Sabtu, 30 Oktober 2021

Sedekah akan Mengembangkan Harta

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


"إنَّ العبدَ إذا تصدَّق من طَيِّبٍ تقبلها الله منه، وأخذها بيمينه فربّاها، كما يربِّي أحدكم مُهره أو فصيلَه، وإنَّ الرجلَ ليتصدقُ باللقمةِ، فتربو فى يد الله -أو قال: في كفِّ الله- حتى تكون مثل الجبل، فتصدقوا".

رواه ابن خزيمة


Sesungguhnya seorang hamba jika ia bersedekah dari harta yang baik maka Allah akan menerima sedekah tersebut darinya dan mengambil sedekah itu dengan tangan kananNya kemudian akan dikembangkan sebagaimana salah seorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau membesarkan anak untanya.


Dan sesungguhnya ada seorang lelaki yang ia bersedekah dengan satu suapan, maka ia berkembang di tangan Allah -atau berkata- di telapak tangan Allah, hingga menjadi seperi gunung, maka bersedekahlah kalian"!


(HR. Ibnu Khuzaimah dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu. Hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam Shahih at Targhib wat Tarhib)


Jangan Takut, Semua atas Kehendak Allah!

 

Asy Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullahu berkata,


‏ما في الأرض من الأشرار من بني آدم ومن الشياطين ومن الجنّ ومن الإنس ومن الحيّات والسباع ومن سائر الأشياء الضّارة، كلها بيد اللّٰه سبحانه وتعالىٰ؛ إن شاء سلّطها عليك وإن شاء أمسكها عنك، فلا تخف من غير اللّٰه عزَّ وجل 

•{ إعانة المستفيد بشرح كتاب التّوحيد للعلّامة صالح الفوزان (1/ 183) }•


Segala yang di bumi (terjadi) perkara-perkara jelek dari bani adam, setan-setan, jin, manusia, tetumbuhan, binatang buas dan seluruh perkara yang membahayakan, semuanya berada di tangan Allah subahanahu wa ta'ala. Jika Allah menghendaki maka perkara jelek tersebut menimpamu, jika Allah menghendaki maka perkara jelek tersebut akan tertahan darimu, oleh karenanya janganlah engkau takut dari selain Allah azza wa jalla".


(I'anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Fauzan, 1/183)


Efek Kebaikan dan Kejelekkan

 

Shahabat Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiallahuanhuma berkata,


إنَّ للحسنة نورًا في القلب, وزينًا في الوجه, وقوَّةً في البدن, وسعةً في الرِّزق, ومحبَّةً في قلوب الخلق

وإنَّ للسَّيِّئة ظلمةً في القلب, وشينًا في الوجه، ووهنًا في البدن, ونقصًا في الرِّزق, وبغضةً في قلوب الخلق

(روضة المحبِّين 441)


Sesungguhnya pada kebaikan terdapat cahaya pada kalbu, keindahan pada wajah, kekuatan pada badan, keluasan pada rezeki dan kecintaan pada hati-hati manusia. 


Dan sesungguhnya pada kejelekkan terdapat kegelapan pada kalbu, keburukan pada wajah, kelemahan pada badan, kesempitan pada rezeki dan kebencian pada hati-hati manusia. 


(Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim, hal. 441)


Jangan Hasad kepada Orang yang Lebih Darimu...

 

Syaikh Shalih alu Syaikh hafizhahullahu berkata,


لا تحسد من هو أحفظ منك ، أو أعلم منك ، أو أنفع للعباد منك ، بل افرح أن يقوم قائم بحق الله عز وجل وحق العباد (الطريق إلى النبوغ العلمي ص: ١١٥)


Janganlah engkau hasad kepada orang yang lebih hafal darimu, atau yang lebih berilmu darimu, atau yang lebih bermanfaat kepada orang-orang dibandingkan dirimu. Bahkan semestinya itu menggembirakan dengan adanya orang yang menegakkan hak Allah azza wa jalla dan hak para hamba". 


(Ath Thariq ilan Nubugil Ilmi, hal. 115).


Salah Satu Sebab Menjadikan Rumahku Surgaku


Syaikh Arafat bin Hasan al Muhammadi hafizhahullahu berkata,


Permisalan rumah yang terbacakan di dalamnya Al Qur'an


Abu Muhammad Ad Darimi (200H) berkata, 


- ا اذُ انِئٍ، ا ادٍ، ا ا انٍ الْحَنَفِيُّ، ا انَ لُ: 

(Beliau membawakan sanadnya sampai pada shahabat Abu Hurairah radhiyallahu)



«إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ لَى لِهِ الْمَلَائِكَةُ الشَّيَاطِينُ، ْقُرْآنُ، ال 


الْبَيْتَ لَيَضِيقُ لَى لِهِ الْمَلَائِكَةُ، الشَّيَاطِينُ، لُّ لَا الْقُرْآنُ».

الدارميّ (٤/رقم: ) 

بسند صحيح


"Sesungguhnya sebuah rumah akan menjadi lapang bagi penghuninya, para malaikat akan menghadirinya dan setan-setan akan menjauhinya serta akan banyak kebaikannya tatkala di dalamnya terbacakan Al Qur'an.


Dan sesungguhnya sebuah rumah akan menjadi sempit bagi penghuninya, para malaikat akan menjauhinya dan setan-setan akan menghadirinya serta akan sedikit kebaikannya tatkala di dalamnya tidak terbacakan Al Qur'an.


(Sunan Ad Darimi 3/3352 dengan sanad yang shahih)



▫️ وأخرجه ابن المُبارك (ت: ١٨١ هـ) في الزهد (٧٩٠) وابن أبي شيبة (ت: ٢٣٥ هـ) في المصنف (٣٠٠٢٧) كلاهما من طريق سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: 


(Asy Syaikh Arafat hafizhahullahu membawakan sanad lainnya yang sampai kepada shahabat Abu Hurairah radhiyallahu juga)


«الْبَيْتُ يُتْلَى فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ كَثُرَ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ، 


وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي لَمْ يُتْلَ فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ ضَاقَ بِأَهْلِهِ، وَقَلَّ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الشَّيَاطِينُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ».

[مرسل يشهد له الطريق الذي قبله]


Sebuah rumah yang dibacakan di dalamnya kitabullah (Al Qur'an) akan banyak kebaikannya dan para malaikat akan menghadirinya serta setan-setan akan keluar. 


Dan sesungguhnya sebuah rumah yang tidak dibacakan di dalamnya kitabullah (Al Qur'an) akan terasa sempit bagi penghuninya, sedikit kebaikannya dan setan-setan akan menghadirinya serta para malaikat akan keluar dari rumah tersebut".


(Mursal akan tetapi terdapat jalan penguat pada sanad sebelumnya).


Sumber

https://t.me/Arafatbinhassan


Jangan Sia-siakan Akhir Malammu

 

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata,


لا ينبغي للإنسان أن يترك قيام شيء من الليل  - ولو قليلا - فإن الله تعالى - وهو الغني الكريم - ينزل في جوف الليل ، فيستعرض حوائج عباده بنفسه  ، فيقول : (من يدعوني فأستجيب له ؟ من يسألني فأعطيه ؟ من يستغفرني فأغفر له) فينبغي للإنسان ألا يُفوت هذا الموسم العظيم من مواسم الآخرة ، وفي الليل ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله تعالى حاجة إلا أعطاه إياها. [شرح عمدة الأحكام ص ٣٦٠ ]


Tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk meninggalkan shalat malam walau sedikit, karena Allah ta'ala -dan Dia adalah Dzat Yang Maha Kaya- turun di penghujung malam dan menawarkan hajat-hajat hambaNya untuk diriNya dengan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepadaKu maka akan Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu maka Aku akan beri dan barang siapa yang memohon ampun padaKu maka akan Aku ampuni".


