Senin, 29 Juni 2015

Momen tak Terlupa

Momen yang tak terlupakan..

Indah?

Tidak.

Momen ini adalah momen yang disesali dan tidak mau diterulangi.

Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib 9/204, Muhammad ibn Sama'ah rahimahullah menuturkan, "Selama 40 tahun, Aku tidak pernah tertinggal takbir yang pertama (takbiratul ihram dalam shalat), kecuali di satu hari.

Yaitu ketika itu ibuku meninggal, aku pun dengan sebab itu tersibukan dan tertinggal shalat jama'ah."

Dalam kitab yang lain, Dzailu Thabaqat al Hanabilah 2/365, Al Qadhi Taqiyuddin Sulaiman berkata, "Aku tidak pernah sama sekali, shalat fardhu dengan munfarid (sendiri) kecuali dua kali.

Perasaan ketika itu, seperti belum menunaikan shalat saja."

Ikhwatii fillah,
Sampai segitunya ya..

Lalu kita bagaimana?

Kira-kira yang aneh kita atau mereka ya?

Nas'alullah salamah wal 'afiyah.

Sabtu, 27 Juni 2015

Puasa Tapi Tidak Shalat


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum seorang yang berpuasa di bulan Ramadhan tetapi dia dalam keadaan meninggalkan shalat.

Syaikh menjawab, "Sesungguhnya orang yang berpuasa tapi tidak shalat maka puasanya tidak bermanfaat dan tidak akan diterima.

Beban kewajiban berpuasa telah hilang pada dirinya.

Bahkan dia tidak dituntut untuk berpuasa selama dia tidak shalat. Karena orang yang tidak shalat seperti orang Yahudi dan Nashrani.

Kira-kira apa pendapat kalian jika ada seorang Yahudi atau seorang Nashrani berpuasa, apakah akan diterima puasanya?

Tentunya tidak.

Maka kalau begitu kami katakan kepada orang yang tidak shalat: Taubatlah engkau kepada Allah dengan melaksanakan shalat dan puasa!

Barangsiapa yang bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya."

(Terjemah bebas dari Majmu'ah Rasail fish Shiyam-Syaikh Ibnu Baz wa Syaikh Utsaimin, hal. 19, cet. Darul Aqidah 2008).

Rabu, 24 Juni 2015

Enjoy Ramadhan

Pendosa.

Itulah kita.

Jika dosa mempunyai warna hitam, niscaya tubuh ini kelam dengan warna gelap.

Kalau dosa ini mempunya bau yang tidak sedap, niscaya kita menjadi makhluk yang paling busuk di antara makhluk lainnya.

Ikhwatii fillah,
Tahukah Anda, termasuk keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan adalah sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Artinya: "Barang siapa yang berpuasa dengan iringan iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu."

Masya Allah..
Tidakkah kita gembira dengan sabda nabi di atas?

Tentu. Sebagai seorang muslim, kita gembira.

Tapi, apa makna iman dan ihtisab dalam hadits di atas?

Syaikh Utsaimin menerangkan makna "iman" dalam hadits di atas, yakni dalam keadaan beriman kepada Allah dan dalam keadaan dirinya ridha ketika menjalankan kewajiban puasa yang dibebankan kepadanya.

Adapun makna "ihtisab" adalah mengharap pahala dan ganjaran atas puasanya.

Tidak merasa kesal dalam menunaikannya.

Juga tidak ragu terhadap pahala dan ganjaran yang kelak didapat.

Yaitu berupa ampunan dosa-dosa yang dikerjakannya di masa yang telah lewat.

(Lihat Majalis Syahru Ramadhan-Syaikh Utsaimin, hal. 10-11, cet. Darul Aqidah 2008).

Ikhwatii fillah,
Nikmatilah Ramadhan dengan iman dan ihtisab.

Jangan lagi terbetik dalam hatimu, 'Ramadhan cepatlah berlalu'.

Selasa, 23 Juni 2015

Ramadhan Bulan Kesabaran

Berkata Ibnu Rajab al Hanbali, "Sabar ada tiga macam:

1. Sabar di dalam menjalankan ketaatan
2. Sabar dalam menahan diri dari perkara yang Allah haramkan
3. Sabar dalam menjalani takdir yang tidak disuka.

Ketiga sabar di atas terkumpul di dalam puasa.

Karena di dalam puasa ada kesabaran di dalam menjalankan ketaatan.

