Jumat, 16 Juni 2023

Menjaga Pakaian Syar'i Sejak Dini

 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

من المعلوم أن من دون سبع سنين لا حكم لعورته، لكن تعويد الصبيان والأطفال على الألبسة الخالعة القصيرة لا شك أنه سيهون عليهم كشف العورة في المستقبل،بل ربما لا يستحي الإنسان إذا كشف فخذه؛ لأنه كان يكشفه صغيرا ولا يهتم

"Sudah diketahui bahwa umur di bawah tujuh tahun tidak ada hukum bagi auratnya, akan tetapi membiasakan anak-anak untuk mengenakan pakaian yang terbuka dan pendek, maka tidak diragukan lagi kelak mereka akan merasa ringan untuk membuka auratnya, bahkan terkadang seorang insan tidak malu jika tersingkap pahanya karena ketika masa kecilnya terbiasa menyikapnya dan tidak memperdulikan hal tersebut".

(Majmu'atu as'ilati tahummul 'Usratal Muslimah, hal. 146)

Enam Tanda Kemunafikan dari Amalan Shalat Seseorang



Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,

ست صفات في الصلاة من علامات النفاق : الكسل عند القيام بها, وتأخيرها, ونقرها, وقلة ذكر الله فيها, ومُراءات الناس في فعلها, والتخلف عن جماعتها

Enam sifat di dalam shalat yang termasuk tanda-tanda kenifakkan:
1. Malas di dalam menegakkannya
2. Mengakhir-akhirkan di dalam penunaiannya
3. Cepat di dalam mengerjakannya
4. Sedikit berdzikir di dalam shalatnya
5. Ingin dilihat di dalam melaksanakannya
6. Tertinggal dari jama'ah shalat

(Shalat-Ibnul Qayyim, 80)
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com
#akidah

Berbakti kepada Ibu di Masa Tuanya dengan Melayani Apa yang Menjadi Kesukaannya


Seorang ulama besar dari generasi tabiin menasehati kita dengan ucapannya,

أن الله جعل الجنة ثمنا لأنفسكم فلا تبيعوها بغيرها

"Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan surga itu sebagai harga untuk diri kalian, maka janganlah engkau menjual dirimu untuk selainnya".

Siapakah dia? Dia adalah Muhammad bin Ali bin Abi Thalib al Hanafiyyah.

Al Imam Adz Dzahaby rahimahullahu di dalam Siyar Alamunnubala (4/111) menyatakan bahwa Muhammad al Hanafiyyah terlahir dari seorang ibu yang bernama Khaulah bintu Ja'far al Hanafiyyah. Sebelum dinikahi oleh Ali, Khaulah adalah salah seorang tawanan perang Yamamah. Asma bintu Abi Bakr saat itu mengkhabarkan,

رأيت الحنفية وهي سوداء ، مشرطة حسنة الشعر

"Aku melihat melihat Al Hanafiyyah (Khaulah) adalah seorang wanita yang berkulit hitam namun rambutnya indah terikat".

Menunjukkan bahwa Khaulah adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan rambutnya.

Ketika Khaulah sudah renta, Muhammad pun tidak membiarkan perilaku ibundanya begitu saja. Beliau sangat memahami bahwa ibunya sangat perhatian terhadap keindahan rambutnya, maka sebagai panutan umat sekaligus seorang anak yang berbakti kepada ibunya, beliaupun tidak melewatkan begitu saja kesempatan untuk membahagiakan sang ibu dengan membantu menyemirkan rambut putihnya sang ibu.

Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad (5/86), Shalih bin Misam menyatakan,

رَأَيْتُ فِي يَدِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ ابن الْحَنَفِيَّةِ أَثَرَ الْحِنَّاءِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: كُنْتُ أُخَضِّبُ أُمِّي

"Aku melihat di tangannya Muhammad bin Ali bin al Hanafiyyah terdapat bekas al hinna (semacam tumbuhan yang digunakan untuk menyemir rambut)". Aku pun bertanya kepadanya, "Apa ini?". Maka beliau menjawab, "Aku habis menyemir rambut ibuku".

Bahkan di kitab yang sama, Abu Ya'la rahimahullahu menegaskan,

أَنَّهُ كَانَ يُذَوِّبُ أُمَّهُ وَيُمَشِّطُهَا

"Bahwasanya beliau selalu menyemirkan rambut ibunya dan menyisirnya".

Wahai seorang yang ingin berbakti kepada sang ibu, sudahkah kita mengetahui perkara apakah yang menjadi perhatiannya?

Jika sudah tahu, mengapa diam saja?

Tidakkah kita mau mencontoh akhlak seorang tabiin besar Muhammad Al Hanafiyyah yang selalu menyayangi ibundanya dengan melayani apa yang menjadi kesukaannya?

Mungkin terasa berat, namun jika diri ini engkau jual untuk surga, insyaallah semoga diringankan.

Jangan Lelah dalam Beramal

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam Surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang mengganggu manusia”. (HR. Muslim).