Maka tidak sepantasnya bagi seorang insan untuk tidak melewati waktu yang agung ini dari waktu-waktu di akhir malam, dan di malam tersebut terdapat waktu yang tidaklah bertepatan dengan seorang hamba muslim yang meminta hajat kepada Allah ta'ala melainkan Allah akan berikan permintaannya".


(Syarhu Umdatil Ahkam, Syaikh As Sa'dy, hal. 360)


Menguap ketika Membaca Al Qur'an

 

Imam Mujahid rahimahullahu berkata,


إذا تثاءبت وأنت تقرأ القرآن ، فأمسك عن القراءة تعظيمًا حتى يذهب تثاؤبك.

[الجامع لأحكام القرآن للقرطبي١/ ٤٩]


"Engkau menguap dan dirimu sedang membaca Al Qur'an maka hendaklah kau tahan (sejenak) untuk membaca, sebagai bentuk pengagungan (terhadap Al Qur'an) sampai menguapmu selesai". 


(Al Jami' li Ahkamil Qur'an, Imam Al Qurthubi 1/49)


Al Jaubari, Penghafal yang Tidak bisa Menulis dan Membaca


Abul Hasan, Abdurrahman bin Muhammad bin Yahya bin Yasir di Tamimi ad Dimasyqi atau lebih dikenal dengan Al Jaubari, rahimahullahu.


Imam Adz Dzahabi di dalam siyar a'lamun nubala berkisah tentang beliau, "Dahulu beliau tidak bisa membaca dan tidak pula bisa menulis, tetapi ayah-lah yang mentasmi' beliau dengan sabar sehingga hafalan ini sampai kepada predikat adh dhabth (hafal dengan sempurna) ). 


Al Jaubari sangat menguasai matan-matan berbagai disiplin ilmu, bahkan Adz Dzahabi mengakui bahwa beliau telah mendapatkan semua hadits di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Al Jaubari dengan cara ditasmi lewat hafalannya, masyaallah luar biasa. 


Namun yang menarik lagi adalah ketika Al Jaubari selesai memperdengarkan semua isi hadits Shahih Bukhari kepada Adz Dzahabi. Al Jaubari berkata, "Sesungguhnya ayahku telah mentasmi' diriku dan banyak aku menambahkan apa yang aku tahu, diriku mengetahui mazhabmu terhadap Muawiyyah". 


Imam Adz Dzahabi lalu menjawab, "Beliau adalah shahabat rasulullah shalallahu alaihi wassalam", seraya aku bertarahum (mengucapkan rahmat) kepadanya. Lalu Al Jaubari mengeluarkan semua tulisan milik ayahnya yang telah beliau kumpulkan sebelumnya.


Pembaca, itulah Al Jaubari rahimahullahu yang tak bisa membaca dan tak bisa menulis, semua bukan halangan untuk menjadi seorang penghafal! Dengan kesungguhan dan kesabaran insyaallah Anda bisa. Apalagi Anda sekarang yang bisa membaca dan menulis, tentu bisa diharapkan lebih bisa lagi.


Pembaca, dahulu salaf tidaklah memberikan ilmu kepada sembarang orang. Mereka akan memberikannya kepada orang-orang yang telah dikenal selamat manhaj dan akidahnya. Maka, berbahagialah Anda yang sekarang telah mendapat seorang mudarris atau guru yang setiap hari mau memberikan ilmunya kepada Anda. Jangan sia-siakan, karena belum tentu di kemudian hari Anda akan dilapangkan untuk bisa menimba ilmu.


Wallahu alam, semoga bermanfaat.


(Kisah Al Jaubari bisa dilihat pada Siyar A'lamun Nubala karya Imam Adz Dzahabi, juz 17/thabaqat ke 23)


Lirih di dalam Berdoa

 

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu berkata,


السُّنَّة الإسرار بالأدعية في الصّلاة وغيرها، لقوله - سُبحانه {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ} [ الأعراف : ٥٥ ]

ولأنّ ذلك أكمل في الإخلاص، وأجمع للقلب على الدعاء

مجموع الفتاوى (١٢٦/١١)


"Yang Sunnah adalah lirih di dalam berdoa tatkala shalat dan selainnya berdasar firmanNya subhanahu, "Berdoalah kalian kepada Rabb kalian dengan merendah dan lirih, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yanh melampaui batas". (QS. Al A'raf: 55) karena sesungguhnya yang demikian itu lebih sempurna di dalam keikhlasan dan lebih menyepakati hati bagi doa." 


(Majmu' al Fatawa, 11/126).


Semua Ada di dalam As Sunnah

 

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


والسنه النبويه وهي المصدر الثاني للتشريع الاسلامي لم تغفل مثل هذه الامور الدقيقه، فقد علم النبي صلى الله عليه وسلم أمته كيف ياكلون ويشربون وينامون ويبولون ويتغوطون


"Sunnah nabi adalah sumber kedua bagi syariat Islam, tidak akan terluput/terlupa semisal ini perkara-perkara yang detail. Sungguh, Nabi shalallahu alaihi wassalam telah mengajarkan umatnya bagaimana cara mereka makan, minum, tidur, buang air kecil dan buang air besar."


(Mabahits fi Ushuliddin, hal. 15, cet. Muassasah Asy Syaikh 1433H).


Mengapa Gengsi Berkata, "Saya Tidak Tahu" ?


Pada suatu hari Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr rahimahullahu pernah berada di Mina untuk melaksanakan haji, tiba-tiba datang orang-orang bertanya beberapa hal kepada beliau dan beliau pun menjawab, 


لا ا لا الم


"Aku tidak tahu dan tidak punya ilmu (tentang jawaban)".


Ketika mereka mendesak untuk segera dijawab, maka beliau berkata,


 الله ا لم ل ا الون لو لمنا ا اكم لا ل لنا ان


"Demi Allah mengetahui kami mengetahui setiap apa yang kalian pertanyakan, jika jawabannya pasti kami tidak akan menyembunyikannya kepada kalian dan tidak halal bagi kami untuk menyembunyikan (jawabannya) untuk kalian". 


Pembaca, luar biasa kisah ini! Betapa tidak. Al Qasim padahal seorang alim ulama yang keilmuannya tidak diragukan lagi. Salah seorang tabiin besar sekaliber Yahya bin Said rahimahullahu telah mempersaksikan hal ini dengan tegas, 


ما ادركنا بالمدينة احدا نفضله على القاسم بن محمد


"Tidaklah kami mengetahui di Madinah seorangpun yang kami utamakan ketimbang Al Qasim bin Muhammad".


Jika seorang Al Qasim saja tidak gengsi mengatakan, "Saya tidak tahu", maka bagaimana dengan kita?


(Kisah Al Qasim dan ucapan Yahya bin Said terambil dari Hilyatul Aulia karya Abu Nuaim al Ashbahani rahimahullahu pada biografi Al Qasim bin Muhammad).


