Selasa, 26 Juni 2018

Meremehkan Shalat akan Menghinakan Dirimu


Al Hasan al Bashri rahimahullahu berkata, "Wahai anak adam bagaimana kemuliaan dari agamamu akan diraih jika engkau telah meremehkan shalatmu?"

(Mausuah Ibnu Abi Dunia-Imam Ibnu Abi Dunia, jil. 1 hal. 341, cet. Al Maktabah al Ashriyyah Beirut).

Ketika Ada Syubhat, Maka Wajib Belajar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Terkadang seorang insan itu tidaklah diberikan udzur atas kebodohannya, yakni ketika dia dalam posisi yang memungkinkan untuk belajar akan tetapi dia malah tidak mau melakukannya, padahal pada dirinya telah terdapat syubhat.

Contohnya seorang yang dikatakan kepadanya: "ini haram", padahal dia meyakini bahwa itu adalah halal, maka minimalnya dia telah mendapat syubhat, dalam keadaan yang seperti ini dirinya harus belajar agar dia bisa mendapatkan hukum dengan yakin."

(Lihat Syarhul Mumti-Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 6, hal. 193-194).

Wahai Anakku Bukanlah Banyak Hadits, tapi Adab Mulia


Abu Muhammad Hubaib ibn Syahid al Bashri rahimahullahu pernah berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, merekalah para fuqaha dan ulama, belajarlah dari mereka, ambilah adab-adab dari mereka, karena yang demikian itu lebih aku sukai dibandingkan dengan banyaknya hadits."

(Sanadnya hasan, dinukil dari Tadzkiratus Sami wal Mutaallim-Ibnu Jama'ah rahimahullahu, hal. 32 Cet. Darul Basyairil Islamiyyah Beirut 2012)

Gambaran Lamanya Shalat Salah Seorang Salaf


Yahya ibn Wasab rahimahullahu pernah mengkhabarkan bahwa Ibnu Zubair radhiallahu anhu selalu sujud (ketika shalat malam) sampai burung-burung turun ke atas punggungnya, tidaklah burung-burung itu mengira (punggung Ibnu Zubair) kecuali dianggap sebuah bongkahan tembok."

(Az Zuhud-Imam Ahmad ibn Hanbal, hal. 358, cet. Dar Ibni Rajab).

Jangan Pernah Meremehkan Perkara Shalat


Umar radhiallahu anhu berkata, "Jika kalian melihat seorang menyia-nyiakan (meremehkan) shalat, maka demi Allah, keadaan dia terhadap perkara-perkara lain yang menjadi hak Allah akan lebih parah lagi untuk ditelantarkan."

(Mausuah Ibnu Abi Dunia-Imam Ibnu Abi Dunia, jil. 1 hal. 340, cet. Al Maktabah al Ashriyyah Beirut).

Orang Akan Butuh Kepadamu Jika...


Alqamah rahimahullahu menukilkan ucapan gurunya, Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu anhu, beliau berkata, "Tidaklah seorang itu merasa butuh kepada Allah melainkan Allah akan jadikan manusia merasa butuh kepadanya.

Tidaklah seorang beramal dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadanya, kecuali manusia akan butuh dengan apa yang ada di sisinya."

(Jamiu Bayanil Ilmi wa Fadhlih-Ibnu Abdilbar, dinukil dari Mukhtashar-nya hal. 178, cet. Darul Khair Beirut 1996).

Duduk Bersama Ahlul Hadits Lebih Disukai Dibandingkan dengan Bersama Keluarga


Sufyan ibn Uyainah berkata bahwa Mutharrif rahimahullahu pernah mengatakan, "Aku lebih menyukai duduk-duduk dengan kalian (para ahlul hadits) dibandingkan aku bersama keluargaku."

(Sanadnya shahih, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 132, cet. Darul Furqan 2008).

Ikatlah Ilmu, Lalu Sampaikan


Sulaim ibn Amir rahimahullahu bercerita, "Dahulu ketika kami belajar kepada Abu Umamah al Bahili radhiallahu anhu, beliau menyampaikan hadits yang banyak kepada kami dengan apa yang telah beliau dapat dari rasulullah.

Jika telah selesai, maka beliau berkata, "Ikatlah oleh kalian (catat/hafalkan) lalu sampaikanlah dariku sebagaimana aku telah menyampaikannya kepada kalian!."

(Sanadnya hasan, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 124, cet. Darul Furqan 2008).

Mendidik Anak untuk Sejak Dini Menghafal


Seorang yang mempunyai perangai yang baik dan yang sempurna akalnya maka dia akan memperhatikan anaknya.

Barang siapa yang diberikan rezeki dengan seorang anak, maka bersungguh-sungguhlah dalam mendidiknya, setelah itu barulah berharap taufik dari Allah taala.

Sudah sepantasnya bagi orang tua untuk membiasakan anak-anaknya untuk bisa bersih dan berthaharah (bersuci), juga mengenalkan adab-adab yang baik.