Ada pula kesabaran dari orang yang berpuasa untuk menahan diri dari apa-apa yang Allah haramkan berupa syahwat.

Juga ada kesabaran dari orang yang berpuasa untuk menanggung kesusahan akibat dari puasanya, seperti rasa lapar, haus dan lemahnya badan."

(Terjemah bebas dari Lathaiful Ma'arif-Ibnu Rajab al Hanbali, hal. 193-194, cet. Dar Ibnil Jauzi 2013)

Senin, 22 Juni 2015

Walau Keningnya Ada Bekas Sujud...


Syaikh Shalih ibn Abdilaziz ibn Muhammad alu Syaikh berkata, "... Sesungguhnya ibadah tidak akan diterima kecuali dengan tauhid.

Hal itu seperti thaharah (bersuci) pada shalat.

Maka tauhid adalah syarat diterimanya ibadah. Yakni keikhlasan.

Ketika thaharah adalah syarat dari sahnya shalat. Tentunya shalat tidak sah kecuali dengan thaharah.

Demikian pula suatu ibadah yang dilakukan seseorang, tidaklah sah kecuali orang tersebut seorang yang bertauhid. Walaupun orang tersebut di keningnya ada bekas sujud, sering berpuasa di siang hari atau suka shalat di malam hari.

Karena syarat diterimanya perkara itu, yang mengamalkannya harus seorang yang bertauhid nan ikhlash."

(Terjemah bebas dari Syarah al Qawa'idul Arba'-Syaikh Shalih Abdulaziz alu Syaikh, hal. 17, cet. Darul Mushtafa 2012).

Hukum Anak TK Puasa Ramadhan

"Lama banget sih maghribnya..."

Bersamaan dengan waktu yang menunjukkan angka 3 di sore hari.

Seorang anak TK yang berumur hampir 5 tahun mengeluh kepada ibunya.

Terlihat di wajahnya kelesuan.

O.. Anak tersebut ternyata sedang berpuasa.

Subhanallah...

Walau belum terbebani kewajiban, si anak ini terus mempertahankan puasanya.

Walau sesekali keluhan dan kekesalan terlontar di tengah kepayahannya.

"Sabar dong.. Sebentar lagi juga maghrib", ucap sang ibu kepada anaknya.

"Yo, jalan-jalan sama Abi ke mahad...", ajak sang ayah.

Akhirnya, sang anak pun ikut bersama ayahnya. Melupakan sejenak haus dan laparnya.

Ikhwatii fillah,
Demikian salah satu keadaan sebuah keluarga yang tengah mendidik anaknya berpuasa di bulan Ramadhan.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Tidaklah wajib puasa Ramadhan bagi anak kecil yang belum baligh.

Akan tetapi, jika tidak didapati kepayahan pada anak tersebut, maka boleh untuk diperintah berpuasa dalam rangka melatihnya.

Dahulu para shahabat nabi memerintahkan agar anak-anak mereka berpuasa.

Sampai pun, jika anak-anak mereka menangis karena kelaparan, mereka mengajak main anak-anak tersebut sampai menjelang berbuka tiba."

(Terjemah bebas dari Dhiya'ul Lami' min Khutabil Jawami'-Syaikh Utsaimin, jil. 2, hal. 129, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Sabtu, 20 Juni 2015

Seorang Muwahid Harus Waspada

Syaikh Shalih ibn Abdilaziz ibn Muhammad alu Syaikh berkata, "... Seorang yang muwahid berada di atas bahaya.

Yakni bahaya al ghurur (tertipu).

Ghurur karena dia menganggap dirinya sebagai ahlut tauhid.

Atau menganggap dirinya termasuk orang yang mengikuti salaf.

Atau termasuk orang yang berilmu tentang ilmu tauhid.

Kemudian dengan anggapan di atas, hati dia pun tidak ada ketundukkan dan kepasrahan terhadap perkara-perkara yang diharamkan Allah kepadanya."

(Terjemah bebas dari Syarah al Qawa'idul Arba'-Syaikh Shalih Abdulaziz alu Syaikh, hal. 14, cet. Darul Mushtafa 2012).

Bagaimana Jika Orang Kafir Masuk Islam di Bulan Ramadhan?

Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi:
Seorang yang muslim
Baligh
Berakal
Mampu
Mukim (tidak sedang safar/bepergian)
Baik laki-laki maupun perempuan yang tidak haidh dan nifas.

Puasa tidak diwajibkan atas orang kafir.

