Selasa, 31 Maret 2015

Buah dari Meninggalkan Maksiat

Berkata Al Qasim bin Abdirrahman:
Bahwasanya Abdullah ibnu Mas'ud berkata:
Sesungguhnya aku menyangka lupanya seorang terhadap ilmu adalah disebabkan karena perbuatan suatu dosa yang dia kerjakan dalam keadaan dia mengetahui akan ilmunya.


Ali bin Khusyram berkata:
Aku berkata kepada Waki' ibnul Jarrah: Sesungguhnya aku ini seorang yang bodoh, dan aku tidak punya hafalan. Ajarkanlah kepadaku obat untuk bisa menghafal !
Berkata Waki': Wahai anakku, demi Allah tidak ada obat yang mujarab untuk bisa menghafal semisal meninggalkan maksiat.
Jika engkau ingin menghafal hadits, maka wajib bagimu untuk melakukan hal itu (meninggalkan maksiat).

(Silahkan lihat Akhbarun Lihifzhil Qur'an-Ibnu 'Asakir, bab Sababun Nisyan. Dinukil dari Jami' fil Hatstsi 'ala Hifzhil Ilmi, hal. 226 dan 228).

Dengan Musibah Jadikan Hidup Lebih Baik

Setiap orang pasti mengalami musibah. Merasa sempit, tertekan atau susah.

Termasuk musibah bagi seorang hamba di antaranya adalah BERBUAT MAKSIAT.

Ya. Dengan kemaksiatan seorang hamba bisa mendapat kesusahan dan kesempitan hidup. Baik di dunia maupun di akhirat.

Berbuat sesaat, berhujung sesak. Itulah maksiat.

Tiada jalan tuk melapangkan kesesakkan akibat maksiat kecuali dengan taubat.

Ikhwatii fillah..
Dilaman sederhana ini kami tidak menyentuh efek-efek negatif maksiat atau keutamaan taubat.

Akan tetapi kami akan sedikit menyentuh suatu faidah indah telah ditorehkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Ketika beliau membawakan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
"Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu ketetapan (dari takdir) kecuali itu adalah kebaikan untuknya"
(HR. Muslim dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu 'anhu).

Dimaukan juga dari hadits di atas adalah perkara kemaksiatan.

Mengapa? Karena bisa jadi ketentuan takdir yang mengena pada dirinya bisa membuat kepada suatu perkara tertentu yang berujung baik.

Seperti terjatuhnya seorang hamba kepada kemaksiatan, lalu dia bertaubat.

Maka bisa jadi keadaan dia setelah bertaubat itu lebih baik dibanding sebelum dia berbuat dosa.

Wallahu alam.

(Faidah bebas, disadur dari kitab Al Masaail karya Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan penambahan, silahkan lihat di hal. 5, cet. Darul Istiqamah 2006)

Jumat, 20 Maret 2015

Hukum Berdzikir di Kamar Mandi

Tidak boleh bagi seseorang untuk berdzikir kepada Rabb-Nya di dalam kamar mandi, karena tempat tersebut tidak pantas untuk hal yang demikian itu.

Jika berdzikirnya dengan hati, maka tidak mengapa, tapi dengan catatan tanpa dilafadzkan dengan lisannya.

Atau, lebih utama lagi hendaknya dia tidak mengucapkan sesuatu apapun dengan lisannya di tempat ini (kamar mandi), hendaknya dia menunggu sampai keluar dari kamar mandi.

Adapun jika di tempat wudhu yang lokasinya berada di luar tempat buang hajat, maka tidak mengapa bagi seseorang yang ingin berdzikir kepada Allah di dalam tempat tersebut.

(Asy Syarahul Mumti' 'ala Zaadil Mustaqni'-Syaikh Ibnu Utsaimin, juz. 1 bab Al Istinja. Dinukil dari Fiqh Mar'ah Muslimah, hal. 18, cet. Darul Aqidah 2007).

Menyembunyikan Shalat Malam

Berkata Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullahu:

... Dahulu para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan shalat malam mereka.

