Senin, 15 Mei 2017

Apakah hikmah ditafsirkan dengan syukur


Apakah hikmah ditafsirkan dengan syukur sebagaimana yang terdapat pada surat Luqman,

《وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ》
Artinya:
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah. (Luqman: 12) ?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Tidak, firman Allah ta'ala "bersyukurlah kepada-Ku" maknanya adalah beramal dengan amalan yang shalih, dan amalan shalih adalah (bentuk) hikmah yang nyata karena barang siapa yang tidak beribadah kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh berdasarkan ayat Allah,

《وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ 》
Artinya:
"َBarang siapa yang membenci agama Ibrahim, tidaklah orang tersebut melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri" (Al Baqarah: 130).

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 73, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Mengambil Pelajaran dari Hujan


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Lihatlah kepada hujan, hujan yang membasahi bumi tersebut datang dari arah atas dan turun secara mengucur teratur, tidak diragukan lagi bahwa hal ini mempunyai hikmah.

Jika seandainya hujan datang dari arah samping maka keberadaan tingginya gunung tidaklah berguna.

Kalau seandainya turunnya hujan dengan satu guyuran seperti mengalirnya siraman air pada tempat minum, niscaya bangunan akan hancur dan manusia akan terkena mudharat (kerugian).

Akan tetapi hujan datang dengan kucuran teratur dari atas agar jatuhnya bisa menyeluruh ke permukaan bumi tanpa ada mudharat."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 66-67, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Mengambil Pelajaran dari Hujan


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Lihatlah kepada hujan, hujan yang membasahi bumi tersebut datang dari arah atas dan turun secara mengucur teratur, tidak diragukan lagi bahwa hal ini mempunyai hikmah.

Jika seandainya hujan datang dari arah samping maka keberadaan tingginya gunung tidaklah berguna.

Kalau seandainya turunnya hujan dengan satu guyuran seperti mengalirnya siraman air pada tempat minum, niscaya bangunan akan hancur dan manusia akan terkena mudharat (kerugian).

Akan tetapi hujan datang dengan kucuran teratur dari atas agar jatuhnya bisa menyeluruh ke permukaan bumi tanpa ada mudharat."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 66-67, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Jangan Curang ketika Berdagang


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Seorang insan tidak boleh untuk mengurang-urangi suatu barang yang akan dijualnya dengan mengaku-aku penuh padahal barang itu (dicampur) dengan yang jelek atau memang (timbangannya) dikurangi.

Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang khianat ketika mereka menjual barang yang nampak penuh (sesuai timbangan) padahal sudah dikurangi, atau dia menjual suatu barang yang terlihat bagus tapi hanya di permukaannya saja, sedangkan dibawahnya diletakan barang yang cacat atau rusak. Ini termasuk dari penipuan juga."

(Silahkan lihat Ianatul Mustafid-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 37, cet. Muassasatur Risalatin Nasyirun 2013).

Berdakwah Setelah Berilmu dan Beramal adalah Jalan para Rasul


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Maka sudah menjadi kewajiban atas setiap orang yang telah mengetahui akidah ini (akidah salaf) dan mengamalkannya untuk tidak mencukupkan pada dirinya sendiri, akan tetapi hendaknya ia mengajak orang lainnya juga dengan cara yang hikmah dan nasehat-nasehat yang baik sebagaimana hal ini adalah jalan yang ditempuh oleh para rasul dan para pengikutnya".

(Al Irsyad ila Shahihil Itiqad-Syaikh Shalih Fauzan hal. 16, cet. Dar Ash Shahabah 2006).

Di Antara Penyebab Munculnya Bid'ah


Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata, "Ketika waktu berlalu, daerah kekuasaan muslimin pun meluas, bid'ah pun banyak (dilakukan) maka perpecahan pun terjadi seiring dengan banyaknya bid'ah (bermunculan) hingga saat ini.

Penyebab terjadinya adalah karena kecondongan hawa nafsu yang jelek yang berbarengan dengan rusaknya pengetahuan dan pemahaman. Juga karena semakin lunturnya kegigihan dan kedisiplinan (dalam memegang agama) serta adanya tujuan-tujuan yang buruk.

