Minggu, 13 Agustus 2023

Sikap Seorang Mukmin ketika Mendapat Kezhaliman dari Orang Lain

 

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata,


"المؤمن إذا امتُحن صبر واتعظ واستغفر، ولم يتشاغل بذم من انتقم منه، فالله حَكَمٌ مقسط، ثم يحمد الله على سلامة دينه، ويعلم أن عقوبة الدنيا أهون وخير له"


"Seorang mukmin jika mendapatkan ujian/cobaan, maka ia akan bersabar dan mengambil pelajaran serta akan beristighfar. 


Ia tidak tersibukkan dengan perkara yang tercela untuk membalas dendam karena Allah adalah Hakim yang Maha Adil. 


Kemudian ia pun akan memuji Allah atas keselamatan agamanya dan mengetahui bahwa hukuman dunia itu lebih ringan dan lebih baik bagi dirinya (dibandingkan hukuman di akhirat)".


(Siyar Alamunnubala-Imam Adz Dzahabi, 8/81).


Jadikan Kebiasaan dan Kesibukan Kita adalah Ibadah, karena ketika Ajal Menjemput, Kebiasaan dan Kesibukan Kitalah yang Menutup Umur Kita

 

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

فمن كان مشغولاً بالله وبذكره ومحبته فى حال حياته، وجد ذلك أحوج ما هو إليه عند خروج روحه إلى الله

Barangsiapa yang tersibukkan dengan Allah, berdzikir kepada-Nya dan mencintai-Nya di sepanjang hidupnya, maka akan mendapat hal tersebut adalah sesuatu yang paling ia butuhkan saat ruhnya keluar menuju Allah ta'ala".

(Thariqul Hijratain, Ibnul Qayyim, hal. 308).

Seharusnya Orang Tuamu Tuannya dan Engkau Budaknya, Bukan Sebaliknya!

 



Pada surat Al Isra ayat  23, tepatnya pada lafazh,

وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

"Dan bicaralah kepada kedua orang tuamu dengan tutur kata yang baik".

Seorang tabiin besar, Said ibnul Musayyib menjelaskan tafsir ayat ini dengan,

قَوْلُ العَبْدِ المُذْنِبِ لِلسَّيِّدِ الفَظِّ.

"Ucapan seorang budak yang bersalah kepada tuannya yang keras/kasar." (Lihat Tafsir Al Qurthuby).

Itulah permisalan yang digambarkan oleh Said ibnul Musayyib. Seorang anak hendaknya ketika berbicara atau berbincang dengan kedua orang tuanya, memposisikan dirinya layaknya seorang budak yang melakukan kesalahan di hadapan tuannya yang horor dan killer. Tentulah bisa kita bayangkan bagaimana si budak itu akan berperilaku dan bertutur.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Ad Dimasqi (53/216) mencontohkan bagaimana sosok seorang Muhammad ibnu Sirrin rahimahullahu ketika berbincang dengan ibunya. Dinyatakan sendiri oleh saudarinya, Hafshah bintu Sirrin,

وما رأيته رافعًا صوته عليها، كان إذا كلَّمها كالمصغي إليها

Aku tidak pernah melihat dia (Muhammad bin Sirrin) meninggikan suara di hadapan ibunya. Jika ia berbincang dengan ibunya maka ia seperti orang yang benar-benar memperhatikan (fokus)".

Bahkan dalam Ath Thabaqatul Kubra karya Ibnu Sa'ad (7/148), dibawakan sebuah riwayat,

أنَّه إذا كان عند أمِّه لو رآه رجلٌ لا يعرفه ظنَّ أنَّ به مرضًا من خفض كلامه عندها

Bahwasanya ia (Muhammad ibnu Sirrin) jika di hadapan ibunya, maka orang yang tidak mengenalnya akan mengira ia (Muhammad bin Sirrin) sedang sakit dikarenakan sangat lirihnya suara beliau di sisi ibunya".

Allahul musta'an, betapa jauhnya kita dengan amalan para salaf ini.

Betapa seringnya kita membentak orang tua. Menyalahkannya, bahkan mencercanya sampai terhina. Oleh siapa? Oleh kita, anaknya sendiri!