Teman Bisa Mempengaruhi Keistiqamahan Seseorang

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


وكم من إنسان هَمَّ أن يستقيم، ولكنه بقي مع الرفقة غير المستقيمة فعجز ، فإذا ابتعد عنهم ، كان ذلك من أسباب الهداية.

(فتاوى نور على الدرب ج١٢ ص١٨)


"Betapa banyak dari kalangan manusia yang ingin sekali istiqamah akan tetapi ia masih tetap bersama teman yang tidak istiqamah, maka lemahlah dirinya. Jika saja ia bisa jauh dari mereka (teman-teman yang tidak Istiqamah) niscaya hal itu termasuk sebab hidayah".


(Fatawa Nur ala Addarb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 12, hal. 18)


Salaf Sangat Memperhatikan Penutup Amal

 

Syaikh Abdullah al Bukhari hafizhahullahu berkata, "Sesungguhnya kalangan salaf, termasuk dari kefaqihan mereka, sangat memperhatikan akhir dari amalan-amalan. Mereka sangat mengagungkan hal itu di dalam diri-diri mereka. 


Telah disebutkan oleh Imam Dzahabi rahimahullahu di dalam Tarikhul Islam tentang biografi Al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu, bahwasanya beliau berkata, "Tidaklah aku hasad kepada Al Hajjaj 'aduwwallah (musuh Allah) terhadap sesuatu kepadanya dari kecintaanya pada Al Qur'an dan menafkahi keluarganya serta ucapan tatkala jelang ajalnya, "Allahummaghfirli (yaa Allah ampunilah aku), karena sesungguhnya manusia telah menyangka bahwasanya Engkau tidak akan melakukannya (yakni mengampuni Al Hajjaj)". (Tarikhul Islam, Imam Adz Dzahabi 6/326)


(Al A'malu bil Khawatim, Syaikh Abdullah al Bukhari, hal.41-42, cet. Manaratul Islam 2013)


Menjaga Lisan adalah Jalan Keselamatan Hati

 

Ahmad bin A'shim al Anthaki rahimahullahu adalah salah seorang imam dan qudwah (panutan) di zamannya. Beliau seormag yang selalu memberikan wajangan dan nasehat di negerinya, Damaskus. Pernyataan Imam Adz Dzahabi rahimahullahu ini juga diberikan oleh seorang ulama besar Abu Hatimar Razi rahimahullahu dengan mengatakan, "Aku dengannya (Ahmad bin 'Ashim) di Damaskus, beliau adalah _shahibu mawaizh_ (seorang yang selalu nasehat-nasehat) dan seorang yang zuhud (Siyar A'lamun Nubala, Adz Dzahabi 11/409-410)


Di antara nasehat Ahmad bin 'Ashim rahimahullahu adalah,


ا لَبتَ لاح لبك استعن له لسانك


"Jika ingin menginginkan keselamatan maka pertolongan pertolongan dengan cara menjaga lisanmu". (Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir 71/222).


Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat.


Shilah bin Usyaim al Adawi dan Istrinya Muadzah al Adawiyah

 Dalam Siyar Alamun Nubala karya Imam adz Dzahabi rahimahullahu disebutkan bahwa Shilah adalah seorang pembesar tabiin di zamannya, beliau adalah seorang yang wara, ahlu ibadah dan zuhud. Sedangkan istrinya adalah salah seorang murid dari shahabiyah Aisyah radhiallahuanha.


Diceritakan di dalam Al Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir rahimahullahu,


ان لة اة ابنه ال له: اتل ل اتل ل، لة اتل ل، اجتمع النساء ا ا ال


Ketika Shilah berada dalam peperangan bersama anaknya, maka Shilah berkata kepada anaknya, "Ayo anakku majulah suatu saat sampai aku bisa mengharapkan pahala darimu". Maka maju pun maju dengan membawa senjata dan terjun ke pertempuran hingga kematian, kemudian Shilah pun maju hingga tewas. Berkumpulah para wanita menuju ke istrinya Shilah, (yang bernama) Muadzah al Adawiyah, dan ia berkata kepada para wanita tersebut, "Jika kalian datang kepadaku dalam rangka ingin mengucapkan selamat, maka selamat datang untuk kalian, namun jika kalian datang untuk menta'ziyahku ( ucapkan bela sungkawa), maka pulanglah!".


Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Nisaa Ash Shalihaat menyatakan, 


انَتْ لُ: اللهِ ا البَقَاءَ لاَّ لأَتَقَرَّبَ لَى الوَسَائِلِ، لَعَلَّهُ الصهباء ابْنِهِ الجَنَّةِ


Muadzah pernah berkata, "Demi Allah berkata aku menyukai hidup melainkan agar aku bisa bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan perantara-perantara (yang syari), semoga Allah mengumpulkan antara aku, Abu Shahba (Shilah/suaminya) dan anaknya di surga" .


Sungguh indah kisah di atas, keindahan yang bisa kita petik di antaranya:


1. Keindahan seorang ayah yang menghasung anaknya untuk berjihad di jalan Allah dan jika anaknya gugur di medan jihad, bahkan ia akan mengharapkan pahala atas hal itu. Di masa sekarang, seorang ayah untuk belajar ilmu agama dan berhubungan dengan segala konsekuensinya, karena para ulama menyatakan bahwa menuntut ilmu agama adalah bagian dari jihad di jalan Allah.


2. Keindahan seorang ibu yang ditinggalkan oleh suami dan anaknya di jalan Allah, bahkan menganggap itu musibah, tetapi dianggap sebuah anugerah yang patut disyukuri. Maka sudah sepatutnya seorang wanita mendukung untuk bersabar dalam menjalani ujian di jalan Allah dan menghasung anaknya untuk tetap istiqamah di dalam thalabul ilmi.


3. Keindahan sikap optimisme dan rasa tawakal yang tinggi pada seorang istri yang ditinggal oleh suami dan anaknya. Tidak terpuruk dengan keadaan dan tak kenal lelah berjuang dengan amal shalih agar bisa ia berkumpul dengan suami dan anaknya kelak di surga yang telah mendahuluinya.


Semoga bermanfaat.


Perbanyaklah Doa di Kala Waktu Sahur


Dari Amr bin Abasah radhiallahuanhu, bahwasanya beliau pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 


ا الرَّبُّ الْعَبْدِ اللَّيْلِ الْآخِرِ اسْتَطَعْتَ اللَّهَ لْكَ السَّاعَةِ


"Saat yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah kala pertengahan malam terakhir, oleh karenanya jika engkau mampu untuk menjadi orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah". (HR. Tirmidzi dan hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).


Dari Abu Hurairah radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda,


يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


"Rabb kami tabaraka wa taala turun di setiap malam ke langit dunia ketika di sisa sepertiga malam terakhir, dan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikannya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan beri ampun untuknya". (HR. Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat.


Jumat, 22 Oktober 2021

Allah Akan Kokohkan Seorang yang Selalu Ikhlash di dalam Ibadahnya


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,


‏إذا قام العبد بعبادة الله مخلصا له في أقوله وأفعاله وإرادته لا يريد بها إلا وجه الله والدار الآخرة ولا يريد بها جاها ولا ثناء من الناس ولا مالاً ولا شيئاً من الدنيا واستمر على هذه العبادة المخلصة في الضراء والسراء وشدة والرخاء، مكن الله له في الأرض.


