Jumat, 30 Juli 2021

Fungsi Jilbab yang telah Berubah


Jilbab warna-warni, indah berseri. Menghias bunga elokkan diri. Duhai putri dibalik jilbab pelangi, tak sadarkah mata-mata lelaki menikmati?

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullahu berkata, 

والمقصود من الأمر بالجلبــاب ، إنما هو ستر زيـنة المرأة فلا يعقل حـينئذٍ أن يـكون الجلبـاب نفسه زينة

Maksud dari perintah berjilbab, hanyalah untuk menutup perhiasan wanita, maka tidak masuk akal tatkala jilbab itu sendiri malah menjadi perhiasan!"  

(Jilbabul Mar'atil Muslimah, Syaikh al Albani, hal. 120, cet. Maktabatul Ma'arif)

Tidak Mengenal Allah, Maka Semuanya Nothing!


Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, 

لو عرف العبد كل شيء ولم يعرِف ربّه، فكأنه لم يعرف شيئًا، ولو نالَ كل حظ من حظوظ الدُنيا ولذّاتها وشهواتها، ولم يظفر بمحبة الله، والشوق إليه والأُنس به، فكأنَّه لم يظفر بلذّةٍ، ولا نعيمٍ، ولا قُـرّة عين

Jika seorang hamba telah mengetahui segala sesuatu akan tetapi ia tidak mengetahui Rabb-Nya, maka seakan-akan ia tidak mengetahui apa-apa.

Jika seandainya ia mendapat semua bagian dari bagian-bagian dunia, kelezatan dan syahwat-syahwatnya, akan tetapi ia tidak memperoleh rasa cintanya kepada Allah, rindu kepadaNya, senang kepadaNya, maka seakan-akan ia tidak mendapatkan bagian kelezatan, kenikmatan dan penyejuk mata".

(Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qayyim, jil. 1, hal. 68)

Janganlah Berhutang kecuali Darurat


Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

"من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه، ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله"

Barang siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) dan ia menginginkan (berniat) untuk kelak melunasinya, maka Allah akan (memudahkan untuk) melunasinya, dan barang siapa yang menginginkan (berniat) untuk merugikannya, maka Allah akan rugikan dirinya". (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al Atsqalani rahimahullahu berkata, 

  وفي هذا الحديث إشعار بصعوبة أمرِ الدَّين ، وأنه لا ينبغي تحمله إلا من ضرورة 

Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang beratnya perkara hutang, bahwasanya tidak semestinya seorang berhutang kecuali memang dalam keadaan darurat. (Fathul Bari-Ibnu Hajar, jil. 4, hal. 547)

Bershadaqahlah Walau Sedikit


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 مَنِ اسْتَطاعَ مِنكُم أنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ، فَلْيَفْعَلْ

"Barang siapa yang mampu, salah seorang dari kalian untuk menghalangi diri dari api neraka walau dengan sepotong kurma, maka lakukanlah". 

Al Imam Nawawi rahimahullahu memberikan salah satu faidah dari hadits ini , 

الحثُ على الصدقةِ وأنه لا يمتنع منها لقلتها، وأن قليلها سبب للنجاة من النار

Motivasi untuk bershadaqah dan janganlah tercegah untuk bershadaqah karena jumlah yang sedikit, karena sesungguhnya shadaqah yang sedikit (bisa jadi) dapat menjadi sebab untuk selamat dari api neraka". 

(Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, jil. 7, hal. 100)

Perbedaan Hati yang Hidup dan Hati yang Mati


Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, 

القلب الحي إذا عرضت عليه القبائح نفر منها بطبعه وأبغضها ولم يلتفت إليها بخلاف القلب الميت فإنه لا يفرق بين الحسن والقبيح

Hati yang hidup adalah hati yang jika sodorkan kepadanya perkara-perkara yang jelek, niscaya akan lari berdasar tabiatnya, dan ia akan marah serta tidak akan menoleh kepada perkara-perkara jelek tersebut.

Berbeda dengan hati yang mati, sesungguhnya ia tidak akan bisa membedakan antara hal yang baik dengan hal yang jelek".

(Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qayyim, jil. 1,  hal. 20)

Bucin (Budak Cinta)

Wanita, tak ada yang tak menarik. Awal mungkin terasa biasa, bukan level-nya, tidak ada rasa, tidak minat dan lain-lain menjadi alasan tak tertarik, namun jika terus bertemu, tentulah lama-lama akan tumbuh rindu. Jika dilanjut dengan siraman komunikasi hangat, perlahan benih rindu itupun tumbuh menjadi rasa sayang yang kuat.

Pembaca, ini bukan khayalan drakor ar rumantisy, tapi ini adalah kenyataan. Betapa banyak cinlok terjadi, ikhtilath telah melahirkan banyak kisah-kisah nyata romantis berujung petaka, betapa penuh lembaran-lembaran sejarah bucin yang berujung tragis. 

Terlihat seperti indah berbunga, tapi sejatinya mereka telah tersiksa dengan love heart-nya masing-masing, hingga akhirnya ditutup dengan sad ending yang menyedihkan, semakin menambah hitamnya track record cerita kematian para pelaku mayat-mayat cinta di dunia nyata. 

Oleh karenanya hati-hatilah dengan fitnah wanita, karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

"Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku sebuah fitnah yang lebih membahayakan atas seorang lelaki dibandingkan seorang wanita" (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang boleh mengaku kuat fisiknya, bolehlah ia sesumbar yang paling sehat raganya, tapi jika setan telah menyodorkan wanita, lambat laun ia akan menjadi bucin yang lemah dan menjadi sakit hatinya, Allahul mustaan. 

Pantaslah pernyataan seorang tabiin mulia yang dinukil oleh Ibnul Jauzi rahimahullahu, bahwa Said ibnul Musayyab rahimahullahu berkata, 

‏مَا يَئِسَ الشيطَانُ مِنِ ابنِ آدَمَ قَط إلا أَتَاهُ مِنْ قِـبَـلِ النِّسَاءِ

"Syaithan tidaklah berputus asa dari anak adam sedikitpun kecuali ia datang (untuk menggoda manusia) dari sisi wanita". (Dzammul Hawa-Ibnul Jauzi, hal. 164)

Pembaca yang budiman, cinta di dalam Islam bukan diaplikasikan dengan pacaran atau menjalin hubungan di luar nikah. Cinta di dalam Islam mendapat kedudukan yang tinggi. Oleh karenanya Islam telah memposisikan rasa cinta ini dengan keteraturan yang indah tanpa ujung yang suram.

Kita semua adalah hamba atau budak, maka tempatkanlah puncak cinta kita hanya kepada Allah, karena mencintai Allah adalah puncak dari tambatan cinta dari seorang hamba/budak, maka sudah semestinya kita menempatkan rasa cinta ini seluruhnya di bawah cinta kepada Allah.

Jika ia lebih mengutamakan cinta kepada Allah, maka ia akan berusaha menjadi hamba/budak yang tidak berani untuk menduakan cintanya, ia pun akan berusaha meraih keridhaan Allah di dalam semua perbuatannya, karena keridhaan Dzat yang dicintainya adalah tujuan tertinggi dari cintanya. Wallahu alam.

Jangan Bermudah-mudah Berhutang


Imam Nawawi rahimahullahu berkata, bahwa para shahabat kami (para ulama bermazhab Syafi'i) menyatakan,

وكان النبيُّ ﷺ لا يصلي على من مات وعليه دَيْنٌ لم يُخَلِّفْ به وفاء؛ لئلا يتساهل الناس في الاستدانة ويهملوا الوفاء فزجرهم عن ذلك بترك الصلاة عليهم. (شرح صحيح مُسْلم ٦ / ١٥٥)

Adalah Nabi shalallahu alaihi wasallam dahulu tidak menyalati orang yang meninggal dalam keadaan ia masih punya hutang dan belum melunasinya, agar manusia tidak bermudah-mudahan di dalam masalah hutang piutang, lalu mereka melalaikan di dalam melunasinya. Maka beliau memperingatkan mereka dari perbuatan itu dengan cara tidak menyalati mereka". 

