Minggu, 22 Januari 2023

Mencari Ridha Semua Manusia = Tidak Mungkin !

Al Imam Asy Syafi'i rahimahullahu pernah menasehati shahabatnya Yunus ibn Abdil A'la, beliau berkata,


لو اجتهدت كل الجهد على أن ترضى الناس كلهم فلا سبيل, فأخلص عملك ونيتك لله عز وجل

"Kalau engkau bersungguh-sungguh dengan segala upayamu untuk mendapatkan ridha manusia seluruhnya, maka tidak akan ada jalan (untuk mencapainya). Maka ikhlaskan amalan dan niatmu untuk Allah azza wa jalla."

(Al Majmu', Imam An Nawaawi, 1/13)

Kedudukan Kitab "Hayatush Shahabah" karya Al Kandahlawi (Tokoh Jama'ah Tabligh)

Asy Syaikh Muqbil rahimahullahu pernah ditanya, 


ما رأيكم بكتاب حياة الصحابة للكاندهلوي ؟

Apa pendapat Anda dengan kitab "Hayatus Shahabah" karya Al Kandahlawi

Maka beliau menjawab,

< حياة الصحابة > فيه أحاديث صحيحة ، وأحاديث ضعيفة ، وأحاديث موضوعة ، وقصص باطلة ، فلا ينبغي أن يُعتمد عليه ، لكن ننصح بالقراءة في < فضائل الصحابة > للإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى ، وكذلك أيضاً في < الإصابة > للحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى ، وفي < الأستيعاب > لأبن عبدالبر ، على أنهم قالوا : أن ابن عبد البر ربما ذكر في كتابه - وكتابه قيم - ربما ذكر فيه بعض الأشياء التي فيها نقيصة على بعض الصحابة رضوان الله عليهم .

"Hayatus Shahabah" di dalamnya terdapat hadits-hadits yang shahih, hadits-hadits yang dhaif/lemah,

Maka tidak sepantasnya untuk menjadikan sandaran kepada kitab tersebut, akan tetapi kami menasehatkan untuk membaca pada kitab "Fadhail Ash Shahabah" karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, demikian juga dengan kitab Al Ishabah milik Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, dan kitab Al Isti'ab karya Ibnu Abdul barr, walaupun para ulama menyatakan (mewanti-wanti) bahwa Ibnu Abdilbarr kadang menyebutkan di dalam kitabnya -dan kitabnya kuat- terkadang menyebutkan di dalamnya sebagian permasalahan yang memuat kekurangan atas sebagian shahabat ridhwanullah alaihim."

Sumber:
https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=1475

Di Antara Hasungan untuk Anak-anak Kita

Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, 


فهكذا ينبغي أن نربي أبناءنا على المساجد، وعلى مجالسة الصالحين، وعلى قراءة القرآن، قراءة القرآن التي أصبحت مهجورة عند كثير من الشباب الإسلامي وفي كثير من البلاد الإسلامية.

“Demikianlah, sudah semestinya mendidik anak-anak kita menuju ke masjid (untuk shalat/beribadah) dan bermajelis dengan orang-orang shalih serta mendidik mereka untuk membaca Al Qur'an, di mana membaca Al Qur'an kini telah terjauh pada kebanyakan kaum muda muslim dan pada mayoritas negeri-negeri islam."

(Al Mushara'ah, Syaikh Muqbil, cetakan pertama, hal.193).

Bukan Ilmu Saja, tapi Juga Amal dan Mengikuti Al Haq !

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,


الرفعة لا تكون بمجرد العلم
بل باتباع الحق ، و العمل به

Keluhuran tidak akan terwujud dengan ilmu semata, akan tetapi juga dengan mengikuti al haq dan beramal dengan ilmu tersebut".

(I'lamul Muwaqqi'in, Ibnul Qayyim, 1/167).

