Selasa, 15 Oktober 2019

Bukan Semangat Kaleng-Kaleng


Thalabul ilmi atau ngaji adalah ciri khasnya seorang yang mengaku salafy ahlussunnah wal jamaah, karena mereka tidak boleh ridha dengan kebodohan. Oleh karena itu, dia harus semangat untuk datang ke majelis taklim agar bisa mendengar ilmu dan tidak menjadi orang yang bodoh terhadap agamanya.

Lihatlah para ulama salaf! Mereka adalah teladan di dalam mencari ilmu, karena semangat mereka bukan semangat kaleng-kaleng. Ini buktinya:

*Sampai rela menginap agar dapat tempat di depan majelis*
Al Hafizh Ja'far ibn Durustuwiyah, salah seorang murid dari Al Imam Ali ibnul Madini al Bashri rahimahullahu pernah mengisahkan tentang majelis syaikhnya, Ali ibnul Madini. Beliau bercerita, "Dahulu jika ingin bermajelis di majelisnya Imam Ibnul Madini, kami akan mendatanginya di waktu ashar, padahal majelis akan dibuka pada esok harinya. Kami pun duduk menunggu sepanjang malam di tempat kami karena khawatir jika tidak melakukan hal ini niscaya kami besok tidak mendapat tempat untuk mendengar hadits-hadits dari syaikh."
(Al Jamiu li Akhlaqir Rawi-Khathib al Baghdadi 2/138 dan Al Adabusy Syariah-Ibnu Muflih 2/148).


*Mengulang pelajaran sampai 100 kali, 70 kali dan 50 kali*
Ibnul Jauzi rahimahullahu menyebutkan, "Dahulu Abu Ishaq asy Syairazi mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 100 kali, sedangkan Al Kiya (salah seorang ulama Asy Syafi'iyah) mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 70 kali. Al Hasan ibn Abi Bakr an Naisaburi al Faqih berkata kepada kami, Tidaklah tercapai hafalanku seperti ini (kuat) sampai diulang sebanyak 50 kali.
(Al Hatsu ala Hifzhil Ilmi-Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Jami fil Hatsi ala Hifzhil Ilmi, hal. 254, Maktabah Ibni Taimiyyah 1991).


*Lebih suka ilmu dibanding keluarga*
Sufyan ibn Uyainah berkata bahwa Mutharrif rahimahullahu pernah mengatakan, "Aku lebih menyukai duduk-duduk dengan kalian (para ahlul hadits) dibandingkan aku bersama keluargaku."
(Sanadnya shahih, dinukil dari Syarafu Ashabil Hadits-Khathib al Baghdadi, hal. 132, cet. Darul Furqan 2008).


*Menuntut ilmu lebih disuka dibanding bersedekah dengan seluruh isi dunia*
Al Hasan rahimahullahu berkata, "Sesungguhnya aku belajar satu bab dari permasalahan ilmu, kemudian aku ajarkan kepada seorang muslim, maka itu lebih aku sukai dibandingkan dengan mendapatkan dunia seluruhnya yang aku salurkan di jalan Allah."
(Sanadnya shahih, lihat Shahih Al Faqih wal Mutafaqqih li Khathib al Baghdadi, hal. 13, cet. Darul Wathan 1997).


*Belajar tak kenal batas waktu dan tempat*
Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari rahimahullahu berkata, "Abu Bakr al Khiyath an Nahwi selalu belajar di setiap waktunya, sampaipun ketika di jalan. Teradang dia sampai terjungkal ke tebing atau menabrak ketika berkendaraan dengan hewannya.
(Al Hatsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam'ihi- Abu Hilal Al Hasan ibn Abdillah al Askari, hal. 40, cet. Maktabah Ibni Taimiyyah 1991)


*Umur bukan halangan tuk belajar*
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata tentang Imam Abu Bakr al Qaffal, Abdullah ibn Ahmad al Khurasani rahimahullahu (termasuk dari ulama asy syafi'iyyah), "Beliau memulai belajar ilmu padahal umurnya sudah 30 tahun. Beliau pun tinggalkan pekerjaannya untuk memfokuskan diri kepada ilmu (pekerjaannya ketika itu adalah tukang kunci).
(Siyar Alamun Nubala 17/407).