Berkata Al Hasan:
Dahulu ada seseorang yang di sisinya terdapat tetangganya, ketika menjelang malam dia pun shalat malam. Akan tetapi tetangganya tersebut tidak mengetahuinya.
Para salaf sangat bersungguh-sungguh di dalam berdoa, dan tidaklah terdengar lirihan doa mereka ketika itu.
Dahulu ada pula seseorang yang tidur bersama istrinya di satu bantal. Maka ketika dia menangis (karena Allah) di sepanjang malamnya, sang istri tidak menyadarinya.

Muhammad bin Wasi dahulu ketika beliau melakukan perjalanan haji, beliau menegakkan shalat malam dengan sangat lama. Bersamaan dengan itu, beliau membuat kegaduhan terhadap hewan kurbannya, agar orang-orang tersibukkan dengan kegaduhan suara hewan tersebut.

Dahulu sebagian para salaf menegakkan shalat malam di waktu pertengahan malam. Orang-orang pun tidak mengetahuinya. Karena ketika waktu sudah mendekati subuh, mereka pun mengeraskan bacaan Qur'annya agar orang-orang menyangka bahwa mereka baru bangun ketika itu...

(Silahkan lihat Lathaiful Ma'arif karya Ibnu Rajab al Hanbali, hal. 43, cet. Dar Ibnil Jauzi 2012)

Jumat, 13 Maret 2015

Hikmah Penyatuan 2 Kalimat Syahadat

Syahadat Muhammad Rasulullah seringnya datang mengiringi Syahadat Laailahaillallah. Apa yang maksud dengan Syahadat Muhammad Rasulullah? Dan apa hikmah dari kelaziman penyatuan antara keduanya?

Jawab:
Na'am. Syahadat Muhammad Rasulullah mesti di dalamnya harus beriringan dengan Syahadat Laailahaillallah.

Bisa berupa dalam bentuk pengucapan Syahadat Laailaillallah atau dalam bentuk pengandungan makna.

Jika engkau hanya mengucapkan Syahadat Laailahaillallah saja maka sudah otomatis terkandung di dalamnya Syahadat Muhammad Rasulullah.

Tidaklah sah Syahadat Laailahaillallah tanpa Syahadat Muhammad Rasulullah. Tidak diterima juga dan tidak dihukumi dengan keislaman seorang yang menentang risalah Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam.

Adapun makna Syahadat Muhammad Rasulullah adalah:
Pengakuan kerisalahannya baik secara zhahir maupun batin.
Menaati setiap perintah yang beliau perintahkan.
Membenarkan setiap kabar yang beliau beritakan.
Menjauhi setiap larangan yang beliau larang.
Tidak melakukan ibadah kepada Allah kecuali dengan tuntunannya.

Juga mengakui bahwa kerisalahan beliau adalah mencangkup umum, meliputi jin dan manusia.
Mengakui juga bahwa beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya sampai hari kiamat.

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh Shalih Al Fauzan, juz 1 hal. 7-8, cet. Darul Bashirah 2009).

Persaksian Iman atas Seorang yang Shalat di Mesjid

Syaikh Utsaimin pernah ditanya:

Apakah seseorang dipersaksikan dengan keimanan hanya karena semata-mata kebiasaannya pergi ke mesjid sebagaimana yang datang dalam hadits?

Syaikh menJawab:

Ya. Tidak diragukan lagi bahwa kehadirannya seseorang ke mesjid untuk shalat, itu menunjukkan akan keimanannya.

Karena tidaklah ada yang menyebabkan dia keluar dari rumahnya dan menanggung beban perjalanannya menuju ke mesjid kecuali karena keimanannya kepada Allah.

Adapun ucapan sang penanya "sebagaimana yang datang dalam hadits", sepertinya mengarah kepada riwayat hadits yang berbunyi: "Apabila kalian melihat seseorang yang kebiasaanya ke mesjid, maka persaksikanlah oleh kalian tentang keimanannya" (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, didhaifkan Syaikh Al Albani dalam Dhaif al Jami 509). Akan tetapi hadits ini dhaif dan tidak shahih dari nabi.

(Silahkan lihat Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah Syaikh Utsaimin, hal. 88, cet. Maktabatush Shafa 2007)

Mengharap Ridha Allah dengan Ridha Orang Tua

Berkata Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:
"Keridhaan Rabb berdasar keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb berdasar kemurkaan orang tua"
(HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al Albani. Lihat Ash Shahihah 515).


