Jumat, 03 November 2017

Kajian Mengingat Kematian-Ust. Ayip



Bismillah,
Hadirilah kajian umum tuk ikhwan dan akhwat bersama Ust. Ayip Syafruddin dengan tema: MENGINGAT KEMATIAN pada hari Ahad 5 Nov 2017, bada Maghrib sd Selesai di Mahad Riyadhul Jannah, Cileungsi-Bogor.
Info 08567133567

Selasa, 31 Oktober 2017

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 6

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Di masa-masa akhir periode pertama hijriyah banyak didapati para tabiin, maka Al khalifah ar Rasyid Umar ibn Abdil Aziz rahimahullah memerintahkan mereka untuk menyusun sunnah-sunnah dan beliau menulis kepada para ulama di segenap penjuru, "Lihatlah segala apa yang telah kalian miliki (dari sunnah-sunnah dan atsar-atsar) kemudian tulislah menjadi satu, karena aku takut akan tersia-siakan ilmu sedangkan ulama akan pergi (wafat)." (Fathul Bari 1/204)

Maka banyak dari kalangan tabiin merealisasikan (perintah tersebut).

Kemudian munculah Imam negeri hijrah, Malik ibn Anas menyusun kitab Al Muwaththa dengan pengarahan dari khalifah al abbasiyyah Abu Jafar al Manshur agar di dalam kitab tersebut dimuat (hadits dan atsar) yang terpilih dengan penuh kecermatan. Imam Malik tidaklah meriwayatkan kecuali memang dari orang-oarng yang dikenal dhabt (kredibilitas) dan kemutkinannya (tajamnya hafalan), beliau berkata, "Sungguh, aku telah menemui sebanyak tujuh puluh syaikh yang berada di masjid rasulullah (masjidil haram) dan sesungguhnya satu-satu dari mereka niscaya akan amanah ketika diberikan titipan harta, akan tetapi aku tidak meriwayatkan sesuatu apapun dari mereka karena mereka bukankah orang yang ahli terhadap ilmu (hadits) ini." (Ad Dibajul Mazhab 1/21).

Adalah Kitab Al Muwaththa inilah yang merupakan kitab pertama kali yang menyusun khusus tentang hadits-hadits dan kebanyakan dari riwayat-riwayatnya berasal dari pembesar-pembesar tabiin semisal Az Zuhri, Salim ibn Abdillah ibn Umar, Nafi maula ibnu Umar dan Al Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr dan yang selain dari mereka."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 27, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 5

Pencatatan As Sunnah

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Adapun pencatatan hadits sesungguhnya telah dimulai sejak di zaman kenabian dimana terdapat seorang shahabat yang mulia yaitu Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu anhu yang menulis setiap apa yang telah beliau dengar dari Rasulullah shallallahu alaihibwasallam, oleh karenanya Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, "Tidak didapati seorang shahabat rasulullah yang paling banyak haditsnya dibandingkan aku kecuali Abdullah ibn Amr ibnil Ash karena beliau dahulu menulis, sedangkan aku tidak menulis." (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah ibn Amr pernah menamakan catatan-catatan teraebut dengan nama "shahifah ash shadiqah."

Demikian juga dengan Ali ibn Abi Thalib radhiallahu anhu, dahulu beliau pernah memiliki sebuah shahifah (catatan lembaran) dan di dalam shahifah tersebut terdapat pembahasan hukum tentang melepaskan tawanan, diyat dan tidak bolehnya seorang muslim dibunuh oleh orang kafir (dalam qishash).

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan suatu hadits,
《من قتل له قتيل فهو بخير النظرين》
Artinya:
“Barangsiapa yang (anggota keluarganya) dibunuh, maka dia boleh memilih dengan dua pilihan.” (HR. Bukhari). Maka ada seseorang yang berasal dari negeri Yaman yang dikenal dengan pangilan Abu Syah berkata, "Tuliskanlah untukku wahai rasulullah". Maka Rasulullah berkata, "Tuliskanlah untuk Abu Syah".