Terkesan amalan remeh namun terbalas dengan surga. Bisa jadi kita tidak menganggapnya amalan luar biasa, namun ketika amalan itu ikhlash, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil menyatakan,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya ia akan melihatnya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Amalan yang mungkin kita lupakan, ternyata Allah jalla wa 'ala tidak lupa. Di hari kiamat pasti tidak akan terlewat.

Maka janganlah remehkan sekecil apapun amalan-amalan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang ceria kepadanya. Sesungguhnya amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Oleh sebab itu, jangan remehkan setiap amalan. Terlebih ketika amalan itu merupakan bagian dari ibadah-ibadah yang wajib. 

Letihnya kita berdiri ketika shalat..

haus dan laparnya kala kita berpuasa..

lelahnya badan dan pikiran dalam mencari nafkah..

beratnya raga dan batin di dalam mengurusi orang tua yang telah renta..

capeknya mengajari dan mendidik anak..

Bahkan ketika kita terlibat berta'awun di dalam dakwah, baik menjadi panitia kajian atau menjadi panita ifthar Ramadhan di mahad..

Yakinlah, ketika ikhlash di kerjakan, semuanya akan kita petik manisnya kelak di akhirat.

Terlebih jika amalan-amalan itu merupakan rutinitas kita, masyaallah.. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang rutin walaupun itu sedikit". (HR. Muslim).

Jadi, jangan lemah untuk beramal. Apapun amalanmu teruslah lakukan, walaupun remeh dan sedikit. Karena kita tidak tahu amalan yang manakah yang paling ikhlash yang bisa kita lakukan.

Jika yang terkesan remeh saja bisa diganjar surga, apatah lagi amalan yang lainnya!

Majelis Ilmu pun Dihentikan karena Perintah untuk Memberi Makan Ayam

 


Abu Zur'ah, Haiwah Ibnu Syuraih. Seorang imam rabbani, al fakih dari negeri Mesir. Orang-orang besar semisal Ibnul Mubarak, Ibnu Wahb, Abu Ashim dan para tokoh-tokoh ahlu hadits lainnya menimba ilmu dari beliau. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai beliau di sisi ilmu hadits. Sampai-sampai Imam Ahmad dan para ulama lainnya memberi predikat tsiqah terhadap dirinya.

Di antara keistimewaan Haiwah adalah sebagaimana yang Ibnu Wahb nyatakan, "Dahulu beliau dikenal dengan seorang yang diijabahi doanya".

Namun orang besar selevel Haiwah, di dalam memperlakukan ibunya tidak ada kompromi. Di hadapan ibunya, Haiwah masih memposisikan dirinya seorang anak kecil yang siap disuruh-suruh kapanpun ibunya mau.

Dalam kitab Al Adabusy Syaria'ah karya Ibnu Muflih dan kitab Birrul Walidain karya Abu Bakr at Thurthusyi (hal. 26, cet. Darul Istiqamah) dikisahkan,

كان حيوة بن شريح يقعد في حلقته يعلّم الناس، فتقول له أمه: قم يا حيوة، فألق الشعير للدجاج، فيترك حلقته ويذهب لفعل ما أمرته أمه به.

Dahulu Haiwah ibn Syuraih pernah di suatu hari sedang duduk-duduk bermajelis mengajari manusia. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, "Bangun kau wahai Haiwah, tebarkanlah gandum untuk ayam". Maka Haiwah pun segera meninggalkan majelisnya dan pergi untuk menunaikan apa yang diperintahkan ibunya".

Masyaallah... The power of emak-emak! Tak pandang situasi dan kondisi. Jika ingin merintah, maka perintahpun turun tanpa lihat-lihat. Namun inilah akhlak ulama salaf. Ketika ibunya sudah meminta, maka tak ada satu kata pun keluar untuk menyanggah atau alasan untuk menunda. Haiwah tanpa malu dan berat segera meninggalkan majelis ilmunya dan menaati perintah ibunya, subhanallah!

Bayangkan jika kita di posisi Haiwah. Mungkin kita akan merasa berat dan malu untuk seperti Haiwah. Berat karena perintah ibu bertepatan dengan aktifitas atau jadwal taklim kita. Malu karena yang diperintahkan sesuatu yang remeh, memberi makan ayam! Di hadapan murid-muridnya pula!

Saudaraku, pernahkah kita berada di posisi Haiwah? Jika ya, masih ingatkah apa yang kita perbuat? Nas'alullaha salaamah wal aafiyah.

Birrul Walidain, Salah Satu Buah Manis dari Sebuah Ilmu

 

Al Abbar. Nama beliau adalah Abul Abbas Ahmad ibn Ali ibn Muslim Al Abbar.

Imam Adz Dzahabi menyatakan bahwa Al Abbar adalah al hafizh, al mutqin, al imam, ar rabbani. Bahkan Imam Khathib al Baghdady memberi pujian kepada Al Abbar dengan predikat tsiqah, hafizh, mutqin dan bagus mazhabnya.

Imam Al Abbar rahimahullah pernah memberikan cerita kepada salah seorang muridnya yang bernama Ja'far al Khuldi rahimahullah tentang tingginya kedudukan berbakti kepada seorang ibu.