Berkata Syaikh As Sa'dy:
"Hadits ini terdapat pelajaran bahwasanya Allah menyebutkan puncak bakti dan tujuan akhir adalah keridhaan orang tua.
Maka perbuatan ihsan (kepada kepada orang tua) sebagai faktor pendorong terjadinya sebab, dan datangnya keridhaan adalah hasil dari faktor akibat.
Maka setiap apa-apa yang mendatangkan keridhaan kedua orang tua, adalah seluruh apa-apa yang mengumpulkan berbagai muamalah yang sudah menjadi kebiasaan. Begitu pula jalan-jalan dari setiap jalan dan wasilah yang bisa membuat ridha mereka berdua, semua (hal di atas) masuk kepada pengertian bakti."
(Bahjatu Qulubul Abrar, hal. 267, cet. Darul Furqan 2012)


Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin:
"Hadits ini as sababiyyah. Maknanya, bahwasanya keridhaan kedua orang tua adalah penyebab datangnya keridhaan Allah. Dan kemurkaan kedua orang tua adalah penyebab datangnya kemurkaan Allah.
Makna ridha tentunya suatu yang sudah dikenal. Yakni seorang insan merasa dirinya tentram dan dadanya merasa lapang atau selain dari itu.
Jika engkau dapat menentramkan ayahmu atau ibumu dengan membuat tenang dan membuat lapang dadanya, maka ini adalah sebab datangnya keridhaan.
Sedangkan yang dimaksud dengan kedua orang tua adalah ayah dan ibu. Merekalah orang yang lebih berhak untuk diberikan bakti.
(Fathu Dzil Jalali wal Ikram, jil 6, hal. 284, cet. Maktabah

Terlanjur Basah

Terlanjur basah, mandi sekalian..!

Pepatah yang salah jika ditempatkan pada keadaan seorang yang telah melakukan dosa.

Ketika ada seorang hamba berbuat dosa, sebagian berpikiran bahwa dirinya telah melakukan suatu yang menghabiskan segalanya.

Seolah dosanya tersebut adalah martir dahsyat yang meluluh lantakkan hidupnya.

Hancur berkeping tak karuan.

Memang, dosa adalah sesuatu perkara yang tidak sepele.

Akan tetapi bukan berarti dosa adalah akhir dari segalanya.

Allah adalah Rabb yang mengampuni dosa dan Rabb yang penyayang.

Allah ta'ala berfirman:
"Dan hendaklah engkau meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertaubatlah kepada-Nya" (QS. Hud: 3).

Wahai saudaraku..
Apa yang membuatmu hancur? Bukankah Allah sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat kepada-Nya. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya dibanding kegembiraan seorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya, padahal untanya tersebut telah meninggalkannya di padang luas". (HR. Bukhari dan Muslim).

Wahai saudaraku..
Apa yang engkau tunggu?
Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari. Dan membentangkan Tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, sampai terbit matahari dari tempat terbenamnya". (HR. Muslim).

Wahai saudaraku..
Bertaubatlah..

Tinggalkan masa lalumu yang penuh dengan dosa dengan meninggalkan lingkungan dan teman-teman yang tidak bermanfaat.

Buka lembaran baru dalam hidupmu dengan kebaikan.

Jangan putus asa dengan rahmat dan ampunan Allah. Sesungguhnya Allah Maha penyayang.

5 Seruan Bumi pada Tiap Harinya

Tidaklah hari-hari terlewat kecuali bumi menyeru dengan 5 kalimat:

Wahai bani adam engkau berjalan di atas punggungku, dan akhirmu kelak berada di perutku.

Wahai bani adam engkau tertawa di atas punggungku, kelak engkau akan menangis di perutku.

Wahai bani adam engkau gembira di atas punggungku, kelak engkau akan bersedih di perutku.

Wahai bani adam engkau berbuat dosa di atas punggungku, kelak engkau akan di azab di perutku (azab kubur).

Wahai bani adam engkau memakan makanan yang haram di punggungku, kelak engkau akan dimakan binatang melata di perutku.

