Jumat, 25 Januari 2019

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 3

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh
Abdullah al Bassam rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah taala adalah shalat wajib yang dikerjakan di awal waktunya dengan batasan-batasan yang telah ditentukan syariat, karena di dalam amalan ini terkandung sikap bersegeranya seorang hamba dalam menyambut panggilan Allah dan melaksanakan perintah-Nya serta sikap perhatiannya terhadap kewajiban yang agung ini.

Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) menjadi hak yang wajib ditunaikan, ini merupakan balasan terhadap segala apa yang telah mereka berikan dari: sebab adanya dirimu, mendidikmu, membesarkanmu, pemberian kasih sayang dan kelembutan dari mereka berdua, maka berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan bentuk balasan dari sebagian hak-hak mereka.

Adapun jihad fi Sabilillah, sesungguhnya amalan ini adalah menara dan tiangnya islam yang tidaklah tegak keduanya melainkan dengan jihad, dengan jihad juga akan tinggi kalimat Allah dan tersebar agama-Nya.

Jika jihad ditinggalkan -wal iyadzubillah- maka islam akan hancur, umatnya akan rusak, kewibawaan akan hilang dan kekuasaannya akan tegantikan dan kerajaan serta wilayahnya akan sirna.

Jihad adalah kewajiban yang ditekankan atas setiap muslim, maka barang siapa yang tidak berperang dan di dalam hatinya tidak terbetik untuk berperang maka dia mati di atas cabang kemunafikan."

(Disadur dan Diringkas dari Taisirul Allam-Syaikh Abdullah al Bassam, dinukil dari Syuruh Umdatil Ahkam jil. 1, hal. 210 dan 211, cet. Dar Ibnil Jauzi 2010)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 2

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh
Zaid al Madkhali rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Amalan yang pertama adalah shalat pada waktunya, yang dimaksud dengan shalat di dalam hadits ini adalah shalat yang benar, yaitu shalat yang memenuhi standar penunaian di dalam rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan kewajiban-kewajibannya sebagaimana tata cara shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, "Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat."

Amalan yang kedua adalah Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Birrul walidain, sebagaimana yang telah lewat, adalah termasuk amalan wajib yang harus ditunaikan oleh seorang anak, baik laki-laki atau perempuan di hadapan kedua orang tuanya dengan segenap kemampuan yang ada, yaitu dengan cara mengerjakan perintah keduanya di dalam hal yang maruf (kebaikan) dan ketaatan. Juga menjauhi sikap uquq (durhaka) yang tercela terhadap keduanya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mewasiatkan tentang birrul walidain ini sebagai sebesar-besarnya urusan, yaitu ketika didahulukannya penunaikan birrul walidain dibandingkan dengan berjihad di medan perang. Telah shahih bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, "Aku ingin berperang bersamamu."
Maka Nabi menjawab, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?"
Lelaki itu menjawab, "Ya, keduanya masih hidup."
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Kepada keduanyalah engkau berjihad." (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan yang ketiga adalah jihad fisabilillah, diawal kali seorang berjihad adalah menjihadi jiwanya sendiri sampai bisa menegakkan perintah-perintah Allah dan menjauhi berbagai keharaman Allah serta bertafaqquh (mempelajari) agama Allah, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Setelah itu, kemudian jihad di medan tempur ketika memang seorang dai tersebut dikehendaki demikian, dan jihad harus dibawah bendera (komando) pemerintahan muslim (yang sah) dalam rangka (meniatkan diri) untuk menegakkan kalimat Allah serta untuk menghilangkan kezhaliman dan kelaliman dari kaum muslimin dan muslimat.


(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Zaid al Madkhali, jil. 1, hal. 13 dan 14, cet. Darul Mirats an Nabawi 2015)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah 1

Abu Amr Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menyampaikan kepadaku -sambil menunjuk tangannya ke rumah Abdullah (ibn Masud)-

 سَأَلْتُ النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟
قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ
ثُمَّ أَيٌّ ؟
قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ،
قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ ثُمَّ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ
قَالَ : فَحَدَّثْنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتّزَدْتُهُ لَزَادَنِى  
Artinya:
"Saya bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amalan apakah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?."
Nabi menjawab, "Shalat pada waktunya". 
Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?."
Rasulullah menjawab, "Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua". 
Lalu apa lagi?" 
Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad fi sabilillah." 
Aku berkata, "Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Jika aku meminta tambahan lagi kepada beliau, niscaya beliau akan menambah lagi untukku.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad Said Raslan hafizhahullah memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Kita harus bersemangat untuk menjaga shalat-shalat kita di awal waktunya dan ini merupakan hak Allah yang paling wajib untuk kita tunaikan setelah mentauhidkannya.

Adapun hak makhluk yang paling utama adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, oleh karenanya berbuat baik kepada orang tua memiliki keutamaan yang besar di sisi syariat.

Untuk jihad fi sabilillah maknanya adalah berperang dengan orang-orang kafir yang bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah, bisa dengan harta, jiwa atau dengan setiap yang dimiliki oleh seorang muslim, dan amalan ini adalah amalan yang paling utama dari jenis pengorbanan.

Dari penyebutan urutan amalan hadits di atas dapat kita ambil faidah bahwa masing-masing amalan kebaikan itu memiliki keutamaan-keutamaan yang bertingkat-tingkat.

(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Muhammad Said Raslan, jil. 1, hal. 88 dan 89, cet. Darul Alamiyah 2016)

Channel Telegram
PetikanFaidahHadits

#tiga_amalan_yang_paling_dicintai_allah

keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 3

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Abdurrahman As Sady rahimahullah berkata, "Jika dikatakan: Apakah yang maksud dengan al bir (berbakti) yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan?

Maka katakan: Allah dan Rasul-Nya telah membuat batasan dengan batasan yang maruf (dikenal) dan penafsiran yang bisa dipahami oleh setiap orang.

Allah telah memutlakkan perintah untuk berbuat ihsan kepada keduanya dan telah menyebutkan sebagian contoh-contoh yang bisa dikategorikan sebagai perbuatan ihsan, maka setiap perbuatan ihsan berupa ucapan dan perbuatan yang sesuai dengan keadaan kedua orang tua dan anak-anaknya di waktu dan di tempat yang tepat, sesungguhnya itu adalah al bir.

Di dalam hadits ini Rasulullah menyebutkan puncak dan tujuan akhir dari al bir adalah keridhaan kedua orang tua, maka perbuatan ihsan adalah perkara yang membawa kepada hal tersebut dan yang menjadi sebab datangnya keridhaan, karena keridhaan adalah buah dari perbuatan ihsan.

Maka seluruh muamalah yang telah berjalan sesuai adatnya, semua jalan dan wasilah (perantara) yang bisa menjadikan kedua orang tua ridha, semuanya bisa masuk kepada makna al bir, sebagaimana kedurhakaan itu adalah semua perkara yang bisa membuat marah keduanya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan.

Akan tetapi semua hal di atas harus dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan. Oleh karenanya kapanpun seorang anak ketika dihadapkan kepadanya sebuah perkara yang diridhai orang tua, tapi di sisi lain membuat Allah murka, maka seorang anak hendaknya lebih mendahulukan kecintaan Allah dibandingkan kecintaan kedua orang tuanya."