Jika orang kafir tersebut masuk Islam di tengah bulan Ramadhan, maka tidak mengharuskannya untuk mengqadha di hari-hari sebelum masuk Islamnya.

Walaupun dia masuk Islam di tengah hari pada bulan Ramadhan, maka yang harus dilakukannya adalah berpuasa di sisa waktu harinya.

Adapun sisa waktu sebelum Islamnya dia, tidaklah diqadha.

(Terjemah bebas dari Adh Dhiyaul Lami' minal Khuthabil Jawami'-Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/129, cet. Maktabatush Shaffa 2005).

Kamis, 18 Juni 2015

Menjaga Puasa

Puasa di bulan Ramadhan adalah amalan yang besar.

Maka besar pula perjuangan untuk menunaikannya.

Jika hanya sekedar menahan makan dan minum, sungguh, anak kecil umur 7 tahun pun mampu melakukannya.

Akan tetapi yang berat adalah menahan pandangan, lisan dan perasaan yang menghantarkan kepada kemaksiatan.

Tahukah Anda, para salafush shalih ketika mendapati dirinya sedang berpuasa, mereka sangat-sangat menjaga puasanya.

Dibawakan suatu atsar di dalam kitab Hilyatul Aulia 1/382, Abu Hurairah menuturkan bahwasanya dahulu para shahabatnya tatkala berpuasa, mereka duduk di mesjid. Mereka berkata, "Kami ingin menjaga puasa kami".

Masya Allah..

Coba sejenak kita ingat. Di hari ini sudah berapa kali kita telah merusak pahala puasa kita?

Hanya Allah lah tempat memohon ampun.

Pembatal-Pembatal Puasa

Pembatal-Pembatal Puasa ada 8

1. Makan
2. Minum
3. Jima (berhubungan suami istri)
4. Keluarnya air mani dengan diiringi kelezatan (misalnya dengan onani)
5. Infus yang menghasilkan energi layaknya makan dan minum
6. Muntah dengan sengaja
7. Keluarnya darah haidh atau nifas bagi wanita
8. Keluarnya darah dengan sebab berbekam.

Perkara-perkara di atas tentunya membatalkan puasa jika dilakukan dengan 3 syarat:

1. Dia berilmu tentang hukum puasa dan tahu bahwa sekarang sedang di bulan Ramadhan.

2. Dia dalam keadaan sadar dan tidak lupa.

3. Dia memang sengaja melakukannya tanpa ada paksaan dari pihak lain.

(Disarikan dari Muqaddimah 48 Sualan fish Shiyam-Syaikh Ibnt Utsaimin. Dinukil dari Majmu'atur Rasail ash Shiyam wat Tarawih, hal. 10-12, cet. Darul Aqidah 2008).

Selasa, 16 Juni 2015

Buah dari Mengenal Allah dan Tauhid


Syaikh Shalih ibn Abdilaziz ibn Muhammad alu Syaikh berkata, "... Maka inilah yang selalu ada pada diri setiap orang yang bertauhid.

Yakni, bersyukur ketika diberi (kenikmatan), bersabar dikala tertimpa musibah dan beristighfar dari dosa dan kesalahan.

Semakin besar pengetahuan seorang hamba dalam mengenal Rabbnya, maka semakin besar pula (kemudahan dalam menunaikan) ketiga perkara di atas.

Semakin besar tauhid seorang hamba di dalam hatinya maka semakin besar pula (kemudahan dalam menunaikan) tiga perkara ini."

(Lihat Syarah al Qawa'idul Arba'-Syaikh Shalih Abdulaziz alu Syaikh, hal. 14, cet. Darul Mushtafa 2012).

Senin, 15 Juni 2015

Lihatlah ke Atas Langit!

Seseorang pernah mendatangi Abu Yazid al Busthami.

Orang itu berkata, "Wahai Abu Yazid, berikanlah kepadaku sebuah nasehat!"

"Lihatlah ke atas langit!", jawab Abu Yazid.

"Apakah engkau tahu siapa yang menciptakan langit tersebut?", tanya Abu Yazid kepada orang itu.

Orang itu pun menjawab, "Yang menciptakan tentunya Allah".

Maka Abu Yazid berkata, "Sesungguhnya, siapa yang menciptakan langit tentunya akan mengawasimu dimana engkau berada. Maka berhati-hatilah terhadap-Nya!"

(Hilyatul Aulia 10/35. Dinukil dari Tahdzib-nya, hal. 762. Cet. Daruth Thayyibah 2005).

