Selasa, 19 April 2022

Berjalan ke Masjid dengan Sakinah dan Waqar



Asy Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafizhahullahu berkata, 


من آداب المشي إلى الصلاة أن يكون مشيه إليها بسكينة ووقار، والسكينة: و التأني في الحركات واجتناب العبث، والوقار في الهيئة كغض البصر وخفض الصوت وعدم الالتفات.


Termasuk adab seorang berjalan menuju shalat adalah ia berjalan dengan sakinah dan waqar.

As sakinah adalah tenang di dalam gerakan-gerakan dan menjauhi gerakan yang sia-sia, sedangkan al waqar adalah terkait dalam hal keadaan, seperti: menundukkan pandangan, merendahkan suara dan tidak banyak menoleh".


(Syarah Kitab Adabil Masyi, hal. 8, cet. Darul Furqan)


Kedua Orang Tuamu, Ternyata Orang yang Kamu Lupakan



Setelah Syaikh Abul Mundzir Munir as Sady hafizhahullahu membawakan sebuah hadits kisah baktinya seorang anak kepada kedua orang tuanya, beliau berkata,


بر عظيم، قد لا تجد له في زماننا نظيرا، بل تجد الغلظة والجفاء والقسوة والإعراض، لا أقول يقدم زوجة وولده على أبويه، وإنما أقول: يحرم أبويه من معروفه، يحرم أبويه من إحسانه، يحرم أبويه من بره مع كبرهما وضعفهما وشدة حاجتهما إليه، إلا أنه تولى عنهما، وأعطاهما ظهره، فلا يلتفت إليهما، فكيف نرجوا مع هذه القسوة والإعراض وكيف نرجو أن يبر بنا أولادنا ؟!والغفلة أن يرحمنا ربنا ؟!وكيف نرجو أن يفرج عنا كرباتنا ؟!


"Bakti yang agung, sungguh tidak akan engkau dapati di zaman sekarang yang serupa, bahkan engkau malah akan dapati sifat kasar, kaku, keras dan berpaling.


Tidaklah aku katakan mereka (si anak) lebih mengutamakan istri dan anak-anaknya dibanding kedua orang tuanya, hanya saja aku katakan bahwa memang kedua orang tuanya telah terharamkan (terhalangi) dari kebaikannya (si anak itu) dan kedua orang tuanya telah terharamkan (terhalangi) pula dari sifat ihsannya (si anak itu) serta kedua orang tuanya telah terharamkan (terhalangi) dari baktinya (si anak itu) padahal keduanya telah tua, lemah dan sangat butuh kepada anaknya dalam menunaikan hajat kebutuhannya.


Akan tetapi si anak malah berpaling dari kedua orang tuanya dan memberikan punggung untuk kedua orang tuanya (tidak perhatian), juga si anak tidak menoleh kepada kedua orang tuanya (tidak peduli).


Maka bagaimana kita bisa mengharapkan mereka atas sikap keras dan berpaling seperti ini? Bagaimana kita bisa berharap anak-anaknya akan berbakti kepada mereka dan lalai akan rahmat Rabb kita? Bagaimana kita bisa berharap mereka akan mendapat jalan keluar dari kesulitan masalah-masalahnya?


(Dinukil dari transkrip Khutbah Jumat Syaikh  Abul Mundzir Munir as Sady yang berjudul Atsarul Amalish Shalih fi Tafrijil Qurabaat, tgl 29 Dzulqa'dah 1442H).


Mendatangi Shalat Hendaknya dengan Ketenangan



Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata,


والصلاة ليست من الأشياء التي تنتهب، بل هي من العبادات العظيمة التي يأتي إليها الإنسان هو مطمئن، ساكن القلب مطمئنا؛ لأنه قد يسرع، فيثور نفسه، فيدخل في الصلاة وهو ثائر النفس، وهذا مما يشغله عن الخشوع في الصلاة، أما إذا جاء في هدوء، ودخل في الصلاة بطمأنينة، فهذا أدعى لأن يخشع قلبه، ويسكن بين يدي الله سبحانه وتعالى


"Shalat bukanlah termasuk hal yang dirampas, akan tetapi ia termasuk ibadah agung yang datang kepada seorang insan di dalam shalatnya yakni ketenangan, ketentraman hati.


