Minggu, 24 Desember 2017

Menuntut Ilmu Sampai Mati! Serius?


Ibnul Mubarak rahimahullahu pernah ditanya, "Sampai kapan engkau menulis hadits?", maka beliau menjawab, "Sampai aku tidak mendengar lagi sebuah kata yang bisa aku ambil manfaatnya."

Sedangkan Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu berkata lain ketika ditanya, "Sampai kapan engkau menulis dari perawi-perawi itu (untuk mendapat) sebuah hadits?", beliau menjawab, "Sampai mati!".

Dalam ucapannya yang lain, Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullahu berujar, "Aku menuntut ilmu sampai aku dimasukan ke dalam kubur."
(Syarafa Ashabal Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 68).

Subhanallah, jawaban yang menampar bagi seorang yang telah merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan mulai enggan duduk bersama orang alim untuk menimba ilmu. Seorang Ibnul Mubarak dan Imam Ahmad saja yang telah menjadi Imam di masanya, masih saja terus mencari ilmu, maka dimana posisi kita?

Walau tak sebanding -atau bahkan tidak bisa dibandingkan- dengan mereka, akan tetapi minimalnya ucapan Al Khathib al Baghdadi rahimahullahu ini bisa memberikan motivasi tersendiri untuk kita resapi, beliau berkata, "Sesungguhnya ketika engkau kelak bertemu Allah sebagai seorang thalibul ilmi itu lebih baik dibandingkan engkau bertemu Allah sebagai seorang yang meninggalkan dari thalibul ilmi karena telah merasa cukup dan berpaling dari ilmu."
(Al Faqih wal Mutafaqqih-Khathib ak Baghdadi, jil. 2, hal 85).

Tinggal pertanyaan itu saya tujukan kepada diri saya sendiri, "Sampai kapan kita menuntut ilmu?"
Sampai mati..? Serius..?
Allahu mustaan. Semoga Allah mudahkan, amin.

Jadikan Makan dan Minummu Suatu yang Luar Biasa


Makan dan minum adalah suatu kebutuhan yang mutlak, oleh karenanya banyak orang yang menganggap hal ini adalah suatu perkara yang biasa, akan tetapi islam sebagai agama yang mulia tidaklah menganggap demikian, perkara makan dan minum sejatinya bisa menjadi suatu hal yang luar biasa. Ya, luar biasa!

Apa itu?

Ternyata aktifitas makan dan minum kita bisa menjadi suatu ibadah di sisi Allah. Luar biasa bukan!

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ
Artinya:
“Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah, dimana nafkah tersebut engkau tujukan untuk mengharapkan wajah Allah kecuali akan mendapatkan pahala, sampai pun segala yang engkau berikan (suapkan) kepada mulut istrimu.” (HR. Bukhari).

Abu Bakr ash Shiddiq radhiallahu 'anhu berkata,

"عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ أَنَّهُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، حَتَّى فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِيهِ"
(الزهد لوكيع بن الجراح, رقم الحديث: 96)

Artinya:
"Aku takjub dengan seorang mukmin, sesungguhnya dia diganjar (pahala) di setiap sesuatunya (amalan), sampai pun pada suapan (makanan) yang dia angkat ke dalam mulutnya."
(Az Zuhd-Imam Waki ibnul Jarrah, riwayat no. 96).

Oleh karenanya jangan sampai kita lupa ketika mengerjakan rutinitas ini bisa terlewat begitu saja tanpa nilai pahala, akan tetapi iringilah makan dan minum kita dengan niat agar ibadah bisa lancar dan dengan tata cara atau adab-adab yang telah dituntunkan di dalam sunnah rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Wallahu alam. Semoga bermanfaat.