Jika anak sudah mencapai usia lima tahun, maka ajarilah dia dengan menghafal ilmu agama.. -ada teks yang dilewat-
...Karena menghafal di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu.

Ketika seorang anak sudah mencapai usia baligh dan dia didapati tidak memiliki tekad yang kuat untuk semangat terhadap ilmu agama, maka anak seperti ini tidaklah akan sukses (pada umumnya)."

(Disadur dari Al Hatsu ala Hifzhil Ilmi-Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Jami fil Hatsi ala Hifzhil Ilmi, hal. 239, Maktabah Ibni Taimiyyah 1991).

Tidak Menyebarkan Ilmu, Maka Ilmu itu tidaklah Bermanfaat


Ibnu Hibban rahimahullahu berkata, "Tidaklah aku melihat seorangpun yang bakhil terhadap ilmunya, melainkan akan berakibat tidak bermanfaat ilmunya sebagaimana tidak bermanfaatnya sebuah air yang tergenang di bumi selama tidak dimanfaatkan.

Tidaklah akan ada emas merah selama emas itu tidak dikeluarkan dari tempat pertambangannya, tidak akan pula ada sebuah mutiara yang bernilai mahal selama mutiara itu tidak dikeluarkan dari dalam lautan, demikian juga akan al ilmu, tidaklah bermanfaat ilmu itu selama ilmu tersebut didiamkan dan tidak disebarkan atau dibagikan faidahnya."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 21, cet. Darul Istiqamah 2010).

Sedikitnya Thalabul Ilmi yang Istiqamah


Abu Daud ath Thayalisi rahimahullah bercerita, "Pada suatu hari aku berada di pintu rumahnya Syubah dan tak jauh di sana terlihat ada sebuah masjid yang penuh dengan anak-anak kecil yang sedang belajar.

Ketika Syubah keluar rumah, beliau pun bersandar kepadaku dan berkata, "Wahai Sulaiman apakah menurutmu semua anak-anak yang sedang belajar itu kelak akan menjadi seorang muhaddits (ahlu hadits)?"
Aku menjawab, "Tidak."
Maka Syubah berkata, "Engkau benar, bahkan tidak sampai lima orang."
Aku langsung menimpali, "Lima?!"
Syubah menegaskan, "Ya, salah seorang dari mereka belajar di waktu kecil, tapi ketika sudah besar mereka malah meninggalkannya, salah seorang dari mereka belajar di waktu kecil, tapi ketika sudah besar, mereka malah tersibukkan dengan sesuatu yang merusak."
Beliau mengulang-ulang kata itu kepadaku.
Aku (Abu Daud ath Thayalisi) berkata, "Aku pun memperhatikan keadaan setelah itu dan ternyata benar, tidaklah mencapai lima orang dari mereka yang menjadi muhaddits."

(Disadur dari Al Hatsu ala Hifzhil Hadits-Khathib al Baghdadi, dinukil dari Al Jami fil Hatsi ala Hifzhil Ilmi, hal. 66, Maktabah Ibni Taimiyyah 1991).

Efek Negatif ketika Thalabul Ilmi tidak Bertujuan untuk Beramal


Ibnu Hibban rahimahullahu berkata, "Seorang yang berakal adalah seorang yang tidak menyibukkan diri dengan thalabul ilmi kecuali dengan maksud untuk mengamalkannya, karena barang siapa yang melakukan thalabul ilmi untuk sesuatu yang lain dari maksud yang telah kami sifatkan (yakni mengamalkan ilmu), niscaya akan bertambahlah kesombongan dan kecongkakkannya serta dia akan menjadi orang yang meninggalkan amal dan menyia-nyiakan dirinya (untuk beramal)."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 20, cet. Darul Istiqamah 2010).

Jangan Merasa Pede dan Merasa Cukup dengan Ilmumu


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata, "Suatu musibah yang besar adalah ketika seorang insan merasa ridha dengan keadaan dirinya dan merasa cukup dengan ilmunya, dan ini adalah ujian yang telah merata pada keadaan mayoritas orang.

Maka engkau bisa lihat hal ini pada orang-orang yahudi atau nashara yang memandang bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, mereka tidak mau menelaah, tidak juga mau melihat kepada dalil nubuwah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Jika mereka diperdengarkan dengan sesuatu yang bisa melembutkan hatinya semisal Al Quran yang mulia, mereka pun lari menghindar supaya tidak mendengarnya.

Demikian juga kepada orang yang telah memiliki hawa nafsu yang kuat, bisa berupa karena dia seorang yang mengikuti mazhab bapaknya dan keluarganya, atau bisa berupa adanya pendapat pribadi yang dia anggap benar, tanpa melihat dalil lain yang bisa membantahnya dan tidak mau melihat bahasan ulama yang sesungguhnya akan memberikan kepadanya pencerahan akan kesalahannya."

