Minggu, 15 April 2018

Apa hukum sebagian orang yang ketika mendapat kesulitan, dia menyeru, "Wahai Muhammad", "Wahai Ali" atau "Wahai Jailani"?



Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Jika hal itu dimaksudkan oleh mereka sebagai sebuah panjatan doa dan meminta tolong, maka dia seorang musyrik yang keluar dari agamanya.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dan mempersembahkan panjatan doanya hanya kepada Allah saja, sebagaimana firman Allah taala ini,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُون

Artinya:
"Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang sedang mengalami kesempitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kejelekkan dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di muka bumi? Apakah ada sesembahan yang lain kecuali Allah? Teramat sedikitlah kamu ini mengingat-Nya" (QS. An Naml: 62).

Adapun keadaan orang itu, sama statusnya seperti orang musyrik, yakni sebagai orang dungu yang menyia-nyiakan dirinya, Allah berfirman,

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ
Artinya:
"Dan siapa yang membenci agamanya Nabi Ibrahim melainkan dia adalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri" (QS. Al Baqarah: 130)

Dan firman-Nya,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya:
"Dan siapakah yang lebih sesat dibandingkan orang-orang yang berdoa selain selain Allah, dimana mereka adalah orang-orang yang tidak mampu mengabulkan doanya sampai hari kiamat" (QS. Al Ahqaf: 5)"

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 36-37, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Ulama Dunia dan Ulama Akhirat


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "... Pembeda antara dua kelompok (ulama akhirat dan ulama dunia) adalah, bahwa ulama dunia memperhatikan ketenaran, suka kepada banyaknya orang (yang mengikutinya) dan suka sanjungan.

Adapun ulama akhirat, mereka terjauh dari hal tersebut dan lebih mendahulukan orang lain terhadap hal-hal yang seperti itu. Mereka (para ulama akhirat) adalah orang-orang yang saling menakut-nakuti (kepada akhirat) dan orang-orang yang merahmati kepada orang yang menyakitinya..."

(Shayyidul Khatir-Ibnul Jauzi, hal 11, cet. Darut Taqwa 2013).

Perbandingan yang Dihasilkan antara Sebuah Hadits dengan Akal


Yunus ibn Sulaiman as Saqathi rahimahullahu berkata, "Aku memperhatikan di dalam sebuah urusan, mesti bersumber pada sebuah hadits atau akal.

Maka aku dapatkan di dalam sebuah hadits terkandung:
>Pengingatan kepada Rabb ta'ala baik akan rububiyahnya, kemuliaannya dan keagungannya
>Pengingatan kepada al arsy
>Penyifatan dari surga dan neraka
>Pengingatan kepada para nabi dan rasul
>Perkara halal dan haram
>Dorongan untuk menyambung silaturahmi kerabat dan seluruh hal-hal yang di dalamnya penuh dengan kebaikan.

Sedangkan aku perhatikan pada akal, terdapat di dalamnya
Makar, pengkhiatan, tipu-tipuan, memutuskan tali silaturahmi dan seluruh hal-hal yang di dalamnya penuh dengan kejelekkan."

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 101, cet. Darul Furqan 2008).

Apa yang Dibaca ketika Iqamah?


Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, "Fadhilatusy Syaikh, kami mendengar dari sebagian manusia setelah dikumandangkan iqamah (qamat), mengucapkan, "aqamahallahu wa adamaha." Lalu apakah apa hikmah dari hal tersebut?"

Syaikh rahimahullahu menjawab, "Yang dimaksud dengan itu sepertinya berdasar kepada sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwasanya jika seorang muadzin mengucapkan: "qad qamatish shalah" maka ucapkanlah: "Aqamahallahu wa Adamaha.", akan tetapi hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah".

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 28, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Mencatat Ilmu adalah Salah Satu dari Amalan Shahabat Nabi


Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, "Tidaklah ada seorang sahabat nabi pun yang lebih banyak (periwayatan) haditsnya dibandingkan aku selain Abdullah ibn Amr, karena sesungguhnya dia menulis sedangkan aku tidak menulis."
(HR. Bukhari)

Abu Rasyid al Hibrani rahimahullahu bekata, "Aku pernah mendatangi Abdullah ibn Amr ibnil Ash, dan aku berkata kepada beliau, "Sampaikanlah kepada kami apa yang telah engkau dengar dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau memberikan kepadaku sebuah shahifah (lembaran catatan) seraya berkata, "Inilah apa-apa yang aku tulis dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam..."
(HR. Tirmidzi dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Imam Al Albani).