(Syarah Shahih Muslim-Imam Nawawi, jil. 6, hal. 155)

Janganlah Orang Tua Mencela kecuali Dirinya Sendiri


 Abu Abdirrahman Thawus bin Kaisan al Yamani al Hamadani rahimahullah, salah seorang jajaran tabi'in yang berada di ketinggian ilmu qira'ah dan tafsir dari negeri Yaman. Beliau terlahir dari seorang ayah suku Himyar dan seorang ibu yang berasal dari negeri Persia. Ibnul Jauzi di dalam kitabnya Al Alqab menyatakan bahwa nama Thawus yang sebenarnya adalah Dzakwan, sedangkan Thawus adalah julukannya, dan thawus bermakna indah. Beliau mendapat julukan tersebut karena suaranya yang indah ketika membaca Al Quran, sehingga beliau terkenal dengan julukannya ketimbang namanya sendiri.

Al Imam asy Syuyuthi rahimahullahu membawakan salah satu kisah beliau di dalam mendidik putranya,

وقال معمر: كان طاووس جالساً يوماً وعنده ابنه، فجاء رجل من المعتزلة، فتكلم في شيء، فأدخل طاووس إصبعيه في أذنيه، وقال: يا بني أدخل إصبعك في أذنيك حتى لا تسمع من قوله شيئاً؛ فإن هذا القلب ضعيف. ثم قال: أي بني أشدد، فما زال يقول أشدد حتى قام الرجل.

Imam Ma'mar rahimahullahu bercerita, "Pada suatu hari Thawus pernah duduk-duduk bersama anaknya. Tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan sekte Mu'tazilah (kelompok yang mengagungkan akal dibanding syariat) dan lelaki tersebut itu kemudian berbicara tentang sesuatu. Thawus pun memasukkan kedua jari telunjuknya ke kedua telinganya seraya berkata, "Wahai anakku masukanlah kedua jari telunjukmu di ke kedua telingamu sampai engkau tidak bisa mendengar ucapan orang ini sedikitpun, karena sesungguhnya hati ini lemah!. Kemudian Thawus berkata, "Ayo anakku, tekan terus..!", Thawus terus mengatakan itu kepada putranya hingga lelaki itu pergi".

Ikhwati fillah, ini adalah salah satu contoh bentuk pendidikan yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita, yakni jangan memberikan kesempatan orang-orang yang berpemahaman sesat memasukan perkataannya ke telinga mereka sehingga nanti akan mempengaruhi akidah dan akhlaknya. 

Di zaman ini, sebagian orang tua telah menganggap remeh perkara ini, mereka sekolahkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga hizbi bahkan lebih dari itu, mereka bebaskan anak-anaknya berguru kepada siapa saja dan menelan semua keyakinan yang ada melalui ponsel pintar yang diberikan orang tuanya. Jika sudah seperti ini, janganlah orang tua mencela kecuali dirinya sendiri. Berbuatlah sebelum semua terlambat!.

(Kisah Imam Thawus dinukil dari Al Amru bi Ittiba-Imam Asy Suyuthi, hal. 15, cet. Darul Istiqamah 2005)

Sabar Adalah Pada Kejadian Pertama


Penting untuk kita ketahui bahwa kesabaran akan bernilai ketika ditempatkan pada awal kejadian. Kesabaran yang hakiki bukan datang ketika selesai menumpahkan sumpah serapah dan keluh kesah, tapi kesabaran teranggap ketika pas di awal kejadian.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Sesungguhnya sabar itu (teranggap) pada awal kejadian". (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas ibn Malik radhiallahu ‘anhu).

Oleh karenanya, janganlah kita menjadi orang yang cengeng dengan bergampang-gampang mengeluh kepada makhluk, akan tetapi keluhkanlah segala kegundahan dan kegalauanmu kepada Allah. Berdo’alah kepada Allah dan yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu.  

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ia berkata, "<Hasbunalloh wa ni’mal wakiil> (artinya: Cukuplah Allah bagiku sebagai sebaik-baik pelindung), adalah kalimat yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam api. 

