Label
Faidah Ringan Seputar Akhlak
(300)
Faidah Ringan Seputar Ilmu
(195)
Faidah Ringan Seputar Akidah
(111)
Faidah Ringan Seputar Ibadah
(107)
Faidah Ringan Seputar Manhaj
(94)
Faidah Ringan Seputar Fikih Ibadah
(71)
Faidah Ringan Seputar Keluarga
(56)
Hatiku Berbisik
(52)
Faidah Ringan Seputar Kisah
(38)
Faidah Ringan Seputar Ramadhan
(26)
Faidah Ringan Seputar Rijal
(25)
kajian remaja
(15)
Faidah Ringan Seputar Al Qur'an
(12)
Faidah Taklim
(12)
kajian akhlak
(12)
Petikan Faidah Hadits
(11)
Faidah Ringan Riyadhush Shalihin
(8)
Faidah Ringan Seputar Sirah Nabi
(8)
kajian hati
(8)
Faidah Ringan Seputar Hati
(7)
wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami
(6)
info kajian
(5)
Doa
(4)
Info Buku dan Kitab
(4)
Faidah Ringan Hadits Arbain
(2)
Faidah Ringan Hadits Kitabul Jami
(2)
Terjemah Mukhtashar Sirah Rasul
(2)
BUKU TAMU
(1)
download kitab pdf
(1)
Minggu, 25 Maret 2018
Belajar Malam atau Shalat Malam?
Ibrahim ibn Hani pernah bertanya kepada Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu, "Manakah yang paling engkau sukai di antara aku duduk (menuntut ilmu) di malam hari dan aku mencatat, atau aku melakukan shalat malam?"
Imam Ahmad menjawab, "Jika engkau mencatat dan dengan itu engkau belajar tentang urusan agamamu maka itulah yang lebih aku sukai".
(Sanadnya Shahih, lihat Al Faqih wal Mutafaqqih-Al Khathib al Baghdadi, jilid 1, hal. 108, cet. Darul Anshar 2017).
Meminta Pertolongan Allah di dalam Thalabul Ilmi
Syaikh Abdullah Shalfiq hafizhahullahu berkata, "Seorang manusia itu lemah dan dia tidak mempunyai daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Jika (urusan dia) diserahkan kepada dirinya sendiri, niscaya dia akan binasa dan mati, namun jika (urusan dia) diserahkan kepada Allah dan memohon pertolongan atas thalabul ilminya, maka Allah akan menolongnya."
(Ar Rakaizul Asyr li Tahshilil Ilmi-Syaikh Abdullah ibn Salfiq azh Zhafiri hafizhahullahu, hal. 9, cet. Darush Shahabah 2014).
Keutamaan Ilmu yang Diajarkan atas Harta yang Disedekahkan
Al Hasan rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya aku belajar satu bab dari permasalahan ilmu, kemudian aku ajarkan kepada seorang muslim, maka itu lebih aku sukai dibandingkan dengan mendapatkan dunia seluruhnya yang aku salurkan di jalan Allah."
(Sanadnya shahih, lihat Shahih Al Faqih wal Mutafaqqih li Khathib al Baghdadi, hal. 13, cet. Darul Wathan 1997).
Tiga Perkara yang Harus Ditunaikan
Maimun ibn Mihran rahimahullahu berkata,
"ثَلاثٌ تُؤَدَّى إِلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ: الرَّحِمُ تُوصَلُ بَرَّةً كَانَتْ أَوْ فَاجِرَةً، وَالأَمَانَةُ تُؤَدَّى إِلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، وَالْعَهْدُ يُوَفَّى لِلْبَرِّ وَالْفَاجِرِ".
|البر والصلة للمروزي, رقم: 124 بَابُ صِلَةِ الرَّحِمِ وَقَطِيعَتِهَا وَمَا جَاءَ في ذالك|
Artinya:
"Tiga perkara yang harus ditunaikan kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya: (1) menyambung tali silaturahmi (kepada kerabat) baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya, (2) penunaian amanah baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya, (3) penepatan janji baik itu kepada orang yang baiknya atau kepada orang yang fajirnya."
