Jumat, 28 Oktober 2016

Dua Faidah Tidur

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Tidur itu memiliki dua faidah:

Pertama, menenangkan anggota badan dan melapangkannya.

Kedua, mengurai gizi dan mencerna makanan."

(Mukhtarat min Kitabi Zadil Maad-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 209, cet. Muassasatu asy Syaikh 1434H).

Iman dan Takwa Hanya Bisa Diraih dengan Ilmu yang Shahih

Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullahu berkata, "Keimanan dan ketawaan hanya akan dapat diraih dengan ilmu yang shahih.

Yakni ilmu yang dibangun di atas dasar ittiba (mengikuti) segala apa yang datang dari Allah dan Rasulnya berdasar manhaj (metode) salafush shalih serta mengamalkannya.

Bukanlah dengan ilmu yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran dan akal-akalan semata atau dengan pendapat-pendapat yang jauh dari manhaj-nya salafush shalih".

(Al Himmah fi Thalabil Ilmi-Syaikh Muhammad Bazmul, hal. 20, cet. Dar Sabilil Mukminin 2013)

Sayangi Mahrammu dengan Tidak Mengumbar Pandangan

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Jika engkau memandang kepada mahram-mahramnya manusia, maka sepungguhnya nanti manusia pun akan melihat mahram-mahrammu.

Karena engkau telah melanggar kehormatan mereka, niscaya orang-orang pun akan melanggar kehormatan dirimu.

Yang lebih parah dari itu -wal iyadzu billah- adalah ketika dirimu melakukan perbuatan fahisyah (kenistaan) bersama wanita orang lain (yang tidak halal untuk dirimu) maka sebagai balasannya, orang-orang pun nanti akan melakukan perbuatan fahisyah tersebut dengan wanita-wanita mahrammu".

(Lihat Ittihafuth Thullab bi Syarhi Manzhumatil Adab-Syaikh Shalih Al Fauzan, hal. 92, cet. Darul Hikmah 2009).

Thalabul Ilmi=Mengangkat Kehinaan dan Kerendahan

Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullahu berkata, "Allah tidak akan mengangkat kerendahan dan kehinaan dari diri kita kecuali dengan cara kembali kepada agama. Dan tidak ada jalan untuk kembali kepada agama melainkan dengan cara menuntut ilmu."

(Al Himmah fi Thalabil Ilmi-Syaikh Muhammad Bazmul, hal. 19, cet. Dar Sabilil Mukminin 2013)

Penuntut Ilmu Jangan Hasad

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dalam Kitabul Ilmi (hal. 74) berkata, "Hasad adalah suatu perangai yang tercela.

Yang disayangkan, bahwasanya hasad banyak terjadi di antara kalangan ulama dan kalangan para penuntut ilmu. Terjadi pula hasad di antara para pedagang satu dengan pedagang yang lainnya.

Setiap masing-masing memiliki ujian yang bisa membuat hasad bagi yang menjalani satu bagian aktifitas bersama di dalamnya.

Akan tetapi sangat disayangkan, hasad yang terjadi pada kalangan ulama itu lebih tercela, hasad yang terjadi antar penuntut ilmu itu lebih tercela, padahal sebagai penyandang ilmu harusnya dia menjadi manusia yang lebih terjaga dan terjauh dari sifat hasad dan menjadi manusia yang lebih dekat kepada kesempurnaan akhlak."

(Dinukil dari Ash Shawarif anil Haq-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 46.)

Rabu, 26 Oktober 2016

Bagaimana Caranya Bisa Bersyukur ketika Mendapat Musibah

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Bahwasanya bisa terwujud dengan beberapa cara, diantaranya:

1. Dengan membandingkan kepada musibah yang lebih besar, yaitu dengan membandingkan antara musibah yang mengenai dunia kepada musibah yang mengenai akhirat. Maka dengan cara ini akan menjadi lebih ringan dan akan mendorong rasa bersyukur kepada Allah yang tidak menjadikan musibahnya menjadi lebih parah.

2. Mengharap pahala kepada Allah atas musibah yang mengenanya, karena semakin besar musibah yang didapat maka semakin besar pula ganjaran yang didapat. Oleh karenanya disebutkan dari para ahli ibadah bahwasanya ketika mereka mendapatkan musibah, tidaklah didapati pada mereka keluhan. Ketika ditanyakan kepada mereka tentang hal ini (tidak mengeluhnya mereka), mereka menjawab: "Sesungguhnya manisnya ganjaran (pahala) dari musibah telah melupakanku dari pahitnya kesabaran suatu musibah."

(Disadur dari Nida'atu Rabbil Alamin-Syaikh Utsaimin, hal. 17, cet. Darul Iman 2004).

Allah Tidak Bisa Dilihat di Dunia tapi di Akhirat Bisa

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Tidak ada seorang pun yang mampu untuk melihat Allah ketika di dunia ini karena Allah terhijabi oleh cahaya.

Nabi pernah ditanya perihal malam mi'raj, "Apakah engkau melihat Rabb-mu? Nabi menjawab, "Sesungguhnya aku hanya melihat cahaya." (HR. Muslim).
Hal ini dikarenakan terhijabinya Allah taala dengan cahaya.

Maka tidak ada seorangpun yang mampu melihat Allah ketika di dunia ini bahkan tidak pula nabi atau yang selainnya, karena makhluk tidak akan mampu melihat Allah dikarenakan keagungan-Nya.
...

Kemudian Syaikh melanjutkan pada paragraf akhir, "... Adapun di akhirat sesungguhnya Allah akan memberikan bagi penduduk surga sebuah kekuatan yang membuat mampu bagi mereka untuk melihat Allah taala.

Ini merupakan bagian kemuliaan untuk penduduk surga ketika mereka mengibadahi Allah di dunia dalam keadaan mereka tidak melihat Allah. Akan tetapi mereka mengibadahi Allah karena keimanannya kepada Allah.

Maka Allah pun memuliakan penduduk surga dengan penyingkapan (hijab) bagi mereka di hari kiamat ketika di dalam surga dengan melihatNya."

(Syarhu Ushulil Iman-Syaikh Shalh Fauzan, hal. 43-44, cet. Dar Imam Ahmad 2011)

Kematian yang Dekat di Hati=Qana'ah

Jika kita merasa selalu merasa kurang dan selalu kurang dalam urusan dunia, coba kita resapi dan amalkan nasehat di bawah ini:

Umar ibn Abdil Aziz rahimahullahu berkata, "Barangsiapa yang rasa kematian itu dekat pada hatinya niscaya akan terasa banyak apa yang ada di tangannya."
(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim al Ashbahani, jil. 5, hal. 792, cet. Maktabah Ath Thayyiaah)

Kesempurnaan Petunjuk Nabi dalam Perkara Makan dan Minum

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Petunjuk nabi dalam hal makanan dan minuman adalah selengkap-lengkapnya petunjuk.

Rasulullah tidak pernah dalam kebiasaannya untuk menahan (memantang) satu jenis makanan tertentu dan tidak pula terus-terusan memakan makanan tertentu.

Akan tetapi rasulullah memakan makanan yang memang dikonsumsi oleh penduduk negerinya, yang terdiri dari daging, buah-buahan, kurma, roti dan yang semisalnya.

Dan adalah rasulullah jika dirinya enggan terhadap suatu makanan maka beliau tidak memakannya, karena efek negatifnya bagi badan lebih banyak dibandingkan dengan manfaatnya."

(Mukhtarat min Zaadil Ma'ad-Syaikh Utsaimin, hal. 207, cet. Muassasah Asy Syaikh 1434H)

Minggu, 23 Oktober 2016

Mungkin Ini Sebab Diri Kita Terlalu Malas untuk Beramal Shalih

Ishaq ibn Ibrahim pernah mendengar bahwa Fudhail ibn Iyadh berkata, "Jika engkau tidak mampu untuk menegakkan shalat malam dan berpuasa di siang hari maka ketahuilah bahwa dirimu telah terhalang karena terbelenggu oleh belenggu dosamu."

(Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi jil. 2 hal. 238, cet. Darul Wa'i 1389H).

Perbanyaklah Amal, Jangan Banyak Debat!

Imam al Auza'i rahimahullahu berkata, "Telah sampai kepadaku bahwasanya jika Allah hendak menginginkan kejelekkan pada sebuah kaum maka mereka akan selalu berdebat dan tercegah dari amalan."

(Siyar Alamun Nubala 12/79. Dinukil dari An Nubadz fi Adab-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 137, cet. Maktabah Ibnul Qayyim 2002)

Dua Jenis Orang yang Tidak Mau Belajar Tauhid

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sudah menjadi suatu keharusan bagi seseorang untuk mempelajari tauhid, karena tauhid adalah sebuah pondasi.

Orang yang merasa tidak butuh pada pelajaran tauhid bisa jadi salah satu dari dua orang berikut ini:

Bisa jadi orang bodoh, dan orang bodoh tentunya tidak kita anggap (tidak digubris)

Atau bisa jadi orang ini adalah orang yang memang tujuannya menyesatkan manusia.

Orang ini menginginkan agar manusia berpaling dari aqidah tauhid dan dia menginginkan agar aqidah-aqidah yang menyimpang bisa diperkenalkan ke tengah-tengah manusia sebagai bagian dari ajaran islam. Dan aqidah-aqidah mereka adalah aqidah yang rusak..."

(Terjemah bebas dari Irsyadul Khillan ila Fatawal Fauzan-Syaikh al Fauzan, jil. 1, hal. 25, cet. Darul Bashirah 2009).