Dan juga dikatakan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir mengatakan: Sesungguhnya manusia (kaum musyrikin Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang engkau, karena itu takutlah kau kepada mereka.(maka Ibnu Abbas membaca ayat Ali Imran: 173 yang artinya) “Maka perkataan itu menambah keimanan orang-orang beriman dan mereka menjawab: Cukuplah Allah bagiku sebaik-baik pelindung” (HR. Bukhari)".

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua kepada jalan yang diridhai-Nya.

Aamiin

Jangan Berat untuk Menyebarkan Salam

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

" إن السلام اسم من أسماء الله تعالى

وضعه في الأرض فأفشوا السلام بينكم "

"Sesungguhnya As Salaam adalah nama dari nama-nama Allah taala yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian".

Imam Al Albani rahimahullahu berkata,

إفشاء السلام المأمور به دائرته واسعة جداً ضيقها بعض الناس جهلا بالسُنة أو تهاملاً في العمل بها فمن ذلك السلام على المصلي

[ السلسلة الصحيحة صـ١٨٤ ]

"Menyebarkan salam adalah perkara yang diperintahkan dan cangkupannya luas sekali. Terasa sempit bagi sebagian manusia yang jahil terhadap sunnah atau yang meremehkan di dalam mengamalkannya, dan di antaranya itu adalah salam kepada orang yang shalat". (Silsilah Ash Shahihah-Syaikh Al Albani 184).

Efek Negatif Akibat Bergaul dengan Orang yang Tidak Baik

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

ما رأيت أكثر أذى للمؤمن من مخالطة من لا يصلح، فإنَّ الطبع يسرق؛ فإن لم يتشبه بهم ولم يسرق منهم فتر عن عمله

Tidaklah aku melihat kerugian yang paling banyak bagi seorang mukmin dibandingkan ketika dari bergaulnya dia dengan orang-orang yang tidak baik, karena sesungguhnya tabiat itu akan mencuri*, jika ia tidak menyerupai mereka (orang yang tidak baik) maka tidak akan tercuri (tabiat seorang mukmin itu) dari mereka, melainkan melemahkannya dari beramal".

(Shayyidul Khathir-Ibnul Jauzi, hal. 363)

*Maksudnya: pergaulan akan menjadikan tabiat seorang yang satu dengan yang lainnya akan saling mengikuti tanpa sadar, wallahu alam (penj)

Iman dan Amal Shalih, Sebab Kebahagiaan Hidup


Syaikh Abdurrahman As Sady rahimahullahu berkata,

وأعظم الأسباب لذلك وأصلها وأسها هو الإيمان والعمل الصالح، قال تعالى : { من عمل صالحاً من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون } [ النحل : 97 ] 

فأخبر تعالى ووعد من جمع بين الإيمان والعمل الصالح، بالحياة الطيبة في هذه الدار، وبالجزاء الحسن في هذه الدار وفي دار القرار

Sebab-sebab yang paling terbesar untuk itu (meraih kebahagiaan hidup), pokok dan dasarnya adalah iman dan amalan shalih, Allah taala berfirman, "Barang siapa yang beramal shalih baik dari kalangan laki-laki ataupun wanita dalam keadaan beriman, maka kami akan anugerahkan ia kehidupan yang baik dan kelak pasti kami akan ganjar mereka dengan balasan yang lebih baik terhadao apa yang telah mereka amalkan." (QS. An Nahl: 97).

Allah mengabarkan dan menjanjikan bagi siapa saja yang mengumpulkan antara keimanan dan amalan shalih adalah dengan memberikan kehidupan yang baik di negeri ini (dunia) dan ganjaran yang baik pula di negeri ini (dunia) dan negeri yang kekal (akhirat)". 

(Al Wasaailul Mufidah-Syaikh As Sady, hal. 4-5, cet. Darul Furqan 2011)

Berilah Walau Hanya Wajah yang Ceria


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

لا تحقـــرَنَّ مــن المعــروفِ شيئًا ، ولـو أن تلقَـى أخـاك بوجــهٍ طلِــقٍ

"Janganlah engkau meremehkan dari amalan kebaikan sedikitpun, walaupun sekedar menemui saudaramu dengan wajah yang beseri". (HR. Muslim)

Ibrahim bin Adham berkata, 

فمن لم يواسِ النــاس بماله وطعامه وشرابه فلْيواسهم ببسط الوجه والخلـق الحسن

Maka barang siapa yang tidak mampu memberikan kelapangan kepada manusia dengan hartanya, makanannya, minumannya, maka hendaklah ia melapangkan mereka dengan menampakkan wajah ceria dan akhlak yang baik". (Hilyatul Aulia, Abu Nuaim al Asbahani, jil. 7, 389).