(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwadzi, riwayat no 124)
Berkata Baiklah dan Beramal Baiklah
Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata,
"قُولُوا خَيْرًا تُعْرَفُوا بِهِ، وَاعْمَلُوا بِهِ تَكُونُوا مِنْ أَهْلِهِ".
Artinya:
"Berkata baiklah kalian hingga kalian dikenal dengan itu, dan beramal baiklah kalian sampai kalian menjadi ahlinya (orang yang selalu beramal baik)."
(Kitabuz Zuhud-Al Imam Abu Bakr asy Syaibani, hal. 25, cet. Darul Istiqamah 2013).
Meraih Pahala Besar dengan Berbakti kepada Orang Tua
Abu Sa'id Umarah ibn Mihran al Ma'lawi pernah bertanya kepada Al Hasan al Bashri rahimahullah, "Apa itu al bir (berbakti kepada orang tua)?"
Beliau menjawab, "Al bir adalah mencintai dan mencurahkan kebaikan (kepada orang tua)."
"Lalu apa itu al uquq (durhaka kepada orang tua)?" Tanyaku lagi.
Al Hasan menjawab, "Al Uquq adalah engkau melarang (sesuatu yang mereka suka) dan mendiamkan (orang tuamu)."
Kemudian Al Hasan berkata, "Memandang (dengan pandangan yang menyejukkan) kepada wajah ibumu saja adalah ibadah, maka bagaimana lagi jika berbakti (kepadanya)?"
(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwadzi, riwayat no 111)
Jangan Remehkan Kebaikan yang Sedikit
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Ketahuilah oleh kalian rahimakumullah bahwasanya barang siapa di antara salah seorang dari kalian menghadiri satu majelis dari majelis-majelis ilmu, lalu dia mengambil suatu faidah dari sebuah perkara agama, kemudian dia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudaranya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kebaikan yang banyak.
Dia pun mendapat pahala atas amalannya sendiri dan mendapat pahala atas amalan orang lain yang telah dia ajarkan, sampai hari kiamat.
Maka janganlah kalian mengira bahwa keutamaan ilmu itu tidaklah didapat kecuali bagi orang yang telah belajar banyak saja, karena sesungguhnya Allah taala akan mengganjar setiap orang yang beramal walaupun sedikit amalannya, dan tidak akan terzhalimi (walau) orang yang sedikit amalnya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Artinya:
"Sampaikanlah oleh kalian dariku walaupun satu ayat". (HR. Bukhari).
(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 17, cet. Maktabatush Shafa 2005).
Akidah yang Shahih adalah Pondasi Amalan
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Perkara yang pertama kali para rasul dakwahkan kepada umat-umatnya adalah pemurnian akidah, karena dengan inilah akan terbangun seluruh amalan dari perkara ibadah-ibadah dan muamalah. Tanpa akidah yang shahih maka tidaklah berfaidah amalan-amalan."
(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 27, cet. Darul Bashirah 2009).
Melatih dan Membiasakan Anak untuk Shalat
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk memerintahkan anak-anaknya shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun.
Dan memerintahkan mereka untuk shalat (di umur ini) bukanlah karena sudah wajibnya mereka untuk shalat, akan tetapi ini dilakukan agar mereka mendapatkan pengaruh yang baik dari adanya pelatihan dan pembiasaan shalat."
(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 14, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).
Pengaruh Positif dari Akikah
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Termasuk dari hak seorang anak atas orang tuanya adalah diakikahi, karena menyembelih dengan tujuan akikah adalah sebuah ibadah kepada Allah dan merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah azza wa jalla.
Di dalam penunaian akikah terkandung sebuah amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan terdapat pengaruh yang baik terhadap suatu lahiran karena pada ibadah terkandung suatu kebaikan.
Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing sedangkan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor kambing, dan ini adalah sunnah muakkadah (yang ditekankan) yang memiliki pengaruh kebaikan bagi anak yang dilahirkan."
(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 13, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).
Tahan dan Sabar
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Wajib atas seseorang jika tampak di hadapannya ada sebab-sebab perbuatan yang haram, untuk dia bertaqwa kepada Allah sehingga nanti dia tidak menjadikan dirinya menerjang perbuatan yang haram. Ketahuilah bahwa mudahnya akses dari sebab-sebab yang ada sejatinya merupakan ujian dan cobaan, maka tahanlah dan bersabarlah karena sesungguhnya akhir yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa."
(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)
Makna Difaqihkan terhadap Agamanya
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah akan faqihkan dirinya terhadap agamanya. Faqih dalam agama adalah mengetahui segala suatu yang telah Allah turunkan kepada RasulNya dari hukum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya dan segala yang berkenaan dengan apa yang menjadi ganjarannya (ketika diamalkan) dan apa yang menjadi hukumannya (ketika ditinggalkan).
Karena jika seorang hamba telah mengetahui hal tersebut, niscaya dia akan menjadi orang yang beribadah kepada Allah di atas bashirah (kejelasan)."
(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 16, cet. Maktabatush Shafa 2005).
Al Haq itu Dikenal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Al Haq itu dikenal oleh setiap orang karena al haq yang dibawa oleh para rasul utusan Allah tidaklah tersamarkan dengan perkara yang lainnya bagi orang yang mengetahuinya, sebagaimana tidak tersamarkan antara emas yang murni dengan bahan tambang yang lainnya bagi orang yang ahlinya."
(Majmul Fatawa jil. 27, hal. 315-316)
(Majmul Fatawa jil. 27, hal. 315-316)
Jumat, 29 Desember 2017
Minggu, 24 Desember 2017
Menuntut Ilmu Sampai Mati! Serius?
Ibnul Mubarak rahimahullahu pernah ditanya, "Sampai kapan engkau menulis hadits?", maka beliau menjawab, "Sampai aku tidak mendengar lagi sebuah kata yang bisa aku ambil manfaatnya."
Sedangkan Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu berkata lain ketika ditanya, "Sampai kapan engkau menulis dari perawi-perawi itu (untuk mendapat) sebuah hadits?", beliau menjawab, "Sampai mati!".
Dalam ucapannya yang lain, Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu berujar, "Aku menuntut ilmu sampai aku dimasukan ke dalam kubur."
(Syarafa Ashabal Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 68).
Subhanallah, jawaban yang menampar bagi seorang yang telah merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan mulai enggan duduk bersama orang alim untuk menimba ilmu. Seorang Ibnul Mubarak dan Imam Ahmad saja yang telah menjadi Imam di masanya, masih saja terus mencari ilmu, maka dimana posisi kita?
Walau tak sebanding -atau bahkan tidak bisa dibandingkan- dengan mereka, akan tetapi minimalnya ucapan Al Khathib al Baghdadi rahimahullahu ini bisa memberikan motivasi tersendiri untuk kita resapi, beliau berkata, "Sesungguhnya ketika engkau kelak bertemu Allah sebagai seorang thalibul ilmi itu lebih baik dibandingkan engkau bertemu Allah sebagai seorang yang meninggalkan dari thalibul ilmi karena telah merasa cukup dan berpaling dari ilmu."
(Al Faqih wal Mutafaqqih-Khathib ak Baghdadi, jil. 2, hal 85).
Tinggal pertanyaan itu saya tujukan kepada diri saya sendiri, "Sampai kapan kita menuntut ilmu?"
Sampai mati..? Serius..?
Allahu mustaan. Semoga Allah mudahkan, amin.
Jadikan Makan dan Minummu Suatu yang Luar Biasa
Makan dan minum adalah suatu kebutuhan yang mutlak, oleh karenanya banyak orang yang menganggap hal ini adalah suatu perkara yang biasa, akan tetapi islam sebagai agama yang mulia tidaklah menganggap demikian, perkara makan dan minum sejatinya bisa menjadi suatu hal yang luar biasa. Ya, luar biasa!