Kita Lebih Pantas untuk Dicela

Celaan Itu Jauh Lebih Pantas Jika di Tujukan kepada Diri Kita

Wahai saudaraku para mudarris dan pengasuh ma'had, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat.

Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan, "Apabila dia meninggal, niscaya kitabnya akan menjadi panutan." (As Siyar 10/147).

Siapakah yang Imam Ahmad maksud?

Dialah yang melayangkan tendangannya ke Yahya ibn Ma'in sampai terjungkal, ketika Yahya mengetes hafalannya. (As Siyar 10/149).

Sekali lagi, siapakah dia?

Dialah Abu Nu'aim, Al Fadhl ibn Dukain.

Ikhwatii fillah para pengampu ma'had,
Fadhl ibn Dukain oleh sebagian temannya dicela karena mengambil upah dari kegiatan mengajarnya.

Tapi apakah alasan beliau?

Dalam Tahdzibul Kamal, beliau menuturkan, "Mereka mencelaku karena sebab aku mengambil upah, padahal tanggungan di rumahku ada 13 jiwa, dan tidak ada sedikitpun roti di rumahku."

Subhanallah..
13 jiwa?

Apakah kita sudah sampai ke taraf seperti itu, hingga harus menuntut imbalan dalam mengajar?

Jangan salah paham.

Imam Adz Dzahabi dalam As Siyar 10/152 menjelaskan, "Beliau dicela karena mengambil upah, yakni mengambil upah dari penguasa. Bukan dari murid-muridnya."

Allahu musta'an..
Betapa pantas celaan itu ditujukan ke diri-diri kita.

Tips Sukses Thalibul Ilmi dari Imam Malik

Sedikit bocoran dari Imam Malik buat para penuntut ilmu agar menuai kesuksesan.

Beliau rahimahullah berkata, "Seseorang tidak akan sampai kepada (puncak) kedudukan ilmu (syari) ini, sampai kefakiran memudharatkannya dan sampai ilmu lebih diutamakan atas semua perkara."

Dalam ucapannya yang lain, "Tidak akan sampai perkara (ilmu) ini sampai bisa merasakan lezat dari makanan orang fakir."

(Shuwar min Shabril Ulama ala Syadaidil Ilmi wat Tahshil, hal. 66, cet. Darul Ghadil Jadid 2009).

Jumat, 12 Juni 2015

Bagai Mengukir di Atas Batu

"Menghafal di waktu kecil, seperti mengukir di atas batu"

Demikianlah apa yang terucap dari Al Imam Qatadah di dalam Siyar A'alamun Nubala 5/275.

Oleh karenanya, beliau sabar dan tekun dalam mengajari murid-murid kecilnya.

Berikut penuturan salah satu muridnya Ma'mar rahimahullah, "Dahulu aku mendengar hadits dari Qatadah, saat itu umurku 14 tahun. Tidak satu pun yang ku dengar di kala itu kecuali seakan telah menancap di dadaku."
(As Siyar 7/6)

Ikhwatii fillah,
Janganlah kita sia-siakan masa emas putra-putri kita.

Simak pula penuturan seorang tabi'in lainnya, Alqamah ibn Qais di dalam kitab Hilyatul Aulia 2/101,
"Segala yang aku dulu hafalkan ketika di masa mudaku, seakan aku masih bisa melihatnya di kertas atau di catatan."

Ikhwatii fillah,
Tidakkah ingin anak-anak kita menjadi penghafal Qur'an dan Hadits sejak dini?

*Atsar-atsar dinukil dari Al Hifzh-Abdul Qayyum as Sahaibani, hal. 74, cet. Darul Qasim 2003.

Lagi Lapang?


Hati-hati, jangan tertipu!

Syaikh Ahmad ibn Yahya an Najmi rahimahullah menerangkan tentang salah satu sifat orang-orang jahiliyah dahulu.

Beliau berkata, "Bahwasanya orang-orang jahiliyah adalah orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunianya.

Mereka mengira bahwa apa yang Allah telah berikan kepada mereka, adalah bentuk keridhaan-Nya.

Pada hari ini, mayoritas kaum muslimin tengah meyakini anggapan ini.

Mereka menganggap bahwa segala perkara dunia yang Allah berikan, adalah karena sebab keridhaan-Nya semata."

(Al Amalin Nahmiyyah ala Masaail Jahiliyyah-Syaikh Ahmad Yahya an Najmi, hal. 68, cet. Darul Minhaj 2013).

