbil ibn Hadi, hal. 168, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2016).
Jangan Sembarangan Menisbatkan kepada Agama Allah
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Agama bukanlah apa-apa yang dianggap baik oleh seseorang atau pendapat seseorang, karena ini sesungguhnya bukan agama Allah, ini adalah agama buatan manusia yang diada-adakan olehnya.
Adapun agama Allah adalah apa-apa yang disyariatkan-Nya.
Dan segala pendapat orang dengan pemikiran-pemikiran mereka bukanlah agama Allah, ini hanya agama hasil pemikiran.
Janganlah seseorang sembarangan menisbatkan kepada agama Allah, kecuali memang itu telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan rasul-Nya shallahu alaihi wasallam."
(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 30, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
Aroma Mulut Orang yang Berpuasa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
《والذي نفس محمد بيده لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ》
Artinya:
“Demi Dzat (Allah) yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Makna 'khuluf fami ash shaaim' adalah aroma tidak sedap yang timbul di penghujung hari dikarenakan rasa lapar dan disebabkan kosongnya perut, maka dengan itu timbullah aroma tidak sedap yang terkadang mengganggu teman duduk.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkabarkan bahwa aroma tidak sedap yang kita tidak suka tersebut tenyata di sisi Allah itu lebih wangi dibandingkan aroma wangi misk karena puasa adalah tameng."
(Ijabatus Sail-Syaikh Muqbil ibn Hadi, hal. 163, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2016).
Tauhid adalah Perkara Penting di Dalam Beragama
Syaikh Abdurrahman ibn Qashim rahimahullah berkata, "Sesungguhnya ilmu tentang tauhid adalah ilmu yang mulia dan agung dan ini sudah menjadi hal yang semestinya.
Bahkan menjadi kewajiban atas setiap individu yang berakal, baik laki-laki maupun wanita untuk bersungguh-sungguh di dalam mempelajarinya dan mengetahuinya agar dia bisa beragama di atas bashirah (keterangan yang jelas)."
(Lihat Syarah Al Aqidah As Safariniyyah-Syaikh Abdurrahman ibn Qasim. Dinukil dari Jami Syuruh Al Aqidah As Safariniyah, hal. 61, cet. Dar Ibnul Jauzi 2008).
Kemuliaan Al Quran
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Kemuliaan pada Al Quran meliputi:
1. Banyaknya pahala di dalam membacanya
2. Banyaknya kebaikan di dalam mengamalkannya
3. Keindahannya."
(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 106, cet. Maktabatush Shaffa 2005)
Minggu, 03 September 2017
Tauhid adalah Perkara Penting di Dalam Beragama
Syaikh Abdurrahman ibn Qashim rahimahullah berkata, "Sesungguhnya ilmu tentang tauhid adalah ilmu yang mulia dan agung dan ini sudah menjadi hal yang semestinya.
Bahkan menjadi kewajiban atas setiap individu yang berakal, baik laki-laki maupun wanita untuk bersungguh-sungguh di dalam mempelajarinya dan mengetahuinya agar dia bisa beragama di atas bashirah (keterangan yang jelas)."
(Lihat Syarah Al Aqidah As Safariniyyah-Syaikh Abdurrahman ibn Qasim. Dinukil dari Jami Syuruh Al Aqidah As Safariniyah, hal. 61, cet. Dar Ibnul Jauzi 2008).
Ilmu yang Bermanfaat
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa wujudkan dengan amalan, dan beramal dengan ilmu adalah buah dari ilmu.
Seorang yang bodoh itu lebih baik dari pada seorang yang berilmu jika ilmunya tidak bisa memberikan manfaat dan tidak diamalkan olehnya, karena ilmu adalah senjata, bisa menjadi senjata untuk menghadapi musuhmu atau malah menjadi bumerang bagi dirimu sendiri."
(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 15, cet. Maktabatush Shafa 2005).
Hasungan Untuk Menuntut Ilmu
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Menuntut ilmulah kalian karena ilmu akan mengangkat derajat seseorang di dunia dan di akhirat. Ilmu juga merupakan pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat. Allah berfirman,
《يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ 》
Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah: 11).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
《إِذَا مَاتَ الْعبد انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه》
Artinya:
"Jika seorang hamba meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Lihatlah kepada peninggalan ulama rabbani! selalu ada sampai hari ini, melewati panjangnya bulan dan tahun. Peninggalan mereka nampak, jalan mereka nyata, penyebutan mereka tinggi, kehidupan mereka sukses.
Jika mereka disebut di suatu majelis, manusia pun memberikan doa rahmat dan kebaikan untuk mereka. Jika disebutkan tentang amalan-amalan shalih dan adab-adab mulia maka mereka menjadi teladan bagi manusia."
(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 14, cet. Maktabatush Shafa 2005).
Islam akan Senantiasa Terang dan Jelas
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Termasuk dari rahmat Allah adalah bahwa kebenaran itu terang keberadaannya (yang bersumber) dari al kitab (Al Quran), as sunnah dan bimbingan salaf.