(Disadur dan diringkar dari Bahjatu Qulubil Abrar-Syaikh As Sady, hal. 266 dan 277, cet. Darul Furqan 2012)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua


keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 2

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Zaid al Madkhali rahimahullahu memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Hadits ini menjelaskan bahwa sebab kemurkaan Rabb itu berdasar kemurkaan kedua orang tua atas anaknya yang durhaka baik dia seorang laki-laki atau perempuan, tidaklah itu terjadi kecuali karena memang keduanya memiliki hak atas anaknya.

Kedua orang tuanyalah yang menjadikan adanya seorang anak ketika seorang ayah menikahi ibunya. Merekalah yang menanggung dan yang menjaganya ketika dia masih di masa timang, lalu di masa kanak-kanak kemudian di masa mudanya dan di masa setelahnya, demikianlah. Mereka pula yang menjaganya walaupun dia telah dewasa, maka sesungguhnya mereka tidak pernah kurang dalam menjaga.

Oleh karena itu baktinya seorang anak kepada orang tuanya, membuat Allah pun ridha kepada anak tersebut, dan durhakanya seorang anak kepada orang tuanya, menjadikan Allah murka kepadanya, karena balasan di sisi Allah adalah tergantung dari amalannya.

Sudah dikenal di sisi manusia bahwa kedua orang tua yang berakal akan ridha terhadap anaknya walaupun dengan sedikit bakti yang dia lakukan, maka janganlah sampai seorang anak itu terjatuh kepada sebab-sebab kedurhakaan, bahkan seorang anak hendaknya terus-menerus untuk berusaha mendapat ridha Allah dan menjauhi segala perkara yang membuat murka Al Bari tabaraka wa taala wa jalla fii 'alahu.


(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Zaid al Madkhali, jil. 1, hal. 15, cet. Darul Mirats an Nabawi 2015)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua

keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua 1


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

《رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد》ِ 

Artinya:
"Keridhaan Rabb terdapat pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb terdapat ada kemurkaan orang tua."
(HR. Tirmidzy, hadits dihasankan oleh Imam Al Albani)

Syaikh Muhammad Said Raslan hafizhahullah memberikan beberapa faidah dari hadits ini, di antaranya:

Keridhaan di sini bermakna meninggalkan penyelisihan dan berusaha untuk menyepakati segala apa yang diinginkan orang tua.

Adapun kemurkaan Allah pada hadits ini adalah datang selama bukan dalam perkara maksiat, jika orang tua marah karena menyuruh kepada maksiat dan kita tidak menaatinya, maka hal ini tidak masuk kepada maksud hadits.

(Disadur dan Diringkas dari Syarah Kitab al Adabul Mufrad-Syaikh Muhammad Said Raslan, jil. 1, hal. 91, cet. Darul Alamiyah 2016)

Channel Telegram
@PetikanFaidahHadits

#keridhaan_rabb_berdasar_keridhaan_orang_tua

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 7

Kesungguhan Ulama dalam Penyusunan Hadits

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Terus menerus para ulama dalam kesungguhannya menyusun hadits-hadits, maka tampilah seorang yang bernama Ahmad ibn Hanbal rahimahullah dengan musnad-nya sebagai imam bagi manusia.

Ketika masa semangat-semangatnya gerakan untuk mengumpulkan hadits, kala itu Kufah adalah pusat utama dalam kegiatan tersebut, maka para ulama pun mulai meletakkan syarat-syarat dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi dalam hal penghukuman status sebuah hadits agar hadits tersebut bisa terhukumi menjadi shahih dan bisa diterima, yakni penbahasan pada sisi rantai sanadnya agar tetap bersambung dari nukilan orang-orang yang adil terpercaya hingga rantai penukilannya tersebut sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para ahlul hadits membahas sanad-sanad yang ada, agar terbedakan mana hadits yang kuat dan mana yang lemah, oleh karenanya mereka meletakkan ilmu al jarh wat ta'dil untuk dapat menilai kredibilitas orang-orang yang berada di dalam sanad hadits (perawi). Yang terkenal dan mumpuni dengan keilmuan ini dari kalangan cendikia yang biasa mengkritik para perawi di antaranya adalah Yahya ibn Ma'in, Yahya ibn Sa'ad al Qaththan, Abdurrahman ibm Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, Ali ibnul Madini, Al Bukhari, An Nasaai, Ibnu Hibban, Ad Daruquthni, Abu Zuhrah ar Razi dan Abu Hatim al Busti.

Tidaklah mereka tinggalkan seorang perawi yang meriwayatkan suatu hadits kecuali mereka akan dinukilkan derajat kredibitasannya. Mereka mengadakan pengajaran tentang keadaan perawi tersebut dengan kajian yang memadai dan menulis kitab-kitab yang berisikan para perawi yang lemah, perawi yang ditinggalkan dan perawi yang tidak dikenal, sehingga dengan itu mereka membagi hukum suatu hadits sesuai dengan sanadnya masing-masing kepada shahih, hasan dan dhaif. Mereka juga mengkaji keadaan-keadaan hadits yang ada, dan mendapati berbagai macam illat (cacat) pada masing-masingnya, maka mereka pun membuat pembagian hukum-hukum hadits yang berkenaan dengan itu seperti: hadits mursal, munqathi, mu'dhal, syadz dan munkar dari pendustaan.

Kesimpulannya adalah mereka tidaklah meninggalkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hadits kecuali telah lengkap pembahasannya dan pengkajiannya, maka dengan inilah akhirnya terjaga sunnah nabi di antara mereka dari hal-hal yang aneh dan dusta.

Ketika Imam Bukhari rahimahullah ingin menyusun kitab Shahih-nya, beliau menyaratkan dengan dua syarat:
Syarat yang pertama adalah bahwa masing-masing setiap perawi yang terhubung di dalam suatu sanad, dalam mengambil haditsnya mesti sama-sama hidup sezaman.
Syarat yang kedua adalah masing-masing perawi dalam rantai sanad dipastikan bertemu dan memang mengambil (meriwayatkan) hadits darinya.

Akan tetapi Imam Muslim rahimahullah hanya mencukupkan dengan syarat yang pertama saja, yakni masing-masing perawi cukup diketahui hidup sezaman saja, oleh karenanya derajat pentashihan hadits pada Imam Bukhari itu lebih tinggi (dibandingkan Imam Muslim), walaupun (kitab Shahih yang disusun oleh) Imam Muslim itu lebih unggul dari sisi pengurutannya dibandingkan Imam Bukhari."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 28 dan 29, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Dibuatkan Rumah di Surga, Mau?


Ingin dibuatkan rumah di dunia? Itu mah angan-angan biasa.. Nah, ini ya akhi, dibuatkan rumah di surga, baru namanya, angan-angan luar biasa..

Simak sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
Artinya:
"Barangsiapa yang merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at di dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga, (yakni):
Empat raka’at sebelum  zhuhur
Dua raka’at sesudah zhuhur
Dua raka’at sesudah maghrib
Dua raka’at sesudah ‘Isya
Dan dua raka’at sebelum shubuh."

(HR. Tirmidzi dari Aisyah radhiallahu 'anha dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani rahimahullahu)

Teorinya mudah, tapi masyaallah susah mengamalkannya ya. Oleh karenanya, mari kita sisipkan di antara lantunan doa-doa kita, untuk diberi kemudahan oleh Allah dalam mengamalkannya.

Menunggu Shalat adalah Termasuk Akhlak yang Baik kepada Allah


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menerangkan, "Bentuk akhlak yang baik kepada Allah yang terkait dalam perkara shalat adalah untuk melaksanakannya dan hatimu lapang dan tenang, dan menjadi penyejuk kedua matamu.

