Rabu, 12 April 2017

Jangan Menyebar Berita yang Meresahkan Kaum Muslimin


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Wajib bagi setiap muslim untuk tidak menyebarkan berita-berita yang membuat resah kaum muslimin.

Jika ada yang mengetahui sesuatu hendaknya dia memastikan dahulu kebenaran beritanya, karena terkadang berita tersebut ternyata dusta (tidak benar).

Jika beritanya benar maka hendaknya dia menyembunyikannya dan tidak menyebarkannya kemana-mana, karena hal tersebut akan membuat kaum muslimin resah. Akan tetapi hendaknya berita tersebut dikabarkan kepada pihak pemerintah agar bisa dikondisikan, adapun dikabarkan ke khalayak manusia yang tidak mempunyai solusi, maka yang seperti ini jangan dikabarkan."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 28-29, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Hikmah Berhijab

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Inilah penjelasan tentang hikmahnya sebuah hijab, bahwasanya hijab akan mencegah pandangan orang terhadap wanita yang memakainya.

Kemudian dengan hijab seorang wanita akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan di sisi manusia.

Seorang wanita berhijab akan mendapatkan nilai dan kedudukan.

Adapun seorang wanita yang suka bersolek dan berdandan maka sesungguhnya wanita tersebut tidak memiliki nilai di sisi manusia dan orang baik, dia akan menjadi incaran orang yang jelek, wal'iyyadzu billah.

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 26, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Godaan Wajah Lebih Besar Dibandingkan Kedua Kaki

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Hijab itu dipakai untuk menutup badan, mulai dari kepala hingga kedua kakinya, dan dari (pengertian) hijab itu pula, kainnya dijulurkan agar wajahnya tertutup sempurna dari (pandangan) kaum lelaki.

Wajah itu adalah tempatnya fitnah (godaan), tempatnya kecantikan dan merupakan pusat perhatian, oleh karena itu bagaimana mungkin, jika kedua kaki saja wajib untuk ditutup dari pandangan orang banyak, lalu apakah wajah tidak ditutup?
Manakah yang lebih besar fitnahnya, kedua kaki ataukah wajah? Tentu wajah yang lebih besar (fitnahnya)!."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 25, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Kehormatan Seorang Mukmin

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang mukmin mempunyai kehormatan (di bawah) setelah kehormatan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh bagi seorang pun untuk menyakitinya, tidak pada darahnya, kehormatannya, hartanya atau segala sesuatu yang bisa menyakitinya.

Bahkan seorang mukmin hendaknya bisa menahan diri terhadap saudaranya mukmin yang lain, dan jangan menyakiti mereka dengan segala gangguan, karena seorang mukmin itu mempunyai kehormatan dan hak atas saudara mukmin yang lainnya..."

(Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 20, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Diantara Bentuk Melecehkan Rasulullah

Syaikh Shalih Fauzan hafizahullah berkata, "Menyakiti rasulullah bisa berupa:
1. Meremehkannya,
2. Menganggap bahwa beliau tidak menyampaikan risalah,
3. Menganggap bahwa beliau telah kurang dalam menyampaikan risalah,
Atau yang selain dari itu, maka (semua hal di atas) adalah bentuk dari menyakiti rasulullah.

Yang termasuk dari menyakiti rasulullah juga adalah meremehkan sebagian dari istri nabi atau anak-anak wanitanya, karena hal ini termasuk dari bentuk menyakiti nabi.

Demikian juga yang termasuk dari bentuk menyakiti nabi adalah meremehkan para shahabat nabi, karena shahabat rasulullah adalah sebaik-baik dan seutama-utamanya manusia di masa yang terbaik. Merekalah orang-orang yang menyebarkan agama ini dan merekalah yang menyampaikannya setelah wafatnya rasulullah. Para shahabat nabi juga adalah orang-orang yang menjadi perantara antara kita dengan rasulullah. Maka orang-orang yang mencela dan yang meremehkan para shahabat -seperti syiah radidhah- sejatinya telah menyakiti Allah dan rasul-Nya. Nas'alullaha salamah wal afiyah."