Jafar al Khuldi rahimahullahu menuturkan,

كَانَ الأَبَّار مِنْ أَزهد النَّاس، اسْتَأَذَنَ أُمَّه فِي الرِّحْلَةِ إِلَى قُتَيْبَة، فَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، ثُمَّ مَاتَتْ، فَخَرَجَ إِلَى خُرَاسَانَ، ثُمَّ وَصَلَ إِلَى بَلْخ وَقَدْ مَاتَ قُتَيْبَة، فَكَانُوا يُعَزُّونَه عَلَى هَذَا، فَقَالَ: هَذَا ثمرَةُ العِلْم، إِنِّيْ اخترتُ رِضَى الوَالِدَة

"Dahulu Al-Abbar termasuk orang yang paling zuhud. Beliau meminta izin kepada ibunya untuk melakukan rihlah (safar untuk belajar ilmu) ke hadapan Imam Qutaibah, akan tetapi ibunya tidak mengizinkannya. Kemudian ibunya pun wafat. Al Abbar pun lalu keluar menuju negeri Khurasan dan kemudian sampailah beliau di di kota Balkha dan ternyata mendapati Qutaibah telah wafat, dan orang-orang pun menguatkan dirinya atas hal ini. Al Abbar berkata, "Inilah buah dari ilmu. Sesungguhnya aku memilih keridhaan ibuku".

Inilah kisah beliau di dalam birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Di dalam kisah di atas dengan tegas Imam Al Abbar menerangkan bahwa menaati perintah seorang ibu adalah salah satu buah dari ilmu.

Untuk apa kita thalabul ilmi? Untuk apa kita banyak menghadiri kajian atau mendengarkan taklim-taklim agama?
Tentu untuk mengamalkannya bukan?!
Bukankah kita ingin jadi anak yang shalih?
Bukankah kita juga kelak menginginkan anak keturunan menjadi shalih juga?

Maka inilah pelajaran dari seorang imam rabbani, yakni menomorsatukan perintah ibu (selama tidak berbenturan dengan aturan syariat).

Sebagian para ulama menyatakan, bahwa dengan Al Abbar dengan berbuat demikian (birrul walidain), Allah ta'ala pun membukakan pintu-pintu barakah ilmu kepada Al Abbar rahimahullahu.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapatkan pahala melimpah dan keberkahan di dalam hidup, mulailah untuk lebih perhatian dan fokus lagi di dalam membaktikan diri kepada kedua orang tua, terkhusus kepada seorang ibu.

Wallahu alam, semoga bermanfaat.

(Kisah Al Abbar bisa dilihat pada kitab Siyar Alamunnubala 13/443, Tarikh Al Baghdadi 4/306 dan Tadzkiratul Huffazh 2/662).

Keutamaan Teman yang Shalih




Syahru ibn Hausyib rahimahullah berkata, bahwa Abu Darda radhiallahuanhu menyatakan,

إن العبد المسلم ليغفر الله له وهو نائم قال: قلت: وكيف ذاك يا أبا الدرداء؟ قال: يقوم أخوه من الليل فيتهجد فيدعو الله فيستجيب له ويدعو لأبيه فيستجيب له

"Sesungguhnya seorang muslim akan Allah beri ampunan kepadanya padahal ia sedang tidur".

Saya (Syahru ibn Hausyib) bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi wahai Abu Darda?"

Abu Darda menjawab, "Saudaranya bangun di malam hari dan ia shalat malam. Ia pun berdoa kepada Allah (untuk ia dan untuk saudaranya tersebut) dan doanya dikabulkan, ia pun berdoa kepada Allah untuk ayahnya dan doanya pun dikabulkan".

(Az Zuhd-Imam Ahmad ibn Hanbal, 264)

Betapa Beruntungnya jika Allah Sudah Ridha

Syaikh As Sa'dy rahimahullahu berkata, 


وإذا رضي الله عن العبد؛ قَبِلَ اليسير من عمله ونمّاه، وغفر الكثير من زلَلِه ومحاه.

Jika Allah taala telah ridha kepada seorang hamba, maka Allah akan menerima yang sedikit dari amalannya dan akan dikembangkan amalannya tersebut, serta akan mendapat ampunan yang banyak dari kesalahan dan Allah akan menghapuskan kesalahan tersebut.

(Taisirul Lathifil Mannan, Syaikh As Sa'dy, 1/48)

Pendidikan Generasi Muda Tanggung Jawab Kita Semua


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata,

الأم والأب والمعلم والمجتمع مسؤولون أمام الله عن تربية هذا الجيل . ، فإن أحسنوا تربيته سعد، وسعدوا في الدنيا والآخرة، وإن أهملوا تربيته شقي، وكان الوزر في أعناقهم

"Seorang ibu, ayah, pengajar dan masyarakat sekitar, kelak akan bertanggung jawab di hadapan Allah ta'ala dari pendidikan generasi ini. Jika mereka baik di dalam pengajarannya, maka generasi tersebut akan bahagia dan para pengampu tanggung jawab tersebut akan bahagia pula di dunia dan akhirat. Namun jika mereka melalaikan tarbiyahnya maka akan generasi tersebut celaka, dan dosa ini berada di pundak-pundak mereka".