Rasulullah juga dahulu menulis kepada para raja dan penguasa dimana hal ini teranggap juga sebagai hadits yang tertulis.

Nabi shallallahu alaihi wasallam tidaklah melarang untuk menulis hadits dengan pelarangan yang mutlak, akan tetapi bagi sebagian para shahabatnya hal ini diberikan keringanan.

Setelah wafatnya Nabi alaihishalatu wasallam hadits pun masih terjaga di dada-dada para shahabatnya, begitupun juga dengan para shahabat-shahabatnya yang masih kecil seperti Ibnu Abbas, Anas ibn Malik, Jabir ibn Abdillah dan lainnya, mereka dahulu mengumpulkan hadits-hadits dari para shahabat-shahabat nabi yang dewasa yang bertujuan agar dapat mengumpulkan segala apa yang telah didengarnya sendiri. Ketika telah dibukanya negeri-negeri dan berpencar-pencarnya para shahabat nabi di berbagai daerah, mereka pun berbondong-bondong untuk mengambil riwayat-riwayat hadits di sisi para shahabat yang dewasa agar bisa diajarkan kepada para tabiin".

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 26, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 4

Sekarang, sebelum kita masuk untuk membahas perkara-perkara yang tengah ditebarkan oleh orang-orang yang memusuhi sunnah dalam rangka mengotori sunnah yang suci, kami ingin terlebih dahulu mengenalkan apa itu sunnah?
Dan bagaimana caranya sunnah itu bisa tersusun sempurna?
Dan bagaimana juga cara penjagaan ulama dalam membawa dan menunaikan sunnah?
Dan bagaimana pula kedudukan sunnah di dalam syariat?
Dan bagaimana kedudukan ahlu hadits di antara para ulama?
Maka kami katakan, dengan pertolongan dan taufik dari Allah:

Al hadits adalah segala yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam berupa ucapan, perbuatan, taqrir (pendiaman/ persetujuan), sifat khalqi (bentuk tubuh) atau khuluqi (perangai/kepribadian).

Contoh dari ucapan adalah: Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, "Sesungguhnya amalan itu hanyalah (teranggap) dengan niatnya dan setiap orang terganrung dengan apa yang diniatkannya". (HR. Bukhari)

Adapun contoh dari perbuatan adalah: Kaab bin Malik radhiallahu anhu berkata, "Dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam jika baru datang dari safar (perjalanan jauh) memulai (sebelum langsung pulang ke rumahnya) dengan mendatangi masjid kemudian shalat di dalamnya". (HR. Muslim). Ini adalah sebuah hadits karena mengandung suatu perbuatan yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Contoh dari taqrir adalah: Ucapan Jabir ibn Samurah radhiallahu anhu , "Aku telah duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih dari seratus kali dan para shahabat kala itu saling melantunkan syair dan bercerita tentang perkara-perkara di masa-masa jahiliyyah dahulu dan nabi pun terdiam, dan terkadang nabi ikut (bercerita) bersama mereka". (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam al Albani dalam Mukhtashar Syamail).

Contoh dari sifat khalqi adalah: Ucapan Ali ibn Abi Thalib radhiallahu anhu dalam menyifati nabi, "Beliau bukanlah orang yang tinggi tapi tidak pendek, kedua telapak tanggan dan kedua kakinya tebal dan keras, kepala dan bahunya bidang, bulu dadanya panjang,.. dst" (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam al Albani dalam Mukhtashar Syamail).

Contoh sifat khuluqi adalah: Ucapan Aisyah radhiallahu anha, "Rasulullah bukanlah orang yang fahisy (perbuatan keji) dan tidaklah pernah berbuat fahisy, tidak berbuat gaduh di pasar, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan pula, akan tetapi beliau memaafkan dan berdamai."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 24-25, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 3

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Perhatikanlah sikap yang mengherankan dari kaum khawarij ini! Sesungguhnya merekalah yang meminta kepada Abdullah ibn Khabbab rahimahullah untuk meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari ayahnya dan dari rasulullah, tapi ketika beliau melakukannya mereka malah membunuhnya.

