Sabtu, 30 Oktober 2021

Sedekah akan Mengembangkan Harta

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


"إنَّ العبدَ إذا تصدَّق من طَيِّبٍ تقبلها الله منه، وأخذها بيمينه فربّاها، كما يربِّي أحدكم مُهره أو فصيلَه، وإنَّ الرجلَ ليتصدقُ باللقمةِ، فتربو فى يد الله -أو قال: في كفِّ الله- حتى تكون مثل الجبل، فتصدقوا".

رواه ابن خزيمة


Sesungguhnya seorang hamba jika ia bersedekah dari harta yang baik maka Allah akan menerima sedekah tersebut darinya dan mengambil sedekah itu dengan tangan kananNya kemudian akan dikembangkan sebagaimana salah seorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau membesarkan anak untanya.


Dan sesungguhnya ada seorang lelaki yang ia bersedekah dengan satu suapan, maka ia berkembang di tangan Allah -atau berkata- di telapak tangan Allah, hingga menjadi seperi gunung, maka bersedekahlah kalian"!


(HR. Ibnu Khuzaimah dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu. Hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam Shahih at Targhib wat Tarhib)


Jangan Takut, Semua atas Kehendak Allah!

 

Asy Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullahu berkata,


‏ما في الأرض من الأشرار من بني آدم ومن الشياطين ومن الجنّ ومن الإنس ومن الحيّات والسباع ومن سائر الأشياء الضّارة، كلها بيد اللّٰه سبحانه وتعالىٰ؛ إن شاء سلّطها عليك وإن شاء أمسكها عنك، فلا تخف من غير اللّٰه عزَّ وجل 

•{ إعانة المستفيد بشرح كتاب التّوحيد للعلّامة صالح الفوزان (1/ 183) }•


Segala yang di bumi (terjadi) perkara-perkara jelek dari bani adam, setan-setan, jin, manusia, tetumbuhan, binatang buas dan seluruh perkara yang membahayakan, semuanya berada di tangan Allah subahanahu wa ta'ala. Jika Allah menghendaki maka perkara jelek tersebut menimpamu, jika Allah menghendaki maka perkara jelek tersebut akan tertahan darimu, oleh karenanya janganlah engkau takut dari selain Allah azza wa jalla".


(I'anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Fauzan, 1/183)


Efek Kebaikan dan Kejelekkan

 

Shahabat Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiallahuanhuma berkata,


إنَّ للحسنة نورًا في القلب, وزينًا في الوجه, وقوَّةً في البدن, وسعةً في الرِّزق, ومحبَّةً في قلوب الخلق

وإنَّ للسَّيِّئة ظلمةً في القلب, وشينًا في الوجه، ووهنًا في البدن, ونقصًا في الرِّزق, وبغضةً في قلوب الخلق

(روضة المحبِّين 441)


Sesungguhnya pada kebaikan terdapat cahaya pada kalbu, keindahan pada wajah, kekuatan pada badan, keluasan pada rezeki dan kecintaan pada hati-hati manusia. 


Dan sesungguhnya pada kejelekkan terdapat kegelapan pada kalbu, keburukan pada wajah, kelemahan pada badan, kesempitan pada rezeki dan kebencian pada hati-hati manusia. 


(Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim, hal. 441)


Jangan Hasad kepada Orang yang Lebih Darimu...

 

Syaikh Shalih alu Syaikh hafizhahullahu berkata,


لا تحسد من هو أحفظ منك ، أو أعلم منك ، أو أنفع للعباد منك ، بل افرح أن يقوم قائم بحق الله عز وجل وحق العباد (الطريق إلى النبوغ العلمي ص: ١١٥)


Janganlah engkau hasad kepada orang yang lebih hafal darimu, atau yang lebih berilmu darimu, atau yang lebih bermanfaat kepada orang-orang dibandingkan dirimu. Bahkan semestinya itu menggembirakan dengan adanya orang yang menegakkan hak Allah azza wa jalla dan hak para hamba". 