Tidak ada pada kebenaran itu sesuatu yang rancu atau samar sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu tatkala panjangnya waktu membuat kebenaran itu tersamarkan pada mereka, (hingga) kitab-kitab (suci) simpang-simpangkan (maknanya) dan diubah-ubah (isinya).
Adapun umat ini (umat Islam) akan tetap jelas, al Kitab (Al Quran) dan as sunnah senantiasa terjaga dari penyimpangan (maknanya) dan pengubahan, maka tidak ada udzur bagi seorang pun (untuk meninggalkan kebenaran)."
(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 26, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
Tidak ada pada kebenaran itu sesuatu yang rancu atau samar sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu tatkala panjangnya waktu membuat kebenaran itu tersamarkan pada mereka, (hingga) kitab-kitab (suci) simpang-simpangkan (maknanya) dan diubah-ubah (isinya).
Adapun umat ini (umat Islam) akan tetap jelas, al Kitab (Al Quran) dan as sunnah senantiasa terjaga dari penyimpangan (maknanya) dan pengubahan, maka tidak ada udzur bagi seorang pun (untuk meninggalkan kebenaran)."
(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 26, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
Sabtu, 02 September 2017
Tak Cukup Sekedar Belajar dan Mengajar, tapi Juga Diamalkan
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang insan tidaklah cukup dengan hanya diajari (belajar) dan mengajari, akan tetapi dia harus juga mengamalkan ilmunya. Maka ilmu tanpa amalan hanya akan menjadi hujjah atasnya.
Ilmu tidak bisa bermanfaat kecuali dengan mengamalkannya, adapun seorang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya maka dia seorang yang dimurkai Allah karena dia telah tahu kebenaran tapi malah meninggalkannya di atas bashirah (keterangan yang jelas)."
(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 38, cet. Ibnul Jauzi 2012).
Mengapa Shahabat Nabi Dicerca?
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Orang-orang yang mencerca para shahabat nabi atau yang merendahkannya, (sesungguhnya) tujuan mereka adalah untuk menghancurkan Islam, akan tetapi dengan memakai cara licik, jika para shahabat nabi telah diperbincangkan (negatif) dan telah jatuh kedudukan mereka, maka apa lagi yang tersisa dari orang yang menjadi perantara antara kita dengan rasul shallallahu alaihi wasallam?
Maka tujuan mereka sebenarnya adalah memutus tali sambung pada pendahulu yang pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar hingga (akhirnya dengan itu) umat menjadi sesat.
Jika bukan karena itu, maka apa lagi tujuan mereka mencela shahabat nabi?"
(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 22, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
Keharusan Meminta Kekokohan
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang insan (hendaknya) meminta kepada Allah kekokohan walau dia telah mengetahui kebenaran, mengamalkan dan meyakininya. Maka janganlah merasa aman dari penyimpangan dan ujian karena (bisa jadi) akan datang suatu ujian yang menghepaskan dan meyesatkan (seseorang) dari jalan Allah."
(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 15, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
Apa hukum pengobatan dengan musik?
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu Fatawa-nya (21/176) menjawab, "Mengobati dengan musik tidak ada asalnya bahkan itu adalah perbuatan orang-orang dungu. Musik bukanlah obat, akan tetapi merupakan penyakit. Musik merupakan alat yang membuat lalai dan semuanya membuat hati menjadi sakit serta yang membuat menyimpangnya akhlak.
Obat yang bermanfaat dan yang bisa membuat hati lapang bagi jiwa si pasien hanyalah dengan cara mendengarkan Al Qur'an, mendengarkan ceramah-ceramah nasehat yang bermanfaat dan hadits-hadits.
Adapun pengobatan dengan musik dan selainnya dari alat-alat musik yang ditabuh maka semua itu teranggap kebatilan dan akan semakin menambah sakit. Juga akan menjadikan mereka terasa berat untuk mendengarkan Al Qur'an dan As Sunnah serta nasehat-nasehat yang bermanfaat, laa haula wa laa quwwata illa billah."
(Dinukil dari Al Ilaj war Ruqa-Syaikh Ibnu Baz, hal. 99-100, cet. Daru Sabilil Muminin 2013).
Apa hukum membaca Al Qur'an ke dalam air (dengan tujuan pengobatan)?
Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Tidak semestinya dilakukan walaupun ada sebagian ulama yang membolehkan, tapi hal ini tidak ada dalil yang mendasarinya. Rasul shallahu alaihi wasallam tidaklah melakukannya dan para shahabatnya pun tidak melakukannya -barakallahufiikum-.
Mereka yang membolehkan untuk menulis pada suatu benda dan mandi serta hal yang semisal dari perkara ini, tidaklah ada dalil-dalil di sisinya.
Mereka telah mengerti kita, bahwasanya kita tidak menerima suatu permasalahan kecuali berdasar dalil. Semua bisa diambil dan ditolak ucapannya kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
(Dinukil dari As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqa-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 47, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
Apakah boleh berbincang-bincang dengan jin yang muslim (ketika meruqiyah)?
Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Tidak boleh! Bagaimana engkau tahu dia itu muslim? Kadang seorang munafik berkata: Saya seorang muslim. Kadang juga seorang kafir mengatakan: Saya seorang muslim. Adapun jin, engkau tidak mengetahuinya dan engkau tentu tidak mengetahui hal yang gaib, ini tidak boleh -barakallahufiik-"
(Dinukil dari As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqa-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 38, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
(Dinukil dari As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqa-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 38, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
Rabu, 30 Agustus 2017
Islam itu Mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Setiap orang yang mengikuti seorang rasul dari kalangan para rasul maka dia adalah seorang yang telah pasrah diri dengan mengikuti dan mengesakan Allah, ini pengertian Islam secara umum, yaitu agamanya seluruh para rasul. Maka Islam maknanya adalah memasrahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkannya dan tunduk dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang yang melakukan kesyirikan.
Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah Islam yang dibawa oleh seorang yang diutus oleh Allah sebagai nabinya, Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka Islam tebatas hanya mengikuti rasul. Tidak ada agama yang benar kecuali agamanya alaihi shalatu wasallam.
Maka tidak mungkin seorang Yahudi akan berkata, "Saya seorang muslim." Atau seorang Nashrani berkata, "Saya seorang muslim," setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan dia tidak mau mengikuti nabi..."
(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2012).
Kamis, 17 Agustus 2017
Inilah yang Namanya Belajar
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar, sedangkan belajar itu mesti membutuhkan kepada suatu fokus perhatian, kesungguhan dan waktu. Juga membutuhkan juga kepada suatu pemahaman dan konsentrasi hati. Inilah yang namanya belajar."
(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 33, cet. Ibnul Jauzi 2012).
Apakah suatu pengalaman bisa dijadikan Dasar?
Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Pengalaman itu (teranggap jika) di dalam hal pengobatan, bukan pada perkara ruqiyah.
Pengobatan memang didasari dari berbagai macam pengalaman, adapun di dalam hal meruqiyah, seorang muslim hendaknya hanya mencukupkan diri pada batas syariat saja. Adapun pengalaman-pengalaman adalah segala hal yang engkau temui pada awalnya, maka dari mana pikiran ini ada padamu?!
(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 37, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
A
Pengobatan memang didasari dari berbagai macam pengalaman, adapun di dalam hal meruqiyah, seorang muslim hendaknya hanya mencukupkan diri pada batas syariat saja. Adapun pengalaman-pengalaman adalah segala hal yang engkau temui pada awalnya, maka dari mana pikiran ini ada padamu?!
(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 37, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
A
Batilnya Puasa Tanpa Diiringi Shalat
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Shalat, apa itu shalat?. Shalat adalah suatu ibadah mulia yang di hari-hari ini kebanyakan manusia meremehkannya. Firman Allah ta'ala,
《فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا》
Artinya:
"Maka datanglah pengganti (yang jelek) sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat dan yang mengikuti syahwatnya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (Maryam: 59).
Sesungguhnya (sikap meremehkan shalat) telah membuat heran, dimana sebagian orang sangat bersemangat untuk berpuasa akan tetapi tidak ada semangat untuk menunaikan shalat, sampai ada yang memberitahuku bahwa sebagian orang ada yang berpuasa tapi tidak shalat.
Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah bahwa siapa yang berpuasa tapi tidak shalat, maka puasanya batil dan tidak diterima sebagai amal shalih, berdasar dalil-dalil dari Al Quran, As Sunnah, nukilan-nukilan para shahabat.
Hasil penelitian dari dalil-dalil yang shahih, menunjukkan bahwa siapa yang meninggalkan shalat maka dia menjadi kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama (murtad). Jika keadaannya sudah seperti ini, maka tidak bermanfaat lagi puasanya, shadaqahnya, hajinya dan seluruh amalnya, karena Allah berfirman,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Artinya:
"Kami perlihatkan segala amal yang mereka (orang kafir) telah kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagai) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23).
(Al Halal wal Haram, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 40)
Bolehkah Orang yang Tidak Baik dalam Membaca Al Quran itu Meruqiyah?
Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Orang tersebut boleh meruqiyah jika keadaannya memang dibutuhkan. Akan tetapi dirinya harus belajar, nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Seorang yang mahir dalam membaca Al Quran maka dia bersama safaratul kiramil bararah (malaikat yang mulia), sedangkan orang yang membaca Al Quran dengan terbata-bata dan kesusahan, maka dia mendapat dua pahala." (HR. Bukhari dan Muslim).
Yakni, dia mendapat pahala -walaupun terbata-bata dalam membacanya-, dan jika memang dia tidak mampu membaca Al Quran dengan baik, hendaknya bacalah dengan sebaik-baik bacaan yang dia mampu."
(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 36, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
Yakni, dia mendapat pahala -walaupun terbata-bata dalam membacanya-, dan jika memang dia tidak mampu membaca Al Quran dengan baik, hendaknya bacalah dengan sebaik-baik bacaan yang dia mampu."
(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 36, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)