Jumat, 16 Juni 2023

Tidak Ikhlash maka Tidak Bermanfaat dan akan Hilang


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata,

ما لم يكن لله لا ينفع ولا يدوم

Apa yang tidak diperuntukkan untuk Allah maka tidak akan bermanfaat dan langgeng

(Ar Risalah at Tadmuriyyah, 232)


Sesuatu yang Dilandasi Keikhlasan Maka akan Tetap Ada


Keikhlasan tidak akan muncul begitu saja tanpa diiringi dengan ilmu. Maka untuk mewujudkan keikhlasan, dibutuhkan keseriusan dan keistiqamahan di dalam thalabul Ilmi. Walau terkadang amalan thalabul ilmi-nya itu sendiri di dalam menjalankannya mungkin masih belum ikhlas. Hisyam ad Dustuwa'iy rahimahullahu berkata,

والله ما أستطيع أن أقول: إني ذهبتُ يومًا قطُّ أطلبُ الحديث أُريدُ به وجهَ الله - عزَّ وجلَّ.

Demi Allah, aku tidak sanggup untuk mengatakan: Sesungguhnya aku pergi pada satu hari saja untuk menuntut ilmu hadits mengharapkan wajah Allah azza wa jalla". 

Ucapan di atas menunjukkan keikhlasan adalah bukan perkara yang main-main. Namun dengan sikap kesungguhan di dalam menjaga kesimbambungan dalam thalabul ilmi, insyaallah lambat atau cepat, Allah ta'ala akan berikan sifat ikhlas itu pada dirinya. Rabi ibnu Khutsaim rahimahullah berkata,

ما لا يُبْتغى به وجْهُ الله - عزَّ وجلَّ - يضمحلّ.

"Segala hal yang tidak ditujukan dengannya wajah Allah azza wa jalla, maka akan sirna".

Maka dengan ucapan di atas bisa memberikan kita pelajaran bahwa tanda amalan yang tidak ikhlas, adalah amalan yang lambat laun akan hilang dan sirna. Oleh karenanya semakin lama seseorang mengenal hidayah ilmu, semestinya semakin lama bukan semakin turun dan merosot semangat talabul ilmi-nya, namun tetap sama baik di awal maupun sekarang, bahkan hingga nanti. Tetap thalabul ilmi!

Imam Malik pernah ditanya perihal karya beliau Al Muwatha'. Mengapa menyusun kitab tersebut padahal telah banyak ada kitab-kitab yang semisal. Maka beliau menjawab

ما كان لله بقي

"Sesuatu yang dilandasi karena Allah, pasti akan lebih langgeng."

Nyatanya, banyak manfaat dari karya Imam Malik tersebut. Bahkan para Imam setelahnya, semisal Imam Syafi'i dan Abdurrahman bin Mahdi sangat memuji keberadaan Al Muwatha'.

Maka perlu kita tanyakan kepada diri-diri kita masing-masing:

Apa motivasi kita membaca dan menghafal Al-Qur'an? Jika ia ikhlas pasti ia akan sabar di dalam membaca atau menghafal Al-Qur'an. Bahkan sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah azza wa jalla, ia tidak bosan atau jenuh di dalam melantunkan kalam-kalamNya.

Apa motivasi kita dalam berinfak dan bersedekah? Jika ia ikhlas, maka ia akan terus menjaga apa yang ia telah keluarkan sebelumnya.

Apa motivasimu di dalam menuntut ilmu?

Percayalah, suatu kebaikan jika diiringi dengan keikhlasan maka hasil dari kebaikan tersebut akan tetap ada, langgeng dan bertahan.

Abu Bakar bin Khalal, adalah seorang tokoh mazhab Imam Ahmad yang menulis semua ucapan Imam Ahmad terkait masalah fikih, hadits dan ilmu-ilmu lainnya, pergi dari negeri satu ke negeri lainnya dalam rangka menemui murid-murid Imam Ahmad. Satu demi satu beliau catat ucapan-ucapan Imam Ahmad hingga terkumpulah susunan fatwa-fatwa Imam Ahmad sebanyak 20 jilid, dan dinamakan kitab tersebut Al jami' fil fiqhi li Imam Ahmad. Di mana di dalam kitab tersebut mencakup pula 3 jilid tentang masalah 'Ilal hadits dan 3 jilid terkait masalah sunnah.

Yang menarik pada kisah di atas adalah bagaimana Al Imam Ahmad sangat melarang para murid-muridnya untuk menulis ucapan-ucapan beliau dan Imam Ahmad hanya mengizinkan menulis Al-Qur'an dan hadits-hadits nabi dari lisan beliau. Akan tetapi ketika hal itu didasari dengan keikhlasan maka Allah melanggengkan ucapan-ucapan Imam Ahmad melalui abu Bakar bin Khalal, di mana beliau mengumpulkan serpihan-serpihan ucapan imam Ahmad yang yang telah dihafal oleh para murid-muridnya ke dalam sebuah susunan kitab.

Maka sebagai bahan renungan untuk kita, jawablah dengan jujur oleh diri-diri kita,

Untuk apa selama ini kita berta'awun di dalam dakwah, membuat poster-poster dakwah, menyebarkan kajian atau faedah-faedah ilmu?

Tujuan apakah kita selama ini mengajari anak-anak kaum muslimin di tempat-tempat belajar mereka?

Inilah pentingnya kita saling mengingatkan diri-diri kita untuk senantiasa ikhlas di dalam setiap amalan.

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.
Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002


Ikhlash Itu akan Terwujud dengan Rajin Thalabul Ilmi



Telah banyak ucapan salaf tentang betapa beratnya menjaga keikhlasan. Mereka menggambarkan betapa seriusnya urusan ini, karena begitu cepatnya niat ini berubah-rubah dikarenakan banyaknya faktor-faktor yang bisa membelokkan niat ikhlas. Imam Sufyan ats Tsauri rahimahullahu berkata,

ما عالجت شيئاً أشد علىَّ من نيتي

"Tidaklah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat ketimbang masalah niatku".

Halus tak terasa, ternyata niat itu telah sirna. Tidak terucap namun bisa dilihat dari sikap, ternyata keikhlasan itu telah lenyap.

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullahu berkata,

ما أحسن الصدق

"Duhai, betapa indahnya kejujuran"

Kata ini beliau ucapkan ketika ada seorang yang bertanya kepada Ibnu Juraij rahimahullahu, " Untuk siapakah Anda menuntut ilmu?"
Maka Ibnu Juraij menjawab,

طلبت العلم للناس

"Aku menuntut ilmu untuk manusia".

Imam Adz Dzahabi rahimahullahu memberikan keterangan pada ucapan di atas,

واليوم تسأل الفقيه الغبي فيبادر: طلبته لله، ويكذب، إنما طلبه للدنيا.

"Dan pada hari ini, jika engkau bertanya kepada ahli fikih yang ghabi (yang sejatinya bukan ahli fikih), niscaya mereka akan cepat menjawab, "Aku menuntut ilmu karena Allah". Dan mereka telah berdusta karena sebenarnya mereka menuntut ilmu untuk dunia." (Lihat As Siyar: 6/328).

Imam Adz Dzahabi memuji jawaban Ibnu Juraij yang jujur bukan tanpa alasan, karena para ulama salaf yang lain juga menjawab dengan jawaban yang sama, semisal Al Walid ibnu muslim, Al Auza'i, Sa'id ibnu Abdul Aziz, mereka menjawab "Saya menuntut ilmu bukan karena Allah (tidak ikhlas)". Mereka telah jujur dengan ucapan-ucapannya.

Mereka mengakui bahwa dahulu ketika mereka di awal belajar mereka tidak ikhlas di dalam niatnya, Imam Mujahid ibnu Jabr rahimahullahu berkata,

طَلَبْنَا هَذَا العِلْمَ وَمَا لَنَا فِيهِ كَبِيرُ نِيَّةٍ، ثُمَّ رَزَقَ اللهُ بَعْدُ فِيهِ النِّيَّةَ

Kami menuntut ilmu ini, dan tidaklah di dalam prosesnya terdapat niat ikhlas (pada awalnya), tapi kemudian Allah menganugerahi kami niat (keikhlasan) setelahnya".

Ma'mar ibnu Rasyid rahimahullahu berkata,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَطْلُبُ العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ، فَيَأْبَى عَلَيْهِ العِلْمُ حَتَّى يَكُونَ للهِ

Sesungguhnya seorang lelaki akan menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itupun enggan hingga ia menjadikannya (dalam menuntut ilmu) untuk Allah."

Maka dengan ucapan-ucapan salaf di atas, bagaimana dengan kita? Mungkin akan terlontar jawaban-jawaban beragam.

"Demi membahagiakan orang tua"
"Senang dengan ilmu"
"Biaya di mahad salafy itu murah ketimbang di tempat lain"

Dan jawaban-jawaban lainnya yang masing-masing mempunyai alasan dan kepentingan tersendiri.

Namun jawaban-jawaban semisal adalah wajar, karena memanglah demikian perjalanan di dalam thalabul ilmi. Di awal bisa jadi tidak ada niat ikhlas, namun di tengah proses belajarnya, mungkin Allah ta'ala anugerahi kesadaran pada dirinya bahwa keikhlasan mesti ada di dalam amalannya, dan bisa jadi pula ilmu yang tengah ia pelajari ternyata mengajari dan membimbingnya kepada keikhlasan.

Oleh karenanya jangan tertipu dengan syubhat-syubhat yang menyatakan,

"Ngapain kamu belajar? Nanti berat loh bebanmu di akherat kalo nggak ikhlas."

Belajar nggak usah dalem-dalem amat, cukup sekedarnya saja karena semakin banyak ilmu maka kamu semakin berat untuk mengamalkannya".

Syubhat-syubhat seperti ini adalah keliru!

Karena bagaimana seorang akan mewujudkan keikhlasan, jika keadaan dirinya bodoh tak berilmu?!

Bagaimana ia akan bisa ikhlas kalau dirinya tidak thalabul ilmi?!

Maka jika ada yang mengklaim keikhlasan padahal ia jauh dari majelis ilmu atau meninggalkan thalabul ilmi, ketahuilah bahwa itu hanya omong kosong.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

(Faidah Tausiah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 20 Syaban 1443H / 19 Maret 2002)

Apakah Guru-guru Anak Anda Mengajarkan Hal-hal Ini?


Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu berkata, "Kewajiban seorang pengajar dan pendidik

1. Mengajarkan anak kecil untuk mengucapkan kalimat:

لا اله إلا الله، محمد رسول الله
(Laailahaillallah, Muhammad Rasulullah)
Dan memahamkan dirinya akan makna kalimat tersebut ketika dia sudah besar dengan makna:

لا معبود بحق إلا الله

Artinya: Tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja.

2. Menumbuhkan kecintaan kepada Allah ta'ala dan menumbuhkan keimanan kepada-Nya di dalam hati seorang anak, karena sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan kita, yang memberikan rezeki kepada kita dan yang menghidupkan kita saja, tiada sekutu bagi Allah (dalam hal tersebut).

3. Mengajarkan anak-anak untuk meminta kepada Allah dan meminta pertolongan kepada Allah saja, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada keponakannya (yakni Ibnu Abbas),

إذا سالت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

"Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau ingin meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah" (HR. Tirmidzi, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

(Kaifa Nurabbi Auladana, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 23)

Melihat Kemungkaran... Apakah Mutlak Perlu Penjelasan Dahulu Baru Mengingkari?

Seorang penanya bertanya, "Jika kami melihat suatu kemungkaran -yakni mempersaksikan kemungkaran- apakah kami harus segera mengingkarinya atau kami meminta penjelasan dahulu?

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullahu menjawab,

هكذا يبدأ تمييع الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يقال لهم: لا تبادروا، خلو الناس، لا تنفروا الناس، لا تقولوا: هذا حلال، هذا حرام، هذه بدعة - تنفروا الناس- لا، اعمل بقول عليه الصلاة والسلام:(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده) احفظ الدرجات لا تبادر إلى إنكار المنكر باليد في غير سلطتك، فإذا كنت في محل سلطتك في بيتك سلطة في إدارته في مكتبه في مركزه يزيل المنكر باليد ومن ليس لديه سلطة ينكر المنكر باللسان ثم بالقلب؛ ولكنه لا يؤخر لابد أن ينكر.

"Demikianlah awal dari sifat lembek dalam mengajak yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, dikatakan oleh mereka (orang-orang yang lembek tersebut), "Jangan kalian terburu-buru, tunggu manusia sudah sepi, jangan membuat manusia lari, jangan engkau mengatakan ini halal, ini haram, ini bidah, karena dengan begitu niscaya engkau akan membuat lari manusia".

Tidak! Akan tetapi amalkan dengan berdasar sabda dari nabi shallallahu alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya.." Jagalah urutannya, jangan terburu-buru untuk mengingkari kemungkaran dengan tangan tanpa adanya kekuasaan pada dirimu.

Jika engkau berada di ranah kekuasaanmu, di rumahmu ada kuasa, di kantornya, di ruang bacanya atau di markiznya, maka ia hilangkan kemungkaran dengan tangan.

Barang siapa yang tidak memiliki kekuasaan maka ingkari kemungkaran dengan lisannya kemudian dengan hatinya, akan tetapi janganlah mengakhirkan (mengingkari kemungkaran) sesuatu yang harus ia segera ingkari."

(Al Ajwibatudz Dzahabiyyah alal As'ilatil Manhajiyyah, Syaikh Muhammad Aman al Jami, pertanyaan no 11)

Dosa, Segeralah Bertaubat!

 Faidah Tausiyah Bada Shubuh oleh Al Ustadz Ibrahim ibn Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 9 Syaban 1443H / 12 Maret 2002


1. Manusia sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai makhluk yang sering melakukan kesalahan dan dosa. Ini merupakan ketetapan Allah yang penuh dengan hikmah. Diantara hikmahnya adalah ketika seorang hamba berbuat salah atau melakukan dosa, maka ketika ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya menaikan derajatnya serta dimuliakan.

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah bagi mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzy dan selainnya, hadits dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Yang menjadi perhatian penting pada hadits di atas adalah bagaimana bimbingan Allah subhanahu wa ta'ala melalui lisan nabinya shallallahu alaihi wasallam bahwa ketika manusia terjatuh kepada kesalahan atau dosa maka iapun dibimbing untuk bertaubat agar ia menjadi orang yang lebih baik lagi.

3. Allah subhanahu wa ta'ala adalah Dzat Yang Maha Rahmah, dan diantara bentuk rahmatnya Allah adalah bimbingan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat, karena dosa-dosa seorang hamba sejatinya adalah memudharatkan (merugikan) dirinya sendiri. Allah azza wa jalla berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An Nuur: 31)

Maka dengan rahmatNya yang luas, Allah subhanahu wa ta'ala terus-menerus menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah ta'ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar :53)

4. Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menunggu taubatnya seorang hamba siang dan malam, maka janganlah menyia-nyiakan kesempatan ini, karena bertaubat adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap hamba sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunlah kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dan minta ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." (HR. Ahmad dan selainnya, hadits dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Di saat adanya kemudahan untuk kita bertaubat, marilah segeralah kita untuk bertaubat, karena bisa jadi kemudahan-kemudahan yang ada saat ini akan hilang, dan ketika kesempatan itu telah hilang, maka kitalah yang akan merugi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Menikah untuk Selamanya, bukan Sementara

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Muhammad Umar Assewed hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 3 Syaban 1443H / 6 Maret 2002


1. Menikah adalah memenuhi setengah keimanan, maka barang siapa yang telah menikah, berarti ia telah menunaikan setengah keimanannya.

2. Ketenangan hati dan ketentraman hidup bagi seorang mukmin adalah suatu yang dituntut. Maka ketika semua itu telah didapat oleh seorang mukmim niscaya kebahagiaan akan meliputi dirinya, dan di antara tujuan menikah adalah untuk mentrentramkan hati. 

3. Keluarga sakinah adalah keluarga yang diberikan kemudahan-kemudahan di dalam melakukan ketaqwaan, maka dibutuhkan ta'awun (saling menolong) di antara suami dan istri. Jangan sampai sang suami ingin thalabul ilmi, tapi sang istri tidak mendukungnya, begitupun sebaliknya, jangan sampai ketika sang istri meminta diantarkan ke majelis ilmu, sang suami enggan mengantarkan.

4. Masing-masing dari kita adalah pemimpin, maka suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Adapun sang istri pemimpin bagi anak-anaknya, dan penjaga kehormatan serta penjaga harta di rumah ketika suaminya tidak ada di rumah.

5. Masing-masing pasangan mempunyai hak-hak dan kewajiban, namun jika salah satunya tidak menunaikan kewajibannya, tidak berarti menjadikan salah satunya membalas dengan tidak menunaikan kewajibannya juga. Akan tetapi hendaklah masing-masing sadar bahwa ketika mereka menunaikan kewajiban atau memenuhi hak-hak pasangannya adalah karena mengharap wajah Allah ta'ala saja.

6. Janganlah seorang suami banyak menuntut kepada istrinya, begitupun istrinya, jangan sampai ia banyak menuntut kepada suaminya.

