Senin, 16 Oktober 2017

Bertanya tentang Bagaimana Cara Allah Beristiwa itu adalah Bid'ah


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu menjelaskan, "Hal itu ada dua sisi.
Sisi yang pertama:
Bahwasa pertanyaan tentang ini adalah pertanyaan tentang agama dan akidah, tidak ada pada perkara ini keterangan dari kalangan para shahabat nabi.

Tidak ada satu pun di kalangan mereka bertanya kepada nabi shallallahu alaihi wasallam tentang bagaimana caranya Allah beristiwa, padahal mereka adalah orang-orang yang paling antusias tergadap sesuatu yang berkaitan dengan Allah taala. Terlebih, ketika itu ada yang mungkin bisa diminta jawabannya yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jika sebabnya ada dan penghalangnya telah hilang, maka mesti adanya sesuatu. Akan tetapi para shahabat nabi tidak menanyakannya, mereka tidak bertanya, "Wahai rasulullah bagaimana cara beristiwanya?". Hal itu terjadi karena adab para shahabat nabi kepada Allah dan rasul-Nya, serta ilmu yang ada pada mereka bahwa hal itu (bertanya tentang cara beristiwa) tidak akan mungkin dapat dicerna (indera) dan tidak akan ada keinginan-keinginan (membahas masalah) yang seperti ini melainkan datang dari orang-orang yang menyimpang.

Oleh karenanya kami katakan bahwa pertanyaan tentang ini (bagaimana cara beristiwanya Allah) adalah bid'ah.

Sisi yang kedua:
Bahwa bertanya tentang hal ini adalah termasuk dari ciri-ciri ahlu bid'ah. Mereka bertanya, "Bagaimana cara beristiwanya Allah?", "Bagaimana caranya Allah turun?", "Bagaimana caranya Allah datang?", "Bagaimana rupa tangannya Allah?", "Bagaimana rupa wajahnya Allah?", dan pertanyaan-pertanyaan yang semisalnya.

Tidaklah seorang pun yang bertanya tentang bagaimana caranya kecuali dia adalah ahlu bid'ah."

(Disadur dari Syarah Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 121-122, cet. Maktabatush Shaffa 2005)

Tidak ada komentar: