Minggu, 13 Agustus 2023

Efek Negatif Menyia-nyiakan Shalat



Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

" كل المشاكل التي تُصيب الإنسان من الخواطر والوساوس والتهاون كله بسبب إضاعة الصلاة ".
[جلسات رمضانية(١٩/٢)]

"Setiap permasalahan yang mengenai seorang insan berupa kesulitan-kesulitan, was-was dan kerendahan, semuanya disebabkan karena penyia-nyian shalat".

(Jalasaat Ramadhaniyyah, 2/19)

Mati dalam Thalabul Ilmi


Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Akan dibangkitkan setiap hamba di atas keadaan ia meninggalnya” (HR. Muslim).

Kita harus menyadari bahwa barangsiapa yang hidup di atas sesuatu maka ia akan mati di atas sesuatu tersebut, maksudnya ketika ada seseorang yang kebiasaannya melakukan suatu amalan, maka besar kemungkinannya ia menutup usia di atas amalan yang menjadi kebiasaannya tersebut.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud. Hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Selintas betapa mudahnya mengamalkan kandungan hadits di atas. Tapi apakah yakin kita bisa melakukannya saat nafas telah di ujung kerongkongan? Dalam keadaan kita tidak tahu akhir kehidupan kita bagaimana dan sedang apa..?! Husnul khatimah kah atau su'ul khatimah?

Maka jika kita sudah sadar, bahwa sangat sulit untuk bisa memastikan pertanyaan di atas, tentu kita tidak bisa diam dan berpangku tangan, hal ini harus kita perjuangkan dan ada usaha untuk meraihnya.

Asy Syaikh Al Albani rahimahullahu di dalam karyanya yang berjudul 'Ahkamul Janaiz' (hal. 58) mengulas pembahasan tanda-tanda husnul khatimah, dan di antaranya adalah membawakan sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengucapkan laailahaillallah karena mencari wajah Allah (ikhlash) kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad dan dinyatakan oleh Syaikh Al Albani bahwa sanad hadits ini shahih).

Syaikh Al Albani rahimahullahu memahami hadits di atas tidak menjadikan ketiga amalan yang tersebut sebagai pembatasan, namun ini berlaku umum. Apapun amalan shalih yang ikhlash ketika dilakukan seorang hamba menutup usianya, maka ia bisa diharapkan sebagai orang yang mati husnul khatimah.

Dari pijakan hadis di atas juga, sudah semestinya kita perhatian terhadap kebiasaan masing-masing. Mulai dalam mencari nafkah, problem keluarga, mendidik anak, kegiatan pondok, ta'awun ma'had, dan sejumlah kegiatan dan aktivitas harian lainnya, hendaknya semua harus diniatkan ikhlash mengharap wajah Allah semata, agar bernilai ibadah dan bukan sekedar rutinitas biasa tanpa pahala.

Sebaliknya, janganlah rasa bosan dan jenuh menghinggapi aktivitas ibadah kita. Futur dalam beramal adalah perkara yang berbahaya. Segeralah untuk memompa semangat baru. Carilah jenis amalan-amalan ibadah lain yang bisa dikerjakan di luar amalan-amalan yang biasa kita kerjakan. Ketika kita merasa jenuh menghafal, maka kita bisa mengganti dengan membaca. Ketika lemah dalam membaca, maka bisa kita ganti dengan mendengar, dan seterusnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa terus beramal, jangan beri celah kejelekkan untuk masuk mengisi kekosongan.

Ketika kita merasa turun semangat untuk thalabul ilmi, maka ingatlah, apa tujuanmu thalabul ilmi? Tujuan kita thalabul ilmi bukan dengan hasil akhirnya, tapi hendaknya lebih dititikberatkan kepada prosesnya. Hasil akhir bukan wewenang kita, tapi itu adalah ketentuan Allah semata. Kita hanya diwajibkan untuk menjalani prosesnya dan istiqamah di dalamnya, bahkan sampai akhir hayat kita.

Sulit memahami pelajaran, susah menambah menghafal, jenuh di pondok, tidak cocok dengan salah seorang teman, kurang tidur, sedikit makan, maka itu semua adalah warna-warni seorang thalabul ilmi. Baik santri ataupun yang bukan santri. Ketika semua itu ada, maka ingatlah semua mesti ada ujian dan rintangannya. Harus dihadapi dengan sabar dan doa.

Yakinlah semua kesulitan dan kesempitan di dalam proses thalabul ilmi adalah penuh ganjaran dan bertabur pahala. 

Sampai kapan kita thalabul ilmi? Maka jawablah seperti Imam Ahmad menjawab, "Sampai mati !". Iya, sampai mati. Perhatikanlah kisah Abu Zur'ah yang menutup usianya dengan mengucapkan kalimat laailahaillah. Ketika Abu Zur'ah sakit menjelang wafatnya, teman-temannya beliau ingin menalqinkannya dengan kalimat laailahaillallah, tapi mereka segan karena kedudukan beliau sebagai seorang imam ahlul hadits besar, maka salah seorang temannya membacakan untaian perawi yang menghantarkan kepada isi hadits tentang menalqinkan seorang yang ingin menutup usianya. Maka di tengah sanad hadits tersebut Abu Zur'ah melanjutkannya sampai terucaplah kalimat laailahaillallah tersebut di lisan Abu Zur'ah ketika jelang wafatnya, subhanallah.

Kisah di atas sudah semestinya bisa memotivasi kita untuk semangat dalam memperjuangkan akhir hayat ini dengan thalabul Ilmi.

Sungguh heran jika ada seorang yang berstatus thalabul Ilmi, baik santrinya maupun yang bukan santrinya, merasa bingung dengan kekosongan waktu ketika seorang pengajar atau ustadz yang akan mengisi di majelis ilmu tidak hadir. Padahal waktu kekosongan itu bisa dimanfaatkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Kedudukan waktu bagi seorang thalabul Ilmi sangatlah berharga. Waktu adalah modal bagi seorang thalabul ilmi untuk ibadah dan berkarya. 

Betapa banyak contoh-contoh para ulama ahlussunnah yang mempunyai karya-karya fenomenal. Berjilid-jilid tulisan telah mereka sumbangkan untuk agama ini. Bagaimana itu terhasil? Tentu itu karena waktu-waktu yang mereka manfaatkan. Seorang thalabul Ilmi seharusnya merasa kekurangan waktu, dan jika ada waktu yang bisa untuk dibeli, niscaya mereka akan rela mengantri untuk membelinya, sebagaimana orang-orang yang di luar sana juga berharap demikian. Orang-orang yang kesehariannya sibuk dengan dunia, ingin juga membeli waktu untuk menambah penghasilan dan pemasukan income dunianya.

Jadi, thalabul ilmi sampai kapan? Thalabul ilmi sampai mati! Mati dalam Thalabul Ilmi.

(Tulisan terhasil dari catatan tausiyah bada shubuh bersama Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah-Cileungsi, 18 Dzulqadah 1443H / 18 Juni 2022)

Tiga Sebab Istiqamah dan Meraih Surga

 

Perjalanan hidup seorang hamba mesti akan mendapatkan ujian dan cobaan. Allah yang Maha Hikmah memberikan ujian dan cobaan tersebut agar terbukti, apakah seorang hamba ini akan tetap Istiqamah ataukah ia akan gugur di tengah perjalanannya meniti jalan kemenangan, yaitu mendapatkan jannah-nya Allah subhanahu wa ta'ala.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja ketika mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?. Sungguh, Kami telah uji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui -dan sejatinya Allah telah mengetahui sebelumnya- mana orang-orang yang benar-benar jujur dan mengetahui mana orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 2-3).

Maka pada kesempatan berikut ini, kami akan sampaikan beberapa perkara-perkara yang bisa mengistiqamahkan seorang hamba.

1. Bersyukur

Rasa syukur adalah salah satu sebab seorang hamba bisa Istiqamah, karena Allah telah menetapkan tambahan nikmat bagi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur,

Allah ta’ala berfirman,

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah), tatkala Rabb kalian menyatakan, 'Jikalau kalian bersyukur, maka pasti Kami akan benar-benar menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kamu mengingkari (nikmat), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih’." (QS. Ibrahim: 7).

Oleh karenanya, jika seorang hamba telah melakukan ketaatan atau kebaikan, maka bersyukurlah atas hal tersebut, karena tidaklah itu terlaksana melainkan karena adanya taufik dari Allah semata. Ketika ia mensyukuri nikmat ini, maka Allah akan tambahkan ia untuk terus dan terus berada di atas ketaatannya sampai tutup usia.


2. Selalu melazimi majelis-majelis ilmu

Majelis ilmu adalah sebaik-baik majelis yang selayaknya seorang hamba menjaganya. Bukan diberikan dengan sisa waktu Anda atau karena adanya kelapangan semata, namun benar-benar terjadwal dan menjaganya.

Majelis ilmu di sini adalah majelis yang dibacakan kitabullah dan sunnah-sunnah NabiNya. Menggali tafsir dan mempelajari maknanya dari sumber para salafush shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkannya (tafsir dan maknanya)  melainkan akan turun kepada mereka as sakinah (ketenangan), dan mereka akan diliputi rahmat, juga mereka akan dinaungi para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisiNya". (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa majelis-majelis ilmu adalah tempat diturunkannya ketenangan dan rahmat dari Allah ta'ala. Maka ketika rasa tenang dan Rahmat Allah didapat, niscaya tiada lagi perkara-perkara yang dapat menghempaskan seorang hamba dari jalan keselamatannya.


3. Selalu bersama orang-orang shalih

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seorang itu akan bersama dengan yang dicintainya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika seorang hamba memiliki teman dan mereka saling mencintai karena Allah, bukan karena dunia, maka pertemanan mereka akan terwarnai dengan saling nasehat menasehati di jalan al haq. Tatkala ada kesalahan atau kekeliruan, maka temannya tersebut akan mengingatkan dan meluruskannya. Hal inilah yang dapat membantu seseorang istiqamah.

Bahkan seorang teman yang shalih akan membantu temannya di akhirat kelak. Nanti di hadapan Allah, seorang teman yang shalih akan memberikan syafaat bagi temannya yang lain sehingga mereka dapat selamat dari azab Allah.

Dalam sebuah hadits yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim, shahabat Abu Said al Khudri radhiallahuanhu membawakan sebuah hadits dari Rasulullah bahwa kelak di hari kiamat akan ada orang-orang yang memberikan syafaat dengan meminta kepada Allah agar teman-teman mereka yang masuk neraka untuk dikeluarkan. Mereka pun bersaksi kepada Allah dengan berkata, 

ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون

"Wahai Rabb kami, dahulu mereka berpuasa bersama kami, mereka juga shalat dan haji".

Maka Allah memenuhi syafaat mereka dengan mengatakan,

أخرجوا من عرفتم

"Keluarkan mereka (dari neraka) bagi orang-orang yang kalian kenal."

Dari hadits di atas hendaknya bisa memotivasi kita untuk selalu bersama orang-orang shalih dan mencari teman yang shalih. 

Sungguh, harta-harta seorang yang kaya ketika di dunianya disedekahkan kepada temannya yang miskin namun ia seorang yang shalih, tidaklah besar dan berarti jika dibandingkan dengan syafaat-syafat mereka kelak di hari kiamat. Bisa jadi harta-harta yang telah engkau berikan kepada mereka, akan membuat engkau dikenal olehnya, sehingga ia akan memberikan syafaatnya di hadapan Allah ta'ala.

Wallahu alam.

(Tulisan terhasil dari catatan tausiyah bada shubuh bersama Al Ustadz Abu Umar Ibrahim hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah-Cileungsi, 5 Dzulqadah 1443H / 5 Juni 2022)

Ketetapan Allah dan RasulNya adalah Sebuah Kemestian, Bukan Pilihan!

 

Allah telah menganugerahkan akal kepada manusia sebagai pemuliaan bagi mereka. Akal digunakan sebagai alat berpikir dan sarana di dalam mentadaburi ayat-ayat Allah.

Akan tetapi akal bukanlah sebagai tolak ukur di dalam menimbang kebenaran atau kesalahan secara mutlak karena manusia memiliki sebuah penghalang akal, yakni hawa nafsu.

Hawa nafsu inilah seringnya bisa menutup akal-akal sehat manusia. Oleh karenanya, Allah sebagai Dzat yang Maha Bijaksana telah mengutus seorang rasul dari kalangan manusia itu sendiri. Rasul itu menjadi pembimbing dan pengarah bagi manusia ke jalan kebenaran dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Bagi yang tidak mau mengikuti Rasul maka ia akan celaka bagi orang yang mau mengikuti Rasul maka dia akan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

"Setiap ummatku akan masuk surga kecuali bagi yang enggan.” Mereka (para Shahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?". Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka akan masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka ia telah enggan". (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa ada sekelompok orang yang mentaati rasul dan ada sekelompok orang yang menentang rasul, padahal rasul tersebut adalah orang yang akan menyelamatkan manusia. Aneh bukan?!

Ini juga merupakan bukti bahwa akal semata tidak bisa dijadikan modal untuk mencari kebenaran, namun akal-akal kita harus ditundukkan di hadapan syariat Allah, bukan sebaliknya. Allah taala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 36).

Ayat di atas merupakan bukti yang jelas juga bahwa ketetapan Allah dan RasulNya adalah suatu kemestian, bukan pilihan! Barakallahufiikum.

(Tulisan terhasil dari catatan tausiyah bada maghrib bersama Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah-Cileungsi, 4 Dzulqadah 1443H / 4 Juni 2022)

As Sunnah, Anugerah Terindah

 

Rasulullah menyatakan bahwa Islam nanti akan asing sebagaimana awalnya, beliau bersabda,


بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ


"Islam datang dalam keadaan asing, akan kelak akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang yang asing". (HR. Muslim).


Keterasingan di atas adalah karena as sunnah. Mereka yang tetap memegang sunnah nabi akan menjadi seperti orang yang asing. Namun keterasingan ini akan mengantarkan kebahagiaan bagi pemegangnya, maka jadilah as-sunnah sebagai anugerah terindah yang dimiliki oleh seorang hamba.


Dengan sunnah maka segalanya akan baik dan indah. Seorang yang berharta akan baik kehidupannya dengan sunnah. Seorang yang mempunyai jabatan akan baik ketika ia mengenal sunnah. Abu bakar bin Ayyas rahimahullahu menyatakan bahwa seorang yang memeluk Islam adalah mulia, dan orang tersebut akan mendapatkan kemuliaan yang lebih ketika di dalam Islamnya ia mengenal sunnah.


As sunnah identik dengan Al jamaah, karenanya akan didapati orang yang memegang sunnah selalu bersatu dan bersaudara, bahkan persaudaraan mereka jauh lebih erat ketimbang persaudaraan karena sebab nasab, karena ikatan mereka bukan di atas ikatan dunia, melainkan di atas satu pijakan, yaitu di atas sunnah. Dengan hal tersebut maka jangan heran jika didapati para ulama saling mengirimkan salam kepada para ahlussunnah. Walau jarak mereka berjauhan namun kedekatan mereka sangat erat, sebagaimana ungkapan Imam Ayyub as Sikhtiyani tatkala dirinya mendapati seorang ahlussunnah yang meninggal, maka seakan-akan bagian tubuh beliau ada yang hilang. Sungguh, ini merupakan ungkapan kedekatan yang luar biasa. 


Bersamaan dengan keindahan-keindahan sunnah tersebut, pemegang sunnah mesti akan mendapati musuh-musuh yang akan menghalangi dan menjauhkan dirinya kepada sunnah. Oleh karenanya bersabarlah wahai para ahlussunnah, karena kesabaran kita di dalam memegang as sunnah akan terganjar dengan keberuntungan. Kebahagiaan di dunia dan kemenangan di akhirat, insyaallah.


(Tulisan terhasil dari catatan tausiyah shubuh bersama Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah-Cileungsi, 4 Dzulqadah 1443H / 4 Juni 2022)


Mau Pilih Mana, Jalan Bahagia atau Jalan Celaka?

 

Ketika manusia diciptakan maka sesungguhnya ia telah ditetapkan akan kehidupannya, apakah ia termasuk orang yang bahagia ataukah orang yang celaka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai setetes mani (nuthfah), kemudian menjadi setetes darah (‘alaqah) selama itu (40 hari juga), kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama itu (40 hari juga). Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, maka ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan (oleh Allah) dengan menetapkan empat perkara, yaitu: rezekinya, ajalnya, amalnya dan celakanya atau bahagianya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Perkara kebahagiaan dan kecelakaan seorang hamba adalah rahasia Allah. Kita tidak bisa mengklaim diri sendiri dengan sebagai orang yang paling bahagia, karena sesungguhnya kebahagiaan itu telah terdapat tanda-tandanya. Ketika tanda-tanda tersebut ada, maka sangat besar kebahagiaan itu didapat.

Allah telah menitipkan sesuatu yang jika dijalani oleh manusia di dunia, maka ia akan meraih kebahagiaan. Titipan itu adalah syariat-syariat Allah. Semua syariat Allah yang ada merupakan tolak ukur seorang hamba di dalam meraih kebahagiaannya. Semakin seorang hamba tersebut berada di dalam syariatNya, niscaya kebahagiaan akan terliputi pada dirinya. Sebaliknya, semakin seorang hamba jauh dari syariat Allah, niscaya kebahagiaan yersebut akan terluput dari dirinya.

Dengan hikmahNya yang agung, Allah menciptakan di dunia ini orang-orang yang bahagia dan juga menciptakan orang-orang celaka. Orang-orang bahagia telah dimunculkan di dunia ini agar manusia bisa mencontoh mereka dan mentauladani mereka di dalam menapaki jalan kebahagiaan. Siapakah orang-orang bahagia itu? Orang-orang bahagia itu adalah para nabi dan para rasul beserta orang-orang yang menetapi jalan mereka.

Di sisi lain, Allah juga memunculkan orang-orang yang celaka. Dengan hikmahNya yang agung pula, mereka ada. Mereka diciptakan sebagai ujian bagi orang yang sedang menjalani jalan orang-orang yang bahagia. Orang-orang celaka tersebut tidak hanya melakukan amalan-amalan yang celaka, tetapi juga mereka berusaha mengajak dan membujuk orang-orang lain untuk bisa bersama di jalan celaka tersebut, dan meninggalkan jalan-jalan kebahagiaan.

Maka sadarlah bahwa jalan kebahagiaan ini adalah sesuatu yang penting. Oleh karenanya kita harus mementingkannya di atas kepentingan-kepentingan yang lain. Lalu bagaimana kita bisa menghiasi diri dengan syariat-syariat Allah? Tentunya tidak akan bisa seorang hamba mengetahui syariat-syariat Allah ini kecuali dengan menuntut ilmu agama Allah. Setelah ia belajar, maka ilmu tersebut diamalkan dan dipraktekkan. Mulailah dari diri kita, lalu keluarga kita. Ketika masing-masing kita dan keluarga telah berilmu dan beramal, maka dengan sendirinya insyaallah akan terbentuk sebuah masyarakat yang bahagia penuh barakah. Ingatlah dua perkara ini! Dua sumber kebahagiaan. Ilmu dan amal. Oleh karenanya, mau pilih mana, jalan bahagia atau jalan celaka? Barakallahufiikum.

(Tulisan terhasil diri catatan tausiyah shubuh bersama Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah-Cileungsi, 3 Dzulqadah 1443H / 4 Juni 2022)

Sikap Seorang Mukmin ketika Mendapat Kezhaliman dari Orang Lain

 

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata,


"المؤمن إذا امتُحن صبر واتعظ واستغفر، ولم يتشاغل بذم من انتقم منه، فالله حَكَمٌ مقسط، ثم يحمد الله على سلامة دينه، ويعلم أن عقوبة الدنيا أهون وخير له"


"Seorang mukmin jika mendapatkan ujian/cobaan, maka ia akan bersabar dan mengambil pelajaran serta akan beristighfar. 


Ia tidak tersibukkan dengan perkara yang tercela untuk membalas dendam karena Allah adalah Hakim yang Maha Adil. 


Kemudian ia pun akan memuji Allah atas keselamatan agamanya dan mengetahui bahwa hukuman dunia itu lebih ringan dan lebih baik bagi dirinya (dibandingkan hukuman di akhirat)".