Di hadapan orang lain kita bisa menahan lisan dan sikap. Tapi mengapa di hadapan orang tua sendiri, kita orang yang paling kejam dan bengis?

قَوْلُ العَبْدِ المُذْنِبِ لِلسَّيِّدِ الفَظِّ.

"Ucapan seorang budak yang bersalah kepada tuannya yang keras/kasar."

Seakan-akan berbalik. Bukan kita berposisi sebagai budaknya, tetapi kita yang berposisi sebagai tuannya, innalilahi wa innailaihi raji'un.

Mari benahi diri. Semoga bermanfaat.

Memberikan yang Terbaik untuk Orang Tua di Hari Ied

 

Hisyam ibn Hasan berkata, bahwa Hafshah bintu Sirrin (saudari Muhamad ibn Sirrin) bercerita tentang saudaranya Muhammad ibn Sirrin,

كانت والدة محمد حجازية، وكان يعجبها الصبغ، وكان محمد إذا اشترى لها ثوبًا اشترى ألين ما يجد، فإذا كان عيد صبغ لها ثيابًا

Ibunda Muhammad ibn Sirrin adalah seorang hijaziyyah (dari negeri Hijaz), dan beliau senang dengan kain yang berwarna. Maka jika Muhammad ibn Sirrin membelikan ibunya sebuah kain, niscaya akan dibelikan kain yang paling lembut sepanjang yang beliau dapatkan. Jika tiba hari ied, maka beliau akan mewarnai pakaian ibunya". (Lihat Tarikh Ad Dimasyqi karya Ibnu Asakir 53/216).

Jika kita sudah tahu apa yang menjadi kesukaan atau kesenangan orang tua kita, maka penuhilah hal tersebut. Terlebih di hari ied, karena mereka lebih berhak dan lebih utama untuk diberikan kebahagiaan di hari ied.

Tentu kesenangan atau kesukaan masing-masing orang tua berbeda-beda. Kitalah yang harus cari tahu. Jika kita mampu mewujudkannya, segeralah menjemput pahala yang besar ini. Berikanlah yang terbaik untuk kedua orang tuamu. Semoga engkau mendapat keridhaan Allah ta'ala karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Keridhaan Rabb tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Rabb tergantung pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzy, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Semoga bermanfaat.

Selamat Mudik


Menyoal mudik, tentulah, orang tua yang terpaut jarak dan waktu yang jauh, sangat rindu ingin bertemu buah hatinya yang sedang di negeri rantau. Walau mungkin tidak terucap, namun kerinduan melihat sosok anaknya real -bukan di videocall- adalah suatu harapan di hati. Oleh karenanya, sambutlah kesempatan liburmu dengan mengunjungi mereka.

Janganlah rutinitas mudik tahunan sebagai beban dan berlalu begitu saja, akan tetapi niatkan untuk mewujudkan harapan orang tuamu yang rindu akan kedatangan anaknya, semoga dengan niat tersebut Allah ta'ala mengganjar perjalananmu sebagai ibadah birrul walidain.

Maka jika mudikmu diniatkan ibadah, tentulah tak ada keluh kesah di dalam menjalankannya. Jadikan macet, letih, kurang tidur dan kesempitan-kesempitan lainnya sebagai kafarah dosa untukmu. Nikmati saja. Bukankah Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit, lelah, kegundahan, kesedihan, kegalauan, atau sesuatu yang menyakiti, sampai pun duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menjadikan hal tersebut sebagai kaffarah (penggugur) bagi dosa-dosanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Jangan lupa, jalani peraturan pemerintah terkait aturan mudik, karena menaati peraturan pemerintah yang tidak bertentangan dengan syariat, ada nilai ibadah juga di sisi Allah ta'ala.

Juga, Jjika tujuan mudikmu untuk ibadah, maka jadikanlah proses di dalam menjalankannya tidak terkotori oleh kemaksiatan-kemaksiatan, berupa meninggalkan shalat, misuh-misuh/marah-marah sepanjang perjalanan, menerjang pelanggaran lalu lintas dan lainnya.

Harapannya, semoga mudikmu mendapat keridhan dan barakah dari Allah ta'ala, aamiin.
Selamat mudik.

Suaramu Itu Lho, Jaga di Hadapan Orang Tuamu!