7. Saling memuji adalah termasuk sunnah nabi, maka panggilah pasangannya dengan panggilan yang baik. Seorang suami atau seorang istri tidak boleh menjatuhkan kehormatan atau mengumbar aib pasangannya, karena hal itu adalah sebuah dosa yang akan merusak hubungan pernikahan.

8. Saling husnuzhan adalah termasuk bagian penting di dalam menjaga keharmonisan keluarga, jangan masing-masing pasangan saling curiga dan saling memata-matai.

9. Termasuk perkara yang bisa melanggengkan hubungan pernikahan adalah masing-masing pasangan mempunyai sifat qana'ah (merasa cukup). Sifat qana'ah di sini bukan pada masalah harta saja, namun bisa kepada masalah akhlak atau rupa. Jika ada kekurangan yang terdapat pada salah satu pasangannya maka ridhalah dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada pasangannya tersebut.



Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Mendidik Anak, Tak Semudah Itu!

 Faidah Taklim Bada Maghrib oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Jadilah kita sebagai orang tua yang saling bahu membahu di dalam kebaikan dan menjadi orang yang terlibat di dalamnya.

2. Ketika mendapati anak saudara kita yang terjatuh pada kesalahan maka janganlah kita mencela dan menjatuhkan orang tuanya, sebagaimana kita juga tidak ridha jika hal ini mengenai kita, karena bisa jadi suatu saat, anak-anak kita melakukan suatu kesalahan, maka tentulah kita sendiri tidak ingin kesalahan anak-anak kita tersebut, secara mutlak ditimpakkan kesalahannya kepada kita.

3. Janganlah kita menghibahi saudara-saudara kita, karena kesalahan anak-anaknya, karena bisa jadi ia telah berusaha melakukan kebaikan dan keshalihan untuk dirinya dalam rangka meluruskan dan menjaga anak-anaknya, akan tetapi Allah ta'ala sedang menguji dirinya melalui anak-anaknya.

4. Ketika kita diuji dengan anak-anak kita, maka janganlah merasa putus asa terhadap perubahan kebaikan untuk mereka. Angkatlah tangan untuk meminta doa kebaikan untuk anak-anak kita, jangan sampai keputus asaan menghalangi kita untuk berdoa kepada Allah, bahkan jangan pernah sekali-kali kita secara tidak sadar malah mendoakan kejelekkan dan kebinasaan bagi anak-anak kita sendiri.

5. Dalam usaha terus memperbaiki anak-anak, maka lihatlah bagaimana usaha Nabi Nuh alaihissalam yang tidak pernah berputus asa di dalam mengajak anaknya kepada jalan yang lurus, beliau terus berusaha sampai Allah Yang Maha Hikmah memutuskan keputusanNya.

6.  Berikankah selalu yang terbaik untuk anak-anak kita, walau kadang atau bahkan mungkin sering anak-anak kita memberikan perlakuan-perlakuan yang tidak baik kepada kita. Harapkanlah pahala sabar dari hal ini.

7. Teruslah kita menjadi shalih di hadapan anak-anak kita, agar mereka bisa menjadikan kita sebagai qudwah/teladan untuk anak-anak kita. Sehingga di kemudian hari, semoga buah dari keshahihan kita akan mempengaruhi dan mengenai anak-anak kita.

Wallahu alam,
Semoga bermanfaat.


Andil dalam Dakwah Semampu yang Kita Bisa

 Faidah Taklim Bada Zhuhur oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


Tarbiyyah nubuwwah (pendidikan yang bersumber kepada sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam) adalah pendidikan yang mulia karena pendidikan ini harus senantiasa berjalan di atas koridor syariat. Jika bukan karena adanya pertolongan dan kemudahan-kemudahan dari Allah ta'ala, maka kita tidak akan mampu untuk memikul dan mengembannya.

Maka pendidikan yang mulia ini, dihadapan kita adalah mahal harganya, dan harus kita tebus dengan segenap apa yang kita bisa berikan. Janganlah engkau lepaskan begitu saja, akan tetapi turutlah andil di dalamnya walaupun hanya bagian sedikit yang kita mampu, karena Allah ta'ala akan mengganjar harga mahal tersebut dengan balasan yang lebih besar lagi.


Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Sombong, Penyebab Penyimpangan

 Faidah tausiyah shubuh oleh Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Ma'had Riyadhul Jannah Cileungsi, 29 Rajab 1443H / 2 Maret 2002


1. Termasuk sebab penyimpangan bani adam adalah adanya sifat sombong, sebagaimana Ibnul Qayyim nyatakan bahwa sumber dari semua dosa bermuara kepada tiga perkara, yaitu: sombong, tamak dan hasad (dengki).

2. Sombong adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

3. Termasuk penyebab adanya rasa sombong pada seorang hamba adalah adanya rasa ujub (bangga diri), dan dari sinilah seorang hamba terjatuh kepada kesombongan karena ia merasa mempunyai kelebihan dan terdepan di tengah-tengah saudaranya, padahal sejatinya ia telah tertipu oleh dirinya sendiri.

4. Kita harus menjauhi sifat sombong, karena neraka dipenuhi oleh orang-orang yang sombong, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji dzarrah." (HR. Muslim).

5. Perjalanan hidup bani adam bisa saja terjadi penyimpangan pada dirinya, dan hal ini dikarenakan adanya kesombongan pada dirinya, yakni menolak al haq/kebenaran. Bisa jadi dirinya tidak sadar, namun ketika sifat sombong itu ada, tak pelak lagi, penyimpangan pun akan terjadi. Mungkin dahulu ia seorang yang baik dan lurus, - _dan kita memang dibimbing oleh syariat ini untuk menghukumi seorang dengan zhahirnya dan tidak dibolehkan menilai batin seseorang_ -, akan tetapi dengan Rahmat Allah, orang yang terlihat baik ini ketika menyimpan kesombongan pada hatinya, pasti Allah akan tampakkan batinnya ke permukaan, sehingga orang-orang yang ikhlas dan orang-orang yang tawadhu akan terjaga dan tidak tertipu dengan orang sombong tersebut.

6. Bisa jadi ada seorang yang sekarang ia berposisi sebagai penasehat, tapi di kemudian hari bisa jadi ia akan menjadi ternasehati. Maka di saat itulah, ia akan diuji apakah ia sombong ataukah tidak. Apakah ia menerima al haq, ataukah ia berlaku sombong menolak al haq.

7. Kejelekkan dan penyimpangan yang ada pada diri seseorang, walaupun dibungkus dengan keindahan kata dan amalan, niscaya akan tampak di akhir. Maka ketika hal ini menimpa seseorang, hendaknya ia segera kembali kepada al haq, karena bagi orang yang ikhlas dan tawadhu, bertaubat itu mudah, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai kepenting-kepentingan tertentu, maka meletakkan al haq di atas segalanya adalah suatu yang sulit dan susah.

Wallahu alam.
Semoga bermanfaat.

Pertolongan Allah adalah Dekat

 Faidah taklim bada maghrib Al Ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta'ala di Mahad Riyadhul Jannah, Cileungsi 28 Rajab 1443H / 1 Maret 2022


Allah ta'ala berfirman,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan mengokohkan kedudukanmu". (QS. Muhammad: 7)

1. "Pertolongan Allah itu lebih besar daripada pengorbananmu"

2. "Janganlah ujian itu dijadikan sebagai azab, akan tetapi jadikanlah ujian itu sebagai ladang amal dan menjadi kebaikan diakhirnya."

3. "Thalabul ilmi dan amalan adalah termasuk bagian yang besar di dalam menolong agama Allah, maka tetaplah berada di jalan ini, karena kita membutuhkan pertolongan Allah agar kita bisa kokoh di dalam menghadapi ujian-ujian hidup."

Wallahu alam
Semoga bermanfaat.

Tahan dan Sabar


Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata,

"Wajib atas seseorang jika tampak di hadapannya ada sebab-sebab perbuatan yang haram, untuk dia bertaqwa kepada Allah sehingga nanti ia tidak menjadikan dirinya menerjang perbuatan yang haram.

Ketahuilah bahwa mudahnya akses dari sebab-sebab yang ada, sejatinya merupakan ujian dan cobaan, maka tahanlah dan bersabarlah karena sesungguhnya akhir yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa."

(Disadur dari Fatawa Arkanil Islam wal Aqidah-Syaikh Utsaimin, hal. 23, cet. Maktabatush Shaffa 2007)

Ilmu Didapat dengan Sedikit Makan, Minum dan Tidur

Ibu Jama'ah rahimahullahu berkata,

ومن رام الفلاح في العلم وتحصيل البغية منه مع كثرة الأكل والشرب والنوم فقد رام مستحيلا في العادة .

