Selasa, 15 Oktober 2019

Bukan Semangat Kaleng-Kaleng


Thalabul ilmi atau ngaji adalah ciri khasnya seorang yang mengaku salafy ahlussunnah wal jamaah, karena mereka tidak boleh ridha dengan kebodohan. Oleh karena itu, dia harus semangat untuk datang ke majelis taklim agar bisa mendengar ilmu dan tidak menjadi orang yang bodoh terhadap agamanya.

Lihatlah para ulama salaf! Mereka adalah teladan di dalam mencari ilmu, karena semangat mereka bukan semangat kaleng-kaleng. Ini buktinya:

*Sampai rela menginap agar dapat tempat di depan majelis*
Al Hafizh Ja'far ibn Durustuwiyah, salah seorang murid dari Al Imam Ali ibnul Madini al Bashri rahimahullahu pernah mengisahkan tentang majelis syaikhnya, Ali ibnul Madini. Beliau bercerita, "Dahulu jika ingin bermajelis di majelisnya Imam Ibnul Madini, kami akan mendatanginya di waktu ashar, padahal majelis akan dibuka pada esok harinya. Kami pun duduk menunggu sepanjang malam di tempat kami karena khawatir jika tidak melakukan hal ini niscaya kami besok tidak mendapat tempat untuk mendengar hadits-hadits dari syaikh."
(Al Jamiu li Akhlaqir Rawi-Khathib al Baghdadi 2/138 dan Al Adabusy Syariah-Ibnu Muflih 2/148).


*Mengulang pelajaran sampai 100 kali, 70 kali dan 50 kali*
Ibnul Jauzi rahimahullahu menyebutkan, "Dahulu Abu Ishaq asy Syairazi mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 100 kali, sedangkan Al Kiya (salah seorang ulama Asy Syafi'iyah) mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 70 kali. Al Hasan ibn Abi Bakr an Naisaburi al Faqih berkata kepada kami, Tidaklah tercapai hafalanku seperti ini (kuat) sampai diulang sebanyak 50 kali.
(Al Hatsu ala Hifzhil Ilmi-Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Jami fil Hatsi ala Hifzhil Ilmi, hal. 254, Maktabah Ibni Taimiyyah 1991).


*Lebih suka ilmu dibanding keluarga*
Sufyan ibn Uyainah berkata bahwa Mutharrif rahimahullahu pernah mengatakan, "Aku lebih menyukai duduk-duduk dengan kalian (para ahlul hadits) dibandingkan aku bersama keluargaku."
(Sanadnya shahih, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 132, cet. Darul Furqan 2008).


*Menuntut ilmu lebih disuka dibanding bersedekah dengan seluruh isi dunia*
Al Hasan rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya aku belajar satu bab dari permasalahan ilmu, kemudian aku ajarkan kepada seorang muslim, maka itu lebih aku sukai dibandingkan dengan mendapatkan dunia seluruhnya yang aku salurkan di jalan Allah."
(Sanadnya shahih, lihat Shahih Al Faqih wal Mutafaqqih li Khathib al Baghdadi, hal. 13, cet. Darul Wathan 1997).


*Belajar tak kenal batas waktu dan tempat*
Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullahu berkata, "Abu Bakr al Khiyath an Nahwi selalu belajar di setiap waktunya, sampaipun ketika di jalan. Teradang dia sampai terjungkal ke tebing atau menabrak ketika berkendaraan dengan hewannya.
(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam'ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 40, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)


*Umur bukan halangan tuk belajar*
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata tentang Imam Abu Bakr al Qaffal, Abdullah ibn Ahmad al Khurasani rahimahullahu (termasuk dari ulama asy syafi'iyyah), "Beliau memulai belajar ilmu padahal umurnya sudah 30 tahun. Beliau pun tinggalkan pekerjaannya untuk memfokuskan diri kepada ilmu (pekerjaannya ketika itu adalah tukang kunci).
(Siyar Alamun Nubala 17/407).

Semoga ini bisa bermanfaat buat saya selaku penulis dan kaum muslimin pada umumnya, amin.