 

Abu Ishaq ar Raqi al Hanbali menceritakan tentang sosok Abdullah ibnu 'Aun rahimahullahu, 


ونادته أمه فأجابها , فعلا صوته صوتها , فأعتق رقبتين


Ibunya pernah memanggil beliau (Ibnu Aun) dan ketika menjawabnya ternyata suara beliau melebihi/meninggi dari suara ibunya, maka beliau pun membebaskan dua orang budak". (Lihat Siyar Alamunnubala karya Imam Adz Dzahaby 6/366).


Wahai para pembaca yang masih memiliki orang tua, perhatikanlah bagaimana tebusan mahal di sisi seorang tabiin yang mulia Abdullah ibnu Aun atas kesalahan berupa meninggikan suara di hadapan seorang ibu, padahal kita yakini bahwa perbuatannya pastilah tidak disengaja. Namun di sisi seorang Al Imam Al Qudwah Alim negeri Bashrah, memandang "ketidaksengajaan" itu merupakan suatu yang besar sehingga harus ditebus dengan membebaskan dua orang budak, subhanallah.


Bagaimana dengan kita? Kira-kira berapa budak yang harus dibebaskan tiap harinya?


Mari Ingat Mati




Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

" أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت".

"Perbanyaklah oleh kalian pengingat yang menghancurkan kelezatan-kelezatan: al maut (kematian)" (HR. Tirmidzy dan beliau meng-hasan-kannya).

Imam Al Qurthuby rahimahullah berkata,

"من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والكسل في العبادة".

Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka akan termuliakan dengan 3 perkara ini:
1. Menyegerakan bertaubat
2. Merasa cukup pada hati
3. Semangat dalam ibadah.

Barangsiapa yang melupakan kematian amaka akan dihukum dengan tiga perkata ini:
1. Menunda-nunda taubat
2. Meninggalkan ridha dalam hal kecukupan (tidak merasa cukup dengan apa yang ia miliki)
3. Malas dalam ibadah

(At Tadzkirah-Imam Al Qurthuby, hal. 126)

Ketika Jawaban atau Solusi Seorang Alim Nggak Sesuai Keinginan

 

Pas bingung, bertanya kepada seorang alim. Ketika dapat jawabnya, ternyata jawabannya tidak sesuai yang diharapkan, bahkan menyelisihi hawa nafsunya.

Gimana ya?

Asy Syaikh ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

‏قال العلماء رحمهم الله إذا سأل المستفتي عالماً مطمئنا لقوله معتقدا فيه الحق فإنه يلزمه العمل به ولا يستفتى غيره لأن الله قال (فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) والفائدة من سؤالهم الأخذ بما يقولون وإلا لكان ذلك عبثاً.

"Para ulama rahimahumullahu berkata: jika ada seseorang yang meminta fatwa bertanya kepada seorang alim yang ia tenang dengan jawabannya (ia percayai/tsiqah terhadapnya), dan jawaban seorang alim tersebut ternyata bersandarkan kepada al haq (kebenaran), maka seorang yang meminta fatwa tersebut harus beramal dengan fatwa itu dan jangan mencari fatwa yang lain, karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka bertanyalah kalian kepada ahlu dzikri (orang berilmu) jika kalian tidak mengetahui".

Dan faidah dari pertanyaan mereka adalah mengambil dengan apa yang telah difatwakan kepada mereka, jika tidak demikian, maka yang seperti itu adalah suatu bentuk main-main".

(Tafsir Surat An Nisa-Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 276)

Jangan Merasa Yakin dengan Keadaan Dirimu Sekarang

 

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

"على الإنسان ألا يغترّ بنفسه ، ولا يعجب بعقيدته، بل عليه أن يسأل الله - عز وجل - دائماً الثبات؛ لأن القلب يَعتَريه شُبُهات، ويَعتَريه شهَوات، فأحياناً يكون الإنسان مؤمناً حقاً ثم يُلقي الشيطان في قلبه شُبهَة فيعمَى ويَضل

"Wajib atas seorang insan agar jangan tertipu oleh dirinya sendiri dan jangan merasa bangga diri dengan akidahnya, akan tetapi wajib baginya untuk meminta kepada Allah azza wa jalla senantiasa ats tsabat (kekokohan), karena hati itu sarat dengan syubhat-syubhat dan diliputi dengan syahwat-syahwat.

Maka terkadang seorang insan yang dahulunya mukmin, tapi karena kemudian setan melemparkan ke dalam hatinya sebuah syubhat, hingga ia pun menjadi buta dan sesat".

(Tafsir surat Ash Shaffat, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 193)

Membaca dan Mempelajari Al Quran adalah Sebaik-baik Jalan di dalam Mendekatkan Diri kepada Allah



Shahabat Khabbab ibnul Arrat radhiallahuanhu berkata, 


 تقرب إلى الله ما استطعت ، فإنك لن تتقرب إليه بشيء أحب إليه من كلامه


"Bertaqarrub-lah kepada Allah semampumu, karena sesungguhnya engkau tidak akan bisa bertaqarrub kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya dibanding dengan kalam-Nya (Al Qur'an)".


(Al Ibanatul Qubra, 20. Sanadnya jayyid).


Membaca Al Quran di dalam Shalat adalah Bacaan yang Paling Utama

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,

قِرَاءَة الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنْهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ ، وَمَا وَرَدَ مِنْ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ 

Membaca Al Qur'an di dalam shalat lebih utama dibandingkan membacanya di luar shalat. Segala (nash/dalil) yang ada dari keutamaan membaca Al Qur'an yang dilakukan oleh orang yang shalat itu lebih mulia dengan apa yang dilakukan oleh selainnya (di luar shalat)".

(Majmu Al Fatawa-Ibnu Taimiyyah, jil. 23, hal. 282).

Jumat, 16 Juni 2023

Menjaga Pakaian Syar'i Sejak Dini

 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

من المعلوم أن من دون سبع سنين لا حكم لعورته، لكن تعويد الصبيان والأطفال على الألبسة الخالعة القصيرة لا شك أنه سيهون عليهم كشف العورة في المستقبل،بل ربما لا يستحي الإنسان إذا كشف فخذه؛ لأنه كان يكشفه صغيرا ولا يهتم

"Sudah diketahui bahwa umur di bawah tujuh tahun tidak ada hukum bagi auratnya, akan tetapi membiasakan anak-anak untuk mengenakan pakaian yang terbuka dan pendek, maka tidak diragukan lagi kelak mereka akan merasa ringan untuk membuka auratnya, bahkan terkadang seorang insan tidak malu jika tersingkap pahanya karena ketika masa kecilnya terbiasa menyikapnya dan tidak memperdulikan hal tersebut".

(Majmu'atu as'ilati tahummul 'Usratal Muslimah, hal. 146)

Enam Tanda Kemunafikan dari Amalan Shalat Seseorang



Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

ست صفات في الصلاة من علامات النفاق : الكسل عند القيام بها, وتأخيرها, ونقرها, وقلة ذكر الله فيها, ومُراءات الناس في فعلها, والتخلف عن جماعتها

Enam sifat di dalam shalat yang termasuk tanda-tanda kenifakkan:
1. Malas di dalam menegakkannya
2. Mengakhir-akhirkan di dalam penunaiannya
3. Cepat di dalam mengerjakannya
4. Sedikit berdzikir di dalam shalatnya
5. Ingin dilihat di dalam melaksanakannya
6. Tertinggal dari jama'ah shalat

(Shalat-Ibnul Qayyim, 80)
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com
#akidah

Berbakti kepada Ibu di Masa Tuanya dengan Melayani Apa yang Menjadi Kesukaannya


Seorang ulama besar dari generasi tabiin menasehati kita dengan ucapannya,

أن الله جعل الجنة ثمنا لأنفسكم فلا تبيعوها بغيرها

"Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan surga itu sebagai harga untuk diri kalian, maka janganlah engkau menjual dirimu untuk selainnya".

Siapakah dia? Dia adalah Muhammad bin Ali bin Abi Thalib al Hanafiyyah.

Al Imam Adz Dzahaby rahimahullahu di dalam Siyar Alamunnubala (4/111) menyatakan bahwa Muhammad al Hanafiyyah terlahir dari seorang ibu yang bernama Khaulah bintu Ja'far al Hanafiyyah. Sebelum dinikahi oleh Ali, Khaulah adalah salah seorang tawanan perang Yamamah. Asma bintu Abi Bakr saat itu mengkhabarkan,

رأيت الحنفية وهي سوداء ، مشرطة حسنة الشعر

"Aku melihat melihat Al Hanafiyyah (Khaulah) adalah seorang wanita yang berkulit hitam namun rambutnya indah terikat".

