Minggu, 03 September 2017

Syarah Mudzakirah At Tauhid


Kitab Syarah Mudzakirah At Tauhid adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Sa'id Ruslan hafizhahullah yang ditulis oleh beliau dalam menjelaskan kitab Mudzakarah At Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq al Afifi rahimahullahu ta'ala.

Di dalam kitab ini dipaparkan beberapa pembahasan penting seputar:
1. Tauhid Ar Rububiyah Allah
2. Pembagian tauhid
3. Perbedaan antara nabi dan rasul
4. Butuhnya manusia kepada syariat Allah
5. Pebedaan antara mujizat dan sihir
6. Pentingnya dakwah kepada al haq
7. Perpecahan islam dan kelompok-kelompok sesat

Syarah Mudzakirah At Tauhid-Syaikh Muhammad Said Ruslan, 526 halaman, cet. Darul Furqan al Mishriyyah, tahun 2015.

Sumber channel telegram
TokoKitabAmiHamzah

Tauhid adalah Perkara Penting di Dalam Beragama


Syaikh Abdurrahman ibn Qashim rahimahullah berkata, "Sesungguhnya ilmu tentang tauhid adalah ilmu yang mulia dan agung dan ini sudah menjadi hal yang semestinya.

Bahkan menjadi kewajiban atas setiap individu yang berakal, baik laki-laki maupun wanita untuk bersungguh-sungguh di dalam mempelajarinya dan mengetahuinya agar dia bisa beragama di atas bashirah (keterangan yang jelas)."

(Lihat Syarah Al Aqidah As Safariniyyah-Syaikh Abdurrahman ibn Qasim. Dinukil dari Jami Syuruh Al Aqidah As Safariniyah, hal. 61, cet. Dar Ibnul Jauzi 2008).

Ilmu yang Bermanfaat


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa wujudkan dengan amalan, dan beramal dengan ilmu adalah buah dari ilmu.

Seorang yang bodoh itu lebih baik dari pada seorang yang berilmu jika ilmunya tidak bisa memberikan manfaat dan tidak diamalkan olehnya, karena ilmu adalah senjata, bisa menjadi senjata untuk menghadapi musuhmu atau malah menjadi bumerang bagi dirimu sendiri."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 15, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Hasungan Untuk Menuntut Ilmu


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Menuntut ilmulah kalian karena ilmu akan mengangkat derajat seseorang di dunia dan di akhirat. Ilmu juga merupakan pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat. Allah berfirman,

《يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ 》
Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah: 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

《إِذَا مَاتَ الْعبد انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه》
Artinya:
"Jika seorang hamba meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Lihatlah kepada peninggalan ulama rabbani! selalu ada sampai hari ini, melewati panjangnya bulan dan tahun. Peninggalan mereka nampak, jalan mereka nyata, penyebutan mereka tinggi, kehidupan mereka sukses.

Jika mereka disebut di suatu majelis, manusia pun memberikan doa rahmat dan kebaikan untuk mereka. Jika disebutkan tentang amalan-amalan shalih dan adab-adab mulia maka mereka menjadi teladan bagi manusia."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 14, cet. Maktabatush Shafa 2005).

Islam akan Senantiasa Terang dan Jelas

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Termasuk dari rahmat Allah adalah bahwa kebenaran itu terang keberadaannya (yang bersumber) dari al kitab (Al Quran), as sunnah dan bimbingan salaf.

Tidak ada pada kebenaran itu sesuatu yang rancu atau samar sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu tatkala panjangnya waktu membuat kebenaran itu tersamarkan pada mereka, (hingga) kitab-kitab (suci) simpang-simpangkan (maknanya) dan diubah-ubah (isinya).

Adapun umat ini (umat Islam) akan tetap jelas, al Kitab (Al Quran) dan as sunnah senantiasa terjaga dari penyimpangan (maknanya) dan pengubahan, maka tidak ada udzur bagi seorang pun (untuk meninggalkan kebenaran)."

(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 26, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).

Sabtu, 02 September 2017

Tak Cukup Sekedar Belajar dan Mengajar, tapi Juga Diamalkan


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang insan tidaklah cukup dengan hanya diajari (belajar) dan mengajari, akan tetapi dia harus juga mengamalkan ilmunya. Maka ilmu tanpa amalan hanya akan menjadi hujjah atasnya.