Kebodohan adalah Pintu Masuk dari Kebidahan

Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Sebab pertama terjadinya kebidahan adalah al jahl (bodoh/ketidaktahuan). Yakni ketidaktahuannya terhadap sunnah-sunnah nabi.

Jika ada seorang yang bodoh menghendaki sebuah kebaikan yang selaras dengan sunnah, maka sesungguhnya dengan kebodohannya, setan akan datang dari arah ini (kebodohannya), dan dia akan diberikan kecintaan terhadap kebaikan yang dia ada-adakan (bidah) tersebut."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 19, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Nabi Ibrahim alaihissalam diberikan oleh Allah kebaikan di dunia. Apa itu?


Syaikh As Sadi rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya, "Rezeki yang luas, istri-istri yang baik dan keturunan yang shalih serta akhlak yang mulia."

(Lihat di Taisir Karimir Rahman pada surat An Nahl: 123)

Ambilah Agamamu dari Seorang Alim yang Bertaqwa


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sebagian salaf mengatakan: Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah oleh kalian dari siapakah engkau mengambil ilmu agama!" (Diriwayatkan dari Ibnu Sirrin rahimahullah sebagaimana ini terdapat di dalam Syarhu Ilal at Tirmidzi 1/252).

Maka bagaimana engkau bisa mengambil agamamu dari orang yang jahil (bodoh) atau orang yang sesat?!

Ini tidak akan baik!

Atau engkau mengambil agamamu dari kitab?!

Ini semua tidak akan baik, maka janganlah engkau mengambil agamamu kecuali dari seorang alim yang bertaqwa!"

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 18, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Menunggu yang Berbuah Ampunan dan Rahmat


Menunggu adalah pekerjaan yang banyak orang tidak suka, tapi dalam islam ada menunggu yang banyak orang suka, bahkan semakin lama menunggu, semakin disuka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تزال العبد المسلم فِيْ الصَّلاَة مَا دام فِيْ مصَلاَه َقعدا ولا يحبسه الا َانْتَظِرُ الصَّلاَة والْمَلاَئِكَةُ يقولون: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. مَا لَمْ يُحْدِثْ

Artinya:
"Senantiasa seorang hamba muslim (teranggap) di dalam shalat selama dia tetap duduk di tempat shalatnya, dan tidak ada yang menahannya (untuk tetap di situ) kecuali untuk menunggu shalat, dan para malaikat pun mendoakan, "Yaa Allah berikan ampunan untuknya, yaa Allah rahmatilah dia", selama dia tidak berhadats." (HR. Bukhari)

Menunggu shalat ya akhi. Iya, jangan merasa rugi jika kita datang ke masjid tapi shalat belum dimulai, banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di saat menunggu shalat, seperti: shalat sunnah, berdoa, membaca Al Quran dll, yakinlah semakin lama kita menunggu, semakin banyak pahala yang mungkin bisa diraih.

Tak hanya itu, dalam hadits di atas seorang yang menunggu shalat dapat doa ampunan dan rahmat juga dari para malaikat. Wallahu alam, semoga bermanfaat.

Jumat, 25 Januari 2019

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 3

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh
Abdullah al Bassam rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah taala adalah shalat wajib yang dikerjakan di awal waktunya dengan batasan-batasan yang telah ditentukan syariat, karena di dalam amalan ini terkandung sikap bersegeranya seorang hamba dalam menyambut panggilan Allah dan melaksanakan perintah-Nya serta sikap perhatiannya terhadap kewajiban yang agung ini.

Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) menjadi hak yang wajib ditunaikan, ini merupakan balasan terhadap segala apa yang telah mereka berikan dari: sebab adanya dirimu, mendidikmu, membesarkanmu, pemberian kasih sayang dan kelembutan dari mereka berdua, maka berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan bentuk balasan dari sebagian hak-hak mereka.

Adapun jihad fi Sabilillah, sesungguhnya amalan ini adalah menara dan tiangnya islam yang tidaklah tegak keduanya melainkan dengan jihad, dengan jihad juga akan tinggi kalimat Allah dan tersebar agama-Nya.