(Siyar Alamunnubala-Imam Adz Dzahabi, 8/81).


Jadikan Kebiasaan dan Kesibukan Kita adalah Ibadah, karena ketika Ajal Menjemput, Kebiasaan dan Kesibukan Kitalah yang Menutup Umur Kita

 

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

فمن كان مشغولاً بالله وبذكره ومحبته فى حال حياته، وجد ذلك أحوج ما هو إليه عند خروج روحه إلى الله

Barangsiapa yang tersibukkan dengan Allah, berdzikir kepada-Nya dan mencintai-Nya di sepanjang hidupnya, maka akan mendapat hal tersebut adalah sesuatu yang paling ia butuhkan saat ruhnya keluar menuju Allah ta'ala".

(Thariqul Hijratain, Ibnul Qayyim, hal. 308).

Seharusnya Orang Tuamu Tuannya dan Engkau Budaknya, Bukan Sebaliknya!

 



Pada surat Al Isra ayat  23, tepatnya pada lafazh,

وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

"Dan bicaralah kepada kedua orang tuamu dengan tutur kata yang baik".

Seorang tabiin besar, Said ibnul Musayyib menjelaskan tafsir ayat ini dengan,

قَوْلُ العَبْدِ المُذْنِبِ لِلسَّيِّدِ الفَظِّ.

"Ucapan seorang budak yang bersalah kepada tuannya yang keras/kasar." (Lihat Tafsir Al Qurthuby).

Itulah permisalan yang digambarkan oleh Said ibnul Musayyib. Seorang anak hendaknya ketika berbicara atau berbincang dengan kedua orang tuanya, memposisikan dirinya layaknya seorang budak yang melakukan kesalahan di hadapan tuannya yang horor dan killer. Tentulah bisa kita bayangkan bagaimana si budak itu akan berperilaku dan bertutur.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Ad Dimasqi (53/216) mencontohkan bagaimana sosok seorang Muhammad ibnu Sirrin rahimahullahu ketika berbincang dengan ibunya. Dinyatakan sendiri oleh saudarinya, Hafshah bintu Sirrin,

وما رأيته رافعًا صوته عليها، كان إذا كلَّمها كالمصغي إليها

Aku tidak pernah melihat dia (Muhammad bin Sirrin) meninggikan suara di hadapan ibunya. Jika ia berbincang dengan ibunya maka ia seperti orang yang benar-benar memperhatikan (fokus)".

Bahkan dalam Ath Thabaqatul Kubra karya Ibnu Sa'ad (7/148), dibawakan sebuah riwayat,

أنَّه إذا كان عند أمِّه لو رآه رجلٌ لا يعرفه ظنَّ أنَّ به مرضًا من خفض كلامه عندها

Bahwasanya ia (Muhammad ibnu Sirrin) jika di hadapan ibunya, maka orang yang tidak mengenalnya akan mengira ia (Muhammad bin Sirrin) sedang sakit dikarenakan sangat lirihnya suara beliau di sisi ibunya".

Allahul musta'an, betapa jauhnya kita dengan amalan para salaf ini.

Betapa seringnya kita membentak orang tua. Menyalahkannya, bahkan mencercanya sampai terhina. Oleh siapa? Oleh kita, anaknya sendiri!

Di hadapan orang lain kita bisa menahan lisan dan sikap. Tapi mengapa di hadapan orang tua sendiri, kita orang yang paling kejam dan bengis?

قَوْلُ العَبْدِ المُذْنِبِ لِلسَّيِّدِ الفَظِّ.

"Ucapan seorang budak yang bersalah kepada tuannya yang keras/kasar."

Seakan-akan berbalik. Bukan kita berposisi sebagai budaknya, tetapi kita yang berposisi sebagai tuannya, innalilahi wa innailaihi raji'un.

Mari benahi diri. Semoga bermanfaat.

Memberikan yang Terbaik untuk Orang Tua di Hari Ied

 

Hisyam ibn Hasan berkata, bahwa Hafshah bintu Sirrin (saudari Muhamad ibn Sirrin) bercerita tentang saudaranya Muhammad ibn Sirrin,

كانت والدة محمد حجازية، وكان يعجبها الصبغ، وكان محمد إذا اشترى لها ثوبًا اشترى ألين ما يجد، فإذا كان عيد صبغ لها ثيابًا

Ibunda Muhammad ibn Sirrin adalah seorang hijaziyyah (dari negeri Hijaz), dan beliau senang dengan kain yang berwarna. Maka jika Muhammad ibn Sirrin membelikan ibunya sebuah kain, niscaya akan dibelikan kain yang paling lembut sepanjang yang beliau dapatkan. Jika tiba hari ied, maka beliau akan mewarnai pakaian ibunya". (Lihat Tarikh Ad Dimasyqi karya Ibnu Asakir 53/216).

Jika kita sudah tahu apa yang menjadi kesukaan atau kesenangan orang tua kita, maka penuhilah hal tersebut. Terlebih di hari ied, karena mereka lebih berhak dan lebih utama untuk diberikan kebahagiaan di hari ied.

Tentu kesenangan atau kesukaan masing-masing orang tua berbeda-beda. Kitalah yang harus cari tahu. Jika kita mampu mewujudkannya, segeralah menjemput pahala yang besar ini. Berikanlah yang terbaik untuk kedua orang tuamu. Semoga engkau mendapat keridhaan Allah ta'ala karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Keridhaan Rabb tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Rabb tergantung pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzy, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Semoga bermanfaat.

Selamat Mudik


Menyoal mudik, tentulah, orang tua yang terpaut jarak dan waktu yang jauh, sangat rindu ingin bertemu buah hatinya yang sedang di negeri rantau. Walau mungkin tidak terucap, namun kerinduan melihat sosok anaknya real -bukan di videocall- adalah suatu harapan di hati. Oleh karenanya, sambutlah kesempatan liburmu dengan mengunjungi mereka.

Janganlah rutinitas mudik tahunan sebagai beban dan berlalu begitu saja, akan tetapi niatkan untuk mewujudkan harapan orang tuamu yang rindu akan kedatangan anaknya, semoga dengan niat tersebut Allah ta'ala mengganjar perjalananmu sebagai ibadah birrul walidain.

Maka jika mudikmu diniatkan ibadah, tentulah tak ada keluh kesah di dalam menjalankannya. Jadikan macet, letih, kurang tidur dan kesempitan-kesempitan lainnya sebagai kafarah dosa untukmu. Nikmati saja. Bukankah Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit, lelah, kegundahan, kesedihan, kegalauan, atau sesuatu yang menyakiti, sampai pun duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menjadikan hal tersebut sebagai kaffarah (penggugur) bagi dosa-dosanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Jangan lupa, jalani peraturan pemerintah terkait aturan mudik, karena menaati peraturan pemerintah yang tidak bertentangan dengan syariat, ada nilai ibadah juga di sisi Allah ta'ala.

Juga, Jjika tujuan mudikmu untuk ibadah, maka jadikanlah proses di dalam menjalankannya tidak terkotori oleh kemaksiatan-kemaksiatan, berupa meninggalkan shalat, misuh-misuh/marah-marah sepanjang perjalanan, menerjang pelanggaran lalu lintas dan lainnya.

Harapannya, semoga mudikmu mendapat keridhan dan barakah dari Allah ta'ala, aamiin.
Selamat mudik.

Suaramu Itu Lho, Jaga di Hadapan Orang Tuamu!

 

Abu Ishaq ar Raqi al Hanbali menceritakan tentang sosok Abdullah ibnu 'Aun rahimahullahu, 


ونادته أمه فأجابها , فعلا صوته صوتها , فأعتق رقبتين


Ibunya pernah memanggil beliau (Ibnu Aun) dan ketika menjawabnya ternyata suara beliau melebihi/meninggi dari suara ibunya, maka beliau pun membebaskan dua orang budak". (Lihat Siyar Alamunnubala karya Imam Adz Dzahaby 6/366).


Wahai para pembaca yang masih memiliki orang tua, perhatikanlah bagaimana tebusan mahal di sisi seorang tabiin yang mulia Abdullah ibnu Aun atas kesalahan berupa meninggikan suara di hadapan seorang ibu, padahal kita yakini bahwa perbuatannya pastilah tidak disengaja. Namun di sisi seorang Al Imam Al Qudwah Alim negeri Bashrah, memandang "ketidaksengajaan" itu merupakan suatu yang besar sehingga harus ditebus dengan membebaskan dua orang budak, subhanallah.


Bagaimana dengan kita? Kira-kira berapa budak yang harus dibebaskan tiap harinya?


Mari Ingat Mati




Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

" أكثروا ذكر هادم اللَّذات: الموت".

"Perbanyaklah oleh kalian pengingat yang menghancurkan kelezatan-kelezatan: al maut (kematian)" (HR. Tirmidzy dan beliau meng-hasan-kannya).

Imam Al Qurthuby rahimahullah berkata,

"من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والكسل في العبادة".

Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka akan termuliakan dengan 3 perkara ini:
1. Menyegerakan bertaubat
2. Merasa cukup pada hati
3. Semangat dalam ibadah.

Barangsiapa yang melupakan kematian amaka akan dihukum dengan tiga perkata ini:
1. Menunda-nunda taubat
2. Meninggalkan ridha dalam hal kecukupan (tidak merasa cukup dengan apa yang ia miliki)
3. Malas dalam ibadah

(At Tadzkirah-Imam Al Qurthuby, hal. 126)

Ketika Jawaban atau Solusi Seorang Alim Nggak Sesuai Keinginan

 

Pas bingung, bertanya kepada seorang alim. Ketika dapat jawabnya, ternyata jawabannya tidak sesuai yang diharapkan, bahkan menyelisihi hawa nafsunya.

Gimana ya?

Asy Syaikh ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

‏قال العلماء رحمهم الله إذا سأل المستفتي عالماً مطمئنا لقوله معتقدا فيه الحق فإنه يلزمه العمل به ولا يستفتى غيره لأن الله قال (فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) والفائدة من سؤالهم الأخذ بما يقولون وإلا لكان ذلك عبثاً.