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, 22)


Tidak Ikhlash maka Tidak Bermanfaat dan akan Hilang


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,

ما لم يكن لله لا ينفع ولا يدوم

Apa yang tidak diperuntukkan untuk Allah maka tidak akan bermanfaat dan langgeng

(Ar Risalah at Tadmuriyyah, 232)


Sesuatu yang Dilandasi Keikhlasan Maka akan Tetap Ada


Keikhlasan tidak akan muncul begitu saja tanpa diiringi dengan ilmu. Maka untuk mewujudkan keikhlasan, dibutuhkan keseriusan dan keistiqamahan di dalam thalabul Ilmi. Walau terkadang amalan thalabul ilmi-nya itu sendiri di dalam menjalankannya mungkin masih belum ikhlas. Hisyam ad Dustuwa'iy rahimahullahu berkata,

والله ما أستطيع أن أقول: إني ذهبتُ يومًا قطُّ أطلبُ الحديث أُريدُ به وجهَ الله - عزَّ وجلَّ.

Demi Allah, aku tidak sanggup untuk mengatakan: Sesungguhnya aku pergi pada satu hari saja untuk menuntut ilmu hadits mengharapkan wajah Allah azza wa jalla". 

Ucapan di atas menunjukkan keikhlasan adalah bukan perkara yang main-main. Namun dengan sikap kesungguhan di dalam menjaga kesimbambungan dalam thalabul ilmi, insyaallah lambat atau cepat, Allah ta'ala akan berikan sifat ikhlas itu pada dirinya. Rabi ibnu Khutsaim rahimahullah berkata,

ما لا يُبْتغى به وجْهُ الله - عزَّ وجلَّ - يضمحلّ.

"Segala hal yang tidak ditujukan dengannya wajah Allah azza wa jalla, maka akan sirna".

Maka dengan ucapan di atas bisa memberikan kita pelajaran bahwa tanda amalan yang tidak ikhlas, adalah amalan yang lambat laun akan hilang dan sirna. Oleh karenanya semakin lama seseorang mengenal hidayah ilmu, semestinya semakin lama bukan semakin turun dan merosot semangat talabul ilmi-nya, namun tetap sama baik di awal maupun sekarang, bahkan hingga nanti. Tetap thalabul ilmi!

Imam Malik pernah ditanya perihal karya beliau Al Muwatha'. Mengapa menyusun kitab tersebut padahal telah banyak ada kitab-kitab yang semisal. Maka beliau menjawab

ما كان لله بقي

"Sesuatu yang dilandasi karena Allah, pasti akan lebih langgeng."

Nyatanya, banyak manfaat dari karya Imam Malik tersebut. Bahkan para Imam setelahnya, semisal Imam Syafi'i dan Abdurrahman bin Mahdi sangat memuji keberadaan Al Muwatha'.

Maka perlu kita tanyakan kepada diri-diri kita masing-masing:

Apa motivasi kita membaca dan menghafal Al-Qur'an? Jika ia ikhlas pasti ia akan sabar di dalam membaca atau menghafal Al-Qur'an. Bahkan sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah azza wa jalla, ia tidak bosan atau jenuh di dalam melantunkan kalam-kalamNya.

Apa motivasi kita dalam berinfak dan bersedekah? Jika ia ikhlas, maka ia akan terus menjaga apa yang ia telah keluarkan sebelumnya.

Apa motivasimu di dalam menuntut ilmu?

Percayalah, suatu kebaikan jika diiringi dengan keikhlasan maka hasil dari kebaikan tersebut akan tetap ada, langgeng dan bertahan.

Abu Bakar bin Khalal, adalah seorang tokoh mazhab Imam Ahmad yang menulis semua ucapan Imam Ahmad terkait masalah fikih, hadits dan ilmu-ilmu lainnya, pergi dari negeri satu ke negeri lainnya dalam rangka menemui murid-murid Imam Ahmad. Satu demi satu beliau catat ucapan-ucapan Imam Ahmad hingga terkumpulah susunan fatwa-fatwa Imam Ahmad sebanyak 20 jilid, dan dinamakan kitab tersebut Al jami' fil fiqhi li Imam Ahmad. Di mana di dalam kitab tersebut mencakup pula 3 jilid tentang masalah 'Ilal hadits dan 3 jilid terkait masalah sunnah.

Yang menarik pada kisah di atas adalah bagaimana Al Imam Ahmad sangat melarang para murid-muridnya untuk menulis ucapan-ucapan beliau dan Imam Ahmad hanya mengizinkan menulis Al-Qur'an dan hadits-hadits nabi dari lisan beliau. Akan tetapi ketika hal itu didasari dengan keikhlasan maka Allah melanggengkan ucapan-ucapan Imam Ahmad melalui abu Bakar bin Khalal, di mana beliau mengumpulkan serpihan-serpihan ucapan imam Ahmad yang yang telah dihafal oleh para murid-muridnya ke dalam sebuah susunan kitab.

Maka sebagai bahan renungan untuk kita, jawablah dengan jujur oleh diri-diri kita,

Untuk apa selama ini kita berta'awun di dalam dakwah, membuat poster-poster dakwah, menyebarkan kajian atau faedah-faedah ilmu?

Tujuan apakah kita selama ini mengajari anak-anak kaum muslimin di tempat-tempat belajar mereka?