Maka tidaklah mungkin bisa ditafsirkan sikap yang seperti ini kecuali salah satu dari dua kemungkinan, (pertama) bisa jadi orang-orang khawarij itu membenarkan (hadits itu), akan tetapi malah menyelisihinya. Maka kalau demikian, mereka menjadi orang-orang yang menyakiti Allah dan rasulNya. Maka dengan ini, mereka akan mendapatkan ancaman Allah ta'ala: "Barang siapa yang menyakiti Allah dan rasulNya maka sesungguhnya Allah maha keras siksanya". (Al Anfal: 13).

Atau bisa jadi (kemungkinan kedua) mereka mendustakan hadits, akan tetapi dari sisi mana mereka mau (menvonis) dusta? Apakah Abdullah seorang tabiin yang mulia? Atau ayahnya yang merupakan salah satu seorang shahabat nabi di awal-awal keislaman yang menanggung ujian di jalan Allah? Atau malah rasulullah (yang berdusta)? Maka mereka telah kufur dengan pendustaan tersebut!

Dengan sikap yang diperbuat oleh khawarij terhadap sunnah itulah akhirnya menjadi sebab sesatnya mereka, karena mereka telah menggunakan akal dan hawa nafsu di dalam beragama, serta banyaknya penolakan mereka terhadap hadits-hadits yang shahih, seperti hadits rajam, mengusap dua khuf dan selainnya.

Juga dengan keadaan mereka yang meremehkan sunnah dan mengikuti faham mu'tazilah, terlebih dengan penyimpangan-penyimpangan yang menjadi prinsip kemuta'zilahannya seperti hadits-hadits tentang sifat-sifat keadaan di hari kiamat, al qadha wal qadar dan semisalnya. Kemudian juga sikap mereka yang terus menerus memusuhi sunnah di setiap zamannya, dengan membuat berbagai konspirasi dan menulis tulisan-tulisan untuk menunaikan aksinya.

Akan tetapi Allah lah yang menjaga kitab-Nya dari perubahan dan penyelewengan, dan Allah juga lah yang menjaga sunnah nabi-Nya dari ulah-ulah tangan mereka yang hina, karena Allah telah menjadikan kedudukan sunnah nabi-Nya sebagai penjelas dan penafsir kitab-Nya. As Sunnah juga sebagai pengkhusus dari apa-apa yang masih bersifat umum pada Al Quran, pengqayid dari yang mutlak, penjelas dari yang masih samar, perinci dari yang masih bersifat umum.

Allah telah memerintahkan kepada nabi-Nya dengan al bayan sebagaimana telah diperintahkan dengan al balagh, Allah taala berfirman,

《وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون》
Artinya: "Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr agar kamu dapat menerangkan kepada manusia tentang perkara yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan". (An Nahl: 44)"

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal 22-23, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras 2


Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Orang-orang khawarij yang memberontak kepada pemerintahan Ali ibn Abi Thalib setelah adanya masalah tahkim (datangnya Ibnu Abbas radhiallahu anhuma untuk berdialog dalam rangka menyadarkan mereka) dimana telah datang banyak hadits yang mencela mereka sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sabdakan, "Mereka keluar dari islam sebagaimana anak panah yang (tembus) keluar (mengenai target) dari buruannya, tidaklah iman mereka melewati kerongkongan-kerongkongannya." (HR. Bukhari) mereka ini adalah termasuk orang-orang yang paling memusuhi hadits, sampai (dikisahkan) ketika mereka berhasil menangkap Abdullah ibn Habbab ibnil Arrat radhiallahu anhu, mereka pun meminta Abdullah untuk meriwayatkan kepada mereka sebuah hadits yang didengarnya dari ayahandanya, Habbab ibnul Arrat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Abdullah berkata kepada mereka, "Aku mendengar ayahandaku berkata, bahwa rasulullah bersabda, "Akan terjadi suatu fitnah, dimana orang yang duduk itu lebih baik dibandingkan orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dibanding orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dibanding orang yang berlari. Maka jadilah seorang hamba Allah yang terbunuh dan jangan menjadi hamba Allah yang membunuh." (HR. Bukhari).