Jangan Takut Menegur Anak


Umar bin Abi Salamah pernah bercerita tentang pengalaman masa kecilnya sewaktu masih diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertutur “Sewaktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku ke sana dan ke sini di atas nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,《يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ》.
فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Artinya:
"Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan menggunakan tangan kananmu dan santaplah makanan yang dekat di hadapanmu.”
Maka terus menerus demikian cara makanku setelah itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas merupakan salah satu pondasi utama seorang muslim dalam melakukan aktifitas makan berjamaah, akan tetapi yang menjadi perhatian kita di kesempatan ini adalah bagaimana suatu pengajaran nubuwah berupa teguran dan nasehat yang ditujukan kepada seorang anak ternyata akan membuahkan suatu pembentukkan karakter sejak dini.

Perhatikanlah hadits di atas, Umar ibn Abi Salamah dalam akhir hadits menyatakan bahwa dengan sebab teguran dan nasehat rasulullah, perilaku makan beliau yang pada awalnya kurang bagus, menjadi suatu kebiasan yang penuh barakah di sepanjang hidupnya.

Di dalam kisah lain, pernah suatu ketika cucu beliau shallallahu alaihi wasallam yang bernama Al Hasan ibnu Ali didapati sedang mengunyah sebuah kurma shadaqah, padahal syariat telah menetapkan bahwa Rasulullah dan keluarganya tidak diperbolehkan untuk memakan harta shadaqah, maka saat itu juga Nabi melarangnya seraya mengatakan,

《كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَاعَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ》

Artinya
"Kikh kikh, buanglah kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak memakan harta shadaqah."
(HR. Muslim)

Sekali lagi, hadits di atas mengajari kita untuk tak segan melarang anak terhadap suatu perbuatan yang tidak patut, akan tetapi tentunya lebih bijak bagi kita untuk menyebutkan pula kepada mereka tentang sebab pelarangan tersebut dari sisi syariat, sehingga mereka akan terbiasa untuk beragama dengan dalil-dalil yang ilmiyah.

Oleh karenanya janganlah pernah bosan untuk menegur dan mengajari seorang anak kepada adab-adab yang mulia, Abul Ahwash rahimahullah seorang tabi'in murid dari shahabat Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu anhu berkata bahwa gurunya (Abdullah ibn Mas'ud) pernah berpesan,

"تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ بِالْعَادَةِ"
 (الزهد لوكيع بن الجراح, الأثر: ٣٢)

Artinya:
"Biasakanlah oleh kalian perkara kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu dengan (adanya) pembiasaan."
(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah, atsar no. 32)

Semoga bermanfaat.

Menaati Kedua Orang Tua di antara Perkara yang Sunnah dan yang Wajib


Hisyam ad Dustuwari pernah berkata bahwa Al Hasan al Bashri pernah ditanya tentang seorang lelaki yang disuruh oleh ibunya untuk berbuka dari puasa sunnahnya, maka beliau menjawab, "Hendaknya lelaki tersebut berbuka dan dia tidak ada kewajiban mengqadhanya, bahkan dia tetap mendapat pahala puasa sekaligus pahala berbakti kepada ibunya.

Tapi jika ibunya berkata, "Janganlah engkau keluar untuk shalat (berjamaah ke masjid)", maka tidak ada ketaatan kepada ibunya terhadap perkara yang wajib ini."

(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwazi, atsar no 61)

Mendahulukan Perintah Ibu


Abu Syihab Musa ibn Nafi rahimahullahu,

"دَخَلْتُ عَلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِمَكَّةَ وَقَدْ أَخَذَهُ صُدَاعٌ شَدِيدٌ ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِمَّنْ عِنْدَهُ : هَلْ لَكَ أَنْ نَأْتِيَكَ بِرَجُلٍ يَرْقِيكَ مِنْ هَذِهِ الشَّقِيقَةِ ؟ قَالَ : لَا حَاجَةَ لِي فِي الرُّقَى."
(حلية الأولياء: رقم الحديث: 5897)

"Aku menemui Said ibn Jubair di Makkah dan beliau terkena sakit kepala yang hebat. Maka seorang lelaki yang berada di sisinya berkata, "Apakah engkau berkenan jika kami datangkan seorang yang dapat meruqiyah sakit kepalamu?"
Beliau menjawab, "Aku tidak membutuhkan ruqiyah."
(Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim Al Ashfahani, riwayat no. 5897).