Engkau merasa senang (dengan shalatmu) ketika dirimu tertimpa kegundahan dan engkau menunggu-nunggu akan datangnya shalat dan waktunya.

Jika engkau telah shalat shubuh maka engkau rindu akan shalat zhuhur, jika engkau telah shalat zhuhur maka engkau rindu akan shalat ashar, jika engkau telah shalat maghrib maka engkau rindu akan shalat isya, jika engkau telah shalat isya maka engkau rindu akan shalat shubuh, dan demikian seterusnya.

Hendaknya hatimu senantiasa terpaut dengan shalat-shalat, dan tdak diragukan lagi bahwa ini adalah termasuk akhlak yang baik terhadap Allah taala.."

(Kitabul Ilmi [Husnul Khuluq wa Ahammiyatihi li Thalibil Ilmi]-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 221, cet. Maktabatul Islamiyyah 2005)

Dengan Ilmu, Orang akan Mulia


Allah taala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Mujadilah: 11)

Di dalam Shahih Muslim (817) dari Amir ibn Watsilah bahwa Nafi ibn Abdil Harits bertemu dengan Umar ibnul Khathab di Negeri Usfan, dan Umar dahulu pernah mengangkat dirinya di Makkah.

فَقَالَ: مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي؟
فَقَالَ : ابْنَ أَبْزَى
قَالَ: وَمَنْ ابْنُ أَبْزَى؟
قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا
قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى
قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ
قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَدْ قَالَ : " إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا ، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Artinya:
Umar bertanya kepada Nafi, "Siapakah yang engkau angkat menjadi wakil bagi ahlul wadi (Makkah)?"

Nafi menjawab, "Ibnu Abza"

Umar bertanya, "Siapakah Ibnu Abza?"

Nafi menjawab, "Dia seorang bekas budak dari kami."

Umar bertanya, "Apakah engkau telah mengangkat seorang budak sebagai wakil atas kalian?!"

Nafi menjelaskan, "Dia adalah seorang qari kitabullah (yang memahami Al Quran, pent) dan orang yang mengetahui ilmu tentang faraid (hukum waris)."

Maka Umar berkata, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Allah berfirman,

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar: 09)

(Dinukil dari Fadhlu Majalis Ahlil Ilmi wadz Dzikr-Syaikh Yasin al Adani, hal. 10-11, cet. Maktabah Al Imam Al Wadi'i Shan'a 2011).

Mengenal Risalah Masail Jahiliyyah


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Risalah ini adalah termasuk dari risalah-risalahnya milik Asy Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullahu yang diberi nama:

مسائل الجاهلية التي خالف فيها رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أهل الجاهلية 

"Permasalahan-permasalahan jahiliyah yang diselisihi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap ahlu jahiliyyah"

Risalah ini mencangkup sebanyak 180 permasalahan, beliau ringkas semua dari Al Kitab, As Sunnah dan ucapan-ucapan ahlul ilmi dengan maksud memberi peringatan bagi kaum muslimin agar mereka menjauh dari permasalahan-permasalahan yang disebut karena hal itu sangat berbahaya."

(Syarah Masail Jahiliyyah-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 9, cet. Darul Furqan 2014)

Belajar Tafsir Al Quran Agar Terhindar dari Celaan Allah


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, "Allah taala telah mencela ahlul kitab terdahulu karena berpalingnya mereka dari kitabullah, dan condongnya mereka kepada dunia dan mengumpulkan dunia, serta sibuknya mereka dari perkara-perkara yang bukan bagian dari ittiba-nya (ketaatan) kepada kitabullah.

Maka wajib bagi kita -wahai kaum muslimin- untuk berhenti dari segala yang bisa menghantarkan kepada celaan Allah, dengan melaksanaakan perintah-perintahnya, yakni mempelajari kitabullah (Al Quran) yang diturunkan kepada kita, lalu mengajarkannya, memahaminya dan memahamkannya (kepada orang lain)."

(Tafsirul Quranil Azhim-Imam Ibnu Katsir, jil 1, hal. 8, cet. Darul Aqidah 2008)

Mintalah Tambahan Ilmu!


Allah subhanahu wa taala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا  

Artinya:
"Dan katakanlah (wahai Muhammad) Wahai Rabb-ku tambahkanlah untukku ilmu." (QS. Thaha: 114)

Seorang hamba yang dirinya meminta penambahan dan memperbanyak ilmu syari maka ini adalah terpuji, bahkan suatu yang dituntut sebagaimana telah jelas dari zhahir (tampak) ayat.

Adapun seorang hamba yang dirinya meminta dunia maka ini tercela, bahkan ini terlarang. Dalil (dasar) akan hal ini adalah sebagaimana dalam riwayat hadits Al Bukhari 2436 dan Muslim 1049, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مال لابتغى ثالثا وَلَاْ يَمْلأُ جوف اِبْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya:
“Jika seandainya seorang anak Adam mempunyai dua lembah harta, niscaya dia akan menginginkan yang ketiga, dan tidak akan penuh (memuaskan) mulutnya bani Adam kecuali dengan tanah (mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”

Lafazh ini milik Al Bukhari dan terdapat di dalam Ash Shahih dari (periwayatan) selain Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

Dan ucapan hadits,
"Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat", menunjukkan bahwa ini adalah hirs (keinginan/obsesi) yang tercela."

(Fadhlu Majalis Ahlil Ilmi wadz Dzikr-Syaikh Yasin al Adani, hal. 9, cet. Maktabah Al Imam Al Wadi'i Shan'a 2011).

Tata Cara Mandi Junub yang Dijelaskan Imam Nawawi dan Mazhab Syafi'i


Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Para shahabat kami (yang bermazhab asy syafi'i) berkata, "Mandi janabah yang sempurna adalah: Seorang yang ingin mandi memulai mencuci kedua telapak tangannya terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum memasukan tangannya ke dalam bejana.

Kemudian dia mencuci kotoran yang terdapat dibagian atas farj-nya dan seluruh bagian farj-nya.

Kemudian dia berwudhu dengan sempurna sebagaimana dia berwudhu ketika ingin shalat.

Kemudian dia masukkan seluruh jari jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela kepala dan jenggotnya hingga membasahi pangkal tumbuh rambutnya.

Kemudian guyurkanlah air ke seluruh badannya sebanyak tiga kali.

Hendaknya dia memperhatikan lipatan-lipatan badannya seperti: ketiak, lubang telinga, lubang pusar, apa yang terdapat di antara kedua pinggul, jari jemari kaki, lipatan perut dan selainnya, maka hendaknya air mengenai seluruh tubuh yang disebutkan tadi.

Kemudian dia guyurkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali dan guyurkan air ke seluruh badannya sebanyak tiga kali juga.

Dia gosok-gosok badannya dengan tangannya tiap kali air mengalir ke tubuhnya.

Jika dia mandi di sebuah sungai atau di kolam yang besar, maka dia menyelam sebanyak tiga kali dan pastikan kulit badan dan rambutnya basah terkena aliran air baik dia berambut lebat atau tipis. Seluruh rambutnya harus tercuci hingga mencapai bagian pangkal tumbuhnya rambut.

Disukai untuk memulai mengguyur pada bagian kanannya dan bagian atas badannya terlebih dahulu dan menghadap kiblat.

Setelah mandi dia berdoa,

اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Hal yang disebutkan di atas dari awal hingga akhirnya, hendaknya dia niatkan dengan niat mandi janabah."

(Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi-Imam Nawawi, jil 3, hal. 190-191, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Mengusap Leher ketika Berwudhu


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "..Adapun leher, maka tidak ada sedikitpun (dalil yang) berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Adapun Asy Syaukani di dalam kitab Nailul Authar, setelah beliau menjelaskan bahwa haditsnya dhaif diakhir bahasan, dan berkata, "Tidak mengapa untuk mengamalkannya".

Ini tidak benar. Mengusap leher tidaklah benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 35, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)

Jangan Merasa Aman dari Bidah dan Kesesatan!


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah berkata, "Dahulu para salaf semisal Ibnu Sirrin seorang imam dari imam-imam sunnah dan Ayub as Sikhtiyani, menolak ahlu bidah untuk membacakan kepadanya sebuah ayat dari Al Quran, dengan mengatakan, "Tidak, walaupun setengah ayat!"

Mengapa? Mereka memahami, bahwa ini adalah bertujuan untuk memberikan kerancuan saja. Mereka membacakan ayat agar syubhat bisa dikeluarkan nanti, maka para ulama berkata, "Aku tidak mau mendengarnya!".

Mengapa para ulama melakukan hal yang demikian? Mereka menjelaskan, "Sesungguhnya hatiku bukan berada di tanganku, dan aku takut terhadap diriku dari fitnah."

Jika para imam-imam saja takut terhadap diri-diri mereka sendiri dari fitnah, maka Anda bagaimana bisa merasa aman? Bagaimana bisa merasa aman?

Para shahabat saja dahulu mengkhawatirkan diri-diri mereka, khawatir terhadap kenifakan, lalu Anda bagaimana bisa merasa aman dari kenifakan?

Bagaimana Anda bisa merasa aman dari terjatuhnya kepada kebidahan? Padahal Anda sedang mendatangi sebab-sebab yang bisa menjerumuskan kepada kebidahan, kemudian Anda menunggu keselamatan?!"

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Allamah Rabi ibn Hadi al Madkhali, juz 2, hal. 17, cet. Dar Al Imam Ahmad 2014).

Bagaimana bisa "laa ilaha illallah" itu mencangkup atas seluruh macam-macam tauhid?


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Kalimat itu mencangkup atas seluruh macam-macam tauhid, bisa karena memang kandungan di dalamnya, atau karena ada suatu bentuk ilzam (keharusan) di dalamnya.

Oleh karenanya ketika ada seorang yang mengucapkan "asyhadu alla ilaha illallah" maka terlintas di benak bahwa yang dimaukan dari kalimat itu adalah tauhid ibadah -yang mana dinamakan juga tauhid uluhiyyah-, dan ini mengandung tauhid rububiyyah, karena setiap ibadah hanya kepada Allah saja dan sesungguhnya tidak ada yang pantas menjadi Dzat yang diibadahi, sampai Dia adalah Dzat yang mempunyai sifat rububiyyah.

Demikian juga terkandung di dalamnya tauhid asma wa sifat, karena seorang insan tidak akan beribadah kecuali kepada Dzat yang telah diketahui bahwa memang Dzat tersebut adalah berhak untuk diibadahi yang mempunya nama-nama dan sifat-sifat. Oleh karenanya Nabi Ibrahim berkata,

يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Artinya,
"Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?" (QS. Maryam: 42).

Maka tauhid ibadah mencangkup juga kepada tauhid rububiyyah dan tauhid al asma wash shifat."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 79, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Makna Ibadah


Syaikh Ahmad ibn Yahya an Najmi rahimahullahu berkata, "Adapun ibadah -yang untuk tujuan itulah seorang hamba diciptakan, telah Allah terangkan di dalam Al Quranul Karim dan telah dijelaskan oleh Rasulullah dengan penjelasan yang paling baik- adalah seluruh beban syari yang Allah telah bebankan kepada hamba-Nya, baik hal itu yang hukumnya wajib atas mereka, atau yang wajib atas sebagiannya.

Yang wajib dilakukan pada diri-diri mereka seperti memanjangkan jenggot, memotong kumis, haramnya isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki), haramnya memakan harta riba, haramnya memakan bangkai dan haramnya meminum khamr (miras) serta perkara yang semisal itu."

(Al Mauridul Adzbuz Zulal-Syaikh Ahmad ibn Yahya an Najmi, hal. 48, cet. Darul Minhaj 2008)

Ilmu Bagaikan Bercocok Tanam


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Ilmu itu bagai bercocok tanam, jika dipelihara (diurus) maka akan tumbuh dan berbuah, namun jika ditinggalkan maka akan menjadi mati dan hilang.."

(Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 34, cet. Darul Bashirah 2009).

Yang Penting Dicintai, bukan Mencintai


Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Sebagian para salaf berkata: Bukanlah urusannya engkau mencintai, akan tetapi urusannya adalah engkau dicintai.

Bukanlah urusannya engkau mencintai Allah jalla wa 'ala, bukanlah urusannya engkau mencintai Rasulullah, bukanlah urusannya engkau mencintai agama, akan tetapi urusannya adalah engkau dicintai Allah jalla wa 'ala.

Allah jalla wa 'ala tidaklah mencintai seorang hamba kecuali jika amalannya baik, Allah jalla wa 'ala berfirman,

ليبلوكم ايكم احسن عمل

Artinya,
"Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya". (QS. Al Mulk: 2)

Fudhail ibn Iyadh berkata di dalam tafsirnya yang terkenal, "Amalan yang baik adalah yang ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah jalla wa 'ala tiada yang lain, dan benar di atas sunnah Al Mushthafa shallallahu alaihi wasallam."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 16, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Dzikir dan Doa ketika Berwudhu yang Lemah


Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, "Adapun dzikir-dzikir yang dahulu kami ucapkan, yaitu ketika mencuci wajah:

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ...

Dan ketika mencuci tangan kanan:

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ ...

Dan ketika mengusap kepala juga kami mengucapkannya dan aku tidak hafal, demikian pula ketika mengusap leher/kepala:

اللَّهُمَّ امن رقبتي لن الغل الى اخرة

Dan ketika mencuci kedua kaki:

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطكِ المستقيم

Ini tidaklah benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Telah disebutkan hal ini oleh seorang imam dari negeri Yaman, Muhammad ibn Ismail Al Amir di dalam kitabnya Subulus Salam, dan disebutkan pula oleh An Nawawi rahimahullah, dan di dalamnya terdapat sanad-sanad yang bathil (lemah), sebagaimana telah disebutkan oleh Al Hafizh di dalam takhrij-nya kitab Al Adzkar karya An Nawawi.

Di dalamnya terdapat sanad-sanad yang banyak, akan tetapi bathil, tidak benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.."

(Ijabatus Sail ala Ahammil Masail-Syaikh Muqbil al Wadi'i, hal. 35, cet. Maktabah Shana al Atsariyah 2015)

Bagi yang Baik Niatnya..


Sufyan ats Tsauri rahimahullah berkata, "Kami tidak mengetahui jenis amalan yang paling afdhal dibandingkan thalabul ilmi dan thalabul hadits, (tentunya) bagi siapa yang baik niatnya di dalam menjalankannya."

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 163, cet. Darul Furqan 2008).

Taubatnya Ibnu Aqil rahimahullah dari Kebidahan dan Kesesatan


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah berkata, "Ibnu Aqil adalah seorang gunung dari gunung-gunung ilmu, beliau juga seorang yang cerdas.