(Ta'ammalaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 18, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Minggu, 12 Maret 2017

Janganlah Mencela Waktu

Apapun cuacanya, jagalah lisan dan hati kita, janganlah kita mudah mencela atau mengumpat. Jadilah seorang yang lapang di segala keadaan dan situasi.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits qudsi,

《قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ》
Artinya:
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela ad dahr (zaman/waktu), padahal Aku adalah ad dahr (pengatur waktu), Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

《وأَنَا الدَّهْرُ بيدي الأمر أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَ》
Artinya:
"Dan Aku adalah ad dahr (pengatur waktu) di Tangan-Ku-lah (semua) urusan. Aku-lah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Bukhari)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah memberikan penjelasan tentang hadits di atas, terangnya, "Ad dahr (masa/waktu) tidaklah bisa mengatur karena dia hanyalah sebagai makhluk, barang siapa yang mencela ad dahr, maka dia telah mencela Dzat yang mengatur ad dahr, yaitu Allah ta'ala. Dan perbuatan ini adalah termasuk bentuk menyakiti Allah."

(Ta'ammalaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 17, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Jumat, 10 Maret 2017

Imam Abu Bakr al Qaffal, Abdullah ibn Ahmad al Khurasani rahimahullah


Beliau adalah termasuk dari ulama asy syafi'iyyah.

Imam Adz Dzahabi dalam Siyar Alamun Nubala 17/407 bercerita tentangnya, "Beliau memulai belajar ilmu padahal umurnya sudah 30 tahun. Beliau pun tinggalkan pekerjaannya untuk memfokuskan diri kepada ilmu (pekerjaannya ketika itu adalah tukang kunci).

Di dalam Thabaqat Asy Syafi'iyyah 5/54, Imam Al Qaffal bercerita tentang dirinya sendiri, "Aku memulai belajar ilmu dalam keadaan tidak mengerti antara kalimat 'ikhtashartu' dan 'ikhtasharta' yakni tidak mengetahui lisan arab yang membedakan antara huruf 'ta' yang didhammah dan huruf 'ta' yang difathah."
-selesai-

Masya Allah, seorang imam dahulunya mulai belajar di umur 30 tahun dalam keadaan belum bisa bahasa arab pula! Kita? Ayo semangat!

Jumat, 03 Maret 2017

Apa saja batasan-batasan jihad dan apakah diperbolehkan pada saat ini untuk berjihad atau itu hanya sebatas perang saja

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjawab, "Jihad teranggap jika ada seruan dari pemerintah muslimin dan ada mobilisasi pasukan untuk memerangi negeri kafir, ini adalah jihad.

Adapun jika tidak ada bendera komando dan tidak ada kepemimpinan dari pemerintah muslim, maka yang seperti ini tidak dikatakan jihad, akan tetapi hanya teranggap sebagai pergerakan kelompok saja, dan Allah Maha Tahu akan (kejelekkan) akhir dan hasilnya.

Jihad itu hanya teranggap jika terdapat pengaturan yang didirikan atas sunnah rasulullah shallahu alaihi wasallam, yakni yang terjadi dengan adanya bendera komando dari pemerintah muslimin untuk memerangi orang-orang kafir dan urusannya dikembalikan kepada penguasa muslimin. Ini adalah jihad yang benar."

(Disadur dari Ijabatul Muhimmah-Syaikh Shalih Fauzan, juz 1, hal. 45-46, cet. Darul Furqan 2008)

Keutamaan Belajar Ilmu Agama di Malam Hari


Ishaq ibn Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang ucapan beliau yang menyatakan bahwa "Memudzakarah (mengulang/mempelajari) ilmu pada sebagian malam itu lebih aku sukai dibandingkan menghidupkannya (dengan ibadah)". Ilmu apakah yang dimaksud?

Imam Ahmad menerangkan, "Adalah ilmu yang bermanfaat bagi manusia yang terkait dengan urusan agamanya."

Aku bertanya lagi, "Apakah dalam masalah wudhu, shalat, puasa, haji, thalaq dan yang semisal dengan ini?"

Imam Ahmad menjawab, "Iya, benar."

(Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlihi-Ibnu Abdilbar [Mukhtasar-nya] hal. 36-37, cet. Darul Khair 1992).

Nama-Nama Shahabat yang Wafat di Masing-Masing Negeri


Shahabat yang terakhir wafat di negeri Makkah adalah Ibnu Umar radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Madinah adalah Sahl ibn Sa'ad ibn Mu'adz radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Kufah adalah Abdullah ibn Abi Aufa radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Bashrah adalah Anas ibn Malik radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Mesir adalah Abdullah ibnul Harits ibn Jaza' radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Syam adalah Abdullah ibn Yusr radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat di negeri Khurasan adalah Buraidah radhiallahu 'anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah Abu Thufail Amr ibn Watsilah radhiallahu 'anhu.