"Para ulama rahimahumullahu berkata: jika ada seseorang yang meminta fatwa bertanya kepada seorang alim yang ia tenang dengan jawabannya (ia percayai/tsiqah terhadapnya), dan jawaban seorang alim tersebut ternyata bersandarkan kepada al haq (kebenaran), maka seorang yang meminta fatwa tersebut harus beramal dengan fatwa itu dan jangan mencari fatwa yang lain, karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka bertanyalah kalian kepada ahlu dzikri (orang berilmu) jika kalian tidak mengetahui".

Dan faidah dari pertanyaan mereka adalah mengambil dengan apa yang telah difatwakan kepada mereka, jika tidak demikian, maka yang seperti itu adalah suatu bentuk main-main".

(Tafsir Surat An Nisa-Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 276)

Jangan Merasa Yakin dengan Keadaan Dirimu Sekarang

 

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

"على الإنسان ألا يغترّ بنفسه ، ولا يعجب بعقيدته، بل عليه أن يسأل الله - عز وجل - دائماً الثبات؛ لأن القلب يَعتَريه شُبُهات، ويَعتَريه شهَوات، فأحياناً يكون الإنسان مؤمناً حقاً ثم يُلقي الشيطان في قلبه شُبهَة فيعمَى ويَضل

"Wajib atas seorang insan agar jangan tertipu oleh dirinya sendiri dan jangan merasa bangga diri dengan akidahnya, akan tetapi wajib baginya untuk meminta kepada Allah azza wa jalla senantiasa ats tsabat (kekokohan), karena hati itu sarat dengan syubhat-syubhat dan diliputi dengan syahwat-syahwat.

Maka terkadang seorang insan yang dahulunya mukmin, tapi karena kemudian setan melemparkan ke dalam hatinya sebuah syubhat, hingga ia pun menjadi buta dan sesat".

(Tafsir surat Ash Shaffat, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 193)

Membaca dan Mempelajari Al Quran adalah Sebaik-baik Jalan di dalam Mendekatkan Diri kepada Allah



Shahabat Khabbab ibnul Arrat radhiallahuanhu berkata, 


 تقرب إلى الله ما استطعت ، فإنك لن تتقرب إليه بشيء أحب إليه من كلامه


"Bertaqarrub-lah kepada Allah semampumu, karena sesungguhnya engkau tidak akan bisa bertaqarrub kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya dibanding dengan kalam-Nya (Al Qur'an)".


(Al Ibanatul Qubra, 20. Sanadnya jayyid).


Membaca Al Quran di dalam Shalat adalah Bacaan yang Paling Utama

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,

قِرَاءَة الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ مِنْهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ ، وَمَا وَرَدَ مِنْ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ 

Membaca Al Qur'an di dalam shalat lebih utama dibandingkan membacanya di luar shalat. Segala (nash/dalil) yang ada dari keutamaan membaca Al Qur'an yang dilakukan oleh orang yang shalat itu lebih mulia dengan apa yang dilakukan oleh selainnya (di luar shalat)".

(Majmu Al Fatawa-Ibnu Taimiyyah, jil. 23, hal. 282).

Jumat, 16 Juni 2023

Menjaga Pakaian Syar'i Sejak Dini

 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

من المعلوم أن من دون سبع سنين لا حكم لعورته، لكن تعويد الصبيان والأطفال على الألبسة الخالعة القصيرة لا شك أنه سيهون عليهم كشف العورة في المستقبل،بل ربما لا يستحي الإنسان إذا كشف فخذه؛ لأنه كان يكشفه صغيرا ولا يهتم

"Sudah diketahui bahwa umur di bawah tujuh tahun tidak ada hukum bagi auratnya, akan tetapi membiasakan anak-anak untuk mengenakan pakaian yang terbuka dan pendek, maka tidak diragukan lagi kelak mereka akan merasa ringan untuk membuka auratnya, bahkan terkadang seorang insan tidak malu jika tersingkap pahanya karena ketika masa kecilnya terbiasa menyikapnya dan tidak memperdulikan hal tersebut".

(Majmu'atu as'ilati tahummul 'Usratal Muslimah, hal. 146)

Enam Tanda Kemunafikan dari Amalan Shalat Seseorang



Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

ست صفات في الصلاة من علامات النفاق : الكسل عند القيام بها, وتأخيرها, ونقرها, وقلة ذكر الله فيها, ومُراءات الناس في فعلها, والتخلف عن جماعتها

Enam sifat di dalam shalat yang termasuk tanda-tanda kenifakkan:
1. Malas di dalam menegakkannya
2. Mengakhir-akhirkan di dalam penunaiannya
3. Cepat di dalam mengerjakannya
4. Sedikit berdzikir di dalam shalatnya
5. Ingin dilihat di dalam melaksanakannya
6. Tertinggal dari jama'ah shalat

(Shalat-Ibnul Qayyim, 80)
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com
#akidah

Berbakti kepada Ibu di Masa Tuanya dengan Melayani Apa yang Menjadi Kesukaannya


Seorang ulama besar dari generasi tabiin menasehati kita dengan ucapannya,

أن الله جعل الجنة ثمنا لأنفسكم فلا تبيعوها بغيرها

"Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan surga itu sebagai harga untuk diri kalian, maka janganlah engkau menjual dirimu untuk selainnya".

Siapakah dia? Dia adalah Muhammad bin Ali bin Abi Thalib al Hanafiyyah.

Al Imam Adz Dzahaby rahimahullahu di dalam Siyar Alamunnubala (4/111) menyatakan bahwa Muhammad al Hanafiyyah terlahir dari seorang ibu yang bernama Khaulah bintu Ja'far al Hanafiyyah. Sebelum dinikahi oleh Ali, Khaulah adalah salah seorang tawanan perang Yamamah. Asma bintu Abi Bakr saat itu mengkhabarkan,

رأيت الحنفية وهي سوداء ، مشرطة حسنة الشعر

"Aku melihat melihat Al Hanafiyyah (Khaulah) adalah seorang wanita yang berkulit hitam namun rambutnya indah terikat".

Menunjukkan bahwa Khaulah adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan rambutnya.

Ketika Khaulah sudah renta, Muhammad pun tidak membiarkan perilaku ibundanya begitu saja. Beliau sangat memahami bahwa ibunya sangat perhatian terhadap keindahan rambutnya, maka sebagai panutan umat sekaligus seorang anak yang berbakti kepada ibunya, beliaupun tidak melewatkan begitu saja kesempatan untuk membahagiakan sang ibu dengan membantu menyemirkan rambut putihnya sang ibu.

Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad (5/86), Shalih bin Misam menyatakan,

رَأَيْتُ فِي يَدِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ ابن الْحَنَفِيَّةِ أَثَرَ الْحِنَّاءِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: كُنْتُ أُخَضِّبُ أُمِّي

"Aku melihat di tangannya Muhammad bin Ali bin al Hanafiyyah terdapat bekas al hinna (semacam tumbuhan yang digunakan untuk menyemir rambut)". Aku pun bertanya kepadanya, "Apa ini?". Maka beliau menjawab, "Aku habis menyemir rambut ibuku".

Bahkan di kitab yang sama, Abu Ya'la rahimahullahu menegaskan,

أَنَّهُ كَانَ يُذَوِّبُ أُمَّهُ وَيُمَشِّطُهَا

"Bahwasanya beliau selalu menyemirkan rambut ibunya dan menyisirnya".

Wahai seorang yang ingin berbakti kepada sang ibu, sudahkah kita mengetahui perkara apakah yang menjadi perhatiannya?

Jika sudah tahu, mengapa diam saja?

Tidakkah kita mau mencontoh akhlak seorang tabiin besar Muhammad Al Hanafiyyah yang selalu menyayangi ibundanya dengan melayani apa yang menjadi kesukaannya?

Mungkin terasa berat, namun jika diri ini engkau jual untuk surga, insyaallah semoga diringankan.

Jangan Lelah dalam Beramal

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam Surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang mengganggu manusia”. (HR. Muslim).

Terkesan amalan remeh namun terbalas dengan surga. Bisa jadi kita tidak menganggapnya amalan luar biasa, namun ketika amalan itu ikhlash, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil menyatakan,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya ia akan melihatnya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Amalan yang mungkin kita lupakan, ternyata Allah jalla wa 'ala tidak lupa. Di hari kiamat pasti tidak akan terlewat.

Maka janganlah remehkan sekecil apapun amalan-amalan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang ceria kepadanya. Sesungguhnya amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Oleh sebab itu, jangan remehkan setiap amalan. Terlebih ketika amalan itu merupakan bagian dari ibadah-ibadah yang wajib. 

Letihnya kita berdiri ketika shalat..

haus dan laparnya kala kita berpuasa..

lelahnya badan dan pikiran dalam mencari nafkah..

beratnya raga dan batin di dalam mengurusi orang tua yang telah renta..

capeknya mengajari dan mendidik anak..

Bahkan ketika kita terlibat berta'awun di dalam dakwah, baik menjadi panitia kajian atau menjadi panita ifthar Ramadhan di mahad..

Yakinlah, ketika ikhlash di kerjakan, semuanya akan kita petik manisnya kelak di akhirat.

Terlebih jika amalan-amalan itu merupakan rutinitas kita, masyaallah.. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang rutin walaupun itu sedikit". (HR. Muslim).

Jadi, jangan lemah untuk beramal. Apapun amalanmu teruslah lakukan, walaupun remeh dan sedikit. Karena kita tidak tahu amalan yang manakah yang paling ikhlash yang bisa kita lakukan.

Jika yang terkesan remeh saja bisa diganjar surga, apatah lagi amalan yang lainnya!

Majelis Ilmu pun Dihentikan karena Perintah untuk Memberi Makan Ayam

 


Abu Zur'ah, Haiwah Ibnu Syuraih. Seorang imam rabbani, al fakih dari negeri Mesir. Orang-orang besar semisal Ibnul Mubarak, Ibnu Wahb, Abu Ashim dan para tokoh-tokoh ahlu hadits lainnya menimba ilmu dari beliau. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai beliau di sisi ilmu hadits. Sampai-sampai Imam Ahmad dan para ulama lainnya memberi predikat tsiqah terhadap dirinya.

Di antara keistimewaan Haiwah adalah sebagaimana yang Ibnu Wahb nyatakan, "Dahulu beliau dikenal dengan seorang yang diijabahi doanya".