Apa itu?
Ternyata aktifitas makan dan minum kita bisa menjadi suatu ibadah di sisi Allah. Luar biasa bukan!
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ
Artinya:
“Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah, dimana nafkah tersebut engkau tujukan untuk mengharapkan wajah Allah kecuali akan mendapatkan pahala, sampai pun segala yang engkau berikan (suapkan) kepada mulut istrimu.” (HR. Bukhari).
Abu Bakr ash Shiddiq radhiallahu 'anhu berkata,
"عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ أَنَّهُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، حَتَّى فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِيهِ"
(الزهد لوكيع بن الجراح, رقم الحديث: 96)
Artinya:
"Aku takjub dengan seorang mukmin, sesungguhnya dia diganjar (pahala) di setiap sesuatunya (amalan), sampai pun pada suapan (makanan) yang dia angkat ke dalam mulutnya."
(Az Zuhd-Imam Waki ibnul Jarrah, riwayat no. 96).
Oleh karenanya jangan sampai kita lupa ketika mengerjakan rutinitas ini bisa terlewat begitu saja tanpa nilai pahala, akan tetapi iringilah makan dan minum kita dengan niat agar ibadah bisa lancar dan dengan tata cara atau adab-adab yang telah dituntunkan di dalam sunnah rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Wallahu alam. Semoga bermanfaat.
Jangan Takut Menegur Anak
Umar bin Abi Salamah pernah bercerita tentang pengalaman masa kecilnya sewaktu masih diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertutur “Sewaktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku ke sana dan ke sini di atas nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
,《يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ》.
فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ
Artinya:
"Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan menggunakan tangan kananmu dan santaplah makanan yang dekat di hadapanmu.”
Maka terus menerus demikian cara makanku setelah itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas merupakan salah satu pondasi utama seorang muslim dalam melakukan aktifitas makan berjamaah, akan tetapi yang menjadi perhatian kita di kesempatan ini adalah bagaimana suatu pengajaran nubuwah berupa teguran dan nasehat yang ditujukan kepada seorang anak ternyata akan membuahkan suatu pembentukkan karakter sejak dini.
Perhatikanlah hadits di atas, Umar ibn Abi Salamah dalam akhir hadits menyatakan bahwa dengan sebab teguran dan nasehat rasulullah, perilaku makan beliau yang pada awalnya kurang bagus, menjadi suatu kebiasan yang penuh barakah di sepanjang hidupnya.
Di dalam kisah lain, pernah suatu ketika cucu beliau shallallahu alaihi wasallam yang bernama Al Hasan ibnu Ali didapati sedang mengunyah sebuah kurma shadaqah, padahal syariat telah menetapkan bahwa Rasulullah dan keluarganya tidak diperbolehkan untuk memakan harta shadaqah, maka saat itu juga Nabi melarangnya seraya mengatakan,
《كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَاعَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ》
Artinya
"Kikh kikh, buanglah kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak memakan harta shadaqah."
(HR. Muslim)
Sekali lagi, hadits di atas mengajari kita untuk tak segan melarang anak terhadap suatu perbuatan yang tidak patut, akan tetapi tentunya lebih bijak bagi kita untuk menyebutkan pula kepada mereka tentang sebab pelarangan tersebut dari sisi syariat, sehingga mereka akan terbiasa untuk beragama dengan dalil-dalil yang ilmiyah.
Oleh karenanya janganlah pernah bosan untuk menegur dan mengajari seorang anak kepada adab-adab yang mulia, Abul Ahwash rahimahullah seorang tabi'in murid dari shahabat Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu anhu berkata bahwa gurunya (Abdullah ibn Mas'ud) pernah berpesan,
"تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ بِالْعَادَةِ"
(الزهد لوكيع بن الجراح, الأثر: ٣٢)
Artinya:
"Biasakanlah oleh kalian perkara kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu dengan (adanya) pembiasaan."
