Selasa, 26 Mei 2015

Tuduh Akalmu!

"Kok kayanya hadits ini ga masuk akal ya.. Ga mungkin begini ah.. Masa iya..??"

Kalau saja ada dibenak kita ada perasaan seperti ini, hati-hati.

Ragu akan ayat atau hadits, urusannya besar.

Syaikh Abdurrazaq 'Afifi menasehatkan kepada kita:

"Wajib bagi seorang insan untuk menuduh (tidak beres dari) akal dan pikirannya dibandingkan menuduh Rasulullah atau menuduh perawi-perawi (hadits) yang adil (telah terpercaya), atau menuduh Rabbnya terhadap wahyu-Nya.

Hendaknya tingkat rasa yakinmu kepada Rabbmu dan Rasulmu itu lebih besar ketimbang rasa yakinmu kepada pikiranmu sendiri.

Karena akal itu terbatas.

Pengalaman telah membuktikan akan banyaknya kesalahan dan keterbatasan (pada akal).

Tidak tahunya (pada akal) lebih banyak dari yang tahunya.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk meyakini bahwa pikiran kita itu pendek.

Kita harus berkeyakinan bahwa wahyu Allah itu sempurna dan benar adanya.

Kita pun harus meyakini bahwa perawi-perawi hadits yang telah terpenuhi pada mereka syarat-syaratnya dalam menukil hadits dan dhabt-nya (kekokohan hafalan) yang telah ternilai di sisi para ahlu hadits itu lebih kita percayai ketimbang percaya kepada pemikiran kita sendiri".


  1. (Syubuhaat Haula Sunnah-Syaikh Abdurrazaq 'Afifi, hal. 14, cet. Darul Furqan 2011).

Tidak ada komentar: