Selasa, 27 Juni 2017

Amalan Shalihmu adalah Kehidupanmu


Kehidupan adalah dengan berpegang teguh kepada islam dan menaati Allah, adapun menyia-nyiakan perintah Allah dan syariat-Nya maka itu adalah kebinasaan. Allah taala berfirman,
《وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ 》
Artinya:
"َDan berinfaklah (dengan harta) kalian di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan". (Al Baqarah: 195).

Sebab turunnya ayat ini adalah ketika sebagian kaum Anshar melihat Allah telah memuliakan nabi-Nya dan telah banyak orang-orang yang menolongnya, mereka berkata: "Sesungguhnya harta-harta kami telah terlalaikan, kalau saja kita kembali mengurus harta-harta kita, niscaya kita akan menjadi lebih baik dan tidak akan terlantar", maka turunlah ayat ini."

Hudzaifah radhiallahuanhu berkata, "Turun dengan an nafaqah yakni ketika meninggalkan nafaqah di dalam jalan Allah."

Maka terus-menerus menggunakan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah adalah kebinasaan, wal iyyadzubillah.

Abu Ishaq as Sabi'i rahimahullah berkata, "Aku mendengar seorang lelaki bertanya kepada Al Barra radhallahuanhu, "Wahai Abu Ummarah, bagaimana penjelasanmu tentang ayat Allah
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَة
Apakah maknanya ada seseorang yang maju menerobos berperang hingga dia meninggal"? Al Barra menjawab, "Bukan, akan tetapi seseorang yang bermaksiat terhadap dirinya dan tidak bertaubat."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Jihad termasuk amalan termulia yang bisa menghidupkan mereka di dunia, di alam barzakh dan di akhirat.."

(Al Hayah-Muhammad Ibrahim al Utsman, hal. 10, cet. Darul Furqan 2012).

Husnuzhan (Berprasangka Baik) terhadap Ulama


Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah berkata, "Di antara haknya ulama adalah:
Berprasangka baik terhadap mereka, karena hak seorang muslim kepada muslim yang lainnya haruslah berprasangka yang baik. Jika ucapan seorang muslim saja harus dibawa kepada kemungkinan yang baik, maka terlebih-lebih lagi bagi seorang yang berilmu, hendaknya ucapan dan perbuatan mereka mesti dibawa kepada prasangkaan yang terbaik.

Diriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu anhu, bahwasanya beliau berkata, "Janganlah engkau berprasangka terhadap suatu kalimat yang keluar dari lisan seorang muslim kecuali engkau bawa kalimat itu kepada arah yang baik."

Diriwayatkan pula dari Muhammad ibn Sirrin rahimahullah, beliau berkata, "Jika sampai kepadamu sesuatu (yang tidak mengenakkan) dari saudaramu (semuslim), maka berikanlah dia udzur. Jika engkau tidak mendapati udzur bagi dirinya, maka hendaknya engkau mengatakan: dia mempunyai udzur."

Disebutkan dari Ja'far ibn Muhammad, beliau berkata, "Jika sampai kepadamu sesuatu dari saudaramu yang engkau ingkari (engkau dibicarakan dengan sesuatu yang tidak benar), maka datangkanlah udzur bagi saudaramu sampai tujuh puluh udzur. Jika memang kemungkinan ada udzur maka terimalah, tapi jika tidak didapati kemungkinannya, maka hendaknya engkau mengatakan: Semoga dia punya ada udzur yang aku tidak tahu."

(Haqqul Ulama-Syaikh Muhammad Bazmul, dinukil dari Fii Qalbil Hadats, hal. 37, cet. Darul Istiqamah 2008).

Seorang Insan Harus Tahu tentang Kebatilan Agar


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Ketika engkau berjalan di suatu jalan dan tidak mengetahui mana yang lubang-lubang dan mana titik-titik lokasi yang berbahaya, bisa jadi engkau akan celaka dalam keadaan tidak tahu, engkau juga bisa terjatuh ke dalam lubang dalam keadaan tidak sadar.