(Lihat Taqyidul Ilmi-Khathib al Baghdadi (cetakan yang ditaqdim oleh Syaikh Muhammad Bazmul), hal. 101 dan 105, cet. Darul Istiqamah 2008)

Hukum Melaknat Setan


Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya: Apa hukum melaknat setan? Sebagaimana dengan sebagian orang yang berkata, "Terlaknatlah setan"

Syaikh rahimahullahu menjawab, "Yang utama bagi seorang insan adalah berusaha untuk melatih diri dengan adab yang telah dibimbing oleh Allah kepada hambaNya, yakni firman Allah,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم

Artinya:
"Jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (Al A'raf: 200).

Maka jika engkau berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, berarti engkau telah berlindung dengan Dzat Yang Maha Agung azza wa jalla, dan engkau pun akan selamat dari kejahatan setan.

Adapun jika engkau melaknat setan, maka engkau telah melaknat sesuatu yang memang telah dilaknat, maka laknatmu memang terkena kepadanya, dan tidak ada faidahnya hal ini dan engkau yang melakukannya juga tak ada faidahnya sedikitpun karena setan memang makhluk yang terlaknat baik engkau laknat dia atau tidak.

Juga tidaklah mungkin ucapan laknatmu kepada setan ini, lebih baik dibandingkan dengan apa yang Allah perintahkan.

Oleh karenanya aku (Syaikh Utsaimin) nasehatkan agar seorang insan berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ada setan yang menggodamu, maka dia memanglah makhluk yang memberi was-was."

(Dinukil dan disadur dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 26, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Agama itu Dengan Atsar, Adapun Membuat Roti dengan Akal


Abdullah ibn Ahmad ibn Sibawaih rahimahullahu menerangkan bahwa ayahnya pernah berkata kepadanya, "Barang siapa yang menginginkan ilmu al qabr (apa-apa yang terjadi di alam kubur) maka wajib bagimu untuk mengikuti atsar. Dan barang siapa yang menginginkan ilmu tentang (membuat) roti, maka dengan akal! "

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 101, cet. Darul Furqan 2008).

Pacaran itu Berat, Kamu tidak Akan Kuat, Biar Aku (Nikahi Kamu) Saja


Pacaran itu berat, ya memang berat, berat di dunia dan lebih-lebih di akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti para lelaki akan beratnya fitnahnya (godaan) wanita, beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“

Artinya:
Tidaklah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi para lelaki sepeninggalku, selain fitnahnya (godaan) wanita.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Shahabat Usamah ibn Zaid radhiallahu anhu).

Selain berat menahan fitnahnya (godaannya), orang yang berpacaran akan terasa berat tuk menahan diri dari sesuatu yang diharamkan syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya:
“Telah ditetapkan atas anak adam bagiannya dari berzina dan ini suatu yang mesti terjadi. Zinanya kedua mata adalah dengan memandang, zinanya kedua telinga adalah dengan mendengar, zinanya lisan adalah dengan berbicara, zinanya tangan adalah dengan meraba (menyentuh), zinanya kaki adalah dengan melangkah dan zinanya hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan, kemudian kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mendustakannya.”
(HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu).

Sudah jamak, bahwa semua jenis keharaman yang dimuat di dalam hadits di atas, biasanya menjadi amalan bagi orang yang berpacaran, padahal hanya berduaan saja tanpa melakukan apa-apa, sudah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sabdanya,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَم

Artinya:
"Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.”
(HR. Bukhari dari shahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma)

Masya Allah ternyata memang berat sekali pacaran itu, karena di dunia banyak pelanggaran syariat yang diterjang. Barang siapa yang melabrak larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, maka ancaman siksa neraka akan diterima.

Adapun di akhirat, pacaran itu berat karena resiko ancaman dosanya, ingin tahu beratnya kaya apa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Artinya:
"Sesungguhnya penduduk neraka yg paling ringan siksanya adalah orang yang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, dimana otaknya akan mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali yang mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tidak ada seorang pun yg siksanya lebih pedih dibanding dirinya, padahal siksanya adalah siksaan yang paling ringan di antara mereka (penduduk neraka).
(HR. Muslim dari shahabat Numan ibn Basyir radhiallahu anhuma).

Subhanallah.. itu yang paling ringannya, lalu gimana kira-kira yang lebih dari itu? Nas'alullaha salamah.