Ilmu tidak bisa bermanfaat kecuali dengan mengamalkannya, adapun seorang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya maka dia seorang yang dimurkai Allah karena dia telah tahu kebenaran tapi malah meninggalkannya di atas bashirah (keterangan yang jelas)."

(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 38, cet. Ibnul Jauzi 2012).

Mengapa Shahabat Nabi Dicerca?


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Orang-orang yang mencerca para shahabat nabi atau yang merendahkannya, (sesungguhnya) tujuan mereka adalah untuk menghancurkan Islam, akan tetapi dengan memakai cara licik, jika para shahabat nabi telah diperbincangkan (negatif) dan telah jatuh kedudukan mereka, maka apa lagi yang tersisa dari orang yang menjadi perantara antara kita dengan rasul shallallahu alaihi wasallam?

Maka tujuan mereka sebenarnya adalah memutus tali sambung pada pendahulu yang pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar hingga (akhirnya dengan itu) umat menjadi sesat.

Jika bukan karena itu, maka apa lagi tujuan mereka mencela shahabat nabi?"

(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 22, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).

Keharusan Meminta Kekokohan


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Seorang insan (hendaknya) meminta kepada Allah kekokohan walau dia telah mengetahui kebenaran, mengamalkan dan meyakininya. Maka janganlah merasa aman dari penyimpangan dan ujian karena (bisa jadi) akan datang suatu ujian yang menghepaskan dan meyesatkan (seseorang) dari jalan Allah."

(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 15, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).

Apa hukum pengobatan dengan musik?


Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu Fatawa-nya (21/176) menjawab, "Mengobati dengan musik tidak ada asalnya bahkan itu adalah perbuatan orang-orang dungu. Musik bukanlah obat, akan tetapi merupakan penyakit. Musik merupakan alat yang membuat lalai dan semuanya membuat hati menjadi sakit serta yang membuat menyimpangnya akhlak.

Obat yang bermanfaat dan yang bisa membuat hati lapang bagi jiwa si pasien hanyalah dengan cara mendengarkan Al Qur'an, mendengarkan ceramah-ceramah nasehat yang bermanfaat dan hadits-hadits.

Adapun pengobatan dengan musik dan selainnya dari alat-alat musik yang ditabuh maka semua itu teranggap kebatilan dan akan semakin menambah sakit. Juga akan menjadikan mereka terasa berat untuk mendengarkan Al Qur'an dan As Sunnah serta nasehat-nasehat yang bermanfaat, laa haula wa laa quwwata illa billah."

(Dinukil dari Al Ilaj war Ruqa-Syaikh Ibnu Baz, hal. 99-100, cet. Daru Sabilil Muminin 2013).

Apa hukum membaca Al Qur'an ke dalam air (dengan tujuan pengobatan)?


Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Tidak semestinya dilakukan walaupun ada sebagian ulama yang membolehkan, tapi hal ini tidak ada dalil yang mendasarinya. Rasul shallahu alaihi wasallam tidaklah melakukannya dan para shahabatnya pun tidak melakukannya -barakallahufiikum-.

Mereka yang membolehkan untuk menulis pada suatu benda dan mandi serta hal yang semisal dari perkara ini, tidaklah ada dalil-dalil di sisinya.

Mereka telah mengerti kita, bahwasanya kita tidak menerima suatu permasalahan kecuali berdasar dalil. Semua bisa diambil dan ditolak ucapannya kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

(Dinukil dari As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqa-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 47, cet. Darul Imam Ahmad 2011)

Apakah boleh berbincang-bincang dengan jin yang muslim (ketika meruqiyah)?

Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Tidak boleh! Bagaimana engkau tahu dia itu muslim? Kadang seorang munafik berkata: Saya seorang muslim. Kadang juga seorang kafir mengatakan: Saya seorang muslim. Adapun jin, engkau tidak mengetahuinya dan engkau tentu tidak mengetahui hal yang gaib, ini tidak boleh -barakallahufiik-"

(Dinukil dari As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqa-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 38, cet. Darul Imam Ahmad 2011)

Rabu, 30 Agustus 2017

Islam itu Mengikuti Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Setiap orang yang mengikuti seorang rasul dari kalangan para rasul maka dia adalah seorang yang telah pasrah diri dengan mengikuti dan mengesakan Allah, ini pengertian Islam secara umum, yaitu agamanya seluruh para rasul. Maka Islam maknanya adalah memasrahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkannya dan tunduk dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang yang melakukan kesyirikan.

Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah Islam yang dibawa oleh seorang yang diutus oleh Allah sebagai nabinya, Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka Islam tebatas hanya mengikuti rasul. Tidak ada agama yang benar kecuali agamanya alaihi shalatu wasallam.

Maka tidak mungkin seorang Yahudi akan berkata, "Saya seorang muslim." Atau seorang Nashrani berkata, "Saya seorang muslim," setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan dia tidak mau mengikuti nabi..."

(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 37, cet. Ibnul Jauzi 2012).

Kamis, 17 Agustus 2017

Inilah yang Namanya Belajar


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar, sedangkan belajar itu mesti membutuhkan kepada suatu fokus perhatian, kesungguhan dan waktu. Juga membutuhkan juga kepada suatu pemahaman dan konsentrasi hati. Inilah yang namanya belajar."

(Syarah Tsalatsatil Ushul-Syaikh Shalih Fauzan. Dinukil dari Jami Syuruh ats Tsalatsatil Ushul, hal. 33, cet. Ibnul Jauzi 2012).

Apakah suatu pengalaman bisa dijadikan Dasar?

Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Pengalaman itu (teranggap jika) di dalam hal pengobatan, bukan pada perkara ruqiyah.

Pengobatan memang didasari dari berbagai macam pengalaman, adapun di dalam hal meruqiyah, seorang muslim hendaknya hanya mencukupkan diri pada batas syariat saja. Adapun pengalaman-pengalaman adalah segala hal yang engkau temui pada awalnya, maka dari mana pikiran ini ada padamu?!

(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 37, cet. Darul Imam Ahmad 2011)
A

Batilnya Puasa Tanpa Diiringi Shalat


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Shalat, apa itu shalat?. Shalat adalah suatu ibadah mulia yang di hari-hari ini kebanyakan manusia meremehkannya. Firman Allah ta'ala,

《فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا》
Artinya:
"Maka datanglah pengganti (yang jelek) sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat dan yang mengikuti syahwatnya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (Maryam: 59).

Sesungguhnya (sikap meremehkan shalat) telah membuat heran, dimana sebagian orang sangat bersemangat untuk berpuasa akan tetapi tidak ada semangat untuk menunaikan shalat, sampai ada yang memberitahuku bahwa sebagian orang ada yang berpuasa tapi tidak shalat.

Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah bahwa siapa yang berpuasa tapi tidak shalat, maka puasanya batil dan tidak diterima sebagai amal shalih, berdasar dalil-dalil dari Al Quran, As Sunnah, nukilan-nukilan para shahabat.

Hasil penelitian dari dalil-dalil yang shahih, menunjukkan bahwa siapa yang meninggalkan shalat maka dia menjadi kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama (murtad). Jika keadaannya sudah seperti ini, maka tidak bermanfaat lagi puasanya, shadaqahnya, hajinya dan seluruh amalnya, karena Allah berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Artinya:
"Kami perlihatkan segala amal yang mereka (orang kafir) telah kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagai) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23).

(Al Halal wal Haram, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 40)

Bolehkah Orang yang Tidak Baik dalam Membaca Al Quran itu Meruqiyah?

Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullah menjawab, "Orang tersebut boleh meruqiyah jika keadaannya memang dibutuhkan. Akan tetapi dirinya harus belajar, nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Seorang yang mahir dalam membaca Al Quran maka dia bersama safaratul kiramil bararah (malaikat yang mulia), sedangkan orang yang membaca Al Quran dengan terbata-bata dan kesusahan, maka dia mendapat dua pahala." (HR. Bukhari dan Muslim).

Yakni, dia mendapat pahala -walaupun terbata-bata dalam membacanya-, dan jika memang dia tidak mampu membaca Al Quran dengan baik, hendaknya bacalah dengan sebaik-baik bacaan yang dia mampu."

(As'ilah Muhimmah Haula Ar Ruqiyah war Ruqah-Syaikh Rabi al Madkhali, hal. 36, cet. Darul Imam Ahmad 2011)

Akibat Tidak Tahu Apa Itu Syirik


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Orang-orang musyrikin bertaqarrub kepada Allah dengan sangkaan bahwa mereka tengah berada di atas kebaikan karena mereka tidak mengetahui apa itu syirik, maka jadilah mereka itu bertaqarrub kepada Allah dengan kesyirikan!."