Barang siapa yang menginginkan kesuksesan di dalam ilmu dan mendapatkan cita-citanya (dalam menuntut ilmu), tapi bersamaan dengan itu ia banyak makan, banyak minum dan banyak tidur, maka ia telah menghendaki sesuatu yang tidak mungkin di dalam kebiasaan.

(Tadzkiratus Sami wal Mutakallim, hal. 90)

Minggu, 22 Januari 2023

Mencari Ridha Semua Manusia = Tidak Mungkin !

Al Imam Asy Syafi'i rahimahullahu pernah menasehati shahabatnya Yunus ibn Abdil A'la, beliau berkata,


لو اجتهدت كل الجهد على أن ترضى الناس كلهم فلا سبيل, فأخلص عملك ونيتك لله عز وجل

"Kalau engkau bersungguh-sungguh dengan segala upayamu untuk mendapatkan ridha manusia seluruhnya, maka tidak akan ada jalan (untuk mencapainya). Maka ikhlaskan amalan dan niatmu untuk Allah azza wa jalla."

(Al Majmu', Imam An Nawaawi, 1/13)

Kedudukan Kitab "Hayatush Shahabah" karya Al Kandahlawi (Tokoh Jama'ah Tabligh)

Asy Syaikh Muqbil rahimahullahu pernah ditanya, 


ما رأيكم بكتاب حياة الصحابة للكاندهلوي ؟

Apa pendapat Anda dengan kitab "Hayatus Shahabah" karya Al Kandahlawi

Maka beliau menjawab,

< حياة الصحابة > فيه أحاديث صحيحة ، وأحاديث ضعيفة ، وأحاديث موضوعة ، وقصص باطلة ، فلا ينبغي أن يُعتمد عليه ، لكن ننصح بالقراءة في < فضائل الصحابة > للإمام أحمد بن حنبل رحمه الله تعالى ، وكذلك أيضاً في < الإصابة > للحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى ، وفي < الأستيعاب > لأبن عبدالبر ، على أنهم قالوا : أن ابن عبد البر ربما ذكر في كتابه - وكتابه قيم - ربما ذكر فيه بعض الأشياء التي فيها نقيصة على بعض الصحابة رضوان الله عليهم .

"Hayatus Shahabah" di dalamnya terdapat hadits-hadits yang shahih, hadits-hadits yang dhaif/lemah,

Maka tidak sepantasnya untuk menjadikan sandaran kepada kitab tersebut, akan tetapi kami menasehatkan untuk membaca pada kitab "Fadhail Ash Shahabah" karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, demikian juga dengan kitab Al Ishabah milik Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, dan kitab Al Isti'ab karya Ibnu Abdul barr, walaupun para ulama menyatakan (mewanti-wanti) bahwa Ibnu Abdilbarr kadang menyebutkan di dalam kitabnya -dan kitabnya kuat- terkadang menyebutkan di dalamnya sebagian permasalahan yang memuat kekurangan atas sebagian shahabat ridhwanullah alaihim."

Sumber:
https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=1475

Di Antara Hasungan untuk Anak-anak Kita

Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i rahimahullahu berkata, 


فهكذا ينبغي أن نربي أبناءنا على المساجد، وعلى مجالسة الصالحين، وعلى قراءة القرآن، قراءة القرآن التي أصبحت مهجورة عند كثير من الشباب الإسلامي وفي كثير من البلاد الإسلامية.

“Demikianlah, sudah semestinya mendidik anak-anak kita menuju ke masjid (untuk shalat/beribadah) dan bermajelis dengan orang-orang shalih serta mendidik mereka untuk membaca Al Qur'an, di mana membaca Al Qur'an kini telah terjauh pada kebanyakan kaum muda muslim dan pada mayoritas negeri-negeri islam."

(Al Mushara'ah, Syaikh Muqbil, cetakan pertama, hal.193).

Bukan Ilmu Saja, tapi Juga Amal dan Mengikuti Al Haq !

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,


الرفعة لا تكون بمجرد العلم
بل باتباع الحق ، و العمل به

Keluhuran tidak akan terwujud dengan ilmu semata, akan tetapi juga dengan mengikuti al haq dan beramal dengan ilmu tersebut".

(I'lamul Muwaqqi'in, Ibnul Qayyim, 1/167).