Di dalam riwayat lain Said ibn Jubair rahimahullahu mengisahkan,

"لُدِغْتُ ، فَأَمَرَتْنِي أُمِّي أَنْ أَسْتَرْقِيَ ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعْصِيَهَا ، فَنَاوَلْتُ الرُّقَا بِيَدِي الَّتِي لَمْ تُلْدَغْ" .
(البر والصلة للمروزي, رقم الحديث: 57)

"Aku disengat (oleh binatang berbisa), ibuku menyuruhku untuk meruqiyahnya, aku pun enggan untuk mendurhakainya, maka aku meruqiyah dengan tanganku yang tidak disengat."
(Al Bir wash Shilah-Imam al Mawardi, riwayat no. 57)

Silahkan Anda qiyaskan pada kehidupan Anda!

Semoga Allah mudahkan kita tuk menjadi anak yang berbakti dan terjauh dari sikap durhaka terhadap kedua orang tua kita, amin.

Jangan Merasa Aman dari Dosa yang Pernah Dilakukan


Abdullah ibnu Mas'ud radhiallahu anhu berkata,

"إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيُشَدَّدُ عَلَيْهِ بِهَا عِنْدَ مَوْتِهِ لِيَكُونَ بِهَا ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ ، فَيُخَفَّفُ بِهَا عَلَيْهِ عِنْدَ مَوْتِهِ لِيَكُونَ بِهَا".
الزهد لوكيع بن الجراح, رقم الحديث: 89

"Sesungguhnya seorang mukmin akan mengamalkan sebuah kejelekkan, maka dia akan merasa sesak dengan dosa itu di saat maut (terasa) mendatanginya.

Dan sesungguhnya seorang yang fajir akan mengamalkan sebuah kebaikan, maka dia akan merasa ringan dengan kebaikan itu di saat maut (terasa) mendatanginya."

(Az Zuhud-Imam Waki ibnul Jarrah, pada atsar ke 89)

Kematianlah yang Mereka Tunggu-Tunggu


Rabi' ibnu Khutsaim rahimahullahu berkata,

"مَا مِنْ غَائِبٍ يَنْتَظِرُهُ الْمُؤْمِنُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ" 
(الزهد لوكيع بن الجراحح: رقم الحديث 86)

"Tidak ada perkara ghaib (belum terjadi) yang ditunggu-tunggu oleh seorang mukmin yang lebih baik dibandingkan kematian".

(Az Zuhud-Imam Waki ibnul Jarrah, pada atsar ke 86)

Tempat Istirahatnya Seorang Mukmin


Masruq rahimahullahu berkata,

"مَا مِنْ بَيْتٍ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ لَحْدٍ ، قَدِ اسْتَرَاحَ مِنْ هُمُومِ الدُّنْيَا ، وَأَمِنَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ" 
(الزهد لوكيع بن الجراح, رقم الحديث: 85)

"Tidaklah ada dari suatu tempat tinggal yang lebih baik bagi seorang mukmin dibandingkan liang lahat, (karena dia di sana) telah istirahat dari kesedihan-kesedihan dunia dan telah aman dari adzab Allah."

(Az Zuhud-Imam Waki ibnul Jarrah, pada atsar ke 85).

Sampai Berjalan pun, Harus Diperhatikan!


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ ، قَالَ : رَآنِي عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَنَا أَمْشِي ، إِلَى جَنْبِ أَبِي فَقَالَ : " لا تَمْشِ إِلَى جَنْبِ أَبِيكَ ، إِنَّمَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَمْشِيَ وَرَاءَهُ " ، قَالَ : فَإِنِّي أَتَوَكُّأُ عَلَى يَدِهِ , قَالَ : " فَهَاهُ " .
(البر والصلة للمروزي رقم الحديث: 23)

Abdurrahman ibn Muhammad ibn Abdil Qari rahimahullah berkata, "Umar ibn Abdil Aziz rahimahullah melihatku berjalan di samping ayahku, lalu beliau berkata, "Janganlah engkau berjalan di samping ayahmu, yang pantas kau ini hanya boleh berjalan di belakangnya!."