Orang-orang khawarij pun berkata kepada Abdullah, "Apakah Engkau benar-benar mendengar hadits ini dari ayahmu?" Abdullah menjawab, "Ya benar." Maka mereka pun langsung membunuh Abdullah di tepi sungai Daljah sampai darahnya memerahi air sungai, mereka juga membunuh dan merobek perut istrinya Abdullah yang sedang hamil. (HR. Musnad Abi Ya'la).

Ketika hal itu diketahui oleh Ali ibn Abi Thalib, beliau segera mengirim pasukan untuk memerangi mereka yang telah membunuh Abdullah ibn Habbab ibnil Arrat.

Ketika itu mereka berkata, "Kamilah semua yang membunuh." Maka Ali menjawab, "Kalau begitu sekarang saatnya berperang." Campuh perang pun terjadi di Nahrawan dan banyak di kalangan mereka (khawarij) yang terbunuh."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal 21-22, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Terjemah Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, "Alhamdulillahirabbil alamin wash Shaalatu Wassalamu ala Ashrafil Mursalin Nabiyyina Muhammadin wa ala Aalihi Washahbihi Wasalim Amma Ba'du,

Sesungguhnya musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan orientalis barat telah dibuat lelah oleh Al Quran ketika mereka berusaha untuk mendapatkan sesuatu walaupun sedikit. Upaya dan usaha telah berulang kali mereka lakukan untuk menyimpangkan Al Quran, akan tetapi hal itu tidaklah menghasilkan sesuatu melainkan malah membuat Al Quran semakin menjadi bersinar. Adapun bagi mereka malah menjadi bumerang ketika kehinaan dan kerendahan menimpa diri-diri mereka sendiri.

Ketika menyaksikan hal tersebut, mereka akhirnya menyorot kepada As Sunnah yang suci agar mereka bisa mengotak-atiknya dengan cara menebarkan keragu-raguan dan syubhat-syubhat.

Mereka menginginkan untuk menyimpangkan As Sunnah selama mereka tidak mampu untuk menyimpangkan Al Quran. Mereka anggap bahwa hal ini adalah usaha yang pas, mudah, hebat dan tepat. Akan tetapi tidaklah tindakan ini mereka baru lakukan hari ini atau kemarin, akan tetapi hal itu ternyata adalah cara yang sudah ditempuh oleh orang-orang sebelumnya dan telah kuno."

Sumber
Al Hadits, wa Makanatuhu fit Tasyri al Islami-Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal 21, cet. Darul Istiqamah 2010

#terjemah_alhadits_khalil_harras

Senin, 30 Oktober 2017

Bermusyawarah adalah Jalan Para Salaf


Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, "Dahulu para qurra (penghafal Al Quran) adalah teman di majelis-majelisnya Umar ibnul Khaththab dan kawan dalam bermusyawarah baik yang kalangan tuanya maupun yang mudanya."
(HR. Bukhari)

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata juga, "Sesungguhnya dahulu aku benar-benar bertanya tentang satu perkara kepada tiga puluh para shahabat nabi."
(Siyar a'lamun Nubala-Imam Adz Dzahabi 3/344).