Karena sesungguhnya ia tergesa-gesa maka jiwanya akan tidak tenang dan ia masuk shalat dalam keadaan gelisah jiwanya, dan inilah yang menyibukkannya dari kekhusyuan dalam shalat.


Adapun jika dia datang dalam keadaan tenang, dan dia memasuki shalat dengan tenang, maka ini akan terasa nyaman karena hatinya khusyu dan tenang di antara Tangan Allah subhanahu wa ta'ala".


(Syaru Kitab Adabil Masyi ilash Shalah, Syaikh Fauzan, hal. 25, cet. Maktabah Adz Dzahabi)

Jalan Menuju ke Masjid untuk Shalat adalah Ibadah



Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata,


 والمشي إلى المساجد عبادة؛ لأنه وسيلة إلى الصلاة، فالذي يمشي إلى المسجد في عبادة، كل خطوة يخطوها يرفع له بها درجة، ويحط عنه بها خطيئة


"Berjalan menuju ke masjid adalah ibadah karena itu merupakan wasilah/pengantar kepada shalat, maka seorang yang berjalan ke masjid ia sedang di dalam ibadah, setiap langkah kaki yang ia langkahkan akan menaikkan derajat dan akan menghapuskan kesalahan".

 

(Syarhu Kitabi Adabil Masyi ilash Shalah, Syaikh Fauzan, hal. 14, cet. Maktabah Imam Adz Dzahabi)


Manakah yang Lebih Parah, Bidah atau Maksiat?


Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu ditanya,


س : أيهما أشد عذابا : العصاة أم المبتدعة ؟


Beliau hafizhahullahu menjawab, 


ج / المبتدعة أشد؛ لأن البدعة أشد من المعصية، والبدعـة أحـب إلى الشيطان من المعصية؛ لأن العاصي يتوب، أما المبتدع فقليـلا مـا يتـوب لأنه يظن أنه على حق، بخلاف العاصي؛ فإنه يعلم أنه عـاص وأنه مرتكب ، لمعصية، أما المبتدع فإنه يرى أنه مطيع وأنه على طـاعة؛ فلذلـك صـارت البدعـة ـ والعياذ بالله ـ شرا من المعصية، ولذلك يحذر السلف من مجالس المبتدعة؛ لأنهم يؤثروون على من جالسهم، وخطرهم شديد. 

لا شك أن البدعة شر من المعصية، وخطر المبتدع أشـد علـى النـاس من خطر العاصي، ولهذا قال السلف : اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة.


Manakah yang lebih keras azabnya, pelaku maksiat atau seorang yang melakukan bidah?


Pelaku bidah lebih keras (azabnya) karena bidah lebih bahaya dibanding maksiat dan bidah lebih disukai setan dibanding maksiat karena pelaku maksiat niscaya akan (diharapkan) bertaubat, adapun pelaku bidah sedikit (harapannya untuk) bertaubat karena ia menyangka bahwa dirinya sedang di atas al haq. 


Berbeda dengan seorang pelaku maksiat, sesungguhnya ia mengetahui bahwa dirinya sedang berbuat maksiat, adapun seorang pelaku bidah maka sesungguhnya ia memandang dirinya sedang melakukan ketaatan dan sedang berada di atas ketaatan.


Oleh karenanya jadilah bidah -waliyyadzubilah- lebih jelek dibanding maksiat.


Maka karena itu para salaf memperingatkan (untuk hati-hati) dari bermajelis dengan pelaku bidah karena mereka akan membuat pengaruh negatif atas orang yang duduk-duduk bersamanya dan efek bahayanya sangat tinggi.


Tidak ragu lagi bahwasanya bidah itu lebih berbahaya dibandingkan maksiat dan bahayanya seorang pelaku bidah lebih besar dibanding bahayanya pelaku maksiat, oleh karenanya para salaf berkata, "Sederhana di dalam sunnah itu lebih baik dibanding bersungguh-sungguh di dalam bidah".


(Silahkan lihat Al Ajwibah Al Mufidah pertanyaan no 5).

Walau Seratus Raka'at Tidak Akan Bisa Menggantikannya, tetapi Taubatlah yang Bisa Engkau Perbuat.



Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,


أن الصواب أن من ترك فريضة حتى خرج وقتها متعمدا بدون عذر فإنه لا صلاة له ولو صلى ألف مرة، ولكن ليس عليه إلا أن يتوب ويستغفر ويخلص الله جل في توبته


Sesungguhnya (pendapat) yang benar adalah barang siapa yang meninggalkan shalat wajib sampai keluar waktunya secara sengaja tanpa adanya udzur, maka sesungguhnya tidak ada shalat baginya (ia tidak perlu mengganti shalat yang ia tinggalkan) walaupun ia shalat sebanyak seratus rakaat (sebagai gantinya).


Akan tetapi tidak ada yang harus ia lakukan kecuali bertaubat dan beristighfar serta mengikhlaskan diri kepada Allah di dalam taubatnya."


(Fathu Dzil Jalal wal Ikram, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 2, hal. 244, cet. Maktabatun Nur 2011)


Adanya Materi Pembagian Sesuatu, Syarat, Rukun, Perusak Amal adalah Sesuatu yang Dibutuhkan



Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata, 


فالصواب بـلا شـك أن تقسيم التوحيـد إلى ثلاثة أقسام وذكـر الـشروط، والأركان، والواجبات، والمفسدات في العبادات كل هـذا جـائز؛ لأنـه مـن بـاب: الوسائل والتقريب، وحصر الأشياء لطالب العلم.


"Yang benar tanpa diragukan lagi bahwasanya adanya pembagian tauhid kepada tiga bagian, penyebutan syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, perusak-perusak di dalam ibadah-ibadah, ini semua adalah boleh karena itu masuk kepada bab perantara (untuk memudahkan), pendekatan (pemahaman) dan mengumpulkan pembahasan (agar mempermudah) bagi thalibul ilmi."


(Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 15, cet. Maktabatush Shafa)

Membahagiakan Orang Tua itu Mudah



Membuat orang tua itu tidak susah, tidak mesti harus memberikan sesuatu yang besar, banyak dan mahal. Memberi yang sedikit, kecil dan murah, insyaallah sudah cukup bagi mereka asalkan kita tulus dan sering.


berikanlah perhatian-perhatian kecil, seperti menanyakan kabar, ngobrol ringan dan yang semisal, baik langsung maupun lewat telpon. Berikan hadiah-hadiah kecil ketika kita mampu mampir ke rumah mereka, atau kirimlah hadiah-hadiah ringan melalui kargo jika mereka jauh. Mereka akan ridha dan senang, tanpa melihat apa yang kita berikan.


Asy Syaikh Zaid al Madkhali rahimahullahu berkata, 


والمعروف عند الناس أن الوالد العاقل يرضى من ولده ولو باليسير من البر


"Telah ma'ruf di sisi orang-orang bahwa kedua orang tua yang berakal akan merasa ridha dari bakti anaknya walau hanya sedikit." (Aunul Ahadish Shamad, jil. 1, hal. 15, cet. Darul Miratsin Nabawi)


Mari kita luangkan waktu tuk jalin komunikasi kala waktu senggang, walau hanya melalui pesan singkat. Wallahu alam.


Amalan itu Dirutini, Bukan Sesekali !


Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,


لا ينبغي للإنسان إذا فعل عبادة من العبادات أن يقطعها، فإن احب العمل إلى الله أدومه وإن قل بل يديم العمل، لأن كونه يقطع العمل الصالح بعد أن تلبس به قد يفتح له باب التهاون في جميع الأعمال الصالحة ويدع أحيانا من الرواتب، فالذي ينبغي أن يمرن الإنسان نفسه على العبادة ويستمر عليها ولو كانت قليلة ففيها خير وبركة.


Tidak seyogyanya bagi seorang insan jika ia telah melakukan suatu ibadah dari ibadah-ibadah yang ada untuk memutusnya (berhenti tidak mengamalkannya lagi), karena sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah ta'ala adalah yang ia rutini walau sedikit namun terus-menerus diamalkannya. Perbuatan memutus amalan shalih setelah amalan itu dirutini terkadang akan membuka pintu peremehan di sejumlah amalan-amalan shalih dan terkadang pula akan bisa meninggalkan dari yang rawatib (amalan yang rutin). 


Maka sudah seyogyanya untuk seorang insan agar menempa dirinya di atas ibadah dan berusaha merutininya walaupun sedikit, karena yang demikian itu terdapat kebaikan dan barakah."