Menunjukkan bahwa Khaulah adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan rambutnya.

Ketika Khaulah sudah renta, Muhammad pun tidak membiarkan perilaku ibundanya begitu saja. Beliau sangat memahami bahwa ibunya sangat perhatian terhadap keindahan rambutnya, maka sebagai panutan umat sekaligus seorang anak yang berbakti kepada ibunya, beliaupun tidak melewatkan begitu saja kesempatan untuk membahagiakan sang ibu dengan membantu menyemirkan rambut putihnya sang ibu.

Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad (5/86), Shalih bin Misam menyatakan,

رَأَيْتُ فِي يَدِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ ابن الْحَنَفِيَّةِ أَثَرَ الْحِنَّاءِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: كُنْتُ أُخَضِّبُ أُمِّي

"Aku melihat di tangannya Muhammad bin Ali bin al Hanafiyyah terdapat bekas al hinna (semacam tumbuhan yang digunakan untuk menyemir rambut)". Aku pun bertanya kepadanya, "Apa ini?". Maka beliau menjawab, "Aku habis menyemir rambut ibuku".

Bahkan di kitab yang sama, Abu Ya'la rahimahullahu menegaskan,

أَنَّهُ كَانَ يُذَوِّبُ أُمَّهُ وَيُمَشِّطُهَا

"Bahwasanya beliau selalu menyemirkan rambut ibunya dan menyisirnya".

Wahai seorang yang ingin berbakti kepada sang ibu, sudahkah kita mengetahui perkara apakah yang menjadi perhatiannya?

Jika sudah tahu, mengapa diam saja?

Tidakkah kita mau mencontoh akhlak seorang tabiin besar Muhammad Al Hanafiyyah yang selalu menyayangi ibundanya dengan melayani apa yang menjadi kesukaannya?

Mungkin terasa berat, namun jika diri ini engkau jual untuk surga, insyaallah semoga diringankan.

Jangan Lelah dalam Beramal

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam Surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang mengganggu manusia”. (HR. Muslim).

Terkesan amalan remeh namun terbalas dengan surga. Bisa jadi kita tidak menganggapnya amalan luar biasa, namun ketika amalan itu ikhlash, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil menyatakan,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya ia akan melihatnya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Amalan yang mungkin kita lupakan, ternyata Allah jalla wa 'ala tidak lupa. Di hari kiamat pasti tidak akan terlewat.

Maka janganlah remehkan sekecil apapun amalan-amalan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang ceria kepadanya. Sesungguhnya amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Oleh sebab itu, jangan remehkan setiap amalan. Terlebih ketika amalan itu merupakan bagian dari ibadah-ibadah yang wajib. 

Letihnya kita berdiri ketika shalat..

haus dan laparnya kala kita berpuasa..

lelahnya badan dan pikiran dalam mencari nafkah..

beratnya raga dan batin di dalam mengurusi orang tua yang telah renta..

capeknya mengajari dan mendidik anak..

Bahkan ketika kita terlibat berta'awun di dalam dakwah, baik menjadi panitia kajian atau menjadi panita ifthar Ramadhan di mahad..

Yakinlah, ketika ikhlash di kerjakan, semuanya akan kita petik manisnya kelak di akhirat.

Terlebih jika amalan-amalan itu merupakan rutinitas kita, masyaallah.. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang rutin walaupun itu sedikit". (HR. Muslim).

Jadi, jangan lemah untuk beramal. Apapun amalanmu teruslah lakukan, walaupun remeh dan sedikit. Karena kita tidak tahu amalan yang manakah yang paling ikhlash yang bisa kita lakukan.

Jika yang terkesan remeh saja bisa diganjar surga, apatah lagi amalan yang lainnya!