"Jika seorang hamba menegakkan ibadahnya kepada Allah dengan ikhlas di dalam ucapan dan perbuatannya, serta tujuannya adalah tidak menginginkan kecuali hanya wajah Allah dan negeri akhirat semata, juga tidaklah ia menginginkan dengan ibadahnya tersebut kedudukan dan pujian dari manusia, tidak pula harta dan apapun dari dunia, dan ia menetapi ibadah yang ikhlas ini di kala senang atau susah, kala sempit maupun lapang, maka Allah akan menguatkan/mengokohkan dia di bumi".


(Majalis Syahru Ramadhan, hal. 147, cet. Muassasatusy Syaikh Ksa 1435H).


Berpakaianlah Sesuai dengan Keadaan Orang Sekitarnya


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata, 


إذا كان الإنسان بين أناس متوسطي الحال لا يستطيعون اللباس الرفيع فتواضع وصار يلبس مثل لباسهم لئلا تنكسر قلوبهم ولئلا يفخر عليهم، فإنه ينال هذا الأجر العظيم أما إذا كان بين أناس قد أنعم الله عليهم ويلبسون الثياب الرفيعة لكنها غير محرمة فإن الأفضل أن يلبس مثلهم، لأن الله تعالى جميل يحب الجمال، ولا شك أن الإنسان إذا كان بين أناس رفيعي الحال يلبسون الثياب الجميلة ولبس دونهم فإن هذا يعد لباس شهرة، فالإنسان ينظر ما تقتضيه الحال إذا كان ترك رفيع الثياب تواضعًا لله ومواساة لمن كان حوله من الناس فإن له هذا الأجر العظيم، أما إذا كان بين أناس قد أغناهم الله ويلبسون الثياب الرفيعة فإنه يلبس مثلهم.


"Jika seorang insan berada diantara orang-orang yang pertengahan keadaannya, yakni mereka tidak mampu untuk memakai pakaian yang mewah, maka ketika insan tersebut bertawadhu dan mau memakai seperti berpakaiannya mereka agar tidak mematahkan hati-hati mereka dan agar tidak berlaku sombong terhadap mereka, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan pahala yang besar.


Adapun jika ia berada di tengah-tengah orang yang telah diberikan oleh Allah kenikmatan, dan mereka mengenakan pakaian bagus nan mewah yang tidak ada unsur keharaman, maka yang afdhal adalah ia memakai pakaian layaknya semisal mereka, karena Allah taala adalah Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan.


Janganlah seorang insan untuk ragu ketika ia berada di tengah-tengah orang yang berkecukupan untuk mengenakan pakaian yang mewah, karena apabila ia mengenakan pakaian yang di bawahnya (jelek/tidak seperti standar mereka), maka sesungguhnya ini teranggap pakaian syuhrah. 


Maka seorang insan melihat dengan keadaan kondisinya, jika ia meninggalkan pakaian mewah dalam rangka bertawadhu karena Allah, dan berlaku lapang (tidak merasa sempit dada akan hal ini) terhadap orang-orang yang disekitarnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, namun jika ia berada di tengah-tengah orang yang telah Allah cukupkan (harta/materinya), dan mereka (pada umumnya) mengenakan pakaian mewah, maka ia pun hendaknya mengenakan pakaian yang semisal mereka".


(Sumber: Syarah Riyadhish Shalihin, rekaman ke 55 side B. http://www.alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&coid=214291).


Musibah yang Didapat Sejatinya karena Dosa-dosa Kita

 

Allah subhanahu wa ta’ala,


وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ 


“Dan apapun musibah yang menimpa kalian dari sebuah musibah, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan kalian sebagian besar (dosa-dosa kalian).” (QA. Asy-Syura: 30)


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, 


عَنْ أَبِي الْبِلَاد قَالَ : قُلْت لِلْعَلَاءِ بْن بَدْر " وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَة فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ " وَقَدْ ذَهَبَ بَصَرِي وَأَنَا غُلَام ؟ قَالَ فَبِذُنُوبِ وَالِدَيْك


Dari Abil Bilad, beliau berkata, "Aku berkata kepada Al Ala bin Badr, 'Dan apapun musibah yang menimpa kalian dari sebuah musibah, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri'. Sungguh, telah pergi penglihatanku dalam keadaan aku masih kecil". Maka Al Ala bin Badr berkata, "Itu disebabkan dosa-dosamu terhadap kedua orang tuamu". (Lihat tafsir ibnu katsir pada surat ini).


Bangkrut di Dunia Masih Bisa Merintis, Bangkrut di Akhirat? Habis!


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,


أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. 


Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.


قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat nanti dengan (membawa amal) shalat, puasa, dan zakat, akan tetapi ia datang pula dengan mencerca ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini.


فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ


Maka diberikanlah (kepada orang yang dizhaliminya) ini pahala-pahalanya, jika telah habis pahala-pahalanya sebelum tuntas apa yang menjadi kewajibannya, maka akan diambil dosa-dosa mereka (yang dulu ia zhalimi) dan ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu)


Semoga Allah menjaga kita dari kebangkrutan yang seperti ini, aamiin.


Bangun Pagi, Itu Biasa. Bangun di Sepertiga Malam Terakhir, Itu Baru Luar Biasa!


Bangun di sepertiga malam terakhir tentunya bukan sekedar ingin buang hajat ke toilet atau meneguk air melepas dahaga, namun ia berusaha untuk mengingat Allah, baik dengan lirihan doa atau menegakkan shalat malam. Dari Amr bin Abasah radhiallahuanhu, bahwasanya beliau pernah mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 


أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُن


"Saat yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah kala pertengahan malam terakhir, oleh karenanya jika engkau mampu untuk menjadi orang yang mengingat Allah di waktu tersebut, maka lakukanlah". (HR. Tirmidzi dan hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


"Rabb kami tabaraka wa taala turun di setiap malam ke langit dunia ketika di sisa sepertiga malam terakhir, dan berkata, "Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan untuknya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberikannya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan beri ampun untuknya". (HR. Bukhari dan Muslim).


Semoga Allah taala memudahkan kita untuk mengamalkannya, aamiin.


Tetap Optimis Menjalani Hidup


Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda


وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ


Seandainya mereka (manusia) berkumpul untuk memudharatkan (menimpakan bahaya) kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan memudharatkanmu (membahayakan) kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu".


Dalam riwayat lain,


وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً


Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang luput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu, maka tidak akan pernah luput (meleset) darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu (datang) bersama kesabaran, dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Yakinlah, bahwa


إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ


“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128).


Bersiwak bukan Amalan Biasa, tapi Luar Biasa!


Aisyah radhiallahu anha mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:


السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ


“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar Rabb.” (HR. Nasai, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu)


Ibnu Umar radhiallahu anhuma juga menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى


“Ditekankan atas kalian untuk bersiwak, karena dengan bersiwak akan membaikkan (membersihkan) mulut, diridhai oleh Ar Rabb tabaraka wa ta’ala.” (HR. Ahmad, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu).


Bahaya Kezhaliman, Tidak Taat kepada Penguasa, Sombong dan Memutuskan Tali Kekerabatan

Bahaya Kezhaliman, Tidak Taat kepada Penguasa, Sombong dan Memutuskan Tali Kekerabatan 



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَة مثل الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم


“Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas untuk Allah segerakan bagi pelakunya sebuah azab/hukuman di dunia—disamping azab yang ia akan peroleh di akhirat— semisal al baghy dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Abu Daud, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Dalam 'Aunul Ma'bud dijelaskan bahwa al baghy adalah, 


الظلم أو الخروج على السلطان أو الكبر 


"Kezhaliman, keluar/tidak taat kepada penguasa atau sombong". 