(Fathu Dzil Jalal wal Ikram, Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 2, hal. 241, cet. Maktabatun Nur 2011)

Menyatukan Kalimat Muslimin termasuk Sebaik-baiknya Amal


Syaikh Abdurrahman as Sa'dy rahimahullahu berkata, 


ال الى

اوَنُوا۟ لَى لْبِرِّ لتَّقْوَىٰ لَا اوَنُوا۟ لَى لْإِثْمِ لْعُدْوَٰنِ


"Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong di atas perbuatan dosa dan permusuhan". (QS. Al Maidah: 2)


البر : السعي لمة المسلمين اتـفـاقـهـم ل ا الشعي لمة المسلمين التعاون لى الإثم العدوان .


Dan termasuk sebesar-besarnya al bir (perbuatan baik) adalah upaya di dalam tanpa kalimat kaum muslimin dan menyepakati mereka di setiap jalan, sebagaimana mestinya bahwa upaya untuk di dalam memecah belah kaum muslimin adalah termasuk sebesar-besarnya saling bantu bantu di dalam melakukan dosa dan permusuhan".


(Risalatun fil Hatsi ala Ijtima'i Kalimatil Muslimin, hal.20, cet. Darul Atsariyyah)

Senin, 14 Maret 2022

Mau Jadi Anak Shalih? Amalkan Ini!

 

Syaikh Zaid al Madkhali rahimahullahu berkata, 


فمن كان والداه مسلمين فليكثر من الاستغفار لهما والدعاء لهما ويبرهما بعد مماتها بالصدقة والدعاء والإحسان إلى أقاربهما


Barang siapa yang kedua orang tuanya adalah seorang muslim, hendaknya ia memperbanyak untuk memohonkan ampun bagi keduanya dan mendoakan (kebaikan) untuk mereka.


Adapun berbuat ihsan (baik) bagi kedua orang tua setelah wafatnya adalah dengan bershadaqah, berdoa, dan berbuat baik kepada kerabat-kerabatnya."


(Aunul Ahadish Shamad Syarhul Adabil Mufrad, Syaikh Zaid al Madkhali, jil. 1, hal. 53, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).


Islam, Agama Terakhir dan Sempurna

 

Asy Syaikh Muhammad Aman al Jami rahimahullahu berkata,

"Agama Muhammad shalallahu alaihi wassalam (Islam) adalah tata hukum akhir yang tidak ada keluasan bagi seorang manusia melainkan ia harus menaatinya dan tidak boleh untuk menyelisihinya. 


Islam adalah tata hukum rabbani yang sempurna karena Allah ta'ala yang menciptakan manusia sebagai sosok yang sempurna. Tidaklah sesuai dengan hikmahNya untuk meninggalkan manusia dengan sia-sia tanpa perintah, larangan dan bimbingan". 


(Nizhamul Usrah fil Islam, Syaikh Muhammad Aman al Jami, hal. 8, cet. Darul Minhaj 2004)


Angan dan Janji Palsu Hizbiyyah kepada Para Pemuda

 

Al Imam Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata,


وفي الصحيحين عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم : 


Di dalam Ash Shahihain dari Abu Musa al Asy'ary radhiallahuanhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, 


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا منتنة


“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk seperti seorang pembawa misk (penjual minyak wangi) dan seorang peniup besi (pandai besi). Si pembawa misk mungkin akan memberimu minyak wangi, atau mungkin engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau bisa jadi engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan si pandai besi, mungkin ia akan bisa membakar pakaianmu (karena percikan apinya), atau engkau akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).


فعلى هذا فأنصحك بالبعد عن هذه الحزبيات المبتدعة : كجماعة الإخوان المسلمين ، وجماعة التبليغ ، وجماعة الجهاد الجاهلة الحمقاء وعليك أن تحرص على مجالسة أهل العلم من أهل السنة ومشاورتهم فيما يحدث وإياك ووساوس الحزبيين فإنها أشبه بوساوس الشيطان


يعدهم ويمنيهم وما يعدهم الشيطان إلا غزراً ) ولا إله إلا الله ، كم من شاب صالح حافظ للقرآن مبرز في علم السنة ، أفسده الحزبيون بأمانيهم الكاذبة ، وسيسألون أمام الله عز وجل عن هذا التضليل ، وحسبنا الله ونعم الوكيل ))

المصدر : غارة الأشرطة ج 1 ص 12 - 13


Berdasar hal ini aku nasehatkan kepada engkau untuk menjauh dari kelompok hizbiyah-hizbiyah mubtadi'ah ini, seperti: Jama'ah Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Tabligh dan Jama'ah Jihad yang bodoh dan dungu. 