Akan tetapi jika engkau mempelajari dahulu jalan tersebut mengetahui di mana saja yang terdapat titik-titik berbahaya, maka sesungguhnya engkau telah berjalan di atas kejelasan, dan akan terhindar dari titik-titik yang membahayakan di jalan.

Ini di dalam perkara dunia, demikian juga di dalam perkara aqidah, ini tentu lebih utama!

Sudah semestinya engkau harus mengetahui mana perkara yang batil dan mengetahui mana perkara kesyirikan, mulai dari macam-macamnya, sebab-sebabnya dan apa saja perkara-perkara yang bisa menghantarkan kepada kesyirikan hingga engkau bisa menjauhinya."

(Disadur dari Syarh Sittati Mawadi minas Sirah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Silsilatu Syarhir Rasail, hal. 54, cet. Darul Atsariyah 2008).

Orang yang Mati Kelaparan di Mata Syariat


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Binatang melata manapun yang berada di bumi telah Allah jamin rezekinya.

Tapi jika ada seorang yang mengatakan: Bukankah kita mendapati ada manusia-manusia atau hewan-hewan yang meninggal karena kelaparan?

Maka kita jawab: Ya benar, akan tetapi hal ini merupakan hukuman dan cobaan dari Allah yang menguji seorang hamba agar menjadi kafarah (penghapus dosa) bagi orang yang meninggal jika dia seorang muslim, dan akan menjadi sebuah ibrah (pelajaran) dan nasehat bagi yang lainnya."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 89, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Tujuan Mempelajari Sirah Nabi


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Janganlah kita dalam mempelajari sirah nabi, hanya bertujuan sekedar selesai membaca dari awal sampai akhir saja, lalu kita mengucapkan: kita telah selesai membaca sirah.

Bukan!

Sudah menjadi suatu keharusan dalam kita mempelajari sirah adalah untuk mentauladani rasul di dalam perbuatan-perbuatannya dan ucapan-ucapannya.

Inilah tujuan kita mempelajari sirah."

(Disadur dari Syarh Sittati Mawadi minas Sirah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Silsilatu Syarhir Rasail, hal. 52, cet. Darul Atsariyah 2008).

Abdullah ibn Abi Thalhah Zaid ibn Sahl al Anshari rahimahullah


Beliau adalah saudaranya shahabat nabi Anas ibn Malik radhiallahu 'anhu dari jalur sang ibu, Ummu Sulaim radhiallahu 'anha

Abdullah lahir di masa Rasulullah masih hidup, ingatkah kisah kematian putranya Abu Thalhah yang disembunyikan oleh Ummu Sulaim, yang kemudian Ummu Sulaim memberitahukan kematian putranya dengan cara yang bijak dan indah? Ketika berita itu sampai kepada rasulullah, maka rasulullah mendoakan keberkahan pada mereka berdua di malam itu.

Dengan taqdir Allah kemudian keberkahan doa rasulullah, Ummu Sulaim pun hamil dan melahirkan seorang putra yang kemudian ditahnik langsung oleh air liur yang penuh barakah milik rasulullah. Dialah Abdullah ibn Abi Thalhah.

Ada yang mengatakan bahwa Abdullah ibn Abi Thalhah adalah Abu Umair yang dihibur oleh rasulullah ketika burung kecilnya An Nughair mati.

Abdullah ibn Abi Thalhah tumbuh di lingkungan yang penuh dengan keberkahan dan keshalihan, beliau menimba ilmu dari ayahnya dan dari saudaranya, Anas ibn Malik. Walaupun hadits yang diriwayatkan oleh beliau tidaklah banyak, akan tetapi doa keberkahan dari rasulullah yang dahulu dipanjatkan kepada ayahnya ternyata dapat dirasakan tatkala Abdullah telah berkeluarga dan mempunyai sepuluh putra.

Kesepuluh putranya menjadi bagian dari pilar-pilar Islam di dalam ilmu hadits. Di antara putra-putranya adalah Ishaq ibn Abdillah ibn Abi Thalhah, beliau adalah salah satu guru dari guru-gurunya Imam Malik ibn Anas.

Keberkahan doa rasulullah senantiasa meliputi Abdullah ibn Abi Thalhah hingga akhir hayatnya. Beliau wafat mendahului saudaranya, Anas ibn Malik.

(Disadur dari kitab Siyar Alamun Nubala karya Imam Adz Dzahabi pada biografi beliau).

Semakin Berilmu Seharusnya Menjadi Semakin Takut


Fudhail ibn Iyadh berkata bahwa Ibnul Mubarak berpesan kepadaku, "Yang paling banyak ilmunya di antara kalian hendaknya menjadi yang paling takut (kepada Allah)."

(Atsar shahih. Dinukil dari Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlih-Ibnu Abdilbar, dari Mukhtashar-nya hal. 178, cet. Darul Khair Beirut 1996).

Memuji atau Mencela Harus Sesuai Kenyataan


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Jika engkau berbicara tentang pribadi seseorang maka engkau harus adil.

Jangan memujinya dengan sesuatu yang tidak ada pada orang tersebut dan jangan pula mencelanya dengan sesuatu yang tidak ada pada orang tersebut.

Katakanlah dengan apa yang ada pada sifat orang tersebut, jangan memuji dengan apa yang tidak pantas untuknya dan jangan pula mencela dia dengan sesuatu yang tidak layak pada dirinya.

Jika engkau tidak tahu tentang seseorang maka katakanlah: aku tidak tahu atau aku tidak mengenalnya.

Janganlah engkau masukan dirimu kepada perkara yang engkau tidak tahu."

(Silahkan lihat Ianatul Mustafid-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 38, cet. Muassasatur Risalatin Nasyirun 2013).

Semut pun Diberi Rezeki


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Semua binatang melata yang berada di bumi, rezekinya telah dijamin oleh Allah untuk dicukupi.

Oleh karenanya engkau akan dapati bahwa serangga-serangga, Allah jadikan mereka berjalan mendatangi rezeki atau Allah jadikan rezeki itu datang kepada mereka.

Terkadang jika terdapat makanan yang jaraknya jauh dari lubang semut maka Allah berikan petunjuk kepada semut untuk mendatangi makanan itu, karena Allah berikan kepada mereka indera penciuman yang tajam hingga bisa menuju ke tempat makanan yang jauh kemudian memakannya."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 89, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Keselarasan antara Ucapan dan Perbuatan

Imran ibn Abi Ja'ad berkata bahwa shahabat nabi Abdullah ibnu Mas'ud radhiallahu anhu pernah berkata, "Sesungguhnya seluruh manusia memperindah ucapannya (dalam nasehat dan wejangan), barang siapa yang perbuatannya mencocoki ucapannya maka dia telah mendapat keberuntungan, dan barang siapa yang ucapannya menyelisihi perbuatannya maka sesungguhnya dia telah menjelekkan dirinya sendiri."

(Atsar hasan di Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlih-Ibnu Abdilbar, dinukil dari Mukhtashar-nya hal. 173, cet. Darul Khair Beirut)

Senin, 05 Juni 2017

Tidak Sekedar Tahu Lalu Diam, Tapi Juga Harus Mendakwahkan


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Sesungguhnya pengikut rasul shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang tersifati dengan dua sifat: berilmu tentang akidah (yang lurus) dan mendakwahkannya.

Barang siapa yang tidak:
1. Mengajarkan hukum-hukum akidah
2. Tidak mementingkan akidah
3. Tidak mendakwahkan kepada akidah

Maka dia bukanlah pengikut rasul secara hakiki walapun dia telah mengklaim dirinya sebagai pengikut rasul berdasar akuannya.

(Disadur dari Al Irsyad ila Shahihil Itiqad-Syaikh Shalih Fauzan hal. 19, cet. Dar Ash Shahabah 2006).