(Lihat Al Mud-hisy karangan Ibnul Jauzi, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2010).

Shahabat yang terakhir wafat

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang mempersaksikan baiat al aqabah adalah Jabir ibn Abdillah radhiallahu anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan yang ikut perang badar adalah Abul Yusr radhiallahu anhu.

Shahabat yang terakhir wafat dari kalangan muhajirin adalah Sa'ad ibn Abi Waqash radhiallahu anhu, beliau juga yang terakhir wafat dari kalangan sepuluh shahabat pemetik janji surga.

(Lihat Al Mud-hisy karangan Ibnul Jauzi, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2010).

Puncak dari Ketakwaan

Syaikh Ubaid al Jabiri berkata, "... Bahwasanya puncak dari ketakwaan adalah menuntut ilmu agama Allah sampai seorang hamba mengetahui apa saja perkara yang halal kemudian dia menghalalkannya (beserta mengamalkannya), dan mengetahui apa saja perkara yang haram kemudian dia mengharamkannya (beserta meninggalkannya)..."

(Majmu'atur Rasail al Jabiriyyah [Syarhu Hadits Ittaqillaha Haitsuma Kunta], hal. 25, cet. Miratsun Nabawi)

Membantu Orang Kafir dalam Keadaan Masih Membenci Mereka dan Agamanya Apa dalil tidak kufurnya atas seseorang yang membantu orang-orang kafir atas kaum muslimin, dalam keadaan dia masih membenci orang-orang kafir dan membenci agama mereka?

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjawab, "Dalilnya adalah keumuman dilarangnya untuk berkasih sayang dengan orang-orang kafir dan kami (Syaikh Fauzan) katakan ini adalah perbuatan haram.

Jika dia masih membenci agama mereka dan masih membenci orang kafir bersamaan dengan itu dia menolong orang-orang kafir dalam keadaan tidak terpaksa, maka dia tidak dihukumi dengan kekufuran karena dia masih membenci agama orang-orang kafir dan masih membenci orang kafir, akan tetapi perbuatannya dalam menolong orang-orang kafir ini adalah perbuatan haram dan dikhawatirkan atas dirinya terjatuh kepada kekufuran".

(Disadur dari Ijabatul Muhimmah-Syaikh Shalih Fauzan, juz 1, hal. 43, cet. Darul Furqan 2008)

Bolehkah Menerima Hadiah dari Orang Kafir?


Apakah bermuamalah dengan orang kafir dengan cara ihsan itu termasuk bentuk kecintaan dan basa-basi? atau bagaimana?

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu menjawab, "Jika orang-orang kafir tersebut berbuat ihsan kepada kita, maka kita pun berbuat ihsan kepada mereka.

《لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِوَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَيُحِبُّ الْمُقْسِطِين》

Artinya:
"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Ini adalah bentuk ihsan dari mereka. Jika orang-orang kafir tersebut berbuat ihsan kepada kita, maka kita pun berbuat ihsan kepada mereka di dalam urusan dunia.

Jika mereka memberi hadiah kepadamu, maka berilah mereka hadiah, Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima hadiahnya orang-orang kafir karena menerima hadiah adalah termasuk bentuk dari muamalah duniawi dan ini tidak mengapa."

(Disadur dari Ijabatul Muhimmah-Syaikh Shalih Fauzan, juz 1, hal. 42, cet. Darul Furqan 2008)

Valentine, Gombalan Berujung Petaka

'Pink, love, the rose and chocolate' adalah penampakkan yang kerap terjadi di pertengahan Febuari. Di tanggal 14 sebagian orang merayakannya dengan sebutan valentine's day.

Entah bagaimana awalnya, dari beberapa klaim sejarah yang ada, -katanya- perayaan valentine's day adalah suatu perayaan yang ditujukan untuk mengenang jasa seorang pendeta nasrani yang hidup di era romawi kuno. Di lain cerita, bumbu kekufuran dan kesyirikan kaum paganis kuno pun kuat menyengat, semakin memperburuk keadaan hakikat perayaan ini.

Tetapi sungguh sayang disayang, kaum muslimin yang seharusnya menjauhi perayaan kasih sayang ini ternyata semakin hari semakin menjadi, terkhusus pada sebagian kaum mudanya.