Imam Malik rahimahullah berkata, "Jika dahulu saja para shahabat rasulullah ketika mereka mendapati berbagai permasalahan tidaklah menjawab salah seorang dari mereka dari satu permasalahan sampai mereka melihat pendapat shahabatnya yang lain, padahal mereka adalah orang-orang dianugerahi kekokohan ilmu, taufik dan kesucian, lalu bagaimana dengan kita yang diliputi dosa-dosa dan berbagai kesalahan pada hati kita? "
(Adabul Mufti wal Mustafti-Ibnu Shalah, hal. 80)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Dahulu Umar ibnul Khtaththab radhiallahu anhu ketika mendapati dirinya suatu permasalahan, maka beliau bermusyawarah dengan para shahabat yang ada, tapi terkadang beliau mengumpulkan semua untuk memusyawarahkan bersama sampai-sampai Ibnu Abbas pun diikut sertakan padahal ketika itu Ibnu Abbas termasuk yang umurnya masih muda."
(I'lamul Muwaqi'in-Ibnul Qayyim 4/256).

Mengajak kepada Sunnah dan Melarang dari Bidah adalah Ibadah


Said ibnu Jubair rahimahullah menyatakan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu anhu memandang kepada seorang ahlussunnah yang mengajak kepada sunnah dan melarang dari kebid'ahan adalah sebuah amalan ibadah."

(Talbis Iblis-Ibnul Jauzi [tahqiq Syaikh Zaid al Madkhali], hal. 26-27, cet. Darul Wasitiyyah 2015)

Bermusyawarah ketika Mendapatkan Perkara yang Rumit


Maimun ibn Mihran rahimahullah berkata, "Dahulu Abu Bakr ash Shiddiq jika ingin memutuskan suatu perkara maka beliau melihat kepada kitabullah (Al Quran), jika terdapat jawaban di dalamnya maka beliau memutuskan dengan hal itu.

Jika beliau mengetahui jawabannya ada pada sunnah rasulullah, maka beliaupun menetapkan keputusannya dengan itu.

Jika beliau tidak mengetahui, maka beliau keluar dan bertanya kepada kaum muslimin (para shahabat nabi) tentang sunnah, jika perkaranya rumit, maka beliau memanggil tokoh-tokoh muslimin (para shahabat nabi) dan ulama-ulamanya untuk bermusyawarah bersama."

(HR. Baihaqi dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam al Fath)

Ikhlashlah dalam Mengajar dan Berdakwah


Al Imam Abdurrahman As Sady rahimahullahu berkata, "Sudah menjadi sebuah keharusan atas seorang pengajar dan seorang dai ilallah untuk mengerahkan keikhlashan yang sempurna di dalam proses kegiatan mengajarnya dan dakwahnya, dan jangan menjadikan itu semua sebagai sarana untuk mendapatkan harta, kedudukan dan manfaat (dunia)."

(Taisir Lathifil Mannan-Syaikh As Sady, hal. 222)

channel telegram khusus catatan faidah ulama dari hadits-hadits.

Info
Bismillah,
Alhamdulillah, telah dibuat channel khusus catatan faidah ulama dari hadits-hadits.

Bagi teman-teman yang mau lihat-lihat, tafadhal kunjungi channel link kami di telegram.me/PetikanFaidahHadits

Semoga bermanfaat, Jazakallahukhaira

#info

Kedermawanan Rasulullah


Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah seorang yang kedermawanannya menyentuh ke seluruh macamnya, beliau mencurahkan ilmu, harta dan jiwanya karena Allah di dalam menebarkan agama-Nya dan hidayah kepada manusia.

Serta memberikan manfaat kepada manusia di setiap jalan berupa memberikan makanan kepada orang yang lapar dan memberikan nasehat kepada orang-orang yang jahil serta membantu manusia di dalam menunaikan kebutuhan-kebutuhan mereka dan meringankan beban mereka."

(Lathaiful Maarif-Ibnu Rajab, hal. 173-174).

channel telegram khusus catatan faidah kitabul jami dari Bulughul Maram.