(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah, atsar no. 32)
Semoga bermanfaat.
Menaati Kedua Orang Tua di antara Perkara yang Sunnah dan yang Wajib
Hisyam ad Dustuwari pernah berkata bahwa Al Hasan al Bashri pernah ditanya tentang seorang lelaki yang disuruh oleh ibunya untuk berbuka dari puasa sunnahnya, maka beliau menjawab, "Hendaknya lelaki tersebut berbuka dan dia tidak ada kewajiban mengqadhanya, bahkan dia tetap mendapat pahala puasa sekaligus pahala berbakti kepada ibunya.
Tapi jika ibunya berkata, "Janganlah engkau keluar untuk shalat (berjamaah ke masjid)", maka tidak ada ketaatan kepada ibunya terhadap perkara yang wajib ini."
(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwazi, atsar no 61)
Mendahulukan Perintah Ibu
Abu Syihab Musa ibn Nafi rahimahullahu,
"دَخَلْتُ عَلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِمَكَّةَ وَقَدْ أَخَذَهُ صُدَاعٌ شَدِيدٌ ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِمَّنْ عِنْدَهُ : هَلْ لَكَ أَنْ نَأْتِيَكَ بِرَجُلٍ يَرْقِيكَ مِنْ هَذِهِ الشَّقِيقَةِ ؟ قَالَ : لَا حَاجَةَ لِي فِي الرُّقَى."
(حلية الأولياء: رقم الحديث: 5897)
"Aku menemui Said ibn Jubair di Makkah dan beliau terkena sakit kepala yang hebat. Maka seorang lelaki yang berada di sisinya berkata, "Apakah engkau berkenan jika kami datangkan seorang yang dapat meruqiyah sakit kepalamu?"
Beliau menjawab, "Aku tidak membutuhkan ruqiyah."
(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim Al Ashfahani, riwayat no. 5897).
Di dalam riwayat lain Said ibn Jubair rahimahullahu mengisahkan,
"لُدِغْتُ ، فَأَمَرَتْنِي أُمِّي أَنْ أَسْتَرْقِيَ ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعْصِيَهَا ، فَنَاوَلْتُ الرُّقَا بِيَدِي الَّتِي لَمْ تُلْدَغْ" .
(البر والصلة للمروزي, رقم الحديث: 57)
"Aku disengat (oleh binatang berbisa), ibuku menyuruhku untuk meruqiyahnya, aku pun enggan untuk mendurhakainya, maka aku meruqiyah dengan tanganku yang tidak disengat."
(Al Bir wash Shilah-Imam al Mawardi, riwayat no. 57)
Silahkan Anda qiyaskan pada kehidupan Anda!
Semoga Allah mudahkan kita tuk menjadi anak yang berbakti dan terjauh dari sikap durhaka terhadap kedua orang tua kita, amin.
Jangan Merasa Aman dari Dosa yang Pernah Dilakukan
Abdullah ibnu Mas'ud radhiallahu anhu berkata,
"إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيُشَدَّدُ عَلَيْهِ بِهَا عِنْدَ مَوْتِهِ لِيَكُونَ بِهَا ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ ، فَيُخَفَّفُ بِهَا عَلَيْهِ عِنْدَ مَوْتِهِ لِيَكُونَ بِهَا".
الزهد لوكيع بن الجراح, رقم الحديث: 89
"Sesungguhnya seorang mukmin akan mengamalkan sebuah kejelekkan, maka dia akan merasa sesak dengan dosa itu di saat maut (terasa) mendatanginya.
Dan sesungguhnya seorang yang fajir akan mengamalkan sebuah kebaikan, maka dia akan merasa ringan dengan kebaikan itu di saat maut (terasa) mendatanginya."
(Az Zuhud-Imam Waki ibnul Jarrah, pada atsar ke 89)
Langganan:
Postingan (Atom)