Aku pun menerangkan, "Sesungguhnya aku (melakukan hal ini karena) menjadi tumpuan tangan ayahku."

Maka beliau berkata, "Kalau begitu lakukanlah!"

(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwazi, atsar no 23)

Mendidik Anak untuk Menangis karena Dosa-Dosannya


Al Qasim ibn Abdirrahman rahimahullah berkata bahwa Ayahnya, Abdurrahman ibn Abdillah ibn Mas'ud pernah dinasehati oleh Ayahnya,
 
"يَا بُنَيَّ، ابْكِ مِنْ ذِكْرِ خَطِيئَتِكَ"
(الزهد لوكيع بن الجراح)

"Wahai anakku, menangislah karena mengingat dosa-dosamu."

(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah)

Jangan Tinggalkan Kedua Orang Tuamu Jika Mereka Masih Membutuhkanmu


عَنْ هِشَامٍ ، عَنِ الْحَسَنِ فِي الرَّجُلِ يَكُونُ لَهُ وَالِدَانِ أَيَخْرُجُ لِلتِّجَارَةِ ؟
قَالَ: "إِنْ كَانَتْ لَهُ مِنْهَا مَنْدُوحَةٌ فَلا يَخْرُجْ" .
(البر والصلة للمروزي رقم الحديث: 22)

Abu Abdillah Hisyam ibnu Hassan al Azdi rahimahullahu menerangkan bahwa Al Hasan al Bashri suatu ketika pernah ditanya tentang seorang lelaki yang masih memiliki kedua orang tua, apakah dia boleh untuk keluar (kota/negeri) dalam rangka berdagang (kerja atau bisnis)?

Maka beliau menjawab, "Jika lelaki tersebut seorang yang dibutuhkan (oleh kedua orang tuanya) maka janganlah dia pergi (meninggalkan kedua orang tuanya)".

(Al Bir wash Shilah-Imam al Marwazi, atsar no 22)

Sedikit Asal Cukup Itu Lebih Baik Dibanding Banyak Tapi Membinasakan


Abu Darda radhiallahu anhu berkata,

"اعْبُدُوا اللَّهَ كَأَنَّكُمْ تَرَوْنَهُ ، وَعُدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى ، وَاعْلَمُوا أَنَّ قَلِيلا يُغْنِيكُمْ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُلْهِيكُمْ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْبِرَّ لا يَبْلَى ، وَأَنَّ الإِثْمَ لا يُنْسَى" . (الزهد لوكيع بن الجراح)
Artinya:
"Beribadahlah kalian kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan persiapkanlah diri-diri kalian untuk (menghadapi) kematian.

Ketahuilah oleh kalian bahwa yang sedikit tapi bisa mencukupi itu lebih baik dibandingkan banyak tapi membinasakan.

Ketahuilah bahwa kebaikan itu tidak akan tersia-siakan dan sebuah dosa tidak akan dilupakan (akan ada hisabnya)."

(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah)

Tiga Perangai dari Tanda Kebaikan


Muhammad ibn Ka'ab al Quradhi rahimahullah berkata,

"إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا , زَهَّدَهُ فِي الدُّنْيَا ، وَفَقَّهَهُ فِي الدِّينِ ، وَبَصَّرَهُ عُيُوبَهُ ، وَمَنْ أُوتِيهِنَّ أُوتِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ" .
(الزهد لوكيع بن الجراح)
Artinya:
"Jika Allah menghendaki seorang hamba dengan kebaikan, maka:
Allah akan membuat dirinya zuhud kepada dunia, difakihkan terhadap ilmu agama dan diluaskan pandangannya. Barang siapa yang diberikan semua perkara ini, maka dia telah diberi kebaikan di dunia dan di akhirat."