Manfaat Air Zam-zam

Al-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullahu berkata, 


سمعت الحسين بن محمد يحكي عن ابن خيرون أو غيره: أن الخطيب ذكر أنه لما حج شرب من ماء زمزم ثلاث شربات، وسأل الله ثلاث حاجات، أن يحدث بتاريخ بغداد بها، وأن يملي الحديث بجامع المنصور، وأن يدفن عند بشر الحافي، فقضيت له الثلاث."

"Aku mendengar Al Hussein bin Muhammad menghikayatkan dari Ibnu Khairun atau selainnya, bahwa Al-Khathib (al-Baghdadi) menyebutkan, bahwasanya beliau ketika berhaji minum air zam-zam sebanyak 3 kali dan meminta kepada Allah tiga hajat/permintaan. (Pertama) agar bisa menyampaikan/menulis tarikh/sejarah baghdad, (kedua) agar bisa membacakan hadits di Masjid Jami Al Manshur dan (ketiga) agar kelak dimakamkan di sisi Bisr al-Hafi. Maka Allah subhanahu wa ta'ala menunaikan tiga hajatnya tersebut".

(Siyar Alamun Nubala, Adz Dzahabi, jil. 18, hal. 279).

Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid Didapat Pula Ketika Pulangnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. 

Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafizhahullahu menyatakan,

وهذا الثواب كما يكون في الذهاب، فإنه يكون أيضاً في الإياب

"Dan pahala ini (keutamaan berjalan menuju masjid) sebagaimana di dalam perginya juga (sama dalam pahalanya), karena sesungguhnya mendapatkan pula ketika pulangnya". (Syarhul Adabil Masyi ilash Shalah hal. 9, cet. Darul Furqan).

Penjelasan Hadits Keutamaan Berjalan menuju ke Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berlibur, “Maukah kalian aku tunjukan kepada amalan yang akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”.
Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pernah beristirahat, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang kurang nyaman dan memperbanyak langkah kaki menuju masjid, serta menunggu datang waktu shalat setelah menunaikan shalat, maka itulah ar ribath". (HR. Muslim)


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,

وإسباغ الوضوء في المكاره يعني في حال البرودة -برودة الجو وبرودة الماء- كونه يسبغ الوضوء في هذه الحال يدل على عظيم العناية بالوضوء والحرص على أن تؤدى الصلاة بوضوء شرعي سليم

Menyempurnakan wudhu pada saat keadaan kurang nyaman yakni dalam keadaan yang dingin -dingin udaranya dan dingin airnya- dilakukan sempurna di dalam wudhunya pada keadaan tersebut, menunjukkan tingginya perhatian orang tersebut dengan perkara wudhu dan semangatnya ia dalam menunaikan shalat dengan wudhu yang syar'i.


Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata pula,

وليس معنى الرباط أنه يبقى في المسجد لا يعمل لحاجاته ولا يذهب لقضاء حاجة أهله ولا يبيع ولا يشتري لا، المقصود: أنه يكون على باله الصلاة وعلى همته وعلى عزمه لا تذهب عن قلبه وفكره، بل كلما فرغ من صلاة فالصلاة على باله لا ينساها ولا يضعف عنها، بل هو مرابط في هذا الأمر بالتذكر والعناية والمحافظة والمسارعة كل صلاة في وقتها

Bukanlah makna ar ribath itu ia tinggal di masjid, janganlah ia mengamalkan sesuatu di masjid untuk keperluannya, jangan pula ia pergi ke masjid untuk menunaikan keperluan keluarganya, tidak pula untuk menjual atau membeli, bukan!. Maksudnya adalah ia menjadikan pada dirinya hanya ada shalat, dan tujuan utamanya serta fokusnya tidak keluar dari hati dan pikirannya melainkan untuk shalat.
Setiap ia selesai dari shalat, maka perkara shalat di jiwanya tidak terlupakan dan tidak lemah dari menunaikannya.

Bahkan ia mutlak mengikat perkara shalat ini dengan dzikir , perhatian, penjagaan dan bersegera di setiap shalat pada waktunya". D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D9%84%D9%83%D9%85- %D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D9%85%D8%AD%D9%88-%D8%A7%D9%84%D9% 84%D9%87-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D9%8A%D8%A7-%D9%88%D9 %8A%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%AC%D8%A7%D8 %AA
➖➖➖
🌏 t.me/faidahringancatatankajianku
➖➖➖
🗄 Arsip lama terkumpul di
catatankajianku.blogspot.com #ibadah