Sudah jamak, mereka yang merayakan valentine's day biasanya membawa pasangannya (baca: pacar) masing-masing. Mulai dari alun-alun kota, taman-taman pinggir jalan sampai ke cafe-cafe elit, menjadi titik tujuan mereka dalam merayakannya. Khalwat (campur baur antara lelaki dan wanita) dan alunan musik melankolis betemakan cinta berpadu, menjadikan perayaan ini sebagai perayaan full syahwat dan pelanggaran syariat. Padahal Allah berfirman,

《وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا》
Artinya:
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk." (Al Isra: 32).

Pada ayat di atas, Allah memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya untuk menjauhi zina, dan merayakan valentine's day sudah pasti merupakan suatu yang terlarang karena disamping perayaan ini adalah perayaannya milik kaum nasrani, juga perayaan ini sejatinya akan menghantarkan pelakunya kepada ranah zina. Maka berhati-hatilah, Allah Ta’ala berfirman,

《فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ》

Artinya:
"Hendaknya orang-orang yang menentang perintah rasulullah itu takut, akan datangnya musibah atau adzab besar yang menimpa mereka” (An Nuur: 63).

Jadi, jangan tertipu! Perayaan valentine's day tidaklah seromantis yang dianggap, ternyata dibalik gombalan indah valentine, ada adzab dan musibah yang mengancam. Semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin dari musibah dan adzab. Amin.

Lebih dari Sekedar Go Green

Sebuah papan reklame besar terpampang di jalan besar menuju pintu masuk suatu terminal di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Tulisan besar yang terbaca di papan itu cukup ringkas. "GO GREEN", hanya itu yang bisa teringat.

Jika kita telusuri apa makna dari 'go green', maka kita akan mendapati banyak versi. Namun yang kita titik beratkan pada kesempatan ini adalah 'go green' yang maknanya mengerucut ke arah usaha meng'hijau'kan bumi, walaupun mungkin ada makna-makna lain yang lebih meluas tentunya.

Jauh sebelum istilah 'go green' dikampanyekan, islam ternyata telah lebih dahulu menghasung umatnya untuk memulai aktifitas ini, bahkan rasulullah mengkabarkan bahwa seorang muslim yang menanam pohon, kelak di hari kiamat bisa mempunyai simpanan sedekah yang bermanfaat. Sabdanya,

《فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَ لاَ دَابَّةٌ وَ لاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ》

Artinya:
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim).

Tunggu apa lagi? Ayo amalkan sunnah ini walau dengan memanfaatkan lahan kecil yang ada di sekitar rumah.

Senin, 16 Januari 2017

Imlek Bukan Sebab Hujan

"Eh, hujan..", seorang berkata spontan seiring dengan turunnya hujan. Saat itu juga kawannya menimpali, "Iya nih, mau imlek mah emang begini, hujan terus..".

Penggalan dialog di atas atau yang semakna, menjelang imlek kerap kita dengar. Selalu saja hujan dihubung-hubungkan dengan imlek, padahal keyakinan ini sangat berbahaya, karena keyakinan seseorang yang mengaitkan turunnya hujan dengan imlek sudah menyentuh ranah akidah. Rasulullah mengkabarkan tentang kufurnya seorang yang menyandarkan turunnya hujan dengan keberadaan bintang. Di dalam hadits qudsi disabdakan bahwa Allah berfirman,
"أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَكَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.“
Artinya, "Di antara hamba-Ku ada yang menjadi beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, "Kami telah diberi hujan karena keutamaan dan rahmat Allah", maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedangkan bagi yang mengatakan, "Kami telah diberi hujan dengan bintang ini dan bintang itu,’ maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” [HR. Bukhari dan Muslim].

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata tentang hadist diatas, "Dahulu orang-orang jahiliyah menisbatkan hujan kepada terbit atau terbenamnya suatu bintang. Mereka menyangka bahwa jika ada bintang tertentu yang terbit atau tenggelam maka akan turun hujan.
Mereka berkeyakinan bahwa hujan yang turun adalah karena sebab adanya bintang tersebut dan tidak dinisbatkan kepada Allah ta'ala. Ini merupakan kekufuran karena mereka menyandarkan nikmat kepada makhluk dan ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yakni kesyirikan dalam hal rububiyyah. Dan setiap orang musyrik adalah kafir.
Dan dalam hadits ini juga terdapat dalil tentang kufurnya seorang yang menyandarkan turunnya hujan dengan sebab bintang atau dengan pengaruhnya, karena turunnya hujan hanyalah dengan sebab dari takdir Allah subhanahu wa ta'ala saja dan Allah adalah Dzat yang menurunkan hujan kapan saja dan dimana saja dan Allah juga lah yang menahan hujan kapan saja dan dimana saja. Allah lah yang mengaturnya, subhanahu wa ta'ala". (Ianatul Mustafid, hal. 385-386, cet. Muassasatur Risalah 2013).

Mudah-mudahan sedikit penjelasan di atas bisa memberikan manfaat. Wallahu alam.

Tomboy dan Banci Terancam Laknat


Shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata,
<< لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبِسُ لِبْسَةَ المَرْأَةِ، وَالمَرْأَةَ تَلْبِسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ >>
Artinya: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat seorang lelaki yang memakai pakaian wanita, dan (melaknat) seorang wanita yang memakai pakaian lelaki." (HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan Syaikh Muqbil di dalam Jami'ush Shahih).

Terkait hadits di atas Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Laknat adalah mengeluarkan dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Yaitu ketika seorang lelaki menyerupai seorang wanita di dalam pakaiannya, terlebih lagi ketika itu adalah perkara yang haram seperti pakaian sutra atau emas.

Termasuk juga ketika seorang lelaki menyerupai wanita di dalam berbicaranya agar suaranya mirip atau melakukan sesuatu yang dikhususkan untuk seorang wanita, maka sesungguhnya lelaki tersebut terlaknat sebagaimana seperti yang ternyatakan oleh lisan makhluk yang paling mulia. Dan kami pun melaknat siapa-siapa yang dilaknat oleh rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Seorang lelaki yang menyerupai seorang wanita dia terlaknat sebagaimana wanita juga jika menyerupai seorang lelaki maka dia pun terlaknat. Seperti seorang wanita yang berbicara sebagaimana berbicaranya seorang lelaki atau seorang wanita yang memakai imamah, padahal imamah adalah pakaiannya lelaki. Diantara contohnya juga adalah pakaian banthalun, karena banthalun itu khusus bagi lelaki. Seorang wanita itu berpakaian dengan pakaian yang tertutup, sedangkan banthalun sebagaimana kita ketahui semuanya, akan menyingkap aurat wanita dan akan menampakkan bentuk paha dan betisnya atau selainnya.

Oleh karenanya kita katakan, seorang wanita tidaklah boleh untuk berpakaian dengan celana banthalun walau pun dia pakai di sisi suaminya, karena yang menjadi sebab pelarangan bukanlah dari sisi menutup auratnya, akan tetapi dari sisi penyerupaan (tasyabbuhnya) seorang wanita kepada lelaki. Jika dia lakukan, maka dia adalah seorang terlaknat berdasarkan ucapan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."

(Disadur dari Syarh Riyadhush Shalihin-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/243, cet. Ibnul Jauzi 2006).

Hasungan untuk Mengajari Anak Ilmu Agama Sejak Dini dengan Menghafal dan Menulis

Ibnu Hajar al Atsqalani rahimahullah dalam kitab Fathul Bari-nya (1/199) menukil ucapan Al Hasan ibnu Ali ibn Abi Thalib radhiallahu anhuma pernah mengatakan kepada anak-anaknya, "Pelajarilah oleh kalian ilmu agama! Karena sesungguhnya jika kalian sekarang adalah orang kecil di tengah kaum, maka kelak akan menjadi besar di kalangan mereka. Maka barang siapa yang tidak menghafal, hendaknya dia menulis."

(Fadhlul Ilmi wa Adabu Thalabatihi-Syaikh Muhammad Ruslan, hal. 344, cet. Darul Alamiyah 2013)

Apakah benar ucapan bahwasanya yang teranggap seorang imam (pemimpin) itu adalah orang yang telah menyatukan kaum muslimin seluruhnya di dunia dari arah timur sampai barat? Dijawab oleh Syaikh Shalih

Dijawab oleh Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu, "Ini adalah ucapan kaum al khawarij.

Seorang imam (penguasa) adalah orang yang telah dibaiat (diangkat) oleh Ahlul hali Wal aqdi (majelis para ulama) dari kaum muslimin, dan imam yang terpilih dari majelis inilah selanjutnya harus ditaati oleh rakyatnya.

Tidaklah menjadi suatu keharusan bahwa yang namanya seorang imam itu mesti dibaiat oleh semua manusia dari timur sampai baratnya dan prianya hingga wanitanya.

Ini bukanlah manhaj (jalan) Al Islam di dalam kepengaturan tentang pemimpin."

(Disadur dari Ijabatul Muhimmah-Syaikh Shalih Fauzan, juz 1, hal. 22, cet. Darul Furqan 2008)