Pentingnya Taqwa

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Tidak ada di antara Allah dengan hamba-Nya sebuah hubungan melainkan dengan ketakwaan.

Barang siapa yang paling bertaqwa maka dia lah yang paling dekat dengan Allah dan di sisi Allah dia seorang yang mulia.

Maka kalau begitu, janganlah engkau merasa sombong dengan hartamu, rupamu, badanmu, anak-anakmu, istanamu, kendaraanmu dan segala sesuatu yang bersifat keduniawian semata selamanya.

Jika Allah memberikan taufik kepadamu untuk bertaqwa maka ini adalah sebuah keutamaan atas dirimu, dan hendaknya engkau memuji Allah akan hal ini."

(Lihat Syarh Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1, hal. 39, cet. Dar Ibnul Jauzi 2006)

Serius dalam Mendidik

Ikrimah rahimahullah adalah seorang murid dari shahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, beliau pernah bercerita tatkala mengenang masa belajarnya bersama Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.

Ikrimah menuturkan, "Dahulu Ibnu Abbas mengikat kedua kakiku dengan rantai ketika beliau mengajariku Al Qur'an dan Ilmu Waris.
(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim 3/326. Dinukil dari An Nubadz fi Adabi
Thalabil Ilmi-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 104, cet. Maktabah Ibnul Qayyim 2002).

Inilah kesungguhan Ibnu Abbas dalam mengajari anak didiknya.

Apakah kita sudah serius dalam mendidik anak-anak kita?

Ataukah kita biarkan saja anak-anak kita lalai tanpa belajar?

Ingat, dia yang menanam, dia pula kelak yang memanen.

Allahu musta'an.

Kekuatan dari Sebuah Amalan dan Kekuatan dari Seorang Mukmin

Yahya ibn Muadz rahimahullah berkata, "Kekuatan dari amalan-amalan berada di dalam kejujuran tekad".
(Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi, jil. 4, hal. 340, cet. Darul Ma'rifah)

Ubaidillah ibn Syamith rahimahullah berkata bahwa ayahnya berkata, sesungguhnya Allah menjadikan kekuatan seorang muslim berada di hatinya dan tidak menjadikannya berada di fisiknya.

Tidakkah engkau melihat bahwasanya ada seorang yang sudah tua dan lemah tapi bisa berpuasa dengan rutin dan bisa melakukan shalat malam sedangkan seorang pemuda tidak mampu dari hal yang seperti itu?"

(Hilyatul Aulia-Abu Nua'im al Ashbahani, tahdzibnya jil 1, hal. 480, cet. Darul Qalam).

Sampai pun ketika Menafkahi Diri Sendiri


Niat. Lagi-lagi niat.
Terkadang kita -bahkan mungkin sering- lalai dengan perkara yang satu ini. Padahal kedudukan niat sangat penting bagi kita agar aktifitas yang tengah kita lakukan bisa memiliki bobot kualitas yang mantap, yakni mendapat nilai ibadah di sisi Allah subhanahu wa ta'ala.

Di antara perkara yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita adalah meniatkan ibadah ketika menafkahi diri sendiri, Syaikh Ibnu Utsaimin menasehatkan, "Bahwasanya jika seseorang mengeluarkan sebuah nafkah, maka seyogyanya nafkah tersebut diperuntukan niatnya karena mengharap wajah Allah saja (ikhlas), karena dengan hal ini niscaya nafkah yang tengah dikeluarkan akan diganjar pahala oleh Allah.

Bahkan nafkah-nafkah yang dikeluarkan untuk keluarganya dan istrinya, juga nafkah yang dikeluarkan untuk dirinya sendiri, jika semuanya itu dilakukan karena mengharap wajah Allah (ikhlas), maka Allah akan mengganjar nafkahnya dengan pahala."
(Lihat Syarh Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1, hal. 37, cet. Dar Ibnul Jauzi 2006)

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk selalu bisa menghadirkan keikhlasan di dalam setiap amal ibadah, amin.

Sedikit Menengok Potret Salaf dalam Belajar


Al Hafizh Ja'far ibn Durustuwiyah, salah seorang murid dari Al Imam Ali ibnul Madini al Bashri rahimahullahu pernah mengisahkan tentang majelis syaikhnya, Ali ibnul Madini.

Beliau bercerita, "Dahulu jika ingin bermajelis di majelisnya Imam Ibnul Madini, kami akan mendatanginya di waktu ashar, padahal majelis akan dibuka pada esok harinya.

Kami pun duduk menunggu sepanjang malam di tempat kami karena khawatir jika tidak melakukan hal ini niscaya kami besok tidak mendapat tempat untuk mendengar hadits-hadits dari syaikh.