(Disadur dari Bustanul Wa'izhin karya Ibnul Jauzi, hal. 183, cet. Darul Ashalah 2010)

Senin, 23 Februari 2015

Nasehat Untuk Pedagang

Wahai Pedagang Jujurlah dan Banyak-Banyak Shadaqahlah Kalian

Berkata Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:
"Wahai para pedagang sesungguhnya perdagangan ini terdapat sumpah dan kedustaan. Maka selingilah perdagangan kalian dengan shadaqah".
(Hadits dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan an Nasa'i 3797)

Berkata juga shalallahu 'alaihi wasallam:
"Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai orang-orang fajir kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur"
(Hadits dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Ash Shahihah no 994).

Di mana Salaf, Di Mana Kita ?

Duhai Betapa Jauhnya Kita Jika Dibandingkan Mereka

Dahulu Al Hasan al Bashri jika keluar kepada manusia seakan-akan beliau adalah seorang yang melihat akhirat dengan mata kepalanya sendiri.
Kemudian beliau mengkhabarkan hal itu kepada mereka.
Dan apabila mereka keluar dari sisinya, merekapun keluar dalam keadaan tidak kembali kepada dunia sedikitpun.

Dahulu Sufyan ats Tsauri memuliakan majelisnya dengan tidak menyebutkan perkara dunia.

Di majelisnya Imam Ahmad tidak ada di dalamnya yang menyebut-nyebut perkara dunia dan juga tidak pula beliau menyebut-nyebut dunia.


Berkata sebagian dari mereka:
Tidak akan bermanfaat suatu nasehat kecuali yang berasal dari hati. Karena itu akan menghantarkan kepada hati juga.
Adapun nasehat yang keluar hanya sekedar dari lisan, maka nasehat itu akan masuk ke telinga, kemudian keluar dari sisi yang lainnya.


Berkata sebagian salaf:
Sesungguhnya seorang alim apabila dengan nasehatnya mengharapkan wajah Allah maka akan membersihkan hati-hati sebagaimana hilangnya noda dari yang murni.

(Lihat Lathaiful Ma'arif karya Ibnu Rajab, hal. 14-15, cet. Dar Ibnul Jauzi 2012).

"Jangan Nolak Rezeki"

Lontaran yang kadang terdengar ketika ada seorang yang enggan menerima sesuatu dari dirinya.

Entah hanya sekedar berupa undangan makan nasi bareng di satu bungkus atau hanya berupa hadiah sesuatu yang kurang diminat.

Ikhwatii fillah,
Rasulullah adalah orang yang paling baik dan orang yang paling mulia akhlaknya.

Beliau menuntunkan kepada umatnya dengan sabdanya:
"Kalau seandainya aku diundang kepada sebuah lengan atau sepotong kaki (dari makanan) niscaya aku akan memenuhinya.
Kalau seandainya aku dihadiahkan sebuah lengan atau sepotong kaki (dari makanan), niscaya aku akan menerimanya".
[HR. Bukhari]

Demikianlah bimbingan Rasulullah.

Jika diajak maka memenuhi, dan jika diberi maka menerima dengan sepenuh hati.

Ya. Terimalah dengan tanganmu.

Apapun pemberian saudaramu, maka terimalah. Buatlah saudaramu lapang dengan penerimaanmu.
Jangan jadikan saudaramu menjadi enggan atau malas terhadapmu karena engkau menolak pemberiannya.

Jika engkau tidak membutuhkannya, maka hadiahkanlah kepada saudaramu yang lain. Tentunya tetap dengan menjaga perasaan saudaramu.

Jangan nolak rezeki..

Jangan Sembarangan Memberikan Rekomendasi

Syaikh Shalih Fauzan berkata:

"Dan yang termasuk ke dalam jenis persaksian palsu adalah tazkiyah bathilah (rekomendasi yang palsu).

Yaitu mereka yang merekomendasi seseorang padahal orang tersebut bukan orang yang pantas untuk mentazkiyah.

Yang seperti ini masuk kepada bab syahadah az zuur (persaksian palsu).

Maka jika engkau merekomendasi seseorang bahwa dia adalah baik dan berakhlak, dia begini dan begitu, dia agamanya bagus, padahal orang itu tidak demikian adanya, maka yang seperti ini tidak diragukan lagi, ini termasuk bagian dari persaksian palsu.