Dan wajib atas engkau untuk semangat bermajelis dengan ahlul ilmi dari kalangan ahlussunnah serta bermusyawarahlah dengan mereka terhadap segala perkara-perkara yang sedang terjadi (kekinian).


Hati-hatilah terhadap was-wasnya hizbiyah karena sesungguhnya itu seperti was-was nya syaitan yang mereka janjikan dan mereka angan-angankan. ((Dan tidaklah setan menjanjikan kepada mereka melainkan tipuan)).


Lailahailallah, betapa banyak dari pemuda shalih penghafal Alquran yang mumpuni di dalam ilmu sunnah, ia dirusak oleh para hizbiyyun dengan angan-angan mereka yang dusta, dan kelak ia akan ditanya di hadapan Allah azza wa jalla dari penyesatan ini. Cukuplah bagi kami Allah sebagai pelindung dan sebaik-baik tempat bersandar.


(Gharratul Asyrithah, Syaikh Muqbil ibn Hadi, juz 1, hal. 12-13)


Salah Satu Alasan Mengapa Tulisan Salaf Lebih Barakah

 

Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata, 


قال أبو عثمان سعيد بن إسماعيل الحيري : حدثنا ابن خزيمة قال : كنت إذا أردت أن أصنف الشيء أدخل في الصلاة مستخيراً حتى يفتح لي ، ثم أبتدىء التصنيف ، ثم قال أبو عثمان : إن الله ليدفع البلاء عن أهل هذه المدينة لمكان أبي بكر محمد بن إسحاق.


Abu Usman Said bin Ismail Al Hiri berkata, Ibnu Khuzaimah telah menyampaikan kepada kami bahwasanya beliau berkata, "Dahulu jika aku ingin menulis sesuatu maka aku akan melakukan shalat untuk beristikharah sampai dibukakan (kemantapan hati) padaku, kemudian akupun memulai menulis. Lalu Abu Utsman berkata, "Sesungguhnya Allah menahan musibah dari penduduk kota ini karena kedudukan Abu Bakar Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah)". 


(Siyar A'lamun Nubala, Imam Adz Dzahabi, jil 14, hal. 365)


Hindari Berbantah-bantahan dan Berselisih dalam Dakwah

 

Syaikh Abdurrahman As Sa'dy rahimahullahu berkata, 


وقال تعالى -ناهيا عن التنازع والاختلاف، مخبرا أنه سبب للفشل وعدم النصر على الأعداء : {وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ} [الأنفال : ٤٦].


Allah ta'ala berfirman melarang dari berdebat dan berselisih, (Allah) memberi kabar bahwasanya (berdebat dan berselisih) adalah sebab kegagalan dan (sebab) tiadanya pertolongan atas musuh, {Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian} [QS. Al Anfal: 46].


(Risalatun fil Hatsi ala Ijtima'i Kalimatil Muslimin, hal.19, cet. Darul Atsariyyah)


Hati Jangan Pergi ketika Ngaji

 Hati Jangan Pergi ketika Ngaji



Al Imam Khathib al Baghdadi rahimahullahu membawakan sanad sampai kepada Al Hasan al Bashri rahimahullahu, beliau berkata tentang ayat Allah, 


إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ


"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya". (QS. Qaf: 37)


استمع وقلبه شاهد، فإن قلبه إذا حضر عقل ما يقال، وإذا غاب القلب لم يعقل ما يقال له


Dengarlah dan hendaklah hatinya hadir, karena sesungguhnya jika hatinya hadir maka ia akan paham apa yang didengarnya, namun jika hatinya hilang (tidak hadir) niscaya ia tidak akan paham dengan apa yang diucapkan kepadanya". 


(Al Jami'u li Akhlaqirrawi wa Adabis Sami', Khatib al Baghdadi, bab Kaifiyyatul Hifzhi 'anil Muhaddits, atsar no 445)


Ketawadhu'an para nabiyullah di dalam pakaian dan kendaraan mereka serta pelayanannya terhadap diri sendiri

 Syaikh Arafat al Muhammadi hafizhahullahu berkata, 


Ketawadhu'an para nabiyullah di dalam pakaian dan kendaraan mereka serta pelayanannya terhadap diri sendiri.