Lalu kalo pacaran itu berat, apa solusinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

Artinya:
"Kami tidak pernah memandang (kebaikan) bagi dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”
(HR. Ibnu Majah no. 1920. Dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Nikah. Benar, nikah. Ini lebih ringan ketimbang berpacaran, oleh karenanya pacaran itu berat, kamu tidak akan kuat, biar aku nikahi kamu saja.

Ahlul Bid'ah itu Membenci Hadits yang tidak Mendukung Bid'ahnya


Imam Al Auza'i rahimahullahu bertanya kepada shahabatnya, Abu Muhammad Baqiyah rahimahullahu, "Wahai Abu Muhammad, apa pendapatmu tentang suatu kaum yang didapati membenci hadits di antara mereka?"

Baqiyah rahimahullahu menjawab, "Tentu mereka adalah suatu kaum yang jelek."

Imam Al Auza'i lalu berkata, "Bukanlah termasuk dari pelaku bid'ah ketika mereka disampaikan sebuah hadits yang menyelisihi kebid'ahannya melainkan hadits tersebut akan dibencinya."

(Sanadnya hasan, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 98-99, cet. Darul Furqan 2008).

Memaksakan Anak untuk Belajar Agama adalah Suatu Keharusan


Abdullah ibn Daud rahimahullah berkata, "Sudah sepantasnya bagi seorang lelaki (ayah) untuk memaksakan anaknya belajar ilmu hadits (agama)."

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 91, cet. Darul Furqan 2008).

Mengajari Anak-Anak kepada Ilmu Agama adalah Bentuk Penjagaan Agama


Miskin ibn Bukair rahimahullahu pernah bercerita, "Suatu hari lewatlah seorang lelaki di hadapan Imam al A'masy yang sedang mengajari hadits. Maka lelaki itu bertanya kepada Imam Al A'masy, "Apakah engkau mengajarkan hadits kepada anak-anak kecil itu?"

Imam Al A'masy menjawab, "Ya, anak-anak kecil itu sedang menjaga agamamu."

(Sanadnya hasan, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 89, cet. Darul Furqan 2008).

Ilmu akan Melapangkan Hati


Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, "Di antara sebab lapangnya hati adalah al ilmu, karena dengan ilmu, hati akan lapang dan akan hati akan terasa luas sampai-sampai luasnya bisa melebihi luasnya dunia.

Adapun kebodohan sejatinya hanya akan mewariskan kesempitan, keterbatasan dan kehimpitan.

Oleh karenanya semakin luas kadar ilmu seorang hamba, maka semakin lapang dan luaslah hatinya.

Dan bukanlah yang dimaksud dengan ilmu ini adalah setiap ilmu yang ada, akan tetapi ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang telah diwarisi dari rasul, yaitu ilmu yang bermanfaat (ilmu agama).

Maka orang yang memilikinya adalah orang yang paling lapang dadanya, yang paling luas hatinya, yang paling bagus akhlaknya dan yang paling baik kehidupannya."

(Disadur dari Li Asbabi Syarhi ash Shadhr-Imam Ibnul Qayyim, hal. 31, cet. Dar Sabilil Muminin 2009).

Penyebutan Ahlul Hadits di dalam Al Qur'an


Yazid ibn Harun rahimahullahu bertanya kepada Hammad ibn Zaid rahimahullahu, "Wahai Abu Ismail apakah Allah menyebutkan para ahlu hadits di dalam Al Qur'an?"

Hammad ibn Zaid menjawab, "Tentu ada, apakah engkau tidak membaca firman Allah,

لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ

Artinya:
"Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali kepada kaumnya itu". (QS. At Taubah: 122).

Dalam ayat ini berlaku bagi setiap orang yang pergi melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan fikih, kemudian dia kembali kepada orang yang telah ditinggalkannya (kaumnya) dan dia pun mengajarkan ilmu tersebut".

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 83, cet. Darul Furqan 2008).

Minggu, 25 Maret 2018

Apa hukum ucapan: "Semoga Allah panjangkan hidupmu", atau "Semoga panjang umurmu"?


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Tidak sepatutnya seorang untuk memutlakkan ucapan dengan panjang umur saja, karena panjangnya hidup seseorang kadang merupakan kebaikan, tapi kadang juga merupakan kejelekkan.

Sesungguhnya sejelek-jeleknya manusia adalah bagi yang panjang umurnya dan jelek amalannya, oleh karenanya jika mengucapkan: "Semoga Allah panjangkan hidupmu di atas ketaatan" atau yang semisalnya maka hal itu tidak mengapa."