Dakwah kepada Aqidah yang Benar adalah yang Pertama dan Utama


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata, "Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika menetap di Mekah selama 13 tahun pasca diutusnya beliau, beliau mendakwahi manusia kepada kelurusan aqidah untuk beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan peribadahan kepada berhala.

Hal ini dilakukan sebelum beliau memerintahkan kepada manusia untuk shalat, zakat, puasa, haji, jihad dan meninggalkan keharaman-keharaman semisal riba, zina, minum minuman keras dan berjudi.

Ini menunjukkan kepada kita akan jelasnya dalil kesalahan sebagian jamaah-jamaah dakwah di masa kini yang berkecimpung di dalam dakwah, yaitu tidak mementingkan perkara aqidah dan hanya memusatkan dakwahnya pada perkara-perkara seputar akhlak dan muamalah."

(Al Irsyad ila Shahihil Itiqad-Syaikh Shalih Fauzan hal. 17, cet. Dar Ash Shahabah 2006).

Ilmu dan Iman Lebih Mulia Dibanding Kebutuhan Dunia


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Rezeki itu maknanya pemberian, dan pemberian terbagi menjadi dua bagian:

1. Pemberian yang bisa menegakkan badan
2. Pemberian yang bisa menghidupkan ruh.

Bagian yang pertama contohnya makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan yang semisalnya.

Adapun bagian yang kedua contohnya seperti ilmu dan iman. Dan yang jenis kedua ini lebih mulia dari yang pertama.

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 79, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Ketika Fakir Menjadi Lebih Utama karena Ada Kesabaran


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sesungguhnya seorang insan ketika dirinya tertimpa kefakiran, dan dia pun bersabar serta berharap pahala, maka ini lebih baik ketimbang dirinya menjadi orang kaya raya yang sombong dan lalai."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 78, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Terkadang ujian berupa kenikmatan itu lebih berbahaya dibandingkan ujian berupa kesusahan, mengapa?


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, "Karena kenikmatan itu akan membuatmu menjadi angkuh dan sombong, dan sedikit sekali orang yang bisa menunaikan hak dari nikmat tersebut sampai-sampai nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kefakiran yang kalian dikhawatirkan? Sesungguhnya yang aku khawatirkan menimpa kalian hanyalah dunia, hingga kalian pun berlomba-lomba (meraih dunia) sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba, sampai akhirnya kalian pun binasa sebagaiman mereka binasa." (HR. Bukhari dan Muslim).

Telah benar Rasulullah shallahu alaihi wasallam."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 78, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Sabtu, 03 Juni 2017

Sedikit Curhatan dari Tulisan 'Warisan


Luar biasa..
Itulah yang bisa saya dikatakan, ketika mengetahui ada seorang yang baru lulus sekolah menengah atas menulis suatu tulisan yang 'wah'. Bagaimana tidak wah, tulisan yang mengupas seputar 'warisan' ini sebenarnya terlalu mengagetkan ketika muncul dari seorang yang masih berumur belasan.

Pesan inti di dalam tulisan seorang siswi di salah satu kota Jawa Timur ini kurang lebih mengajak kepada pembacanya untuk memaklumi setiap keberadaan agama dan kepercayaan yang ada, sehingga diharapkan vonis sesat terhadap agama lain atau semat kafir kepada pemeluk non muslim pun menjadi tak logis lagi, karena -katanya- seorang beragama itu sejatinya adalah warisan dari orang tua dan lingkungannya, dan mereka sebagai manusia tentunya tidak bisa memilih atau memaksa keaadaan tersebut.

Tulisan yang beberapa minggu lalu menjadi viral ini juga menggiring pembacanya untuk memupus sikap 'egois' di dalam mengklaim kebenaran, karena kebenaran itu tidak hanya dimiliki oleh satu agama tertentu saja, kebenaran itu bersifat nisbi dan masing-masing pemeluk agama tentunya akan mengaku bahwa agamanyalah yang benar, oleh karenanya mentolelir agama atau kepercayaan orang lain adalah suatu keharusan.