Jika jihad ditinggalkan -wal iyadzubillah- maka islam akan hancur, umatnya akan rusak, kewibawaan akan hilang dan kekuasaannya akan tegantikan dan kerajaan serta wilayahnya akan sirna.

Jihad adalah kewajiban yang ditekankan atas setiap muslim, maka barang siapa yang tidak berperang dan di dalam hatinya tidak terbetik untuk berperang maka dia mati di atas cabang kemunafikan."

(Disadur dan Diringkas dari Taisirul Allam-Syaikh Abdullah al Bassam, dinukil dari Syuruh Umdatil Ahkam jil. 1, hal. 210 dan 211, cet. Dar Ibnil Jauzi 2010)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 2

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh
Zaid al Madkhali rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Amalan yang pertama adalah shalat pada waktunya, yang dimaksud dengan shalat di dalam hadits ini adalah shalat yang benar, yaitu shalat yang memenuhi standar penunaian di dalam rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan kewajiban-kewajibannya sebagaimana tata cara shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, "Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Amalan yang kedua adalah Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Birrul walidain, sebagaimana yang telah lewat, adalah termasuk amalan wajib yang harus ditunaikan oleh seorang anak, baik laki-laki atau perempuan di hadapan kedua orang tuanya dengan segenap kemampuan yang ada, yaitu dengan cara mengerjakan perintah keduanya di dalam hal yang maruf (kebaikan) dan ketaatan. Juga menjauhi sikap uquq (durhaka) yang tercela terhadap keduanya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mewasiatkan tentang birrul walidain ini sebagai sebesar-besarnya urusan, yaitu ketika didahulukannya penunaikan birrul walidain dibandingkan dengan berjihad di medan perang. Telah shahih bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, "Aku ingin berperang bersamamu."
Maka Nabi menjawab, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?"
Lelaki itu menjawab, "Ya, keduanya masih hidup."
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Kepada keduanyalah engkau berjihad." (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan yang ketiga adalah jihad fisabilillah, diawal kali seorang berjihad adalah menjihadi jiwanya sendiri sampai bisa menegakkan perintah-perintah Allah dan menjauhi berbagai keharaman Allah serta bertafaqquh (mempelajari) agama Allah, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Setelah itu, kemudian jihad di medan tempur ketika memang seorang dai tersebut dikehendaki demikian, dan jihad harus dibawah bendera (komando) pemerintahan muslim (yang sah) dalam rangka (meniatkan diri) untuk menegakkan kalimat Allah serta untuk menghilangkan kezhaliman dan kelaliman dari kaum muslimin dan muslimat.


(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Zaid al Madkhali, jil. 1, hal. 13 dan 14, cet. Darul Mirats an Nabawi 2015)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 1

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad Said Raslan hafizhahullah memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Kita harus bersemangat untuk menjaga shalat-shalat kita di awal waktunya dan ini merupakan hak Allah yang paling wajib untuk kita tunaikan setelah mentauhidkannya.

Adapun hak makhluk yang paling utama adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, oleh karenanya berbuat baik kepada orang tua memiliki keutamaan yang besar di sisi syariat.

Untuk jihad fi sabilillah maknanya adalah berperang dengan orang-orang kafir yang bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah, bisa dengan harta, jiwa atau dengan setiap yang dimiliki oleh seorang muslim, dan amalan ini adalah amalan yang paling utama dari jenis pengorbanan.

Dari penyebutan urutan amalan hadits di atas dapat kita ambil faidah bahwa masing-masing amalan kebaikan itu memiliki keutamaan-keutamaan yang bertingkat-tingkat.

(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Muhammad Said Raslan, jil. 1, hal. 88 dan 89, cet. Darul Alamiyah 2016)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 3

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Abdurrahman As Sady rahimahullah berkata, "Jika dikatakan: Apakah yang maksud dengan al bir (berbakti) yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan?

Maka katakan: Allah dan Rasul-Nya telah membuat batasan dengan batasan yang maruf (dikenal) dan penafsiran yang bisa dipahami oleh setiap orang.