(Aunul Mabud bi Syarhis Sunan li Abi Daud, 13/200).


Mari Bersedekah


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٍ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba: 39)


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata,


أَيْ مَهْمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْء فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَأَبَاحَهُ لَكُمْ فَهُوَ يُخْلِفهُ عَلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا بِالْبَدَلِ وَفِي الْآخِرَة بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَاب


"Yakni apa saja yang kalian infakkan dari sesuatu terhadap apa yang diperintahkan (zakat yang wajib) atau yang dibolehkan (sedekah yang tidak wajib) kepada kalian, maka Allah akan menggantinya di dunia dan di akhirat dengan balasan ganjaran dan pahala". (Lihat Tafsir Ibnu Katsir ada ayat ini).


Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa orang yang besedekah sejatinya akan menambah hartanya, beliau bersabda,


مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ


“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).


Bahkan setiap harinya Allah mengutus malaikatnya untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang mau berinfak dan mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan-nahan hartanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,


مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا


“Tidak ada hari yang manusia berada di pagi hari kecuali turun dua malaikat, salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak,’ dan yang lainnya mengatakan, ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang bakhil’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat.


Balasan di Dunia Lebih Ringan dibanding Balasan di Akhirat


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata, 


فإذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا، إما بماله أو بأهله، أو بنفسه، أو بأحد ممن يتصل به . المهم أن تعجل له العقوبة، لأن العقوبات تكفر السيئات ، فإذا تعجلت العقوبة وكفر الله بها عن العبد، فإنه يوافي الله وليس عليه ذنب ، قد طهرته المصائب والبلايا ، حتى إنه ليشدد على الإنسان موته لبقاء سيئة أو سيئتين عليه، حتى يخرج من الدنيا نقيا من الذنوب، وهذه نعمة لأن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة .

لكن إذا أراد الله بعبده الشر ، أمهل له واستدرجه وأدر عليه النعم ، ودفع عنه النقم، حتى يبطر ويفرح فرحاً مذموما بما أنعم الله به عليه." شرح رياض الصالحين" (1/258)


"Jika Allah menginginkan bagi hambanya kebaikan, maka Allah akan segerakan hukuman/balasannya di dunia, bisa terjadi pada hartanya, keluarganya, dirinya atau bisa terjadi pada salah seorang yang terdapat hubungan dengan dirinya. Intinya adalah disegerakannya balasan untuknya, karena balasan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.


Jika hukuman itu disegerakan, maka Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dari hamba tersebut, karena Allah telah menunaikan/mencukupkan balasannya dan tak ada lagi dosa pada hamba tersebut. Kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya telah bersih sampai ia dikokohkan kala maut menjemputnya tersisa satu atau dua kesalahan saja sehingga ia pun keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.


Ini merupakan sebuah kenikmatan, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan dengan adzab di akhirat.


Akan tetapi jika Allah menginginkan bagi hamba-nya kejelekan maka akan Allah lalaikan hamba tersebut dan Allah membuat istidraj (tipu daya/tidak sadar) pada dirinya, ia terus diberikan nikmat dan tertolaknya bencana pada dirinya, hingga dirinya berlaku sombong dan merasa senang dengan kesenangan yang tercela karena apa yang Allah telah berikan nikmat kepadanya". 


(Syarah Riyadhush Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1, hal. 258).


Berbakti kepada Kedua Orang Tua yang Sesungguhnya


Firman Allah ta'ala,


وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا


Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al Ankabut: 8)


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,


" ما هو البِر؟ البِرُّ هو الإحسان .. يُحسِنُ إليهما بالقول وبالفعل وبالمال، والمال في الحقيقة مِن الفعل، فيحسن إليهما بالقول لقوله تعالى: (( وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ))[الإسراء :23] وبالفِعْل (( وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَة ))[الإسراء :24] وبالـمَال (( وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ ))[الإسراء :26] فمثلًا إذا كَان الإنسان يُحْسِن على والديه بالمال ولا يجعل عليهما قاصِرًا أبدًا قد أغرقَهما إغراقًا بالمال لكنَّه مُجْنِفٌ عنهما مِن قِبَل الكلام ساكت عليهما عبُوس في وجهِهما هل يكون قد قام بالبر؟ لا، كذلك لو كان ضحوكًا إليهما ولَيِّنًا معهما بالقول مُغْدِقًا لهما بالمال لكن لا يخدِمُهما بنفسِه إذا دَعَتِ الحاجة إلى ذلك فإنَّه ليس ببار، فالبرُّ لابُدَّ أن يكون بالقول والفعل والمال


Apa itu al bir? Al bir adalah al ihsan.. berbuat ihsan (berbuat baik/berbakti) kepada keduanya (orang tua) adalah dengan ucapan, perbuatan, harta, dan harta pada hakikatnya adalah bagian dari perbuatan. 


Berbuat ihsan kepada kedua orang tua dengan ucapan adalah berdasarkan firman Allah ta'ala, "Dan berucaplah kepada keduanya dengan perkataan yang baik" (Al Isra: 23), dengan perbuatan, "Rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya dengan sikap rahmah" (Al Isra: 24), dengan harta, "Tunaikanlah hak (dari harta) bagi kerabatmu dan orang miskin" (Al Isra: 26).


Misalkan jika ada seorang insan yang berbuat ihsan kepada kedua orang tuanya dengan hartanya dan ia tidak menjadikan keduanya kekurangan pada masalah hartanya sama sekali, dirinya telah memenuhi kebutuhan keduanya dengan penuh dari hartanya, akan tetapi ia bertindak lalim kepada kedua orang tuanya dari sisi berucap (berkata kasar atau menyakitkan), mendiamkan keduanya, bermuka masam terhadap keduanya, lalu apakah yang seperti ini telah teranggap dirinya telah menunaikan al bir kepada kedua orang tua? Tidak!


Begitu pula jika ia bisa membuat tertawa keduanya, berlaku lemah lembut kepada mereka dengan ucapan dan melimpahkan harta kepadanya, akan tetapi ia tidak berkhidmat melayani keduanya dengan sepenuh jiwa tatkala ia dipanggil untuk menunaikan keperluan mereka, maka sesungguhnya ia belum dikatakan telah melakukan al bir.


Maka al bir, mesti ada pada ucapan, perbuatan dan harta".


(Sumber: https://www.alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&coid=152604)


Tersenyum dan Tertawa


Abdullah ibnul Harits ibni Jaz'in radhiallahuanhu berkata, 


مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


"Tidaklah aku melihat seorangpun yang lebih banyak tersenyum dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam". (HR. Tirmidzi dalam Syamail, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Abu Dzar radhiallahuanhu, beliau berkata, 


 فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ


"Sungguh aku telah melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya". (HR. Tirmidzi dalam Syamail, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Aisyah radhiallahuanha berkata, 


ما رَأَيْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا، حتَّى أرَى منه لَهَوَاتِهِ (أقصى حلقه)، إنَّما كانَ يَتَبَسَّمُ


"Tidaklah aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam terbahak-bahak di dalam tertawanya sekalipun, sampai terlihat ujung tenggorokannya, Rasulullah (seringnya) hanya tersenyum." (HR. Bukhari dan Muslim)


Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,


فعليك أن تكون حسن الخلق مع إخوانك طيب الخلق، ولا بأس عليك بالضحك عند وجود أسباب أو التبسم، ولا بأس بالتحدث معهم فيما أباح الله أو فيما شرع الله.