Inilah pentingnya kita saling mengingatkan diri-diri kita untuk senantiasa ikhlas di dalam setiap amalan.

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.
Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002


Ikhlash Itu akan Terwujud dengan Rajin Thalabul Ilmi



Telah banyak ucapan salaf tentang betapa beratnya menjaga keikhlasan. Mereka menggambarkan betapa seriusnya urusan ini, karena begitu cepatnya niat ini berubah-rubah dikarenakan banyaknya faktor-faktor yang bisa membelokkan niat ikhlas. Imam Sufyan ats Tsauri rahimahullahu berkata,

ما عالجت شيئاً أشد علىَّ من نيتي

"Tidaklah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat ketimbang masalah niatku".

Halus tak terasa, ternyata niat itu telah sirna. Tidak terucap namun bisa dilihat dari sikap, ternyata keikhlasan itu telah lenyap.

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata,

ما أحسن الصدق

"Duhai, betapa indahnya kejujuran"

Kata ini beliau ucapkan ketika ada seorang yang bertanya kepada Ibnu Juraij rahimahullahu, " Untuk siapakah Anda menuntut ilmu?"
Maka Ibnu Juraij menjawab,

طلبت العلم للناس

"Aku menuntut ilmu untuk manusia".

Imam Adz Dzahabi rahimahullahu memberikan keterangan pada ucapan di atas,

واليوم تسأل الفقيه الغبي فيبادر: طلبته لله، ويكذب، إنما طلبه للدنيا.

"Dan pada hari ini, jika engkau bertanya kepada ahli fikih yang ghabi (yang sejatinya bukan ahli fikih), niscaya mereka akan cepat menjawab, "Aku menuntut ilmu karena Allah". Dan mereka telah berdusta karena sebenarnya mereka menuntut ilmu untuk dunia." (Lihat As Siyar: 6/328).

Imam Adz Dzahabi memuji jawaban Ibnu Juraij yang jujur bukan tanpa alasan, karena para ulama salaf yang lain juga menjawab dengan jawaban yang sama, semisal Al Walid ibnu muslim, Al Auza'i, Sa'id ibnu Abdul Aziz, mereka menjawab "Saya menuntut ilmu bukan karena Allah (tidak ikhlas)". Mereka telah jujur dengan ucapan-ucapannya.

Mereka mengakui bahwa dahulu ketika mereka di awal belajar mereka tidak ikhlas di dalam niatnya, Imam Mujahid ibnu Jabr rahimahullahu berkata,

طَلَبْنَا هَذَا العِلْمَ وَمَا لَنَا فِيهِ كَبِيرُ نِيَّةٍ، ثُمَّ رَزَقَ اللهُ بَعْدُ فِيهِ النِّيَّةَ

Kami menuntut ilmu ini, dan tidaklah di dalam prosesnya terdapat niat ikhlas (pada awalnya), tapi kemudian Allah menganugerahi kami niat (keikhlasan) setelahnya".

Ma'mar ibnu Rasyid rahimahullahu berkata,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَطْلُبُ العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَيَأْبَى عَلَيْهِ العِلْمُ حَتَّى يَكُونَ للهِ

Sesungguhnya seorang lelaki akan menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itupun enggan hingga ia menjadikannya (dalam menuntut ilmu) untuk Allah."

Maka dengan ucapan-ucapan salaf di atas, bagaimana dengan kita? Mungkin akan terlontar jawaban-jawaban beragam.

"Demi membahagiakan orang tua"
"Senang dengan ilmu"
"Biaya di mahad salafy itu murah ketimbang di tempat lain"

Dan jawaban-jawaban lainnya yang masing-masing mempunyai alasan dan kepentingan tersendiri.

Namun jawaban-jawaban semisal adalah wajar, karena memanglah demikian perjalanan di dalam thalabul ilmi. Di awal bisa jadi tidak ada niat ikhlas, namun di tengah proses belajarnya, mungkin Allah ta'ala anugerahi kesadaran pada dirinya bahwa keikhlasan mesti ada di dalam amalannya, dan bisa jadi pula ilmu yang tengah ia pelajari ternyata mengajari dan membimbingnya kepada keikhlasan.

Oleh karenanya jangan tertipu dengan syubhat-syubhat yang menyatakan,

"Ngapain kamu belajar? Nanti berat loh bebanmu di akherat kalo nggak ikhlas."

Belajar nggak usah dalem-dalem amat, cukup sekedarnya saja karena semakin banyak ilmu maka kamu semakin berat untuk mengamalkannya".

Syubhat-syubhat seperti ini adalah keliru!

Karena bagaimana seorang akan mewujudkan keikhlasan, jika keadaan dirinya bodoh tak berilmu?!

Bagaimana ia akan bisa ikhlas kalau dirinya tidak thalabul ilmi?!

Maka jika ada yang mengklaim keikhlasan padahal ia jauh dari majelis ilmu atau meninggalkan thalabul ilmi, ketahuilah bahwa itu hanya omong kosong.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

(Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002)

Apakah Guru-guru Anak Anda Mengajarkan Hal-hal Ini?