Allah telah memutlakkan perintah untuk berbuat ihsan kepada keduanya dan telah menyebutkan sebagian contoh-contoh yang bisa dikategorikan sebagai perbuatan ihsan, maka setiap perbuatan ihsan berupa ucapan dan perbuatan yang sesuai dengan keadaan kedua orang tua dan anak-anaknya di waktu dan di tempat yang tepat, sesungguhnya itu adalah al bir.

Di dalam hadits ini Rasulullah menyebutkan puncak dan tujuan akhir dari al bir adalah keridhaan kedua orang tua, maka perbuatan ihsan adalah perkara yang membawa kepada hal tersebut dan yang menjadi sebab datangnya keridhaan, karena keridhaan adalah buah dari perbuatan ihsan.

Maka seluruh muamalah yang telah berjalan sesuai adatnya, semua jalan dan wasilah (perantara) yang bisa menjadikan kedua orang tua ridha, semuanya bisa masuk kepada makna al bir, sebagaimana kedurhakaan itu adalah semua perkara yang bisa membuat marah keduanya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan.

Akan tetapi semua hal di atas harus dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan. Oleh karenanya kapanpun seorang anak ketika dihadapkan kepadanya sebuah perkara yang diridhai orang tua, tapi di sisi lain membuat Allah murka, maka seorang anak hendaknya lebih mendahulukan kecintaan Allah dibandingkan kecintaan kedua orang tuanya."

(Disadur dan diringkar dari Bahjatu Qulubil Abrar-Syaikh As Sady, hal. 266 dan 277, cet. Darul Furqan 2012)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua


keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 2

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Zaid al Madkhali rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Hadits ini menjelaskan bahwa sebab kemurkaan Rabb itu berdasar kemurkaan kedua orang tua atas anaknya yang durhaka baik dia seorang laki-laki atau perempuan, tidaklah itu terjadi kecuali karena memang keduanya memiliki hak atas anaknya.

Kedua orang tuanyalah yang menjadikan adanya seorang anak ketika seorang ayah menikahi ibunya. Merekalah yang menanggung dan yang menjaganya ketika dia masih di masa timang, lalu di masa kanak-kanak kemudian di masa mudanya dan di masa setelahnya, demikianlah. Mereka pula yang menjaganya walaupun dia telah dewasa, maka sesungguhnya mereka tidak pernah kurang dalam menjaga.

Oleh karena itu baktinya seorang anak kepada orang tuanya, membuat Allah pun ridha kepada anak tersebut, dan durhakanya seorang anak kepada orang tuanya, menjadikan Allah murka kepadanya, karena balasan di sisi Allah adalah tergantung dari amalannya.

Sudah dikenal di sisi manusia bahwa kedua orang tua yang berakal akan ridha terhadap anaknya walaupun dengan sedikit bakti yang dia lakukan, maka janganlah sampai seorang anak itu terjatuh kepada sebab-sebab kedurhakaan, bahkan seorang anak hendaknya terus-menerus untuk berusaha mendapat ridha Allah dan menjauhi segala perkara yang membuat murka Al Bari tabaraka wa taala wa jalla fii 'alahu.


(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Zaid al Madkhali, jil. 1, hal. 15, cet. Darul Mirats an Nabawi 2015)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua

keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 1


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Muhammad Said Raslan hafizhahullah memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Keridhaan di sini bermakna meninggalkan penyelisihan dan berusaha untuk menyepakati segala apa yang diinginkan orang tua.

Adapun kemurkaan Allah pada hadits ini adalah datang selama bukan dalam perkara maksiat, jika orang tua marah karena menyuruh kepada maksiat dan kita tidak menaatinya, maka hal ini tidak masuk kepada maksud hadits.

(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Muhammad Said Raslan, jil. 1, hal. 91, cet. Darul Alamiyah 2016)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 7

Kesungguhan Ulama dalam Penyusunan Hadits

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Terus menerus para ulama dalam kesungguhannya menyusun hadits-hadits, maka tampilah seorang yang bernama Ahmad ibn Hanbal rahimahullah dengan musnad-nya sebagai imam bagi manusia.