Ini adalah perkara-perkara jelek yang Allah jaga para salafush shalih dan orang-orang yang berjalan di atas jalannya mereka sampai hari ini dari tersebut".

(Disadur dari At Ta'ashub adz Dzamim wa Atsaruh-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 7, cet. Darul Minhaj 2009).

Masjid Harus Bebas Gambar Makhluk


Apakah diperbolehkan bagiku untuk membawa masuk buku berbahasa inggris yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa) ke dalam masjid dalam rangka mempelajarinya?

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjawab, "Masjid itu tidak pantas untuk dimasuki sesuatu yang terdapat gambar-gambarnya. Jika rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa) saja tidak akan dimasuki oleh malaikat, lalu bagaimana lagi dengan masjid? Lagi pula tidak mesti harus di dalam masjid ketika mau mempelajari buku tersebut."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, [tanya jawab kesebelas] hal. 55, cet. Dar Imam Ahmad 2005).

Hukum Had Atas Pencela Rasul


Manakah pendapat yang benar tentang diterimanya taubat bagi seorang yang mencela Rasul shallallahu alaihi wasallam, apakah dia tetap dibunuh walaupun sudah bertaubat?

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjawab, "Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi seseorang untuk bertaubat. Untuk Allah-lah taubatnya orang yang bertaubat, akan tetapi hukuman had harus tetap diberikan kepada orang tersebut, hukuman hadnya yaitu harus dibunuh.

Jika dia bertaubat, maka taubatnya antara dia dengan Allah, dan Allah Maha Mengetahui (keadaan dia), ini kepada Allah. Adapun kepada kami (di hadapan manusia), tetap di tegakkan hukuman had atasnya."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, [tanya jawab keenam] hal. 55, cet. Dar Imam Ahmad 2005).

Peringatan:
Yang menegakkan hukum had adalah pemerintah/penguasa suatu negeri yang sah dan berdaulat, bukan dari kalangan kelompok/organisasi tertentu, apalagi perindividu.

Penyesalan Tiada Guna


قال الله تعالى:
《يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا》
Artinya:
"Di hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, “Duhai, seandainya kami (dahulu di dunia) menaati Allah dan menaati Rasul”. (Al Ahzab: 66)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menerangkan tentang ayat di atas, "Orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka tidaklah dimasukkan ke dalam api neraka kecuali karena sebab maksiatnya mereka kepada Allah dan kepada rasul Allah.

Mereka berangan-angan kalau saja mereka dahulu (di dunia) menaati Allah dan menaati rasul-Nya. Ketika itu mereka telah menyadari kesalahannya dan telah mengetahui kekurangannya. Akan tetapi tidak berguna lagi sebuah penyesalan..!

Kalau seandainya penyesalan ini terjadi di dunia, yakni ketika seorang insan menyesal, lalu bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Allah serta meminta ampun kepada Allah, maka hal ini akan bermanfaat bagi dirinya.

Akan tetapi ketika maut telah datang dan kebangkitan di hari kiamat telah terjadi serta azab pun telah diperlihatkan, maka sesungguhnya tidak berguna lagi penyesalan, dan ini adalah sebuah kesedihan, bahkan merupakan siksaan tambahan bagi orang tersebut, wal iyyadzubillah."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 35, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Menghilangkan Kotoran


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Kebanyakan manusia tidak peduli dengan perkara yang kotor. Seperti contohnya: wajah yang kotor atau jenggot yang kotor, mereka tidak mempedulikannya.

Sebagian manusia melakukan hal yang demikian -katanya- dalam rangka menampakkan sikap zuhud dan tawadhu agar dengan itu dia mendapat pujian. Nasalullaha salamah wal afiyah, ini tidak boleh!

Seorang insan seharusnya bisa menghilangkan kekotoran-kekotoran yang seperti ini."

(Syarah Muqaddimah al Majmu-Syaikh Utsaimin, hal. 85, cet. Dar Ibnil Jauzi 2004).