(Shayyidul Khathir-Ibnul Jauzi, hal. 374)

Sampaikanlah Hadits.. Kemarin, Sekarang dan Besok


Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, "Saling bermudzakarahlah kalian terhadap hadits ini dan jangan sampai terlupa, karena kedudukan hadits bukanlah seperti Al Quran. Al Quran itu terkumpul dan terhafal/terjaga. Jika kalian tidak raling bermudzakarah terhadap hadits ini, niscaya hadits itu akan terlupakan oleh kalian.

Janganlah salah seorang dari kalian berkata, aku telah menyampaikan hadits ini kemarin dan untuk hari ini aku tidak meyampaikannya, akan tetapi sampaikanlah hadits itu kemarin, sekarang dan besok."

(Sanadnya hasan, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 122, cet. Darul Furqan 2008).

Mengeraskan Suara ketika Menghafal


Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullahu berkata, "Seyogyanya bagi seorang yang belajar untuk mengangkat suaranya ketika belajar sampai suaranya terdengar oleh dirinya sendiri, karena apa yang dia dengar oleh telinganya akan membekas di dalam hatinya.

Oleh karenanya seorang manusia akan lebih teringat dengan apa yang dia dengar dibandingkan dengan apa yang dia lihat."

(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam'ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 37, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)

Tangga dari Ilmu


Ibnu Hibban rahimahullahu menyampaikan bahwa Sufyan ats Tsauri rahimahullahu pernah berkata, "Awal dari ilmu adalah diam, kemudian mendengarkan, lalu menghafal, kemudian mengamalkan dan selanjutnya menyebarkannya."

(Raudhatul Uqala-Ibnu Hibban, dinukil dari Al Muntaqa min Kitabi Raudhatil Uqala wa Nuzhatil Fudhala, hal. 20, cet. Darul Istiqamah 2010).

Menuntut Ilmu juga Butuh kepada Tawakal


Syaikh Abdullah Shalfiq hafizhahullahu berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Artinya:
"Jika seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah pasti akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung, yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang."
(HR. Tirmidzi dan Ahmad dari hadits Umar ibnul Khatthab radiallahu anhu, hadits dishahihkan oleh Imam al Albani).

Seagung-agungnya rezeki adalah al ilmu.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang senantiasa bertawakal dan selalu meminta pertolongan kepada Rabbnya di dalam semua urusannya."

(Ar Rakaizul Asyr li Tahshilil Ilmi-Syaikh Abdullah ibn Salfiq azh Zhafiri hafizhahullahu, hal. 10, cet. Darush Shahabah 2014).

Menjaga Hadits dengan Selalu Memudzakarah-nya.


Ali ibn Abi Thalib radhiallahu anhu berkata, "Saling kunjung-mengunjungilah kalian dan saling bermudzakarah hadits-lah kalian, karena jika kalian tidak melakukannya, niscaya hadits itu akan hilang."

(Sanadnya shahih, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 121, cet. Darul Furqan 2008).

Dunia Hanya Sekedar Sarana


Asy Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata, "Apabila seorang hamba menjadi budaknya dinar dan dirham, menjadi hamba bagi dunia, maka celakalah hamba tersebut.

Namun apabila (dia menjadikan dunia itu) sebagai pembantu dan (dia mampu) menundukkannya, serta menjadikan dunia itu diposisikan hanya sebagai tunggangan yang mengantar seperti burung merpati sebagaimana burung itu membantunya dalam menunaikan hajatnya, maka inilah senikmat-nikmatnya seorang hamba."

(Az Zuhdu fid Dunia war Raghbah fil Akhirah-Syaikh Rabi ibn Hadi al Madkhali hafizhahullahu, hal. 15, cet. Al Miratsun Nabawi 2012).

Inilah Ulama yang Menjadikan Membaca Hadits sebagai Obat


Muhammad ibn Makhlad rahimahullahu berkata kepada Abul Hasan ad Daruquthni rahimahullahu, "Dahulu Ahmad ibn Manshur ar Ramadi rahimahullahu jika dirinya terasa mengeluhkan sesuatu (gundah), maka beliau berkata, "Datangkanlah oleh kalian para ashabul hadits", ketika mereka datang maka beliau berkata, "Bacakanlah kepadaku sebuah hadits!"

(Sanadnya shahih, di nukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 113, cet. Darul Furqan 2008).

Adanya Ulama adalah Suatu Kenikmatan yang Menjaga Agama Ini


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, "Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah taala, dan ketahuilah bahwasanya termasuk sebesar-besarnya kenikmatan atas kalian adalah dijaganya agama ini oleh orang-orang yang mukhlisin (ikhlas), yaitu para ulama, dimana mereka adalah:

Menjadi contoh bagi manusia untuk diteladani,
Menjadi pemimpin yang membimbing manusia,
Merupakan sumber rujukan pengetahuan bagi umat,
Menjadi cahaya yang menerangi manusia dari gelapnya kezhaliman.

Maka sesungguhnya keberadaan mereka (para ulama) bagi umat adalah sebagai penjaga agama."

(Lihat Adh Dhiyaul Lami-Syaikh Utsaimin, hal. 19, cet. Maktabatush Shafa 2005).