Manfaat Air Zam-zam

Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullahu berkata, 


سمعت الحسين بن محمد يحكي عن ابن خيرون أو غيره: أن الخطيب ذكر أنه لما حج شرب من ماء زمزم ثلاث شربات، وسأل الله ثلاث حاجات، أن يحدث بتاريخ بغداد بها، وأن يملي الحديث بجامع المنصور، وأن يدفن عند بشر الحافي، فقضيت له الثلاث."

"Aku mendengar Al Hussein bin Muhammad menghikayatkan dari Ibnu Khairun atau selainnya, bahwa Al-Khathib (al-Baghdadi) menyebutkan, bahwasanya beliau ketika berhaji minum air zam-zam sebanyak 3 kali dan meminta kepada Allah tiga hajat/permintaan. (Pertama) agar bisa menyampaikan/menulis tarikh/sejarah baghdad, (kedua) agar bisa membacakan hadits di Masjid Jami Al Manshur dan (ketiga) agar kelak dimakamkan di sisi Bisr al-Hafi. Maka Allah subhanahu wa ta'ala menunaikan tiga hajatnya tersebut".

(Siyar Alamun Nubala, Adz Dzahabi, jil. 18, hal. 279).

Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid Didapat Pula Ketika Pulangnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. 

Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafizhahullahu menyatakan,

وهذا الثواب كما يكون في الذهاب، فإنه يكون أيضاً في الإياب

"Dan pahala ini (keutamaan berjalan menuju masjid) sebagaimana di dalam perginya juga (sama dalam pahalanya), karena sesungguhnya mendapatkan pula ketika pulangnya". (Syarhul Adabil Masyi ilash Shalah hal. 9, cet. Darul Furqan).

Penjelasan Hadits Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah beristirahat, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,

وإسباغ الوضوء في المكاره يعني في حال البرودة -برودة الجو وبرودة الماء- كونه يسبغ الوضوء في هذه الحال يدل على عظيم العناية بالوضوء والحرص على أن تؤدى الصلاة بوضوء شرعي سليم

Menyempurnakan wudhu pada saat keadaan kurang nyaman yakni dalam keadaan yang dingin -dingin udaranya dan dingin airnya- dilakukan sempurna di dalam wudhunya pada keadaan tersebut, menunjukkan tingginya perhatian orang tersebut dengan perkara wudhu dan semangatnya ia dalam menunaikan shalat dengan wudhu yang syar'i.


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata pula,

وليس معنى الرباط أنه يبقى في المسجد لا يعمل لحاجاته ولا يذهب لقضاء حاجة أهله ولا يبيع ولا يشتري لا، المقصود: أنه يكون على باله الصلاة وعلى همته وعلى عزمه لا تذهب عن قلبه وفكره، بل كلما فرغ من صلاة فالصلاة على باله لا ينساها ولا يضعف عنها، بل هو مرابط في هذا الأمر بالتذكر والعناية والمحافظة والمسارعة كل صلاة في وقتها

Bukanlah makna ar ribath itu ia tinggal di masjid, janganlah ia mengamalkan sesuatu di masjid untuk keperluannya, jangan pula ia pergi ke masjid untuk menunaikan keperluan keluarganya, tidak pula untuk menjual atau membeli, bukan!. Maksudnya adalah ia menjadikan pada dirinya hanya ada shalat, dan tujuan utamanya serta fokusnya tidak keluar dari hati dan pikirannya melainkan untuk shalat.
Setiap ia selesai dari shalat, maka perkara shalat di jiwanya tidak terlupakan dan tidak lemah dari menunaikannya.

Bahkan ia mutlak mengikat perkara shalat ini dengan dzikir , perhatian, penjagaan dan bersegera di setiap shalat pada waktunya". D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D9%84%D9%83%D9%85- %D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D9%85%D8%AD%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9% 84%D9%87-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%88%D9 %8A%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%AC%D8%A7%D8 %AA
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di
catatankajianku.blogspot.com #ibadah