Syu'bah, Tidak Sempat Ngurus Pakaian

"Beliau adalah satu-satunya pemimpin (rujukan) dalam masalah ini."

Demikian komentar Al Imam Ahmad ibn Hanbal ketika ditanya akan kedudukan Syu'bah dalam masalah hadits.

Dialah Abu Bustham, Syu'bah ibnul Hajjaj.

Wajar.

Beliaulah yang menyatakan, "Barangsiapa yang menuntut ilmu hadits maka (dunianya) akan bangkrut."

Beliau juga yang warna bajunya seperti warna tanah.

Mengapa?

Disebutkan dalam Tadzkiratul Huffazh karya Khaththib al Baghdadi 1/194, seorang muridnya yang bernama Abu Qathn menerangkan, "Itu terjadi karena beliau (Syu'bah) sangat sibuk dengan ilmu."

Ya. Sibuk dengan kegiatan ilmu sehingga tidak sempat mengurusi pakaiannya.

Rihlah dan bermudzakarah menjadi aktivitas keseharian.

Ikhwatii fillah,
Maukah kita menanggung bangkrut?

Kamis, 11 Juni 2015

Anaknya Meninggal tak Menyurutkan dari Menuntut Ilmu

Tak kuasa kepala ini tuk bergerak ke kiri dan ke kanan, menggeleng seraya terucap Masya Allah..

Penulis rasakan ketika membaca kisah mencengangkan dari seorang murid Abu Hanifah.

Al Qadhi Abu Yusuf, Ya'qub ibn Ibrahim rahimahullah.

Di dalam kitab Manaqib Abu Hanifah 1/472, dinukil bahwa Muhammad ibn Qudamah berkata, Aku mendengar Syuja' ibn Makhlad berkata, bahwa Aku mendengar Abu Yusuf berkata:

"Suatu hari anakku meninggal dunia.

Tidaklah aku menghadiri atau andil dalam mengurusi jenazahnya.

Aku titipkan pengurusan jenazahnya kepada tetangga dan kerabat-kerabatku.

Kulakukan itu karena kekhawatiran akan terluputnya suatu ilmu yang akan disampaikan oleh Abu Hanifah (di majelis ilmunya).

Jika aku terluput dari majelisnya, niscaya kesedihanku (karena luputnya ilmu) tidak akan hilang begitu saja."

Subhanallah..!

Kematian anaknya tidak menjadi alasan untuk absen dari majelis ilmu.

Ikhwatii fillah,
Kisah di atas semoga bisa menyegarkan kembali semangat yang tengah memucat.

Bukankah kelemahan akan semakin lemah jika dibiarkan? Bagaimana lagi jika kelemahan dilapisi alasan-alasan?

Nas'alullah salamah wal 'afiyah.

# Semangat menghadiri daurah masyaikh di Mesjid Manunggal Bantul, 6-7 Juni 2015.

Syubhat ?


So what, gitu lho..

Kira-kira itulah model orang yang merasa kuat dengan syubuhat.

Diberitahu jangan dekat-dekat ahlu syubhaat, ada saja alasannya.

Sok tahu dengan ilmu.

Padahal para ulama sudah menasehatkan agar jangan bermudah-mudah dengan ahlul bid'ah. Tapi memang manusia, sebagian lain menjadi ujian bagi yang lainnya.

Yang pasti, tanggung resiko sesat sendiri.

Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu mengutarakan nasehatnya terkait dengan hal ini. Beliau mengatakan,

"Di antara manusia banyak yang tertipu dengan pengetahuan (ilmu) dan kecerdasan yang ada pada mereka.

Sehingga mereka pun bergaul dan berbaur bersama ahlul bidah.

Maka Allah pun membiarkan mereka dengan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, mereka pun terjatuh kepada kesesatan.

Ini adalah perkara yang nyata terjadi."

(Silahkan lihat Syarah Ushulus Sunnah al Imam Ahmad-Syaikh Rabi, hal. 10, cet. Maktabatul Hadyi Muhammadi 2008).

Khasyah dan Ujub

Sekian lama kita menuntut ilmu, tapi apa yang kita dapat?

Masruq ibnul Ajda' rahimahullah berkata, "Cukuplah seorang dianggap sebagai seorang 'alim ketika pada dirinya ada sifat khasyah (takut) kepada Allah. Dan cukuplah seorang dianggap sebagai orang jahil ketika pada dirinya ada sifat ujub (bangga diri) karena ilmunya."
(Thabaqaat Ibnu Sa'ad 6/80).