(Dinukil dari Al Manahil Lafzhiyyah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 25, cet. Dar Ibnil Jauzi 2011)

Wahai Pemuda Belajarlah Cara Membidik


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,

Allah berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
Artinya:
"Persiapkanlah oleh kalian apa yang bisa mampu dikerahkan dari kekuatan." (QS. Al Anfal: 60).

Tafsir dari kalimat الفوة (al quwwah) adalah sebagaimana yang ditujukan di dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

ألا إنَّ القوةَ الرمي
<ثلاثا>

Artinya:
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah membidik."

(HR. Muslim).

Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata, "Ditafsirkannya القوة (al quwwah/kekuatan) itu semata-mata dengan bidikan, adalah karena membidik itu lebih nampak pada kegiatan persiapannya dibandingkan dengan alat-alat perang lainnya, ini disebabkan karena pada sebuah bidikan terdapat suatu yang paling menyibukkan musuh dan merupakan senjata yang paling mudah dibawa..."

Maka aku (Syaikh Muhammad Jamil Zainu) katakan:
Sampaipun sekarang, sesungguhnya alat-alat perang di zaman ini pemakaiannya kembali lagi kepada masalah bidik membidik.

Oleh karenanya islam telah menghasung seorang muslim untuk mempelajari cara membidik, terlebih pada kaum mudanya, hendaknya mereka mempelajari cara membidik dengan selingan belajar berenang pula, hal ini dilakukan sebagai alternatif pengganti permainan-permainan lain yang akan menyibukkan mereka dari latihan membidik, Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang telah mempelajari teknik membidik tapi kemudian dia malah melupakannya, maka dia bukan golongan kami dan dia telah berbuat dosa." (HR. Muslim).

(Kaifa Nafhamul Qur'an- Syaikh Muhammad Jamil Zainu [dinukil dari Majmuah Rasail jil. 3, hal. 11, cet. Maktabah Ash Shahabah 2005]).

Menjauh dari Fitnah adalah Keselamatan


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "Barang siapa yang mendekat kepada fitnah maka keselamatan akan menjauh darinya, dan barang siapa yang mengaku-aku bisa bersabar (terhadap fitnah yang dia datangi) maka dia akan diwakilkan kepada dirinya sendiri (Allah tidak membantunya)."

(Shayyidul Khatir-Ibnul Jauzi, hal 8, cet. Darut Taqwa 2013).

Mengenal Wali Allah


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,

Allah taala berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون

Artinya:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu (adalah orang yang) tidak ada rasa kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (QS. Yunus: 62).

Telah ditafsirkan dalam ayat selanjutnya bahwa makna wali-wali Allah itu adalah sebagaimana firman Allah,

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya:
"Yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (QS. Yunus: 63).

Aku katakan (Syaikh Muhammad Jamil Zainu):
Di dalam tafsir ini terdapat bantahan atas ucapan orang-orang yang menyatakan bahwa seorang wali itu adalah:
Orang-orang yang mengetahui perkara yang ghaib, atau
Orang yang mempunyai karamah-karamah, atau
Orang-orang yang dipasang di kuburannya kubah-kubah, atau
Yang lain-lainnya dari berbagai macam keyakinan yang batil.

Oleh karenanya setiap orang yang beriman kepada Allah yang menaati perintah-perintahNya dan yang menjaga diri dari perkara-perkara yang diharamkanNya, maka dia lah termasuk dari wali-wali Allah, dan mempunyai karamah bukanlah menjadi sebuah syarat."

(Kaifa Nafhamul Qur'an- Syaikh Muhammad Jamil Zainu [dinukil dari Majmuah Rasail jil. 3, hal. 10, cet. Maktabah Ash Shahabah 2005]).

Hukuman Berat yang Tidak Terasa


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "Sebesar-besarnya hukuman pada seseorang adalah ketika orang itu tidak merasa bahwa dirinya tengah dihukum.

Yang lebih parah dari itu adalah ketika seseorang merasa senang dengan hukumannya seperti senangnya dia dengan harta yang haram dan terus-menerusnya dia berada di dalam dosa.

Barang siapa yang keadaannya seperti ini, maka dia tak akan selamat dengan ketaatannya (kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabbnya, pent)."

(Shayyidul Khatir-Ibnul Jauzi, hal 5, cet. Darut Taqwa 2013).