"Wajib atasmu untuk berakhlak yang baik ketika bersama saudaramu dengan sebaik-baik akhlak. Tidak mengapa engkau tertawa ketika terdapat sebab atau tersenyum. Tidak mengapa pula engkau berbincang dengan mereka tentang sesuatu yang dibolehkan oleh Allah atau tentang perihal yang disyariatkan Allah." (Nur alad Dard pada bab Hukmul Iktsar minadh Dhahik).


Wallahu alam. Semoga bermanfaat.


Bersikap Tawadhu dan Menjauh dari Bermewah-mewahan


Imam Ibnu Bathal rahimahullahu berkata,


مِنْ أَخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ: التَّوَاضُعِ، وَالْبُعْدِ عَنِ التَّنَعُّمِ، وَامْتِهَانِ النَّفْسِ لِيُسْتَنَّ بِهِمْ، وَلِئَلَّا يُخْلِدُوا إِلَى الرَّفَاهِيَةِ الْمَذْمُومَةِ.


Di antara akhlak mulia para nabi adalah bersifat tawadhu dan jauh dari sifat bersenang-senang (bermewah-mewah) dan (hendaknya kita) melatih diri untuk mengikuti mereka, agar tidak terus-menerus berada pada kemewahan yang tercela.” 


(Fathul Bari [Kitabul Adab], Ibnu Hajar al Atsqalani, jil. 10, hal. 475).


Jauhi Perbuatan Suka Mencela!


Abdullah bin Mas’ud mengabarkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,


لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ


“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.” (HR. Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


سِبَابُ اَلْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.


“Mencela seorang muslim adalah sebuah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Mas‘ud Radhiallahuanhu)


Sufyan ibnu Uyainah rahimahullah berkata, "Disukai bagi seorang alim jika mengajarkan (ilmu) tidak mencela (muridnya) dan jika diajari tidak meremehkan (gurunya)." (Kitabul Ilmi-Ibnu Qutaibah ad Dainuri, dinukil dari Tahdzibnya hal. 19, cet. Darul Atsar 2007)


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,


أترك التأنيب والتعنيف لخادمك ، أو زميلك أو ولدك ، أو تلميذك ، أو زوجتك إذا أخطأوا أو قصروا.


"Tinggalkanlah perbuatan menghina dan mencela kepada pembantumu, temanmu, anakmu, muridmu, pasanganmu, jika mereka salah atau kurang (di dalam menunaikan pekerjaan)". (Quthuf minasy Syamailil Muhammadiyyah, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 121, cet. Ke-15)


Anak dan Harta adalah Penunjang Ketaatan


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


‏الذي يبقى للإنسان هو العمل الصالح وأما المال والبنون فإن استعان به على طاعة الله صارت من الباقيات وإلا فهي من الفانيات تفنى بهذه الدنيا.


"Yang kekal bagi seorang insan adalah amalan shalih, adapun harta dan anak-anak sesungguhnya itu merupakan penolong (penunjang) untuk ia berada di atas ketaatan kepada Allah, jika demikian maka mereka termasuk yang akan kekal (terbawa ke negeri akhirat), jika tidak, maka mereka akan termasuk yang akan musnah bersama musnahnya dunia ini". 


(Syarah Bulughil Maram, Syaikh Ibnu Utsaimin, 15/477)


Ancaman bagi Orang yang Sibuk, Sehingga Lalai dari Ilmu


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,


إن الإنسان إذا كان لا يحضر حلقات العلم، ولا يسمع الخطب، ولا يعتني بما ينقل عن أهل العلم فإنه تزداد غفلته، وربما يقسو قلبه حتى يطبع عليه، ويختم عليه فيكون من الغافلين نعوذ بالله من ذلك 

 مجموع فتاوى ورسائل ابن باز ١٢/صـ ٣٢٤


"Sesungguhnya seorang insan jika dirinya tidak menghadiri majelis-majelis ilmu, juga tidak mendengarkan khutbah-khutbah, tidak pula memperhatikan apa yang dinukilkan dari ahlul Ilmi, maka sesungguhnya akan semakin bertambah kelalaiannya dan akan keras hatinya hingga (kelalaiannya itu) akan menjadi tabiat jelek pada dirinya, dan akan purna menjadikannya menjadi seorang yang lalai, naudzubillah min dzalik".


(Majmu Fatawa wa Rasaail ibn Baz, 12/324)


Dermawan termasuk Tanda Keimanan


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٍ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba: 39)


Ibnu Katsir rahimahullahu berkata,


أَيْ مَهْمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْء فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَأَبَاحَهُ لَكُمْ فَهُوَ يُخْلِفهُ عَلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا بِالْبَدَلِ وَفِي الْآخِرَة بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَاب


"Yakni apa saja yang kalian infakkan dari sesuatu terhadap apa yang diperintahkan (zakat yang wajib) atau yang dibolehkan (sedekah yang tidak wajib) kepada kalian, maka Allah akan menggantinya di dunia dan di akhirat dengan balasan ganjaran dan pahala". (Lihat Tafsir Ibnu Katsir ada ayat ini).


Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa orang yang besedekah sejatinya akan menambah hartanya, beliau bersabda,


مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ


“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).


Bahkan setiap harinya Allah mengutus malaikatnya untuk mendoakan orang-orang yang mau menginfakkan harta di jalan Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا


“Tiada hari dimana seorang hamba kala waktu shubuh kecuali akan turun dua malaikat, dan salah satu dari mereka berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak,’ dan yang lainnya mengatakan, ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang menahan (tidak mau berinfak).” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dengan nash-nash di atas, sudah semestinya bagi kita yang mengaku beriman untuk melatih jiwa ini dengan kedermawanan, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا


“Tidak akan berkumpul kekikiran dan keimanan di dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. Nasai dan Hakim. Hadits disahihkan oleh Syaikh al Albani).


Wallahu alam, semoga bermanfaat.


Ketika Ada Orang yang Mencela Kita, Diamkan Saja!


Jabir bin Salim radhiallahuanhu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,


وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ


“Apabila seseorang mencaci dan mencelamu dengan aib yang ada padamu, jangan engkau balas mencelanya dengan aib yang ada padanya, karena dosanya akan dia tanggung.” (HR. Abu Dawud, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil)


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "Sudah sepantasnya bagi seorang yang berakal untuk mewaspadai akan terjadinya balasan dari suatu perbuatan, karena Ibnu Sirrin pernah berkata, "Aku dahulu pernah mencela seorang dengan memangil: wahai orang yang bangkrut!, maka aku pun menjadi bangkrut setelah melewati masa 40 tahun. " (Shayyidul Khatir-Ibnul Jauzi, hal 18, cet. Darut Taqwa 2013)


Seorang Tabi'in yang bernama Maimun bin Mihran rahimahullah berkata, 


يا ابن آدم خفف عن ظهرك، فإن ظهرك لا يطيق كل الذي تحمل عليه من ظلم هذا، واكل مال هذا، وشتم هذا وكل هذا تحمله على ظهرك فخفف عن ظهرك.

وقال ايضا: ان اعمالكم قليلة فأخلصوا هذا القليل


"Wahai bani adam, ringankanlah beban di punggungmu, karena punggungmu tidak akan mampu untuk memikul setiap beban yang diberikan dari berupa kezhaliman, memakan harta orang dan mencela. Semua itu akan engkau pikul di atas punggungmu, maka ringankanlah beban di punggungmu. Beliau berkata pula, "Sesungguhnya amal-amal kalian itu sedikit. Maka ikhlashlah (semata karena Allah) apa yang sedikit tersebut." (Hilyatul Aulia-Abu Nu'aim al Ashbahani 7/30-31).


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


 وذلك أن الإنسان ينبغي له أن يعفو ويصفح ولا يجعل كل كلمة يسمعها مقياسا له في الحكم على الناس تغاض عن الشيء واعف واصفح فإن الله تعالى يحب العافين عن الناس ويثيبهم على ذلك 


"Bahwasanya seorang insan sudah semestinya untuk memaafkan dan mengampuni, janganlah menjadikan setiap kalimat yang ia dengar menjadi tolak ukur menghukumi manusia di dalam kemurkaan terhadap dirinya dari sesuatu. Berikanlah maaf dan ampunan, karena sesungguhnya Allah taala mencintai orang-orang yang memaafkan manusia, dan Allah akan mengganjar mereka atas hal itu." (Syarah Riyadhush Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin, 1/893).


Menyingkirkan Gangguan dari Jalan, amalan kecil namun Bernilai Besar!


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ


Artinya, "Dan engkau membuang gangguan dari jalan adalah sedekah". (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu)


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,


 بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَريْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيْقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ 


“Suatu hari seseorang melewati sebuah jalan dan mendapati dahan berduri di jalan tersebut, lalu kemudian ia menyingkirkannya, maka dengan itu Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dari shahabat Abu Hurairah radhiaallahu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسْلِمِيْنَ 


"Sungguh, aku melihat seseorang lelaki berbolak-balik di dalam surga dengan sebab sebatang pohon yang ia potong dari tengah jalan yang mengganggu kaum Muslimin. (HR. Muslim)


 وَفِي رِوَايَةٍ : مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهرِ طَرِيْقٍ ، فَقَالَ : وَاللهِ لَأُنَـحِّـيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهِمْ ، فَأُدْخِلَ الْـجـَنَّةَ 


Dalam riwayat lain: Ada seorang lelaki melewati sebatang pohon di tengah jalan, lalu ia berkata, ‘Demi Allah! Sungguh saya akan menyingkirkan ini dari muslimin agar tidak mengganggu mereka’. Maka ia dimasukkan ke surga.” (HR. Muslim)



Faidah:

1. Gangguan (اْلأَذَى ) pada hadits yang pertama dijelaskan oleh para ulama mencakup umum, yaitu segala yang menganggu orang yang melintas, bisa berupa:

✓ Berasal dari bawah atau tanah, contohnya: air, batu, pecahan kaca, duri, sampah, kotoran, pohon tumbang yang menghalangi jalan dll

✓ Berasal dari atas, contohnya: dahan yang melintang dari atas pohon, kucuran air dari atas dll


2. Jangan meremahkan amalan yang terkesan remeh. Orang yang menyingkirkan dahan berduri di jalanan saja, ketika diamalkan dengan penuh keikhlasan, maka bisa jadi akan menjadikan sebab ia diampuni oleh Allah dan masuk ke dalam surga.


3. Jika menyingkirkan gangguan fisik di tengah jalan saja berganjar besar, maka bagamana lagi dengan orang yang menyingkirkan gangguan hati di tengah jalan menuju keistiqamahan? Tentu lebih besar ganjarannya.

Wallahu alam.

(Faidah sedikit disadur dari kumpulan penjelasan para ulama ahlussunnah wal jamaah).


Keutamaan Besar dari Berbicara Lembut dan Memberi Nafkah Orang Tua


Ibu, seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang. Sangat layak untuk didahulukan di dalam mendapat bakti kita. Dikisahkan oleh Thaisalah bin Mayyas rahimahullahu,


قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفْرَقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِي، وَاللهِ! قَال: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّي. قَالَ: فَوَاللهِ، لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الكَبَائِرَ.


Ibnu ‘Umar radhiallahuanhuma pernah bertanya kepadaku, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” “Ya, demi Allah!” jawabku. “Kedua orang tuamu masih hidup?” ia bertanya lagi. “Aku masih punya ibu,” jawabku. “Demi Allah! Sungguh, kalau engkau lemah lembut berbicara dengannya dan selalu memberinya makan, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau jauhi dosa besar.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)


Inilab pesan seorang shahabat nabi kepada muridnya, yakni bertutur kata santun dan lirih di hadapan ibu kemudian berkorban tuk menafkahinya. Dua amalan yang sering terlewat karena terhalang tebalnya sifat kasar dan bakhil kita.


Mari kita bersama untuk berusaha belajar melembutkan tutur kata dan belajar menghilangkan hitungan untung rugi harta yang akan kita keluarkan untuk seorang wanita yang telah melahirkan, mengasuh, menjaga dan mendidik kita di atas keikhlasan dan kasih sayang ini. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua tuk birrul walidain, aamiin.


Di Antara Doa yang Selalu Dipanjatkan Para Salaf


Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,


"ينبغي للمسلم أن يستغفر لأخيه المسلم فيقول: (ربِّي اغفر لي و لوالدي و للمسلمين و المسلمات)، و كان بعض السَّلف، يستحبُّ أن يداوم على هذا الدُّعاء كلَّ يوم" . 

مفتاح دار السَّعادة 339/1


"Sudah seyogyanya bagi seorang muslim untuk memohonkan ampun bagi saudaranya yang muslim dengan lantunan,


ربِّي اغفر لي ولوالدي و للمسلمين و المسلمات


Rabbighfirlii waliwaalidayya wa lil muslimiina wal muslimat 


"Wahai Rabbku ampunillah aku dan kedua orang tuaku serta ampunilah kaum muslimin dan muslimat".


Dan para sebagian salaf, mereka menyukai untuk merutini doa ini di setiap harinya".


(Miftah Daar As Sa'adah, Ibnul Qayyim, 1/339)


Makna Ar Rasikh fil Ilmi


Imam Al Baghawi rahimahullahu berkata,


قيل الراسخ في العلم 

من وجد في علمه أربعة أشياء : 

١- التقوى بينه وبين الله 

٢ - والتواضع بينه وبين الخلق 

٣- والزهد بينه وبين الدنيا 

٤ - والمجاهدة بينه وبين نفسه.