Namun ketika dia mengambil ilmu dari seorang ahlu bidah, yakni dari seorang yang berpemahaman mutazilah, padahal sebagian dari para syaikh bermazhab hanbali telah memperingatkannya dan memperingatkannya, tapi beliau tidak menggubrisnya dan lebih memilih kepada jalan pilihannya sendiri, maka dia pun terjatuh kepada kerendahan bidah dan kesesatan, dan ini telah tersebar di berbagai kitab-kitabnya.

Maka datanglah ancaman dari sebagian para pemuda untuk membunuhnya, kemudian sebagian orang menasehatinya dan mematahkan (pemikiran bidah dan sesatnya), maka beliaupun bertaubat dan kembali (ke jalan al haq) serta menulis pernyataan taubatnya.

Poinnya adalah, bahwa beliau seorang yang mempunyai ilmu mumpuni dan memiliki akal yang besar (cerdas), akan tetapi bersamaan dengan itu, beliau bisa terjatuh ke dalam jeratan ahlu bidah, karena seorang alim bisa tertipu oleh seorang ahlu bidah sehingga terajatuh kepada kesesatan.."

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Allamah Rabi ibn Hadi al Madkhali, juz 2, hal. 16-17, cet. Dar Al Imam Ahmad 2014).

Yang Utama bagi Pemula dalam Belajar


Apa yang afdhal (utama) bagi seorang yang menuntut ilmu: apakah memulai dengan tafsir Al Quran Al Karim, ataukah menghafal matan-matan dari hadits dan fikih serta ushul (pondasi) dari keduanya?

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu menjawab, "Jalan yang benar bagi seorang penuntut ilmu pemula adalah menghafal matan-matan dan membacanya kepada ulama supaya dia bisa bertalaqqi (langsung bertemu belajar) tentang penjelasan dari matan-matan serta keterangan-keterangannya.

Hendaknya juga berjenjang di dalam menuntut ilmu, yakni dengan cara sedikit demi sedikit, dimulai dari yang ringkas-ringkas, kemudian yang agak sedang, lalu yang lebih luas dari kitab-kitab yang ada.

Dan itu diiringi dengan bermulazamah (berkesinambungan dalam hadir) di hadapan ulama di dalam pelajaran-pelajaran umum atau pelajaran-pelajaran yang kelas.

Ilmu itu diambil dengan cara bertalaqqi, dan bukan hanya sekedar me-muthala'ah (membaca) saja, wallahu alam."

(Disadur dari Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 34. cet. Darul Bashirah 2009).

Bertanyalah kepada Ahlu Dzikr! Siapa Ahlu Dzikr?


Allah taala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
"Maka bertanyalah kalian kepada ahlu dzikr (orang yang mempunyai ilmu) jika kalian tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu menjelaskan, "Ahlu dzikr adalah ahlul ilmi. Janganlah engkau sandarkan kepada pemahamanmu atau pemahaman orang lain yang semisal dirimu, atau dibawahmu (dalam tingkat keilmuannya).

Tapi engkau wajib untuk bertanya kepada ahlul ilmi! Allah tidak mengatakan, "Bertanyalah kepada sebagian lain di antara kalian", akan tetapi Allah firmankan, "Bertanyalah kalian kepada ahlu dzikr" secara khusus.

Inilah nasehatku untuk para segenap pemuda, yakni untuk mengarahkan diri kepada menuntut ilmu yang bermanfaat, dan mengambil ilmu dari ulama yang mumpuni dalam keilmuannya dan yang bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

Berkata sebagian salaf, "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaknya kalian lihat dari siapa asal terambilnya ilmu kalian."

Semua ini (hasilnya) tidak akan baik, ketika engkau mengambil agamamu kecuali dari seorang yang alim dan bertakwa."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 18, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Aku Menghafal karena Aku Suka Jika yang Aku Hafal di Hatiku


Di antara faktor penunjang agar mudahnya seseorang dalam menghafal, adalah dia suka terhadap sesuatu yang dia ingin hafal. Perhatikanlah petikan faidah di bawah ini:

Muhammad ibn Nadhr ibn Musawir mengisahkan bahwa ayahnya pernah berkata heran kepada Imam Ibnul Mubarak, "Wahai Abu Abdurrahman, apakah engkau menghafal hadits?"

Maka berubahlah warna wajah Imam Ibnul Mubarak seraya berkata, "Tidaklah aku menghafal sebuah hadits pun. Hanya saja aku mengambil sebuah kitab, maka aku lihat isi kitab tersebut, kemudian aku ingin agar (yang aku lihat tersebut) menetap di hatiku."

Tarikh Baghdadi-Khathib al Baghdadi, juz 10, hal 165 dan Siyar Alamun Nubala-Imam Adz Dzahabi, juz 8, hal 392)

Keutamaan Berdoa Setelah Wudhu


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Artinya,
"Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

(Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu)

Artinya,
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah."

Kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” (HR. Muslim)


Penjelasan:
Syaikh Al Mubarakfury rahimahullahu berkata, "Yang dimaksud dalam hadits ini adalah terjadi ketika di hari kiamat.

Disebutkan di dalam hadits, akan dibukakannya kedelapan pintu surga, adalah sebagai bentuk pemuliaan akan amalan yang disebut dalam hadits, walaupun nanti sebenarnya ketika memasuki surga, mesti melalui satu pintu saja.

Kemudian yang nampak adalah seorang yang akan masuk surga, kelak akan masuk melalui salah satu pintu khusus yang telah disediakan bagi orang yang menonjol pada amalan-amalan tertentu, maka jadilah surga itu memiliki pintu yang banyak. Seperti pintu Ar Rayyan, pintu itu diperuntukkan bagi orang yang sering berpuasa, wallahu alam. "

(Silahkan dilihat pada kitab Syarhu Misykatil Mashabih tentang hadits ini)

Alasan Klasik bagi Orang-orang yang Bermaksiat


Apa yang harus kami katakan kepada orang yang kami ajak untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, tapi dia malah berkata, "Sesungguhnya Allah belum menetapkan bagiku hidayah.." dan yang kedua berkata, "Sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya.."

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Adapun orang pertama yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak menetapkan bagiku hidayah..", maka terlepas dari kepolosannya, kami katakan, "Apakah engkau mengetahui perkara yang ghaib, atau engkau telah mengambil suatu perjanjian dengan Allah?!"

Jika dia katakan, "Iya, benar.." maka engkau telah kafir, karena engkau telah mengaku-aku perkara yang ghaib.

Jika dia katakan, "Tidak.." maka engkau telah dikalahkan (dengan jawabannya). Jika engkau tidak tahu bahwasanya Allah tidak menetapkan bagimu hidayah, maka raihlah hidayah!

Allah tidaklah menghalangi dirimu dari hidayah, bahkan Allah menyerumu untuk menjemput hidayah dan mendorongmu untuk mendapatkannya.

Allah bahkan memperingatkan dirimu akan kesesatan dan melarangmu dari berbuat sesat, dan Allah tidak menghendaki hamba-Nya untuk dibiarkan di atas kesesatan selamanya. Allah taala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ

Artinya:
"Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepada kalian, dan menunjuki kepada kalian, jalan-jalan orang yang sebelum kalian (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu". (QS. An Nisa: 26).

Maka bertaubatlah kepada Allah!

Allah azza wa jalla sangat gembira dengan taubatmu dibandingkan dengan gembiranya seorang yang kehilangan tunggangannya. Padahal di atas tunggangannya tersebut terdapat makanan dan minuman miliknya, sehingga dia pun berputus asa, sehingga dia tertidur di bawah pohon menunggu ajal. Maka ketika dia terbangun, tiba-tiba tali kekang tunggangannya sudah terikat di pohon. Maka dia pun memegang tali kekang tersebut dan berkata, "Yaa Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.." dia salah dalam berucap karena sangat gembiranya, padahal dia ingin mengatakan, Yaa Allah, Engkau adalah Rabb-ku dan aku adalah hamba-Mu.."

Adapun ucapan orang yang kedua yang mengucapkan, "Sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya..", jika Allah yang memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya, maka pernyataan ini adalah penghujat atas dirimu sendiri.

Hendaknya engkau semestinya meraih hidayah itu sehingga engkau menjadi orang yang dikehendaki Allah dengan hidayah-Nya."

Pada hakikatnya, jawaban dari orang-orang yang bermaksiat, justru menjadi penghujat bagi mereka sendiri, dan tidaklah bermanfaat hal itu semua di sisi Allah, karena Allah azza wa jalla berfirman,

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

Artinya:
"Niscaya orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidaklah akan mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kalian mempunyai ilmu sehingga dapat kamu menjelaskannya kepada Kami?" Kamu tidaklah mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta." (QS. Al An'am: 148).

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 96, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011).

Dibanding Banyak Tapi Membinasakan

Abu Darda radhiallahu anhu berkata,

"اعْبُدُوا اللَّهَ كَأَنَّكُمْ تَرَوْنَهُ ، وَعُدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى ، وَاعْلَمُوا أَنَّ قَلِيلا يُغْنِيكُمْ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُلْهِيكُمْ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْبِرَّ لا يَبْلَى ، وَأَنَّ الإِثْمَ لا يُنْسَى" . (الزهد لوكيع بن الجراح)
Artinya:
"Beribadahlah kalian kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan *persiapkanlah diri-diri kalian untuk (menghadapi) kematian*.

Ketahuilah oleh kalian bahwa yang sedikit tapi bisa mencukupi itu lebih baik dibandingkan banyak tapi membinasakan.

Ketahuilah bahwa kebaikan itu tidak akan tersia-siakan dan sebuah dosa tidak akan dilupakan (akan ada hisabnya)."

(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah)


Ralat:
Pada terjemahan

وَعُدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى
Tertulis:
persiapkanlah diri-diri kalian untuk (menghadapi) kematian

Yang benar:
Anggaplah dirimu termasuk orang-orang yang telah mati.

Jazakallahukhaira kepada al akh yang mengingatkan. Semoga Allah mengampuni saya (admin) dan memberikan pahala dan barakah ilmu kepada al akh yang mengingatkan.

Dua Pondasi dan Asas Islam


Syaikh Ubaid al Jabiri hafizhahullahu berkata, ".... Pondasi agama islam dan asasnya ada dua perkara, yaitu:

1. Perintah untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan memotivasi ke arah situ. Bermuwalah (bersikap loyal) di dalam batasan ini dan berlepas diri terhadap orang yang meninggalkan prinsip ini.

2. Memperingatkan umat dari perbuatan syirik di dalam beribadah kepada Allah dan tegas terhadap urusan ini. Memancangkan permusuhan di dalam batasan ini dan berlepas diri dari pelaku syirik."

(Majmu'atur Rasail al Jabiriyyah [Syarhu Hadits Ittaqillaha Haitsuma Kunta], hal. 27-28, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015)

Mau Tidur Ingat Kamu, Mau Makan Ingat Kamu, Sampai Mau Shalat pun Ingat Kamu..


Siapa sih "kamu" itu? Kok istimewa banget..

Ternyata "kamu" itu adalah dunia. Termasuk dunia adalah harta, wanita, tahta dan lainnya yang masuk ke dalam kategori dunia, dan ini tentunya tercela.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, " Kebanyakan manusia telah berlebih-lebihan di dalam mencintai dunia sehingga mereka tersibukkan dari berbuat taat kepada Allah.

Dunia telah menjadi obsesi terbesar baginya dan menjadi labuhan amalannya. Hatinya sibuk (selalu memikirkan) dunia di kala tidurnya, ketika terjaganya, kala makan dan minumnya, di kesendiriannya, di tempat kumpulnya.

Sampai pun ketika ibadah dan shalat, hatinya selalu sibuk dengan dunia ..."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 152, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Semoga Allah taala memberikan keistiqamahan kepada kita semua di atas ketaatan dan al haq, amin.

Sabtu, 19 Januari 2019

Langkah Kaki yang Berat tapi Penuh Bermanfaat


Tidak terlalu jauh tapi kok berat ya? Rasanya malas dan tak kuasa untuk melangkah, ya memang begitulah keadaannya, banyak kaum muslimin yang berat untuk melangkahkan kakinya ke masjid untuk shalat, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Artinya:
“Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian dia berjalan menuju ke salah satu rumah dari rumah Allah (masjid) untuk menunaikan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah (shalat berjamaah), maka salah satu langkah dari langkah-langkah kakinya akan menghapuskan dosa, dan langkah kaki yang lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Kesimpulannya adalah:
1. Bersuci dulu di rumahnya
2. Berniat untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah
3. Berjalan menuju ke masjid

Maka ini ganjarannya:
1. Langkah kaki yang satu akan menghapus dosanya
2. Langkah kaki yang lainnya akan menaikan derajatnya

Semoga artikel ringkas ini bisa menjadikan kita semangat untuk berjalan ke masjid dalam rangka menunaikan shalat berjamaah, terlebih dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ

Artinya:
“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Ngeri, Status dan Hukuman Orang yang Berani Mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Barang siapa yang mencela atau mengolok-olok Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka dia kafir, baik dalam keadaan serius, main-main atau becanda, Allah berfirman,

أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ ☆ لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Artinya:
Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, engkau berolok-olok? Tidak perlu kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah imanmu”. (At Taubah: 65-66)

Jika dia mau bertaubat maka diterima taubatnya, berdasar firman Allah taala,

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya:
Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az Zumar: 53)

Jika ada yang mencela Rasul, dan dia taubat, apakah tetap dibunuh atau tidak?

Jika yang mencelanya adalah orang kafir maka dia tidak dibunuh, berdasar firman Allah taala,

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

Artinya:
Katakanlah kepada orang-orang kafir : "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka dari dosa-dosanya yang lalu." (Al Anfal: 38).

Tapi jika yang mencelanya adalah seorang muslim maka dia telah murtad, dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang dipilih Ibnu Taimiyyah, yakni dia dibunuh dan diminta untuk taubat, ini sebagai balasan atas kelancangannya terhadap Rasulullah.

Jika ada yang mengatakan bahwa telah ada di zaman Rasulullah hidup orang-orang yang mencela Rasulullah, tapi mereka tidak dibunuh?

Jawabnya benar, memang demikian. Beliau memaafkan mereka dan tidak membunuhnya. Beliau berhak memaafkan dan menghukum di saat hidupnya.

Akan tetapi di zaman setelah Rasulullah wafat, kita tidak bisa mengetahui apakah celaan dan olok-olokan yang dilakukan orang-orang itu dimaafkan atau tidak, maka jika ada yang mencela, hukumannya adalah dibunuh.

Di antara maslahat (sisi positif) dibunuhnya mereka (yang mencela Rasulullah) adalah agar orang-orang bisa menjaga lisannya untuk tidak mencela Rasulullah.