Hati Adalah Raja


Ibnu Hibban rahimahullahu berkata, "Wajib bagi seorang yang berakal untuk tidak melupakan hatinya dalam meninggalkan sesuatu sebab yang dapat mengeraskan hati, karena lurusnya seorang raja akan lurus pula para tentaranya, dan rusaknya sang raja akan rusak pula tentara-tentaranya."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 17, cet. Darul Istiqamah)

Kartu Kuning untuk Sang Pemberi Kartu Kuning


Priiit...
Bersamaan dengan sempritan peluit , seorang anak muda berbatik merah mengangkat tangannya ke atas sambil mengacungkan sebuah buku berwarna kuning ke arah orang nomor satu di negeri ini, luar biasa..!

Aksi berani yang dilakukan oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa sebuah kampus ternama di Depok itu memang sengaja diperbuat sebagai gambaran atas pemberian kartu kuning kepada sang presiden, karena beliau yang baru menjabat kurang lebih tiga tahunan itu dinilai telah kurang di dalam mengurusi beberapa poin permasalahan yang mereka tuntut penyelesaiannya.

Aksi pemberian kartu kuning di hari Jum'at lalu (2/2/2018) oleh ketua BEM kampus yang beralmamater kuning ini pun sontak menjadi viral di jagat maya, ada yang memuji dan ada juga yang mengkritisi, akan tetapi bagaimanakah syariat islam memandang hal ini?

Islam sebagai agama yang sempurna tentu telah mempunyai garis-garis yang jelas dalam hal ini. Di dalam ajaran syariat islam yang mulia, hubungan antara rakyat dengan penguasanya telah dimaktubkan indah di dalam Al Quranul Karim,

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم"

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (An Nisa: 59)

Ayat di atas membimbing kita yang berpredikat sebagai seorang rakyat untuk selalu mendengar dan taat kepada penguasa atau pemerintah yang sah, dan memang begitulah kehidupan, ada penguasa yang memimpin dan ada rakyat yang mau dipimpin.

Lalu bagaimana jika seorang rakyat menemui penguasanya kurang bagus dalam kinerjanya atau semena-mena dalam tindakannya? Jawabannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

"مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ"

Artinya:
Barang siapa yang melihat dari penguasanya sesuatu yang tidak dia sukai, maka hendaknya bersabar! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah walaupun sejengkal, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas tegas mengarahkan kita untuk sabar. Ya, sabar dan tetap menjadi seorang rakyat yang tetap taat.

Sebagai seorang manusia tentu akan menyadari bahwa tabiat dari seorang insan mesti punya banyak kekurangan dan kesalahan, terlebih seorang pemimpin dari sebuah negeri! Jika kita saja dalam memimpin sebuah organisasi semisal karang taruna atau memimpin sebuah rumah tangga saja pasti mendapati banyak kesulitan dan kekurangan, apatah lagi memimpin suatu negara luas terbentang yang terdiri dari puluhan -bahkan- ratusan pulau? Sungguh tak terbayangkan bagaimana rumit dan peliknya beban yang dipikul.

Akan tetapi apakah kita akan diam dengan berbagai kesalahan dan kekurangan para penguasa? Tentu tidak! Kita wajib mengingkarinya, tapi lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing, sabdanya,

"مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ"

Artinya:
"Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka janganlah dia menasehatinya dengan cara terang-terangan, akan tetapi hendaknya dia ambil tangan penguasa tersebut dan cara senyap menyepi. Jika dia (penguasa itu) menerima nasihat, maka itulah (yang diinginkan) namun jika dia tidak menerimanya maka yang menasihati telah melaksanakan kewajibannya.”(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Maka jelaslah, jika sebuah nasehat atau aspirasi yang ingin disampaikan kepada penguasa itu dilakukan di depan umum tentu hal ini akan menjatuhkan dan membuat malu sang penguasa, apalagi dengan cara melakukan aksi menyemprit dan memberikan kartu kuning di depan umum, tentu ini lebih melecehkan dan menghinakan, pehatikan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam ini,

"مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللّه"
Artinya:
"Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah (penguasa negeri) di bumi, niscaya Allah akan hinakan dia".
(H.R Tirmidzi dan dihasankan oleh Imam Al Albany).

Oleh karenanya, hati-hatilah dalam bertindak, jangan sampai kita yang berstatus sebagai seorang rakyat mendapat kartu kuning dari syariat yang mulia ini karena kebodohan dan kelancangan dalam bertindak.

Semoga kita semua diberikan hidayah oleh Allah, dan semoga para pemimpin kita juga diberikan hidayah serta penjagaan dari kejelekan-kejelekan, amin.