Namun orang besar selevel Haiwah, di dalam memperlakukan ibunya tidak ada kompromi. Di hadapan ibunya, Haiwah masih memposisikan dirinya seorang anak kecil yang siap disuruh-suruh kapanpun ibunya mau.

Dalam kitab Al Adabusy Syaria'ah karya Ibnu Muflih dan kitab Birrul Walidain karya Abu Bakr at Thurthusyi (hal. 26, cet. Darul Istiqamah) dikisahkan,

كان حيوة بن شريح يقعد في حلقته يعلّم الناس، فتقول له أمه: قم يا حيوة، فألق الشعير للدجاج، فيترك حلقته ويذهب لفعل ما أمرته أمه به.

Dahulu Haiwah ibn Syuraih pernah di suatu hari sedang duduk-duduk bermajelis mengajari manusia. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, "Bangun kau wahai Haiwah, tebarkanlah gandum untuk ayam". Maka Haiwah pun segera meninggalkan majelisnya dan pergi untuk menunaikan apa yang diperintahkan ibunya".

Masyaallah... The power of emak-emak! Tak pandang situasi dan kondisi. Jika ingin merintah, maka perintahpun turun tanpa lihat-lihat. Namun inilah akhlak ulama salaf. Ketika ibunya sudah meminta, maka tak ada satu kata pun keluar untuk menyanggah atau alasan untuk menunda. Haiwah tanpa malu dan berat segera meninggalkan majelis ilmunya dan menaati perintah ibunya, subhanallah!

Bayangkan jika kita di posisi Haiwah. Mungkin kita akan merasa berat dan malu untuk seperti Haiwah. Berat karena perintah ibu bertepatan dengan aktifitas atau jadwal taklim kita. Malu karena yang diperintahkan sesuatu yang remeh, memberi makan ayam! Di hadapan murid-muridnya pula!

Saudaraku, pernahkah kita berada di posisi Haiwah? Jika ya, masih ingatkah apa yang kita perbuat? Nas'alullaha salaamah wal aafiyah.

Birrul Walidain, Salah Satu Buah Manis dari Sebuah Ilmu

 

Al Abbar. Nama beliau adalah Abul Abbas Ahmad ibn Ali ibn Muslim Al Abbar.

Imam Adz Dzahabi menyatakan bahwa Al Abbar adalah al hafizh, al mutqin, al imam, ar rabbani. Bahkan Imam Khathib al Baghdady memberi pujian kepada Al Abbar dengan predikat tsiqah, hafizh, mutqin dan bagus mazhabnya.

Imam Al Abbar rahimahullah pernah memberikan cerita kepada salah seorang muridnya yang bernama Ja'far al Khuldi rahimahullah tentang tingginya kedudukan berbakti kepada seorang ibu.

Jafar al Khuldi rahimahullahu menuturkan,

كَانَ الأَبَّار مِنْ أَزهد النَّاس، اسْتَأَذَنَ أُمَّه فِي الرِّحْلَةِ إِلَى قُتَيْبَة، فَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، ثُمَّ مَاتَتْ، فَخَرَجَ إِلَى خُرَاسَانَ، ثُمَّ وَصَلَ إِلَى بَلْخ وَقَدْ مَاتَ قُتَيْبَة، فَكَانُوا يُعَزُّونَه عَلَى هَذَا، فَقَالَ: هَذَا ثمرَةُ العِلْم، إِنِّيْ اخترتُ رِضَى الوَالِدَة

"Dahulu Al-Abbar termasuk orang yang paling zuhud. Beliau meminta izin kepada ibunya untuk melakukan rihlah (safar untuk belajar ilmu) ke hadapan Imam Qutaibah, akan tetapi ibunya tidak mengizinkannya. Kemudian ibunya pun wafat. Al Abbar pun lalu keluar menuju negeri Khurasan dan kemudian sampailah beliau di di kota Balkha dan ternyata mendapati Qutaibah telah wafat, dan orang-orang pun menguatkan dirinya atas hal ini. Al Abbar berkata, "Inilah buah dari ilmu. Sesungguhnya aku memilih keridhaan ibuku".

Inilah kisah beliau di dalam birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Di dalam kisah di atas dengan tegas Imam Al Abbar menerangkan bahwa menaati perintah seorang ibu adalah salah satu buah dari ilmu.

Untuk apa kita thalabul ilmi? Untuk apa kita banyak menghadiri kajian atau mendengarkan taklim-taklim agama?
Tentu untuk mengamalkannya bukan?!
Bukankah kita ingin jadi anak yang shalih?
Bukankah kita juga kelak menginginkan anak keturunan menjadi shalih juga?

Maka inilah pelajaran dari seorang imam rabbani, yakni menomorsatukan perintah ibu (selama tidak berbenturan dengan aturan syariat).

Sebagian para ulama menyatakan, bahwa dengan Al Abbar dengan berbuat demikian (birrul walidain), Allah ta'ala pun membukakan pintu-pintu barakah ilmu kepada Al Abbar rahimahullahu.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapatkan pahala melimpah dan keberkahan di dalam hidup, mulailah untuk lebih perhatian dan fokus lagi di dalam membaktikan diri kepada kedua orang tua, terkhusus kepada seorang ibu.

Wallahu alam, semoga bermanfaat.

(Kisah Al Abbar bisa dilihat pada kitab Siyar Alamunnubala 13/443, Tarikh Al Baghdadi 4/306 dan Tadzkiratul Huffazh 2/662).

Keutamaan Teman yang Shalih




Syahru ibn Hausyib rahimahullah berkata, bahwa Abu Darda radhiallahuanhu menyatakan,

إن العبد المسلم ليغفر الله له وهو نائم قال: قلت: وكيف ذاك يا أبا الدرداء؟ قال: يقوم أخوه من الليل فيتهجد فيدعو الله فيستجيب له ويدعو لأبيه فيستجيب له

"Sesungguhnya seorang muslim akan Allah beri ampunan kepadanya padahal ia sedang tidur".

Saya (Syahru ibn Hausyib) bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi wahai Abu Darda?"

Abu Darda menjawab, "Saudaranya bangun di malam hari dan ia shalat malam. Ia pun berdoa kepada Allah (untuk ia dan untuk saudaranya tersebut) dan doanya dikabulkan, ia pun berdoa kepada Allah untuk ayahnya dan doanya pun dikabulkan".

(Az Zuhd-Imam Ahmad ibn Hanbal, 264)

Betapa Beruntungnya jika Allah Sudah Ridha

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata, 


وإذا رضي الله عن العبد؛ قَبِلَ اليسير من عمله ونمّاه، وغفر الكثير من زلَلِه ومحاه.

Jika Allah taala telah ridha kepada seorang hamba, maka Allah akan menerima yang sedikit dari amalannya dan akan dikembangkan amalannya tersebut, serta akan mendapat ampunan yang banyak dari kesalahan dan Allah akan menghapuskan kesalahan tersebut.

(Taisirul Lathifil Mannan, Syaikh As Sa'dy, 1/48)

Pendidikan Generasi Muda Tanggung Jawab Kita Semua


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,

الأم والأب والمعلم والمجتمع مسؤولون أمام الله عن تربية هذا الجيل . ، فإن أحسنوا تربيته سعد، وسعدوا في الدنيا والآخرة، وإن أهملوا تربيته شقي، وكان الوزر في أعناقهم

"Seorang ibu, ayah, pengajar dan masyarakat sekitar, kelak akan bertanggung jawab di hadapan Allah ta'ala dari pendidikan generasi ini. Jika mereka baik di dalam pengajarannya, maka generasi tersebut akan bahagia dan para pengampu tanggung jawab tersebut akan bahagia pula di dunia dan akhirat. Namun jika mereka melalaikan tarbiyahnya maka akan generasi tersebut celaka, dan dosa ini berada di pundak-pundak mereka".

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, 22)


Tidak Ikhlash maka Tidak Bermanfaat dan akan Hilang


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,

ما لم يكن لله لا ينفع ولا يدوم

Apa yang tidak diperuntukkan untuk Allah maka tidak akan bermanfaat dan langgeng

(Ar Risalah at Tadmuriyyah, 232)


Sesuatu yang Dilandasi Keikhlasan Maka akan Tetap Ada


Keikhlasan tidak akan muncul begitu saja tanpa diiringi dengan ilmu. Maka untuk mewujudkan keikhlasan, dibutuhkan keseriusan dan keistiqamahan di dalam thalabul Ilmi. Walau terkadang amalan thalabul ilmi-nya itu sendiri di dalam menjalankannya mungkin masih belum ikhlas. Hisyam ad Dustuwa'iy rahimahullahu berkata,

والله ما أستطيع أن أقول: إني ذهبتُ يومًا قطُّ أطلبُ الحديث أُريدُ به وجهَ الله - عزَّ وجلَّ.

Demi Allah, aku tidak sanggup untuk mengatakan: Sesungguhnya aku pergi pada satu hari saja untuk menuntut ilmu hadits mengharapkan wajah Allah azza wa jalla". 

Ucapan di atas menunjukkan keikhlasan adalah bukan perkara yang main-main. Namun dengan sikap kesungguhan di dalam menjaga kesimbambungan dalam thalabul ilmi, insyaallah lambat atau cepat, Allah ta'ala akan berikan sifat ikhlas itu pada dirinya. Rabi ibnu Khutsaim rahimahullah berkata,

ما لا يُبْتغى به وجْهُ الله - عزَّ وجلَّ - يضمحلّ.

"Segala hal yang tidak ditujukan dengannya wajah Allah azza wa jalla, maka akan sirna".

Maka dengan ucapan di atas bisa memberikan kita pelajaran bahwa tanda amalan yang tidak ikhlas, adalah amalan yang lambat laun akan hilang dan sirna. Oleh karenanya semakin lama seseorang mengenal hidayah ilmu, semestinya semakin lama bukan semakin turun dan merosot semangat talabul ilmi-nya, namun tetap sama baik di awal maupun sekarang, bahkan hingga nanti. Tetap thalabul ilmi!

Imam Malik pernah ditanya perihal karya beliau Al Muwatha'. Mengapa menyusun kitab tersebut padahal telah banyak ada kitab-kitab yang semisal. Maka beliau menjawab

ما كان لله بقي

"Sesuatu yang dilandasi karena Allah, pasti akan lebih langgeng."