Amalan Sunnah yang Dilakukan jika Selesai Menguburkan Jenazah


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,

"فيسن للإنسان إذا فرغ الناس من دفن الميت أن يقف عنده ويقول:

(اللهم اغفر له) ثلاث مرات (اللهم ثبته) ثلاث مرات

•لأن النبي ﷺ كان غالب أحيانه إذا دعا دعا ثلاثا

ثم ينصرف ولا يجلس بعد ذلك لا للذكر ولا للقراءة ولا للاستغفار هكذا جاءت به السنة".

"Yang disunnahkan bagi seorang insan adalah, jika manusia telah selesai dari proses penyelenggerakan jenazah (dikubur), untuk berdiri di sisi mayyit (kuburannya) dan berucap kepadanya:

"Allahummagh firlahu" (yaa Allah ampunilah dia) tiga kali

"Alllahumma tsabbithu" (yaa Allah kokohkanlah dia)*

Karena Nabi shalallahu alaihi wasallam di dalam hidupnya seringkali jika berdoa, maka berdoa dengan berjumlah tiga kali, kemudian pulang tanpa ada duduk-duduk setelahnya untuk berdzikir, untuk membaca Al Quran atau untuk beristighfar. Demikianlah (sesuai) dengan apa yang datang dari sunnah"

(Syarah Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 4, hal. 562)

*Jika jenazahnya laki-laki maka bacaannya:

"Alllahummagh firlahu" dan "Alllahumma tsabbit-hu",.

Jika jenazahnya wanita, maka bacaannya:

"Alllahummagh firlaha" dan "Alllahumma tsabbit-ha"

Orang Berilmu Akan Terus Diambil Manfaatnya Walau Telah Tiada


Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,

إذا مات الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang shalih yang mendoakan untuk orang tuanya” (HR. Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, 

الإمام ‎أحمد مثلا منذ كم ميت؟

وشيخ الإسلام ‎ابن تيمية كم له ميت؟

ومازال الناس ينتفعون بعلمهما !!

فاحرص أخي المسلم على العلم فإنه لا يعدله شيء.

Contohnya Al Imam Ahmad, sejak kapan beliau wafat? Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, kapankah beliau wafat?

Akan tetapi manusia terus menerus mengambil manfaat ilmu dari mereka, maka semangatlah wahai saudaraku semuslim untuk di atas ilmu, karena ilmu tidaklah sebanding dengan sesuatu apapaun". 

(Syarah Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 4, hal. 568)

Kamis, 29 Juli 2021

Bukan Seorang Alim, Bukan Alasan untuk Tidak Menjelaskan Sunnah


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, 

" كل من علم سنة، ينبغي أن يبيّنها في كل مناسبة، ولا تقل أنا لست بعالم، نعم لست بعالم، لكن عندك علم "

"Setiap yang mengetahui ilmu tentang perkara sunnah, sudah seyogyanya untuk menjelaskannya (kepada orang lain) di setiap kesempatan, jangan engkau katakan "Saya bukanlah seorang alim". Benar, engkau bukanlah seorang alim akan tetapi engkau memiliki ilmu"

(Syarah Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 4, hal. 215)

Cepat-cepat Sebelum Terlambat


Sufyan Ats Tsauri rahimahullahu berkata, 

إذا هممت بأمر من أمور الآخرة فشمر إليها وأسرع من قبل أن يحول بينها وبينك الشيطان


"Jika engkau telah bertekad dengan suatu urusan dari perkara-perkara akhirat, maka bersegeralah untuk mengerjakannya, dan bergegaslah sebelum setan memalingkan antara dirimu dan perkara akhirat tersebut".