Majelis Ilmu pun Dihentikan karena Perintah untuk Memberi Makan Ayam

 


Abu Zur'ah, Haiwah Ibnu Syuraih. Seorang imam rabbani, al fakih dari negeri Mesir. Orang-orang besar semisal Ibnul Mubarak, Ibnu Wahb, Abu Ashim dan para tokoh-tokoh ahlu hadits lainnya menimba ilmu dari beliau. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai beliau di sisi ilmu hadits. Sampai-sampai Imam Ahmad dan para ulama lainnya memberi predikat tsiqah terhadap dirinya.

Di antara keistimewaan Haiwah adalah sebagaimana yang Ibnu Wahb nyatakan, "Dahulu beliau dikenal dengan seorang yang diijabahi doanya".

Namun orang besar selevel Haiwah, di dalam memperlakukan ibunya tidak ada kompromi. Di hadapan ibunya, Haiwah masih memposisikan dirinya seorang anak kecil yang siap disuruh-suruh kapanpun ibunya mau.

Dalam kitab Al Adabusy Syaria'ah karya Ibnu Muflih dan kitab Birrul Walidain karya Abu Bakr at Thurthusyi (hal. 26, cet. Darul Istiqamah) dikisahkan,

كان حيوة بن شريح يقعد في حلقته يعلّم الناس، فتقول له أمه: قم يا حيوة، فألق الشعير للدجاج، فيترك حلقته ويذهب لفعل ما أمرته أمه به.

Dahulu Haiwah ibn Syuraih pernah di suatu hari sedang duduk-duduk bermajelis mengajari manusia. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, "Bangun kau wahai Haiwah, tebarkanlah gandum untuk ayam". Maka Haiwah pun segera meninggalkan majelisnya dan pergi untuk menunaikan apa yang diperintahkan ibunya".

Masyaallah... The power of emak-emak! Tak pandang situasi dan kondisi. Jika ingin merintah, maka perintahpun turun tanpa lihat-lihat. Namun inilah akhlak ulama salaf. Ketika ibunya sudah meminta, maka tak ada satu kata pun keluar untuk menyanggah atau alasan untuk menunda. Haiwah tanpa malu dan berat segera meninggalkan majelis ilmunya dan menaati perintah ibunya, subhanallah!

Bayangkan jika kita di posisi Haiwah. Mungkin kita akan merasa berat dan malu untuk seperti Haiwah. Berat karena perintah ibu bertepatan dengan aktifitas atau jadwal taklim kita. Malu karena yang diperintahkan sesuatu yang remeh, memberi makan ayam! Di hadapan murid-muridnya pula!

Saudaraku, pernahkah kita berada di posisi Haiwah? Jika ya, masih ingatkah apa yang kita perbuat? Nas'alullaha salaamah wal aafiyah.

Birrul Walidain, Salah Satu Buah Manis dari Sebuah Ilmu

 

Al Abbar. Nama beliau adalah Abul Abbas Ahmad ibn Ali ibn Muslim Al Abbar.

Imam Adz Dzahabi menyatakan bahwa Al Abbar adalah al hafizh, al mutqin, al imam, ar rabbani. Bahkan Imam Khathib al Baghdady memberi pujian kepada Al Abbar dengan predikat tsiqah, hafizh, mutqin dan bagus mazhabnya.

Imam Al Abbar rahimahullah pernah memberikan cerita kepada salah seorang muridnya yang bernama Ja'far al Khuldi rahimahullah tentang tingginya kedudukan berbakti kepada seorang ibu.

Jafar al Khuldi rahimahullahu menuturkan,

كَانَ الأَبَّار مِنْ أَزهد النَّاس، اسْتَأَذَنَ أُمَّه فِي الرِّحْلَةِ إِلَى قُتَيْبَة، فَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، ثُمَّ مَاتَتْ، فَخَرَجَ إِلَى خُرَاسَانَ، ثُمَّ وَصَلَ إِلَى بَلْخ وَقَدْ مَاتَ قُتَيْبَة، فَكَانُوا يُعَزُّونَه عَلَى هَذَا، فَقَالَ: هَذَا ثمرَةُ العِلْم، إِنِّيْ اخترتُ رِضَى الوَالِدَة

"Dahulu Al-Abbar termasuk orang yang paling zuhud. Beliau meminta izin kepada ibunya untuk melakukan rihlah (safar untuk belajar ilmu) ke hadapan Imam Qutaibah, akan tetapi ibunya tidak mengizinkannya. Kemudian ibunya pun wafat. Al Abbar pun lalu keluar menuju negeri Khurasan dan kemudian sampailah beliau di di kota Balkha dan ternyata mendapati Qutaibah telah wafat, dan orang-orang pun menguatkan dirinya atas hal ini. Al Abbar berkata, "Inilah buah dari ilmu. Sesungguhnya aku memilih keridhaan ibuku".