تفسير البغوي ١/٣٢٥


Dikatakan bahwa ar rasikh fil ilmi adalah barang siapa yang pada ilmunya terdapat empat perkara:

1. At taqwa antara dia dengan Allah

2. At Tawadhu antara dia dengan makhluk

3. Az zuhud antara dia dan dunia

4. Al mujahadah (kesungguhan) antara dia dan dirinya sendiri

(Tafsir Al Baghawi 1/325)


Memutuskan Tali Kekerabatan adalah Sebab Seseorang Masuk Neraka


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata, 


‏من أسباب دخول النار قطيعة الرحم وهي أن يقاطع الرجل قرابته فيمنع ما يجب لهم من حقوق بدنية أو مالية. (مجالس شهر رمضان لشيخ ابن عثيمين ص٢٠٠)


"Termasuk dari sebab masuk neraka adalah memutuskan hubungan rahim, yaitu seorang memutuskan kerabat-kerabatnya sehingga ia menahan apa yang wajib (ditunaikan) untuk mereka dari hak-hak badaniyyah (membantu atau mengunjunginya) atau hak-hak maaliyah (menafkahi atau bersedekah kepada mereka)".


(Majaalis Syahri Ramadhan, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 200)


Melakukan Amalan Mubah Bisa Mendapat Pahala

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "... Terkadang sesuatu yang pada asalnya mubah (perkara yang boleh) akan ternilai sebagai ketaatan, ketika seseorang yang mengamalkan perkara mubah itu meniatkannya untuk perkara kebaikan. Contohnya seorang yang meniatkan makan dan minumnya sebagai bentuk takwa karena didasari atas ketaatan kepada Allah. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Makan sahurlah kalian, karena pada sahur terdapat barakah. (HR. Bukhari dan Muslim)."


(Silahkan lihat Ta'liqat Arbain Nawawiyah-Syaikh Utsaimin pada hadits yang pertama)


Jangan Menyiksa Binatang


Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ


“Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk ke neraka. Dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya. Dia tidak pula melepasnya sehingga kucing itu bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma)


Faidah


1. Imam An Nawawi rahimahullah berkata,


وَفِيهِ وُجُوبُ نَفَقَةِ الْحَيَوَانِ عَلَى مَالِكِهِ 


"Wajibnya menafkahi hewan bagi pemiliknya". (Syarah Shahih Muslim An Nawawi, bab Tahrimu Qatlil Hirrah)


2. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,


فإذا عُذِّبت التي حبست الهرة فالذي يُعذِّب الإبلَ أو البقرَ أو الغنمَ أو الدجاجَ أو الحمامَ أولى وأولى


"Jika wanita tersebut disiksa karena mengurung seekor kucing, maka bagaimana dengan orang yang menyiksa seekor unta, sapi, kambing, ayam, atau burung merpati, tentu lebih parah lagi." (Syarah Riyadhish Shalihin, Syaikh Ibnu Baz, bab An Nahyu an Ta'dzibil Abdi wad Daabah wal Mar'ah wal Walad bi Ghairi Sababi Syar'i).


Tentunya bisa kita pahami, jika menyiksa binatang saja tidak boleh maka bagaimana lagi dengan menyakiti manusia, terlebih ketika dia adalah seorang muslim yang terjaga darah, harta dan kehormatannya. Wallahu alam.


Disunnahkan Berhias Ketika Ingin Shalat


Al Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, 


يستحب التجمل عند الصلاة ، ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد ، والطيب لأنه من الزينة ، والسواك لأنه من تمام ذلك . ومن أفضل الثياب البياض 


Disunnahkan untuk berhias ketika hendak menunaikan shalat, terlebih ketika hari Jum'at dan hari id (hari raya). Juga memakai wewangian, karena ini termasuk dari bagian zinah (berpakaian yang indah). Begitupun dengan siwak, karena ia termasuk penyempurna dari berhias, dan pakaian yang paling utama adalah yang berwarna putih." 


(Tafsir Ibnu Katsir jil. 2, hal 290, cet. Maktabah Imam Muslim 2017)


Doa Ketika mendengar Petir


Doa ketika melihat atau mendengar petir terdapat dua pilihan, yang pertama


Sebuah atsar dari Abdullah bin Az Zubair radhiallahu, yakni tatkala beliau mendengar petir, bekiau menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,


سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

 

Subhaanalladzii yusabbihurra'du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatih


"Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya". 


Kemudian beliau mengatakan,


إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ


”Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).



Adapun yang kedua adalah doa yang berasal dari sebuah riwayat dari Ikrimah yang mengatakan bahwasanya ketika Ibnu Abbas radhiallahuanhuma mendengar suara petir, beliau mengucapkan,


سُبْحَانَالَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ


Subhanalladzi sabbahat lahu


“Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya”


Lalu beliau mengatakan,


قَالَ: إِنَّ الرَّعْدَ مَلَكٌ يَنْعِقُ بِالْغَيْثِ، كَمَا يَنْعِقُ الرَّاعِي بِغَنَمِهِ


”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki untuk (mengatur/menggiring) hujan sebagaimana pengembala meneriaki kambingnya". (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).



Wallahu alam.

Semoga bermanfaat.


Jika Sudah Bertekad Beramal, Maka Lakukan


Fudhail ibn Iyadh rahimahullahu berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."


Imam An Nawawi menjelaskan, "Makna ucapan beliau rahimahullahu adalah barang siapa yang sudah bertekad untuk beribadah tapi kemudian meninggalkannya karena takut dilihat manusia, maka ini adalah riya, karena dia telah meninggalkan amal karena sebab manusia. Adapun kalau meninggalkannya karena ingin melakukannya di dalam keadaan khalwah (saat sepi) maka ini perkara yang mustahab (disukai).


Tapi perkara ini dikecualikan pada amalan yang fardhu (wajib) atau pada zakat yang wajib, dikecualikan juga pada keadaan seorang alim yang dijadikan panutan, jika seperti ini maka menampakkan ibadah itu lebih afdhal (utama)."


(Syarah Al Arbaun Nawawiyyah-Imam Nawawi, hal. 16, cet. Darul Mustaqbal 2005).

Dua Perkara yang Harus Diperhatikan ketika Mempunyai Pekerja


Menjadi bos atau pimpinan yang mempunyai bawahan tentunya suatu yang berat, disamping harus bisa mengatur pekerjaan dan memerintah suatu tugas, tentunya hak-hak bawahan atau karyawan mesti diperhatikan. 


Di antaranya adalah jangan memberi tugas atau pekerjaan yang di luar batas kemampuan mereka, namun hendaknya seorang pekerja diberikan tugas kerja yang diperkirakan mereka sanggupi. Tak hanya itu, seorang pimpinan hendaknya juga membantu para bawahannya untuk menjalankan dan menyelesaikan pekerjaannya, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam, dalam hadis Abu Dzar radhiallahuanhu bahwa Rasulullah bersabda:


وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ


“Janganlah kalian membebani mereka (bawahan/pekerja) yang mereka tidak sanggupi, dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, maka hendaklah bantu mereka.” (HR. Bukhari).


Kemudian termasuk perkara dasar yang mesti diperhatikan oleh seorang pimpinan kepada pegawainya adalah permasalahan gaji atau upah. Seorang yang telah bekerja hendaknya tidak ditunda-tunda pembayaran dari kerjanya, karena ada sebuah hadits dari shahabat Abdullah bin Umar radhiallahuanhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ


“Berikanlah oleh kalian upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani).


Banyak permasalahan yang terjadi antara pimpinan dan pegawai, ternyata pemicunya salah satunya adalah hal ini, oleh karenanya dibutuhkan saling komunikasi yang baik agar hubungan kedua belah pihak bisa menjadi harmonis karena seorang pegawai tidaklah ia bekerja kecuali mengharap imbalan atau bayaran dari hasil kerjanya.


Semoga yang singkat ini bisa sedikit memberikan manfaat, aamiin.