(Hilyatul Aulia, Abu Nuaim al Ashfahani,  jil. 7, hal. 83)

Mencintai Orang Miskin? Kenapa Tidak!


Al Imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullahu berkata, 

حب المساكين أصل الحب في الله تعالى، لأن المساكين ليس عندهم من الدنيا ما يوجب محبتهم لأجله، فلا يحبون إلا لله عز وجل

Mencintai orang-orang miskin adalah sebuah dasar kecintaan di jalan Allah taala, karena tidaklah mereka (orang-orang miskin) memiliki sesuatu dari dunia yang mengharuskan seseorang mempunyai alasan untuk mencintainya, maka tidaklah mencintai mereka (orang-orang miskin) melainkan karena Allah azza wa jalla."

(Majmu Rasaail Ibnu Rajab, jil. 4, hal. 45)

PKI Belum Mati


Menjelang milenium, masih teringat di benak ini ketika anak-anak muda kala itu sedang menggandrungi seorang tokoh dari Kuba, Che Guevara.

Gambar Che dengan khas baretnya memenuhi distro-distro kaos. Poster, stiker sampai emblem-emblem mini pun tak mau ketinggalan, gambar Che tengah jadi tren tersendiri.

Sosok Che Guevara lebih dikenal oleh gen muda nusantara ketika itu sebagai seorang pejuang gerilya revolusi Kuba, padahal paham sosialis marxist sangat kental pada prinsip-prinsip hidupnya. Akan tetapi semat seorang 'anti kapitalis' sepertinya sudah kepalang lebih tenar dibandingkan seorang 'komunis marxist'-nya.

Buku-buku dan artikel yang menggambarkan sepak terjang perjuangan Che pun ditebar. Aksi heroik sang pejuang anti kapitalis digambarkan begitu hebat memukau. Keteguhan perjuangan dalam melawan kapitalis membela rakyat kecil pun ditonjolkan. Walhasil, semangat juangnya pun menjadi teladan. Che sang pejuang garis kiri kini mendapat tempat di hati. 

Sejak orde baru tumbang, sejarah PKI coba ditiadakan. Barisan elit kiri kian dirapihkan, perlahan tapi menghasilkan. Kaum muda pun kian berganti, ulasan PKI lama tak berbunyi, terkesan mati tapi suri, tetap gerak tapi senyap, hingga sejarah coba dibelokkan,  pembantai berganti yang dibantai.

Miris kita mendengarnya kala gen muda termakan propaganda, mulai tak tahu siapa PKI hingga mengapa PKI dizhalimi. TNI disalahkan padahal mereka adalah pahlawan. 

Mari bersama peduli tuk selamatkan negeri, komunis itu PKI, PKI itu komunis. Jika dibiarkan, tak mustahil 'Revolusi Merah' akan mengulang episodenya kembali. Allahu musta'an.

Saat Indonesia masih hijau menghirup kebebasan dan merajut kebersamaan, Madiun 1948 jadi ajang pembantaian. Tak cukup sekali, 1965 jadi saksi kedua kalinya, jenderal-jenderal penopang kekuatan negeri, diculik dan disikat habis dengan keji. Pengkhianat!  

Apakah kita mau negeri ini dikhianati untuk ketiga kalinya?Tentu tidak! Waspadai kebangkitan PKI di negeri ini! Jangan biarkan PKI mencuci otak generasi kita menghilangkan sejarah.

Mari kita bersama-sama kenalkan siapa itu PKI agar generasi kita tidak mudah dikibuli oleh kaum komunis najis. Selamatkan Indonesia dari paham komunis.

Wallahu alam.

Salah Satu Timbangan dalam Memilih Teman


Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata, 

إذا كان لك صديق يعينك على الطاعة فشد يديك به، فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهل.

Jika engkau mempunyai teman yang dapat membantumu di atas ketaatan, maka eratkanlah tanganmu kepadanya (jadikan dia temanmu), karena sesungguhnya mengambil seorang untuk menjadi teman adalah suatu yang sulit, dan berpisah dengan teman adalah suatu yang mudah".

(Hilyatul Aulia-Abu Nuaim al Asfahani, jil. 4, hal. 101)