Mempersiapkan Amal untuk di Hari Kiamat


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Yang dituntut dari kita bukanlah mengetahui kapan waktu terjadinya kiamat, akan tetapi yang dituntut dari kita adalah kesiapan dalam menyambut hari kiamat dengan amalan-amalan shalih, inilah yang dituntut!

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 33-34, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Hari Kiamat Hanya Allah yang Mengetahuinya

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Hari kiamat adalah suatu yang pasti terjadi.

Akan tetapi kapan terjadinya, Allah ta'ala (hanya) mengkabarkan kepada kita bahwa sebentar lagi terjadinya, agar kita bisa mempersiapkan diri dengan hari tersebut dan mengimaninya.

Adapun penentuan waktu terjadinya kapan, bagi kita tidaklah mempunyai maslahat, oleh karenanya Allah ta'ala tidak memberitahukannya, bahkan itu merupakan kekhususan dari ilmu Allah.

Allah azza wa jalla tidak memberitahukannya kepada malaikat-Nya yang dekat, tidak pula kepada nabi-Nya yang diutus, tidak seorang pun yang tahu kapan waktu terjadinya hari kiamat kecuali hanya Allah ta'ala saja."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 32, cet. Dar Imam Ahmad 2005)
➖➖

Duniamu Hilang, Jangan Sedih..


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Jika engkau kehilangan sesuatu dari perkara dunia, maka ketahuilah bahwa Allah memang telah mentakdirkan dirimu untuk tidak mendapatinya, oleh karenanya janganlah bersedih."

(Syarah Muqaddimah al Majmu-Syaikh Utsaimin, hal. 85, cet. Dar Ibnil Jauzi 2004).

Rabu, 12 April 2017

Jangan Menyebar Berita yang Meresahkan Kaum Muslimin


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Wajib bagi setiap muslim untuk tidak menyebarkan berita-berita yang membuat resah kaum muslimin.

Jika ada yang mengetahui sesuatu hendaknya dia memastikan dahulu kebenaran beritanya, karena terkadang berita tersebut ternyata dusta (tidak benar).

Jika beritanya benar maka hendaknya dia menyembunyikannya dan tidak menyebarkannya kemana-mana, karena hal tersebut akan membuat kaum muslimin resah. Akan tetapi hendaknya berita tersebut dikabarkan kepada pihak pemerintah agar bisa dikondisikan, adapun dikabarkan ke khalayak manusia yang tidak mempunyai solusi, maka yang seperti ini jangan dikabarkan."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 28-29, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Hikmah Berhijab

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Inilah penjelasan tentang hikmahnya sebuah hijab, bahwasanya hijab akan mencegah pandangan orang terhadap wanita yang memakainya.

Kemudian dengan hijab seorang wanita akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan di sisi manusia.

Seorang wanita berhijab akan mendapatkan nilai dan kedudukan.

Adapun seorang wanita yang suka bersolek dan berdandan maka sesungguhnya wanita tersebut tidak memiliki nilai di sisi manusia dan orang baik, dia akan menjadi incaran orang yang jelek, wal'iyyadzu billah.

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 26, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Godaan Wajah Lebih Besar Dibandingkan Kedua Kaki

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Hijab itu dipakai untuk menutup badan, mulai dari kepala hingga kedua kakinya, dan dari (pengertian) hijab itu pula, kainnya dijulurkan agar wajahnya tertutup sempurna dari (pandangan) kaum lelaki.

Wajah itu adalah tempatnya fitnah (godaan), tempatnya kecantikan dan merupakan pusat perhatian, oleh karena itu bagaimana mungkin, jika kedua kaki saja wajib untuk ditutup dari pandangan orang banyak, lalu apakah wajah tidak ditutup?
Manakah yang lebih besar fitnahnya, kedua kaki ataukah wajah? Tentu wajah yang lebih besar (fitnahnya)!."

(Disadur dari Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 25, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Kehormatan Seorang Mukmin

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang mukmin mempunyai kehormatan (di bawah) setelah kehormatan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh bagi seorang pun untuk menyakitinya, tidak pada darahnya, kehormatannya, hartanya atau segala sesuatu yang bisa menyakitinya.