(Az Zuhd-Imam Waki' Ibnul Jarrah)

Mewaspadai Setan


Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Ketahuilah ketika bani adam diciptakan, di dalam dirinya telah ada al hawa dan asy syahwat yang bisa digunakan untuk mengambil sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.

Allah juga telah meletakkan sifat al ghadb (amarah) yang bisa digunakan untuk melindunginya dari perkara yang akan mengganggu.

Manusia juga diberikan al aqlu (akal) layaknya orang yang mengajarinya untuk berbuat adil terhadap perkara yang dibutuhkan dan yang dijauhkan.

Adapun setan, dia diciptakan dalam keadaan sebagai penghasut (provokator) *untuk berlaku berlebih-lebihan* di dalam perkara yang dibutuhkan dan yang dijauhkan.

Maka seorang yang berakal wajib untuk bersikap waspada kepada permusuhan yang telah dipancangkan oleh setan sejak zaman Nabi Adam, dimana setan ini menghabiskan umurnya untuk merusak keadaan bani adam.

Allah taala telah memerintahkan agar mewaspadai setan,

《وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ》

Artinya:
"Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al Baqarah: 168)

(Talbis Iblis-Ibnul Jauzi [tahqiq Syaikh Zaid al Madkhali], hal. 45, cet. Darul Wasitiyyah 2015)

Ketaatan adalah Sumber Kecintaan Allah dan Kecintaan Makhluk


Abu Darda radhiallahu anhu pernah menulis sebuah surat kepada Maslamah ibn Makhlad rahimahullahu yang isinya adalah sebagai berikut:

'Amma ba'du,
Sesungguhnya seorang hamba jika beramal suatu ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan cinta kepadanya. Jika dia telah dicintai Allah maka Allah akan membuat makhluk cinta kepadanya.

Tapi jika orang tersebut bermaksiat kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya. Jika dia telah dimurkai Allah niscaya Allah akan membuat makhluk benci kepadanya."

(Az Zuhd-Imam Ahmad ibn Hanbal, hal. 184, cet. Darul Aqidah 2010)

Menyalami dan Menjabat Tangan Ahlul Bid'ah Bukan Hal yang Remeh di Sisi Salaf

Said ibn Amir rahimahullah berkata,

"مَرِضَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ فَبَكَى فِي مَرَضِهِ بُكَاءً شَدِيدًا ،
فَقِيلَ لَهُ : مَا يُبْكِيكَ أَتَجْزَعُ مِنَ الْمَوْتِ ؟
قَالَ : " لا ، وَلَكِنْ مَرَرْتُ عَلَى قَدَرِيٍّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ، فَأَخَافُ أَنْ يُحَاسِبَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ " 

Artinya:
"Suatu hari Sulaiman at Taimi terjatuh sakit, di dalam sakitnya beliau menangis dengan sangat, maka beliau ditanya, "Mengapa engkau menangis? Apakah engkau takut dengan al maut?". Beliau menjawab, "Tidak, akan tetapi aku pernah melewati seorang qadari (orang yang berpemahanan qadariyah), aku pun menyalaminya, maka aku takut kalau Rabb-ku akan menghisabku karenanya."

Sufyan ats Tsauri rahimahullahu berkata,

"من سمع مبتدع، لم ينفعه الله بما سمع، ومن صفحه فقد نقص الاسلام عروة عروة"

Artinya:
"Barang siapa yang mendengar dari seorang mubtadi (ahlul bid'ah) niscaya Allah tidak akan memberikan manfaat dengan apa yang dia dengar. Barang siapa yang menjabat tangannya, maka sesungguhnya dia telah melemahkan (tali) islam seutas demi seutas.".

(Atsar dinukil dari Talbis Iblis-Ibnul Jauzi [tahqiq Syaikh Zaid al Madkhali], hal. 33-34, cet. Darul Wasitiyyah 2015)

Rabu, 20 Desember 2017

Daurah

Dauroh 3 hari
Cileunyi, Cimahi dan kota Bandung-Jawa Barat
Hari Jum'at - Ahad, 22 - 24 Desember 2017

Selasa, 19 Desember 2017

Bijak dalam Berkomentar di Medsos


Fenomena ber-medsos di dunia maya (media sosial) bagi sebagian orang sepertinya telah menjadi salah suatu bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Walaupun hanya di dunia maya, seorang netizen (pengguna aktif medsos internet) yang baik hendaknya tetap bisa mengaplikasikan adab-adab dalam bergaul dan bermuamalah dengan sesama netizen lainnya, terlebih di dalam suatu komunitas grup.