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata, "Kewajiban seorang pengajar dan pendidik

1. Mengajarkan anak kecil untuk mengucapkan kalimat:

لا اله إلا الله، محمد رسول الله
(Laailahaillallah, Muhammad Rasulullah)
Dan memahamkan dirinya akan makna kalimat tersebut ketika dia sudah besar dengan makna:

لا معبود بحق إلا الله

Artinya: Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja.

2. Menumbuhkan kecintaan kepada Allah ta'ala dan menumbuhkan keimanan kepada-Nya di dalam hati seorang anak, karena sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan kita, yang memberikan rezeki kepada kita dan yang menghidupkan kita saja, tiada sekutu bagi Allah (dalam hal tersebut).

3. Mengajarkan anak-anak untuk meminta kepada Allah dan meminta pertolongan kepada Allah saja, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada keponakannya (yakni Ibnu Abbas),

إذا سالت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

"Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau ingin meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah" (HR. Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 23)

Melihat Kemungkaran... Apakah Mutlak Perlu Penjelasan Dahulu Baru Mengingkari?

Seorang penanya bertanya, "Jika kami melihat suatu kemungkaran -yakni mempersaksikan kemungkaran- apakah kami harus segera mengingkarinya atau kami meminta penjelasan dahulu?

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullahu menjawab,

هكذا يبدأ تمييع الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يقال لهم: لا تبادروا، خلو الناس، لا تنفروا الناس، لا تقولوا: هذا حلال، هذا حرام، هذه بدعة - تنفروا الناس- لا، اعمل بقول عليه الصلاة والسلام:(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده) احفظ الدرجات لا تبادر إلى إنكار المنكر باليد في غير سلطتك، فإذا كنت في محل سلطتك في بيتك سلطة في إدارته في مكتبه في مركزه يزيل المنكر باليد ومن ليس لديه سلطة ينكر المنكر باللسان ثم بالقلب؛ ولكنه لا يؤخر لابد أن ينكر.

"Demikianlah awal dari sifat lembek dalam mengajak yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, dikatakan oleh mereka (orang-orang yang lembek tersebut), "Jangan kalian terburu-buru, tunggu manusia sudah sepi, jangan membuat manusia lari, jangan engkau mengatakan ini halal, ini haram, ini bidah, karena dengan begitu niscaya engkau akan membuat lari manusia".

Tidak! Akan tetapi amalkan dengan berdasar sabda dari nabi shallallahu alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya.." Jagalah urutannya, jangan terburu-buru untuk mengingkari kemungkaran dengan tangan tanpa adanya kekuasaan pada dirimu.

Jika engkau berada di ranah kekuasaanmu, di rumahmu ada kuasa, di kantornya, di ruang bacanya atau di markiznya, maka ia hilangkan kemungkaran dengan tangan.

Barang siapa yang tidak memiliki kekuasaan maka ingkari kemungkaran dengan lisannya kemudian dengan hatinya, akan tetapi janganlah mengakhirkan (mengingkari kemungkaran) sesuatu yang harus ia segera ingkari."

(Al Ajwibatudz Dzahabiyyah alal As'ilatil Manhajiyyah, Syaikh Muhammad Aman al Jami, pertanyaan no 11)

Dosa, Segeralah Bertaubat!

 Faidah Tausiyah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Ibrahim ibn Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 9 Syaban 1443H / 12 Maret 2002


1. Manusia sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai makhluk yang sering melakukan kesalahan dan dosa. Ini merupakan ketetapan Allah yang penuh dengan hikmah. Diantara hikmahnya adalah ketika seorang hamba berbuat salah atau melakukan dosa, maka ketika ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya menaikan derajatnya serta dimuliakan.

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah bagi mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzy dan selainnya, hadits dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Yang menjadi perhatian penting pada hadits di atas adalah bagaimana bimbingan Allah subhanahu wa ta'ala melalui lisan nabinya shallallahu alaihi wasallam bahwa ketika manusia terjatuh kepada kesalahan atau dosa maka iapun dibimbing untuk bertaubat agar ia menjadi orang yang lebih baik lagi.

3. Allah subhanahu wa ta'ala adalah Dzat Yang Maha Rahmah, dan diantara bentuk rahmatnya Allah adalah bimbingan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat, karena dosa-dosa seorang hamba sejatinya adalah memudharatkan (merugikan) dirinya sendiri. Allah azza wa jalla berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An Nuur: 31)

Maka dengan rahmatNya yang luas, Allah subhanahu wa ta'ala terus-menerus menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah ta'ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar :53)

4. Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menunggu taubatnya seorang hamba siang dan malam, maka janganlah menyia-nyiakan kesempatan ini, karena bertaubat adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap hamba sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunlah kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dan minta ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." (HR. Ahmad dan selainnya, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Di saat adanya kemudahan untuk kita bertaubat, marilah segeralah kita untuk bertaubat, karena bisa jadi kemudahan-kemudahan yang ada saat ini akan hilang, dan ketika kesempatan itu telah hilang, maka kitalah yang akan merugi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Menikah untuk Selamanya, bukan Sementara

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 3 Syaban 1443H / 6 Maret 2002


1. Menikah adalah memenuhi setengah keimanan, maka barang siapa yang telah menikah, berarti ia telah menunaikan setengah keimanannya.

2. Ketenangan hati dan ketentraman hidup bagi seorang mukmin adalah suatu yang dituntut. Maka ketika semua itu telah didapat oleh seorang mukmim niscaya kebahagiaan akan meliputi dirinya, dan di antara tujuan menikah adalah untuk mentrentramkan hati. 

3. Keluarga sakinah adalah keluarga yang diberikan kemudahan-kemudahan di dalam melakukan ketaqwaan, maka dibutuhkan ta'awun (saling menolong) di antara suami dan istri. Jangan sampai sang suami ingin thalabul ilmi, tapi sang istri tidak mendukungnya, begitupun sebaliknya, jangan sampai ketika sang istri meminta diantarkan ke majelis ilmu, sang suami enggan mengantarkan.

4. Masing-masing dari kita adalah pemimpin, maka suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Adapun sang istri pemimpin bagi anak-anaknya, dan penjaga kehormatan serta penjaga harta di rumah ketika suaminya tidak ada di rumah.

5. Masing-masing pasangan mempunyai hak-hak dan kewajiban, namun jika salah satunya tidak menunaikan kewajibannya, tidak berarti menjadikan salah satunya membalas dengan tidak menunaikan kewajibannya juga. Akan tetapi hendaklah masing-masing sadar bahwa ketika mereka menunaikan kewajiban atau memenuhi hak-hak pasangannya adalah karena mengharap wajah Allah ta'ala saja.

6. Janganlah seorang suami banyak menuntut kepada istrinya, begitupun istrinya, jangan sampai ia banyak menuntut kepada suaminya.

7. Saling memuji adalah termasuk sunnah nabi, maka panggilah pasangannya dengan panggilan yang baik. Seorang suami atau seorang istri tidak boleh menjatuhkan kehormatan atau mengumbar aib pasangannya, karena hal itu adalah sebuah dosa yang akan merusak hubungan pernikahan.

8. Saling husnuzhan adalah termasuk bagian penting di dalam menjaga keharmonisan keluarga, jangan masing-masing pasangan saling curiga dan saling memata-matai.

9. Termasuk perkara yang bisa melanggengkan hubungan pernikahan adalah masing-masing pasangan mempunyai sifat qana'ah (merasa cukup). Sifat qana'ah di sini bukan pada masalah harta saja, namun bisa kepada masalah akhlak atau rupa. Jika ada kekurangan yang terdapat pada salah satu pasangannya maka ridhalah dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada pasangannya tersebut.



Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Mendidik Anak, Tak Semudah Itu!

 Faidah Taklim Bada Maghrib oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Jadilah kita sebagai orang tua yang saling bahu membahu di dalam kebaikan dan menjadi orang yang terlibat di dalamnya.

2. Ketika mendapati anak saudara kita yang terjatuh pada kesalahan maka janganlah kita mencela dan menjatuhkan orang tuanya, sebagaimana kita juga tidak ridha jika hal ini mengenai kita, karena bisa jadi suatu saat, anak-anak kita melakukan suatu kesalahan, maka tentulah kita sendiri tidak ingin kesalahan anak-anak kita tersebut, secara mutlak ditimpakkan kesalahannya kepada kita.

3. Janganlah kita menghibahi saudara-saudara kita, karena kesalahan anak-anaknya, karena bisa jadi ia telah berusaha melakukan kebaikan dan keshalihan untuk dirinya dalam rangka meluruskan dan menjaga anak-anaknya, akan tetapi Allah ta'ala sedang menguji dirinya melalui anak-anaknya.

4. Ketika kita diuji dengan anak-anak kita, maka janganlah merasa putus asa terhadap perubahan kebaikan untuk mereka. Angkatlah tangan untuk meminta doa kebaikan untuk anak-anak kita, jangan sampai keputus asaan menghalangi kita untuk berdoa kepada Allah, bahkan jangan pernah sekali-kali kita secara tidak sadar malah mendoakan kejelekkan dan kebinasaan bagi anak-anak kita sendiri.

5. Dalam usaha terus memperbaiki anak-anak, maka lihatlah bagaimana usaha Nabi Nuh alaihissalam yang tidak pernah berputus asa di dalam mengajak anaknya kepada jalan yang lurus, beliau terus berusaha sampai Allah Yang Maha Hikmah memutuskan keputusanNya.

6.  Berikankah selalu yang terbaik untuk anak-anak kita, walau kadang atau bahkan mungkin sering anak-anak kita memberikan perlakuan-perlakuan yang tidak baik kepada kita. Harapkanlah pahala sabar dari hal ini.

7. Teruslah kita menjadi shalih di hadapan anak-anak kita, agar mereka bisa menjadikan kita sebagai qudwah/teladan untuk anak-anak kita. Sehingga di kemudian hari, semoga buah dari keshahihan kita akan mempengaruhi dan mengenai anak-anak kita.

Wallahu alam,
Semoga bermanfaat.


Andil dalam Dakwah Semampu yang Kita Bisa

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


Tarbiyyah nubuwwah (pendidikan yang bersumber kepada sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam) adalah pendidikan yang mulia karena pendidikan ini harus senantiasa berjalan di atas koridor syariat. Jika bukan karena adanya pertolongan dan kemudahan-kemudahan dari Allah ta'ala, maka kita tidak akan mampu untuk memikul dan mengembannya.

Maka pendidikan yang mulia ini, dihadapan kita adalah mahal harganya, dan harus kita tebus dengan segenap apa yang kita bisa berikan. Janganlah engkau lepaskan begitu saja, akan tetapi turutlah andil di dalamnya walaupun hanya bagian sedikit yang kita mampu, karena Allah ta'ala akan mengganjar harga mahal tersebut dengan balasan yang lebih besar lagi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Sombong, Penyebab Penyimpangan

 Faidah tausiyah shubuh oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Termasuk sebab penyimpangan bani adam adalah adanya sifat sombong, sebagaimana Ibnul Qayyim nyatakan bahwa sumber dari semua dosa bermuara kepada tiga perkara, yaitu: sombong, tamak dan hasad (dengki).

2. Sombong adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

3. Termasuk penyebab adanya rasa sombong pada seorang hamba adalah adanya rasa ujub (bangga diri), dan dari sinilah seorang hamba terjatuh kepada kesombongan karena ia merasa mempunyai kelebihan dan terdepan di tengah-tengah saudaranya, padahal sejatinya ia telah tertipu oleh dirinya sendiri.

4. Kita harus menjauhi sifat sombong, karena neraka dipenuhi oleh orang-orang yang sombong, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji dzarrah." (HR. Muslim).

5. Perjalanan hidup bani adam bisa saja terjadi penyimpangan pada dirinya, dan hal ini dikarenakan adanya kesombongan pada dirinya, yakni menolak al haq/kebenaran. Bisa jadi dirinya tidak sadar, namun ketika sifat sombong itu ada, tak pelak lagi, penyimpangan pun akan terjadi. Mungkin dahulu ia seorang yang baik dan lurus, - _dan kita memang dibimbing oleh syariat ini untuk menghukumi seorang dengan zhahirnya dan tidak dibolehkan menilai batin seseorang_ -, akan tetapi dengan Rahmat Allah, orang yang terlihat baik ini ketika menyimpan kesombongan pada hatinya, pasti Allah akan tampakkan batinnya ke permukaan, sehingga orang-orang yang ikhlas dan orang-orang yang tawadhu akan terjaga dan tidak tertipu dengan orang sombong tersebut.

6. Bisa jadi ada seorang yang sekarang ia berposisi sebagai penasehat, tapi di kemudian hari bisa jadi ia akan menjadi ternasehati. Maka di saat itulah, ia akan diuji apakah ia sombong ataukah tidak. Apakah ia menerima al haq, ataukah ia berlaku sombong menolak al haq.

7. Kejelekkan dan penyimpangan yang ada pada diri seseorang, walaupun dibungkus dengan keindahan kata dan amalan, niscaya akan tampak di akhir. Maka ketika hal ini menimpa seseorang, hendaknya ia segera kembali kepada al haq, karena bagi orang yang ikhlas dan tawadhu, bertaubat itu mudah, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai kepenting-kepentingan tertentu, maka meletakkan al haq di atas segalanya adalah suatu yang sulit dan susah.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Pertolongan Allah adalah Dekat

 Faidah taklim bada maghrib Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah, Cileungsi 28 Rajab 1443H / 1 Maret 2022


Allah ta'ala berfirman,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan mengokohkan kedudukanmu". (QS. Muhammad: 7)

1. "Pertolongan Allah itu lebih besar daripada pengorbananmu"

2. "Janganlah ujian itu dijadikan sebagai azab, akan tetapi jadikanlah ujian itu sebagai ladang amal dan menjadi kebaikan diakhirnya."

3. "Thalabul ilmi dan amalan adalah termasuk bagian yang besar di dalam menolong agama Allah, maka tetaplah berada di jalan ini, karena kita membutuhkan pertolongan Allah agar kita bisa kokoh di dalam menghadapi ujian-ujian hidup."

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.

Tahan dan Sabar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

"Wajib atas seseorang jika tampak di hadapannya ada sebab-sebab perbuatan yang haram, untuk dia bertaqwa kepada Allah sehingga nanti ia tidak menjadikan dirinya menerjang perbuatan yang haram.

Ketahuilah bahwa mudahnya akses dari sebab-sebab yang ada, sejatinya merupakan ujian dan cobaan, maka tahanlah dan bersabarlah karena sesungguhnya akhir yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Ilmu Didapat dengan Sedikit Makan, Minum dan Tidur

Ibu Jama'ah rahimahullahu berkata,

ومن رام الفلاح في العلم وتحصيل البغية منه مع كثرة الأكل والشرب والنوم فقد رام مستحيلا في العادة .

Barang siapa yang menginginkan kesuksesan di dalam ilmu dan mendapatkan cita-citanya (dalam menuntut ilmu), tapi bersamaan dengan itu ia banyak makan, banyak minum dan banyak tidur, maka ia telah menghendaki sesuatu yang tidak mungkin di dalam kebiasaan.

(Tadzkiratus Sami wal Mutakallim, hal. 90)