Wal'iyyadzu billah".

[Silahkan lihat Syarah Kitab al Kabair Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab karya Syaikh Shalih Fauzan, hal. 22, cet. Ar Risalatul 'Alamiyyah 2012].

*Penulis pernah diberikan oleh Ust. Abdurrahman Mubarak sebuah faidah bahwa yang termasuk dalam bab ini juga adalah mengeluarkan 'surat rekomendasi baik' bagi orang yang keadaannya sebenarnya tidak baik.

Kamis, 19 Februari 2015

Kereta Dakwah

Kereta Dakwah kan Terus Berjalan...

Ya. Estafet dakwah al haq senantiasa terus akan berlanjut.

Rasulullah bersabda:
"Senantiasa akan ada satu kelompok dari umatku yang nampak di atas al haq, mereka tidak termudharatkan dari gangguan (yang menimpa), sampai datang urusan Allah (hari kiamat). Sedangkan mereka masih tetap demikian (tetap di atas al haq).
[HR. Muslim: 1920, dari shahabat Tsauban].

Dakwah akan terus dan terus bergema. Pertolongan Allah selalu bersama al haq dan bersama pemegang al haq.

Rasulullah bersabda:
"Senantiasa satu kelompok dari umatku akan tertolong, mereka tidak akan termudharatkan dengan orang yang mengganggu sampai tegak hari kiamat".
[HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Muqbil al Wadi'i dan Syaikh al Albani. Riwayat dari shahabat Imran bin Husain]

Ikhwatii fillah,
Tidakkah kita ngeri dengan sabda Rasulullah di atas?

Laju dakwah al haq terus berjalan. Melintas pasti di perputaran zaman.

Ketika al haq melintas, tidak peduli siapa yang terlibas, tidak peduli karena sebab apa mereka bisa tergilas.

Tanpa kita, al haq tetap ada.

Tanpa kita, al haq tidak sirna.

Kitalah yang membutuhkan al haq, bukan al haq yang membutuhkan kita.

Ikhwatii fillah,
Jangan main-main dengan syubuhat karena -demi Allah- hati kita ini lemah. Ya. Lebih lemah dari sarang laba.

Jangan sampai perasaan dan kejahilan kita mengalahkan keyakinan dalam bermanhaj.

Mau dikemanakan atsar-atsar salaf yang mereka tegas dan keras terhadap ahlul bid'ah dan ahlul ahwa?

Mau diletakkan dimana kisah dan peringatan salaf dalam praktek mereka menyikapi ahlul bid'ah dan ahlul ahwa?

Belajarlah manhaj, lalu amalkanlah !

Jangan husnuzhan dengan keistiqamahanmu. Mintalah selalu bimbingan kibarul ulama. Janganlah lepas dari nasehat para asatidzah.

Apakah mungkin al haq bersama orang-orang yang menganggap syiah adalah saudara dalam iman semisal Muhammad al Imam?

Apakah mungkin al haq bersama orang-orang yang merestui kampanye penyatuan agama samawi semisal Ali al Halabi?

Ikhwatii fillah,
Ketika ingin istiqamah maka janganlah tertipu dengan jalan yang penuh makar, main-main dan bunglon dalam bermanhaj.


Wa Sedikit Faidah Saja


* Nasehat untuk pribadi agar tidak mau mendengar Daurah al Umairi, apalagi mendatangi.

Menjadi Orang yang Paling..

Umar ibnul Khaththab berkata:

Orang yang paling dermawan adalah orang yang berderma kepada orang lain yang tidak bisa diharapkan balasannya.

Orang yang paling hilm adalah orang yang bisa memaafkan di saat dia mampu membalas.

Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil dengan salam (tidak mau mengucapkan salam).

Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah untuk berdoa kepada Allah.

(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/28. Dinukil dari Raudhatul Hulama, hal. 39, Maktabah Imam al Wadi'i Shan'a)

Senin, 16 Februari 2015

Jangan Mendoakan Kejelekan bagi Anak

Di antara nasehat Syaikh Muhammad Jamil Zainu kepada segenap orang tua:

Jangan kita mendoakan kejelekan kepada anak-anak dengan kebinasaan ketika marah.