Jika kita ingin mengupas secara rinci tentang apa saja adab-adab dalam ber-medsos, maka sesungguhnya membutuhkan banyak pembahasan dan kajian, akan tetapi cukuplah ilmu-ilmu yang telah disusun oleh para ulama salaf yang membahas tentang adab-adab islami dalam berinteraksi di dunia nyata bisa menjadi acuan utama di dalam bermuamalah di dunia maya.

Di antara adab mulia yang telah digariskan oleh syariat yang mulia ini adalah sebagaimana yang telah disabdakan oleh nabi shallallahu alaihi wasallam,

《مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت》

Artinya:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas memberikan kepada kita kepada suatu pelajaran penting bahwa seorang yang aktif berselancar di grup-grup medsos hendaknya tetap bertutur kata dan berkomentar dengan cara yang baik, karena tulisan kita sejatinya adalah ucapan kita, oleh karenanya bicaralah seperlunya jika memang dibutuhkan. Ibrahim at Taimi rahimahullah berkata,

"المؤمن إذا أراد أن يتكلم نظر؛ فإن كان كلامه له تكلم، وإن كان عليه أمسك عنه، والفاجر إنما لسانه رسلاً رسلاً"
(الصمت لابن أبي الدنيا: 247).

Artinya:
"Seorang mukmin ketika ingin berbicara hendaknya meninjau: jika ucapannya itu membawa kebaikan untuknya maka dia bicara, jika ucapannya malah membawa kejelekkan untuk dirinya maka dia menahan (tidak bicara). Hanya saja seorang yang fajir itu adalah yang lisannya mudah keluar tanpa perhitungan."
(Ash Shamt- Ibnu Abi Dunia, 7/250)

Netizen yang baik adalah seorang yang tidak banyak bicara sesuatu yang tak ada manfaatnya dan tidak mudah berkomentar atau menimpali suatu postingan. Seorang netizen hendaknya khawatir akan ketergelincirannya, Umar ibnul Khaththab radhiallahu anhu mengingatkan,

"من كثر كلامه كثر سقَطُه، ومن كثر سقَطُه كثرت ذنوبه، ومن كثرت ذنوبه كانت النار أولى به"
[جامع العلوم والحكم: ص161].

Artinya:
"Barang siapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak tergelincir, dan barang siapa yang banyak ketergelincirannya niscaya akan banyak dosanya, dan barang siapa yang banyak dosanya maka neraka itu lebih pantas untuknya."
(Jami'ul Ulum wal Hikam-Ibnu Rajab, hal. 161).

Semoga bermanfaat, terkhusus untuk penulisnya sendiri. Amin.

Pilih Dia karena Agamanya!


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

《تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَافَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ》

Artinya:
"Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama (yang baik), niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)."

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Janganlah engkau melihat kepada kecantikannya saja, jangan pula kepada harta dan derajat kedudukannya di sisi manusia saja, akan tetapi lihatlah kepada agamanya, karena (baiknya) agama akan mengumpulkan seluruh kebaikan.

Selain agamanya, seorang wanita tidaklah dipuji karenanya, kecantikan kadang akan membawa kepada tipu daya, hartanya akan membawa kepada sikap melampaui batas dan tingginya kedudukan akan membawanya kepada sikap sombong terhadap lelaki.

Adapun seorang wanita yang memiliki agama (yang baik), sesungguhnya dia tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. Jika darinya diberikan anugerah berupa keturunan yang shalih maka sesungguhnya itu adalah hasil dari bimbingan dan pendidikan mereka yang di atas kebaikan."

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 12, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).