Nyatanya, banyak manfaat dari karya Imam Malik tersebut. Bahkan para Imam setelahnya, semisal Imam Syafi'i dan Abdurrahman bin Mahdi sangat memuji keberadaan Al Muwatha'.

Maka perlu kita tanyakan kepada diri-diri kita masing-masing:

Apa motivasi kita membaca dan menghafal Al-Qur'an? Jika ia ikhlas pasti ia akan sabar di dalam membaca atau menghafal Al-Qur'an. Bahkan sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah azza wa jalla, ia tidak bosan atau jenuh di dalam melantunkan kalam-kalamNya.

Apa motivasi kita dalam berinfak dan bersedekah? Jika ia ikhlas, maka ia akan terus menjaga apa yang ia telah keluarkan sebelumnya.

Apa motivasimu di dalam menuntut ilmu?

Percayalah, suatu kebaikan jika diiringi dengan keikhlasan maka hasil dari kebaikan tersebut akan tetap ada, langgeng dan bertahan.

Abu Bakar bin Khalal, adalah seorang tokoh mazhab Imam Ahmad yang menulis semua ucapan Imam Ahmad terkait masalah fikih, hadits dan ilmu-ilmu lainnya, pergi dari negeri satu ke negeri lainnya dalam rangka menemui murid-murid Imam Ahmad. Satu demi satu beliau catat ucapan-ucapan Imam Ahmad hingga terkumpulah susunan fatwa-fatwa Imam Ahmad sebanyak 20 jilid, dan dinamakan kitab tersebut Al jami' fil fiqhi li Imam Ahmad. Di mana di dalam kitab tersebut mencakup pula 3 jilid tentang masalah 'Ilal hadits dan 3 jilid terkait masalah sunnah.

Yang menarik pada kisah di atas adalah bagaimana Al Imam Ahmad sangat melarang para murid-muridnya untuk menulis ucapan-ucapan beliau dan Imam Ahmad hanya mengizinkan menulis Al-Qur'an dan hadits-hadits nabi dari lisan beliau. Akan tetapi ketika hal itu didasari dengan keikhlasan maka Allah melanggengkan ucapan-ucapan Imam Ahmad melalui abu Bakar bin Khalal, di mana beliau mengumpulkan serpihan-serpihan ucapan imam Ahmad yang yang telah dihafal oleh para murid-muridnya ke dalam sebuah susunan kitab.

Maka sebagai bahan renungan untuk kita, jawablah dengan jujur oleh diri-diri kita,

Untuk apa selama ini kita berta'awun di dalam dakwah, membuat poster-poster dakwah, menyebarkan kajian atau faedah-faedah ilmu?

Tujuan apakah kita selama ini mengajari anak-anak kaum muslimin di tempat-tempat belajar mereka?

Inilah pentingnya kita saling mengingatkan diri-diri kita untuk senantiasa ikhlas di dalam setiap amalan.

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.
Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002


Ikhlash Itu akan Terwujud dengan Rajin Thalabul Ilmi



Telah banyak ucapan salaf tentang betapa beratnya menjaga keikhlasan. Mereka menggambarkan betapa seriusnya urusan ini, karena begitu cepatnya niat ini berubah-rubah dikarenakan banyaknya faktor-faktor yang bisa membelokkan niat ikhlas. Imam Sufyan ats Tsauri rahimahullahu berkata,

ما عالجت شيئاً أشد علىَّ من نيتي

"Tidaklah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat ketimbang masalah niatku".

Halus tak terasa, ternyata niat itu telah sirna. Tidak terucap namun bisa dilihat dari sikap, ternyata keikhlasan itu telah lenyap.

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata,

ما أحسن الصدق

"Duhai, betapa indahnya kejujuran"

Kata ini beliau ucapkan ketika ada seorang yang bertanya kepada Ibnu Juraij rahimahullahu, " Untuk siapakah Anda menuntut ilmu?"
Maka Ibnu Juraij menjawab,

طلبت العلم للناس

"Aku menuntut ilmu untuk manusia".

Imam Adz Dzahabi rahimahullahu memberikan keterangan pada ucapan di atas,

واليوم تسأل الفقيه الغبي فيبادر: طلبته لله، ويكذب، إنما طلبه للدنيا.

"Dan pada hari ini, jika engkau bertanya kepada ahli fikih yang ghabi (yang sejatinya bukan ahli fikih), niscaya mereka akan cepat menjawab, "Aku menuntut ilmu karena Allah". Dan mereka telah berdusta karena sebenarnya mereka menuntut ilmu untuk dunia." (Lihat As Siyar: 6/328).

Imam Adz Dzahabi memuji jawaban Ibnu Juraij yang jujur bukan tanpa alasan, karena para ulama salaf yang lain juga menjawab dengan jawaban yang sama, semisal Al Walid ibnu muslim, Al Auza'i, Sa'id ibnu Abdul Aziz, mereka menjawab "Saya menuntut ilmu bukan karena Allah (tidak ikhlas)". Mereka telah jujur dengan ucapan-ucapannya.

Mereka mengakui bahwa dahulu ketika mereka di awal belajar mereka tidak ikhlas di dalam niatnya, Imam Mujahid ibnu Jabr rahimahullahu berkata,

طَلَبْنَا هَذَا العِلْمَ وَمَا لَنَا فِيهِ كَبِيرُ نِيَّةٍ، ثُمَّ رَزَقَ اللهُ بَعْدُ فِيهِ النِّيَّةَ

Kami menuntut ilmu ini, dan tidaklah di dalam prosesnya terdapat niat ikhlas (pada awalnya), tapi kemudian Allah menganugerahi kami niat (keikhlasan) setelahnya".

Ma'mar ibnu Rasyid rahimahullahu berkata,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَطْلُبُ العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَيَأْبَى عَلَيْهِ العِلْمُ حَتَّى يَكُونَ للهِ

Sesungguhnya seorang lelaki akan menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itupun enggan hingga ia menjadikannya (dalam menuntut ilmu) untuk Allah."

Maka dengan ucapan-ucapan salaf di atas, bagaimana dengan kita? Mungkin akan terlontar jawaban-jawaban beragam.

"Demi membahagiakan orang tua"
"Senang dengan ilmu"
"Biaya di mahad salafy itu murah ketimbang di tempat lain"

Dan jawaban-jawaban lainnya yang masing-masing mempunyai alasan dan kepentingan tersendiri.

Namun jawaban-jawaban semisal adalah wajar, karena memanglah demikian perjalanan di dalam thalabul ilmi. Di awal bisa jadi tidak ada niat ikhlas, namun di tengah proses belajarnya, mungkin Allah ta'ala anugerahi kesadaran pada dirinya bahwa keikhlasan mesti ada di dalam amalannya, dan bisa jadi pula ilmu yang tengah ia pelajari ternyata mengajari dan membimbingnya kepada keikhlasan.

Oleh karenanya jangan tertipu dengan syubhat-syubhat yang menyatakan,

"Ngapain kamu belajar? Nanti berat loh bebanmu di akherat kalo nggak ikhlas."

Belajar nggak usah dalem-dalem amat, cukup sekedarnya saja karena semakin banyak ilmu maka kamu semakin berat untuk mengamalkannya".

Syubhat-syubhat seperti ini adalah keliru!

Karena bagaimana seorang akan mewujudkan keikhlasan, jika keadaan dirinya bodoh tak berilmu?!

Bagaimana ia akan bisa ikhlas kalau dirinya tidak thalabul ilmi?!

Maka jika ada yang mengklaim keikhlasan padahal ia jauh dari majelis ilmu atau meninggalkan thalabul ilmi, ketahuilah bahwa itu hanya omong kosong.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

(Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002)

Apakah Guru-guru Anak Anda Mengajarkan Hal-hal Ini?


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata, "Kewajiban seorang pengajar dan pendidik

1. Mengajarkan anak kecil untuk mengucapkan kalimat:

لا اله إلا الله، محمد رسول الله
(Laailahaillallah, Muhammad Rasulullah)
Dan memahamkan dirinya akan makna kalimat tersebut ketika dia sudah besar dengan makna:

لا معبود بحق إلا الله

Artinya: Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja.

2. Menumbuhkan kecintaan kepada Allah ta'ala dan menumbuhkan keimanan kepada-Nya di dalam hati seorang anak, karena sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan kita, yang memberikan rezeki kepada kita dan yang menghidupkan kita saja, tiada sekutu bagi Allah (dalam hal tersebut).

3. Mengajarkan anak-anak untuk meminta kepada Allah dan meminta pertolongan kepada Allah saja, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada keponakannya (yakni Ibnu Abbas),

إذا سالت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

"Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau ingin meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah" (HR. Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 23)

Melihat Kemungkaran... Apakah Mutlak Perlu Penjelasan Dahulu Baru Mengingkari?

Seorang penanya bertanya, "Jika kami melihat suatu kemungkaran -yakni mempersaksikan kemungkaran- apakah kami harus segera mengingkarinya atau kami meminta penjelasan dahulu?

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullahu menjawab,

هكذا يبدأ تمييع الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يقال لهم: لا تبادروا، خلو الناس، لا تنفروا الناس، لا تقولوا: هذا حلال، هذا حرام، هذه بدعة - تنفروا الناس- لا، اعمل بقول عليه الصلاة والسلام:(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده) احفظ الدرجات لا تبادر إلى إنكار المنكر باليد في غير سلطتك، فإذا كنت في محل سلطتك في بيتك سلطة في إدارته في مكتبه في مركزه يزيل المنكر باليد ومن ليس لديه سلطة ينكر المنكر باللسان ثم بالقلب؛ ولكنه لا يؤخر لابد أن ينكر.

"Demikianlah awal dari sifat lembek dalam mengajak yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, dikatakan oleh mereka (orang-orang yang lembek tersebut), "Jangan kalian terburu-buru, tunggu manusia sudah sepi, jangan membuat manusia lari, jangan engkau mengatakan ini halal, ini haram, ini bidah, karena dengan begitu niscaya engkau akan membuat lari manusia".

Tidak! Akan tetapi amalkan dengan berdasar sabda dari nabi shallallahu alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya.." Jagalah urutannya, jangan terburu-buru untuk mengingkari kemungkaran dengan tangan tanpa adanya kekuasaan pada dirimu.