Info
Bismillah,
Alhamdulillah, telah dibuat channel khusus catatan faidah kitabul jami dari Bulughul Maram.

Bagi teman-teman yang mau lihat-lihat, tafadhal kunjungi channel link kami di telegram.me/KitabulJamiBulughulMaram

Semoga bermanfaat, Jazakallahukhaira

#info

Jangan Lupakan untuk Menyebut Gurumu ketika Menyampaikan Faidah yang Berasal Darinya


Imam Asy Suyuthi rahimahullah berkata, "Termasuk dari keberkahan ilmu dan bentuk rasa syukur adalah menisbatkan ilmu kepada yang mengatakannya."
(Al Mazhar fi Ulumil Lughah)

Ibnul Jauzi rahimahullah ketika menyebutkan keutamaan dari Al Wazir ibnu Hubairah rahimahullah mengatakan, "Beliau ketika memberikan sesuatu faidah, maka berkata: Aku mendapatkan faidah ini dari Fulan."
(Adz Dzail ala Thabaqatil Hanabilah 1/255)

(Dinukil dari An Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi-Hamd Ibrahim al Utsman, hal. 199-200).

Awas, Jangan Menjadi Jongosnya Iblis!


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Iblis mempunyai wakil (jongos) di bumi, yaitu orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari menuntut ilmu dan bertafaqquh fid diin (mendalami ilmu agama).

Mereka ini lebih berbahaya dari setan-setan jenis manusia dan jin, karena mereka telah memalingkan hati-hati (seorang hamba) dengan hidayah Allah dan jalan Allah."

(Miftahu Daris Saadah-Ibnul Qayyim al Jauziyah, 1/160).

Al Kibr dan Al Ujub di Sisi Imam Ibnul Mubarak


Abu Wahb al Marwazi rahimahullah pernah bertanya kepada Al Imam Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah tentang apa itu al kibr (sombong), maka beliau menjawab, "Al kibr (sombong) adalah ketika engkau merendahkan manusia."

Lalu beliau ditanya kembali tentang apa itu al ujub, maka beliau menjawab, "Al Ujub adalah ketika engkau menganggap bahwa di sisimu ada sesuatu (keutamaan) yang tidak ada pada manusia."

(Tadzkiratul Huffazh-Khathib al Baghdadi, 1/378).

Tiga Adab yang Paling Utama Atas Seorang Alim


Imam Ibnu Abdilbar rahimahullah berkata, "Termasuk adab yang paling utama dari seorang yang berilmu (alim) adalah ketawadhuannya dan meninggalkan ujub (bangga diri) terhadap ilmunya serta menjauh dari sifat cinta ketenaran."

(Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlihi-Ibnu Abdilbar, hal. 223)

Selasa, 17 Oktober 2017

Seorang Pengajar Hendaknya Berakhlak Mulia

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Para pengajar wajib untuk mencontohkan akhlak yang utama nan mulia di hadapan para anak didiknya, dan hendaknya mereka menjauhi setiap akhlak yang rendah nan tercela, karena seorang pengajar itu mengajarkan akhlak sebagaimana dirinya mengajarkan ilmu-ilmu."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 15, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Senin, 16 Oktober 2017

Menjauh dari Ketenaran


Imam Al Baihaqi rahimahullah berkata, "Ketahuilah bahwa pokok dari sebuah ketenaran adalah suka jika ucapannya tersebar dan terkenal dan ini merupakan bahaya yang besar, keselamatan itu terdapat pada ketidaktenaran.

Para ahlul ilmi tidaklah menginginkan kemasyhuran dan tidak menyodorkan diri-dirinya kepada ketenaran, dan juga tidak menempuh sebab-sebab untuk menjadi terkenal.

Namun jika mereka terkenal karena kehendak Allah, mereka pun berlari menjauh dari itu dan menetapi jalan untuk tidak menjadi terkenal."

(Az Zuhd al Kabir-Imam Al Baihaqi, hal. 122)