Ala kulli hal, saya pun tidak akan berpanjang ria tuk membantah doktrin pluralis di atas, karena sebelum saya, telah ada orang-orang yang mengkritisi tulisan siswi 'super' ini. Yang pasti, kaum liberalis telah berhasil menghasilkan salah satu produk fresh-nya. Setidaknya saya juga hanya bisa memberikan info kepada teman-teman semanhaj bahwa pemahaman liberalisme ternyata tak hanya sukses menghasilkan di kampus-kampus islam, tapi sekarang ternyata sudah sukses pula menghasilkan di ranah sekolahan umum. Laa haula wala quwwata illa billah..

Mari kita bentengi putra-putri dan anak-anak didik kita dari pemahaman liberal dengan cara terus menanamkan ilmu dan amal yang benar berdasarkan kepada Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat nabi yang dibimbing oleh para ulama rabbani. Wallahu alam.

Senin, 15 Mei 2017

Apakah hikmah ditafsirkan dengan syukur


Apakah hikmah ditafsirkan dengan syukur sebagaimana yang terdapat pada surat Luqman,

《وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ》
Artinya:
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, Bersyukurlah kepada Allah. (Luqman: 12) ?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjawab, "Tidak, firman Allah ta'ala "bersyukurlah kepada-Ku" maknanya adalah beramal dengan amalan yang shalih, dan amalan shalih adalah (bentuk) hikmah yang nyata karena barang siapa yang tidak beribadah kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh berdasarkan ayat Allah,

《وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ 》
Artinya:
"َBarang siapa yang membenci agama Ibrahim, tidaklah orang tersebut melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri" (Al Baqarah: 130).

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 73, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Mengambil Pelajaran dari Hujan


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Lihatlah kepada hujan, hujan yang membasahi bumi tersebut datang dari arah atas dan turun secara mengucur teratur, tidak diragukan lagi bahwa hal ini mempunyai hikmah.

Jika seandainya hujan datang dari arah samping maka keberadaan tingginya gunung tidaklah berguna.

Kalau seandainya turunnya hujan dengan satu guyuran seperti mengalirnya siraman air pada tempat minum, niscaya bangunan akan hancur dan manusia akan terkena mudharat (kerugian).

Akan tetapi hujan datang dengan kucuran teratur dari atas agar jatuhnya bisa menyeluruh ke permukaan bumi tanpa ada mudharat."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 66-67, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Mengambil Pelajaran dari Hujan


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Lihatlah kepada hujan, hujan yang membasahi bumi tersebut datang dari arah atas dan turun secara mengucur teratur, tidak diragukan lagi bahwa hal ini mempunyai hikmah.

Jika seandainya hujan datang dari arah samping maka keberadaan tingginya gunung tidaklah berguna.

Kalau seandainya turunnya hujan dengan satu guyuran seperti mengalirnya siraman air pada tempat minum, niscaya bangunan akan hancur dan manusia akan terkena mudharat (kerugian).

Akan tetapi hujan datang dengan kucuran teratur dari atas agar jatuhnya bisa menyeluruh ke permukaan bumi tanpa ada mudharat."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 66-67, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Jangan Curang ketika Berdagang


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Seorang insan tidak boleh untuk mengurang-urangi suatu barang yang akan dijualnya dengan mengaku-aku penuh padahal barang itu (dicampur) dengan yang jelek atau memang (timbangannya) dikurangi.

Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang khianat ketika mereka menjual barang yang nampak penuh (sesuai timbangan) padahal sudah dikurangi, atau dia menjual suatu barang yang terlihat bagus tapi hanya di permukaannya saja, sedangkan dibawahnya diletakan barang yang cacat atau rusak. Ini termasuk dari penipuan juga."

(Silahkan lihat Ianatul Mustafid-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 37, cet. Muassasatur Risalatin Nasyirun 2013).