Jika engkau berada di ranah kekuasaanmu, di rumahmu ada kuasa, di kantornya, di ruang bacanya atau di markiznya, maka ia hilangkan kemungkaran dengan tangan.

Barang siapa yang tidak memiliki kekuasaan maka ingkari kemungkaran dengan lisannya kemudian dengan hatinya, akan tetapi janganlah mengakhirkan (mengingkari kemungkaran) sesuatu yang harus ia segera ingkari."

(Al Ajwibatudz Dzahabiyyah alal As'ilatil Manhajiyyah, Syaikh Muhammad Aman al Jami, pertanyaan no 11)

Dosa, Segeralah Bertaubat!

 Faidah Tausiyah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Ibrahim ibn Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 9 Syaban 1443H / 12 Maret 2002


1. Manusia sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai makhluk yang sering melakukan kesalahan dan dosa. Ini merupakan ketetapan Allah yang penuh dengan hikmah. Diantara hikmahnya adalah ketika seorang hamba berbuat salah atau melakukan dosa, maka ketika ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya menaikan derajatnya serta dimuliakan.

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah bagi mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzy dan selainnya, hadits dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Yang menjadi perhatian penting pada hadits di atas adalah bagaimana bimbingan Allah subhanahu wa ta'ala melalui lisan nabinya shallallahu alaihi wasallam bahwa ketika manusia terjatuh kepada kesalahan atau dosa maka iapun dibimbing untuk bertaubat agar ia menjadi orang yang lebih baik lagi.

3. Allah subhanahu wa ta'ala adalah Dzat Yang Maha Rahmah, dan diantara bentuk rahmatnya Allah adalah bimbingan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat, karena dosa-dosa seorang hamba sejatinya adalah memudharatkan (merugikan) dirinya sendiri. Allah azza wa jalla berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An Nuur: 31)

Maka dengan rahmatNya yang luas, Allah subhanahu wa ta'ala terus-menerus menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah ta'ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar :53)

4. Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menunggu taubatnya seorang hamba siang dan malam, maka janganlah menyia-nyiakan kesempatan ini, karena bertaubat adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap hamba sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunlah kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dan minta ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." (HR. Ahmad dan selainnya, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Di saat adanya kemudahan untuk kita bertaubat, marilah segeralah kita untuk bertaubat, karena bisa jadi kemudahan-kemudahan yang ada saat ini akan hilang, dan ketika kesempatan itu telah hilang, maka kitalah yang akan merugi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Menikah untuk Selamanya, bukan Sementara

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 3 Syaban 1443H / 6 Maret 2002


1. Menikah adalah memenuhi setengah keimanan, maka barang siapa yang telah menikah, berarti ia telah menunaikan setengah keimanannya.

2. Ketenangan hati dan ketentraman hidup bagi seorang mukmin adalah suatu yang dituntut. Maka ketika semua itu telah didapat oleh seorang mukmim niscaya kebahagiaan akan meliputi dirinya, dan di antara tujuan menikah adalah untuk mentrentramkan hati. 

3. Keluarga sakinah adalah keluarga yang diberikan kemudahan-kemudahan di dalam melakukan ketaqwaan, maka dibutuhkan ta'awun (saling menolong) di antara suami dan istri. Jangan sampai sang suami ingin thalabul ilmi, tapi sang istri tidak mendukungnya, begitupun sebaliknya, jangan sampai ketika sang istri meminta diantarkan ke majelis ilmu, sang suami enggan mengantarkan.

4. Masing-masing dari kita adalah pemimpin, maka suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Adapun sang istri pemimpin bagi anak-anaknya, dan penjaga kehormatan serta penjaga harta di rumah ketika suaminya tidak ada di rumah.

5. Masing-masing pasangan mempunyai hak-hak dan kewajiban, namun jika salah satunya tidak menunaikan kewajibannya, tidak berarti menjadikan salah satunya membalas dengan tidak menunaikan kewajibannya juga. Akan tetapi hendaklah masing-masing sadar bahwa ketika mereka menunaikan kewajiban atau memenuhi hak-hak pasangannya adalah karena mengharap wajah Allah ta'ala saja.

6. Janganlah seorang suami banyak menuntut kepada istrinya, begitupun istrinya, jangan sampai ia banyak menuntut kepada suaminya.

7. Saling memuji adalah termasuk sunnah nabi, maka panggilah pasangannya dengan panggilan yang baik. Seorang suami atau seorang istri tidak boleh menjatuhkan kehormatan atau mengumbar aib pasangannya, karena hal itu adalah sebuah dosa yang akan merusak hubungan pernikahan.

8. Saling husnuzhan adalah termasuk bagian penting di dalam menjaga keharmonisan keluarga, jangan masing-masing pasangan saling curiga dan saling memata-matai.

9. Termasuk perkara yang bisa melanggengkan hubungan pernikahan adalah masing-masing pasangan mempunyai sifat qana'ah (merasa cukup). Sifat qana'ah di sini bukan pada masalah harta saja, namun bisa kepada masalah akhlak atau rupa. Jika ada kekurangan yang terdapat pada salah satu pasangannya maka ridhalah dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada pasangannya tersebut.



Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Mendidik Anak, Tak Semudah Itu!

 Faidah Taklim Bada Maghrib oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Jadilah kita sebagai orang tua yang saling bahu membahu di dalam kebaikan dan menjadi orang yang terlibat di dalamnya.

2. Ketika mendapati anak saudara kita yang terjatuh pada kesalahan maka janganlah kita mencela dan menjatuhkan orang tuanya, sebagaimana kita juga tidak ridha jika hal ini mengenai kita, karena bisa jadi suatu saat, anak-anak kita melakukan suatu kesalahan, maka tentulah kita sendiri tidak ingin kesalahan anak-anak kita tersebut, secara mutlak ditimpakkan kesalahannya kepada kita.

3. Janganlah kita menghibahi saudara-saudara kita, karena kesalahan anak-anaknya, karena bisa jadi ia telah berusaha melakukan kebaikan dan keshalihan untuk dirinya dalam rangka meluruskan dan menjaga anak-anaknya, akan tetapi Allah ta'ala sedang menguji dirinya melalui anak-anaknya.

4. Ketika kita diuji dengan anak-anak kita, maka janganlah merasa putus asa terhadap perubahan kebaikan untuk mereka. Angkatlah tangan untuk meminta doa kebaikan untuk anak-anak kita, jangan sampai keputus asaan menghalangi kita untuk berdoa kepada Allah, bahkan jangan pernah sekali-kali kita secara tidak sadar malah mendoakan kejelekkan dan kebinasaan bagi anak-anak kita sendiri.

5. Dalam usaha terus memperbaiki anak-anak, maka lihatlah bagaimana usaha Nabi Nuh alaihissalam yang tidak pernah berputus asa di dalam mengajak anaknya kepada jalan yang lurus, beliau terus berusaha sampai Allah Yang Maha Hikmah memutuskan keputusanNya.

6.  Berikankah selalu yang terbaik untuk anak-anak kita, walau kadang atau bahkan mungkin sering anak-anak kita memberikan perlakuan-perlakuan yang tidak baik kepada kita. Harapkanlah pahala sabar dari hal ini.

7. Teruslah kita menjadi shalih di hadapan anak-anak kita, agar mereka bisa menjadikan kita sebagai qudwah/teladan untuk anak-anak kita. Sehingga di kemudian hari, semoga buah dari keshahihan kita akan mempengaruhi dan mengenai anak-anak kita.

Wallahu alam,
Semoga bermanfaat.


Andil dalam Dakwah Semampu yang Kita Bisa

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


Tarbiyyah nubuwwah (pendidikan yang bersumber kepada sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam) adalah pendidikan yang mulia karena pendidikan ini harus senantiasa berjalan di atas koridor syariat. Jika bukan karena adanya pertolongan dan kemudahan-kemudahan dari Allah ta'ala, maka kita tidak akan mampu untuk memikul dan mengembannya.

Maka pendidikan yang mulia ini, dihadapan kita adalah mahal harganya, dan harus kita tebus dengan segenap apa yang kita bisa berikan. Janganlah engkau lepaskan begitu saja, akan tetapi turutlah andil di dalamnya walaupun hanya bagian sedikit yang kita mampu, karena Allah ta'ala akan mengganjar harga mahal tersebut dengan balasan yang lebih besar lagi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Sombong, Penyebab Penyimpangan

 Faidah tausiyah shubuh oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Termasuk sebab penyimpangan bani adam adalah adanya sifat sombong, sebagaimana Ibnul Qayyim nyatakan bahwa sumber dari semua dosa bermuara kepada tiga perkara, yaitu: sombong, tamak dan hasad (dengki).

2. Sombong adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

3. Termasuk penyebab adanya rasa sombong pada seorang hamba adalah adanya rasa ujub (bangga diri), dan dari sinilah seorang hamba terjatuh kepada kesombongan karena ia merasa mempunyai kelebihan dan terdepan di tengah-tengah saudaranya, padahal sejatinya ia telah tertipu oleh dirinya sendiri.

4. Kita harus menjauhi sifat sombong, karena neraka dipenuhi oleh orang-orang yang sombong, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji dzarrah." (HR. Muslim).

5. Perjalanan hidup bani adam bisa saja terjadi penyimpangan pada dirinya, dan hal ini dikarenakan adanya kesombongan pada dirinya, yakni menolak al haq/kebenaran. Bisa jadi dirinya tidak sadar, namun ketika sifat sombong itu ada, tak pelak lagi, penyimpangan pun akan terjadi. Mungkin dahulu ia seorang yang baik dan lurus, - _dan kita memang dibimbing oleh syariat ini untuk menghukumi seorang dengan zhahirnya dan tidak dibolehkan menilai batin seseorang_ -, akan tetapi dengan Rahmat Allah, orang yang terlihat baik ini ketika menyimpan kesombongan pada hatinya, pasti Allah akan tampakkan batinnya ke permukaan, sehingga orang-orang yang ikhlas dan orang-orang yang tawadhu akan terjaga dan tidak tertipu dengan orang sombong tersebut.