Ketika masa semangat-semangatnya gerakan untuk mengumpulkan hadits, kala itu Kufah adalah pusat utama dalam kegiatan tersebut, maka para ulama pun mulai meletakkan syarat-syarat dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi dalam hal penghukuman status sebuah hadits agar hadits tersebut bisa terhukumi menjadi shahih dan bisa diterima, yakni penbahasan pada sisi rantai sanadnya agar tetap bersambung dari nukilan orang-orang yang adil terpercaya hingga rantai penukilannya tersebut sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para ahlul hadits membahas sanad-sanad yang ada, agar terbedakan mana hadits yang kuat dan mana yang lemah, oleh karenanya mereka meletakkan ilmu al jarh wat ta'dil untuk dapat menilai kredibilitas orang-orang yang berada di dalam sanad hadits (perawi). Yang terkenal dan mumpuni dengan keilmuan ini dari kalangan cendikia yang biasa mengkritik para perawi di antaranya adalah Yahya ibn Ma'in, Yahya ibn Sa'ad al Qaththan, Abdurrahman ibm Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, Ali ibnul Madini, Al Bukhari, An Nasaai, Ibnu Hibban, Ad Daruquthni, Abu Zuhrah ar Razi dan Abu Hatim al Busti.

Tidaklah mereka tinggalkan seorang perawi yang meriwayatkan suatu hadits kecuali mereka akan dinukilkan derajat kredibitasannya. Mereka mengadakan pengajaran tentang keadaan perawi tersebut dengan kajian yang memadai dan menulis kitab-kitab yang berisikan para perawi yang lemah, perawi yang ditinggalkan dan perawi yang tidak dikenal, sehingga dengan itu mereka membagi hukum suatu hadits sesuai dengan sanadnya masing-masing kepada shahih, hasan dan dhaif. Mereka juga mengkaji keadaan-keadaan hadits yang ada, dan mendapati berbagai macam illat (cacat) pada masing-masingnya, maka mereka pun membuat pembagian hukum-hukum hadits yang berkenaan dengan itu seperti: hadits mursal, munqathi, mu'dhal, syadz dan munkar dari pendustaan.

Kesimpulannya adalah mereka tidaklah meninggalkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hadits kecuali telah lengkap pembahasannya dan pengkajiannya, maka dengan inilah akhirnya terjaga sunnah nabi di antara mereka dari hal-hal yang aneh dan dusta.

Ketika Imam Bukhari rahimahullah ingin menyusun kitab Shahih-nya, beliau menyaratkan dengan dua syarat:
Syarat yang pertama adalah bahwa masing-masing setiap perawi yang terhubung di dalam suatu sanad, dalam mengambil haditsnya mesti sama-sama hidup sezaman.
Syarat yang kedua adalah masing-masing perawi dalam rantai sanad dipastikan bertemu dan memang mengambil (meriwayatkan) hadits darinya.

Akan tetapi Imam Muslim rahimahullah hanya mencukupkan dengan syarat yang pertama saja, yakni masing-masing perawi cukup diketahui hidup sezaman saja, oleh karenanya derajat pentashihan hadits pada Imam Bukhari itu lebih tinggi (dibandingkan Imam Muslim), walaupun (kitab Shahih yang disusun oleh) Imam Muslim itu lebih unggul dari sisi pengurutannya dibandingkan Imam Bukhari."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 28 dan 29, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Dibuatkan Rumah di Surga, Mau?


Ingin dibuatkan rumah di dunia? Itu mah angan-angan biasa.. Nah, ini ya akhi, dibuatkan rumah di surga, baru namanya, angan-angan luar biasa..

Simak sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
Artinya:
"Barangsiapa yang merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at di dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga, (yakni):
Empat raka’at sebelum  zhuhur
Dua raka’at sesudah zhuhur
Dua raka’at sesudah maghrib
Dua raka’at sesudah ‘Isya
Dan dua raka’at sebelum shubuh."

(HR. Tirmidzi dari Aisyah radhiallahu 'anha dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani rahimahullahu)

Teorinya mudah, tapi masyaallah susah mengamalkannya ya. Oleh karenanya, mari kita sisipkan di antara lantunan doa-doa kita, untuk diberi kemudahan oleh Allah dalam mengamalkannya.