Bahkan seorang mukmin hendaknya bisa menahan diri terhadap saudaranya mukmin yang lain, dan jangan menyakiti mereka dengan segala gangguan, karena seorang mukmin itu mempunyai kehormatan dan hak atas saudara mukmin yang lainnya..."

(Ta'ammulaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 20, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Diantara Bentuk Melecehkan Rasulullah

Syaikh Shalih Fauzan hafizahullah berkata, "Menyakiti rasulullah bisa berupa:
1. Meremehkannya,
2. Menganggap bahwa beliau tidak menyampaikan risalah,
3. Menganggap bahwa beliau telah kurang dalam menyampaikan risalah,
Atau yang selain dari itu, maka (semua hal di atas) adalah bentuk dari menyakiti rasulullah.

Yang termasuk dari menyakiti rasulullah juga adalah meremehkan sebagian dari istri nabi atau anak-anak wanitanya, karena hal ini termasuk dari bentuk menyakiti nabi.

Demikian juga yang termasuk dari bentuk menyakiti nabi adalah meremehkan para shahabat nabi, karena shahabat rasulullah adalah sebaik-baik dan seutama-utamanya manusia di masa yang terbaik. Merekalah orang-orang yang menyebarkan agama ini dan merekalah yang menyampaikannya setelah wafatnya rasulullah. Para shahabat nabi juga adalah orang-orang yang menjadi perantara antara kita dengan rasulullah. Maka orang-orang yang mencela dan yang meremehkan para shahabat -seperti syiah radidhah- sejatinya telah menyakiti Allah dan rasul-Nya. Nas'alullaha salamah wal afiyah."

(Ta'ammalaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 18, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Minggu, 12 Maret 2017

Janganlah Mencela Waktu

Apapun cuacanya, jagalah lisan dan hati kita, janganlah kita mudah mencela atau mengumpat. Jadilah seorang yang lapang di segala keadaan dan situasi.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits qudsi,

《قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ》
Artinya:
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela ad dahr (zaman/waktu), padahal Aku adalah ad dahr (pengatur waktu), Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

《وأَنَا الدَّهْرُ بيدي الأمر أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَ》
Artinya:
"Dan Aku adalah ad dahr (pengatur waktu) di Tangan-Ku-lah (semua) urusan. Aku-lah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Bukhari)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah memberikan penjelasan tentang hadits di atas, terangnya, "Ad dahr (masa/waktu) tidaklah bisa mengatur karena dia hanyalah sebagai makhluk, barang siapa yang mencela ad dahr, maka dia telah mencela Dzat yang mengatur ad dahr, yaitu Allah ta'ala. Dan perbuatan ini adalah termasuk bentuk menyakiti Allah."

(Ta'ammalaat fi Awakhiri Suratil Ahzab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 17, cet. Dar Imam Ahmad 2005)

Jumat, 10 Maret 2017

Imam Abu Bakr al Qaffal, Abdullah ibn Ahmad al Khurasani rahimahullah


Beliau adalah termasuk dari ulama asy syafi'iyyah.

Imam Adz Dzahabi dalam Siyar Alamun Nubala 17/407 bercerita tentangnya, "Beliau memulai belajar ilmu padahal umurnya sudah 30 tahun. Beliau pun tinggalkan pekerjaannya untuk memfokuskan diri kepada ilmu (pekerjaannya ketika itu adalah tukang kunci).

Di dalam Thabaqat Asy Syafi'iyyah 5/54, Imam Al Qaffal bercerita tentang dirinya sendiri, "Aku memulai belajar ilmu dalam keadaan tidak mengerti antara kalimat 'ikhtashartu' dan 'ikhtasharta' yakni tidak mengetahui lisan arab yang membedakan antara huruf 'ta' yang didhammah dan huruf 'ta' yang difathah."
-selesai-

Masya Allah, seorang imam dahulunya mulai belajar di umur 30 tahun dalam keadaan belum bisa bahasa arab pula! Kita? Ayo semangat!