6. Bisa jadi ada seorang yang sekarang ia berposisi sebagai penasehat, tapi di kemudian hari bisa jadi ia akan menjadi ternasehati. Maka di saat itulah, ia akan diuji apakah ia sombong ataukah tidak. Apakah ia menerima al haq, ataukah ia berlaku sombong menolak al haq.

7. Kejelekkan dan penyimpangan yang ada pada diri seseorang, walaupun dibungkus dengan keindahan kata dan amalan, niscaya akan tampak di akhir. Maka ketika hal ini menimpa seseorang, hendaknya ia segera kembali kepada al haq, karena bagi orang yang ikhlas dan tawadhu, bertaubat itu mudah, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai kepenting-kepentingan tertentu, maka meletakkan al haq di atas segalanya adalah suatu yang sulit dan susah.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Pertolongan Allah adalah Dekat

 Faidah taklim bada maghrib Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah, Cileungsi 28 Rajab 1443H / 1 Maret 2022


Allah ta'ala berfirman,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan mengokohkan kedudukanmu". (QS. Muhammad: 7)

1. "Pertolongan Allah itu lebih besar daripada pengorbananmu"

2. "Janganlah ujian itu dijadikan sebagai azab, akan tetapi jadikanlah ujian itu sebagai ladang amal dan menjadi kebaikan diakhirnya."

3. "Thalabul ilmi dan amalan adalah termasuk bagian yang besar di dalam menolong agama Allah, maka tetaplah berada di jalan ini, karena kita membutuhkan pertolongan Allah agar kita bisa kokoh di dalam menghadapi ujian-ujian hidup."

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.

Tahan dan Sabar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

"Wajib atas seseorang jika tampak di hadapannya ada sebab-sebab perbuatan yang haram, untuk dia bertaqwa kepada Allah sehingga nanti ia tidak menjadikan dirinya menerjang perbuatan yang haram.

Ketahuilah bahwa mudahnya akses dari sebab-sebab yang ada, sejatinya merupakan ujian dan cobaan, maka tahanlah dan bersabarlah karena sesungguhnya akhir yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Ilmu Didapat dengan Sedikit Makan, Minum dan Tidur

Ibu Jama'ah rahimahullahu berkata,

ومن رام الفلاح في العلم وتحصيل البغية منه مع كثرة الأكل والشرب والنوم فقد رام مستحيلا في العادة .

Barang siapa yang menginginkan kesuksesan di dalam ilmu dan mendapatkan cita-citanya (dalam menuntut ilmu), tapi bersamaan dengan itu ia banyak makan, banyak minum dan banyak tidur, maka ia telah menghendaki sesuatu yang tidak mungkin di dalam kebiasaan.

(Tadzkiratus Sami wal Mutakallim, hal. 90)

Minggu, 22 Januari 2023

Mencari Ridha Semua Manusia = Tidak Mungkin !

Al Imam Asy Syafi'i rahimahullahu pernah menasehati shahabatnya Yunus ibn Abdil A'la, beliau berkata,


لو اجتهدت كل الجهد على أن ترضى الناس كلهم فلا سبيل, فأخلص عملك ونيتك لله عز وجل

"Kalau engkau bersungguh-sungguh dengan segala upayamu untuk mendapatkan ridha manusia seluruhnya, maka tidak akan ada jalan (untuk mencapainya). Maka ikhlaskan amalan dan niatmu untuk Allah azza wa jalla."

(Al Majmu', Imam An Nawaawi, 1/13)

Kedudukan Kitab "Hayatush Shahabah" karya Al Kandahlawi (Tokoh Jama'ah Tabligh)

Asy Syaikh Muqbil rahimahullahu pernah ditanya, 


ما رأيكم بكتاب حياة الصحابة للكاندهلوي ؟

Apa pendapat Anda dengan kitab "Hayatus Shahabah" karya Al Kandahlawi

Maka beliau menjawab,

< حياة الصحابة > فيه أحاديث صحيحة ، وأحاديث ضعيفة ، وأحاديث موضوعة ، وقصص باطلة ، فلا ينبغي أن يُعتمد عليه ، لكن ننصح بالقراءة في < فضائل الصحابة > للإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى ، وكذلك أيضاً في < الإصابة > للحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى ، وفي < الأستيعاب > لأبن عبدالبر ، على أنهم قالوا : أن ابن عبد البر ربما ذكر في كتابه - وكتابه قيم - ربما ذكر فيه بعض الأشياء التي فيها نقيصة على بعض الصحابة رضوان الله عليهم .

"Hayatus Shahabah" di dalamnya terdapat hadits-hadits yang shahih, hadits-hadits yang dhaif/lemah,

Maka tidak sepantasnya untuk menjadikan sandaran kepada kitab tersebut, akan tetapi kami menasehatkan untuk membaca pada kitab "Fadhail Ash Shahabah" karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, demikian juga dengan kitab Al Ishabah milik Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, dan kitab Al Isti'ab karya Ibnu Abdul barr, walaupun para ulama menyatakan (mewanti-wanti) bahwa Ibnu Abdilbarr kadang menyebutkan di dalam kitabnya -dan kitabnya kuat- terkadang menyebutkan di dalamnya sebagian permasalahan yang memuat kekurangan atas sebagian shahabat ridhwanullah alaihim."

Sumber:
https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=1475

Di Antara Hasungan untuk Anak-anak Kita

Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, 


فهكذا ينبغي أن نربي أبناءنا على المساجد، وعلى مجالسة الصالحين، وعلى قراءة القرآن، قراءة القرآن التي أصبحت مهجورة عند كثير من الشباب الإسلامي وفي كثير من البلاد الإسلامية.

“Demikianlah, sudah semestinya mendidik anak-anak kita menuju ke masjid (untuk shalat/beribadah) dan bermajelis dengan orang-orang shalih serta mendidik mereka untuk membaca Al Qur'an, di mana membaca Al Qur'an kini telah terjauh pada kebanyakan kaum muda muslim dan pada mayoritas negeri-negeri islam."

(Al Mushara'ah, Syaikh Muqbil, cetakan pertama, hal.193).

Bukan Ilmu Saja, tapi Juga Amal dan Mengikuti Al Haq !

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,


الرفعة لا تكون بمجرد العلم
بل باتباع الحق ، و العمل به

Keluhuran tidak akan terwujud dengan ilmu semata, akan tetapi juga dengan mengikuti al haq dan beramal dengan ilmu tersebut".

(I'lamul Muwaqqi'in, Ibnul Qayyim, 1/167).

Manfaat Air Zam-zam

Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullahu berkata, 


سمعت الحسين بن محمد يحكي عن ابن خيرون أو غيره: أن الخطيب ذكر أنه لما حج شرب من ماء زمزم ثلاث شربات، وسأل الله ثلاث حاجات، أن يحدث بتاريخ بغداد بها، وأن يملي الحديث بجامع المنصور، وأن يدفن عند بشر الحافي، فقضيت له الثلاث."

"Aku mendengar Al Hussein bin Muhammad menghikayatkan dari Ibnu Khairun atau selainnya, bahwa Al-Khathib (al-Baghdadi) menyebutkan, bahwasanya beliau ketika berhaji minum air zam-zam sebanyak 3 kali dan meminta kepada Allah tiga hajat/permintaan. (Pertama) agar bisa menyampaikan/menulis tarikh/sejarah baghdad, (kedua) agar bisa membacakan hadits di Masjid Jami Al Manshur dan (ketiga) agar kelak dimakamkan di sisi Bisr al-Hafi. Maka Allah subhanahu wa ta'ala menunaikan tiga hajatnya tersebut".

(Siyar Alamun Nubala, Adz Dzahabi, jil. 18, hal. 279).

Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid Didapat Pula Ketika Pulangnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. 

Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafizhahullahu menyatakan,

وهذا الثواب كما يكون في الذهاب، فإنه يكون أيضاً في الإياب

"Dan pahala ini (keutamaan berjalan menuju masjid) sebagaimana di dalam perginya juga (sama dalam pahalanya), karena sesungguhnya mendapatkan pula ketika pulangnya". (Syarhul Adabil Masyi ilash Shalah hal. 9, cet. Darul Furqan).

Penjelasan Hadits Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah beristirahat, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,

وإسباغ الوضوء في المكاره يعني في حال البرودة -برودة الجو وبرودة الماء- كونه يسبغ الوضوء في هذه الحال يدل على عظيم العناية بالوضوء والحرص على أن تؤدى الصلاة بوضوء شرعي سليم

Menyempurnakan wudhu pada saat keadaan kurang nyaman yakni dalam keadaan yang dingin -dingin udaranya dan dingin airnya- dilakukan sempurna di dalam wudhunya pada keadaan tersebut, menunjukkan tingginya perhatian orang tersebut dengan perkara wudhu dan semangatnya ia dalam menunaikan shalat dengan wudhu yang syar'i.


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata pula,

وليس معنى الرباط أنه يبقى في المسجد لا يعمل لحاجاته ولا يذهب لقضاء حاجة أهله ولا يبيع ولا يشتري لا، المقصود: أنه يكون على باله الصلاة وعلى همته وعلى عزمه لا تذهب عن قلبه وفكره، بل كلما فرغ من صلاة فالصلاة على باله لا ينساها ولا يضعف عنها، بل هو مرابط في هذا الأمر بالتذكر والعناية والمحافظة والمسارعة كل صلاة في وقتها

Bukanlah makna ar ribath itu ia tinggal di masjid, janganlah ia mengamalkan sesuatu di masjid untuk keperluannya, jangan pula ia pergi ke masjid untuk menunaikan keperluan keluarganya, tidak pula untuk menjual atau membeli, bukan!. Maksudnya adalah ia menjadikan pada dirinya hanya ada shalat, dan tujuan utamanya serta fokusnya tidak keluar dari hati dan pikirannya melainkan untuk shalat.
Setiap ia selesai dari shalat, maka perkara shalat di jiwanya tidak terlupakan dan tidak lemah dari menunaikannya.

Bahkan ia mutlak mengikat perkara shalat ini dengan dzikir , perhatian, penjagaan dan bersegera di setiap shalat pada waktunya". D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D9%84%D9%83%D9%85- %D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D9%85%D8%AD%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9% 84%D9%87-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%88%D9 %8A%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%AC%D8%A7%D8 %AA
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di
catatankajianku.blogspot.com #ibadah