Ibnu Mas'ud radhiallahuanhu berkata, "Dahulu para nabi memakai pakaian ash shuf (terbuat dari kain kasar/wol), memerah kambing, mengendarai himar (keledai), dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memiliki keledai yang dipanggil 'Afiir".


(Thabaqat Ibnu Saad, 1/492, dishahihkan Syaikh Arafat al Muhamadi).


Menuntut Ilmu akan Menghapus Dosa


Asy Syaikh Shalih alu Syaikh hafizhahullahu berkata, 


Allahu ta'ala berfirman,


إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ


"Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapus kesalahan-kesalahan". (QS. Hud: 114)


والحسنة المتعدية النفع إلى الآخرين بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وكالعلم والدعوة والجهاد ونحو ذلك هذا كله من أعظم الحسنات، فهي تذهب من السيئات ما يقابلها، ولهذا يعظم طالب العلم بأنه يتعرض لمحو السيئات لطلبه للعلم، وهذا من أعظم ما يرافق المرء في طلب العلم؛ لأن العلم جهاد والمجاهد مغفور ذنبه بإذن الله جل وعلا .


Kebaikan yang berbilang manfaatnya pada orang lain dengan amar maruf nahi mungkar seperti ilmu, dakwah, jihad dan yang semisalnya, ini semua termasuk dari kebaikan-kebaikan yang terbesar, dan akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.


Oleh karenanya kemuliaan seorang penuntut ilmu adalah akan terhapusnya kesalahan-kesalahan karena usahanya di dalam menuntut ilmu. 


Ini adalah termasuk perkara termulia yang mengiringi seseorang di dalam menuntut ilmu, karena ilmu adalah jihad, dan seorang mujahid akan terhapus dosanya dengan izin Allah jalla wa 'ala".


(Fadhlul Ilmi wat Talim wa Shifatu Ahlihi wa Fadhlihum, Syaikh Shalih alu Syaikh, hal. 6, cet. Maktabah Ath Thabari)


Nasehat kepada Penuntut Ilmu agar Sabar


Al Waalid Asy Syaikh Muqbil ibn Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata,


إن بعض الطلبة العلم يفتح الله عليه ثم يميل الى الدنيا ويرمي بالعلم قفاه، فأراد الله أن يرفعه وأراد اهانة نفسه وسقوطها ((يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ)) وهذا المسكين اخلد الى الارض ولم يصبر على التحصيل العلم و على تبليغه و على الاذى فيه، والناس اذا لم يوجد علماء تخبطوا كما هو الواقع


"Sesungguhnya sebagian para penuntut ilmu telah dibukakan (pintu dunia) oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian dia condong kepada dunia dan melemparkan ilmunya ke belakang. Padahal Allah subhanahu wa ta'ala menginginkan untuk meninggikannya akan tetapi dia menginginkan untuk menghinakan dirinya sendiri dan rendah. ((Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat)). Orang miskin ini hidup di atas bumi tapi dia tidak mau bersabar untuk mendapatkan ilmu dan (sabar) di atas menyampaikan ilmu dan (sabar) di atas gangguan-gangguan ketika menyebarkan ilmu. Manusia, jika tidak mendapati ulama niscaya mereka akan hancur sebagaimana apa yang terjadi."


(Transkrip muhadharah: Al Hatsu ala Ilmin Naafi'-Asy Syaikh Muqbil al Wadi'i)


Jangan Mentarbiyah ala Binatang Ternak


Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata,


 فتربية الوالدين لولدهما نعمة وإحسان إليه يجب أن يكافئ عليه والديه. وليس المراد بالتربية التربية الجسمية فقط التي هي عبارة عن توفير الطعام والشراب هذه تربية بهيمية إن اقتصر عليها, لكن الأهم من ذلك التربية المعنوية التي هي المحافظة على فطرته السليمة وتوجيهها إلى الخير وغرس الخير في نفسه وتنشئته على الخير. 

 

"Tarbiyah (pendidikan) kedua orang tua kepada anaknya adalah sebuah nikmat dan merupakan kebaikan untuk anaknya yang wajib untuk dipenuhi oleh kedua orang tuanya. 


Bukanlah yang dimaksud tarbiyah di sini adalah tarbiyah jismiyah (lahiriyah) semata yang bisa diibaratkan dengan pemenuhan makan dan minum. Secara ringkas ini adalah tarbiyahnya binatang ternak!