Inilah kisah beliau di dalam birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Di dalam kisah di atas dengan tegas Imam Al Abbar menerangkan bahwa menaati perintah seorang ibu adalah salah satu buah dari ilmu.

Untuk apa kita thalabul ilmi? Untuk apa kita banyak menghadiri kajian atau mendengarkan taklim-taklim agama?
Tentu untuk mengamalkannya bukan?!
Bukankah kita ingin jadi anak yang shalih?
Bukankah kita juga kelak menginginkan anak keturunan menjadi shalih juga?

Maka inilah pelajaran dari seorang imam rabbani, yakni menomorsatukan perintah ibu (selama tidak berbenturan dengan aturan syariat).

Sebagian para ulama menyatakan, bahwa dengan Al Abbar dengan berbuat demikian (birrul walidain), Allah ta'ala pun membukakan pintu-pintu barakah ilmu kepada Al Abbar rahimahullahu.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapatkan pahala melimpah dan keberkahan di dalam hidup, mulailah untuk lebih perhatian dan fokus lagi di dalam membaktikan diri kepada kedua orang tua, terkhusus kepada seorang ibu.

Wallahu alam, semoga bermanfaat.

(Kisah Al Abbar bisa dilihat pada kitab Siyar Alamunnubala 13/443, Tarikh Al Baghdadi 4/306 dan Tadzkiratul Huffazh 2/662).

Keutamaan Teman yang Shalih




Syahru ibn Hausyib rahimahullah berkata, bahwa Abu Darda radhiallahuanhu menyatakan,

إن العبد المسلم ليغفر الله له وهو نائم قال: قلت: وكيف ذاك يا أبا الدرداء؟ قال: يقوم أخوه من الليل فيتهجد فيدعو الله فيستجيب له ويدعو لأبيه فيستجيب له

"Sesungguhnya seorang muslim akan Allah beri ampunan kepadanya padahal ia sedang tidur".

Saya (Syahru ibn Hausyib) bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi wahai Abu Darda?"

Abu Darda menjawab, "Saudaranya bangun di malam hari dan ia shalat malam. Ia pun berdoa kepada Allah (untuk ia dan untuk saudaranya tersebut) dan doanya dikabulkan, ia pun berdoa kepada Allah untuk ayahnya dan doanya pun dikabulkan".

(Az Zuhd-Imam Ahmad ibn Hanbal, 264)

Betapa Beruntungnya jika Allah Sudah Ridha

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata, 


وإذا رضي الله عن العبد؛ قَبِلَ اليسير من عمله ونمّاه، وغفر الكثير من زلَلِه ومحاه.

Jika Allah taala telah ridha kepada seorang hamba, maka Allah akan menerima yang sedikit dari amalannya dan akan dikembangkan amalannya tersebut, serta akan mendapat ampunan yang banyak dari kesalahan dan Allah akan menghapuskan kesalahan tersebut.

(Taisirul Lathifil Mannan, Syaikh As Sa'dy, 1/48)

Pendidikan Generasi Muda Tanggung Jawab Kita Semua


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,

الأم والأب والمعلم والمجتمع مسؤولون أمام الله عن تربية هذا الجيل . ، فإن أحسنوا تربيته سعد، وسعدوا في الدنيا والآخرة، وإن أهملوا تربيته شقي، وكان الوزر في أعناقهم

"Seorang ibu, ayah, pengajar dan masyarakat sekitar, kelak akan bertanggung jawab di hadapan Allah ta'ala dari pendidikan generasi ini. Jika mereka baik di dalam pengajarannya, maka generasi tersebut akan bahagia dan para pengampu tanggung jawab tersebut akan bahagia pula di dunia dan akhirat. Namun jika mereka melalaikan tarbiyahnya maka akan generasi tersebut celaka, dan dosa ini berada di pundak-pundak mereka".

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, 22)