Aku melihat di majelis salah seorang yang sudah tua ikut menunggu di depan, sampai buang air kecil dia tunaikan di tempatnya karena khawatir tempatnya akan diambil orang lain jika dia meninggalkan tempatnya tersebut ketika buang air kecil."

(Silahkan lihat Al Jamiu li Akhlaqir Rawi-Khathib al Baghdadi 2/138 dan Al Adabusy Syariah-Ibnu Muflih 2/148).

Berharap Pahala dan Menunggu Jalan Keluar

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "... Sabar itu adalah perkara yang berat di jiwa, akan tetapi seorang insan wajib untuk bersabar.

Oleh karenanya barang siapa yang tidak diberikan anugerah untuk bersabar niscaya dia akan kehilangan kebaikan yang banyak.

Orang yang bersabar juga pada umumnya menunggu datangnya jalan keluar, terlebih jika sabarnya diiringi dengan keikhlasan dan niat yang baik maka penantiannya terhadap adanya jalan keluar, teranggap sebagai ibadah dan pintu untuk datangnya jalan keluar berdasar sabda nabi, "Ketahuilah sesungguhnya pertolongan itu ada bersama kesabaran, dan datangnya jalan keluar (solusi) ada bersama kesulitan, dan pada kesulitan itu terdapat kemudahan."

Karena jika seorang sedang menunggu datangnya jalan keluar niscaya menapaki kesabaran baginya akan terasa ringan.

Dia pun akan berharap bahwa problema-problema yang ada akan segera lewat, dan dia akan hadapi permasalahan pada tempat yang tepat.

Jika dia dengan keadaannya bersikap harap akan pahala di akhirat dan mempunyai sikap harap akan datangnya jalan keluar di dunia, maka akan terasa mudahlah baginya untuk menapaki kesabaran."

(Terjemah bebas dari Nidaatu Rabbil Alamin-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 11, cet. Darul Iman 2004).

Maksiat Tetap Maksiat Walau Dikerjakan di Tempat Sepi

Berkata Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu, "Seorang mukmin hendaknya bertakwa kepada Allah secara zhahir dan batin.

Bertakwa kepada Allah di jalan dan bertakwa kepada Allah di rumah, bertakwa di manapun dia berada.

Bertakwa kepada Allah di waktu siang dan bertakwa kepada Allah di waktu malam.

Bertakwa di waktu terang dan bertakwa di waktu gelap.

Karena sesungguhnya dia senantiasa bersama Allah subhanahu yang tidak ada sesuatu apapun akan tersembunyi bagi-Nya.

Bukanlah yang dimaukan bagi seorang insan menjauhi kemaksiatan itu ketika di waktu yang terbuka saja, namun ketika di waktu sepi sendiri terdapat toleransi untuk bermaksiat.

Tidak! Perkara yang haram tetap haram bagaimana pun keadaannya.

Rabb adalah Rabb subhanahu, Dzat yang memperhatikan setiap kejadian yang zhahir dan yang batin, tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagi-Nya subhanahu wa ta'ala.

Apapun usaha kalian untuk menyembunyikan kemaksiatan, ketahuilah niscaya hal tersebut tidak akan tersembunyi bagi Allah.."

(Silahkan lihat Ianatul Mustafid-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 37, cet. Muassasatur Risalatin Nasyirun 2013).

Jika Mengetahui al Haq (kebenaran) Maka Segera Ikuti

Syaikh Shalih Fauzan hafizahullahu berkata, "... Sampaipun jika ada pada sebagian penuntut ilmu ketika dikatakan kepadanya: "Engkau telah salah, dan dalilnya adalah ini." Lalu penuntut ilmu ini tidak mau menerimanya, maka ini termasuk kepada kesombongan, karena wajib atas seorang muslim jika telah jelas kepadanya sebuah kebenaran, hendaknya dia bersegera untuk mengambilnya.

Jika dia telah mengetahui suatu ilmu tentang kebenaran dan dia tidak mau mengambilnya (mengikutinya) maka dia (dikhawatirkan) akan terjatuh kepada az zaigh (penyimpangan), wal 'iyyadzubillah.

Oleh karenanya Allah berfirman,
{ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ }
Artinya: Ketika mereka berpaling (dari al haq), Allah pun palingkan hati-hati mereka. (QS. Ash Shaff: 5)

{ وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ }
Artinya: Dan Kami palingkan hati-hati dan pandangan-pandangan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya (Al Qur'an) pada awal kali. (QS. Al An'am: 110)

Maka bagi yang telah jelas kepada mereka al haq (kebenaran) sedangkan mereka tidak mau menerimanya maka dikhawatirkan akan tertutup hatinya dan akan menjadi orang yang tidak mau kepada al haq (kebenaran) sebagai balasan atas (sikap) mereka."

(Syarhul Kabair-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 32, cet. Darur Risalah al Alamiyah 2012)