Akan tetapi yang terpenting dari itu adalah tarbiyah maknawiyah yang (menargetkan kepada) penjagaan fitrah yang selamat, bimbingan kepada kebaikan, menanamkan kebaikan pada diri sang anak dan semangat terhadap kebaikan.


(Al Khutabul Minbariyyah, Syaikh Shalih Fauzan, jilid 3, hal. 303)


Masuk Islam karena Sebuah Hadits


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


... وحدثني طبيب أمريكي، أسلم وحسن إسلامه -حدثني هنا في بلادنا- أنه استفاد من الطب النبوي، حتى إنه يقول: من جملة ما حملني على الإسلام ما وجدت فيه من النظافة والأخلاق الفاضلة الطيبة، منها: أن الرسول عليه الصلاة والسلام قال: (حسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه) يعني حسبه من الأكل والشرب لقيمات يقمن صلبه (فإن كان لا محالة -يعني: لا بد أن يأكل- فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه) ...


Telah disampaikan kepadaku ada seorang dokter dari Amerika masuk Islam dan baik keislamannya -telah disampaikan kepadaku kabar tersebut dari negeri kami- bahwa sesungguhnya dia telah mengambil faidah dari at tibbun nabawi (pengobatan cara nabi), sampai ia mengatakan, "Termasuk perkara yang membawaku kepada Islam adalah apa yang aku dapatkan di dalamnya berupa kebersihan dan akhlak yang utama nan baik, di antaranya bahwa Rasul alaihish shalatu wassalam bersabda, (Cukuplah bagi anak adam beberapa suapan yang bisa sekadar menegakkan sulbinya) yakni ia mencukupkan diri dari makan dan minum beberapa suapan yang bisa sekadar menegakkan sulbinya (karena sesungguhnya tiada tempat -yakni: mesti untuk makan- sepertiganya untuk makannya, sepertiganya untuk minumnya dan sepertiganya untuk nafasnya)...


(Lihat Kitabul Liqaa asy Syahri, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 1, Fasal: Waqafaat min Ghazwatil Hudaibiyyah)

Sekilas tentang Tafsir Adhwaul Bayan


Syaikh Muhammad Aman al Jami ditanya: Apakah yang akan kau nasehatkan dengan kitab tafsir milik Al Imam Muhammad Amin asy Syinqithy, Adhwa al Bayan?


Beliau menjawab, "Na'am, kami nasehatkan untuk membaca tafsir Adhwa'ul Bayan yang (kitab tersebut) terambil dan teringkas dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Jarir. 


Penulis rahimahullah (Syaikh Amin) telah mencukupkan kitabnya kepada tafsir salaf. Terkhusus dari kitab tersebut terdapat metode pembahasan yang istimewa, walaupun metode ini pada asalnya telah terdapat di dalam Tafsir Ibnu Katsir, akan tetapi Syaikh Amin telah menambahkan dengan banyak ayat-ayat yang mutasyabihat (samar) di dalam satu pembahasan, dan Ibnu Katsir telah mendahuluinya, akan tetapi Syaikh Amin telah menambahkan sejumlah ayat-ayat (yang samar tersebut) untuk disebutkan dan dikumpulkan pada satu tempat pembahasan (untuk dikupas dan dijelaskan), dan tentu Tafsir Ibnu Katsir telah sempurna (bobot isinya) pada hadits-hadits, atsar-atsar setelah itu.


Oleh karenanya wajib atas para penuntut ilmu untuk mengambil faidah dari Tafsir Adhwa'ul Bayan dan dari Tafsir Ibnu Katsir serta kitab tafsir selainnya dari kitab-kitab tafsir yang menafsirkan ayat Al Qur'an dengan ayat lainnya, menafsirkan ayat Al Qur'an dengan sunnah nabi, atsar (shahabat nabi) dan dengan metode jalan tafsir para salaf.


Dalam di dalam pembahasan ini pula, yaitu pada keistimewaan atsar-atsar dan hadits-hadits, Tafsir Asy Syaukani telah mendekati dari bab ini, akan tetapi pada tafsir beliau terdapat keistimewaan dari sisi lughawiyah (bahasa), dan tentunya masing-masing kitab tafsir terdapat keistimewaan tersendiri.