Karena doa bisa terkabulkan, baik doa yang baik atau doa yang jelek.

Jika engkau doakan kejelekan, maka mereka akan bertambah pada kesesatan.

Yang afdhal hendaknya kita katakan kepada sang anak:
أصلك الله
Artinya: Semoga Allah memperbaikimu.

(Disadur dari Taujihatul Islamiyyah lil Ishlah karya Syaikh Jamil Zainu, hal. 66, cet. Darush Shahabah 2009)

Akibat Tidak Belajar Serius

"... Allah mensifatkan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang tidak bisa memahami.

Allah berfirman:
"Akan tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami" (Al Munafiqun: 7).

Ini dikarenakan mereka TIDAK SERIUS DALAM THALABUL ILMI, dan mereka tidak mau mendengar suatu nasehat kebaikan yang bermanfaat dari Al Qur'an dan As Sunnah.

Oleh karena itu maka orang-orang munafik terus menerus berada di atas kebodohan dan kesesatan.

Nas'alullah wal 'afiyah..

Maka berpalingnya orang-orang munafik dari belajar (thalabul ilmi), telah menghantarkan kepada batasan kufur.
Sebagaimana firman Allah:
"Yaitu orang-orang yang kufur, ketika diperingatkan, mereka berpaling" (Al Ahqaf: 3).

Atau menghantarkan kepada batasan nifaq.

Orang-orang munafik dahulu menghadiri majelis-majelis Rasulullah. Mereka mendengar beliau di khutbah jumat, akan tetapi ketika selesai, mereka pun keadaannya MASIH SAMA, seakan-akan mereka tidak menghadiri..."

(Disadur dari Syarah al Kabair karya Syaikh Shalih Fauzan, hal. 290, cet. Ar Risalah al Alamiyah 2012).

Kamis, 12 Februari 2015

Hukum Mencuci Tangan Sebelum Makan


"... Para ulama telah berselisih tentang disukainya mencuci tangan, sebelum atau sesudah makan.

Yang nampak adalah disukainya mencuci tangan ketika sebelum makan, kecuali jika ada keyakinan bahwa tangannya bersih dari najis dan kotoran.

Dan disukainya mencuci tangan ketika selesai makan, kecuali jika tidak ada bekas-bekas makanan di tangannya. Seperti seorang yang makan tapi tidak langsung menyentuh makanannya (contoh: dengan sendok)..."

(Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim bab 24, jil. 2, hal. 42, cet. Dar Ibnul Jauzi 2011)

* Faidah taklim Shahih Muslim dari Ust. Abdurrahman Mubarak di Ma'had Riyadhul Jannah, senin ba'da shubuh 14 Rabi'ul Awal 1436 H

Ta'awun

Ta'awun adalah sarana kebahagiaan dan kesuksesan hidup

"... Segala apa yang terjadi hubungan interaksi pada makhluk berupa pergaulan, saling bantu dan pertemanan, maka di dalamnya ada kewajiban untuk saling bersama-sama tolong menolong di atas keridhaan Allah dan ketaatan kepada-Nya.

Dimana hal itu adalah puncak tuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan seorang hamba.

Dan tidak ada kebahagiaan baginya kecuali dengan menerapkannya.

Itulah al bir wat taqwa.

Dimana keduanya merupakan kesatuan ajaran Islam secara keseluruhan..."

(Ibnul Qayyim dalam Risalah Tabukiyah, hal. 30)

Mentasmikan Hafalan kepada Orang yang Tidak Faham

Berkata Ibnu Muflih:
Diriwayatkan dari Imam az Zuhri bahwasanya beliau jika kembali ke rumahnya dan telah mendengar hadits-hadits yang banyak, maka beliaupun mengulangi hadits-hadits tersebut kepada budak kecil wanitanya, dari awal sampai akhir sebagaimana apa yang beliau dengar.

Beliau pun berkata kepada kepada budak kecil tersebut:
Sesungguhnya aku hanya ingin menghafalnya.

Dan perbuatan Imam az Zuhri ini beliau lakukan juga kepada anak-anak kecil TPA dalam rangka menghafal.

(Al Adabusy Syari'ah 2/120. Dinukil dari Al Hifzh, hal 58, cet. Darul Qasim 2003)