Semoga ini bisa bermanfaat buat saya selaku penulis dan kaum muslimin pada umumnya, amin.

Kebodohan adalah Pintu Masuk dari Kebidahan

Syaikh Shalih ibn Abdilaziz alu Syaikh hafizhahullahu berkata, "Sebab pertama terjadinya kebidahan adalah al jahl (bodoh/ketidaktahuan). Yakni ketidaktahuannya terhadap sunnah-sunnah nabi.

Jika ada seorang yang bodoh menghendaki sebuah kebaikan yang selaras dengan sunnah, maka sesungguhnya dengan kebodohannya, setan akan datang dari arah ini (kebodohannya), dan dia akan diberikan kecintaan terhadap kebaikan yang dia ada-adakan (bidah) tersebut."

(Al Bida wa Bayanu Haqiqatiha wa Atsarul Bida fi Hayatil Muslim-Syaikh Shalih alu Syaikh, dinukil dari Majmu Rasail wad Durus fi Dzammil Bida, hal. 19, cet. Ibnul Jauzi 2006)

Nabi Ibrahim alaihissalam diberikan oleh Allah kebaikan di dunia. Apa itu?


Syaikh As Sadi rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya, "Rezeki yang luas, istri-istri yang baik dan keturunan yang shalih serta akhlak yang mulia."

(Lihat di Taisir Karimir Rahman pada surat An Nahl: 123)

Ambilah Agamamu dari Seorang Alim yang Bertaqwa


Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Sebagian salaf mengatakan: Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah oleh kalian dari siapakah engkau mengambil ilmu agama!" (Diriwayatkan dari Ibnu Sirrin rahimahullah sebagaimana ini terdapat di dalam Syarhu Ilal at Tirmidzi 1/252).

Maka bagaimana engkau bisa mengambil agamamu dari orang yang jahil (bodoh) atau orang yang sesat?!

Ini tidak akan baik!

Atau engkau mengambil agamamu dari kitab?!

Ini semua tidak akan baik, maka janganlah engkau mengambil agamamu kecuali dari seorang alim yang bertaqwa!"

(Taujihatu Muhimmah ila Syababil Ummah-Syaikh Shalih Fauzan, dinukil dari Rasail Ulamais Sunnah ila Syababil Ummah, hal. 18, cet. Darul Miratsin Nabawi 2015).

Menunggu yang Berbuah Ampunan dan Rahmat


Menunggu adalah pekerjaan yang banyak orang tidak suka, tapi dalam islam ada menunggu yang banyak orang suka, bahkan semakin lama menunggu, semakin disuka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تزال العبد المسلم فِيْ الصَّلاَة مَا دام فِيْ مصَلاَه َقعدا ولا يحبسه الا َانْتَظِرُ الصَّلاَة والْمَلاَئِكَةُ يقولون: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. مَا لَمْ يُحْدِثْ

Artinya:
"Senantiasa seorang hamba muslim (teranggap) di dalam shalat selama dia tetap duduk di tempat shalatnya, dan tidak ada yang menahannya (untuk tetap di situ) kecuali untuk menunggu shalat, dan para malaikat pun mendoakan, "Yaa Allah berikan ampunan untuknya, yaa Allah rahmatilah dia", selama dia tidak berhadats." (HR. Bukhari)

Menunggu shalat ya akhi. Iya, jangan merasa rugi jika kita datang ke masjid tapi shalat belum dimulai, banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di saat menunggu shalat, seperti: shalat sunnah, berdoa, membaca Al Quran dll, yakinlah semakin lama kita menunggu, semakin banyak pahala yang mungkin bisa diraih.

Tak hanya itu, dalam hadits di atas seorang yang menunggu shalat dapat doa ampunan dan rahmat juga dari para malaikat. Wallahu alam, semoga bermanfaat.