Adapun orang-orang yang telah melakukan pencelaan terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dia ingin bertaubat, maka taubatnya diterima jika taubatnya taubat nasuha (sungguh-sungguh), dan urusannya ada di tangan Allah taala, jika mereka tidak dibunuh sekarang, besok mereka pun akan meninggal.

Ini adalah pendapat yang benar di dalam permasalahan ini."

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 87-88, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)


Catatan:
Yang berhak membunuh orang-orang yang mencela Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah dari pihak pemerintah negara yang sah, bukan dari organisasi, kelompok atau individu tertentu.

Ternyata ini Doa yang diucapkan ketika Anda Bersin


Bersin adalah suatu kemestian, oleh karenanya perlu kiranya kita mengetahui bagaimana bimbingan islam ketika kita bersin.

Di antara bimbingannya adalah sebagaimana yang terdapat pada sebuah hadits nabi di bawah ini:


إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ .

وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ يَرْحَمُكَ اللهُ .

فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللهُ . فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

Artinya:
“Jika salah seorang di antara kalian bersin maka ucapkanlah,

الْحَمْدُ لِله
(alhamdulillah)
Artinya:
"Segala puji bagi Allah"

Dan bagi saudaranya yang mendengar yang bersin mengucapkan hamdalah, hendaknya ucapkanlah kepada yang bersin,

يَرْحَمُكَ اللهُ
(yarhamukallah)
Artinya:
"Semoga Allah merahmatimu"

Jika saudaranya mengucapkan doa tersebut maka hendaknya yang bersin membalas dengan dengan mengucapkan

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَ يُصْلِحُ بَالَكُمْ

(Yahdikumullahu wa yuslihu balakum)
Artinya:
"Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”

(HR. Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu).
[Teks hadits dari Bulughul Maram]

Amalkan dan ajarkan kepada yang lain ya, semoga jadi amal shalih yang terus mengalir untuk kita semua, amin.

Empat Orang yang Dilaknat Allah


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، َلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ، لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ، َلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

Artinya:
"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang memindah tanda jalan, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang yang ridha/diam terhadap kebidahan." (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan Muslim).

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ،
"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah"

Yakni menyembelih untuk dipersembahkan kepada monumen-monumen dalam rangka mencari barakah, berharap selamat atau bisa menolak bencana/bala.


Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

َلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ
"Allah melaknat orang memindah tanda jalan"

Yakni memindah tanda-tanda yang membatasi antara batas tanah atau urusan kepemilikan seseorang.


Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ
"Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya"

Yakni ketika ada seorang yang melaknat orang tua temannya, sehingga temannya membalas dengan melaknat orang tua dirinya, maka jadilah dia seakan telah melaknat kedua orang tuanya sendiri.


Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

َلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
"Allah melaknat orang yang ridha/diam terhadap kebidahan."

Yakni menyembunyikan pelaku dosa, membelanya atau menebus denda bagi pelaku dosa sehingga dia lolos dari hukuman, seperti pembuat khamr (miras) atau penipu. Di zaman sekarang termasuk juga dalam hukum ini adalah pemikiran-pemikiran sesat, seorang tidak boleh diam terhadap hal ini (mesti dibantah).

(Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Aunul Ahadish Shamad-Syaikh Zaid al Madkhali, hal. 41-42, cet. Darul Mirats an Nabawi 2015)

Jangan Mau di PHP*-in Sama Setan


Sudah punya toko usaha, walhamdulillah hasilnya bisa cukup untuk menafkahi istri dan anak-anak, terlebih sudah memiliki teman (karyawan) yang membantunya. Waktu luang pun tersedia lumayan untuk bisa rutin mendatangi majelis ilmu.

Tapi, mengapa ya, tiba-tiba hati kok ingin melebarkan sayap usaha saja? Majelis ilmu yang rutin ia datangi dipertaruhkan demi sayap usaha yang 'menjanjikan'. Allah taala berfirman,

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِم وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً 

Artinya:
"Setan itu menjanjikan kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kepada mereka, dan tidaklah (janji) setan itu kecuali hanya tipuan belaka". (An Nisaa: 120).

Hati yang dahulu tenang kini diusik dengan rintisan usaha baru yang penuh perjuangan, padahal dia masih cukup dengan satu usaha. Capek dan lelah menjadi alasan tuk absen di majelis taklim. Tak sadar, setan telah memalingkan dia dari rutinitas dahulunya, hadir rutin di majelis ilmu. Dia sudah sibuk sekarang. Ketika diajak kembali ke majelis ilmu dia menjawab, "Insyaallah Saya akan rajin taklim lagi selepas usaha ini maju.."

Tidakkah dia lupa akan janji iblis yang Allah abadikan dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَإِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِن

Artinya:
"Iblis berkata, "Wahai Rabb-ku, karena sebab Engkau telah memvonisku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." (Al-Hijr :39-40)

Memanglah, karena setan, sering kita lupa bahwa duduknya seorang di majelis ilmu adalah karena adanya taufik dan karunia dari Allah semata, bukan atas kehendaknya. Betapa banyak orang yang terhalang dari kenikmatan ini karena belum mendapat taufik dan hidayah Allah azza wa jalla.

Semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua, amin.

*PHP = Pemberi Harapan Palsu

Hidup Ini Berat Sekali, Matikan Saja Saya Yaa Allah!" (Hukum Berdoa Minta Mati)


Pernahkah Anda tertimpa kesusahan atau kesempitan dalam hidup sehingga terbesit pikiran sepertinya lebih enak mati saja.. Problem terlalu ruwet membuat angan kematian adalah solusi yang terbayang.

Mari simak penuturan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ketika beliau ditanya, "Apakah boleh seorang insan berdoa minta kematian untuk dirinya?"

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Doanya seorang insan untuk minta kematian adalah haram, itu tidak boleh! Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ

Artinya:
“Janganlah salah seorang di antara kalian mengangankan (berharap) kematian karena (sebab) kesusahan yang menimpanya."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Yang wajib bagi seorang insan adalah untuk bersabar dan ihtisab (berharap pahala) serta memohon hidayah dan kekokohan.

Jika dia tertimpa musibah yang menyempitkan hidupnya maka mintalah (berdoa) kepada Allah ta'ala keselamatan, karena sesungguhnya semua urusan adalah milik Allah ta'ala. Wallahu waliyyu at taufiq."

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 41, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Jadi jangan menyerah ya! Ayo selesaikan dengan takwa dan meminta solusi (musyawarah) kepada orang berilmu. Tentunya jangan lupa, doa kepada Allah ta'ala agar mohon jalan keluar juga ya. Wallahu alam.

Duka di Nusantara


Gempa, tsunami, likuifaksi, banjir, longsor dan sejumlah bencana alam lainnya, sejatinya adalah teguran dari Allah ta'ala sang pencipta, pemilik, dan pengatur bumi dan langit. Semestinya ini menjadi pelajaran, bahwa Allah ta'ala adalah Dzat yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita tidak mempersembahkan satu bentuk ibadah apapun kecuali hanya kepada Allah ta'ala saja.