Menunggu Shalat adalah Termasuk Akhlak yang Baik kepada Allah


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menerangkan, "Bentuk akhlak yang baik kepada Allah yang terkait dalam perkara shalat adalah untuk melaksanakannya dan hatimu lapang dan tenang, dan menjadi penyejuk kedua matamu.

Engkau merasa senang (dengan shalatmu) ketika dirimu tertimpa kegundahan dan engkau menunggu-nunggu akan datangnya shalat dan waktunya.

Jika engkau telah shalat shubuh maka engkau rindu akan shalat zhuhur, jika engkau telah shalat zhuhur maka engkau rindu akan shalat ashar, jika engkau telah shalat maghrib maka engkau rindu akan shalat isya, jika engkau telah shalat isya maka engkau rindu akan shalat shubuh, dan demikian seterusnya.

Hendaknya hatimu senantiasa terpaut dengan shalat-shalat, dan tdak diragukan lagi bahwa ini adalah termasuk akhlak yang baik terhadap Allah taala.."

(Kitabul Ilmi [Husnul Khuluq wa Ahammiyatihi li Thalibil Ilmi]-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 221, cet. Maktabatul Islamiyyah 2005)

Dengan Ilmu, Orang akan Mulia


Allah taala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Mujadilah: 11)

Di dalam Shahih Muslim (817) dari Amir ibn Watsilah bahwa Nafi ibn Abdil Harits bertemu dengan Umar ibnul Khathab di Negeri Usfan, dan Umar dahulu pernah mengangkat dirinya di Makkah.

فَقَالَ: مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي؟
فَقَالَ : ابْنَ أَبْزَى
قَالَ: وَمَنْ ابْنُ أَبْزَى؟
قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا
قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى
قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ
قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَدْ قَالَ : " إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا ، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Artinya:
Umar bertanya kepada Nafi, "Siapakah yang engkau angkat menjadi wakil bagi ahlul wadi (Makkah)?"

Nafi menjawab, "Ibnu Abza"

Umar bertanya, "Siapakah Ibnu Abza?"

Nafi menjawab, "Dia seorang bekas budak dari kami."

Umar bertanya, "Apakah engkau telah mengangkat seorang budak sebagai wakil atas kalian?!"

Nafi menjelaskan, "Dia adalah seorang qari kitabullah (yang memahami Al Quran, pent) dan orang yang mengetahui ilmu tentang faraid (hukum waris)."

Maka Umar berkata, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Allah berfirman,

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar: 09)

(Dinukil dari Fadhlu Majalis Ahlil Ilmi wadz Dzikr-Syaikh Yasin al Adani, hal. 10-11, cet. Maktabah Al Imam Al Wadi'i Shan'a 2011).

Mengenal Risalah Masail Jahiliyyah


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Risalah ini adalah termasuk dari risalah-risalahnya milik Asy Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullahu yang diberi nama:

مسائل الجاهلية التي خالف فيها رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أهل الجاهلية 

"Permasalahan-permasalahan jahiliyah yang diselisihi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap ahlu jahiliyyah"

Risalah ini mencangkup sebanyak 180 permasalahan, beliau ringkas semua dari Al Kitab, As Sunnah dan ucapan-ucapan ahlul ilmi dengan maksud memberi peringatan bagi kaum muslimin agar mereka menjauh dari permasalahan-permasalahan yang disebut karena hal itu sangat berbahaya."

(Syarah Masail Jahiliyyah-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 9, cet. Darul Furqan 2014)

Belajar Tafsir Al Quran Agar Terhindar dari Celaan Allah


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, "Allah taala telah mencela ahlul kitab terdahulu karena berpalingnya mereka dari kitabullah, dan condongnya mereka kepada dunia dan mengumpulkan dunia, serta sibuknya mereka dari perkara-perkara yang bukan bagian dari ittiba-nya (ketaatan) kepada kitabullah.

Maka wajib bagi kita -wahai kaum muslimin- untuk berhenti dari segala yang bisa menghantarkan kepada celaan Allah, dengan melaksanaakan perintah-perintahnya, yakni mempelajari kitabullah (Al Quran) yang diturunkan kepada kita, lalu mengajarkannya, memahaminya dan memahamkannya (kepada orang lain)."