Maka kita jauhi dari para pemuda sebagian kitab-kitab tafsir, seperti tafsir-tafsir milik kaum sufi, tafsir-tafsir wihdatul wujud (aqidah yang meyakini Allah merasuk ke dalam raga makhluk-makhluknya) dan tafsir-tafsir para penulis yang menafsirkan Al Qur'an dengan akal-akalnya. Sudah seharusnya kita jauhi tafsir-tafsir dari semisal ini dan mencukupkan diri dari tafsir-tafsir yang maruf dan masyhur di kalangan kaum muslimin". 


(Disadur dari Al Awjibatudz Dzahabiyyah 'ala As'ilatil Manhajiyyah, Syaikh Aman Al Jami, pertanyaan no 5)


Peran Penting Pemuda dalam Dakwah

Asy Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, 


لا شك أيها الأخوة أن دور الشباب في الحياة دور مهم. 

 فهم إذا صلحوا ينهضون بأمتهم ويقومون بنشر دينهم والدعوة إليه. لأن الله أعطاهم من القوة البدنية والقوة الفكرية ما يفوقون به على كبار السن وإن كان كبار السن يفضلونهم بالسبق والتجارب والخبرة.


"Tidak diragukan lagi wahai ikhwah, bahwa peran pemuda di dalam kehidupan adalah bagian yang penting. Jika baik maka mereka akan membawa umat dan akan menegakkan umat dengan menyebarkan agama dan berdakwah, karena sesungguhnya Allah ta'ala telah memberikan mereka berupa kekuatan badan dan kekuatan pemikiran yang tidak bisa dilampaui oleh orang yang sudah berumur walaupun orang yang berumur lebih diutamakan pada sisi pendahulu, pengalaman dan kematangan".


(Al Khutabul Minbariyyah, Syaikh Shalih Fauzan, jilid 3, hal. 300)


Kedudukanmu Berdasar Pemanfaatan Waktumu


Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata,


وَاعْلَمْ أَنَّ الأَوْقَاتَ الَّتِي يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا مُعَظَّمَةُ الْقَدْرِ لاشْتِغَالِ النَّاسِ بِالْعَادَاتِ وَالشَّهَوَاتِ ، فَإِذَا ثَابَرَ عَلَيْهَا طَالِبُ الْفَضْلِ دَلَّ عَلَى حِرْصِهِ عَلَى الْخَيْرِ . وَلِهَذَا فُضِّلَ شُهُودُ الْفَجْرِ فِي جَمَاعَةٍ لِغَفْلَةِ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ عَنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ ، وَفُضِّلَ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ وَفُضِّلَ قِيَامُ نِصْفِ اللَّيْلِ وَوَقْتِ السَّحَرِ. (التبصرة 2/ 47)


"Ketahuilah bahwasanya waktu-waktu yang manusia lalai darinya merupakan standar tingginya kedudukan berdasarkan kesibukan manusia di dalam (memanfaatkannya) dengan ibadah-ibadah dan syahwat-syahwat. 


Jika menetapi waktu-waktu tersebut dengan menuntut keutamaan maka menunjukkan atas semangatnya kepada kebaikan. Oleh karenanya diutamakan orang yang menghadiri shalat shubuh berjamaah atas lalainya kebanyakan manusia dari waktu tersebut, dan diutamakannya antara dua isya dan diutamakannya menegakkan shalat pada tengah malam dan waktu sahur".


(At Tabshirah, Ibnul Jauzi, 2/47)


Mengapa Shalatku tak Bisa Mencegah dari Perbuatan Dosa?


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu berkata,


... وأما كونك تصلي وصلاتك لا تنهاك عن المنكر فلعل صلاتك فيها قصور؛ لأن الصلاة التي تنهى عن الفحشاء والمنكر هي الصلاة الكاملة، التي تكون على وفق ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم باستحضار القلب، وأداء العمل كما جاءت به السنة...


... Dan adapun keadaanmu yang shalat akan tetapi shalatmu tidak bisa mencegah dari perkara yang munkar, maka dimungkinkan shalatmu terdapat kekurangan, karena shalat yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang sempurna, yakni shalat yang selaras dengan apa yang datang dari Nabi shalallahu alaihi wassalam dengan iringan hadirnya hati dan penunaiannya sebagaimana datangnya sunnah".


(Lihat Kitabul Liqa asy Syahri, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 18, fasal Ahammiyatuth Taubah)