(Disadur dari Syarh Sittati Mawadi minas Sirah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Silsilatu Syarhir Rasail, hal. 55, cet. Darul Atsariyah 2008).

Kehidupan adalah Ketika Engkau Bisa Beribadah kepada Allah


Kehidupan itu adalah tatkala kita bisa menggunakan waktu dengan melaksanakan suatu tujuan yang Allah telah ciptakan kita (yaitu beribadah), juga kita manfaatkan dengan baik waktu yang ada dengan senantiasa melakukan ketaatan.

Abu Darda radhiallahu anhu berkata, "Kalau saja tidak ada tiga perkara, niscaya aku tidak akan menyukai hidup di dunia ini." Ditanyakan oleh seseorang, "Apa ketiga perkara itu?" Beliau menjawab, "(1) Jika aku tidak meletakkan wajahku ini untuk sujud kepada penciptaku di pergantian siang dan malam, (2) kehausan di hari yang panas (puasa) dan (3) bergaul orang banyak dengan memilih ucapan (baik) sebagaimana memilih buah-buahan."

Maka kehidupan yang hakiki adalah ketika seorang mengisi kenikmatan hidupnya dengan ketaatan, jika demikian maka hamba tersebut telah berbekal di dunia untuk memetik hasilnya di akhirat. Allah ta'ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ
Artinya:
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (Al Baqarah 197).

Abu Hazim Salamah ibn Dinar rahimahullah berkata, "Setiap kenikmatan yang tidak bisa untuk mendekatkan kepada Allah, maka itu adalah petaka."

(Al Hayah-Muhammad Ibrahim al Utsman, hal. 11-12, cet. Darul Furqan 2012).

Slogan Sesat yang Menyatakan Tidak Perlu Mempelajari Kebatilan

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Sudah seharusnya kita mengetahui perkara kebaikan dan perkara kejelekan. Hari-hari ini sebagian orang berkata: ketahuilah olehmu jalan kebenaran dan bukanlah menjadi suatu yang penting untuk engkau mengetahui lawannya (perkara kejelekkan).

Ini adalah ucapan batil, karena jika engkau tidak mengetahui perkara yang batil maka engkau akan terus menerus tersamar (dari kebatilan) dan akhirnya engkau pun tersesat dari jalan kebenaran. Terlebih lagi dengan adanya para dai sesat yang terus menerus menyesatkan umat!"

(Disadur dari Syarh Sittati Mawadi minas Sirah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Silsilatu Syarhir Rasail, hal. 55, cet. Darul Atsariyah 2008).

Selasa, 27 Juni 2017

Amalan Shalihmu adalah Kehidupanmu


Kehidupan adalah dengan berpegang teguh kepada islam dan menaati Allah, adapun menyia-nyiakan perintah Allah dan syariat-Nya maka itu adalah kebinasaan. Allah taala berfirman,
《وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ 》
Artinya:
"َDan berinfaklah (dengan harta) kalian di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan". (Al Baqarah: 195).

Sebab turunnya ayat ini adalah ketika sebagian kaum Anshar melihat Allah telah memuliakan nabi-Nya dan telah banyak orang-orang yang menolongnya, mereka berkata: "Sesungguhnya harta-harta kami telah terlalaikan, kalau saja kita kembali mengurus harta-harta kita, niscaya kita akan menjadi lebih baik dan tidak akan terlantar", maka turunlah ayat ini."

Hudzaifah radhiallahuanhu berkata, "Turun dengan an nafaqah yakni ketika meninggalkan nafaqah di dalam jalan Allah."

Maka terus-menerus menggunakan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah adalah kebinasaan, wal iyyadzubillah.

Abu Ishaq as Sabi'i rahimahullah berkata, "Aku mendengar seorang lelaki bertanya kepada Al Barra radhallahuanhu, "Wahai Abu Ummarah, bagaimana penjelasanmu tentang ayat Allah
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَة
Apakah maknanya ada seseorang yang maju menerobos berperang hingga dia meninggal"? Al Barra menjawab, "Bukan, akan tetapi seseorang yang bermaksiat terhadap dirinya dan tidak bertaubat."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Jihad termasuk amalan termulia yang bisa menghidupkan mereka di dunia, di alam barzakh dan di akhirat.."

(Al Hayah-Muhammad Ibrahim al Utsman, hal. 10, cet. Darul Furqan 2012).