(Tafsirul Quranil Azhim-Imam Ibnu Katsir, jil 1, hal. 8, cet. Darul Aqidah 2008)

Mintalah Tambahan Ilmu!


Allah subhanahu wa taala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا  

Artinya:
"Dan katakanlah (wahai Muhammad) Wahai Rabb-ku tambahkanlah untukku ilmu." (QS. Thaha: 114)

Seorang hamba yang dirinya meminta penambahan dan memperbanyak ilmu syari maka ini adalah terpuji, bahkan suatu yang dituntut sebagaimana telah jelas dari zhahir (tampak) ayat.

Adapun seorang hamba yang dirinya meminta dunia maka ini tercela, bahkan ini terlarang. Dalil (dasar) akan hal ini adalah sebagaimana dalam riwayat hadits Al Bukhari 2436 dan Muslim 1049, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مال لابتغى ثالثا وَلَاْ يَمْلأُ جوف اِبْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya:
“Jika seandainya seorang anak Adam mempunyai dua lembah harta, niscaya dia akan menginginkan yang ketiga, dan tidak akan penuh (memuaskan) mulutnya bani Adam kecuali dengan tanah (mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”

Lafazh ini milik Al Bukhari dan terdapat di dalam Ash Shahih dari (periwayatan) selain Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

Dan ucapan hadits,
"Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat", menunjukkan bahwa ini adalah hirs (keinginan/obsesi) yang tercela."

(Fadhlu Majalis Ahlil Ilmi wadz Dzikr-Syaikh Yasin al Adani, hal. 9, cet. Maktabah Al Imam Al Wadi'i Shan'a 2011).

Tata Cara Mandi Junub yang Dijelaskan Imam Nawawi dan Mazhab Syafi'i


Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Para shahabat kami (yang bermazhab asy syafi'i) berkata, "Mandi janabah yang sempurna adalah: Seorang yang ingin mandi memulai mencuci kedua telapak tangannya terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum memasukan tangannya ke dalam bejana.

Kemudian dia mencuci kotoran yang terdapat dibagian atas farj-nya dan seluruh bagian farj-nya.

Kemudian dia berwudhu dengan sempurna sebagaimana dia berwudhu ketika ingin shalat.

Kemudian dia masukkan seluruh jari jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela kepala dan jenggotnya hingga membasahi pangkal tumbuh rambutnya.

Kemudian guyurkanlah air ke seluruh badannya sebanyak tiga kali.

Hendaknya dia memperhatikan lipatan-lipatan badannya seperti: ketiak, lubang telinga, lubang pusar, apa yang terdapat di antara kedua pinggul, jari jemari kaki, lipatan perut dan selainnya, maka hendaknya air mengenai seluruh tubuh yang disebutkan tadi.

Kemudian dia guyurkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali dan guyurkan air ke seluruh badannya sebanyak tiga kali juga.

Dia gosok-gosok badannya dengan tangannya tiap kali air mengalir ke tubuhnya.

Jika dia mandi di sebuah sungai atau di kolam yang besar, maka dia menyelam sebanyak tiga kali dan pastikan kulit badan dan rambutnya basah terkena aliran air baik dia berambut lebat atau tipis. Seluruh rambutnya harus tercuci hingga mencapai bagian pangkal tumbuhnya rambut.

Disukai untuk memulai mengguyur pada bagian kanannya dan bagian atas badannya terlebih dahulu dan menghadap kiblat.

Setelah mandi dia berdoa,

اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Hal yang disebutkan di atas dari awal hingga akhirnya, hendaknya dia niatkan dengan niat mandi janabah."

(Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi-Imam Nawawi, jil 3, hal. 190-191, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Mengusap Leher ketika Berwudhu


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "..Adapun leher, maka tidak ada sedikitpun (dalil yang) berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Adapun Asy Syaukani di dalam kitab Nailul Authar, setelah beliau menjelaskan bahwa haditsnya dhaif diakhir bahasan, dan berkata, "Tidak mengapa untuk mengamalkannya".

Ini tidak benar. Mengusap leher tidaklah benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 35, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)