Di antara ibadah yang harus dipersembahkan hanya kepada Allah saja adalah ibadah menyembelih. Sebagai seorang muslim yang baik hendaknya dia menyadari bahwa menyembelih itu tidak boleh diberikan atau disajikan kepada makhluk-makhluk Allah seperti: gunung, laut, pepohonan, tempat keramat dan sebagainya. Jika ini dilanggar maka Allah ta'ala akan murka dan Allah ta'ala berhak mengazab, Allah ta'ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”
(Al An’am:162)

Dan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam,

وعن طارق بن شهاب، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (دخل الجنة رجل في ذباب، ودخل النار رجل في ذباب)
قالوا: وكيف ذلك يا رسول الله؟!
قال: (مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئاً، فقالوا لأحدهما قرب قال: ليس عندي شيء أقرب قالوا له: قرب ولو ذباباً، فقرب ذباباً، فخلوا سبيله، فدخل النار، وقالوا للآخر: قرب، فقال: ما كنت لأقرب لأحد شيئاً دون الله عز وجل، فضربوا عنقه فدخل الجنة) [رواه أحمد].

Dari Thariq bin Syihab, (menuturkan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ada seorang lelaki yang masuk surga dikarenakan seekor lalat dan ada pula seorang lelaki lainnya yang masuk neraka dikarenakan lalat.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak boleh seorangpun yang ingin melewati daerah itu melainkan dia harus menyembelih sesajian untuk dipersembahkan kepada berhala tersebut.
Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Menyembelihlah.” Maka dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk disembelih.”
Maka mereka mengatakan, “menyembelihlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.”
Maka dia pun menyembelih dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan, maka krena sebab itulah dia masuk neraka.
Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya, “Menyembelihlah.”
Dia menjawab, “Aku tidak diperbolehkan untuk menyembelih kepada selain Allah ‘azza wa jalla.”
Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (Hadits shahih, HR. Ahmad).

Dari dua dasar berupa Al Quran dan As Sunnah itulah, hendaknya seorang muslim tidak lagi menyembelih binatang apapun yang diperuntukkan untuk makhluk-makhluk Allah ta'ala.

Bukan menghakimi tapi sekedar pengingat hati, dan bukan maksud menyalahkan tapi hanya sedikit masukan, semoga tidak ada lagi duka di nusantara, amin.

Mari Merapat kepada Orang-Orang Lemah


Orang tentu akan senang jika dekat-dekat dengan orang yang berkedudukan, akan betah kala bersama orang kaya harta. Sebaliknya, risih dan malu jika teman gaulnya dari kelas kere dan rakyat biasa.

Padahal, tidakkah kita tahu, sejatinya kita butuh dengan orang-orang lemah dan miskin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ
Artinya:
“Tidaklah kalian ditolong dan diberikan rezeki melainkan karena adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”. (HR. Bukhari no. 2896).

Terlebih jika orang-orang lemah tersebut adalah orang-orang yang senantiasa menjaga tauhid dan yang menjaga sunnah-sunnah nabi-Nya, sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

“Hanya saja Allah menolong umat ini dengan sebab adanya orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan doanya, shalatnya, dan keikhlasan mereka”. (HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Gaul dengan orang-orang kaya dan yang berkedudukan boleh, tapi jangan sampai menjauhi dan alergi dengan orang-orang lemah dan kere ya.

Wallahu alam dan semoga bermanfaat.

Masruq ibnul Ajda rahimahullahu 1


*Keutamaan Masruq*

Masruq ibnul Ajda al Hamdani al Wadi'i. Kuniah beliau adalah Abu Aisyah al Kufi.

Khathib al Baghdadi rahimahullahu berkata, "Dinamakan demikian (Masruq) karena dia pernah dicuri (suriqa) ketika dia masih kecil. Kemudian dia pun diketemukan dan diberi nama Masruq. Ayahnya yang bernama Al Ajda adalah seorang muslim. "
(Tarikh Baghdadi 13/232)

Imam Asy Sya'bi rahimahullahu berkata, "Aku tidak mengetahui seorang pun yang paling semangat untuk mencari ilmu di belahan ufuk ini melainkan Masruq."
(Tarikh Baghdadi 13/233)

Orang-orang di kufah pun mengakui ucapan Imam Asy Sya'bi di atas. Imam Asy Sya'bi rahimahullahu berkata, "Ketika Abaidillah ibn Ziyad ke Kufah, dia bertanya kepada orang-orang di sana, "Siapakah orang yang paling afdhal?".
Orang-orang pun menjawab, "Masruq."
(Siyar Alamunnubala 4/66)

Imam Asy Sya'bi rahimahullahu berkata pula, "Masruq adalah orang yang paling tahu tentang fatwa dari Syuraih, dan Syuraih selalu meminta nasehat kepada Masruq."
(Thabaqat ibnu Sa'ad, 6/86).

Imam Al Ijli rahimahullahu berkata, "Masruq seorang tabi'in tsiqah dan beliau adalah seorang murid dari shahabat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu yang direkomendasikan untuk membaca dan berfatwa. Beliau sering shalat sampai bengkak kedua kakinya."
(Siyar Alamunnubala 4/66).

Insyaallah bersambung..

Jangan Gagal Paham. Bid'ah itu dalam Urusan Agama, Bukan Dunia


"Kalo gitu naek haji pake onta aja Mas, jangan pake pesawat. Pesawat kan bid'ah.."

Ledekan yang keluar dari seorang yang mungkin masih gagal paham tentang bid'ah.

Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "... Bid'ah bukanlah dalam perkara dunia. Jika ada manusia yang membuat sesuatu yang baru di dalam perkara dunianya, di mana hal itu bisa membantu melancarkan urusan-urusan dunianya, maka ini bukanlah bid'ah yang terlarang. Bid'ah yang terlarang adalah ketika dalam perkara agama.

Perkara dunia urusnnya boleh-boleh saja, akan tetapi jika dalam perkara syariat dan ibadah, maka ini harus hati-hati sampai adanya keterangan jelas (dalil/sandarannya) dari Al Mushthhafa shallallahu alaihi wasallam."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 14, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Seorang Alim Bukan Jebolan dari Membaca Kitab atau Dengar Rekaman Saja tanpa Talaqqi



Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu ta'ala berkata, "Wajib atas kalian wahai para pemuda untuk mengarahkan diri kepada thalabul ilmi, dan hendaknya bertalaqqi (duduk bermajelis) dengan orang yang dikenal dan sebagai ahlinya akan ilmu.

Jangan engkau cukupkan hanya dengan membaca kitab-kitab atau mendengar rekaman-rekaman kajian, karena sebagian orang mengambil metode yang seperti ini di dalam belajarnya.

Salah seorang dari mereka membaca kitab-kitab atau mendengarkan rekaman-rekaman kajian dan dia berkata, "Saya telah mengambil ilmu dari Fulan melalui kitab-kitabnya atau dari rekaman kajian-kajiannya."

Ini adalah kesalahan yang besar!

Ilmu itu diambil langsung dari (hasil talaqqi) ulama, adapun kitab-kitab itu hanyalah sebagai penolong dan sarana yang dapat membantu engkau dalam berhubungan dengan orang yang alim, bisa bertanya kepadanya, minta penjelasan dan keterangan, sehingga dengan itu akan terang mana yang benar dari yang salah.

Contoh dari permasalahan ini, misalnya engkau ingin belajar tentang ilmu kedokteran, apakah engkau hanya membaca buku-buku kedokteran saja kemudian engkau buka praktek pengobatan. Engkau pun lalu mengobati manusia dengan bermodalkan membaca saja buku-buku tentang kedokteran.

Maka engkau akan bisa membunuh banyak manusia dengan metode ini karena engkau bukan seorang dokter, engkau hanyalah seorang yang mengaku-ngaku sebagai dokter..."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 17, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).