(Ath Thariq ilan Nubugil Ilmi, hal. 115).


Salah Satu Sebab Menjadikan Rumahku Surgaku


Syaikh Arafat bin Hasan al Muhammadi hafizhahullahu berkata,


Permisalan rumah yang terbacakan di dalamnya Al Qur'an


Abu Muhammad Ad Darimi (200H) berkata, 


- ا اذُ انِئٍ، ا ادٍ، ا ا انٍ الْحَنَفِيُّ، ا انَ لُ: 

(Beliau membawakan sanadnya sampai pada shahabat Abu Hurairah radhiyallahu)



«إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ لَى لِهِ الْمَلَائِكَةُ الشَّيَاطِينُ، ْقُرْآنُ، ال 


الْبَيْتَ لَيَضِيقُ لَى لِهِ الْمَلَائِكَةُ، الشَّيَاطِينُ، لُّ لَا الْقُرْآنُ».

الدارميّ (٤/رقم: ) 

بسند صحيح


"Sesungguhnya sebuah rumah akan menjadi lapang bagi penghuninya, para malaikat akan menghadirinya dan setan-setan akan menjauhinya serta akan banyak kebaikannya tatkala di dalamnya terbacakan Al Qur'an.


Dan sesungguhnya sebuah rumah akan menjadi sempit bagi penghuninya, para malaikat akan menjauhinya dan setan-setan akan menghadirinya serta akan sedikit kebaikannya tatkala di dalamnya tidak terbacakan Al Qur'an.


(Sunan Ad Darimi 3/3352 dengan sanad yang shahih)



▫️ وأخرجه ابن المُبارك (ت: ١٨١ هـ) في الزهد (٧٩٠) وابن أبي شيبة (ت: ٢٣٥ هـ) في المصنف (٣٠٠٢٧) كلاهما من طريق سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: 


(Asy Syaikh Arafat hafizhahullahu membawakan sanad lainnya yang sampai kepada shahabat Abu Hurairah radhiyallahu juga)


«الْبَيْتُ يُتْلَى فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ كَثُرَ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ، 


وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي لَمْ يُتْلَ فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ ضَاقَ بِأَهْلِهِ، وَقَلَّ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الشَّيَاطِينُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ».

[مرسل يشهد له الطريق الذي قبله]


Sebuah rumah yang dibacakan di dalamnya kitabullah (Al Qur'an) akan banyak kebaikannya dan para malaikat akan menghadirinya serta setan-setan akan keluar. 


Dan sesungguhnya sebuah rumah yang tidak dibacakan di dalamnya kitabullah (Al Qur'an) akan terasa sempit bagi penghuninya, sedikit kebaikannya dan setan-setan akan menghadirinya serta para malaikat akan keluar dari rumah tersebut".


(Mursal akan tetapi terdapat jalan penguat pada sanad sebelumnya).


Sumber

https://t.me/Arafatbinhassan


Jangan Sia-siakan Akhir Malammu

 

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata,


لا ينبغي للإنسان أن يترك قيام شيء من الليل  - ولو قليلا - فإن الله تعالى - وهو الغني الكريم - ينزل في جوف الليل ، فيستعرض حوائج عباده بنفسه  ، فيقول : (من يدعوني فأستجيب له ؟ من يسألني فأعطيه ؟ من يستغفرني فأغفر له) فينبغي للإنسان ألا يُفوت هذا الموسم العظيم من مواسم الآخرة ، وفي الليل ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله تعالى حاجة إلا أعطاه إياها. [شرح عمدة الأحكام ص ٣٦٠ ]


Tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk meninggalkan shalat malam walau sedikit, karena Allah ta'ala -dan Dia adalah Dzat Yang Maha Kaya- turun di penghujung malam dan menawarkan hajat-hajat hambaNya untuk diriNya dengan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepadaKu maka akan Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu maka Aku akan beri dan barang siapa yang memohon ampun padaKu maka akan Aku ampuni".


Maka tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk tidak melewati waktu yang agung ini dari waktu-waktu di akhir malam, dan di malam tersebut terdapat waktu yang tidaklah bertepatan dengan seorang hamba muslim yang meminta hajat kepada Allah ta'ala melainkan Allah akan berikan permintaannya".


(Syarhu Umdatil Ahkam, Syaikh As Sa'dy, hal. 360)


Menguap ketika Membaca Al Qur'an

 

Imam Mujahid rahimahullahu berkata,


إذا تثاءبت وأنت تقرأ القرآن ، فأمسك عن القراءة تعظيمًا حتى يذهب تثاؤبك.

[الجامع لأحكام القرآن للقرطبي١/ ٤٩]


"Engkau menguap dan dirimu sedang membaca Al Qur'an maka hendaklah kau tahan (sejenak) untuk membaca, sebagai bentuk pengagungan (terhadap Al Qur'an) sampai menguapmu selesai". 


(Al Jami' li Ahkamil Qur'an, Imam Al Qurthubi 1/49)


Al Jaubari, Penghafal yang Tidak bisa Menulis dan Membaca


Abul Hasan, Abdurrahman bin Muhammad bin Yahya bin Yasir di Tamimi ad Dimasyqi atau lebih dikenal dengan Al Jaubari, rahimahullahu.


Imam Adz Dzahabi di dalam siyar a'lamun nubala berkisah tentang beliau, "Dahulu beliau tidak bisa membaca dan tidak pula bisa menulis, tetapi ayah-lah yang mentasmi' beliau dengan sabar sehingga hafalan ini sampai kepada predikat adh dhabth (hafal dengan sempurna) ). 


Al Jaubari sangat menguasai matan-matan berbagai disiplin ilmu, bahkan Adz Dzahabi mengakui bahwa beliau telah mendapatkan semua hadits di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Al Jaubari dengan cara ditasmi lewat hafalannya, masyaallah luar biasa. 


Namun yang menarik lagi adalah ketika Al Jaubari selesai memperdengarkan semua isi hadits Shahih Bukhari kepada Adz Dzahabi. Al Jaubari berkata, "Sesungguhnya ayahku telah mentasmi' diriku dan banyak aku menambahkan apa yang aku tahu, diriku mengetahui mazhabmu terhadap Muawiyyah". 


Imam Adz Dzahabi lalu menjawab, "Beliau adalah shahabat rasulullah shalallahu alaihi wassalam", seraya aku bertarahum (mengucapkan rahmat) kepadanya. Lalu Al Jaubari mengeluarkan semua tulisan milik ayahnya yang telah beliau kumpulkan sebelumnya.


Pembaca, itulah Al Jaubari rahimahullahu yang tak bisa membaca dan tak bisa menulis, semua bukan halangan untuk menjadi seorang penghafal! Dengan kesungguhan dan kesabaran insyaallah Anda bisa. Apalagi Anda sekarang yang bisa membaca dan menulis, tentu bisa diharapkan lebih bisa lagi.


Pembaca, dahulu salaf tidaklah memberikan ilmu kepada sembarang orang. Mereka akan memberikannya kepada orang-orang yang telah dikenal selamat manhaj dan akidahnya. Maka, berbahagialah Anda yang sekarang telah mendapat seorang mudarris atau guru yang setiap hari mau memberikan ilmunya kepada Anda. Jangan sia-siakan, karena belum tentu di kemudian hari Anda akan dilapangkan untuk bisa menimba ilmu.


Wallahu alam, semoga bermanfaat.


(Kisah Al Jaubari bisa dilihat pada Siyar A'lamun Nubala karya Imam Adz Dzahabi, juz 17/thabaqat ke 23)


Lirih di dalam Berdoa

 

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu berkata,


السُّنَّة الإسرار بالأدعية في الصّلاة وغيرها، لقوله - سُبحانه {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ} [ الأعراف : ٥٥ ]

ولأنّ ذلك أكمل في الإخلاص، وأجمع للقلب على الدعاء

مجموع الفتاوى (١٢٦/١١)


"Yang Sunnah adalah lirih di dalam berdoa tatkala shalat dan selainnya berdasar firmanNya subhanahu, "Berdoalah kalian kepada Rabb kalian dengan merendah dan lirih, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yanh melampaui batas". (QS. Al A'raf: 55) karena sesungguhnya yang demikian itu lebih sempurna di dalam keikhlasan dan lebih menyepakati hati bagi doa." 


(Majmu' al Fatawa, 11/126).


Semua Ada di dalam As Sunnah

 

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


والسنه النبويه وهي المصدر الثاني للتشريع الاسلامي لم تغفل مثل هذه الامور الدقيقه، فقد علم النبي صلى الله عليه وسلم أمته كيف ياكلون ويشربون وينامون ويبولون ويتغوطون


"Sunnah nabi adalah sumber kedua bagi syariat Islam, tidak akan terluput/terlupa semisal ini perkara-perkara yang detail. Sungguh, Nabi shalallahu alaihi wassalam telah mengajarkan umatnya bagaimana cara mereka makan, minum, tidur, buang air kecil dan buang air besar."


(Mabahits fi Ushuliddin, hal. 15, cet. Muassasah Asy Syaikh 1433H).


Mengapa Gengsi Berkata, "Saya Tidak Tahu" ?


Pada suatu hari Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr rahimahullahu pernah berada di Mina untuk melaksanakan haji, tiba-tiba datang orang-orang bertanya beberapa hal kepada beliau dan beliau pun menjawab, 


لا ا لا الم


"Aku tidak tahu dan tidak punya ilmu (tentang jawaban)".


Ketika mereka mendesak untuk segera dijawab, maka beliau berkata,


 الله ا لم ل ا الون لو لمنا ا اكم لا ل لنا ان


"Demi Allah mengetahui kami mengetahui setiap apa yang kalian pertanyakan, jika jawabannya pasti kami tidak akan menyembunyikannya kepada kalian dan tidak halal bagi kami untuk menyembunyikan (jawabannya) untuk kalian". 


Pembaca, luar biasa kisah ini! Betapa tidak. Al Qasim padahal seorang alim ulama yang keilmuannya tidak diragukan lagi. Salah seorang tabiin besar sekaliber Yahya bin Said rahimahullahu telah mempersaksikan hal ini dengan tegas, 


ما ادركنا بالمدينة احدا نفضله على القاسم بن محمد


"Tidaklah kami mengetahui di Madinah seorangpun yang kami utamakan ketimbang Al Qasim bin Muhammad".


Jika seorang Al Qasim saja tidak gengsi mengatakan, "Saya tidak tahu", maka bagaimana dengan kita?


(Kisah Al Qasim dan ucapan Yahya bin Said terambil dari Hilyatul Aulia karya Abu Nuaim al Ashbahani rahimahullahu pada biografi Al Qasim bin Muhammad).


Teman Bisa Mempengaruhi Keistiqamahan Seseorang

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


وكم من إنسان هَمَّ أن يستقيم، ولكنه بقي مع الرفقة غير المستقيمة فعجز ، فإذا ابتعد عنهم ، كان ذلك من أسباب الهداية.

(فتاوى نور على الدرب ج١٢ ص١٨)


"Betapa banyak dari kalangan manusia yang ingin sekali istiqamah akan tetapi ia masih tetap bersama teman yang tidak istiqamah, maka lemahlah dirinya. Jika saja ia bisa jauh dari mereka (teman-teman yang tidak Istiqamah) niscaya hal itu termasuk sebab hidayah".


(Fatawa Nur ala Addarb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 12, hal. 18)


Salaf Sangat Memperhatikan Penutup Amal

 

Syaikh Abdullah al Bukhari hafizhahullahu berkata, "Sesungguhnya kalangan salaf, termasuk dari kefaqihan mereka, sangat memperhatikan akhir dari amalan-amalan. Mereka sangat mengagungkan hal itu di dalam diri-diri mereka. 


Telah disebutkan oleh Imam Dzahabi rahimahullahu di dalam Tarikhul Islam tentang biografi Al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu, bahwasanya beliau berkata, "Tidaklah aku hasad kepada Al Hajjaj 'aduwwallah (musuh Allah) terhadap sesuatu kepadanya dari kecintaanya pada Al Qur'an dan menafkahi keluarganya serta ucapan tatkala jelang ajalnya, "Allahummaghfirli (yaa Allah ampunilah aku), karena sesungguhnya manusia telah menyangka bahwasanya Engkau tidak akan melakukannya (yakni mengampuni Al Hajjaj)". (Tarikhul Islam, Imam Adz Dzahabi 6/326)


(Al A'malu bil Khawatim, Syaikh Abdullah al Bukhari, hal.41-42, cet. Manaratul Islam 2013)


Menjaga Lisan adalah Jalan Keselamatan Hati

 

Ahmad bin A'shim al Anthaki rahimahullahu adalah salah seorang imam dan qudwah (panutan) di zamannya. Beliau seormag yang selalu memberikan wajangan dan nasehat di negerinya, Damaskus. Pernyataan Imam Adz Dzahabi rahimahullahu ini juga diberikan oleh seorang ulama besar Abu Hatimar Razi rahimahullahu dengan mengatakan, "Aku dengannya (Ahmad bin 'Ashim) di Damaskus, beliau adalah _shahibu mawaizh_ (seorang yang selalu nasehat-nasehat) dan seorang yang zuhud (Siyar A'lamun Nubala, Adz Dzahabi 11/409-410)


Di antara nasehat Ahmad bin 'Ashim rahimahullahu adalah,


ا لَبتَ لاح لبك استعن له لسانك


"Jika ingin menginginkan keselamatan maka pertolongan pertolongan dengan cara menjaga lisanmu". (Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir 71/222).


Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat.


Shilah bin Usyaim al Adawi dan Istrinya Muadzah al Adawiyah

 Dalam Siyar Alamun Nubala karya Imam adz Dzahabi rahimahullahu disebutkan bahwa Shilah adalah seorang pembesar tabiin di zamannya, beliau adalah seorang yang wara, ahlu ibadah dan zuhud. Sedangkan istrinya adalah salah seorang murid dari shahabiyah Aisyah radhiallahuanha.


Diceritakan di dalam Al Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir rahimahullahu,


ان لة اة ابنه ال له: اتل ل اتل ل، لة اتل ل، اجتمع النساء ا ا ال


Ketika Shilah berada dalam peperangan bersama anaknya, maka Shilah berkata kepada anaknya, "Ayo anakku majulah suatu saat sampai aku bisa mengharapkan pahala darimu". Maka maju pun maju dengan membawa senjata dan terjun ke pertempuran hingga kematian, kemudian Shilah pun maju hingga tewas. Berkumpulah para wanita menuju ke istrinya Shilah, (yang bernama) Muadzah al Adawiyah, dan ia berkata kepada para wanita tersebut, "Jika kalian datang kepadaku dalam rangka ingin mengucapkan selamat, maka selamat datang untuk kalian, namun jika kalian datang untuk menta'ziyahku ( ucapkan bela sungkawa), maka pulanglah!".


Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Nisaa Ash Shalihaat menyatakan, 


انَتْ لُ: اللهِ ا البَقَاءَ لاَّ لأَتَقَرَّبَ لَى الوَسَائِلِ، لَعَلَّهُ الصهباء ابْنِهِ الجَنَّةِ


Muadzah pernah berkata, "Demi Allah berkata aku menyukai hidup melainkan agar aku bisa bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan perantara-perantara (yang syari), semoga Allah mengumpulkan antara aku, Abu Shahba (Shilah/suaminya) dan anaknya di surga" .


Sungguh indah kisah di atas, keindahan yang bisa kita petik di antaranya:


1. Keindahan seorang ayah yang menghasung anaknya untuk berjihad di jalan Allah dan jika anaknya gugur di medan jihad, bahkan ia akan mengharapkan pahala atas hal itu. Di masa sekarang, seorang ayah untuk belajar ilmu agama dan berhubungan dengan segala konsekuensinya, karena para ulama menyatakan bahwa menuntut ilmu agama adalah bagian dari jihad di jalan Allah.


2. Keindahan seorang ibu yang ditinggalkan oleh suami dan anaknya di jalan Allah, bahkan menganggap itu musibah, tetapi dianggap sebuah anugerah yang patut disyukuri. Maka sudah sepatutnya seorang wanita mendukung untuk bersabar dalam menjalani ujian di jalan Allah dan menghasung anaknya untuk tetap istiqamah di dalam thalabul ilmi.


3. Keindahan sikap optimisme dan rasa tawakal yang tinggi pada seorang istri yang ditinggal oleh suami dan anaknya. Tidak terpuruk dengan keadaan dan tak kenal lelah berjuang dengan amal shalih agar bisa ia berkumpul dengan suami dan anaknya kelak di surga yang telah mendahuluinya.


Semoga bermanfaat.


Perbanyaklah Doa di Kala Waktu Sahur


Dari Amr bin Abasah radhiallahuanhu, bahwasanya beliau pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 


ا الرَّبُّ الْعَبْدِ اللَّيْلِ الْآخِرِ اسْتَطَعْتَ اللَّهَ لْكَ السَّاعَةِ


"Saat yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah kala pertengahan malam terakhir, oleh karenanya jika engkau mampu untuk menjadi orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah". (HR. Tirmidzi dan hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).


Dari Abu Hurairah radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda,


يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


"Rabb kami tabaraka wa taala turun di setiap malam ke langit dunia ketika di sisa sepertiga malam terakhir, dan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikannya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan beri ampun untuknya". (HR. Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat.


Jumat, 22 Oktober 2021

Allah Akan Kokohkan Seorang yang Selalu Ikhlash di dalam Ibadahnya


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,


‏إذا قام العبد بعبادة الله مخلصا له في أقوله وأفعاله وإرادته لا يريد بها إلا وجه الله والدار الآخرة ولا يريد بها جاها ولا ثناء من الناس ولا مالاً ولا شيئاً من الدنيا واستمر على هذه العبادة المخلصة في الضراء والسراء وشدة والرخاء، مكن الله له في الأرض.


"Jika seorang hamba menegakkan ibadahnya kepada Allah dengan ikhlas di dalam ucapan dan perbuatannya, serta tujuannya adalah tidak menginginkan kecuali hanya wajah Allah dan negeri akhirat semata, juga tidaklah ia menginginkan dengan ibadahnya tersebut kedudukan dan pujian dari manusia, tidak pula harta dan apapun dari dunia, dan ia menetapi ibadah yang ikhlas ini di kala senang atau susah, kala sempit maupun lapang, maka Allah akan menguatkan/mengokohkan dia di bumi".


(Majalis Syahru Ramadhan, hal. 147, cet. Muassasatusy Syaikh Ksa 1435H).


Berpakaianlah Sesuai dengan Keadaan Orang Sekitarnya


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata, 


إذا كان الإنسان بين أناس متوسطي الحال لا يستطيعون اللباس الرفيع فتواضع وصار يلبس مثل لباسهم لئلا تنكسر قلوبهم ولئلا يفخر عليهم، فإنه ينال هذا الأجر العظيم أما إذا كان بين أناس قد أنعم الله عليهم ويلبسون الثياب الرفيعة لكنها غير محرمة فإن الأفضل أن يلبس مثلهم، لأن الله تعالى جميل يحب الجمال، ولا شك أن الإنسان إذا كان بين أناس رفيعي الحال يلبسون الثياب الجميلة ولبس دونهم فإن هذا يعد لباس شهرة، فالإنسان ينظر ما تقتضيه الحال إذا كان ترك رفيع الثياب تواضعًا لله ومواساة لمن كان حوله من الناس فإن له هذا الأجر العظيم، أما إذا كان بين أناس قد أغناهم الله ويلبسون الثياب الرفيعة فإنه يلبس مثلهم.


"Jika seorang insan berada diantara orang-orang yang pertengahan keadaannya, yakni mereka tidak mampu untuk memakai pakaian yang mewah, maka ketika insan tersebut bertawadhu dan mau memakai seperti berpakaiannya mereka agar tidak mematahkan hati-hati mereka dan agar tidak berlaku sombong terhadap mereka, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan pahala yang besar.


Adapun jika ia berada di tengah-tengah orang yang telah diberikan oleh Allah kenikmatan, dan mereka mengenakan pakaian bagus nan mewah yang tidak ada unsur keharaman, maka yang afdhal adalah ia memakai pakaian layaknya semisal mereka, karena Allah taala adalah Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan.


Janganlah seorang insan untuk ragu ketika ia berada di tengah-tengah orang yang berkecukupan untuk mengenakan pakaian yang mewah, karena apabila ia mengenakan pakaian yang di bawahnya (jelek/tidak seperti standar mereka), maka sesungguhnya ini teranggap pakaian syuhrah. 


Maka seorang insan melihat dengan keadaan kondisinya, jika ia meninggalkan pakaian mewah dalam rangka bertawadhu karena Allah, dan berlaku lapang (tidak merasa sempit dada akan hal ini) terhadap orang-orang yang disekitarnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, namun jika ia berada di tengah-tengah orang yang telah Allah cukupkan (harta/materinya), dan mereka (pada umumnya) mengenakan pakaian mewah, maka ia pun hendaknya mengenakan pakaian yang semisal mereka".


(Sumber: Syarah Riyadhish Shalihin, rekaman ke 55 side B. http://www.alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&coid=214291).


Musibah yang Didapat Sejatinya karena Dosa-dosa Kita

 

Allah subhanahu wa ta’ala,


وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ 


“Dan apapun musibah yang menimpa kalian dari sebuah musibah, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan kalian sebagian besar (dosa-dosa kalian).” (QA. Asy-Syura: 30)


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, 


عَنْ أَبِي الْبِلَاد قَالَ : قُلْت لِلْعَلَاءِ بْن بَدْر " وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَة فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ " وَقَدْ ذَهَبَ بَصَرِي وَأَنَا غُلَام ؟ قَالَ فَبِذُنُوبِ وَالِدَيْك


Dari Abil Bilad, beliau berkata, "Aku berkata kepada Al Ala bin Badr, 'Dan apapun musibah yang menimpa kalian dari sebuah musibah, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri'. Sungguh, telah pergi penglihatanku dalam keadaan aku masih kecil". Maka Al Ala bin Badr berkata, "Itu disebabkan dosa-dosamu terhadap kedua orang tuamu". (Lihat tafsir ibnu katsir pada surat ini).


Bangkrut di Dunia Masih Bisa Merintis, Bangkrut di Akhirat? Habis!


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. 


Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.


قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat nanti dengan (membawa amal) shalat, puasa, dan zakat, akan tetapi ia datang pula dengan mencerca ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini.


فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ


Maka diberikanlah (kepada orang yang dizhaliminya) ini pahala-pahalanya, jika telah habis pahala-pahalanya sebelum tuntas apa yang menjadi kewajibannya, maka akan diambil dosa-dosa mereka (yang dulu ia zhalimi) dan ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu)


Semoga Allah menjaga kita dari kebangkrutan yang seperti ini, aamiin.